Setelah bel pertanda pulang berbunyi. Sakura pun segera bergegas memasukkan buku-buku yang masi berceceran di atas mejanya kedalam tas.

Namun kegiatannya untuk sesaat terhenti. Saat ia menendegar seseorang memanggil namanya.

"Haruno bisa kau bantu aku membawa buku-buku ini ke ruangan ku?" tanya sang walikelas baru itu padanya.

"Baik Sensei" ucap Sakura tenang. Gadis itu pun bergegas mesukan bukunya yang masi tertinggal di atas meja kedalam tasnya. Untuk membantu Sasuke.

Setelah selesai, Sakura pun segera menghampiri meja Guru mudanya yang tampan itu. Dan segera mengangkat buku-buku itu untuk di bawa ke ruangan Sasuke.

Berbeda dengan Guru yang lain. Sasuke memiliki ruangan pribadinya sendiri di sekolah ini. Itu hal yang wajar mengingat apa saja yang bisa di lakukan Uchiha dengan uang mereka.

Perjalan itu pun hanya di isi oleh keheningan. Karena takada satupun dari mereka yang memulai percakapan terlebihdahulu.

Bisa di bayangkan kalau gadis lain yang berjalan di samping Sasuke pasti gadis itu akan merona dan salah tingkah berada di dekatnya. Namun sayang itu semua tak berlaku bagi Sakura.

Sementara itu, Sasuke selalu meperhatikan gadis itu tampa ada satu pun kata yang terucap dari bibirnya pada sang gadis. Ia hanya memperhatikan gadis itu dalam diam.

Selalu.

Selalu seperti ini. Tak pernah ada kemajuan.

Dan setelah sampai di depan ruangannya. Sasuke pun segera membuka ruangan itu dan mempersilahkan Sakura masuk.

Setelah itu Sakura pun segera meletakan tumpukan buku itu di atas meja kerja Sasuke yang ada di ruangan itu. Gadis itu pun segera pamit pada Sasuke dan berjalan keluar dari ruangan itu.

Namun

Langkahnya terhenti saat Sasuke memanggil namanya lagi untuk yang kedua kalinya.

"Ada apa Sensei?" tanya Sakura saat menghentikan langkahnya.

"Hari minggu nanti bisakah kau menemani ku pergi ke toko buku yang ada di pusat kota?"

"Aku baru beberapa hari yang lalu pindah ke kota ini. Jadi aku tak bigitu tau tempat-tempat yang ada di kota ini" ucap Sasuke berbohong.

Untuk beberapa saat Sakura pun terdiam.

"Baiklah Sensei" ucap Sakura tenag.

Dan itu membuat sebuah senyuman yang manis melengkung di wajah Uchiha bungsu ini.

"Baiklah kalau begitu. Besok aku akan menjemputmu" ucap Sasuke menahan rasa gugup dan bahagianya di saat yang bersamaan.

"Hn. Kalau begitu aku permisi Sensei" ucap Sakura Sambil membungkuk hormat dan berjalan meninggalkan pria itu.

Namun lagi-lagi langkahnya terhenti. Karena kali ini pria itu menahan tanggannya.

"Aku akan mengantarmu pulang" ucap Sasuke tenang.

"Tapi Sensei aku—"

"Dia akan pulang bersamaku Sensei" ucap suara seorang pria yang memotong ucapan Sakura.

"Gaara?" tanya Sakura terkejut.

Dan dengan cepat Gaara langsung menarik tangan Sakura menjauhi Sasuke. Sehingga gengaman tangan Sasuke pada tangan Sakura tadi pun terlepas.

"Ayo kita pergi Sakura" ucap Gaara tenang sambil mengandeng tangan Sakura meninggalkan Sasuke.

Namun untuk sesaat langkahnya pun terhenti karena ucapan Sasuke.

"Tunggu kenapa dia harus pulang dengan mu Akasuna?"

"Bukankah lebih aman kalau Haruno pulang bersama ku" ucap Sasuke penuh penekanan.

"Dengan mu? Memangnya apa yang membuat kau berfikir kalau di lebih aman pulang dengan mu daripada dengan ku eh Sensei?" tanya Gaara remeh.

Dan dengan bangganya Sasuke pun menjawab.

"Tentusaja karena aku adalah Gurunya! Jadi tidak mungkin kan seorang Guru melakukan hal yang buruk pada murid nya. Justru kalau di pulang dengan mu, aku curiga kau akan melakukan hal buruk padanya" ucap Sasuke tenag penuh penekanan.

Mendengar jawaban dari Sasuke yang aneh menurutnya? Membuat Gaara tertawa keras untuk sesaat.

"Ha..ha..ha.. pede sekali kau pak tua. Justru yang harus di waspadai itu adalah kau Sensei. Tak ada yang menjamin kau tak akan melakukan sesuatu padanya, kecuali kau Gay" ucap Gaara sambil tertawa mengejek.

"Dan aku yakin seorang Uchiha sepertimu bukan Gay kan?" tanya Gaara meremehkan.

Dan itu membuat Sasuke geram.

"Dan lagi kalau ada murid atau pun Guru yang melihat kau dan Sakura bersama di tempat seperti ini, kau pasti akan terkena sekandal Sensei"

"Kaau tau kalau kalian berdua tertangkap, Sakura tau mungkin kau akan di keluarkan dari Sekolah ini. Sebagai Guru yang baik apa kau tega melihat murid mu tirlibat masalah hanya karena perbuatan mu yang tak pikir panjang itu eh Sensei?" ucap Gaara dengan nada mengejek nya pada profesi Sasuke sekarang.

Tentusaja Gaara tau siapa Sasuke sebenarnya.

Tak mungkin seorang Akasuna Gaara tak mengenal siapa Uchiha Sasuke. Pewaris dari perusahaan Uchiha group saingan dari perusahaannya yaitu Akasuna group.

Putra bungsu dari keluarga Uchiha yang sebentarlagi akan mewarisi perusahaan raksasa itu setelah Ayahnya pensiun.

Awalnya pria itu sempat bingung kenapa pewaris Perusahaan besar sekelas Uchiha mau menjadi Guru di sekolah ini.

Namun saat Gaara melihat pria itu menggengam tangan Sakura dan menatap gadis itu dengan tatapan err seperti tatapan cinta dan memuja yang di tujukan Uchiha bungsu itu pada Sakura.

Saat itupun Gaara sadar bahawa alasan mengapa seorang Uchiha Sasuke ada di sekolah ini adalah karena Haruno Sakura.

'Aku tak menyangka kau memiliki stlaker sekelas Uchiha, Sakura' batin Gaara mengejek.

Sasuke pun semakin geram melihat Gaara yang sedaritadi terus memojokkannya dengan alasan pekerjaannya sebagai Guru.

'Cih sialan kau Akasuna berengsek!' batin Sasuke berteriak kesal.

Namun apa daya tangan Sasuke yang sedari tadi gatal ingin menonjok Gaara. Sekarang tak bisa ia pakai, setidaknya saat ia menjadi Guru di sekolah ini ia harus bisa menjaga sikapnya.

Kalau saja sekarang ia sedang tidak menjadi Guru. Dari awal pasti ia sudah menonjok mulut besar setan merah tak tau diri itu.

"Baiklah Sensei kalau begitu kami permisi" pamit Sakura sopan sambil membunkuk kan badannya pada Sasuke untuk yg keduakalinya.

Dan sebelum Sasuke menjawab ucapan Sakura. Gaara langsung menarik tangan gadis itu untuk segera pergi bersamanya.

Meningalkan Sasuke yang emosinya sudah memuncak.

"Brengsek!" geram Sasuke sambil meninju dinding yang ada di sampingnya.

"Akan ku balas kau Akasuna sialan!" geram Sasuke semakin emosi.

DISCLAMER

.

.

Naruto * Mashasi Kishimoto

.

.

Artificality that Sweet * Akasuna Ciel

.

.

Warning:

Alur kecepetan + kagak jelas, OOC, typo bertebaran,

Dll

Maklum author new bie jadi banyak kekurangannya

.

Bagi yang ngak suka ff ini harap tekan tombol 'BACK'

.

.

Happy Reading (\^0^/)

"Jadi—" ucap Gaara mengantung kalimatnya.

"Apa yang membuat kau berduaan sepulang sekolah dengan Uchiha itu"? tanya Gaara dingin.

"Dia guru baru baru di kelas ku. Dan juga Walikelas ku yang baru" jawab Sakura seadanya.

"Lalu karena dia Walikelas mu. Kalian bisa berduaan seenaknya begitu?" tanya Gaara sewot.

"Adapa dengan mu?" tanya Sakura heran.

Melihat Gaara yang sekarang sedang sensitif.

"Apa?" tanya Gaara lagi melihat tatapan Sakura yang menatapnya dengan tatapan aneh.

"Kau kenapa? Apa kau ada masalah dengan hal itu. Itu kan tidak ada hubunganya dengan mu" ucap Sakura seadanya.

Tampa menyadari hati Gaara yang sudah berdenyut sakit akibat ucapan Sakura.

"Tentu saja ada hubungannya" ucap Gaara pelan.

"Kau adalah Kakak ipar ku" ucap Gaara penuh penekanan.

"Ingat posisimu Sakura. Kau sudah punya suami"

"Dan Suami mu adalah kakak kandungku. Jadi aku harap kau bisa menjaga jarak dengan pria lain selain Kakak ku" ucap Gaara penuh penekanan.

Dan ucapan Gaara itu membuat hatinya berdenyut sakit.

'Kenapa aku yang selalu di tekankan tentang hal ini. Dia sendiri di luarsana masi bebas bersama wanita lain, sementara aku harus terkekang karena status bodoh ini' batin Sakura kesal.

"Kalau memang akau harus sadar dengan posisiku"

"Lalu bagaimana dengan dia? Apa dia juga sudah sadar akan posisinya saat ini?" tanya Sakura datar penuh penekanan.

Mendengar nada datar Sakura menyebut tentang kakaknya. Membuat Gaara untuk sesaat terdiam.

'Apa dia sudah tau tentang hubungan kakak dengan Wanita itu?' baitin Gaara bertanya.

Dan setelah ucapan dngin dan menusuk dari Sakura. Perjalanan pulang mereka berdua pun di isi oleh keheningan.

.

.

.

.

Dan di tempat lain di kota Konoha yang luas ini.

Tampak seorang pria berwajah baby face berrambut merah semerah darah, sedang bersama seorang wanita cantik berambut kuning keemasan.

Meraka berdua malam ini sedang menghabiskan waktu makan malam romantis berdua di sebuah restoran berbintang yang ada di Konoha.

Lalu si peria berwajah baby face itu mengeluarkan sebuah kotak prhiasan yang di lapisi kain beludru berwarna merah yang indah.

Lalu pria itu memberikan kotak itu pada sang Wanita.

Sang wanita pun berbinar senang melihat hadiah yang di berikan sang kekasih padanya.

Dan saat kotak itu di buka, didalamnya terdapat kalung berlian berbentuk hati yang sangat indah dan terkesan mewah.

Sang wanita pun terkejut melihat hadiah yang di berikan sang pria padanya.

"Ini sangat indah Sasori" ucap wanita itu terharu melihat hadiah dari Sasori.

"Tapi ini tak sebanding dengan mu Shion" ucap Sasori menyangkal.

"Kau lebih indah dari seluruh berlian yang ada di dunia ini sayang" ucap Sasori memuji Shion

"Kau berlebihan Sasori" ucap Shion dengan rona merah yang masi menepel di pipinya.

Melihat ekspresi malu Shion membuat Sasori tertawa.

"Ha..ha... kau sungguh manis sayang" puji Sasori sambil tertawa.

"Sasori" geram Shion penuh penekanan.

"Baiklah aku menyerah" ucap Sasori sambil menahan tawanya.

"Biar aku yang memasangkan ini untuk mu" ucap Sasori sambil mengeluarkan kalung itu dari kotaknya.

Shion pun tersenyum melihat Sasori yang begitu perhatian padanya.

Namun

Senyuman itu seketika pudar, saat Shion melihat cicin yang melingkar di jari manis Sasori.

Cincin itu adalah cincin pernikahan Sasori dan istrinya.

Sasori yang menyadari perubahan sikap Shion pun segera menglihkan pandangannya ke arah pandangan Shion.

Dan ternyata yang membuat sang wanita bersedih adalah cincin yang melingkar di jari manisnya.

Cincin itu adalah cincin pernikahan ia dan sang istri.

Cincin yang memisahkan mereka.

"Kalau kau mau, aku kan melepasnya untuk mu" ucap Sasori sambil berusaha melepaskan cincin itu.

Namun gerakannya tiba-tiba berhenti saat sebuah tangan yang lembut menahannya.

"Jangan" ucap Shion ambigu.

"Apa—"

"Jangan melepas sesuatu yang masi menjadi milkmu demi aku" ucap Shion lembut.

"Apa maksud mu? Dia bukan milik ku! Dia—"

"Maksud ku bukan dia"

"Tapi cincin yang ada di jarimu itu. Selama kau masi bersamanya jangan pernah kau melepas cincin itu"

"Kecuali..." ucap Shion menggantung kalimatnya.

"Kecuali?" tanya Sasori bingung.

"Kecuali kau sudah berpisah dengannya" ucap Shion dingin.

Dan seketika suasana di antara mereka pun berubah.

Yang tadinya hangat dan penuh kebahagiaan.

Sekarang berubah menjadi dingin dan canggung.

"Baiklah. Sekarang bolehkah aku memasangkan ini unutuk mu sayang" ucap Sasori lembut berusaha mencairkan suasana.

Dan hanya di balas angukan kecil oleh Shion.

Sasori pun segera berjalan mendekati Shion dan memasangkan kalung itu di lehernya.

"Kau tampak semakin cantik Shion" puji Sasori untuk kesekian kalinya sang sang kekasih.

"Sa—"

"Aku serius sayang kau sunguh cantik. Aku mencintai mu" ucap Sasori tulus.

"Aku juga mencintaimu Sasori" jawab Shion tulus.

"Shion aku—"

Ucapan Sasori pun terpotong. Saat ia merasakan ponselnya berdering di saku celananya.

Dan dengan perasaan jengkel ia merogoh saku celananya. Mengeluarkan benda berdering yang memotong ucapannya itu.

Dan setelah ia mengeluarkan benda laknat itu, tmpaklah tulisan "Gaara Calling" tertera di layar ponselnya.

Dengan perasaan jengkel Sasori pun mengangkat ponselnya.

"Apa?" tanya Sasori ketus.

'Kapan kau pulang? Istrimu dan aku sudah menunggumu sejak tadi' ucap Gaara penuh penekanan.

"Dasar manja! Tampa ada aku pun kalian akan baik-baik saja kan?" tanya Sasori kesal.

"Tidak bisa. Kalau tidak ada kau siapa yang memasak untuk kami nanti?'

"Jadi kau menelfonku hanya untuk hal sepele seperti itu?!" tanya Sasori sewot.

'Oi Baka Aniki. Itu bukan hal yang sepele. Kalau kami mati kelaparan bagaimana hah?!' teriak Gaara emosi di sebrang sana.

"Cik Gaara sekarang aku—"

'Pulang sekarang juga. Atau kau akan melihat dapur mu hancur malam ini Aniki!' ucap Gaara penuh penekanan di sebrang sana.

"Hei kau—" dan belum selesai Sasori mengomeli adiknya yang kurangajar itu. Gaara sudah mematikan ponselnya duluan.

"Cih menyebalkan" dengus Sasori kesal.

Tampa menyadari sedari tadi sang wanita selalu memperhatikannya.

"Apakah yang tadi itu Gaara?" tanya Shion lembut.

"Cih bocah panda itu memang menybalkan" ucap Sasori untuk kesekian kalinya.

"Dia mengancam ku dengan alasan yang sunguh kekank-kanakan. Benar-benar menyebalkan" umpat Sasori kesal.

Shion yang melihat Sasori marah-marah tak jelas karena adik sematawayangnya itu hanya bisa terkikik geli menertawakan sang kekasih.

"Itu tak lucu nyonya Akasuna" ucap Sasori kesal karena Shion menertawainya.

"Ha...ha...ha... maaf kan aku Sasori ha...ha.." ucap Shion sambil berusaha menahan tawanya.

"Shion" ucap Sasori penuh penekanan.

"Baiklah maafkan aku tuan Akasuna" ucap Shion dengan nada guraunya.

"Memangnya apa yang di ucapkan adikmu sehingga kau jadi kacau seperti ini eh?" tanya Shion tenang.

"Dia mengancam ku" ucap Sasori dengan nada sendu.

"Apa?! Apa yang dia katakan padamu Sasori jangan bilang—"

"Dia mengancam akan menghancurkan dapurku kalau aku tidak segera pulang! Bagaimana ini Shion?!" tanya Sasori yang mulai panik memikirkan nasib dapurnya di tangan dua mahluk yang tak bisa memasak itu.

Krik... Krik... Krik...

Dan seketika itu pula Shion dim di tempat.

Ia tak menyangka seorang Akasuna Sasori bisa terlihat begitu bodoh dan idiot hanya karena ancaman aneh tak masuk akal dari adiknya

Tentusaja Sasori takut akan ancaman Gaara. Karena dulu bocah panda itu pernah membuat dapurnya meledak hanya karena Gaara memanaskan makanan instan di makroev.

Hanya karena makanan instan sialan itu dapur tuan Akasuna kita yang satu ini meledak. Apalagi kalau Gaara memasak dengan kompor gas atau yang lainnya.

'Bisa-bisa rumah keluarga Haruno nantinya hanya tinggal hamparan arang yang sudah hangus terbakar' batin Sasori bergidik ngeri.

Dan Sakura. Ia tak tau gadis itu basa memasak atau tidak, tapi mengigat sifat mereka tak jauh berbeda ia yakin Sakura sama buruknya dengan Gaara dalam hal memasak.

"Kau terlihat bodoh hanya karena sebuah Dapur tuan Akasuna" ucap Shion menggelengkan kepalanya.

"Aku tak suka barang milik ku di gangu dan di rusak oleh orang lain Shion. Dan setelah aku tinggal di rumah keluarga Haruno, dapur itu sudah menjadi milik ku" ucap Sasori dengan gajenya.

"Dasar idiot" ucap Shion santai tepat di depan wajah Sasori.

"Apa?! Kau—"

"Sesshh sudah lah sayang, lebih baik kau pulang sekarang juga. Sebelum dapur kesayangan mu itu di nodai oleh Gaara"

"Tapi apa tidak apa-apa aku pulang sekarang? Maksud ku malam ini kan—"

"Tidak apa-apa, besok kan kita masi bisa bertemu lagi" ucap Shion memotong ucapan Sasori.

"Hah... baiklah kalau begitu aku akan memgantarkan mu pulang"

"Baikalah kalau begitu ayo kita pulang sayang" ucap Shion sambil mengandeng tangan Sasori mesra.

"Sesuai keinginan mu tuan putri" ucap Sasori sambil tersenyum manis.

Dan setelah itu mobil Lexus LFA milik Sasori membelah kegelapan malam untuk mengantar sang pujaan hati pulang ke rumahnya dengan selamat.

Sunguh pria yang begitu baik.

Tapi sayang

Sang pria lebih memilih mencurahkan seluruh kasihsayangnya yang tulus pada sang kekasih.

Namun tidak untuk sang istri.

.

.

.

.

Setelah mengantarkan Shion pulang. Akhirnya Sasori pun sampai dengan selamat di kediaman Haruno.

Setelah ia memarkirkan mobil Lexus LFAnya di garasi.

Pria Akasuna itu pun segera melangkahkan kakinya ke arah puintu masuk kediaman keluarga Haruno.

Dan saat ia membuka pintu itu.

Ia segera melangkahnkan kakinya memasuki rumah yang besar itu, dan saat ia sampai di dapur.

Ia melihat Sakura dan Gaara yang sedang makan malam berdua.

Siapapun yang melihat mereka, pasti berfikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

Mereka berdua terlihat sangat cocok.

Dan itu membuat sesuatu di hati Sasori berdenyut sakit.

"Ah kau sudah pulang Aniki?" tanya Gaara santai sambil masi sibuk mengunyah makanannya.

"Okaeri Sasori" sapa Sakura pada Sasori.

"Ah Tadima Sakura" balas Sasori dengam senyuman manis yang melekat di bibirnya.

"Kau bilang kau akan mati kelaparan kalau aku tidak pulang"

"Lalu kenapa sekarang kau malah makan dengan lahap tampa diriku eh?" tanya Sasori sinis.

"Ah yang memasak nasi goreng ini adalah Sakura Aniki"

"Nasi goreng ini jauh lebih enak dari buatan mu. Untung saja istri mu bisa memasak"

"Kalau tidak, aku bisa mati kelaparan sebelum kau pulang" ucap Gaara dengan wajah polosnya yang menyebalkan.

"Lalu kenapa kau mendesakku bahkan sampai mengancam ku untuk segera pulang hah?!" geram Sasori yang emosinya mulai naik melihat wajah sok polos adik sematawangnya.

"Ah itu karena istrimu sudah memasak makanmalam untuk kiata. Jadi sebagai suaminya harusnya kau segera pulang, bukan malah keluyuran"ucap Gaara menyindir Sasori.

Gaara tau Sasori tadi menghabiskan waktu makan malam berdua bersama Shion.

Karena itulah Gaara membuat alasan gilanya untuk membuat sang kakak cepat pulang meninggalkan wanita jalang itu.

Dan tak disangka alasan konyolnya itu mempan juga pada Sasori.

Sasori yang merasa tersinggung pun sedikit terpancing atas ucapan Gaara yang menyingung tentang pertemuannya tadi dengan Shion.

"Kau—"

"Daripada kau marah-marah sekarang, lebih baik kau makan, makanan mu Nii-san. Karena tadi Sakura sudah membuatkannya untuk mu" ucap Gaara mengalihkan pembicaraan.

Karena merasa tak enak dengan Sakura yang sedaritadi memperhatikannya. Akhirnnya Sasori memutuskan untuk makan malam bersama mereka.

"Bagaimana enak kan?" tanya Gaara antusias saat Sasori sudah selesai menyendokkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya.

Benar apa yang di katakan Gaara nasi goreng buatan Sakura memang enak. Ia tak menyangka seorang Haruno Sakura bisa memasak makanan seenak ini.

"Iya enak. Kau hebat Sakura" puji Sasori sambil tersenyum manis.

"Terimakasi" balas Sakura seadanya.

Dan setelah itu. Hanya keheningan lah yang menyelimuti ruang makan keluarga Haruno itu.

"Aku sudah selesai" ucap Sakura setelah ia menghabiskan makanannya.

Setelah itu gadis itu pun segera pamit pada Gaara dan Sasori untuk tidur duluan.

Meninggalkan Sasori dan Gaara yang masi duduk di ruangan itu.

Dan setelah Sakura pergi pun, keheningan masi menyelimuti ruangan itu.

Namun pertanyaan yang di lontarkan Sasori, memecah keheningan di antara mereka.

"Kenapa kau menganggu ku dengan alasan bohong mu yang konyol itu?!" tanya Sasori tajam penuh penekanan.

"Kau tau? Gara-gara kau! Makan malam ku dan Shion jadi berantakan!" geram Sasori penuh emosi.

"Lalu apa hubungannya dengan ku?" tanya Gaara santai.

"Kau—"

"Oi Aniki apa kau lebih memilih makan malam bersama jalang itu daripada makan bersama istri dan adik mu eh?" tanya Gaara meremehkan.

Bugh

Dan saat itu juga Sasori meninju mulut kurang ajar adik sematawayangnya itu.

"Berhenti menyebut gadis ku jalang!" ucap Sasori dingin.

"Kau memukul ku hanya karena wanita itu?!" tanya Gaara emosi.

"..."

"Dia memang jalang Aniki! Kalau dia wanita baik-baik mana mungikin dia mau mempunyai kekasih suami orang!" teriak Gaara emosi.

"Pelankan suaramu!" tegur Sasori dingin.

"Kenapa? Kenapa aku harus memelankan suaraku?!" teriak Gaara semakin menjadi.

"Biarsaja semua orang termasuk Sakura tau aib busuk mu itu!"

Bugh

Dan untuk yang keduakalinya Sasori mendaratkan pukulannya ke wajah adik sematawayangnya itu.

"Lebih baik sekarang kau—"

Ucapan Sasori pun tiba-tiba terpotong saat pria itu melihat Sakura yang tengah berdiri tepat di hadapannya sambil membawa gelas berisi air putih di tangannya.

Dan dengan santai Sakura meminum air itu tepat di hadapan Akasuna bersaudara itu.

"Sa-Sakura sejak kapan kau ada di sini" tanya Sasori gugup dengan senyum tegang di wajahnya.

Bukan lagi semum manis penuh kepalsuan yang pria itu perlihatkan padanya. Mungkin topeng itu agak sedikit retak saat pria itu meluapkan emosinya pada sang adik.

"Sejak kau berteriak 'Berhenti memanggil gadis ku jalang'" ucap Sakura santai.

Dan saat itu juga Sasori merasa langit runtuh tepat menimpa kepalanya. Dan yang lebih membuatnya tegang adalah reaksi Sakura yang tampak biasa saja. Seperti tak terjadi sesuatu.

'Ini aneh. Kenapa reaksinya biasa saja? Apa ia sudah tau semuanya?' batin Sasori resah.

"Lalu bagaimana rasanya?" tanya Gaara santai.

"Apa?" tanya Sakura bingung.

"Bagimana rasanya menikah dengan pria yang tidak mencintai mu dan masi mencintai kekasihnya. Mereka pun sampai sekarang masi berhubungan, bagai mana perasaan mu Sakura" tanya Gaara santai membuka aib sang kakak di depan istrinya.

"Apa yang bisa aku jawab?"

"Suami ku tak mencintai ku tapi dia mencintai wanita lain. Jadi itu semua tak ada hubungannya dengan ku"

"Walaupun secara sah aku adalah istrinya tapi. Bagi Sasori hanya wanita itu yang pantas menjadi istrinya bukan aku" ucap Sakura tenang.

"Jadi, apa yang bisa aku lakukan?" tanya Sakura dengan nada yang terdengar biasa saja.

Namun di dalam, hatinya serasa ingin menagins. Ia tak menyangka jika ia bisa menahan air matanya sampai detik ini.

"Wah kau gadis yang baik ya Sakura. Sayang sekali Aniki terlalu bodoh untuk menyadari kebaikan mu" ucap Gaara menyindir.

Dan Sasori pun hanya bisa diam membeku di tempat.

"Ah baiklah, daripada kau menderita bersama Aniki yang bodoh itu, bagaimana kalau kau dengan ku saja?" tanya Gaara tenag di depan Sang kakak.

"Apa?" tanya Sakura terkejut.

"Gaara kau—"

"tidak masalah kan Aniki. Kau kan tidak mencintainya dan kau juga masi berhubungan dengan wanita itu"

"jadi..."

"Berikan dia untuk ku, dan kau bisa bahagia bersama wanita mu itu Aniki" ucap Gaara menawarkan.

"..."

"Ah kau terlalu lama berfikir Nii-san. Baiklah Sakura ayo kita pergi dari sini" ucap Gaara sambil menarik tangan Sakura krluar dari ruangan itu.

Meninggalkan Sasori yang masi berdiri terdiam di sana.

Memilih sang istri yang baru memasuki kehidupannya?

Atau...

Sang kekasih yang sejak dulu selalu bersamanya?

.

.

.

.

Di tempat lain, tampak seorang pria berhelaian raven sedang memandang foto seorang gadis.

Gadis kecil berhelaian pink lembut, yang tampak sedang tersenyum bahagia di dalam gendongan seorang pria yang tampak lebih tua darinya.

Pria di dalam foto itu tampak mirip dengannya.

Jelas saja mereka mirip, karena mereka adalah orang yang sama. Yaitu Uchiha Sasuke.

"Kenapa sekarang kau melupakan ku Cherry?" tanya Sasuke sendu entah pada siapa.

FLASHBACK ON

.

.

Seorang gadis kecil tampak Sedang duduk di atas pangkuan seorang pria yang kira-kira lebih tua 8 tahun di atasnya.

"Oni-chan~ hali ini Oka-san dan Outo-san, meninggalkan Sakula lagi" ucap gsdis kecil itu sedih dengan nada cadelnya yang sangat kentara.

"Memangnya hari ini orang tua mu kemana lagi Cherry?" tanya pria itu ramah sambil mengelus rambut halus sang gadis.

"Meleka bilang hali ini meleka akan pelgi ke Amelika. Dan meleka bilang Sakula tidak boleh ikut" ucap gadis itu sedih.

"Sesssh kau tak perlu sedih Cherry, Onii-san akan selalu menemani mu" ucap pria itu menenangkan sang gadis kecil.

"Benalkah? Onii-chan janji tidak akan meninggal kan Sakula sendirian?" tanya gadis bernama Sakura itu penuh harap.

"Hn aku janji" ucap pria itu sambil tersenyum lembut.

"Aku menyukai mu Sasuke Onii-chan" ucap sang gadis sambil terrsenyum ceria memeluk Sasuke.

Wajah yang selalu datar dan dingin itu selalu berubah menjadi hangat jika pria itu berada dekat dengan sang gadis musim semi.

Gadis yang telah menghangatkan hatinya dan melelehkan es yang menyelimuti hatinya hingga ia selalu merasa bahagia bersama gadis itu.

"Kalau begitu apa Cherry mau menikah dengan Onii-san kalau kita sudah besar nanti?" tanya Sasuke.

"Menikah? Menikah itu apa Onii-san?" tanya Sakura polos.

"Menikah itu sama seperti mengikat janji untuk selalu bersama selamanya" ucap Sasuke menjelaskan.

"Apa Cherry mau menikah dengan Onii-san?" tanya Sasuke sekali lagi.

"Tentu saja! Sakula ingin selalu belsama Sasuke Onii-chan selamanya" uap gadis itu sambil tersenyum riang.

"Kalau begitu ayo kita buat janji, kalau Cherry sudah besar nanti kita akan menikah" ucap Sasuke sambil memberikan jari kelingkingnya ke arah Sakura.

"Sakula beljanji, kalau sudah besal nanti akan menikah dengan Sasuke Onii-chan" ucap gadis itu riang.

Tampa mengetahui apa yang akan terjadi esok. Gadis itu masi saja tersenyum dan melambungkan harapan sang pria setinggi langit.

Tampa mengetahui kelak mereka akan terpisah nantinya.

Dan si gadis mungkin akan melupakan janjinya.

Bahkan mungkin juga pria itu.

.

.

FLASHBACK OFF

"Aku merinduan kebersamaan kita dulu Cherry"

"Seandainya dulu kita tidak terpisah"

"Pasti sekarang kau tak seperti ini Cherry" ucap Sasuke sendu.

"Sekaeang kau tak seceria dulu Cherry. Apa yang membuat senyuman manis itu hilang dari bibir mu?" tanya Sasuke entah pada siapa.

"Aku janji akan membahagiakan mu Cherry. Dan aku akan membuat senyuman itu bertengger manis di bibir mu sekali lagi" ucap Sasuke mantap.

Walaupun sang gadis sudah tak mengigat janji kecil mereka dulu bahkan mungkin dirinya.

Tapi...

Ia akan tetap berusaha membuat gadis itu mengigat kembali tentang dirinya.

Tentang janji kecil mereka.

Dan tentang kebersamaan mereka dulu.

.

.

.

.

"Sekarang sudah tak apa" ucap Gaara tiba-tiba di tengah perjalanan mereka menuju kamar Sakura.

"Apa mak—"

"Perasaan mu yang sebenarnya. Keluarkan lah sekarang aku akan mendengarkannya"

"..."

"Semuanya..."

"Dan tak akan ku biarkan oranglain melihat" ucap Gaara lembut.

Kata-kata dari Gaara itu, membuat mata Sakura menjadi panas.

Dan perlahan air asin itu mengalir keluar dari pelupuk mata Sakura.

Ia menagis.

Untuk pertamakalinya ia menangis di hadapan oranglain.

"Sa- sakit rasanya aku-aku hiks" tangis Sakura sambil terisak di pelukan Gaara.

"Menagis lah"

"Itu lebih baik daripada kau menahannya sendiri" ucap Gaara sambil megelus pelan helai rambut merah muda Sakura.

"Padahal aku sudah berusaha hiks un-untuk menerima ini smua hiks"

"Menerimanya sebagai suami ku hiks"

"Tapi hiks saat aku sudah mulai menerimanya hiks kenapa aku malah kecewa" tangis Sakura terisak.

"Kalau memang dia masi mencintai gadis itu hiks kenapa ia mau menikh dengan ku?!" teriak Sakura sambil terisak.

"Aku—"

"Sessh walau pun dia tidak ada aku selalu ada untuk mu Sakura" ucap Gaara sambil tersenyum lembut ke arah Sakura.

"Gaara ka—"

Dan ucapan Sakura pun terpotong karena dengan tiba-tiba Gaara menciumnya.

Tepat di bibirnya.

Dan hal itu membuat Sakura membeku di tempat. Membuat Sakura tak bisa melawan Gaara.

Karena ia begitu terkejut atas ciuman dari Gaara.

Dan tampa mereka berdua sadari, sejak Sakura menagis di dada Gaara smapai sekarang. Sasori selalu memperhatikan mereka berdua sejak tadi.

Tangis yang di keluarkan Sakura karena perbuatannya.

Dan ciuman yang di berikan sang adik pada istrinya.

Itu semua sudah cukup menyadarkannya bahwa ia adalah suami paling buruk di dunia ini.

Suami yang tak menyadari beban yang selalu di pendam sang istri di balik sifat dinginnya.

Dan justru sang adik lah yang menyadari itu semua.

Bukan Akasuna Sasori.

Melainkan.

Akasuna Gaara.

'Apa aku sejahat itu, sampai membuat istri ku menagis dan memperlihatkan kelemahannya di depan pria lain dan bukan aku, suaminya sendiri' batin Sasori miris.

.

.

.

.

.

T*B*C

Rosachi-hime: he..he.. Sasori emang nyebelin di sini. ini udah update

Spiring Oh Shasa: ha...ha.. iya kita bakalan nyiksa Sasori habis-habisan sebelum di bahagia# Evilsmirk

Fuuyuki Ayasegawa: iya ini udah update

Uchiharunoo: Iya bakalan saya usahain

Sasobrengsek: Ha...ha... kayaknya kamu benci bgt ama Saso. Tenag di chap ini dan chap depan saya bakalan nyiksa Saso habis-habisan#Evilsmirk

Riyuzaki namikaze: ha..ha.. itu bisa di pertimbangkan ;)

Cicely Garnetta: kamu maunya ama siapa ;)

Kaname: makasi ya... ini udah lanjut kok

: ha...ha.. tenanf aja besok kita bakalan nyiksa Saso. Sampai dia ngemis2 ke Saku#Evilsmirk

dewazz: iya

Myosotis sylvatica: iya ini udah lanjut kok

Crystal Sheen: Ha..ha.. rencananya sih gitu^_^ i i udah update kok

KNY14: makasi yaa.. ^_^ ini udah update kok

Misakiken: makasi yaa.. ^_^ ini udah update kok

Arinamour036: ini udah lanjut

Intanmalusen: maklum author new bie jadi banyak salahnya. Peranyaan kamu udah terjawab kok di atas

BlackHead394: makasi ya... ini udah update kok

Makasi ya buat review kalian semua..^_^ mudah2han chap 4 bakalan updat secepatnya...

R

E

V

I

E

W

Please ^_^