FLIRTATION SEQUEL : REGRETTED

Saya menyarankan untuk mendengarkan lagu 'Sayang – Supernova' untuk menambah feel-nya.

Sudah 3 bulan berlalu. Akashi masih tak percaya kalau dirinya bisa bertahan selama ini tanpa orang yang dia cintai sepenuh hati. Sungguh, tanpa bibir yang dicandunya, tanpa wajah yang menentramkannya, tanpa seseorang yang membuat rasa rindu mengaum di dadanya, dan tanpa kasih sayang yang dulu membuat hangat hatinya, hidupnya bagai neraka.

Kasur yang sudah mereka tiduri selama 2 tahun, memang masih sama. Tapi sekarang terasa luas, dan hanya rasa dingin yang menguar. Apartment ini bukan rumahnya lagi. Terasa sepi, mencekam dan menyakiti.

Disclaimer :

Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Original Story milik Gigi

Main cast :

Akashi Seijuro

Kuroko Tetsuya

Warn :

T

Shounen Ai

Akakuro

Romance. Hurt. Angst.

OOC.

Typo.

Akashi kembali meringis dalam hati, semenjak perpisahan dikumandangkan oleh Tetsuya, lelaki bersurai biru itu pergi, melangkahkan kaki dari sini. Awalnya, Akashi mengira, kalau Tetsuya akan kembali, mengingat masih banyak barang yang tertinggal. Hanya saja, sampai dia menemukan sebuah catatan, dia tahu dugaannya salah. Barang-barang itu memang sengaja ditinggal, barang-barang yang merupakan pemberiannya. Ah, bahkan Tetsuya tak sudi menyentuh pemberian Akashi.

Namun, meski begitu, sedikitnya dirinya bersyukur, barang-barang inilah yang masih 'beraroma' Tetsuya-nya. Bahkan, sampai sekarang, dia tidak mengganti bedcover yang terakhir dipakai oleh Tetsuya. Biasanya, saat mereka tidur berdua, Akashi akan berada disisi kanan, sedangkan Tetsuya berada disisi kiri. Tapi sekarang, dirinya lah yang tidur disisi kiri, berharap sedikitnya masih ada kehangatan yang tertinggal disana. Yang mampu meredakan mimpi buruknya semenjak berakhirnya hubungan mereka.

Rindunya sudah semakin parah, seolah menjelma menjadi parasit yang siap menghancurkannya kapan saja.

/Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Silahkan coba beberapa saat lagi./

Klik. Tangan berjari lentik itu kembali menekan nomor yang sama, yang sudah dia hafal diluar kepala.

/Nomor yang anda hubungi sedang tidak ak-/

Selalu seperti ini. Nomor Tetsuya tidak pernah aktif semenjak sebulan yang lalu. Rasa cemas jelas mewarnai hati Akashi. Meski Tetsuya bekerja di salah satu divisi di perusahaannya, namun sosok itu seakan menghilang entah kemana.

Sebenarnya, dirinya tidak bermaksud untuk masuk kantor hari ini, namun, sekali lagi tidak ada salahnya mencoba mencari Tetsuya diantara ribuan karyawan yang bekerja dengannya.

Bisa saja sih kalau dirinya memilih untuk mendatangi dimana divisi mantan kekasihnya berada, tapi mengingat disini karyawan bisa pindah divisi kalau memenuhi syarat, bisa saja Tetsuya sudah pindah ke divisi lain. Daripada si biru itu akan kabur, Akashi lebih memilih memanggilnya lewar resepsionis.

"Panggilkan Kuroko Tetsuya ke ruanganku."

/Baik, Akashi-sama./

Akashi menunggu dengan hati yang tak karuan, semoga kali ini caranya berhasil. Dia ingin bertemu Tetsuya-nya, sebentar saja, setidaknya memastikan kalau laki-laki yang dicintainya baik-baik saja.

Lima menit menunggu, terdengar ketukan dari pintu kantor ruang pribadi Akashi. Hatinya semakin tak karuan, bagaimana wajah laki-laki itu nanti? Apa yang akan dia katakan pada Tetsuya? Bisakah dia memperbaiki semuanya?

Seraya berdehem, memperbaiki letak duduknya, Akashi mempersilahkan sang tamu yang ditunggu masuk.

"Permisi, Akashi-sama."

Dan betapa kecewanya dia saat melihat resepsionis yang memasuki ruangannya.

"Mana Tetsuya?"

"Maaf, Akashi-sama. Karyawan atas nama Kuroko Tetsuya telah mengundurkan diri dari perusahaan kita."

"Kapan?" Sekuat tenaga dirinya mempertahankan nada bicaranya seolah semuanya biasa saja.

"Sekitar sebulan yang lalu, Akashi-sama."

"Kau boleh keluar."

Resepsionis itu menunduk, mengundurkan diri dari hadapan sang pimpinan tanpa berkata-kata lagi.

Sepeninggal si resepsionis, Akashi terduduk lelah. Tetsuya benar-benar berniat menghilang dari hidupnya. Semua akun dan nomor ponsel Akashi telah diblokir, pernah dia membuat akun baru, tapi semua akun Tetsuya telah di-private. Ponsel yang sejatinya telah dia masuki chip untuk mendeteksi keberadaan sang mantan kekasih, kini tergeletak tak berdaya di apartment-nya. Nomor ponsel yang Akashi jadikan acuan, telah di non-aktifkan. Sekarang Tetsuya malah sudah keluar dari perusahaan.

Seakan mendapat ide baru, Akashi segera bangkit, diambilnya kunci mobil Audi-nya, secepat kilat menuju apartment milik Tetsuya. Ya, sebelum Tetsuya benar-benar menghilang, dan Akashi tidak akan pernah mengizinkan mantan kekasihnya jauh dari genggaman.

Kemudi itu disetir kesetanan. Peduli setan dengan klakson yang senantiasa dibunyikan atas tingkah mobilnya yang ugal-ugalan. Akashi tidak peduli. Tidak peduli dengan hidupnya lagi.

"Tetsuya buka pintunya!"

Dak! Dak! Dak! Akashi memukul keras pintu apartment berwarna abu-abu itu. Bel apartment tak banyak membantu. Dia mau ketemu Tetsuya sekarang.

"Tetsuya!"

Tangan kokoh itu semakin keras memukul bidang datar. Berharap suaranya sampai ke orang yang dia cintai dan pernah dia campakan.

"Maaf, anda mencari siapa?"

Seorang wanita paruh baya menyambangi Akashi yang memang ketukannya terdengar hampir di semua sudut gedung.

"Kuroko Tetsuya. Apa dia masih tinggal disini?"

"Anda siapa?"

Akashi meneguk ludah. Iya, dia siapa? Sudah sanggupkan lidahnya bilang kalau dia adalah mantan kekasih Tetsuya? Bisakah dia bilang kalau hubungan mereka hanya sekedar teman? Ataukah dia jawab saja sebagai kekasih? Tidak, Akashi menggelengkan kepalanya pelan, bukannya tidak mau, sejujurnya dia ingin mengatakan yang sesungguhnya, tapi bagaimana kalau Tetsuya sekarang jijik kepadanya? Atau parahnya, Tetsuya-nya kembali menyukai wanita?

Hah, memikirkannya saja sudah membuat jantungnya seolah berhenti mendadak.

"Aku atasannya."

"Ah," Wanita itu mengangguk, "Kuroko-kun sekarang sudah pindah dari sini."

Dia kehilangan jejak lagi.

"Kapan?"

"Kurang lebih sebulan yang lalu. Apa Kuroko-kun ada masalah di tempat kerja?"

"Tidak. Dia bekerja dengan baik."

"Yah, aku pasti akan kaget kalau Kuroko-kun bermasalah, soalnya orangnya baik sekali, sangat sopan dengan siapa pun. Kalau saja aku punya anak perempuan, akan dengan senang hati aku jodohkan, hahaha." Wanita itu tertawa sambil menepuk bahu Akashi, seolah tidak mengerti dengan aura yang dikeluarkan pewaris tunggal Akashi setelah mendengar kalimat dijodohkan.

"…"

"Nah kalau begitu tuan,"

"Akashi."

"Akashi-san, saya permisi."

Sepeninggal wanita itu, Akashi menyender lemah pada pintu apartment, melorotkan tubuhnya untuk istirahat sejenak, "Kau dimana, Tetsuya.."

Ini pertaruhan, Akashi sangat berharap bisa menemukan Tetsuya-nya disini. Tempat yang secara pasti akan disambangi sang pengisi hati.

"Ah, Sei-san, hisashiburi!"

Rumah Tetsuya.

"Doumo, obaa-san."

"Loh, tidak bersama Tetsuya?"

Akashi menelan ludahnya, gugup. "Kebetulan aku baru saja selesai dari pekerjaanku, makanya aku memutuskan untuk mampir."

"Ah, kau memang sudah lama tidak mampir kesini. Tet-chan juga bilang bahwa kau sibuk dengan pekerjaanmu. Nah, ayo masuk dulu."

Akashi mengangguk dan mengikuti ibu Tetsuya untuk masuk kedalam rumah yang ditata dengan asri, "Ojamashimasu,"

"Hai, douzou, maaf ya Sei-san, obaa-san belum sempat memasak banyak."

"Ie, ini sudah cukup. Apa Tetsuya tidak mampir kesini juga, Obaa-san?"

"Tet-chan baru saja pulang dari sini seminggu yang lalu."

"Apa dia bercerita sesuatu?"

"Sepertinya tidak. Ah, dia hanya bercerita kalau pindah apartment."

Gotcha! Inilah obrolan yang Akashi tunggu-tunggu.

"Apa Obaa-san tahu dimana alamat Tetsuya yang baru?"

"Hm, Tet-chan bilang masih belum fix, bisa jadi dia malah akan tinggal bersama temannya."

Deg. Tanpa Akashi sadari, tangannya mulai terkepal erat saat mendengar bahwa Tetsuya akan tinggal bersama seseorang. Masih segar dalam ingatannya kalau mantan kekasihnya itu bukan orang yang gampang mau tinggal dengan orang lain. Dirinya saja perlu waktu setengah tahun untuk meyakinkan si pemilik aquamarine agar mau bersamanya.

"Kalau boleh tahu, dengan siapa Tetsuya akan tinggal? Mungkin aku juga mengenalnya."

"Shigehiro-kun."

"Shigehiro?"

"Ogiwara Shigehiro, Sei-san."

Fiks. Akashi cemburu parah. Nama itu tidak asing. Jelas tidak asing karena sebelum mereka menjalin hubungan, nama itulah yang menjadi penghalang.

"Dimana mereka akan tinggal?" Tanya Akashi sambil berusaha menekan suaranya agar tidak terlihat panik.

"Hm, sepertinya di daerah Tokyo. Tet-chan bilang dia pindah tempat kerja. Apa dia ada masalah ditempatmu, Sei-san?"

"Tidak, Obaa-san. Aku bahkan tidak tahu kalau Tetsuya pindah."

"Apa kalian ada masalah?"

Banyak, semuanya fatal dan itu kesalahanku.

"Tidak, hanya saja kami sangat jarang bertemu akhir-akhir ini."

"Ah, pasti berat untuk Tetsuya, apalagi Sei-san termasuk teman Tet-chan yang pertama."

Akashi tersenyum, mencoba meminimalisir luka hati yang terlalu lama dianiaya sunyi.

"Ne, Obaa-san,"

"Iya?"

"Apa Obaa-san akan mengizinkan Tetsuya menikah dengan siapapun yang dia cintai?"

Wanita cantik itu tertawa, "Kau pasti tahu kalau Tet-chan anakku satu-satunya. Sebenarnya aku belum rela anakku menikah. Bagi kami, Tet-chan masih kecil. Aku ingat baru saja melahirkannya kemarin." Senyumnya mengembang, "Tapi, kalau memang anakku mencintainya, tentu saja kami akan mendukungnya."

"Siapa pun?"

"Asal anakku bahagia, tidak ada tujuan dari orangtua selain membimbing dan membahagiakan anaknya, Sei-san."

"Aku-"

"Ah, ngomong-ngomong masalah menikah, aku ada kabar gembira. Sei-san adalah yang pertama tahu." Wanita itu berdiri, mengambil sesuatu didalam laci, dan kembali duduk. "Apa Sei-san mengenal Nakamura Ryo?"

"Memangnya ada apa, Obaa-san?" Tanya Akashi, firasatnya berkata buruk.

"Kau tahu, akhirnya Tet-chan menerima perjodohan dari keluarga Nakamura!"

Deg. Bohong.

"Awalnya kami menyerah, kami kira Tet-chan memang tidak menyukai perjodohan ini karena Tet-chan selalu menolaknya, tapi saat pulang kemarin, dia bersedia!"

Ini mimpi buruk. Aku harus bangun.

"Nakamura-san memang sudah menyukai anakku sejak lama, karena dia tidak pernah melihat Tet-chan punya pasangan, makanya dia memberanikan diri melamar anakku duluan."

Tidak! Jantungnya terasa remuk. Seperti berdetak keras, tapi tak setetespun darah yang terpompa.

"Yah, pokoknya asal anakku bahagia, kami pasti mendukungnya."

Jangan! Jangan lakukan.

"Mungkin, kalau perjodohan ini berhasil, kami akan melakukan lamaran resmi bulan depan, karena bagaimanapun, anakku lah yang akan menjadi kepala keluarga."

Berhenti. Aku mohon!

"Kalau nanti Tet-chan menikah, Sei-san mau ya jadi pendamping laki-lakinya?"

Selesai sudah. Saat dia memupuk angan yang begitu tinggi agar bisa bertemu dengan sang pujaan hati, tak dinyana, dirinya akan dihancurkan setelak ini.

Tetsuya akan menikah dengan orang lain. Bukan dirinya. Tetsuya akan jadi milik orang lain, bukan miliknya. Akan ada orang lain yang berhak atas Tetsuya tapi bukan dia. Nama itu, tidak akan berubah menjadi Akashi Tetsuya seperti yang telah lama diidamkannya.

TBC or End?

Author's Note :

Yeaay, ini buat yang request Akashi dibuat menderita, hahaha #ketawajahat.

Meski ini Akashi's side, tapi saya ngetiknya sambil pegang tisu loh :')

Apakah sudah Hurt?

Nakamura Ryo – Tokoh perempuan, satu geng dengan Akabane Karma yang hobi menggoda Shiota Nagisa (Ansatsu Kyoushitsu)

Saya memakai chara ini karena tokoh wanita di Knb sedikit sekali -_-"

Hikarusherizawa, Shinju Hatsune, Nyanko Kawaii, Tetsuya21, Akiko Daisy, Guest, AkariHanaa, Nakamoto Yuu Na, ScretVin137, Naruhina Sri Always, BlueSky Shin, Atin350, Kaluki Lukari, Akashi Sorata iya ini udah lanjut, semoga suka :). L. Casei Shirota Strain saya juga nggak mau, mereka dibuang kelaut aja ;D. Aishary Saya nggak maso sih, efek baper ini, haha. Nah, ini udah lanjut, semoga suka. Elvi0415 Makasih banget udah ngingetin hutang saya nyelesaiin ff, :D . Ini udah saya lanjutin, semoga suka, hehe. Akashi Seijurou kamu ngapain disini? Kan sudah saya kontrak main di ff, haha, ini udah saya lanjut, semoga suka. Victoria Yuuki, makasih ya buat doanya, saya jadi menggemaskan :D padahal chap. 2 lebih panjang loh, hehe. Ini udah saya lanjutkan semoga suka.

Terimakasih atas support-nya, dan ditunggu lagi kedatangannya !

Terakhir, Terimakasih sudah membaca!

Sign,

Gigi.