TITLE : Into You
AUTHOR : GresikaS
CAST : Oh Sehun , Do Kyungsoo , etc
GENRE : Romance , etc
DISCLAIMER : Semua cast milik Sment & cerita ini milik saya (-,)
NOTE : Hai I'm Back , kali ini Hunsoo , happy reading :D
Previous Chapt :
Sedikit aneh baginya karena ini hari dimana ia merasa bahagia karena ia bisa bersama teman-temannya lebih lama atau pulang menggunakan bis umum , bukan seperti bebas , bebas melakukan apa saja , tanpa ada yang mengawasi , tanpa ada yang menanyainya apa saja yang ia lakukan.
Ini semua hanya karena terbang menuju Roma , sebuah undangan penting yang tidak bisa ia tunda , Ayahnya bermain disana , dan Roma bukanlah tujuan yang bisa ditempuh dalam sekejap yah tidak masuk hitungan jika itu jet pribadi.
"bibi , aku akan ke perpustakaan , apa ayah sudah menelepon ?"
"belum , berangkatlah dengan Paman Lee , dia sudah menunggumu didepan"
Ia tersenyum , senyum yang hampir tidak pernah ia tunjukkan selama berada di rumah "baiklah , seperti biasa jika ayah menelepon"
"hati-hati tuan muda"
Seperti ini yang ia inginkan , bebas melakukan apa yang ia suka , bebas tertawa , bebas dari apapun yang membelenggunya selama dalam catatannya tidak ada Ayah berarti itulah hari bebasmu , bebaslah hari itu juga atau semuanya terlambat.
Saat itu jalanan Seoul terasa menyenangkan , terlihat jauh lebih indah dibanding hari-hari pun ia bisa ia akan tersenyum sepanjang hari , melakukan apa yang belum pernah ia lakukan.
"sampai nanti Paman Lee" dan ia memasuki perpustakaan favoritnya , memilih duduk di sudut dengan jendela besar buku yang sudah ia pesan memandang keluar jendela , dan ia tersenyum-lagi.
Mata itu menangkap sebuah buku bertuliskan piano tepat di rak depan tempat ia dari tempatnya , membacanya bukan buku tentang bagaimana caranya kau bermain piano untuk pemula , kumpulan lagu atau ini semacam cerita perjalanan hidup , seorang pianis mungkin atau seseorang yang bercita-cita menjadi pianis.
Disertakannya sebuah gambar , yang menunjukkan jemarinya yang bermain piano , kening pemuda itu dia sakit ? maksudnya si pembuat buku terlihat terguncang saat diambil gambarnya.
'jika sebuah paksaan memaksamu mempelajari hal baru , percayalah itu bukan cara yang tepat'
Begitu kata salah satu kalimat yang dibaca Pemuda manis paksaan sudah menjadi hal biasa yang diceritakan pada buku ini nyata , berarti mereka mengalami hal yang serupa , sama-sama tidak menyukai paksaan.
"kita sama"
Kenapa siang hari ini terasa dingin sekali , atau hanya dia saja , karena melihat orang-orang disekitarnya seperti tidak merasakan apa-apa , itu karena dia sedikit mencolok dengan jaket kopi panasnya erat , menghangatkan tubuh.
Ia tersenyum saat sesosok anak kecil yang baru saja masuk di cafe yang ia singgahi tak sengaja bertemu pandang dengannya , memegang erat tangan sang itu ikut tersenyum , ia meraih kamera yang ia letakkan di mejanya , mengangkatnya , mencoba mengatakan jika ia akan mengambil gambarnya melalui bahasa isyaratnya sendiri dengan anak kecil tadi.
Tepat waktu karena hanya selang beberapa detik sang Ibu kembali melangkah keluar , dan anak kecil tadi melambaikan tangan padanya sembari menggenggam sebuah cookies.
"sampai jumpa lagi" gumamnya , dan kembali berkutat dengan kameranya , meneliti kembali semua foto yang diambilnya hari ini , hanya sebagian kota Seoul , sebelum akhirnya ia menginginkan kopi dan berakhir dengan duduk di cafe ini.
Meluruskan kaki dan tubuhnya sedikit , melonggarkan otot-otot tubuhnya yang terasa sedikit kaku "karena kau aku kurang tidur" ia bergumam lagi dengan tatapan yang terarah pada secangkir kopi didepannya.
Tubuhnya kembali duduk dengan tegak setelah pandangannya tak sengaja menangkap objek yang tak asing lagi yang terlihat sibuk dengan sebuah buku yang terlihat ? ya begitu ia tidak tahu apa tatapan kosong itu menjadi kebiasaannya atau memang Pemuda itu tengah melamun.
Sedikit terburu ia menyeruput habis kopinya , mengabaikan rasa panas yang menyarang indera pengecapnya , mengambil kameranya , dan beranjak dari sana.
Suara klik yang sempurna setelah ia berdiri didepan cafe tempatnya ia menikmati kopi hari tersenyum , benar seperti dugaannya yang kedua , sosok itu tengah melamun bukan dari jarak sejauh ini saja keindahan itu masih terlihat luar biasa.
Langkah kaki itu membawanya menyeberangi jalan , memasuki perpustakaan yang cukup besar tatapan tanya penjaganya , pertama kali melihatnya , mungkin , yah benar juga , bukan ?.Perlahan mengetuk kecil meja yang ditujunya , tersenyum saat sosok yang dipandanginya itu .
"boleh aku duduk ?" dan Sebuah anggukan kepala sebagai jawaban dari sosok itu.
"aku mengganggumu ?"
Ia menggeleng "tidak , kau bekerja ?" tanyanya sembari menunjuk kamera yang ada didekatnya.
"tidak , hanya mencari sesuatu yang lain , lalu aku bertemu denganmu"
"begitu ..."
Pemuda tinggi ini mulai menyukai nada bicara sosok dihadapannya ini , sama seperti saat ia bermain piano , lembut , anggun , tapi mampu mengoyak perasaan.
"kau suka foto ?"
"hm ?"
Sehun , pemuda tinggi itu mengangguk "iya , kau suka ?"
"mungkin , aku tidak terlalu tahu tapi aku suka"
"mau mampir sebentar ke galeriku ? tak jauh dari sini"
Pemuda manis itu berpikir sejenak , melihat jam kecil yang melingkar di tangan mungilnya "boleh jika tidak merepotkan"
Sorot mata itu terlihat berbinar , dan terlihat senang dengan apa yang ada didepan matanya satu persatu karya Pemuda tinggi yang mengajaknya , dan ia berdecak kagum dalam pertama kali dalam hidupnya melihat sebuah foto seolah hidup , menyapanya dan bertanya 'kenapa baru sekarang kau melihat kami'.
Perhatiannya tertuju pada sebuah foto yang menampilkan tiga buah pohon besar dengan matahari terbenam sebagai indah sekali , dan terkesan melankolis.
"kau suka ?"
"ya , pertama kalinya dalam hidupku aku melihat sesuatu seperti ini"
Sehun terdiam , dalam hatinya ia bertanya-tanya , kehidupan seperti apa yang selama ini dilewatinya ? ia tahu jika Do In Sung ayahnya terlihat protektiv sekali tapi apa memang seperti itu.
"sejak kecil aku hanya dikenalkan dengan piano" seolah menjawab pertanyaan yang diajukan Sehun dari dalam hatinya.
"berlatih , belajar , berlatih , belajar hanya seperti itu ... membosankan bukan ?" sosok itu menoleh dan mendapati Pemuda tinggi yang berdiri disampingnya tengah menatap penuh tanya.
Tergesa Pemuda itu menjawab "tidak juga , aku suka permainan pianomu , dibandingkan ayahmu dan juga temanku"
Sosok itu tersenyum , terlihat jelas kali ini "ada dua piano dirumah"
Sehun terkejut , ia menyadarinya sekarang , di lantai satu memang ada sebuah piano , piano hitam yang digunakan Do In Sung saat jamuan makan malamnya , juga satu buah piano lagi di lantai atas , sebuah piano putih yang dimainkan sosok disebelahnya.
"ah ya benar"
"masing-masing dari kami , aku dan ayahku tidak pernah menyentuh selain piano kami saat dirumah"
"oh tunggu , kenapa ?"
Sosok itu berjalan , kembali melihat foto yang lain "Ayahku berkata sebuah piano bisa mempengaruhi cara bermain seseorang , mempengaruhi semacam sugesti"
"jadi itu alasanmu tidak bermain piano malam itu ?"
Pemuda manis itu menggeleng , berhenti pada sebuah foto padang pasir yang luas dengan seseorang di tengahnya "bukan hanya itu ... aku tidak suka bermain setelah ayahku dan juga ... aku membenci apa yang dimainkannya"
"aneh bukan ?"
Sehun menggeleng "itu wajar , seperti sebuah foto , setiap fotografer punya gaya sendiri dalam mengambil gambar , ada yang membuatmu senang dan ada juga yang membuatmu bosan hanya dalam hitungan detik"
Sosok itu mengangguk "punya cita-cita lain sebelum menjadi fotografer ?"
"tidak ada , aku hanya mengikuti naluriku , bermain , belajar , membuat onar , hingga pada akhirnya aku tertarik pada kamera , kau ?"
"aku tidak punya pilihan" menggeleng dan tersirat kesedihan dalam suaranya.
"mau bermain piano ? ada piano di atas"
Hujan.
Terjadi begitu saja , hanya selang beberapa saat pemuda manis itu selesai bermain piano dengan sesuka hanya kembali duduk ditempatnya , dan mencoba menekan beberapa tuts piano sebuah lagu yang ia juga tidak tahu darimana , ini lagunya sendiri , lagu yang ia ciptakan selagi menunggu.
Diseberangnya ada sesosok pemuda tinggi yang masih setia mendengar setiap alunan yang ia tidak peduli apa yang pemuda manis itu mainkan , ia suka , cara bermainnya yang ia membuat pendengarnya lelah dan bosan.
Tak ada suara 'klik' yang biasa ia tekan setiap kali melihat objek yang hanya ingin merasakan dan menikmati objek itu sendiri saja untuk kali ini.
Sosok manis itu mendongak , menatap pemuda tinggi dihadapannya dengan tatapan ada apa dengan raut wajahnya.
"aku suka lagu yang ini"
Sosok manis itu tersenyum kecil "terima kasih"
"ya ?"
"aku hanya mengarangnya saat ini , spontan saja"
Pemuda tinggi itu bertepuk tangan , wajahnya terlihat bangga sekali sekarang "benarkah ? hebat sekali , kau ikut resital seharusnya"
"ya aku memang ikut ..." dan ia berhenti , menggantungkan jawabannya.
"ada apa ?"
"aku tidak bisa memainkan lagu yang harus kumainkan"
Pemuda tinggi ini terkejut , dengan permainan seperti ini bagaimana bisa ia tidak bisa memainkan sebuah lagu ? bahkan ia menciptakan lagu sendiri dalam jangka waktu yang sangat sedang mencoba bergurau atau apa.
"aku tidak bisa bermain seperti ayahku , sedang lagunya dan ayah menuntutku untuk bermain persis seperti yang ayah lakukan"
Sehun tertegun , lalu kenapa jika Kyungsoo memainkan lagu itu seperti biasanya ia memainkan piano ? apa itu wajib ? bermain persis sama dengan aslinya.
"kau tentu sudah melihat pialaku yang terpajang dilantai bawah"
"emm ya , kau hebat semuanya diperingkat pertama"
Kyungsoo mengangguk , "karena selain peringkat satu itu tidak akan ada disana , ayahku tidak akan pernah menerima hasil kedua"
Sehun beranjak dari tempatnya , menghampiri Kyungsoo yang tertunduk menatap tuts piano dengan bisa merasakan arti dari sorot mata kesedihan itu , kini , ia tahu jemarinya diatas tuts piano , memainkan sebuah yang juga familiar di telinga pemuda manis itu.
'Just The Way You Are – Bruno Mars'
Kyungsoo tersenyum , jemarinya terangkat dan ikut memainkan lagu itu bersama Sehun yang berada dua nada berbeda yang indah menjadi satu.
"mainkan saja seperti biasanya , aku pernah datang ke resital salah satu temanku dan aku tertidur karena dia bermain seperti emm maaf seperti ayahmu"
Senyum itu kembali mengembang "kau bisa bermain piano"
Sehun juga tersenyum "bagaimana permainanku menurutmu , tolong jangan terlalu kejam"
"bagus , aku suka nadanya terdengar tulus" ujar Kyungsoo , masih dengan senyumnya yang mengembang dibibirnya.
Sehun bangkit dan meraih tangan mungil berdiri , pergi entah membawanya kemana.
"kau membawaku kemana ?"
"hari ini aku yang mengundangmu makan malam"
TBC
