My Love
Chapter 3
Hari memang terasa begitu cepat berlalu, tetapi kepadanya. Aku tak pernah lupa sedikit pun. Berawal dari perkenalan singkatku dengannya, hingga bisa jadi sedekat sekarang ini. Tak ada yang tahu bagaimana perasaanku. Bahkan aku berusaha menutupinya. Akan tetapi, bagaimana kalau cepat atau lambat ia mengetahuinya? Aku benar-benar harus mengubur perasaanku dalam-dalam. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi..
"Hm,"
Hari ini keluargaku pergi mengunjungi Nenekku yang sedang sakit. Mau tidak mau, aku harus menerima tugasku untuk menjaga rumah selama dua hari. Dan hari ini sudah menjadi hari kedua semenjak kepergian mereka. Aku memang tidak masalah jika harus ditinggal berhari-hari pun. Hanya saja..
Tok tok tok
'Ketukan pintu'
"Tunggu sebentar," pekikku arah pintu, sambil mengusap rambutku yang sedikit basah dengan handuk. Kurasa ada yang ingin menemuiku, sampai datang dan mengetuk pintu kamarku.
Eh? Kamarku? Tu-
"Tunggu." ulangku. Tak lama kemudian, Aku pun menghampiri pintu itu, kemudian membukanya.
Ceklek
"Eh, Ki-Kise? Kenapa kau.."
Kata-kataku terputus saat jarinya yang dingin menyentuh lembut bibirku.
"Sstt," ucapnya seperti isyarat agar aku diam. "Kenapa malam-malam begini kau mandi?"
Mendengar kalimat itu, aku pun hanya memajukan bibirku, cemberut. "Bukan urusanmu!"
Kemudian Kise hanya tertawa geli menanggapiku. "Kau lucu sekali." ucapnya. Yang entah harus kuanggap pujian atau hinaan. Karena memang setiap ucapannya selalu sulit diartikan.
Saat aku mengalihkan pandanganku, tiba-tiba ia menarik handuk di atas kepalaku, kemudian menatapku. "Biarku bantu," ujarnya, membuatku menatap langsung ke matanya.
Ia meletakan handuk itu di kedua tangannya, lalu mulai mengusap rambutku perlahan.
"A-aku bisa melakukannya!" omelku. Entah kenapa, wajahku jadi memanas.
Setelah mendengar kalimat itu dariku, Kise pun berhenti mengusap, kemudian terdiam.
Ah, apa aku membuat kesalahan?
Namun tanpa diduga, ia pun memegang kedua bahuku, dan menatapku dengan sangat tajam, hingga aku tak berani melirik ke arahnya. Tangan dinginnya begitu terasa di bahuku. Berhadapan dengan jarak sedekat ini, entah kenapa aku jadi gugup sekali! Aroma maskulinnya, membuatku ingin terus menghirup aroma itu. Jantungku jadi berdebar, dan kini wajahku sudahvsemakin memerah di dekatnya.
Dia masih menatapku? Uuh, meyeramkan sekali. -batinku.
"Eum, Kise?" panggilku.
Aku tak tahu harus berkata apa, tapi tatapannya benar-benar menggangguku. Aku berusaha untuk tidak menatapnya, tapi tiba-tiba satu tangannya meraih daguku, memaksaku untuk menatap matanya. Setelah aku menatapnya, ia mulai mendekatkan wajahnya ke arahku. Kemudian tanpa diduga.. Kise menciumku!
Dia menciumku dengan cepat, seperti hewan yang kelaparan. Aku tersentak. Aku begitu terkejut dengan apa yang sedang dilakukannya saat ini. Dia melumat bibirku dengan ganas, dan melakukan permainan lidah yang menggelitik.
Kemudian, perlahan tapi pasti, Kise mulai memaksa masuk lebih dalam. Saliva kami mulai menetes ke daguku, dan sampai ke tangannya. Dia kuat sekali, hingga aku tak bisa melepaskan ciumannya dan hanya bisa meremas bagian lengan di bajunya.
"Hmn..nmm..mnn,"
Ah, benarkah ini Kise? Tapi, kenapa ia melakukannya denganku? Aku benar-benar tidak mengerti. Sebenarnya apa maksudnya ini? -aku pun terus saja membatin.
Kise masih terus melumat bibirku. Mengabsen setiap deretan gigiku, dan memainkan permainan lidahnya yang lincah itu. Sedang aku, masih terus meremas kedua lengannya, dan perlahan mulai memejamkan mataku. Kakiku yang bergetar dengan detak jantung yang berdebar dengan cepat, dan wajahku yang sudah semerah tomat. Aku sudah tak peduli dengan semua itu. Yang kutahu, hanya ada aku dan Kise di fikiranku.
Rasanya, seperti perasaan yang tersampaikan. "Mmnn, nmm.. Ah, hah~ ha.."
Kise pun akhirnya melepaskan ciumannya dariku. Benang saliva nampak terputus di antara bibir kami, dan deruh nafas pun terdengar bergantian. Saat aku tengah mengatur deruh nafasku yang terengah, bibir Kise mulai mendekati daun telingaku. Hembusan nafasnya begitu terasa hangat di telingaku.
Eh? Ah!
"Sekarang kau milikku, Kuroko." bisiknya.
"Eh? A-apa maksudmu, Kise..?"
Kalimatku pun terputus saat ia mendorongku ke belakang, tepat di atas ranjang. Ia menatapku seperti melihat hidangan yang lezat. Kemudian ia mulai naik keatas ranjang, dan mendekapku yang jatuh telentang, di bawahnya. Wajahku memanas, Jantungku berdebar begitu cepat. Kise masih terus menatapku, Kemudian kembali menciumku.
"Mmn, mmnh..mnn.."
Ciumannya mulai menjalar hingga ke bagian daun telinga dan leherku. Ia menghisapnya dengan penuh gairah, dan sesekali menggigitnya. Aku menggeliat dengan suara erangan yang sedikit terdengar 'erotis'. Entahlah, tapi kurasa suara - suara itu hanya membuat kise semakin ingin melahapku.
"K-Ki-Kise..ahh, hen-tik-kan! Mnn..ngh ah.."
Kise berhenti. Setelah ia berhasil memberi beberapa tanda kemerahan di leherku. Deruh nafasnya sangat panas saat ia menatapku. Kami saling bertatapan, berusaha mengatur nafas. Seulas senyum nakal terlintas di bibirnya. Sangat terlihat dari matanya, jika ia benar-benar bergairah saat ini.
Dengan cepat, tangan masuk ke dalam bagian bawah kausku. Tangannya menjalar semakin dalam, semakin naik dan sampai di bagian putingku. Ia menyentuhnya, menekannya, kemudian memuntirnya dan memainkannya dengan jarinya.
"Nggh..ah, ahh.. Mnnn.. Kise, henti..ng ahh," Aku menggeliat. Rasanya aneh, seperti ada perasaan lain selain rasa sakit.
Kise menarik kausku keatas, dan memaksaku untuk melepasnya. Nampak jelas dua titik kecil kemerahan yang sudah membengkak karna permaina jarinya tadi. Ia menatap mataku, aku seperti terserap ke dalamnya, dan tak tahu apa apa. Pandangan Kise pun turun hingga kebagian celanaku, dan dengan cepat menurunkannya.
Aku tersentak, berusaha meraih lengannya agar menghentikan melakukannya, tapi itu sia-sia. Celanaku sudah terlepas sebelum aku berhasil menghentikannya. Kini hanya sehelai celana dalam yang tersisa ditubuhku. Dan kali ini ia berusaha melepaskan yang terakhir.
"K-Kise, t-tu-tunggu ja-jang- ahh.."
Kise menggenggamnya, ia menggenggam milikki kemudian meremasnya. Aku terus menggeliat dengan kedua lengan yang bertumpu pada bahunya. Ia terus meremasnya, kemudian menarik turunkan genggamannya, seperti gaya 'mengocok' sebotol minunan.
"Nngg..ahh..ah, ahh..nnmh, ngh..ahh,"
Aku terus mengerang, dan kise hanya menatapku dengan tatapan penuh gairah. Selama dua bulan ini, pertama kalinya aku melihat ekspresi seperti itu darinya. Dan selama aku mengenalnya, pertama kalinya kami melakukan ini. Dan ini pengalaman pertama untukku. Rasanya begitu asing. Penuh dengan rasa sakit, namun disisi lain,ada perasaan seperti rasa nikmat tersendiri. Ini benar benar pertama kalinya untukku.
Kise masih terus memainkan milikku hingga rasanya seperti ada yang ingin meledak didalam sana. Dan aku tidak bisa menahannya.
"Ki-Kis-se, ahh.. Nggh, ah, ahhh..hah..hah.."
Cairan putih kental keluar dari dalam milikku, dan sedikit mengenai kaus yang dikenakannya. Aku pun jadi panik karena itu.
"Eh, eum, go-gomennasai.." ucapku sambil mengusap cairan itu di kausnya.
Kise kembali tersenyum nakal, kemudian mulai mendekatkan wajahnya ketelingaku. Lalu berbisik di sana.
"Jangan menahannya. Jangan menahan perasaanmu. Sekarang kau milikku, jadi jangan lagi menolakku."
Bagaimana..dia bisa tahu? tanya batinku.
Tiba-tiba air mataku menetes begitusaja, saat mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya itu. Lalu kedua tanganku mulai bergerak meraih punggung, dan memeluknya dengan erat. Tanpa berfikir panjang, aku mengatakan semua, yang sejujurnya padanya.
"Aku mencintaimu, hiks. A-aku, hiks. Benar-benar, mencintaimu~"
"Wakatta. Aku juga benar-benar mencintaimu." ucap Kise, kemudian membalas pelukanku dengan erat.
Hangat sekali berada di pelukannya. Kuharap, waktu dapat berhenti sejenak...
NEXT CHAPTER #4
