~Ohayou~

Tanpa banyak bacot.

.

.

.

Disclaimer : Mashashi Kishimoto

Warning : Typo(s), Au, OOC(maybe), Alur yang kecepetan or berantakan, dan lain nya.

Genre : Romance & Hurt/Comfort

Rated : T

Pairing : NaruHina(Ever after)

Lets read my second fic, If you don't like this.

I don't care*plak*

Hyoka Hinaru Present

.

.

.

.

.

Be With You chapter 3

Seorang gadis berambut indigo berponi saat ini tengah menyeruput soda didepan nya tanpa mengalihkan pandangan nya dari sebuah buku yang selalu ia bawa kemana-mana. Sampul buku itu bertuliskan 'Cara meraih peringkat pertama disekolah'. Manik lavender yang terhalang kacamata besar itu sesekali menyipit dan melebar menandakan betapa seriusnya ia mencerna tiap kata pada buku tersebut. Bahkan keramaian kantin tempat ia berada saat ini, tak mampu mengganggu konsentrasi sang gadis berponi.

Tiba-tiba tiga orang gadis yang kita kenal adalah teman-teman seperjuangan(?) gadis berponi itu duduk didekatnya sambil meletakkan beberapa makanan diatas meja yang berada dihadapan mereka.

"Kau mau mencobanya Ino?" tanya sigadis bercepol a.k.a Tenten pada seseorang yang duduk terhalang meja dihadapan nya.

Yang ditanya hanya mengangguk mantap lalu mengarahkan pandangan nya ketempat lain tempat dimana seorang laki-laki berkulit pucat sedang asik mengobrol bersama teman-teman nya sambil sesekali menyuap makanan dihadapan nya.

"Makan, makan, makan". Gadis yang dipanggil Ino itu menggumamkan kata yang sama sambil menatap tajam kearah pemuda berkulit pucat tadi.

"ayo makan… makan" Suara Ino terdengar memaksa sekarang.

Tak lama kemudian laki-laki pucat tadi menyuap makanan nya persis seperti apa yang di inginkan oleh Ino.

"Yihaaa… liat, akhir nya Sai-Senpai makan". Suara Ino barusan cukup mengganggu ajang makan-makan para siswa yang sedari tadi menyantap makanan mereka. Tentu saja hal itu membuat Ino menjadi pusat perhatian orang-orang dikantin itu. Menyadari tidakan refleks nya barusan benar-benar membuat wajah nya terasa panas akibat menahan malu. Apa yang bisa ia lakukan? Tentu saja tak ada, ia hanya menunduk menyembunyikan warna merah pada wajah nya.

"Baka, tentu saja dia akan makan". Ketus Tenten.

"Kalian sedang apa sih?".

Kali ini gadis berkepang empat itu mulai angkat bicara setelah menahan rasa penasaran nya akan apa yang dilakukan oleh dua orang teman nya itu.

"Ouwh, Kami hanya mencoba metode kedua dari buku ini". Tenten menunjukan sebuah buku yang sampul nya bertuliskan '9 Cara jitu mendapatkan pria yang kita sukai' pada gadis berkepang empat disamping nya.

"Disini dikatakan kalau kita berkonsentrasi dan memerintahkan pria yang kita sukai untuk melakukan apa yang kita katakan dan itu berhasil, berarti pria itu adalah belahan jiwamu". Lanjut Tenten.

"Wah, aku juga ingin mencobanya". Jawab Temari. Lalu pandangan nya mengelilingi kantin mencari-cari sosok seseorang yang ia suka.

Gadis berponi yang sedari tadi hanya diam dan berkutat dengan bukunya itu sebenarnya sesekali mencuri dengar kata-kata yang diucapkan teman-teman nya. Rasa penasaran mulai menyelimuti nya, dengan sembunyi-sembunyi ia mencari sosok yang menjadi pujaan hatinya.

Dan ketemu.

Pandangan mata gadis itu terkunci pada seorang laki-laki berambut pirang jabrik yang duduk membelakanginya. Jarak nya cukup jauh.

Laki-laki itu sedang asik menikmati makanan nya sambil sesekali berbincang ringan dengan beberapa orang yang duduk disekitarnya.

"Berbaliklah… berbaliklah…". Suara gadis itu terlalu pelan. Mungkin bisa disebut bisikan. Ya sebuah bisikan yang hanya dapat didengar nya sendiri.

"Brbaliklah…". Gadis berponi yang memiliki nama Hinata itu berulang-ulang membisikkan kata yang sama tanpa mengalihkan pandangan nya dari punggung sang pujaan hati nya.

Terlihat laki-laki lain yang duduk dihadapan pemuda berambut pirang itu sedang mengajak nya bicara dan menunjuk-nunjuk kearah belakang laki-laki pirang itu. Mungkin memintanya untuk berbalik. Senyuman jahil terlihat pada laki-laki dihadapan si pirang ini.

Yang diajak bicara tentunya penasaran dan mengarahkan pandangan nya kebelakang. pandangan siswa berambut pirang itu mengabsen kearah telunjuk teman dihadapan nya tadi. Sepertinya tak ada apa-apa.

Lalu pria berkulit tan itu memutuskan untuk kembali menyantap makanan. Namun saat ia bebrbalik pada posisi semula, laki-laki itu telah mendapati piring nya tengah kosong dan mulut teman-teman dihadapan nya tengah dipenuhi makanan yang sebelum nya ada dipiring nya.

"Sial, kau menipu ku". Gerutu laki-laki itu sambil menjitak teman nya.

000

"Na-naruto-Senpai berbalik". Suara nan lembut itu milik Hinata yang tengah membelalakan matanya kaget sambil menutup mulut nya.

"Kau kenapa Hinata?". Tanya Ino.

"Ti-tidak"

"Jangan bohong. Kau mencoba metode kedua pada Naruto-Senpai kan?". Ino menyipitkan matanya dan memajukan mukanya mendekat kearah Hinata. Benar-benar membuat Hinata terpojok.

Glek

Sungguh tak ada pilihan bagi Hinata. Dia tau Ino bukan tipikal orang yang mudah menyerah. Cukup lama Ino pada posisi itu, memaksa Hinata untuk bersuara. Namun tak ada suara yang keluar dari bibir mungil Hinata. Hanya sebuah anggukan pelan, tapi itu telah sukses membuat Ino yang awal nya berekspresi menakutkan menjadi nyengir kuda(?)

"Sudah kuduga". Ino mengepalkan tangan nya ke udara.

"Kenapa tidak bilang saja kalau kau juga mengikuti metode-metode pada buku itu? Kami tidak keberatan kok. Kenapa harus sembunyi-sembunyi?"

"A-aku malau. A-aku, ta-takut die-jek". Jawab Hinata yang tertunduk.

"Kau tidak perlu hawatir Hinata karna kami pasti akan…" Ino menggantungkan kalimat nya.

"MENGEJEKMU". Sahut Ino, Tenten dan Temari berbarengan menggoda sahabat pemalu mereka itu.

^^^RnR Please^^^

Pengakuan Hinata pada saat istirahat dikantin tadi membuat Ino, temari dan Tenten berusaha membantunya mendekati Naruto dengan metode-metode yang ada pada buku yang sudah menjadi seperti al-kitab bagi mereka berempat.

~Keesokan harinya…

"Metode ketiga. Memberi barang yang disukai nya secara sembunyi-sembunyi". Ujar Tenten tenpa mengalihkan pandangan nya pada tulisan yang tertera di buku yang sampulnya bertuliskan '9 Cara jitu mendapatkan pria yang kita sukai'. Saat ini Ino, Temari, tenten dan Hinata sedang mengintip dari balik tembok motor milik Naruto yang terparkir dilahan parkir sekolah.

"Kau bawa coklat nya kan Hinata?". Tanya Temari.

"I-iya. Ini" Hinata mengeluarkan sekotak coklat kecil berwarna coklat yang dihiasi oleh pita pink nan cantik dari dalam tas nya.

"Bagus, mumpung sepi, cepat kita kesana".

Tanpa babibu keempat gadis itu berlari kecil menuju kearah sebuah motor yang mereka yakini milik Naruto itu.

"Astaga". Seru Temari yang sampai terlebih dahulu.

"Ada apa?"

"Liat". Temari mengarahkan dagu nya ke jok motor matik bberwarna merah milik Naruto.

Mata Ino, Tenten dan Hinata mengikutu arah dagu yang ditunjukan oleh Temari.

Diatas jok itu tergeletak beberapa buah kotak coklat beserta bunga yang memenuhi seluruh jok matic merah itu.

Manik lavender nan indah namun terhalang kacamata tebal itu berbuah sayu mendapati apa yang dilihat nya. Tak disangka bahwa ini akan menjadi begitu sulit baginya. Bukan hanya dia, terlalu banyak gadis lain yang menginginkan Naruto. Hal itu membuat nya berfikir mana pantas gadis jelek sepertinya berhasil memenangkan hati seorang Naruto yang digilai banyak gadis. Naruto bisa saja sesuka hati memilih gadis-gadis yang cantik. Sepertinya tak ada harapan untuk nya.

"A-ano, lebih ba-baik kita pergi saja". Lirih Hinata.

"Tunggu". Ino menghentikan Hinata yang mulai melangkah.

Tanpa ba-bi-bu Ino segera memungut semua benda-benda yang ada diatas jok matic merah itu lalu memberikan nya pada Tenten.

"Hei kenapa aku yang membawa? Ini terlalu banyak". Keluh Tenten yang mulai tenggelam oleh hadia-hadiah yang diserahkan Ino kepadanya. Namun sayang nya keluhan itu tak digubris oleh si pelaku.

"Sini, mana coklat mu?". Ujar Ino seraya mengarahkan tangan nya pada Hinata.

Tanpa menjawab, dengan sedikit ragu Hinata meletakan kotak coklat yang sedari tadi digenggam nya ke tangan Ino.

Tanpa ba-bi-bu lagi, Ino meletakkan dengan rapih kotak coklat milik Hinata diatas jok matic merah milik Naruto.

"A-apa tak ma-masalah Ino?" Tanya Hinata.

"Tenang saja, cepat kita pergi sebelum ada yang kemari". Ino segera melenggang pergi mendahului teman-teman nya lalu disusul oleh Temari dan Hinata.

Tanpa mereka sadari seorang gadis bercepol dua tengah kewalahan mengangkut barang-barang yang menenggelamkan nya.

"Hei, tunggu aku". Teriak Tenten berusaha mengejar teman-teman nya.

.

.

.

"Itu ide yaang bagus kan?" Ino menyombongkan diri sambil melangkah meninggalkan lahan parkir yang di ikuti oleh kedua teman nya.

"Hei, tunggu". Suara itu sungguh membengkakkan telinga.

"Kau lamban sekali". Ujar Temari sambil meletakkan tangan nya ke pinggang.

"I-itu…" Tenten Cengo menatapi ke arah belakang ketiga sahabatnya sambil dengan kaku menunjuk.

"Apa?". Ino, Temari dan Hinata berbalik mengikuti arah telunjuk Tenten.

Glek

Dihadapan mereka kini tengah berdiri seorang laki-laki berambut kuning jabrik dengan tatapan yang kebingungan menatap mereka ber empat.

Memalukan sekali. Mereka kepergok oleh si pemilik motor tengah mengambil hadiah-hadiah yang diperuntukkan pada laki-laki itu. Tak tau harus berbuat apa. Ino, Temari, tenten dan Hinata langsung mengambil langkah seribu untuk meninggalkan tempat itu. Memang mudah bagi Ino, Temari dan Hinata untuk kabur, tapi yidak bagi Tenten yang masih tenggelam dengan tumpukan coklat dan bunga yang dibawanya. Membuat beberapa tumpukan benda-benda ditangan nya itu tercecer akibat langkah seribunya.

~Saat pulang sekolah…

Hinata dan ketiga orang teman nya tengah mengintip dari balik tembok ke arah ptempat parkir untuk mencari tau apakah usaha mereka memberikan hadiah secara diam-diam pada Naruto akan berhasil.

"Dia datang".

Dari kejauhan laki-laki yang ditunggu itu berjalan sambil bercengkrama dengan beberapa orang teman nya sambil berjalan kearah motor nya.

"Hei, apa ini". Naruto mengambil sebuah kotak coklat yang tergeletak di atas jok matic merah nya. Saat mengangkat kotak coklat itu, tiba-tiba saja benda cair lengket berwarna coklat mengalir dari kotak tersebut dan membuat kotoran pada seragam putih yang tengah dikenakan nya. Bukan pertolongan yang ia dapatkan, melainkan tawa mengejek dari teman-teman nya.

"Ahk, sial". Gerutu Naruto lalu melangkah meninggalkan teman-teman nya.

"Hei, mau kemana?".

"Toilet".

Dari balik tembok, empat orang gadis yang sedari tadi mengintip hanya bisa berdecak kesal.

"Cih, aku lupa kalau sekarang musim panas". Ujar Ino sambil tersenyum masam.

"Hu-uh, coklat nya jadi meleleh".

"Yah, gagal deh".

Keluhan-keluhan itu terdengar dari mereka minus Hinata.

"Em, a-aku pergi dulu ya teman-teman". Ujar Hinata seraya melangkahkan kakinya meninggalkan ketiga orang teman nya.

"Kemana?". Tanya Temari.

Hinata tidak menjawab, yang ia lakukan hanyalah memberikan senyum manis kepada teman-teman nya. Hal itu membuat Ino, Temari dan Tenten memiringkan kepala karena bingung.

RnR Please

Dalam toilet sekolah seorang siswa berambut pirang yang pada pada bagian dada kanan seragam nya bertuliskan Naruto Namikaze Tengah sibuk membersihkan noda coklat yang sedari tadi menempel pada seragam putih milik nya.

"Susah juga hilang nya". Keluh laki-laki itu tanpa berhenti dari kegiatan nya. Merasa tak ada gunanya, laki-laki yang bernama naruto itu menghentikan kegiatan nya dan membiarkan seragam yang menempel pada tubuh nya itu basah akibat siraman air guna menghilangkan noda tersebut. Usai mematikan keran pada wastafel dihadapan nya, Naruto langsung melangkah menuju pintu toilet untuk keluar.

Saat ia membuka pintu, dihadapan nya tengah berdiri seorang gadis bersurai indogo dengan kaca mata tebal yang menghalangi manik lavender indah milik sang gadis. Sontak saja hal itu membuat Naruto tersentak kaget karena tiba-tiba saja ada seorang gadis yang berdiri di depan toilet laki-laki.

Hal yang sama juga dialami oleh si gadis yang tiba-tiba saja mendapati pintu terbuka.

"Heh, ada apa?". Tanya Naruto.

Butuh mental yang kuat bagi hinata untuk mengumpulkan keberanian nya membuka suara.

"I-ini, handuk". Sambil menunduk, Hinata mengarahkan sebuah handuk kecil berwarna putih kepada Naruto.

Naruto meraih handuk yang diberikan Hinata. Tanpa menunggu atau mengeluarkan kata-kata lagi. Hinata segera berbalik dan melangkah untuk meninggalkan Naruto.

"Eh, Hinata". Seru Naruto.

Mendengar nama nya dipanggil, Hinata segera berbalik lagi kearah Naruto.

"Y-ya?".

"Terimakasih ya". Ujar Naruto disertai cengiran khas milik nya.

Mata Hinata membelalak kaget menata permata Saphire milik Naruto. Setelah mengangguk, Hinata kembali berbalik dan berlari meninggalkan Naruto yang tersenyum melihat tingkah lucu gadis itu.

.

.

.

Hinata masih berlari, langkah nya tertuju pada sebuah tangga yang menuju ke atap gedung sekolah nya.

Sesampainya ke tempat tujuan nya. Yaitu atap sekolah. Hinata bergegas merogoh tas nya dan didapatinya sebuah benda kecil berbentuk bulat.

"Tuan kancing, dia tau namaku". Sambil tersenyum tulus, Hinata memeluk erat benda kecil tersebut.

"Naruto-Senpai tau namaku!" Kali Ini Hinata berteriak girang entah pada siapa.

RnR Please

"Kali ini harus berhasil". Ino mengepalkan tangan nya keudara dengan yakin.

"Kenapa kau yang paling bersemangat Ino?"

"Iya, padahal kau sendiri saja belum bias mendapatkan Sai-Senpai".

Tueng, Perkataan Ino dan Tenten barusan benar-benar mengena bagi Ino.

"Huh. Eh Hinata, kali Ini kau ingin memberikan apa pada Naruto-senpai?". Tanpa menggubris perkataan Tenten dan Temari, Ino mengalih kan pandangan nya pada Hinata yang saat ini masih berkutat dengan buku yang berjudul 'Cara meraih peringkat pertama disekolah'.

"E-eh?" Hinata mengingat-ingat kembali saat Naruto terjatuh dari pohon lalu memberikan beberapa buah mangga padanya.

"Ba-bagaimana kalau mangga?" Lanjut Hinata.

"Mangga?". Ino memastikan.

Hinata menjawab nya dengan sebuah anggukan.

"kenapa mangga? Romantis nya dimana?". Sahut Temari.

Lagi-lagi Hinata tidak bersuara. Ia hanyya menjawab nya dengan sebuah senyuman.

"Hei, kau ini kenapa?". Tanya Ino.

"Iya, kenapa kamu Cuma senyum atau mengangguk?". Tambah Tenten.

Lagi-lagi Hinata tidak menjawab. Ia hanya menggeleng mantap.

"Hei, coba buka mulutmu". Perintah Ino yang mendekatkan wajah nya ke wajah Hinata. Hinata lagi-lagi menggeleng.

Tanpa seizin Hinata, Temari temari yang duduk disamping Hinata segera mencubit dengan kuat pinggang Hinata. Itu membuat Hinata menjerit dan membuka mulut nya.

"Itu kan…"

Pada gigi putih milik Hinata terpasang kawat yang menempel kuat. Hinata segera menutup mulut nya menggunakan kedua tangan nya.

"Hei, kami mau liat".

Temari, Ino dan Tenten berusaha menarik tangan Hinata. Namun Hinata hanya menggeleng sambil memperkuat tangan nya yang menutupi mulut.

"Hei, coba liat". Suara itu milik Tenten.

Kata-kata Tenten barusan membuat kegiatan tarik-menarik tangan Hinata terhenti. Ino, temari dan Hinata mengarahkan pandangan mereka kearah pandang Tenten.

Disana terlihat Naruto tengah berdiri dihadapan seorang gadis berambut pirang panjang pemilik mata violet tengah mengarahkan sebuah kue kepada Naruto.

"Ini kue mangga, aku membuat nya sendiri". Kata gadis itu.

'Itu gadis yang kemarin'. Batin Hinata.

"Terimakasih ya". Naruto meraih kue itu sambil tersenyum kearah gadis didepan nya. Gadis itu menjadi salah tingkah. Setelah mengangguk tiba-tiba tubuh gadis itu oleng. Entah menyandung apa. Tapi dengan cekatan tangan kekar Naruto yang bebas meraih tangan gadis itu lalu menarik nya agar tidak terjatuh. Namun, tarikan kuat Naruto malah membuat gadis itu terjatuh dalam pelukan nya.

"Hati-hati". Ujar Naruto tanpa melupakan senyuman khas nya.

Gadis itu hanya menangguk.

"Aku permisi dulu ya". Kata gadis itu lalu meninggalkan Naruto.

.

.

.

"Dia cantik ya". Ujar Tenten tanpa mengalihkan pandangan nya pada gadis yang memberi kue pada Naruto tadi.

"Dia juga memberikan mangga pada Naruto, tapi dalam bentuk kue. Kreatif juga ya". Sahut Ino.

Sadarkah mereka. Perkataan itu membuat hati Hinata terasa sepeerti disayat-sayat secara sadis oleh mereka berdua. Hinata tak berani berkata-kata. Sambil menundukan kepala, ia merutuki dirinya sendiri.

"Sepertinya dia lawan yang sulit Hinata".

Duar. Bagi Hinata, kata-kata Temari barusan bagaikan sebuah petir yang menyambar nya. Apa Hinata harus melupakan perasaan nya? Itu mustahil kan. Hatinya telah terkunci untuk si pemuda kuning itu.

'tuan kancing. Apakah aku harus melupakan Naruto-Senpai?'.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

~To Be Continue~

Hai, Lama tak jumpa…*peluk-peluk*. Akhirnya masa mengerikan yang disebut ULUM selesai juga. Dan hasil nya cukup memuaskan lah~.

Apakah masih ada yang menanti fic ini setelah sekian lama Hyo terlantarkan?

Semoga masih ada.

Sekarang waktunya buat bales review.

Buat araishii-chan desu : Hmmm… Alurnya kecepetan ya? Xixixi, gommen, soalnya Hyo tipe org yang suka buru-buru(gak nanya). Yosh, ni dah apdet.

Buat Gyurin Kim : Mario spa? "Mario teguh golden ways" (om Mario dating entah dari mana buat promosi). *Hyo dipancung*. Hemmm, Hyo baru nyadar kalo Naruto nya ga ada di chap2. Xixixi(nyengir kuda). Katanya Naruto lagi kena cacar, jadi di chapter 2 gak bias ikut maen(Ngeles nya niat amet). Pas adegan drama? Hyo juga suka pas bagian itu, jadi tenang aja. Ga bakal Hyo hilangin ko. Yosh, gimana? Udah berasa improvisasi nya? (dikit bnget).

Buat Kiriko mahaera : Hyo ma siang makan nasi kalo malem minum susu*plak*. Rahasianya adalah banyak-banyak berdoa dan bertawakal pada tuhan yang maha esa (ga nyambung). Oya makasi buat fave and doa nya ya, ulum nya berjalan lancar. Yosh, update lai? *plak*

Buat Ramdhan-kun : Setaun lebih tua apa lebih muda?(pertanyaan ga penting). Makasih banyak buat doa nya. Yosh, dah apdet nih ^^.

Buat Hyuna toki : Hemm, dua kali review nih bales 2x yaaa

Chp1 : Bgus? Waaaahhh senang nya. Naruto emang selalu keren. Xixixi

Chp2 : Mkasih doanya. Tapi ko kayanya kepaksa gitu*plak*. Pdaahl fic nya kenapa?

Iya, iya ni dah apdet. Saya bertanggung jawab kan? (takut).

Selesai sudah. Makasih udah mampir di fic Hyo. ^^

Review?