KnB Drabble: Punishment (Aomine Daiki x OC (Reader))
Warn: Rated M
Malam itu benar-benar sunyi.
Diatas balkon, aku sedang melamun dan duduk diatas sofa panjang untuk 3 orang yang terletak disana. Balkon itu menghadap langsung dengan hiruk-pikuk kota Tokyo yang hanya menempuh perjalanan 15 menit menggunakan mobil dari rumahku dan suamiku, Aomine Daiki.
Benar, suamiku, Aomine Daiki. Pernikahan kami bisa dibilang baru saja dilaksanakan satu bulan yang lalu.
Jadi, kami bertemu di semacam ajang Cosplay di salah satu tempat perbelanjaan di kota, sebenarnya, aku tidak menginginkan berpartisipasi menjadi salah satu artis majalah dewasa, Mai-Chan. Aku menuruti permintaan sahabatnya, karena kebetulan sahabatku itu juga menjadi salah satu partisipan di ajang tersebut dan tidak memiliki pasangan. Jadilah aku berpakaian sexy ala Mai-Chan di ajang tersebut demi persahabatannya.
Nah, di ajang itulah, aku bertemu dengan Aomine Daiki.
Sebenarnya itu sudah lama sekali, karena aku yang baru saja memasuki tahun kuliah pertama dan Daiki di tahun kuliah ketiga.
Aku bersumpah serapah karena pria berkulit tan itu tidak henti-hentinya memandangi dadanya. Awalnya, tatapannya yang mirip hewan buas itu terlihat menakutkan, tetapi seiring berjalannya waktu ketika aku juga memperhatikan postur tubuhnya yang.. hmm.. sexy? Terserahlah, intinya tubuhnya sangat bagus bak atlit olahraga. Dadanya yang bidang dan berotot terlihat sekali dari balik kemeja putihnya yang berantakan. Rambut biru navy yang terlihat pas dengan warna kulitnya itu semakin menambah daya tariknya sendiri.
"Heh, Ona. Kamu anak baru di ajang seperti ini? aku tidak pernah melihatmu sebelumnya." Tiba-tiba saja suara baritone yang sexy itu menyapa indra pendengaranku.
"Eh?" aku memandang pria yang tingginya 190 cm lebih itu yang sekarang berdiri tepat di depanku.
Pria itu yang aku bicarakan tadi.
"I—iya aku baru disini. Sebenarnya ini yang pertama dan terakhir." Ujarku sambil menghirup aroma parfumnya yang maskulin.
"Terakhir?" dia mengulang salah satu kataku diiringi nada keheranan.
"Yep." Aku sedikit menganggukkan keplaku.
"Kenapa?" tanyanya singkat.
"Kenapa? Hm.. sebenarnya ini bukan keinginanku. Aku hanya mengikuti keinginan sahabatku saja. Mungkin setelah ajang kali ini selesai, aku tidak akan mengenakan pakaian seperti ini lagi." ujarku sambil mendengus kecil.
"Kenapa bicaranya seperti itu? Apa kamu tidak menyukainya?" pria berkulit tan itu menanyaikiku sambil menatapku intens.
"Eng.. Etto.. Bagaimana ya? Aku tidak suka jika disuruh tampil di acara seperti ini. apalagi dengan mengenakan pakaian terbuka."aku tidak berani memandangnya. Sepertinya, pria ini penggemar Mai-chan.
"Heeh. Sayang sekali. Padahal kamu terlihat lebih cantik daripada Mai-chan." Katanya sambil mengeluarkan seringai.
"Benarkah? Bukannya cantik itu dilihat dari wajah ya? Kenapa sedaritadi kamu berdiri disana sambil melihat dadaku?!" tanpa sadar aku langsung main sembur saja. Seperti yang aku bilang, pria ini melihat kearah dadaku tanpa henti sedaritadi. Mungkin ditengah kita berbicara, dia juga memandanginya. Hentai!
"Hm.. ketahuan. Begini.. Aku punya selera lain selain wajahnya yang cantik, ona. Aku suka yang berdada besar. Apa itu masalah buatmu?" katanya yang semakin maju kearahku. Dan aku mengambil beberapa langkah mundur.
"Berhenti." Kataku absolut sambil mencengkram lengan atasnya. Membuatnya dia berhenti seketika. Aku menatap matanya yang senada dengan rambutnya, biru laut.
"Apa maumu?" tukasku yang hanya dibalas dengan seringai yang sekarang malah membuatku semakin jengkel.
"Mauku? Aku mau kamu, ona." Katanya sambil menyelipkan rambutku di telingaku.
"Ha? Aku? Kita baru saja bertemu dan aku tidak mengenalmu. Namamu saja tidak tahu." Pekikku lagi.
"Aomine Daiki. Ona. Ingat itu. Dan kelak nama itu akan menjadi teriakan paling nikmat yang akan keluar dari bibir manismu." Dengan kalimat terakhirnya itu, tangannya menangkup pipiku dan mencuri ciuman di bibir. Aomine menggigit dan menghisap bibir bawahku sampai terasa ngilu dan aku berpikir bahwa nanti bibirku itu akan terlihat bengkak setelahnya.
Aku meronta dan berusaha untuk melepaskan ciuman itu, tapi pria berkulit tan itu kali ini telah melingkarkan tangannya di pinggulku, dan mengeratkannya.
Selang beberapa detik, Aomine berhenti untuk mengambil nafas dan melepaskan tangannya dari pinggulku.
"Tsk, seperti yang aku bayangkan. Manis." Katanya sambil menjilat bibirnya.
"Pergilah ke Maji Burger setelah acara ini selesai. Aku yang mentraktir. Jika tidak. Aku akan mencarimu. Dimanapun. Pasti aku akan menemukanmu." Aku yang mendengar ucapannya hanya diam seribu bahasa.
"Chotto, aku belum mendapatkan namamu, ona." Ujarnya sambil mengangkat daguku.
"[Last Name] [First Name]." Aku menjawabnya tanpa berbasa-basi.
"Hn. [First Name] aku akan menunggumu di Maji Burger. Jaa-ne." Katanya sambil melambaikan tangannya sebentar lalu membalikkan tubuhnya.
Aku melihatnya ketika melirik dadaku.
Tunggu.
Dia tidak terlihat seperti orang yang akan menyakitiku.
Dan aku memutuskan untuk menerima ajakannya.
Singkat cerita hubungan kami semakin berkembang hingga dia melamarku setelah satu tahun menjadi seorang polisi.
Seperti itulah.
"Tadaima." Ada suara kecil dan nafas hangat yang menyapa leherku. Membuatku bergidik geli dibuatnya.
"HWA!" aku memekik karena tiba tiba saja, Daiki sudah ada di belakangku.
"Sshhh! Tadi aku sudah meneriakkan "tadaima" dari lantai bawah. Tidak ada yang menjawab. Aku kira kamu sudah tidur di kamar. Saat aku ke kamar, aku tidak menemui siapapun disana. Jadi, aku naik ke lantai atas dan menemukan pintu ke luar balkon sedang terbuka, jadi aku kemari." Ucapnya panjang lebar.
"Gomen ne." Ucapku sambil berbalik badan dan mengecup pipinya.
"Kamu melewatkan bagian yang penting, sayang." Katanya intens.
Aku mendekatkan bibirku, tidak sampai bersentuhan. Aku menghembuskan nafas kecil yang hangat di bibirnya, membuat bibirnya berusaha menggapai bibirku, tapi aku segera menempelkan jari telunjukku di bibirnya.
"Heeh. Ada apa? Kenapa kamu menggodaku seperti itu, [Name]?" katanya tiba-tiba sambil melompat ke sebelahku dan menghempaskan tubuhku membuatku merebahkan diri di sofa dan Daiki di atasku.
"Daiki!" pekikku kaget karena tindakannya itu.
"Sedang memikirkan siapa tadi?" tanyanya sambil menelusuri leherku.
"Etto... Anu..." aku tergagap.
"Hn? Apakah aku ada di dalamnya, sayang?" katanya intens sambil menggigit kecil leherku.
"AH! Iya. Daiki! Ahh... Tentu itu tentang kamu, sayang." Aku berusaha mengatakannya dengan benar di sela desahanku.
"kenapa jawabnya lama sekali?" kali ini tangannya meremas-remas pantatku yang masih tertutupi celana pendek diatas lutut.
"Etto.. Aku nggak tau harus jawab apa." Mendengar jawabanku, pria bersurai navy blue itu mendongakkan kepalanya untuk menatap manik abu-abuku.
"Aku ingin bermain denganmu, sayang. Anggap saja ini sebuah hukuman dariku karena tidak langsung menjawab dengan jujur." Daiki masih memandangku dengan tatapannya yang liar itu.
"Bermain?" tanyaku.
"Ya. Sayang. Kita akan bermain peran. Kamu akan mengenakan pakaian Mai-chan mu dan aku akan menjadi polisinya. Karena kamu adalah gadis yang nakal, [Name]. Dan aku harus menghukummu." Katanya sambil menampar pantatku. Membuatku memekik kaget.
"Cepat berganti pakaian. Sebelum kesabaranku mulai habis. Dan disaat itu terjadi, aku akan memastikanmu tidak bisa berjalan lurus besok, sayang." Mendengar kalimatnya yang mengintimidasi itu membuat lidahku kelu dan segera beranjak dari sofa di balkon tadi dan segera mengganti pakaianku dengan pakaian ala Mai-chan yang aku kenakan saat pertama kali aku bertemu dengan Daiki.
Disaat itulah, aku merasa takut dan bersemangat disaat yang sama.
TBC-
RnR?
Terima kasih sudah membaca!^^
A/N: Karena Aomine mendapatkan 3 suara, jadi Author bikin Aomine dulu ya.
Hasil sementara yang request chara:
- Kuroko: 2 Suara.
- Kagami, Hanamiya, Midorima: 1 Suara.
