Matahari belum muncul sepenuhnya, namun kami sudah sampai di tepi sungai jernih pinggiran Desa Teh. Aku turun dari karavan bersama Kurenai sembari membawa beberapa pasang pakaian di keranjang. Waktunya mencuci.
Ino sudah ada di pinggiran sungai, sepertinya ia baru saja membasuh wajah. Aku tersenyum mencoba menyapanya, namun ia hanya membuang muka dan tidak peduli. Walau sudah memperkirakan hal seperti ini—bagaimanapun gadis pirang inilah yang menolakku semalam—tetap saja ada bagian dalam hatiku yang tercubit.
"Itu bukan sifat aslinya, kupikir ia memiliki pemikiran sendiri mengapa ia tidak setuju tentangmu. Seiring perjalanan, ia pasti akan menerimamu." Kurenai baik sekali. Ia lembut dan aku menghargai usahanya untuk membesarkan hatiku. "Nah, ayo kita mencuci. Kutebak kau pasti tidak pernah mencuci pakaian sendiri seumur hidupmu."
Nah, inilah masalahku. Hidup mandiri. Hah...
.
.
.
.
Poinsettia Troupe
AngelRyeong9
Naruto ©Masashi Kishimoto
Chaptirè 3 : The Begining; A Barbie-Like Girl
"Kita akan menjemurnya dimana?"
"Di sana, para lelaki sudah mengikatkan beberapa tali di dahan pohon itu."
Aku menoleh mengikuti arah pandang Kurenai, tidak jauh dari tepi sungai ini ada sebuah pohon yang cukup rindang dengan beberapa tali yang akan kami pakai untuk menjemur. Saat ini kami sudah sampai di Desa Teh yang tenang. Kami mendapatkan penginapan yang murah dan dekat dengan sungai. Kurenai memberitahuku bahwa Desa Teh adalah desa yang sangat tenang dan jarang didatangi turis atau warga luar yang menginap, jadi penginapan di sini mematok harga yang cukup murah.
"Wah, Sasuke, berapa ikan yang kita dapat pagi ini?"
Aku menoleh dan melihat Sasuke dengan handuk di leher dan rambut yang basah. Baru aku sadari bahwa rambutnya berwarna hitam kebiruan di bawah sinar mentari pagi. Dan harus kuakui bahwa ia sangatlah tampan. Teramat sangat tampan.
Aku menggeleng pelan mencoba membenarkan otakku yang mungkin sedikit bergeser karena euforia setelah merasa 'bebas'. Aku tahu tidak sopan memberi penilaian pada orang yang baru saja bertemu denganmu, hanya saja, Sasuke adalah tipe orang yang tidak ramah. Terlihat dari bagaimana ia tidak membalas senyum Kurenai yang menyapanya.
"Lima. Naruto berniat menambah jumlahnya," jawab Sasuke tanpa intonasi. Kemudian mata elangnya beralih dan menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Oh, aku anak baru di sini, ada baiknya menyapanya.
"Selamat pagi, Sasuke..." ucapku mencoba ramah padanya. Tapi ia hanya berlalu begitu saja dalam diam. Sedikit kesal, tapi kurasa aku harus mencoba lebih bersabar agar bisa diterima sepenuhnya dalam karavan ini. Setidaknya kau telah berusaha, Sakura!
Aku mengamati Moegi yang sedang bermain bola bersama seekor harimau putih dan kera kecil milik karavan ini. Mereka sangat akur dan aku sangat kagum pada keakraban mereka. Kemudian mataku beralih pada beberapa pasang pakaian yang bergerak terkena semilir angin musim semi.
Kurenai berkata bahwa hari ini adalah hari bersantai sebelum kita benar-benar memasuki Negeri Angin, Sunagakure. Rasanya aku tidak pernah setenang ini sebelumnya. Kulihat Naruto melambaikan tangannya padaku saat ia muncul di permukaan sungai.
"Hei, Sakura-chan! Bukankah ini cuaca yang sangat bagus? Cobalah untuk berenang di sungai!"
"Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin menikmati angin saja, Naruto-san."
"Panggil aku Naruto saja!" serunya kencang, aku hanya tertawa saat melihat pemuda jabrik itu tergelincir dan jatuh ke sungai lagi.
"Apa kau begitu bahagia karena ini pelarian pertamamu?"
Tawaku terhenti. Disebelahku, Ino membuang mukanya dan bertolak pinggang. "Kurenai memanggilmu."
Aku hanya menghela napas dan beranjak mencari Kurenai. Aku masih tidak mengerti mengapa Ino terlihat begitu membenciku. Aku bahkan belum benar-benar berinteraksi dengannya.
"Kurenai, ada apa?"
Kurenai bangkit dan memberikanku jubah panjang berwarna merah yang kugunakan saat kabur kemarin. "Ah, Sakura. Bisakah kau pergi ke pasar bersama Sasuke?"
"Sasuke?"
"Hn."
Aku tersentak kaget saat melihat Sasuke yang tiba-tiba saja masuk ke dalam karavan.
"Kau ingin aku pergi bersamanya?" tanya Sasuke pada Kurenai. Penekanan pada akhir kalimatnya membuatku tiba-tiba merasa kesal. Apa aku terlalu tidak layak untuk pergi bersamanya?
"Ya. Dengan Ino juga. Kau tahu bahwa ia ahli dalam tawar-menawar," jawab Kurenai santai. "Kau bisa pergi keluar bersama dua gadis cantik, Sasuke. Bukankah aku baik? Bersenang-senanglah."
Well, kurasa ini tidak akan berjalan baik jika aku dengan dua orang ini.
Aku tidak mengerti mengapa Kurenai memintaku untuk pergi bersama Ino dan Sasuke, dua orang yang jelas-jelas menolakku di karavan ini. Karena itu suasana menjadi sangat canggung. Sasuke pergi untuk mencari beberapa keperluannya dan meskipun aku dan Ino berjalan beriringan, tidak ada yang berminat membuka percakapan. Aku meliriknya dan benar-benar baru menyadari bahwa Ino lebih dari sekadar gadis yang menarik. Ia memesona. Siapa yang bisa menolak mata sebiru langit dan bibir semenggoda itu? Aku melirik dadaku dan meringis iri. Bagaimana caranya bisa memiliki ukuran seperti Ino?
"Kenapa?"
"Apa?" tanyaku tak mengerti. Dia hanya membuang wajah dan bergumam tapi kemudian kembali berbalik dan menatapku seakan aku sudah menarik rambutnya atau menyakitinya.
"Bagaimana mungkin kau masih bisa tersenyum?!" pekiknya marah.
Aku membelalakan mataku, terkejut karena ia tiba-tiba berteriak padaku. Kemarahan juga berkumpul di kepalaku. "Lalu jika aku tersenyum, tertawa atau menangis itu menjadi masalah besar untukmu?! Mungkin kau membenciku karena keputusanku tentang Poinsettia Troupe tapi kau tidak bisa tiba-tiba berteriak seperti itu padaku!"
Ia terperangah, mungkin terkejut melihatku meledak. Tapi ini sudah melewati batas. Kenapa ia bisa membenciku sejauh itu sampai-sampai senyumku juga terlihat salah di matanya. Yang kutahu kemudian adalah aku sudah berlari tak tentu arah sambil menahan air mataku keluar. Aku menghapus air mataku dan setelah tenang, aku menyesali setiap kata-kata yang keluar dari mulutku pada Ino tadi. Mungkin Ino tidak bermaksud seburuk itu dan jika ia memang membenciku mungkin itu karena kehadiranku yang begitu tiba-tiba dalam hidupnya. Jika kepalaku bisa lebih dingin dan tidak se-sensitif tadi, mungkin aku masih bisa mengajaknya berteman.
Aku tidak tahu bagaimana harus bertatap muka dengannya sekarang tapi aku harus meminta maaf. Karena itu saat aku ingin menyusun kalimat permintaan maafku, aku baru baru menyadari bahwa aku tersesat. Aku lupa kalau ada banyak gang-gang kecil di Desa Teh ini dan ada beberapa tempat yang menyediakan banyak bar-bar untuk pemabuk dan pengangguran. Tempat yang saat ini kuinjak.
Dengan cepat aku berbalik, hendak pergi dari tempat menyeramkan ini. Tapi kemudian seseorang menabrakku, bau alkohol menguar seketika membuatku mual. Pria lusuh dan mabuk itu menggeram marah padaku dan memegang bahuku—yang dengan cepat kutepis. Pria itu semakin marah dan akan melayangkan botol birnya jika tidak terhuyung dan jatuh karena tendangan seseorang. Tendangan Ino.
Sedetik kemudian aku dan Ino segera berlari secepat yang kami bisa. Pria mabuk itu berteriak marah dan memanggil teman-temannya, karena saat aku menoleh ke belakang bukan hanya satu orang yang mengejar kami. Aku melihat beberapa tiang spanduk di sisi-sisi tembok, beberapa peti kayu dan gelondongan peti kayu untuk menyimpan acar. Sebuah ide terlintas di benakku. "Aku akan mengalihkan perhatian mereka."
Dengan sigap aku melompati salah satu peti kayu sebagai pijakan lalu meraih tiang spanduk diatasnya, berputar lalu meluncur turun ke arah penahan gelondongan kayu acar, berharap dengan tekanan dari berat tubuh dan lompatanku bisa menghancurkan penahan gelondongan peti acar itu. Viola! Berhasil! Penahan kayu itu hancur dan gelondongan kayu itu dengan cepat meluncur ke arah pemabuk-pemabuk itu. Dengan sigap aku menghindar dan kembali berlari bersama Ino. Dengan ini mereka akan tertinggal jauh.
Kami sampai di tengah-tengah pasar, pusat keramaian desa ini. Aku mengatur napasku yang terengah, berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Ino tidak lebih baik, tapi setidaknya kami selamat. Pemabuk itu sudah tidak mengejar kami lagi. Aku terduduk di pinggir jalan mengikuti Ino.
"Ino, aku..."
"Maaf." Ia menoleh padaku lalu memalingkan wajahnya lagi. "Dan... aku tidak membencimu," ujarnya lagi. Pipinya memerah lucu dan sesuatu dalam hatiku seperti terbebas.
"Aku minta maaf karena sudah berteriak padamu," sesalku. Kami saling pandang sebelum akhirnya tertawa geli. Seringan itu. Kami tertawa bersama seperti sahabat lama.
Suara langkah kaki berhenti dan kulihat Sasuke menatapku dan Ino dengan datar. "Tidak kusangka kau bisa membuat kehebohan seperti itu."
Tawaku terhenti karenanya. Apa Sasuke melihat kami tadi? Melihat perbuatanku?
"Tidak usah dipirkan. Sasuke memang seperti itu," Ino bangkit dan membersihkan gaunnya. "Ayo kita kembali ke karavan."
Aku tersenyum, senang rasanya mendapat teman baru. "Kuharap sayuran kita tidak hancur."
"Lebih baik daripada tomat yang hancur," sahut Ino. Aku mengernyit bingung dan Ino mengendikkan bahunya ke arah Sasuke. "Dia penggila tomat. Dan akan semakin menyebalkan jika tomat-tomat kesayangannya hancur."
Aku melirik kantung belanjaku dan meringis. "Sayangnya... beberapa tomat rusak."
Ino hanya tersenyum dan mengendikkan bahunya, lalu menghela napas.
Siang berlalu dengan cepat dan sore sudah menyongsong. Aku, Kurenai, Ino dan Moegi masih berkutat di dapur, menyiapkan makan malam. Kurenai hanya tersenyum melihatku dan Ino menjadi akrab dan Ino menceritakan kejadian siang ini di pasar.
"Oh astaga, kalian tidak terluka?" cemas Kurenai.
Aku tersenyum. "Tidak kurang suatu apapun."
"Ah, benar juga! Aku cukup terkejut kau memiliki tubuh selentur dan selincah itu Sakura. Maksudku, Asuma bilang kalau kau seorang putri raja," Ino memasukan kalkun yang sudah dibumbui ke dalam oven.
"Aku berlatih, Ino. Tidak mungkin sekali aku nekat meninggalkan negeriku untuk meraih mimpiku tanpa persiapan apapun," jawabku sambil mencuci beberapa tomat.
"Kalau begitu kau memang berbeda dari bayangan seorang-putri-raja dalam benakku."
"Memangnya seperti apa putri raja dalam benakmu?"
"Hm... bermain kuda poni, membeli gaun dan... menggoda seorang pangeran?"
"Astaga!" seruku kemudian menyiprati Ino dengan air. Ino dan Kurenai hanya tertawa.
"Oh, sebentar lagi makan malam kita akan siap. Sakura, bisakah kau panggil para lelaki ke ruang makan?" pinta Kurenai. Dengan senang hati aku menurutinya.
Ada Naruto, Asuma dan Sasori di teras sedang menikmati teh dan camilan. Mereka dengan segera masuk setelah kukatakan kalau makan malam sudah siap.
"Dimana Sasuke?"
"Di pinggir sungai. Temuilah," ucap Asuma. Aku mengangguk dan berjalan ke pinggiran sungai.
Sasuke ada di sana, duduk di bawah pohon dan menatap kosong aliran air di depan matanya.
"Hei," sapaku. Sasuke hanya melirikku dari sudut matanya dan otakku berani bertaruh bahwa dialah pemuda tertampan yang pernah tertangkap mataku. "Ehm... Makan malam sudah siap. Jadi..." Sasuke tetap bergeming. "Baiklah, aku minta maaf..."
Sasuke kembali melirikku. "Untuk keputusanku, untuk ketidak sopananku, untuk persediaan tomatmu yang kuhancurkan tadi. Aku minta maaf."
Sasuke memalingkan wajahnya sebelum akhirnya bangkit dan berjalan melewatiku dalam diam. Setidaknya aku sudah berusaha pada pemuda es ini.
"Sasuke."
"Hah?" Aku menoleh tak mengerti.
"Panggil aku Sasuke." Entah karena sinar matahari senja atau karena Sasuke memang begitu tampan, aku merasa seperti melihat dia tersenyum tipis. Sangat menawan. Kemudian ia kembali berbalik dan masuk ke dalam penginapan. Sedangkan aku... aku hanya bisa terdiam beberapa detik dengan wajah memerah, berusaha menormalkan detak jantungku yang menggila hanya karena melihat seringai Sasuke.
"Bersulang!"
"Astaga... kupikir kalian tidak perlu melakukan hal ini..." ujarku malu.
"Bicara apa kau Sakura-chan?! Kau sudah menjadi bagian dari kami dan anggota baru memang harus selalu dirayakan! Ini tradisi!" seru Naruto. Ino mengangguk setuju.
"Hahaha... benar Sakura dan karena kau belum berusia 20, hanya aku dan Sasori yang boleh mengkonsumsi alkohol. Berpuas dirilah kalian dengan jus jeruk!" ujar Asuma lucu, kupikir ia mulai mabuk.
"Tapi tidak ada ramen ya di sini? Setidaknya kau harus menyediakannya satu saja untukku, Kurenai..." pinta Naruto. Kurenai dengan tegas menolak dan mengibaskan tangannya.
"Kau akan mati jika memakan ramen setiap hari, Naruto!" sahut Ino. Kami tertawa mendengarnya.
"Kak Naruto tidak boleh mati cepat-cepat, nanti tidak ada yang memperbaiki bonekaku lagi..." Moegi berkata lugu. Naruto tersentuh dan dengan dibuat-buat berkata bahwa hanya Moegi-lah yang menyayanginya di kelompok ini.
"Tidak Moegi, aku masih bisa memperbaiki bonekamu lebih baik daripada Naruto," sahut Sasori.
"Ah iya benar juga, baiklah Kak Naruto tidak apa-apa jika pergi sekarang," jawab Moegi lucu.
"APAAAA?!" pekik Naruto. Kami pun tertawa keras—kecuali Sasuke yang hanya tersenyum tipis.
Sudah lama sekali rasanya makan malamku tidak seramai ini, tidak selezat ini, tidak sehangat ini.
~Continuandos~
A/N: Akhirnya bisa di publish juga! Terima kasih untuk review di chap lalu yg saya jadikan penyemangat saya buat nyelesain chapter ini! Hehe
Apresiasi sebesar-besarnya buat yang mau mampir baca dan review untuk usaha saya. See ya at next chap!
At Ryeowook's Wardobe
12282014
AngelRyeong9
