Chapter 3

.

.

.

Seokjin tengah memperhatikan Jimin yang kini telah tertidur dengan lebih tenang setelah berusaha menyelamatkannya tadi. Sebenarnnya kondisinya tidak akan separah sekarang jika saja ia tidak terluka. Tetapi sebuah kantung darah yang akhirnya mengalir menuju tubuhnya dengan menggunakan selang menjelaskan semuanya. Kondisi Jimin buruk karena kehilangan banyak darah.

Seharusnya Seokjin khawatir. Seharusnya Seokjin sangat panik saat itu. Mengingat Jimin adalah pasiennya, bukan milik temannya atau dokter yang lain. Tetapi kakinya tidak bisa bergerak saat itu, sampai akhirnya beberapa perawat tak sengaja menabraknya dan membuatnya berlari menghampiri Jimin yang sudah memejamkan mata.

Seokjin hanya tak bisa menghilangkan pikiran negative tentang Jimin di kepalanya. Ia sangat tau bahwa sang ayah sangat mencintai mendiang ibunya. Tetapi bertahun – tahun ditinggalkan tidak menutup kemungkinan sang ayah untuk Bersama wanita lain. Mungkin ia salah telah berpikir seperti itu tanpa ada bukti dan melimpahkan semuanya pada Jimin. Hanya saja… ia tak bisa menolong dirinya untuk mengenyahkan pikiran negative nya tersebut.

Setelah memastikan Jimin baik – baik saja, Seokjinpun memutuskan untuk meninggalkannya untuk beristirahat. Ini adalah hari yang panjang untuk Seokjin. Dia melakukan dua operasi hari ini, dan pasiennya yang terakhir membuat dirinya menguras tenaga, pikiran, serta perasaannya. Belum lagi, ia teringat bahwa besok adalah salah satu hari yang terpenting dalam hidupnya.

.

.

.

Tangan tua itu mengelus punggung tangan yang ditancapi oleh jarum yang menghubungkannya ke tabung infuse. Ia berusaha membangunkan sang anak yang masih saja menutup matanya dari kemarin sore. Hatinya sakit ketika mengetahui apa yang terjadi kemarin. Ia sungguh merasa bersalah pada sang anak. Terlebih lagi melihat perban yang menghiasi tangan kurus itu.

Tak lama, usahanya membuahkan hasil. Kedua mata sayu itu mengerjap pelan berusaha menyesuaikan cahaya yang berada di ruangan serba putih itu.

"Ayah…" panggilnya pelan ketika mengetahui sang ayah telah ada di sampingnya.

"Hi, jagoan. Bagaimana perasaanmu? Apa ada yang sakit?"

Jimin menggeleng pelan, walaupun kepalanya masih sedikit berdenyut nyeri. Tapi ia tak ingin lagi membuat khawatir sang ayah.

"Biar ayah panggilkan dokter sebentar," ujar sang ayah seraya beranjak dari tempat duduknya.

Sepeninggalan sang ayah, Jimin kembali menutup matanya. Tubuhnya terasa sangat lemas sekarang, dan sakit di kepalanya memperburuk keadaannya.

"Apa maksudmu? Di mana Seokjin?" suara sang ayah yang terdengar kesal menyadarkan Jimin.

"Saya yang menggantikannya untuk merawat pasien Jimin, Tuan," jawab dokter wanita yang menangani Jimin sejak kemarin.

"Bagaimana bisa? Seokjin yang harusnya bertanggung jawab terhadap Jimin!"

"Sebaiknya saya memeriksa pasien terlebih dahulu. Hal ini agar kita bicarakan di luar saja."

"Baiklah," sang ayah terdengar lebih tenang sekarang, ia berusaha meredam emosinya.

"Hi Jimin, bagaimana perasaanmu?"

Jimin mengenal dokter wanita itu. Ia yang mendekatinya kemarin sebelum kegelapan merenggutnya. Ia pun tersenyum menyambut sang dokter yang kini tengah memeriksa denyut nadinya.

"Apa kau merasa pusing?"

Jimin menggeleng, tetap berusaha membohongi orang di sekitarnya dan juga dirinya. Sang dokter hanya tersenyum menanggapinya.

"Baiklah, kurasa kau sudah lebih baik sekarang. Tapi Jimin, ingatlah untuk jauh - jauh dari benda tajam di sekitarmu!" ancamnya yang membuat senyum di bibir Jimin merekah.

"Tuan Kim, ada yang harus saya bicarakan dengan anda."

.

.

.

"Kurasa ada sesuatu tentang Jimin yang mengganggu pikiran Seokjin. Jika kemarin aku tidak menyadarkannya, mungkin ia tidak akan menolong Jimin sama sekali. Ia hanya diam terpaku melihat Jimin terluka. Belum lagi hari ini ia menolak untuk memeriksa Jimin dan mengalihkannya padaku. Maaf jika aku lancang, Tuan Kim, tetapi aku rasa kalian berdua harus bicara."

Ucapan Dokter Im mengusik pikiran Tuan Kim. Ia memang belum pernah berbicara serius tentang kedatangan Jimin pada anak – anaknya, terutama anak tertuanya. Tetapi ia tak menngerti mengapa Seokjin begitu menolak Jimin. Tuan Kim tak pernah tau apa yang ada di pikiran anak tertuanya itu. Memang seharusnya mereka duduk Bersama dan membicarakan hal ini. Ia tak ingin lagi ada kesalahpahaman dan kejadian serupa terjadi kembali.

Sejak tadi Jimin memperhatikan sang ayah yang tengah terdiam di sampingnya. Ia menaruh kembali sendok yang berada di tangannya yang masih sedikit bergetar itu. Walaupun tubuhnya masih lemas, ia tak ingin dibantu sang ayah walau hanya untuk makan.

"Apa yang ayah pikirkan?" tanyanya masih dengan suara serak.

"Tak apa, bukan hal yang penting. Kenapa buburmu belum habis juga, Jim? Sudah ayah bilang biar ayah suapi saja!"

"Tidak perlu, yah… perutku hanya tidak enak jika makan banyak."

"Kau harus makan banyak jika ingin cepat sembuh, Jim."

'Brakk…' tiba – tiba saja pintu terbuka dengan kasar. Menampilkan Seokjin di sana dengan wajah yang penuh emosi.

"Apa yang ayah lakukan di sini?" tanyanya penuh tekanan.

"Seokjin… ada sesuatu yang ingin ayah bicarakan denganmu," sang ayah yang sedikit terkejut karena kedatangan Seokjin yang tiba – tiba berdiri dan menghampirinya.

"Kutanya apa yang ayah lakukan di sini?" lagi – lagi Seokjin menanyakan hal yang sama.

"Seokjin…" ayahnya tak mengerti kenapa Seokjin begitu marah.

"Apa ayah lupa hari ini perayaan kematian ibu?" bentak Seokjin pada akhirnya.

Raut wajah sang ayah berubah pucat. Bagaimana bisa ia melupakan yang terkasihnya. Bahkan pagi tadi setelah pesawatnya mendarat ia langsung menuju tempat sang istri. Ia sudah sangat ingin menemuinya.

"Bagaimana ayah lupa, Seokjin-ah…"

"Lalu apa yang ayah lakukan di sini? Semua orang menunggu ayah di rumah."

"Ayah ingin menemui Jimin, Seokjin! Ia sendiri dan bahkan kau tidak menjaganya dengan baik. Apa kau ingat ia adalah adik dan juga pasienmu?"

"Aku tidak pernah menganggapnya sebagai adikku!"

Jujur saja seseorang tengah menundukan kepalanya dalam kini. Jimin kembali bergetar takut mendengar pertengkaran sang ayah dan kakak tertuanya itu. Apalagi lagi – lagi pertengkaran karena dirinya.

"Kenapa? Kenapa kau begitu membenci Jimin?"

"Karena dia membuat ayah melupakan ibu! Buktinya ayah lebih memilih menjaga anak haram itu daripada berkumpul Bersama kami malam ini!"

"Anak haram? Apa maksudmu Seokjin?"

"Ia adalah anak haram hasilmu dengan wanita lain kan ayah?" tanya Seokjin menantang.

'Plak'

Tamparan telak diberikan sang ayah pada anak tertuanya. Matanya berkaca – kaca karena mendengar alasan Seokjin yang begitu menyakiti hatinya.

"Bagaimana bisa aku mengkhianati wanita yang sangat aku cintai! Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu Kim Seokjin!"

Seokjin terkejut melihat luka yang berasal dari mata sang ayah. Rasa bersalah menyergapi Seokjin kemudian.

"Ayah tidak mungkin mengkhianati ibumu, Seokjin-ah…"

Setelah itu kemudian sang ayah ambruk di hadapan Seokjin yang masih terpaku dengan kata – kata sang ayah.

"AYAH!" Jimin yang masih lemah tiba – tiba saja mendapatkan kekuatannya untuk turun dari ranjang dan berlari kea rah sang ayah yang sudah tergeletak tak sadarkan diri. Ia tak peduli dengan luka yang kembali dihasilkan karena jarum infusenya terlepas secara paksa.

"Hyung lakukan sesuatu!" air matanya sudah menggenang ketika sang ayah tak juga bangun di pangkuannya.

Seokjin yang tersadar segera merebut sang ayah dari pangkuan Jimin dan segera membawanya keluar. Jantungnya berdetak sangat cepat karena terkejut dengan apa yang terjadi barusan. Bagaimanapun caranya ia harus menolong sang ayah.

.

.

.

"Kau melukai dirimu lagi, Jimin-ah."

Seseorang tiba – tiba saja duduk di samping Jimin yang kini tengah terduduk panik menunggu di depan ruang operasi. Ia tak punya tenaga lagi untuk menolak ketika sang dokter menarik tangannya untuk membantunya membersihkan luka.

"Jika kau seperti ini terus lama – lama darahmu akan habis," ujarnya berusaha mengalihkan pikiran Jimin agar ia sedikit lebih tenang.

"Dokter, apa ayah akan baik – baik saja?" tanya Jimin sedikit bergetar.

"Mereka sedang berusaha di dalam. Doakan saja ayahmu sekuat dirimu, oke?"

Tak lama kemudian langkah kaki terdengar dari kejauhan. Satu persatu saudaranya menunjukan diri. Mereka datang dengan panik begitu mendengar sang ayah yang tiba – tiba tak sadarkan diri. Apalagi kini ia tengah berada di ruang operasi.

"Ada apa dengan ayah, Jimin-ah?" tanya Namjoon yang terlihat paling panik dari semua.

"Aku tak tau hyung…" Jimin terdengar putus asa. Ia juga tak tau apa yang terjadi, yang pasti Seokjin dan ayahnya bertengkar karena dirinya.

"Kalian tenanglah dulu. Berdoalah agar ayah kalian baik – baik saja," ujar dokter Im berusaha menenangkan kelima orang yang baru saja datang itu. "Jim, apa kau mau ke ruanganmu? Kondisimu belum…"

"Tidak apa, dokter. Aku ingin di sini."

"Tapi…"

"Tak apa, dan jangan lagi membicarakan tentang kondisiku. Ayah sedang berjuang di dalam sana."

Sang dokter mengerti keadaannya. Ia pun akhirnya meninggalkan keenam lelaki yang tengah dipenuhi rasa khawatir itu. Ia mengerti kondisi keluarga mereka.

Hoseok akhirnya duduk di sebelah Jimin. Berusaha menenangkan hatinya yang terasa tidak karuan. Ia pun melirik pada Jimin yang mengenakan baju pasien. Sedikit terheran karena itu sampai akhirnya ia melihat perban yang meliliti tangan Jimin.

"Apa kau terluka, Jim?" tanya Hoseok.

"Eum?" Jimin yang tidak focus tidak mengerti dengan pertanyaan Hoseok.

"Perban di tanganmu," Hoseok menunjuk luka di tangan kanan Jimin.

"Ahh… tak apa hanya luka kecil," sejujurnya ia sempat lupa bahwa ia terluka kemarin. Jimin terlalu focus memikirkan apa yang akan terjadi.

Tak lama kemudian suara pintu yang terbuka berhasil menarik focus mereka. Seokjin keluar dengan air mata yang berlinang di pipinya, masih dengan baju operasinya. Mereka berenam sontak mendekat Seokjin, berusaha meminta penjelasan.

"Hyung, bagaimana dengan ayah?" tanya Namjoon lagi – lagi mengawali semuanya.

Seokjin hanya menggeleng dan luruh di tempat. Selama beberapa detik hanya suara isakan Seokjin yang terdengar. Mereka berusaha mencerna apa yang terjadi dengan reaksi Seokjin seperti ini.

"Hyung jangan katakan…" Hoseok mulai berspekulasi.

"Ayah baik – baik saja kan?" kini giliran Yoongi.

"Ayah… ayah memilih menyusul ibu…" akhirnya kecurigaan mereka terjawab. Sontak air mata yang sejak tadi mereka tahan meleleh begitu saja. Ini semua seperti déjà vu. Kejadian beberapa tahun yang lalu kini terjadi lagi.

Jimin terdiam di tempat. Air mata memang mengalir keluar dari pelupuk matanya, tapi wajahnya sarat akan kekosongan. Ia terlalu shock untuk hal ini.

"Kenapa…" ujarnya dalam hati.

Tiba – tiba saja tubuhnya terdorong kea rah dinding. Ternyata itu adalah ulah Jungkook yang kini telah menarik kerah bajunya dan mendorongnya ke tembok, tak ayal membuat Jimin sedikit kesulitan bernapas karenanya.

"INI PASTI KARENA ULAHMU!" bentaknya tepat di hadapan Jimin yang menatapnya sedih. "Jika ayah tidak kesini, mungkin ia tengah makan malam bersama kami! Kau tidak perlu beracting untuk mendapatkan perhatiannya!"

"Jungkook tenanglah!" Hoseok berusaha melerai karena ia lihat Jimin tidak berusaha untuk melepaskan cengkraman Jungkook sedikitpun.

"Tidak hyung! Ia yang telah membuat ayah meninggal!" Jungkook tak mau kalah sampai akhirnya Taehyung dan Yoongi datang untuk memisahkan mereka.

Jungkook akhirnya kembali luruh dalam tangis di pelukan Taehyung dan Yoongi. Sedangkan Namjoon dan Seokjin berusaha saling menguatkan. Hoseok memutuskan untuk tetap Bersama Jimin. Ia tau sang adik sangat tertekan kini, sama seperti yang lain. Bedanya hanya tak ada yang sangat dekat dengan Jimin untuk sekedar menenangkannya, kecuali dirinya sendiri. Itulah mengapa Hoseok memutuskan untuk menarik Jimin ke pelukannya.

"Jim… Jimin! Jim, demi Tuhan apa yang terjadi?!"

Mata Jimin tertutup, tetapi badannya bergetar hebat dan napasnya putus – putus.

"Jim, sadarlah! Dokter!" teriak Hoseok kemudian karena ia yakin Seokjin tak mungkin menolong Jimin dengan kondisinya yang seperti sekarang.

.

.

.

Jimin di sana, bersama ke enam saudaranya, masih terdiam melihat abu sang ayah yang diletakan di samping abu sang ibu. Wajahnya masih pucat karena ia baru saja sadar dini hari tadi, tanpa seorangpun yang menyambutnya. Walau begitu ia masih bersyukur Hoseok mengecek nya tadi pagi dan akhirnya ia memaksa untuk ikut.

Ke enam saudaranya berkumpul, berpelukan satu sama lain tanpa perlu mengajaknya. Jimin tidak peduli, karena ia hanya ingin memandangi wajah sang ayah yang kini hanya bisa ia lihat di foto.

"Kita kembali ke rumah sakit ya, Jim? Kondisimu belum membaik sama sekali sepertinya," ujar Hoseok di dalam mobil yang membawa mereka pulang dari pemakaman. Yang lainnya berada di mobil yang berbeda, karena mereka memang tidak datang bersamaan.

"Tidak, hyung. Aku ingin pulang saja. Kau juga butuh istirahat," jawab Jimin dengan senyum manisnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Jim?" tanya Hoseok yang hanya dijawab oleh Jimin dengan 'Aku baik – baik saja'.

Jimin bersyukur Dokter Im dan para suster tak mengatakan apapun pada Hoseok. Cukup Seokjin dan Paman Kang saja yang tau, ia tak ingin melibatkan kelima saudaranya yang lain soal sakitnya.

.

.

.

Kini Jimin tengah tertegun di atas ranjang kamarnya. Ia berpikir apakah ia harus membereskan barangnya atau tidak. Haruskah ia segera berpamitan dari rumah ini atau tidak. Atau haruskah ia pergi begitu saja.

Alasan ia datang ke rumah ini adalah sang ayah angkat. Kini dengan kepergian sang ayah, hal apa lagi yang harus ia jadikan alasan untuk tetap tinggal. Tetapi perkataan sang ayah tempo hari tiba – tiba saja terngiang di telinganya.

"Ayah ingin semua anak ayah kembali berkumpul untuk makan di meja makan yang selalu terasa sepi ini. Ayah merindukan mereka semua…"

Haruskan ia bertahan untuk mewujudkan permintaan sang ayah yang terakhir kali itu? Jimin tidak yakin dengan hatinya. Ia juga tidak yakin jika saudara – saudaranya masih mau menerimanya di sini, atau mereka memang tidak pernah menerimanya di sini.

Kepalanya terasa berat memikirkan semua itu. Satu hal yang ingin ia lakukan kini adalah tidur. Mungkin saja saat terbangun nanti semua hal yang terjadi ini adalah mimpi.

.

TBC

.

.

.

Mumpung masih liburan jadi masih semangat lanjutin hehehe...

Fully galau di chapter ini. Sebenernya pengen dilanjut lagi, tapi takutnya nanti malah kepotong di tengah jalan dan nggak ke publish sama sekali. Semoga next chapter nya nggak lama deh yaa hehehe

Please lemme know your thoughts bout this chapter ^^

Thank you!

Catastrophile101