Disclaimer : Persona 4 / Animation / Arena / Golden punya ATLUS. Saya cuma numpang minjem karakternya aja.
Warning : OOC, OC, AU, mistypo, dan kawan-kawan.
Jam di dinding ruang tengah kediaman Dojima menunjukkan pukul 5 pagi. Di sana terlihat seorang pria berumur sekitar 30 tahun keluar dari kamar mandi. Dojima Ryotaro baru saja selesai melakukan ritual pagi harinya setelah bangun tidur, buang air besar. Sambil menggaruk punggungnya yang terasa gatal, ia bergerak menuju tempat di mana televisi di rumahnya berada. "Semoga saja berita pagi ini bermutu. Tidak seperti berita-berita belakangan ini yang hanya berisi skandal…" Gumamnya sambil duduk di sofa panjang di dekatnya dan menyalakan televisi dengan remote. Kemudian ia menggonta-ganti channel televisi hingga ia menemukan satu channel yang menarik perhatiannya.
"Sekilas Berita."
"Sepertinya menarik." Gumamnya sambil merilekskan tubuhnya di sofa.
"Berita pertama.
Tepat dini hari ini, terjadi kecelakaan kereta tepat di perbatasan perfektur Tokyo, yang lokasinya tidak begitu jauh dari kota Inaba. Ketika ditemukan oleh pihak yang berwajib, kondisi kereta sudah dalam keadaan hancur. Bagian depan kereta remuk seperti telah menabrak sesuatu. Anehnya, di sekitar lokasi tidak ditemukan apapun yang terlihat mencurigakan. Bisa dipastikan seluruh penumpang di dalamnya tewas.
Berita selanjutnya—"
Syok. Itulah yang dirasakan Ryotaro setelah melihat dan mendengar kilasan berita pagi hari itu. "Tidak mungkin…" Gumamnya, raut wajahnya terlihat seperti seseorang yang kehilangan sesuatu terpenting dalam hidupnya. "Souji…" Air mata terlihat mulai menetes dari kedua matanya, namun segera dihapusnya. "Tidak, dia pasti masih hidup. Aku harus segera menuju ke lokasi." Ucap si pria sambil menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya dengan kemeja dan celana panjang yang biasa ia pakai untuk dinas kepolisian.
Tepat setelah si pria berganti pakaian dan keluar dari kamarnya, terdengar suara ketukan dari pintu depan rumahnya. "Tch. Ada tamu." Gumamnya sambil menyalakan sebatang rokok untuk dihisapnya. Dengan cepat, ia berjalan menuju pintu depan rumahnya untuk membukakan pintu tersebut. Ketika pintu dibuka olehnya, ia dibuat terkejut sehingga rokok yang baru saja dihisapnya langsung terjatuh ke lantai. "Souji…" Hanya nama itulah yang keluar dari mulutnya ketika melihat sosok pemuda berambut keperakan yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya. Seta Souji, keponakannya yang kemarin sore menaiki kereta listrik dengan tujuan Tokyo yang mengalami kecelakaan dini hari tadi, dalam keadaan sehat.
"Pagi, paman." Kata si pemuda berambut keperakan. "Sebelumnya… apa aku boleh meminjam uang paman?" Pintanya, tidak menyadari wajah pamannya yang terlihat kaget. "Aku belum membayar taksi yang kunaiki." Lanjutnya sambil menunjukkan taksi yang sedang menunggu di luar rumah milik pamannya itu. Dan Dojima Ryotaro masih belum lepas dari rasa kagetnya, dengan mulut sedikit ternganga. "Paman?"
"A-ah iya… Tunggu sebentar…" Ucap Ryotaro, tangan kirinya merogoh saku kiri celana panjangnya untuk mengambil dompet kulit warna hitam miliknya dan kemudian mengeluarkan sejumlah uang untuk diberikan kepada Souji.
"Terima kasih, paman." Ucap keponakan si pria yang kemudian berbalik menuju taksi yang sedang menunggunya.
"Tunggu sebentar, Souji." Perkataan Ryotaro membuat Souji menghentikan langkahnya. "Siapa gadis ini?" Tanyanya ketika menyadari kehadiran seorang gadis berambut coklat dengan panjang sebahu yang dikuncir pigtail, yang sebelumnya berdiri di sebelah keponakannya. Si gadis terlihat menundukkan kepalanya.
Souji terdiam sejenak. "…. Nanti akan kuceritakan, paman." Jawab pemuda itu, melanjutkan langkahnya menuju taksi yang sedari tadi menunggu untuk dibayar di bayar biaya tarifnya.
Persona 4 : After End
Chapter 3 : Meeting My Self
"Jadi… bagaimana kau bisa selamat?" Tanya Ryotaro kepada keponakannya. Kini mereka bertiga tengah duduk di ruang tengah kediaman Dojima. Jam di sana menunjukkan pukul 05.15 pagi.
"Selamat… dari apa?" Tanya Souji balik.
Ryotaro berdeham. Dalam benaknya ia berpikir kenapa keponakannya tiba-tiba jadi agak lamban seperti ini. "Menurut berita yang baru saja kulihat di televisi tadi, keretamu mengalami kecelakaan." Jelas si pria, berusaha terlihat sabar. "Jadi… bagaimana kau bisa selamat dari kecelakaan itu, Souji?"
"Oh… kecelakaan itu…" Ucap Souji, baru tersadar akan maksud pertanyaan pamannya. Si pria dan si gadis berambut coklat hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Aku diselamatkan olehnya, paman." Jawab si pemuda, dengan sekaligus berniat memperkenalkan Nanako versi remaja kepada pamannya.
"E-eh?" Nanako terkejut dengan yang dilakukan Big bro-nya itu.
"Dia adalah salah satu penumpang kereta listrik yang kutumpangi." Souji mulai memperkenalkan gadis yang menyelamatkan dirinya, sedangkan Nanako, wajahnya terlihat khawatir karena takut kakak sepupunya memberitahu jati dirinya yang berasal dari masa depan. Tapi bukan Seta Souji namanya kalau tidak penuh dengan kejutan. "Namanya… Narumi Nana." Lanjutnya, raut wajahnya tidak berubah sedikit pun, layaknya seseorang yang berkata apa adanya.
Nanako menjadi bisa bernapas lega karenanya. "Saya Narumi Nana. Salam kenal, um…" Dia berusaha berpura-pura tidak mengenali pria yang merupakan ayahnya dari masa lalu itu.
"Dojima Ryotaro." Ucap Ryotaro.
"Ah… Salam kenal, Dojima-san." Lanjut si gadis sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Kembali ke topik awal, bagaimana kalian bisa selamat dari kecelakaan itu?" Ryotaro mengulang pertanyaannya lagi, karena belum terjawab sepenuhnya.
"Kami melompat dari pintu evakuasi yang berada di gerbong paling belakang untuk menyelamatkan diri, Dojima-san." Jawab Nanako yang kini sudah tidak begitu canggung dengan ayahnya di masa lalu.
"Oh…" Ryotaro akhirnya bisa paham bagaimana keponakannya bisa selamat dari kecelakaan. Tapi… entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya sejak melihat gadis berambut coklat yang datang bersama Souji. Dia pun mencoba untuk menanyakan sesuatu kepada gadis itu. "Narumi-san, apa sebelumnya kita pernah bertemu?"
Nanako terkaget karenanya. "M-maksud Dojima-san… ?" Tanyanya sambil kembali menundukkan kepalanya, takut pria itu menyadari kalau dia adalah anaknya sendiri yang berasal dari masa depan.
Menyadari sepupunya versi remaja itu seperti terpojok, Souji langsung mengambil alih. "Dia juga tinggal di Inaba, paman." Jawab Souji dengan tenang. "Dia naik kereta yang ke arah Tokyo untuk tinggal sementara di rumah sepupunya yang menetap di sana." Tambahnya untuk memperjelas.
Meski sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan keponakannya, Ryotaro tetap menerimanya. 'Mungkin memang benar kata Souji.' Batinnya menyetujui. Mereka pun kemudian berbincang sedikit dengan berbagai topik yang kurang penting, meski Nanako tidak banyak berbicara untuk menjaga identitasnya. Perbincangan mereka terus berlanjut, sampai terdengar suara pintu terbuka yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka duduk, yang diikuti dengan kemunculan seorang anak perempuan berambut coklat pendek yang dikuncir pigtail dari balik pintu itu.
"Ayah, ada tamu ya?" Tanya si gadis kecil sambil mengucek matanya agar matanya tidak menutup kembali. Betapa kagetnya dia ketika melihat salah satu dari "tamu" ayahnya. "Big bro?" Tanyanya, seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Karena setahunya, "Big bro" yang sudah tinggal setahun bersama keluarganya baru saja kembali ke Tokyo kemarin sore.
"Pagi, Nanako." Sapa Souji seperti biasanya.
"Kenapa Big bro bisa ada di sini? Ada barang yang tertinggal ya?" Tanya Dojima Nanako versi anak kecil dengan polosnya.
Dengan lancar, Souji menjawab. "Tadi malam Big bro dihubungi oleh orang tua Big bro dari Tokyo. Kata mereka Big bro boleh tinggal lagi di sini. Makanya, Big bro langsung melompat dari kereta untuk kembali ke sini." Dojima Ryotaro yang mendengarnya berusaha menahan tawa mendengar jawaban keponakannya untuk anak semata wayangnya. Sedangkan Nanako versi remaja hanya tersenyum kecil.
"Hore! Big bro tinggal di sini lagi!" Teriak gadis kecil itu, senang setelah mengetahui kakak sepupunya akan tinggal bersamanya lagi. Tapi kemudian ia melihat gadis berambut coklat yang dikuncir pigtail yang ada bersama Big bro dan ayahnya. "M-maaf… Siapa?" Tanyanya sambil bersembunyi di belakang ayahnya.
"Aku—"
"Dia teman Big bro yang ikut melompat bersama Big bro, Nanako." Belum sempat Nanako selesai menjawab, Souji sudah terlebih dulu memotongnya. "Namanya Narumi Nana."
"Hai…" Sapa Nanako kecil, masih bersembunyi di belakang ayahnya karena sifatnya yang agak pemalu.
"Hai… Nanako." Balas Nanako, merasa sedikit aneh ketika menyapa dirinya sendiri yang masih kecil dengan nama yang sama. Ia kemudian tersenyum kecil masih begitu polos dan pemalu namun cukup dewasa. 'Aku jadi ingat masa laluku…' Batinnya, tanpa sengaja meneteskan air mata dari kedua bola matanya.
"Kenapa menangis?" Tanya Nanako kecil tiba-tiba ketika melihat air mata mengalir di kedua pipi perempuan yang baru dikenalnya.
"A-ah…" Menyadari air mata menetes di pipinya, Nanako segera mengelapnya. "Aku… hanya teringat dengan adikku yang sudah meninggal." Jawabnya, memasang senyum sedih, meski yang dikatakannya bukan hal yang sesungguhnya.
"Ah… Maaf…" Tanya Nanako kecil lagi.
"Tidak apa-apa, Nanako." Ucap si gadis berambut coklat, masih memasang senyum sedih.
Ruang tengah kediaman Dojima menjadi hening karenanya. Mereka yang ada di dalam ruangan itu seakan kehabisan topik yang bisa dibicarakan. Ryotaro kemudian melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 05.45. "Sebaiknya aku ke kantor sekarang." Kata pria itu, beranjak dari tempatnya duduk. "Nanako, tolong siapkan sarapan untuk mereka ya." Lanjutnya sambil bergerak menuju pintu depan rumahnya.
"Ayah tidak sarapan?" Tanya si gadis kecil.
"Ayah bisa membeli sarapan di jalan." Jawab Ryotaro sambil memakai sepatunya. Tidak lama setelah itu terdengar suara pintu depan dibuka dan teriakan, "Aku berangkat!".
Sekarang hanya tinggal Souji, Nanako, dan Nanako kecil di dalam kediaman Dojima, suasana masih terasa canggung. "Sebaiknya aku segera membuatkan sarapan." Kata Nanako kecil sambil bangkit dari tempatnya duduk. Namun Souji menahannya.
"Biar Big bro saja yang membuatnya, Nanako." Ucap Souji sambil beranjak menuju dapur. "Kamu mengobrol sedikit dengan Nana-san saja." Tambahnya, membuat Nanako versi remaja terkaget.
Menit demi menit berlalu, tapi mereka berdua, Nanako versi remaja dan Nanako kecil, belum memulai pembicaraan. Karena bingung, akhirnya Nanako kecil memilih menyalakan televisi dan memindahkan channelnya dengan remote televisi yang dipegangnya. Nanako hanya bisa diam, melihat apa yang dilakukan dirinya yang masih muda. Sampai akhirnya, ada satu jingle iklan yang menangkap perhatian mereka berdua.
"Every Day's Great at Your Junes!"
"Every Day's Great at Your Junes!" / "Every Day's Great at Your Junes!"
Tanpa disadari, mereka berdua langsung menyanyikan ulang jingle Junes, bersamaan. Setelahnya, mereka berdua langsung saling pandang.
"Nana-san… suka menyanyikan ini juga?" Tanya Nanako kecil, kini matanya terlihat berbinar-binar karena menemukan seseorang yang menyukai hal sama dengannya.
Dengan sedikit gugup, Nanako mengangguk.
"Ayo kita nyanyikan lagi!" Teriak Nanako kecil dengan semangat. Kemudian, dia dan dirinya versi remaja menyanyikan jingle Junes beberapa kali, sampai Souji membawakan tiga piring omelette untuk mereka. Mereka pun menyantap sarapan bersama-sama, dengan Nanako kecil yang sesekali menyanyikan jingle Junes.
A.N :
Chapter 3 selesai, meski lebih pendek dari 2 chapter sebelumnya. Terinspirasi dari iklan wafer di TV.
Ucapan terima kasih kembali saya ucapkan kepada para reader yang bersedia membaca fanfic saya. Semoga semakin banyak yang membaca fanfic saya ini. (Amin)
Terima kasih juga untuk agan Sepicis (Sp-Cs) yang telah mereview untuk chapter-chapter sebelumnya.
Well, sekian dari saya untuk chapter 3 ini. Maaf kalau saya ada kesalahan penulisan dan kesalahan lainnya di dalam fanfic ini.
Semoga reader sekalian puas dan bersedia memberi saya masukan berupa review atau flame (kalau bisa flame yang bersifat membangun).
Terima kasih.
