[Chaptered]
Title : Warmth
Chapter : 3 / ?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Pair : Uzumaki Naruto & Uchiha Sasuke (NaruSasu)
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu
Papiku.
Genre : Shonen Ai, Vamfic
BGM : Fish Leong - Warmth
Yuhuuuu~ I'm back!
PRaaaaNG
Kaca jendela pecah.
Gaara dan Sasuke terlempar keluar jendela dan terjatuh dari lantai 2.
"Sasuke!", teriakku histeris.
Aku berlari menuju jendela yang pecah itu.
"I'm OK!", teriak Sasuke langsung bangkit dan mengejar Gaara yang sudah berlari menghindarinya.
Cih! Bocah itu terlalu gegabah!
Aku melompat turun dari lantai 2, sedikit meringis karena telapak tanganku terkena pecahan kaca ketika mendarat.
Tidak peduli dengan lukaku, aku harus mengejar Sasuke sebelum aku kehilangan jejak.
Bocah itu cepat sekali larinya, tapi syukurlah, itu tandanya dia tidak terluka fatal saat jatuh tadi.
GReeeeP
Tiba-tiba ada sesosok bayangan datang dan menerjangku dari samping kiri. Aku terjatuh dan berguling bersama sosok tersebut, seorang vampire pria. Vampire itu menunjukkan taringnya yang siap untuk menerkamku. Kutahan wajahnya dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku sibuk mencari pistolku.
Kuso! Pistolku tidak ada!
"ARG!", vampire itu menggigit pergelangan tangan kananku saat aku panik karena tidak menemukan senjataku.
Kutonjok wajah vampire itu, tapi tetap saja dia tidak mau melepas gigitannya. Vampire itu malah mencekikku dengan satu tangan, dia terus menghisap darah dari tangan kananku. Kedua tanganku melemas, pandanganku mulai menggelap. Kalau seperti ini, aku bisa mati konyol kehabisan darah. Sasuke pasti akan meraung-raung menangisi kematianku.
Tidak! Aku tidak boleh mati! Aku tidak ingin membuat Sasuke meraung-raung. Sasuke juga belum tahu perasaanku!
Sepintas sebuah ingatan muncul. Saat itu Sasuke marah besar karena aku menghabiskan stok tomat -yang dibelinya- untuk membuat soup tomat. Padahal aku membuat soup tomat untuk makan malam kami. Dia malah membantingku ke sofa, aku yang saat itu masih tidak menyukainya, membalas perlakuannya. Aku memiting lehernya, bukannya meronta minta dilepaskan, dia malah menjambak rambutku sehingga aku melepaskannya. Aku ingin memukulnya, tapi aku tidak tega melihatnya menangis.
Huf~ Kurasa aku harus melakukan trik ini.
Kukerahkan semua kekuatanku. Kujambak rambut putih si vampire ini.
"Ah! Rambut indahku!", teriak vampire itu, gigitannya terlepas.
Yatta! Aku berhasil!
Dengan cepat kutendang perutnya agar dia menjauh dariku. Aku berguling ke samping, kulepaskan kaos yang kukenakan untuk menutupi luka di pergelangan tanganku agar darahku tidak mengalir. Bau darah bisa memancing vampire yang lain untuk datang ke sini.
Vampire itu marah, dia merapikan rambutnya sebelum menerjangku kembali. Aku berlari ke samping untuk menghindari serangannya. Aku terjatuh, karena kakiku sudah tidak sanggup untuk menghindar. Kekuatanku sudah habis, aku bahkan tidak punya senjata untuk melawannya.
"Mati kau bocah!", teriaknya.
Aku menutup kedua mataku. Aku tidak ingin melihat wajah jelek vampire itu di saat detik terakhirku.
Ah~ Padahal aku ingin melihat wajah manis Sasuke sebelum aku mati. Ya, Inilah akhir dari pertualangan Uzumaki Naruto, seorang Hunter yang cintanya tak tersampaikan.
"Aku mencintaimu, Suke...", gumanku tersenyum.
"What?!", teriak seorang perempuan yang suaranya sangat kukenal.
Aku membuka kedua mataku kulihat seorang wanita berambut merah dengan kacamata membingkai matanya.
"Ka, Karin-neechan!", teriakku histeris.
Aku melirik ke belakang Karin, vampire tadi itu telah hangus terbakar.
"Kau datang di saat yang tepat, nee-chan!", seruku.
Karin berseringai. Cih! Mengapa harus si mulut usil ini yang mendengarkan kalimat terakhirku tadi? Dia pasti akan meledekku.
"Aw aw Sasuke...Fufufu...", Karin mulai tertawa sambil melirik genit ke arahku.
Aku teringat dengan Sasuke yang masih mengejar Gaara.
"Sasuke dalam bahaya!", aku mencoba untuk berdiri, tapi kakiku masih lemas.
"Shika-chan sedang mengejarnya. Kau istirahat saja!",
Karin menyuruhku untuk duduk sejenak mengumpulkan tenaga, sementara Karin beralih pada mayat vampire. Dia mengeluarkan alat *seperti gamebot* untuk menscan wajah dan sidik jari vampire. Kami perlu data vampire yang telah mati untuk dilaporkan pada para tetua. Para tetua memberi reward untuk Hunter berdasarkan jenis buruan.
"Wow! Ini Hidan!", seru Karin.
"Hidan?",
"Salah satu anggota Akatsuki. Aku tidak menyangka bisa semudah ini menghabisinya", jelas Karin dengan bangganya.
Kudengar dari papaku, Akatsuki adalah vampire elite yang sangat sulit untuk diburu, sehingga para tetua menghargai Akatsuki dengan reward tinggi.
Apa benar, vampire sok keren dan brutal ini adalah anggota Akatsuki? Sama sekali tidak ada elite-elitenya.
"Kalau saja senjataku tidak hilang, mungkin akulah yang akan menghabisnya", cibirku.
"What?! Kau menghilangkan senjatamu?",
"Huh!", dengusku.
"Kalau saja aku tidak ke sini, mungkin kau sudah dimangsa sama seperti Kushi... Ah! Gomen! Aku keceplosan!", Karin langsung menampar pelan mulutnya.
"Dasar mulut usil!", umpatnya lagi.
"Darimana kau tahu keberadaanku?", tanyaku.
"Saat berpatroli, tiba-tiba Kiba mencium bau darah Sasuke. Tak lama kemudian, Kiba mencium bau darahmu juga di tempat berbeda. Shika-chan bersama Kiba mencari keberadaan Sasuke, sementara aku mencari keberadaanmu yang tak jauh dari sini", jelas Karin.
Kiba juga ada di sana, aku bisa menebak bahwa Kiba dan Sasuke sedang berdebat sekarang. Sejak dulu Sasuke tidak suka dengan Kiba, karena Kiba itu jorok dan bau.
Di rumah sakit milik Tsunade-baachan.
Baachan sudah menyembuhkan luka gigitan di pergelangan tanganku, meskipun lukanya cukup dalam, tapi itu tidak membahayakan.
Separah apapun luka itu, baachan bisa menyembuhkannya dengan kekuatan medis yang dimiliki beliau.
"Sasuke sedang tertidur di kamar sebelah", kata Shikamaru yang baru saja datang menjengukku.
"Dia baik-baik saja?",
"2 tulang rusuk patah, betis kanannya robek. Tapi Tsunade-sama sudah mengobatinya", jelas Shikamaru.
Aku mencabut infus dari tangan kiriku. Aku ingin melihat keadaan Sasuke, tapi Shikamaru menyuruhku berbaring, karena ada hal penting yang ingin disampaikannya.
Aku menurutinya, karena kulihat wajah malasnya ini sangat serius.
"Bocah itu menembak kami dengan ini", Shikamaru menunjukkan sebuah pistol padaku.
Aku mengambil pistol tersebut, memastikan bahwa pistol ini adalah milikku. Dan ternyata...
"Bagaimana bisa pistol ini ada padamu?", tanyaku.
"Seharusnya aku yang bertanya, mengapa kau memberi pistolmu pada Sasuke?",
"Aku tidak mungkin memberikan pistol kesayanganku pada siapapun!", tegasku.
"Berarti bocah itu mencurinya darimu",
"Sasuke mungkin, ya mungkin dia mengambilnya dariku. Tapi dia tidak mungkin menembak kalian",
Shikamaru menarik kursi dan duduk di sebelahku. Dia mulai menjelaskan kronologi penembakan yang dilakukan Sasuke terhadap Shikamaru dan Kiba.
Awalnya, Kiba dan Shikamaru menemukan Sasuke dalam keadaan terluka dan kesakitan pada bagian rusuknya.
Mengetahui kedatangan Kiba dan Shikamaru, Gaara langsung melarikan diri. Sasuke meminta agar mereka tidak mengejar Gaara. Tapi mereka tidak peduli, karena Gaara adalah vampire yang telah melukai Sasuke. Mereka berlari dan mengejar Gaara. Tak lama kemudian terdengar suara tembakan bertubi-tubi. Shikamaru menoleh ke belakang, asal tembakan itu. Ternyata si penembak adalah Sasuke. Sasuke berjalan tertatih-tatih menyeret kaki kanannya. Posisi tangannya masih mengacungkan senjata, karena merasa Sasuke akan menembak lagi, akhirnya Shikamaru menembak Sasuke sebanyak dua kali dengan peluru biusnya. Sasuke langsung tumbang. Sebelum kehilangan kesadaran, dia berpesan agar tidak membunuh Ai-san. Ai-san yang dimaksud adalah Gaara.
Aku tidak mengerti, mengapa Sasuke ingin melindungi Gaara? Gaara adalah vampire, vampire adalah musuh yang harus dilenyapkan.
Beruntung peristiwa ini hanya diketahui oleh kami berempat, termasuk Sasuke.
Peristiwa ini tidak boleh sampai ke telinga para tetua. Jika para tetua mengetahuinya, maka Sasuke dalam bahaya. Semua Hunter tahu bahwa hukuman para tetua bersifat kejam dan benar-benar menghukum.
Keluarga Sasuke sangat cemas ketika mengetahui Sasuke dirawat di rumah sakit karena diserang vampire.
Aku meminta maaf pada keluarga Sasuke karena aku tidak hati-hati menjaga Sasuke. Mikoto-san memakluminya, karena Sasuke adalah anak yang sulit diatur dan rasa ingin tahunya sangat berlebihan. Menurutku Sasuke adalah bocah cuek yang tidak ingin mengerti orang lain.
Sasuke sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit.
"Ah~", Sasuke merebahkan diri di atas ranjangnya.
"Apa masih sakit?", tanyaku.
Sasuke menggeleng.
"Tsunade-sensei top-markotop polepel-till-di-en!", serunya sambil memamerkan perutnya yang ramping dan seksi. Luka memar dan bekas jahitannya sudah mengilang.
"Turunkan bajumu!", ketusku, melihat tubuhnya itu bisa membangunkan adik kecilku ini.
Sasuke menurunkan bajunya kembali. Dia memintaku untuk keluar karena dia ingin tidur. Aku tidak bisa keluar, karena banyak hal yang ingin kutanyakan padanya.
"To the point saja", pinta Sasuke.
Aku menarik kursi belajar dan duduk di sana.
"OK. Mengapa kau menembaki teman-teman kita?", pertanyaan to the point dariku.
"Teman-teman kita? Hello?! Itu temanmu kaleee, bukan temanku!", wajah Sasuke tampak menyebalkan ketika meniru gaya bicara seorang remaja di siaran TV yang sering ditontonnya.
"Aku tidak memintamu untuk beracting seperti perempuan!",
"Aku tidak sedang beracting!",
Aku menghela nafas sejenak, sebelum mengulang pertanyaanku.
"Mengapa kau menembaki teman-teman kita?",
"Aku kan sudah bilang, mereka itu bukan temanku! Aku tidak ingin punya teman yang kotor dan bau seperti Kiba. Aku juga tidak ingin punya teman yang malas dan merepotkan seperti Shikamaru",
"Jangan menjelek-jelekkan orang yang telah menolongmu!",
"Menolongku? Mereka tidak menolongku! Mereka mau membunuh Ai-san!",
"Ai-san? Huh! Namanya Gaara kaleee!", sekarang malah aku yang mengikuti gaya bicaranya.
"Gaara? Jadi kau mengenal Ai-san?",
"Aku tidak kenal, aku hanya tahu namanya Gaara bukan Ai-san! Dia anak band",
"Anak band? Wah keren!", Sasuke terkagum-kagum.
"Hn! Di panggung dia sangat keren dan berkharisma, meskipun dia bukan vocalist",
"Ah! Aku ingin melihat konsernya!",
"Lain kali aku akan mengajakmu",
"Iiyeeeey!", Sasuke melompat-lompat di atas ranjang.
Aku tersenyum geli melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan ini.
Lho?!
Aku tersadar akan sesuatu.
"Jangan OOT!", aku melempar Sasuke dengan penghapus.
Sasuke berhenti melompat, dia mendengus ketika penghapus itu mendarat di wajahnya.
"Ai-san itu...", belum selesai aku menjelaskannya, tapi Sasuke malah menyelaku.
"Bukan Ai-san, tapi Gaara!", ralat Sasuke.
Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya.
"Gaara itu vampire dan kau tahu itu",
"Hn!", angguknya.
"Vampire itu jahat, mereka me...",
"Gaara tidak seperti itu!", bantah Sasuke.
"Semua vampire jahat! Mereka membunuh manusia!",
"Tapi Gaara tidak! Dia berbeda!",
"Jangan sok tahu, Suke!",
"Aku tidak sok! Aku benar-benar tahu! Aku bisa merasakan hawanya! Gaara berbeda, Dobe~",
"Hawa yang berbeda? Apa maksudmu?",
"Bagaimana caranya aku menjelaskan pada orang Dobe seperti Dobe ya?", guman Sasuke yang masih bisa terdengar olehku.
"Aku dengar itu!", aku tersinggung dengan gumanannya barusan.
"Ah! Benarkah? Heheheee...", dia malah menyengir.
Aku menatapnya tajam, seolah mengancamnya supaya tidak OOT.
"Gaara berbeda, Dobe~",
"Apa yang membuatnya berbeda dari vampire yang lain?",
"Kau tidak merasakannya?",
"Entahlah",
Aku tidak merasakan hawa jahat di tubuh Gaara. Aku tidak menyangka bahwa Gaara adalah vampire. Mengapa Sasuke bisa tahu? Apa Sasuke punya penciuman yang lebih peka daripada Kiba?
"Saat aku melumpuhkannya dengan tembakan, dia bertanya padaku, mengapa dia harus dibinasakan? Padahal selama ini, dia tidak pernah membunuh ataupun mengganggu manusia. Dia hanya ingin hidup bersama orang-orang yang mencintainya, keluarganya", tatapan Sasuke sangat sendu, seolah dia sedang beracting seperti Gaara.
"Di dalam matanya, kulihat ada 2 anak laki-laki , mereka tersenyum sambil berseru 'Okaeri, nii-chan!'. Mereka berdua selalu riang dan tersenyum bersama-sama",
"Suke~", panggilku ketika melihat air mata Sasuke turun membasahi pipinya.
"Ookina kuri no ki no shitade~ Anata to watashi~ Nakayoku asobimashou~ Ookina kuri no ki no shitade~", Sasuke menyanyikan lagu 'Okina kuri no ki no shitade', lagu waktu aku TK dulu.
Aku menghampirinya karena merasakan tatapan sendu Sasuke yang semakin kosong.
"Suke, sadarlah!", aku mengguncang-guncang tubuhnya.
Sasuke menghentikan nanyiannya. Dia menyandarkan keningnya di pundakku.
"Jangan bunuh Gaara~", pintanya.
"Aku seorang Hunter, Suke",
"Please~ Jangan bunuh Gaara~", pintanya semakin lirih.
Ini pertama kalinya Sasuke memohon padaku, eh, tidak! Ini bukan yang pertama, dulu dia pernah memohon padaku untuk membikinkan jus tomat untuknya karena dia malas bergerak.
"Baiklah~", anggukku ragu-ragu.
Aku memang tidak bisa menolak apapun permintaan Sasuke. Aku tidak ingin membuatnya sedih dan kecewa padaku.
"Tapi aku tidak bisa menjamin bahwa Hunter yang lain akan membunuhnya",
Sasuke tidak meresponku, hanya terasa napas hangatnya di leherku. Dia pasti tertidur.
"Jaga rumah ya!", pesanku pada Sasuke yang sibuk menonton siaran TV kesukaannya.
"Hn!",
"Jangan lupa kerjakan PRmu!",
"Hari ini tidak ada PR!",
"Kalau begitu, kerjakan saja PRku yang kemaren",
"Berisik, Dobe!", sasuke mulai marah acara menontonnya terganggu.
"Huh!",
Aku mendengus pergi meninggalkannya.
Saatnya berpatroli lagi!
Aku meraba-raba saku celanaku, pistol kesayanganku masih ada. Aku tidak akan kecolongan lagi.
Ketika mengetahui pistolku dicuri oleh Sasuke, aku memarahinya habis-habisan. Dia merasa tidak bersalah, dia bilang dia ingin mencoba berburu. Kukatakan padanya bahwa aku hampir mati ketika berhadapan dengan vampire tanpa senjata, kemudian barulah dia merasa bersalah dan tidak ingin mencuri pistolku lagi.
Huf~ Bocah itu, tidak dimarahi, dia tidak akan tahu bahwa itu salah, jika dimarahi karena dia salah, maka dia akan memasang tampang minta diampuni.
Malam ini, aku mengunjungi Underground untuk mencari Gaara. Setiap malam Rabu, band Gaara tampil menghibur fansnya.
Ditengah hiruk-pikuk fans yang berteriak heboh, samar-samar kudengar suara yang tidak asing bagiku.
"Ai-san, keren!, sorak si pemilik suara. Siapa lagi kalau bukan Sasuke? Hanya dialah yang memanggil Gaara dengan sebutan 'Ai-san'.
Aku menyelami lautan fans untuk mencari Sasuke. Setelah menemukannya, aku langsung menariknya keluar dari tempat yang berisik ini.
"Mengapa kau bisa di sini?", tanyaku mengintrogasinya.
"Ai-san mengundangku!",
"Bukan 'Ai-san', tapi 'Gaara!'",
"Gaara menyuruhku untuk memanggilnya 'Ai-san'"!
"Alasannya?",
"Agar aku bisa menyadari keberadaannya", sambung Gaara yang tiba-tiba datang.
Aku menatap Gaara dengan waspada, pistolku telah siap, jika dia mulai menyerangku.
ZeeeeP
Sasuke langsung merentangkan tangan dan berdiri di depan membentengi Gaara. Tatapan matanya mengisyaratkan 'Senggol Gaara sedikit, kau kuJoss!'.
Rasanya iri melihat Sasuke seprotective ini terhadap Gaara.
Setelah berkenalan dengan Gaara, kurasa dia bukan vampire yang jahat. Tapi aku tetap saja tidak bisa berteman dengannya, karena dia vampire. Bangsanya telah membunuh mamaku.
Malam ini, waktuku berpatroli sangat singkat.
Mengapa? Karena aku harus membawa pulang Sasuke, aku tidak ingin Sasuke ikut berpatroli bersamaku.
Sasuke merebahkan diri di sofa. Memejamkam kedua mata, mulutnya tersenyum, kedua tangannya bergerak-gerak seperti memetik gitar.
"Menjadi gitaris itu sungguh keren", gumannya.
"Kau tidak keren!",
"Gaara bilang, aku keren!",
"Apa hubunganmu dengan Gaara?", tanyaku langsung.
"Idol dan fans!",
"Mengapa kau begitu mengidolakannya?",
"Karena dia keren!",
"Lalu? Bagaimana dengan aku? Kau tidak menyukaiku?",
"Hn! Aku suka!",
"Kau menyukaiku, Suke?", kuharap ini bukan mimpi!
"Aku su...Eh?!", Sasuke membuka kedua matanya karena terkejut.
"Kau barusan bilang bahwa kau suka padaku. Benarkah kau suka padaku, Suke?", aku tersenyum genit padanya.
"Kupingmu bermasalah, Dobe!", Sasuke mendorongku menjauh darinya.
Saat dia hendak berdiri dari sofa, aku mencengkram tangannya dan menidurkannya di sofa. Kutatap matanya dengan dalam.
"Kau menyukaiku, Suke?", tanyaku lagi.
"Tidak mungkin aku suka padamu, kau kan sering memarahiku", cibirnya
Wajahnya memerah ketika kudekatkan wajahku ke wajahnya.
"Suke?",
"Aku suka tomat. Aku suka tomat. Aku suka tomat", rapalnya berkali-kali.
"Bersikap dewasalah sedikit, Suke!",
"Aku suka tomat, Dobe! Suka, suka, suka, suka! Tomat, tomat, tom..",
Kubungkam mulutnya dengan ciuman. Kedua tangannya kutahan agar tidak bisa memukulku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang begitu cepat.
Setelah mencium dan melumat sedikit bibirnya, aku kembali bertanya padanya.
"Kau menyukaiku, Suke?", seringaiku ketika melihat wajahnya semakin memerah.
Bukannya menjawabku, Sasuke malah menendang perutku hingga aku terjatuh ke belakang.
"Aniki! Dobe menciumku! Dia mesum!", raung Sasuke sambil berlari ke kamarnya.
Aku tidak menyangka Sasuke benar-benar mengadukannya pada Itachi-san.
Aku hanya bisa menyengir ketika Itachi-san mengintrograsiku. Tapi aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya tentang Sasuke pada Itachi-san.
Aku merasa lebih terbuka pada Itachi-san, karena aku sudah menganggapnya sebagai kakakku. Itachi-san juga mempercayakan adik kesayangan satu-satunya padaku.
"Kau menyukai adikku?",
"Hn!",
"Adikku itu manis kan? Wkwkwk...", tawa Itachi-san sangat OOC, seperti tante girang.
"Hehehe...",
Itachi-san menghentikan tawanya, mendadak dia memasang tatapan tajam.
"Maka dari itu, aku tidak bisa memberikan adikku pada siapapun", desisinya.
"Itachi-san, kau brother complex", cibirku.
"Dia adikku satu-satunya di dunia. Aku akan melindunginya dari makhluk mesum yang suka menggodanya",
Cih! Apa aku juga termasuk makhluk mesum?
"Aku akan melakukan apapun yang dia minta, selama itu hal yang wajar",
Itachi-san berdiri dan menghampiriku.
BuuuuG
Itachi-san melayangkan tinjunya ke wajahku, mulutku berdarah terkena tinjunya.
"Maaf. Ini permintaan adikku tersayang", Itachi-san tersenyum setelah meninjuku.
"Membantu Sasuke untuk menghajarku itu adalah hal yang wajar?",
"Hn! Selain itu permintaan Sasuke, itu juga peringatan dariku untukmu agar tidak mencium Sasuke lagi",
"Huh!",
Sepertinya akan sulit untuk meminta restu pada Itachi-san. Kalau seperti ini, aku harus lebih giat untuk mendapatkan cinta Sasuke.
Sesampainya di mansion.
"Tadaima!", salamku.
"Okaeri!", sahut Sasuke menghampiriku.
Dia berkacak pinggang di hadapanku, wajahnya ditutupi topeng Scream.
"Halloween party?", tanyaku.
"Ini pelindung dari kemesumanmu, Dobe!",
"Kau sama sekali tidak keren dengan topeng itu!",
"Benarkah?", Sasuke langsung melepaskan topeng Scream yang dikenakannya.
Aku tersenyum dan mengecup pipinya dengan cepat. Sasuke marah dan melempar topeng Screamnya ke kepalaku.
"Aniki! Dobe menciumku lagi!", raung Sasuke.
Aku mencegah Sasuke sebelum dia mengadukan ini pada Itachi-san.
"Kau tidak kasihan denganku? Wajahku sakit karena ditinju Itachi-san",
"Itu salahmu karena kau mesum cabul tralala",
"Hatiku sakit karena cintaku bertepuk sebelah tangan",
Sasuke menepuk kuat kedua bahuku.
"Masih berat sebelah?", tanyanya polos.
"Suke, bersikaplah lebih dewasa",
Aku tahu dia mengerti istilah 'cinta bertepuk sebelah tangan' karena hampir setiap malam dia menonton drama remaja yang pasti ada percintaanya.
"Kau menyukaiku, Dobe?",
"Hn!",
Dia melipat kedua tangannya di dada, kedua matanya terpejam, dahinya mengkerut-kerut. Apa yang sedang dipikirkannya?
TiiiiNG
Dia membuka kedua matanya.
"Mmmm~ Aku bisa menyukaimu, Dobe!",
"Benarkah?",
"Hn! Mari berpelukan!", Sasuke menarikku ke dalam pelukan yang hangat dan erat.
Yatta! Cintaku terbalaskan!
Setelah selesai memelukku, Sasuke menjulurkan jari kelingking kanannya kepadaku.
"Jangan suka memarahiku lagi ya? Janji?",
Aku mengaitkan jari kelingking kananku di jari kelingking kanannya.
"Hn! Janji! Aku juga berjanji akan melindungimu!",
Sasuke tersenyum senang.
"We are best friend forever, best friend forever, ye ye ye ye~", sorak Sasuke sambil melompat-lompat kegirangan.
"Best... friend...forever?",
Kurasa dia masih belum dewasa untuk memahami arti 'suka' yang sebenarnya.
Setelah pulang dari patroli. Aku dikejutkan dengan teriakan Sasuke di depan pintu sambil menunjuk tepat di wajahku.
"YOU'RE MY FRIEND! Aa ano hi no yume~ Ima de mo mada wasurete nain deshoo!", Sasuke menyanyikan lagu 'Distance' -yang sering dinyanyikan oleh band Gaara- sambil menggunakan sendok sebagai mic.
"Berisik! Ini sudah jam berapa?", tegurku.
"Jam 2 lewat!", jawabnya.
"Lalu? Mengapa kau belum tidur? Jangan katakan bahwa kau menungguku",
"Aku lapar, Dobe! Dan aku tidak bisa tidur dalam kondisi perut yang terus berbunyi",
"Kau bisa menyeduh ramen cup",
"Ramen cupmu sudah kadarluarsa",
Benarkah? Padahal baru kemaren malam aku memakannya.
Akhirnya aku membuatkannya roti panggang dengan telur mata sapi.
Dia melahapnya dengan cepat. Dia benar-benar kelaparan.
Kulirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 3 lewat.
"Jangan salahkan aku, jika kau tertidur di kelas",
"Itu salahmu, Dobe! Kau selalu pulang tengah malam!",
"Mengapa kau tidak tidur lebih cepat?",
"Mengapa kau masih memarahiku? Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak memarahiku? Sudahlah! Kau membuat selera makanku menghilang!",
Sasuke meninggalkan meja makan dan berlari ke kamarnya.
"Ckck!", kulihat piringnya bersih, tidak ada sisa roti atau telur sedikitpun, hanya ada beberapa remahan roti.
"Hai, bocah! Kita bertemu lagi!", sapa Hidan, vampire yang sudah dibunuh Karin. Bagaimana dia bisa hidup kembali?
Hidan langsung menerjang ke arahku. Aku menarik pelatuk pistolku dan menembak ke arah jantungnya.
DooooR
Hidan terjatuh membentur aspal, dia menjerit kesakitan saat peluru besi menembus dadanya. Aku menghampirinya, mengarahkan pistolku ke kepalanya. Dia tersenyum sebelum bergerak cepat mengambil pistolku.
DooooR
Dia menembak ke arahku, beruntung aku bisa menghindar dar tembakannya.
Cih! Aku kehilangan pistolku lagi!
Hidan menjatuhkan pistolku ketika tangannya mulai berasap dan melepuh karena pistolku telah dimantrai.
Dia kembali menyerangku. Aku merutuki diri sendiri, yang hanya bisa menghindar, bertarung jarak dekat seperti ini, bukan keahlianku. Kekuatanku adalah menembak, tapi tembakanku ini tidak mempan terhadapnya.
Duag!
Sesuatu yang cepat menarik dan melempar Hidan hingga menabrak dinding bangunan.
"Kami bosan melihat adegan Tom and Jerry kalian", ejek Sai-anak tunggal Danzo-sama-.
Kalau Sasuke punya senyum menggoda, berarti Sai punya punya senyum membunuh. Aku tidak suka dia.
"Huh!", dengusku, tapi aku merasa tertolong dengan kedatangannya.
"Hidan. Salah satu anggota Akatsuki yang kebal senjata dan tidak akan mati meski dibakar sekalipun", jelas Itachi-san setelah melempar Hidan dengan mudah.
Mengapa Itachi-san bisa berpartner bersama Sai?
"Lalu? Bagaimana cara membunuhnya?", tanyaku.
"Untuk membuatnya mati benaran adalah dengan memenggal kepalanya", jawab Itachi-san.
"Izinkan aku, Itachi-san", Sai menawarkan diri untuk membunuh Hidan.
"Hn!",
Sai membaca mantra, kemudian muncul sinar hijau di telapak tangan kanannya, sinar itu perlahan berubah menjadi sebuah naginata.
Aku iri pada Sai yang diwarisi bakat sihir dari papanya. Sedangkan papaku belum mau mewarisi sihirnya padaku.
"Kau tidak berbuat macam-macam pada adikku lagi kan?", tanya Itachi-san, matanya tertuju pada pertarungan Sai dengan Hidan.
"Aku tidak akan berbuat macam-macam pada bocah yang belum mau dewasa seperti Sasuke",
"Hn. Biarkan dia dewasa dengan sendirinya",
Selesai membasmi Hidan, Itachi-san dan Sai ingin mampir ke mansionku. Secara tidak terduga, di sebuah cafe outdoor kami bertemu dengan Gaara.
Itachi-san tahu bahwa Gaara adalah vampire karena clan Uchiha punya Sharingan -mata spesial yang bisa mendeteksi-. Itachi-san mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan sihirnya. Gaara berlari memasuki cafe ketika menyadari keberadaan kami.
Itachi-san langsung mengeluarkan pasak besi yang telah dialiri sihir merah. Kemudian pasak itu dilempar dari jarak jauh.
ZeeeeP
Pasak itu berhasil mengenai punggung kirinya, tepat mengenai jantungnya.
Gaara terjatuh.
Aku terkejut melihat Sasuke berdiri memandangi tubuh Gaara yang mulai berasap.
Terputus
Review please ^^v
