Psst : Baca setelah berbuka puasa saja ya. Sedikit nyerempet T+ #EvilLaugh
PRODUCER
By AKLight
Bae Jin Young || Park Ji Hoon || Lai Guan Lin
Ji Hoon x Jin Young VS Guan Lin x Jin Young
Genre :
Entertainment Life, Drama, Romance
PRODUCE 101 SEASON 2 FANFICTION
AKL present
- Story Begin -
.
.
.
"Yak yak. Kenapa kau bisa kenal dekat dengan Bae Producer-nim?" Sebuah suara terdengar memutus keheningan di koridor gedung KBS. Terlihat Ji Hoon dan sang producer –Lai Guan Lin- sedang menyusuri koridor menuju studio tempat acara yang akan mereka bintangi hari ini.
"Ah. Maksud Hyung, Bae Jin Young?"
"Ne. Kenapa bisa?" Penasaran Ji Hoon.
"Uhmm. Mungkin semenjak kepindahan ku ke Korea Hyung. Sekitar 3 tahun yang lalu?" Jawab Guan Lin sambil berpikir sejenak.
"Hyung ingatkan sewaktu aku diterima sebagai trainee di DC Ent. dan terpaksa melanjutkan sekolah di sini." Ji Hoon mengangguk sekilas mengingat pertemuan pertamanya dengan Guan Lin.
"Perusahaan mencarikan tempat tinggal di sekitar gedung DC Ent. untukku. Nah, disitu Hyung, kebetulan apartemen ku bersebelahan dengan Bae Jin Hyung." Lanjut Guan Lin.
"Ah- seperti itu ternyata. Tetapi kenapa aku sampai tidak tau kalau kau ternyata punya teman dekat lain diluar." –dan manis juga.
"Uhm, kita tidak sampai 1 tahun tinggal bersebelahan Hyung. Aku kan terpaksa pindah ke asrama 101 setelah itu. Dan Bae Jin Hyung juga pindah apartemen tidak lama setelah kelulusannya.
Kami jadi jarang bertemu tetapi tetap melakukan komunikasi, dan sampai sekarang kalau aku ada waktu luang biasanya selalu menyempatkan diri bertemu dengan nya." Papar Guan Lin semangat.
"Wahh ternyata kau sedekat itu dengan Bae Producer-nim. Dan ini fakta mengejutkan Guan-ah." Balas Ji Hoon sambil merangkul pundak Guan Lin.
"YA. Kami sangat dekat Hyung. Dan aku bahkan sangat menyukainya." Jelas Guan Lin dengan ulasan senyum lebar dibibirnya.
"Sayangnya dia orangnya sangat dingin, aku saja sulit untuk mengerti jalan pikirannya. Hyung bahkan bisa lihat, orang nya bahkan sangat canggung saat berkenalan dengan mu tadi Hyung."
Ji Hoon mengingat suasana sedikit canggung yang tercipta antara dirinya dan Jin Young tadi. "Ahh. Jadi memang datar seperti itu ya." Gumam Ji Hoon.
"Tapi Hyung, kenapa bertanya tentang Bae Hyung?" Tanya Guan Lin balik, penasaran.
"Ani. Tidak ada Guan-ah. Hanya sedikit menarik karena dia orang terdatar yang pernah aku temui. Padahal seorang member 101 berada dihadapan nya. Tapi dia tidak menunjuk kan ketertarikan sama sekali." Balas Ji Hoon dengan cengiran.
"Heol. Kau terlalu percaya diri Hyung. Bae Jin walaupun datar begitu dia sangat perhatian." Bela Guan Lin.
"Ne ne. Kau semangat sekali membicara kan Bae Jin-MU itu." Balas Ji Hoon dengan penekanan pada kata –mu.
Guan lin hanya tersenyum senang setelah itu dan menggeret pemuda yang lebih tua untuk cepat sampai ke studio acara yang akan mereka ikuti.
"Tapi ngomong-ngomong apa kalian benar-benar pacaran?" Penasaran Ji Hoon -lagi.
Guan Lin menyeringai sambil balas merangkul pundak Ji Hoon. "Menurutmu Hyung?" Terlihat disana cengiran lebar dari Guan Lin sebelum membuka pintu dan masuk ke ruang studio.
.
.
.
~~~o0o~~~
"Bae Jin itu lebih tua 1 tahun dariku Hyung. Saat kepindahanku dia berada di tingkat akhir Senior High School. Sekolah Bae dan aku berbeda, tetapi kami sering bertemu di minimarket dekat apartemen. Jadi nya kami menjadi dekat. Mungkin karena sama-sama tinggal sendiri.
Awal bertemu, Bae Jin itu sangat dingin, bahkan saat pertama kali kami bertemu, aku berusaha menyapa nya saat ia berjalan menuju apartemennya yang tepat berada disebelahku. Aku yang saat itu akan keluar membuang kardus-kardus bekas pindahan, sudah berusaha menyapanya, tetapi Bae Hyung hanya memandangku lalu menundukkan pandangan nya sedikit dan menampilkan senyum tipis. Setelah itu berlalu begitu saja menuju pintu apartemen nya. Jadi Hyung jangan tersinggung dengan sikapnya tadi. Itu memang sudah sifat nya. Hehehe."
Ji Hoon masih ingat bagaimana Guan Lin menceritakan semuanya sambil tersenyum senang. Mengingat bagaimana pertemuan pertamanya bersama Bae Jin Young. Ji Hoon bisa melihat berapa besar rasa suka dan sayang Guan Lin pada Jin Young nya itu.
Tetapi disini yang jadi masalah, Ji Hoon juga tidak paham dengan dirinya kenapa bisa menjadi tertarik dengan producer baru itu. Ji Hoon sangat mengingat ini bukan pertemuan pertamanya bersama Bae Jin Young.
Sekitar 7 bulan yang lalu saat ia dan Eui Woong mengikuti acara The Return of Superstar.
"PD-nim, terjadi sedikit masalah." Perhatian Ji Hoon yang awalnya fokus dengan pengarahan dari sang producer teralihkan saat seorang staff berbicara memotong pengarahan Jung PD-nim.
"Ada apa staff Bae?" Terlihat staff tersebut membisikkan beberapa hal kepada sang producer dan mengangguk setelahnya mengikuti instruksi dari Jung PD-nim. Lalu berlalu pergi.
"Ada apa PD-nim?" Tanya Ji Hoon penasaran.
"Ahh- ani, terjadi sedikit masalah dengan Gyunie dan Jinnie. Mereka tidak mau mengikuti syuting hari ini. Gyunie menangis sedari tadi dan mungkin syuting kita akan ditunda beberapa saat. Tidak apa kan Ji Hoon-ssi? Eui Woong-ssi?" Tanya Jung PD-nim pada kedua pemuda yang berada dihadapannya.
"Oo begitu. Tak apa PD-nim, kami juga butuh untuk istirahat sepertinya." Balas Ji Hoon dan diangguki oleh Eui Woong.
"Baiklah, silahkan nikmati waktu istirahat kalian." Ucap PD-nim lalu berlalu menuju kameramen disudut ruangan.
Ji Hoon mencoba untuk mengistirahatkan badannya di sofa dekat pintu masuk, menunggu untuk syuting selanjutnya. Tetapi tidak berapa lama pandangan matanya teralihkan pada seorang pemuda di ruang tengah, seingatnya itu adalah staff yang berbicara dengan PD-nim tadi.
Di ruang tengah sana yang menarik perhatian Ji Hoon adalah bagaimana pemuda tersebut berusaha untuk menenangkan bocah yang berada digendongannya, seingatnya itu adalah Gyunie yang akan menjadi anak kecil partner syuting 'Superman of Return' hari ini. Bocah laki-laki berumur 5 tahun tersebut terlihat sesenggukan di pundak sang pemuda. Ditambah dengan seorang anak kecil lainnya berumur kisaran 6 tahun yang bergelayut –memeluk- sebelah kaki si pemuda.
Ji Hoon tidak bisa menahan senyum saat si pemuda terlihat kewalahan dengan dua bocah yang merengek padanya. Si pemuda terlihat letih tapi tetap berusaha untuk membuat dua bocah tersebut agar tenang dengan mengusap kepala si bocah dan membisikkan sesuatu.
Tidak lama, tangisan sibocah laki-laki terhenti lalu berganti dengan senyum malu-malu. Terlihat sang pemuda menurunkan anak laki-laki berumur 5 tahun tersebut dari gendongannya. Dan mendudukan kedua anak kecil tersebut pada sofa terdekat.
Kedua anak tersebut menautkan kelingking secara bergantian dengan si pemuda dan tertawa senang setelahnya. Si pemuda balas tertawa sambil mengusak kepala kedua bocah tersebut.
Deg
Tidak ada yang bisa mengalihkan perhatian Ji Hoon dari senyuman si pemuda. Polos dan tulus. Saat pemuda tersebut tersenyum Ji Hoon juga tanpa sadar mengembangkan senyum.
"Indah sekali."
.
.
.
~~~o0o~~~
"Psst.. sstt... Bae Jin."
"Bae Jin-ah."
Jin Young hanya memutar bola mata malas saat panggilan itu ditujukan padanya. Menoleh pada si pelaku yang berada disebelah meja kerjanya. "Ne, Hyung?"
"Bagaimana bisa kau bisa kenal dengan Guan Lin-ssi?" Itu Hak Nyeon dengan cengirannya.
"Wah. Bahkan aku cukup terkejut saat tau dia adalah producer. Ternyata producer 101 yang sering dibicarakan itu adalah dia. Wahh kau sangat beruntung Young-ah." Lanjut Hak Nyeon semangat.
"Ck. Beruntung apanya. Sekarang dia jauh lebih menyebalkan asal kalian tau." Gumam Jin Young.
"Wow. Apa ada yang tidak kami tau?" Sahut Seong Woo penasaran dari meja kerjanya.
"Molla." Balas Jin Young cepat.
"Ahhh- kau tidak asyik." Kompak Hak Nyeon dan Seong Woo kecewa.
Jin Young membalas dengan tatapan malas. "Setauku Guan Lin juga seorang trainee dulunya. Dia asli Taiwan, saat umur 16 tahun dia pindah ke sini dan menjadi seorang traine." Ucap Jin Young malas-malas an.
"Pantas dia begitu tampan." Celetuk Hak Nyeon.
"Kenapa Hyung? Kau naksir?" Tanya Jin Young datar.
"Ahaha ani. Yak, Bae Jin kau jangan cemburu." Balas Hak Nyeon dengan cengiran lebar.
"Cih- Siapa yg cemburu hanya untuk anak ingusan seperti itu." Gumam Jin Young. Dan dibalas tawa nista dari rekan satu tim nya.
"Yak yak. Kau belum cerita sepenuhnya. Lalu setelah itu?" Tanya Seong Woo penasaran. Jin Young mengehentikan pekerjaannya dengan komputer dihadapannya. Dan berpikir sejenak.
"Uhmm..."
.
.
"Annyeong haseo. Ah jadi anda penghuni apartemen sebelah. Saya tetangga baru anda, baru hari ini menempati tempat ini. Nice to meet you." Sebuah suara mengagetkan Jin Young yang saat itu sedang berjalan menuju kamar apartemennya sambil menenteng barang belanjaannya dari minimarket.
Jin Young yang merasa canggung karena jarang melakukan komunikasi dengan orang lain bahkan dengan tetangga sekitar hanya tersenyum canggung dan membalas dengan anggukkan kepala. Setelahnya berlalu begitu saja menuju apartemen nya. Meninggalkan Lai Guan Lin yang masih cengo di belakang.
Jin Young sudah menduga tetangga barunya akan menganggap nya sombong. Tetapi sejujurnya Jin Young hanya merasa canggung dengan orang baru. Dan malas untuk melakukan komunikasi yang lebih dengan sekitar. Apalagi dengan beberapa kejadian baru-baru ini yang dialaminya. Jin Young merasa tidak akan mempercayai siapa pun.
Dia bahkan baru berumur 17 tahun, tetapi kehidupan nya sudah seperti neraka. Bukan karena kehidupan sederhana yang dijalani nya. Bae Jin Young bahkan bisa membeli apa saja yang diinginkan nya. 'Tapi itu dulu, sebelum ia memutuskan untuk pergi dari kehidupan mewah itu.'
Tidak. Jin Young tidak kabur dari rumah atau apapun, dia hanya remaja yang melakukan pemberontakan kecil dan berakibat dengan kepindahan nya ke apartemen sederhana ini. Untuk biaya hidup tetap disokong oleh sang ayah. Dan juga selalu ada kakak perempuan yang selalu memperhatikannya. Jadi Jin Young tidak terlalu khawatir dengan itu.
Jin Young merasa semuanya terasa hampa. Semenjak kematian Ibunya 1 tahun yang lalu. Ayah nya berubah, kehidupan berubah, pandangan orang berubah. Dan ia tetap terkekang di istana yang seperti penjara baginya itu.
Jin young tidak ingin mengingat masa itu, walau bagaimana pun, sekarang ia sudah bisa menetapkan keputusannya sendiri. Memilih jalan hidup nya sendiri. Tanpa adanya kekangan dari siapapun. Dan seperti ini lah Bae Jin Young sekarang. Cukup cerita ini hanya sampai pada 1 orang yang dipercayai nya. Sahabatnya. Lai Guan Lin.
Pemuda yang lebih muda 1 tahun darinya itu merupakan pemuda yang penuh semangat. Walau kadang wajah dan kelakuan nya jauh berbeda. Tetapi hatinya polos dan hangat. Bae Jin bisa merasakan itu. Bahkan disaat Jin Young sudah begitu dingin terhadapnya tetapi Guan Lin tetap menyapanya dengan hangat.
Selalu berpapasan disaat pulang atau pergi ke sekolah. Guan lIn tetap disana tersenyum padanya. Seolah olah mencoba untuk melelehkan dinginnya seorang Bae Jin Young.
...
..
.
Sebuah kimbab kemasan tiba-tiba berada di depan meja tempat Jin Young menikmati ramyeon nya.
"Jin Young-ssi. Ini untuk mu." Terdengar geretan kursi disebelah Jin Young saat ini, menandakan ada satu orang lainnya yang duduk disana. Jin Young tentu saja refleks mengalihkan pandangan nya ke arah suara yang baru saja menginterupsi kegiatan makannya. Lalu melotot melihat bungkusan kimbab yang ada dihadapannya.
"Apa? Jangan hanya dilihat, tapi dimakan. Aku melihat kau hanya makan itu selama beberapa hari ini Jin Young-ssi." Ucap Guan Lin dengan lirikan ke arah ramyeon Jin Young.
Jin young hanya terpaku melihat ke arah kimbab kemasan di hadapannya.
"Setau ku, memakan ramyeon setiap hari itu tidak bagus JIn Young-ssi. Jadi nikmati makanan ini." Suguh Guan Lin kembali.
Guan lin tanpa basa basi langsung memakan kimbab yang juga dibelinya untuk dirinya sendiri dengan lahap. Posisi mereka saat ini adalah di meja panjang yang menghadap kaca tembus pandang minimarket, mengarah kejalan.
Bagaimana Guan Lin tau keberadaan nya? Itu karena setiap pulang dari latihan, dia selalu melihat Jin Young duduk disana dengan se cup ramyeon ditangan nya. Guan lin jadi meringis sendiri saat tau si pemuda manis tetangga nya tersebut menjalani kehidupan yang tidak sehat.
Merasa ditatap oleh orang disebelahnya, Guan Lin menghentikan memakan kimbab nya sebentar dan menoleh pada Jin Young. Dan memberikan senyum tulus nya pada Jin Young.
Mungkin disana awal bagaimana hubungan dekat mereka terjalin. Hati dingin seorang Bae Jin Young mampu diluluhkan dengan perlakuan tulus dan polos tetangga baru apartemen nya yang bahkan baru 2 minggu ini dikenalnya.
.
.
.
~~~o0o~~~
[Beberapa hari kemudian]
Bae Jin Young hari ini terpaksa memenuhi panggilan dari dewan KCC karena penampilan acara live Music Bank minggu ini.
"Haah... Ini melelahkan dan aku sabar." Gumam Jin Young manarik nafas dalam dengan sebuah amplop putih ditangannya. Berjalan menuju pintu utama gedung dewan KCC. Berencana untuk kembali ke perusahaan setelah mendapat beberapa peringatan di meja sidang beberapa saat lalu.
...
..
.
"YAK! Kenapa bisa seperti ini?" Teriak Jin Young keras melalui talkback saat melihat tampilan pada layar monitor. Beberapa staf yang berdiri tepat dibelakang Jin Young hanya dapat menundukan kepala takut atas kemarahan PD-nim mereka. Jin Young membalikan badan cepat menatap 3 orang staf yang berdiri disana.
"Bukan nya tadi aku sudah menyuruhmu untuk meminta 'dia' menggantikan pakaian nya!" Tuding Jin Young pada staf yang berdiri paling kiri, menatap staf tersebut dengan tajam sambil menunjuk monitor.
"Ma- mafkan kami PD-nim. Seharusnya tadi nona Hana sudah menyetujui mengganti pakaian nya, tetapi kami tidak tau kenapa seperti ini jadinya." Sahut staf tersebut dengan takut-takut.
"Ck!" Decak Jin Young lalu kembali mendudukan diri disamping Seong Woo menatap pada layar monitor.
Terlihat di layar monitor. Si penyanyi wanita solo. Hana Lee. Sedang menampilkan performanya di atas panggung Music Bank. Untuk masalah bakat tidak akan ada yang mempermasalahkannya, dia bahkan memiliki bakat lebih dibandingkan Idol wanita lainnya. Tetapi yang jadi masalah utama sekarang adalah konsep dan pakaian yang dipakai oleh si penyanyi diatas panggung.
"Pakaian terbuka macam apa itu? Walaupun itu konsep, tetapi untuk penyiaran stasiun TV yang ditayangkan pada sore hari, konsep seperti ini tetap tidak pantas." Gerutu Jin Young frustasi.
Sebelumnya, Jin Young sudah memerintahkan salah satu staf untuk menyuruh Hana Lee untuk mengganti pakaiannya menjadi lebih tertutup. Tidak lain karena acara Music Bank ditayangkan pada sore hari, yang mana semua umur dapat menonton acara pada jam tersebut.
Tapi lihat sekarang. Si penyanyi solo wanita tersebut hanya menuruti permintaan para staf diawal performance, dengan memakai jeket kulit sebagai luaran untuk menutupi bagian tubuh nya yang terbuka. Tetapi saat di tengah-tengah penampilan dengan sengaja membuka jeket yang dipakainya. Dan seperti yang kalian tau, pakaian itu terbuka dan seksi tentu saja.
"Dasar gila." Gumam Jin Young. "Ck. Sial. Kalau seperti ini ujung-ujung nya aku yang akan terkena masalah." Decak Jin Young masih melihat monitor.
"Seong Woo-ssi. Cut beberapa bagian yang tidak terlalu menonjolkan bagian tubuhnya." Perintah Jin Young fokus memilah gambar yang pantas.
"Nde. PD-nim."
"Cut. Kamera 4 ready-
Cut."
"Kamera 1 ready-
Cut."
Hanya instruksi sang PD-nim yang memenuhi ruang kontrol saat ini, tanpa seorang pun yang berani mengusik.
"Oke. Clear." Terdengar instruksi terakhir Jin Young untuk penampilan si penyanyi, yang pasti sebentar lagi akan mendatangkan masalah pada acara nya. Sepertinya Jin Young harus siap-siap untuk bertemu dewan KCC esok hari.
"Ah. Tidak ada yang lebih menyebalkan dari ini." Protes Jin Young sambil memijit kepalanya. Tiba-tiba kepalanya menjadi sakit.
.
.
.
~~~o0o~~~
"Yoo. Bae PD-nim. Bagaimana?" Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Jin Young yang baru saja memasuki gedung KBS.
"Kau tau apa yang terjadi Hyung. Surat peringatan, penurunan point dan sanksi lainnya. Seperti biasa." Sahut Jin Young lemas.
Hak Nyeon yang mengerti dengan sabar mengelus punggung Jin Young. "Kalau kau terkena masalah aku juga Bae. Tenang saja kita hadapi bersama."
"Nde Hyung. Gomapta."
"Baiklah, kalau begitu aku duluan Young-ah. Aku harus ke Dream Come Ent. Ada beberapa jadwal yang harus aku urus disana. Kau harus semangat. Fighting!" Semangat Hak Nyeon sambil berlalu menuju pintu keluar.
"Nde. Hati-hati Hyung." Hak Nyeon membalas dengan lambaian tangan setelahnya.
Jin Young yang masih berdiri didepan pintu kembali menarik nafas berat. "Hahh. Oke, sekarang siap-siap untuk menemui Kepala Departemen." Lemas Jin Young sambil menggeret langkah nya menuju lift. Menuju lantai 11, ruangan Kepala Departemen bagian Variety Show.
Tidak butuh waktu lama menunggu, pintu lift tiba-tiba terbuka. Jin Young memasuki lift dan disusul satu orang lainnya yang terlihat tergesa-gesa datang dari arah pintu masuk.
Jin Young tidak terlalu peduli dengan seorang lain didalam lift yang membawanya ke lantai 11. Karena sepertinya orang yang memakai masker rilakuma disampingnya akan turun di lantai 15, tempat studio 5 gedung KBS.
"Ahh. Jin Young-ssi. Benarkah?" Jin Young yang merasa namanya dipanggil menolehkan kepalanya kepada seorang lain dalam lift tersebut. Terlihat orang tersebut telah melepas maskernya.
Jin Young ingat pemuda disamping nya ini. Ia adalah Park Ji Hoon salah seorang member 101, rekan Guan Lin yang berkenalan dengannya beberapa waktu yang lalu.
"Ne. Ji Hoon-ssi. Senang bertemu kembali dengan anda." Balas Jin Young mencoba untuk ramah sambil membungkukan badannya sedikit.
Padahal suasana hatinya sekarang sedang tidak mendukung untuk beramah tamah dengan orang lain. Tapi ini karena menyangkut citra karyawan, Jin Young terpaksa.
"Jangan terlalu formal. Guan Lin bilang kau lebih muda dariku." Ucap Ji Hoon balik dengan senyumannya.
"Ah ye. Tapi aku tidak bisa bersikap informal di lingkungan kerja Ji Hoon-ssi. Maafkan aku." Balas Jin Young dengan senyum canggung.
"Arra. Baiklah kalau begitu." Canggung Ji Hoon. Lalu hening. Lebih tepatnya suasana menjadi canggung.
'Kenapa lift ini sangat lama.' Pikir Jin Young.
TTING.
Akhirnya pintu lift terbuka dilantai 11. Jin Young akhirnya bisa terbebas dari aura canggung ini. Jin Young sudah bersiap untuk keluar. Dan menoleh ke arah Ji Hoon.
"Kalau begitu aku dulu-"
"Oppa. Ji Hoon oppa."
Tiba tiba ucapan jIn Young terpotong oleh sebuah teriakan dari luar lift. Kedua pemuda yang berada di lift sontak menoleh ke sumber teriakan. Terlihat dilorong depan lift seorang gadis cantik –terlihat seperti anggota girlgrup- sedang menatap mereka atau lebih tepatnya menatap Ji Hoon dengan senyum lebar.
"Ck. Sial." Jin Young mendengar sebuah gerutuan dari mulut pemuda disampingnya.
Jin Young yang merasa ini sudah bukan urusannya. Hanya mengedikkan bahu acuh dan beranjak keluar dari lift. Tanpa berniat melanjutkan kalimat yang terpotong tadi. Baru dua langkah menuju luar lift. Tiba-tiba Jin Young merasakan ada sesuatu yang menahan lengannya dan menariknya kembali masuk ke dalam lift.
Tentu ia sangat terkejut. Tetapi dibandingkan itu, hal selanjutnya yang lebih membuatnya sangat terkejut. Sebuah rangkulan di pinggang dan tengkuknya mampu membuat Jin Young shock. Dan disaat itulah ia merasakan ada sesuatu yang basah menyapa bibirnya.
"Ji Hoon op- " Gadis yang memanggil Ji Hoon sebelumnya hanya bisa membulatkan mata terkejut dan menghentikan langkah nya saat melihat pemandangan di dalam lift.
Shock. Sang gadis melotot dengan wajah shock ditempatnya berdiri. sambil menatap kedua pemuda didalam lift sana. Seiring dengan pintu lift yang kembali tertutup. "What? Apa-apa an itu?" Gumamnya tidak percaya sambil membulatkan mulut tidak percaya.
Tidak berapa lama beberapa orang terlihat menyusul –berlari- mendatangi sang gadis.
"Nona Jinan, anda tidak apa-apa? Anda kenapa?" Seorang asisten grupnya bertanya panik melihat sang artis sudah terduduk dengan wajah shock tidak jauh didepan lift.
"Andwe. Tidak mungkin. Ji Hoon oppa-
.
.
-mencium laki-laki?" Gumam Jinan sambil menutup mulut tidak pecaya. Lalu menoleh menatap asistennya yang terlihat khawatir.
"Eonni, katakan kalau ini mimpi." Ucap Jinan sambil melotot ke arah sang asisten.
"Ye? Maksud nona?"
"Andwaeee! Ji Hoon oppaa!" Teriak gadis yang bernama Jinan tersebut.
.
.
.
~~~o0o~~~
Sementara di dalam lift, Jin Young membulatkan mata nya tidak percaya.
'What the hell. Apa-apa an ini?' Batin Jin Young memberontak.
Setau Jin Young, bibir mereka saat ini tidak hanya sekedar menempel. Tetapi Jin Young bisa merasakan beberapa kali lumatan di bibir bawah nya.
'PARK JI HOON GILA!' Teriak Jin Young dalam hati.
Jin Young yang cepat tersadar berusaha melepas ciuman sepihak dari Ji Hoon yang sudah menutup matanya. Menikmati bibir Jin Young pastinya. Tetapi sepertinya posisi Jin Young sedang tidak menguntungkan untuk melepaskan ciuman sepihak tersebut.
Selang 1 menit, baru ciuman itu terlepas setelah Jin Young mendapat kekuatan menghentak keras lengan Ji Hoon yang memegang tengkuknya.
"Sshh- "
"Akhh- "
Jin Young tidak tinggal diam. Mengabaikan rasa sakit pada sudut bibirnya. Ia mencengkram kerah Ji Hoon secara brutal dan menyudutkan sang pemuda -lebih tepatnya mendorongnya ke arah dinding- dengan cengkraman kencang pada kerah jacket yang dikenakan Ji Hoon. Sehingga tas yang disandang oleh Ji Hoon sampai terlepas jatuh ke lantai.
"NEO MICHEOSEOO?" Berang Jin Young sambil menatap Ji Hoon. Lupakan soal sopan santun untuk saat ini. Persetan dengan citra baik karyawan.
Ji Hoon hanya menatap kosong tepat pada mata Jin Young yang memberinya tatapan kejam, dia sepertinya juga shock dengan apa yang baru saja dilakukan nya. Terbukti dengan tidak adanya perlawanan dari Ji Hoon terhadap cengkraman kuat Jin Young.
Ji Hoon tidak bisa berkata apa pun. Pikirannya kosong. Jin Young yang merasa frustasi dengan semua kejadian beruntun yang terjadi hari ini mencoba untuk mendinginkan kepalanya. Memejamkan mata sejenak sambil menarik nafas dalam. Lalu melepas cengkeramannya kasar dan tidak lupa mengusap bibirnya kasar menggunakan punggung tangan.
Berjalan menuju pintu lift, lalu memencet secara brutal angka 14, bertepatan dengan pintu lift yang terbuka setelahnya.
Hening. Jin Young keluar dari lift tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Begitu juga dengan Ji Hoon yang masih terdiam di dalam lift sampai pintu lift tertutup kembali.
TAP.
TAP.
TAP.
Setelah merasa pintu lift kembali tertutup Jin Young menoleh kebelakang memastikan bahwa pemuda yang baru saja menciumnya sudah tidak tampak.
BRUK.
Secara refleks Jin Young jongkok dan menenggelamkan kepalanya pada lutut mencoba untuk menahan rasa sakit pada perutnya.
"Ya tuhan. Apa apa an itu? Apa yang dilakukannya?" Gumam Jin Young sambil mencengkram perutnya yang tiba-tiba sakit.
"Dasar gila. Bagaimana bisa dia menci- ci- "
"Yak. Jin Young-ah. Ada apa dengan mu? Kenapa kau berjongkok di depan lift?" Tiba tiba suara Seong Woo mengagetkan Jin Young. Ia sontak menoleh ke arah sumber suara. Disitu terlihat Seong Woo yang berlari menghampiri Jin Young. Terlihat guratan khawatir.
"Kau kenapa Jin Young-ah?" Tanya Seong Woo saat sudah berada dihadapan Jin Young dan ikut berlutut melihat keadaan Jin Young yang seperti sedang menahan sakit.
"Ani Hyung. Tiba-tiba perutku sakit." Ucap Jin Young.
"Kenapa bisa? Apa kau salah makan? Atau asam lambung mu kambuh lagi?"
Jin Young tidak tau mau menjawab apa. Jin Young menggelengkan kepalanya dan berdiri dibantu oleh Seong Woo.
"Gwenchana Hyung. Sepertinya karena stres. Kau tau kan aku baru saja kembali dari kantor KCC. Ah- aku harus menemui Kepala Departemen sekarang Hyung." Sanggah jIn Young cepat.
Seong Woo yang masih khawatir tetap memandang Jin Young dengan kerutan didahinya, dia dapat melihat jelas Jin Young menahan sakit sambil meringis pelan.
"Kau yakin?"
"Nde Hyung, kau kembali saja sana." Usir Jin Young halus.
"Ani, kita pergi sama-sama. Aku juga harus ke lantai 11 untuk memberikan berkas ini ke bagian acara reality." Ucap Seong Woo sambil menggoyangkan beberapa berkas ditangannya.
"Kajja. Kita sama-sama saja." Ajak Seong Woo sambil merangkul Jin Young yang masih meringis.
"Kau yakin? Kau baik-baik saja?" Tanya Seong Woo lagi di dalam lift.
Jin Young menganggukkan kepala. "Setelah bertemu Kepala Departemen sepertinya aku pulang duluan Hyung. Kau bisa handle tim untuk hari ini kan?" Balas Jin Young sambil menatap pintu lift.
"Baiklah Jin Young-ah. Kau istirahat saja kalau begitu. Kalau ada apa-apa hubungi aku." Balas Seong Woo.
"Ne Hyung". Jin Young menganggukkan kepala dan kembali menatap pada pintu lift.
.
.
.
~~~o0o~~~
"Park Ji Hoon kau akan mati. MATI." Gumam Ji Hoon selama di dalam lift menuju lantai 15. Tempat rekan-rekan segrup nya sudah menunggu.
"Tetapi kenapa aku bisa mendapat ide untuk mencium Jin Young-ssi. Bodoh bodoh. Mati saja kau bodoh." Lanjut Ji Hoon sambil memukul kepalanya. Terlihat sangat frustasi. Beruntung yang berada didalam lift saat ini hanya dirinya.
Sebenarnya Ji Hoon tidak berniat untuk melakukan hal itu kepada Jin Young, orang yang bahkan baru dikenalnya. Tetapi dia melakukannya karena keadaan. Ia terpaksa.
Ji Hoon tidak ingin bertemu Jinan, gadis yang memanggilnya tadi luar lift. Jinan itu sangat berisik dan terus mengikuti kemana pun Ji Hoon. Apalagi kalau sudah berada dalam satu tempat yang sama dengannya. Ji Hoon amat sangat merasa risih, semenjak pemotretan seminggu yang lalu, gadis itu sangat gencar mendekati nya. Padahal Ji Hoon tidak terlalu suka dengan wanita yang berisik.
Tetapi sepertinya memang Jinan yang terlalu terpukau dengan ketampanan Ji Hoon, membuatnya tidak peka bahwa Ji Hoon tidak terlalu menyukainya. Malah semakin gencar mendekatinya. Dan cara yang terpikir oleh Ji Hoon hanya seperti tadi. Mencoba untuk membuat Jinan menjauhinya- dengan mencium Jin Young? Yang notabene nya adalah seorang laki-laki? Bisa kalian bunuh Ji Hoon saat ini juga?
Kenapa dia harus membawa Jin Young ke dalam hal seperti ini. Kenapa dia hari me- mencium Jin Young dan itu dibibir?
Dan Ji Hoon juga tidak sadar melumat bibir Jin Young. Ingatan awalnya hanya berencana untuk menempelkan sedikit bibirnya saja. Tetapi sepertinya kewarasannya berkurang drastis saat itu dan malah melumat bibir Jin Young.
'Mati sana kau Park Ji Hoon.' Batin Ji Hoon.
Tapi Ji Hoon akui, bibir Jin Young walaupun dingin seperti orangnya malah terasa sangat manis dan lembut. Ji Hoon jadi ingin merasa- .
Ji Hoon terbelalak karena fantasi liarnya membayangkan bibir Jin Young kembali. "Yak. Pabo. Kenapa kau berpikir begitu." Frustasi Ji Hoon sambil memukul kembali kepalanya pelan.
"Seharusnya aku minta maaf pada Jin Young-ssi."
.
.
.
~~~o0o~~~
"Yak. Park Ji Hoon, kenapa sangat terlambat? Acara bahkan akan dimulai 10 menit lagi. Ayo sana cepat ke ruang rias." Ucap Manager Kang yang sudah panik menunggu kedatangan Ji Hoon dari tadi.
"Nde. Maaf Hyung." Balas Ji Hoon lemas lalu berlalu menuju ruang rias member 101.
"Yo- yo- Ji Hoon, kau sangat terlambat." Sambut Hyeong Seob saat Ji Hoon pertama membuka pintu ruangan.
"Maafkan aku. Terjadi beberapa masalah tadi di jalan." Balas Ji Hoon.
"Masalah? Ck- Jangan bilang kau habis mencium seseorang dijalan Hoon-ah." Cengir Hyeong Seob setelah mengucapkan main-main kalimat yang sukses membuat mata Ji Hoon melotot memandang Hyeong Seob lewat cermin. Dia sedang ditangani oleh seorang stylist saat ini.
"Bagaimana-"
"Lihat itu, sudut bibir atasmu bagaimana bisa berdarah seperti itu?" Potong Daniel yang tepat duduk disamping Ji Hoon.
Ji Hoon dengan refleks melihat pantulan wajah nya di cermin dan memang benar, disudut bibir kanan atasnya terlihat sedikit ada sobekan dan darah. Tetapi tidak terlalu parah dan sepertinya bisa ditutupi make-up.
"Ck. Jangan samakan Ji Hoon Hyung dengan mu Hyeong Seob Hyung." Cetus Samuel.
"Kalau Seob Hyung aku paham bagaimana sering ada luka dibibirmu." Lanjut Samuel sambil memberi seringai diwajahnya. "Kan Hyung selalu tidak sabaran kalau bersama Woo Jin Hyung." Seringai iblis tercetak diwajah Samuel.
Woo jin yang sedang meneguk air pada botol tiba-tiba tersedak. Dan Hyeong Seob yang duduk disampingnya dengan cekatan megusap punggung nya.
"Tau apa kau? Ck- anak kecil." Ketus Hyeong Seob yang terasa di permainkan bocah seperti Samuel.
"Kalau Ji Hoon Hyung akan berciuman dengan siapa? Pernah mendengar dia dekat dengan seseorang saja tidak pernah." Celetuk Eui Woong sambil memberi high five pada Samuel.
"Ne. Bahkan aku tidak tau, apakah Ji Hoon Hyung suka dengan wanita atau mungkin pria?" Itu Seon Ho yang barusan berbicara dengan raut polos.
"Ah. Sudah, apa yang kalian bicarakan? Cepat siap-siap 5 menit lagi kita tampil." Woo Jin bersuara setelah kembali menormalkan nafasnya. Walau masih dengan wajah yang memerah, entah karena malu atau karena habis tersedak.
.
.
.
~~~o0o~~~
Jin Young membuka pintu apartemen nya dengan lesu. Menjatuhkan tas ransel yang disandang nya secara sembarangan lalu langsung merebahkan diri di sofa.
"Hah. Ini melahkan." Gumam Jin Young sambil menutup mata menggunakan lengan dan mencoba untuk istirahat sejenak.
TAP. TAP. TAP
Tiba-tiba sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Jin Young tentu terkejut dan sontak membuka mata, melotot.
"Kau terlihat sangat lelah. Ada apa?" Sebuah bayangan dari manusia jangkung di hadapan Jin Young membuatnya refleks duduk.
"Yak. Bagaimana kau bisa masuk ke apartemen ku?"
.
.
.
~~~ o0o ~~~
Chapter 2 END
Note :
DC Ent = Dream Come Entertainment (Agensi Boygrup 101)
KCC = Dewan yang mengatur penyiaran acara stasiun televisi Korea Selatan
Tulisan garis miring itu flashback ya ^^.
Author's Note :
Annyeong Yeorobun. Maafkan saya yang baru update chapter baru hari ini. #sungkem
Minggu kemaren gagal update karena kesibukan :( . Diusahakan deh, minggu ini update 2 kali, kalau gk besok hari kamis yak. TInggal pengeditan sih untuk chap selanjutnya wehehehe #YEAY
Oh iya, disini aku mau klarifikasi, plot cerita murni alias pure dari aku. Tetapi kalian akan banyak menemukan adegan yang mirip dengan yang ada di KDrama, karena tentu AKL terinspirasi buat fanfic juga dari drama-drama yang di tonton. Untuk fanfic ini AKL terinspirasi dari drama THE PRODUCERS dan THE LIAR AND HIS LOVER. Saya baru siap nonton drama itu dan terpikir untuk membuat FF dengan menggabungkan ke 2 drama tersebut dengan plot buatan saya pastinya. Hahahaa.
So, I hope you enjoy read this fanfiction yeorobun. Untuk balasan review di chap selanjutnya AKL balas ya. Jangan pernah bosan dengan cerita ini. OK?
Ngomong-ngomong Di PRODUCE 101 Episode 8 Jinyoung x Jihoon berlayar guys. FINALLY MY SHIP IS SAILING. NEOMUUUU JOHAEE.
RnR please? (Biar AKL semangat nulis :*)
Ppyong
AKLigt
2017.05.30
