Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Oke. Gak tahu setan apa yang tiba-tiba bikin saya merubah rate fic ini jadi M.
Maaf sebelumnya..
Kalau ada yang gak suka dengan rate M dan adegan lemon, boleh gak baca fic ini, kok.
Jadi..
Selamat membaca.
Buat yang berminat.
.
.
.
WARNING:
LEMON (not really hard). Bahasa yang mengandung unsur dewasa.
.
.
Sasuke melihat kalender yang tergantung di dinding ruang makannya dengan dahi berkerut. Dia menelusuri angka-angka yang tertera di tanggalan itu dan mulai menghitung. Mulutnya mulai bergerak-gerak tanpa suara sementara jari-jarinya ikut membantunya berhitung.
Sakura yang berjalan melewati meja makan tempat Sasuke duduk sekarang, hanya menatap suaminya itu dengan pandangan bingung.
Dia membawa beberapa bahan makanan di kedua tangannya dan mulai membawanya ke wastafel untuk mencucinya.
"Ada apa, Sasuke-kun?" tanyanya heran.
Sasuke menoleh ke arahnya dengan pandangan penuh selidik.
"Bukankah HPL-mu sudah lewat?" Sasuke balas bertanya. (*Hari Perkiraan Lahir)
Sakura memiringkan kepalanya dengan wajah polos.
"Benarkah?" katanya seraya meniriskan sayuran yang baru dicucinya dan mengeringkan tangannya. Salah satu tangannya kemudian mengusap perutnya yang membuncit dengan pelan.
"Harusnya sudah tiga hari yang lalu kan?" tanya Sasuke lagi.
"Aku.. tidak menandainya," jawab Sakura seraya tersenyum kikuk.
Sasuke mendecih pelan.
"Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali kan?" katanya.
Sakura berjalan menghampirinya. Melihat perut Sakura yang sudah membesar dan cara berjalannya yang sudah tertatih seperti itu, membuat Sasuke merasa iba juga. Awalnya Sasuke mengira kalau Sakura pasti akan merasa frustasi dengan kehamilannya yang lama kelamaan mempersempit ruang geraknya itu. Karena Sasuke tahu dia, Sakura hampir tidak pernah berhenti bekerja selama ini. Dia selalu disibukkan dengan tugasnya di rumah sakit. Awalnya Sakura memang agak tertekan. Tapi lama kelamaan dengan berjalannya waktu, Sakura mulai membiasakan dirinya. Bagaimanapun juga, dia sedang mengandung anak mereka berdua.
Setelah pernikahan mereka baru berjalan tiga bulan, baik Sasuke maupun Sakura masih disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Sasuke, tentu saja, tidak lupa dengan janjinya untuk membangun klannya. Hampir setiap malam, dia menyempatkan diri untuk menyentuh Sakura. Selelah apapun mereka, Sasuke tetap menyempatkan untuk melakukan hubungan intim dengan Sakura. Tapi Sakura tidak juga mengandung anaknya sampai dua bulan setelah pernikahan mereka. Apalagi setelah dia mendengar beberapa kawan mereka, seperti Hinata dan Ino sudah mengandung, dia semakin merasa ada yang aneh dengannya.
Sasuke lagi-lagi harus mempertaruhkan harga dirinya untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis rumah sakit tentang hal ini. Sebenarnya dia tidak mau mempermalukan dirinya sendiri dengan mengkonsultasikan masalah ini pada siapapun, tapi karena Sakura mendesaknya terus menerus, akhirnya dia menyetujuinya.
Kebingungannya pun mulai terjawab. Masalahnya bukan dirinya atau Sakura. Semuanya normal. Bukan juga karena dia tidak hebat saat di atas ranjang.
Tapi karena hormon mereka berdua.
Dokter bilang kalau faktor kelelahan fisik dan psikis dapat mempengaruhi kesuburan pasangan mereka. Seharusnya mereka berdua tidak boleh terlalu lelah saat melakukan itu. Dokter menyarankan kalau mereka harus mengurangi pekerjaan mereka dan bersantai sedikit agar semua berjalan baik.
Akhirnya baik Sasuke maupun Sakura mengambil cuti untuk beberapa hari. Seminggu cukup, pikir mereka.
Dan mereka benar-benar merileksasikan pikiran mereka dengan bersantai layaknya pasangan pengantin baru yang lain. Dan, yah.. Sasuke tentu tidak lupa dengan misi 'membangun klannya kembali'.
Seminggu itu merupakan kesempatannya untuk menguasai istrinya sepenuhnya tanpa takut dengan tanggung jawab Sakura di rumah sakit atau memikirkan misi-misi melelahkannya. Dia bahkan tak segan-segan mencumbu Sakura di setiap bagian di rumah itu.
Sasuke sendiri tidak tahu kenapa dia begitu bernafsu dengan Sakura setelah mereka benar-benar sudah resmi menjadi suami-istri. Sebelum ini dia sama sekali tidak tertarik dengan hubungan istimewa antara laki-laki dan perempuan. Dia hanya memikirkan impian menjadi kuat dan menguasai dunia tanpa tahu kalau ada hal-hal lain yang lebih membahagiakan selain itu.
Seks contohnya.
Yah, sebut dia vulgar atau apapun itu. Tapi Sasuke tidak menyangkalnya.
Dia tahu kalau dia sangat populer di kalangan para gadis sejak dulu. Wajahnya tampan, menurut mereka. Mereka memujanya. Bahkan Sakura dulu juga memujanya.
Tapi dia tidak pernah mengenal kata seks saat itu. Mungkin kalau dia sudah mengenalnya, dia sudah ketagihan dan akan melakukan hal itu dengan semua gadis yang dia temui. Untungnya, Sasuke mengenal kata itu baru saja. Setelah dia menikah tepatnya. Dan lebih beruntung lagi, hanya Sakura yang bisa membuatnya ketagihan sejauh ini. Dengan melihatnya mendesahkan namanya dengan nada erotis, dan membuatnya orgasme berkali-kali di bawah kekuasaannya, itu sudah cukup membuatnya puas. Tidak ada gadis lain yang terlintas di benak Sasuke sejauh ini.
Dan setelah cuti singkat mereka, sebulan kemudian Sakura akhirnya mengandung. Walaupun agak terlambat dengan yang lainnya. Tapi Sasuke sangat bahagia saat tahu kalau dia berhasil membuat Sakura mengandung anaknya.
Dan setelah berbulan-bulan melewati masa kehamilan Sakura yang melelahkan, saat ini dia tinggal menghitung hari kelahirannya. Kelahiran anaknya. Anaknya yang pertama. Tentu saja akan ada yang kedua, ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Tapi itu nanti. Sasuke masih sedikit trauma dengan masa mengidam yang dialami Sakura. Sakura banyak meminta yang aneh-aneh dan kalau tidak dituruti dia akan menangis dan lebih buruk lagi, dia tidak segan-segan akan menghancurkan rumah mereka. Jadi daripada Sasuke membangun rumah lagi, akhirnya dia memutuskan untuk menuruti semua keinginan Sakura. Semuanya. Tanpa terkecuali. Termasuk membeli satu keranjang bunga lily di toko bunga milik Ino dan membuatnya terlihat seperti laki-laki penyuka bunga karena harus membawa bunga sebanyak itu melewati desa. Dan termasuk memakan makanan manis yang dimasak Sakura untuknya. Padahal Sakura tahu sendiri dia sama sekali tidak menyukai makanan manis.
Jadi Sasuke menyimpulkan, membangun klan itu tidak semudah yang dibayangkannya.
Dan kini Sasuke kembali mengamati kalender dinding dengan tatapan heran. Seharusnya hari kelahiran anaknya tiga hari yang lalu, menurut perkiraan dokter. Dan Sasuke agak cemas karena Sakura sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan sejauh ini.
"Tenang saja, Sasuke-kun. Perkiraan dokter tidak selalu benar. Bisa mundur atau maju. Yang terpenting, anak ini sehat. Lihat, dia mulai menendang lagi.." Sakura yang sudah duduk di samping Sasuke mengusap perutnya dengan lembut.
Sasuke hanya menatap Sakura dengan pandangan pasrah. Dia tahu Sakura adalah ninja medis. Sakura lebih tahu tentang ini dibanding dirinya sendiri. Sasuke biasanya hanya akan diam saja dan menanggapi semuanya dengan remeh. Tapi entah kenapa sejak dia menikah dan Sakura mengandung anaknya, kepribadiannya jadi sedikit berubah. Dia jadi lebih protektif terhadap Sakura dan sering memarahinya kalau istrinya itu melakukan hal ceroboh sepele apapun. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh seorang Sasuke Uchiha seumur hidupnya!
Jadi saat tahu HPL-nya mundur dan Sakura berkali-kali menenangkannya, itu sama sekali tidak membantunya untuk kembali berpikir jernih.
Sasuke hanya menghela napas panjang seraya mengusap perut Sakura dengan lembut.
Dia merasakan sebuah gerakan samar di tangannya saat dia mengusap perut yang membesar itu.
"Hah.. Dia selalu lebih bersemangat kalau Sasuke-kun yang mengusapnya.." kata Sakura, dengan nada pura-pura merajuk.
Sasuke hanya membuang napas pelan seraya mencondongkan tubuhnya ke bawah. Dia arahkan telinganya ke perut Sakura yang membuncit.
"Halo.. Papa di sini. Kapan kau keluar? Papa sudah tidak sabar untuk melihatmu.." kata Sasuke di depan perut Sakura. Tangannya kembali merasakan gerakan samar, yang kali ini lebih keras dari sebelumnya. Sasuke memindahkan tangannya ke daerah lain, dan gerakan itu mengikutinya. Sasuke terkekeh pelan seraya kembali memindahkan tangannya ke arah lain, dan gerakan di dalam perut Sakura mengikuti tangannya.
"Sasuke-kun. Berhenti.. Geli, kau tahu?" Sakura tampak tidak terima. Dia senang melihat kalau anaknya aktif sekali. Tapi bagaimanapun juga, dia masih di dalam perutnya. Dan itu agak sakit merasakannya bergerak-gerak tak karuan karena digoda ayahnya seperti itu.
Sasuke mengangkat kepalanya dan menatap Sakura.
"Cepat selesaikan pekerjaanmu dan kita pergi ke rumah sakit setelah itu.." katanya datar.
"Lagi? Tapi aku ingin menjenguk anak Ino dan Sai hari ini.." kata Sakura.
"Kita pergi ke sana setelah dari rumah sakit.." kata Sasuke.
"Aku tidak bisa berjalan jauh.." kata Sakura dengan nada manja.
"Aku akan menggendongmu kalau perlu.." sahut Sasuke dengan nada tak sabar.
Sakura hanya tersenyum geli seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Tidak. Aku bercanda.. Baiklah. Kita akan ke rumah sakit setelah ini.." katanya.
.
.
.
"Aaa! Inojin lucu sekali, Ino!" Sakura tampak gemas dengan bayi yang sedang tertidur dengan pulas di gendongan Ino. Sasuke hanya melihat bayi itu dengan wajah datar.
Mereka baru saja dari rumah sakit dan menyempatkan diri untuk mampir di rumah Ino.
"Banyak yang bilang dia mirip Sai. Tapi lihat rambut dan matanya. Dia benar-benar mirip denganku. Iya kan, Sakura?" kata Ino.
"Bagaimana aku bisa tahu matanya kalau dia tertidur pulas seperti itu?" kata Sakura.
Ino tertawa.
"Tapi sepertinya anak ini menurunkan sifat ayahnya. Dia tidak terlalu rewel.. Untunglah.." kata Ino.
"Lalu di mana Sai?" Sakura melihat ke sekeliling rumah Ino.
"Dia sedang ada misi.." jawab Ino.
Sakura menatapnya tak percaya.
"Apa? Di saat seperti ini? Padahal anaknya baru lahir seminggu yang lalu, tapi dia sudah pergi untuk menjalankan misi.." katanya setengah mengomel.
"Kau tidak perlu memarahi suami orang seperti itu, Sakura.." Sasuke yang sedari tadi diam saja, kini mengeluarkan suara. Dan itu membuat Sakura dan Ino yang sejak tadi tidak menghiraukan kehadirannya langsung menoleh ke arahnya.
"Nah.. Dengarkan kata suamimu, Sakura.." kata Ino, mengerling sekilas pada Sasuke sebelum melemparkan senyum menggoda pada Sakura.
"Ah, kau sudah mendengar kalau Temari-san melahirkan hari ini?" tanya Sakura kemudian.
Mata Ino langsung membulat menatap Sakura kaget.
"Benarkah?" tanyanya.
Sakura mengangguk.
"Aku tadi ke rumah sakit dan tidak sengaja berpapasan dengan Shikamaru yang berlari dengan wajah cemas di lorong rumah sakit. Ahahaha.. Aku bahkan tidak pernah melihat wajahnya secemas itu sebelum ini. Apa Sai dulu juga berwajah seperti itu saat melihatmu kesakitan saat akan melahirkan?" Sakura bertanya dengan nada geli. Dia tidak bisa membayangkan wajah Sai yang memanggil-manggil nama Ino dengan raut cemas di wajahnya.
"Sayangnya.. Tidak.." Ino menjawab dengan sedikit cemberut.
"Hah? Benarkah?"
Ino mengangguk.
"Sai terus menerus tersenyum padaku. Walaupun aku menjambak rambutnya karena kesakitan menahan Inojin yang hampir keluar saat itu.." kata Ino dengan helaan napas panjang.
"Aku sudah membayangkan hal itu. Tapi dia tidak berwajah seperti itu saat kalian... ehem, di ranjang kan?" tanya Sakura dengan nada pelan dan tersenyum menggoda pada Ino. Ino balas tersenyum padanya dengan wajah memerah.
"Tentu saja tidak. Kalau dia berwajah datar seperti biasanya saat kami di ranjang, aku sudah menendangnya jauh-jauh dan Inojin tidak akan lahir di dunia ini.." jawab Ino disusul dengan gelak tawa pelan kedua wanita muda itu.
Sasuke menatap mereka berdua dengan wajah bosan. Berkali-kali dia menyesap teh hangat yang disuguhkan padanya dengan menghela napas pelan. Dia tidak bisa mengelak tentang hal ini. Wanita memang tidak bisa dijauhkan dari gosip.
"Aku tidak sabar menunggu kelahiran anakmu.. Kira-kira akan mirip dengan siapa nanti, ya?" Ino menatap perut Sakura dengan pandangan seksama.
Sakura mengusap perutnya dengan lembut.
"Kata orang, kalau anak pertama adalah perempuan, dia akan mirip dengan ayahnya. Tapi kalau anak pertama laki-laki, dia akan mirip dengan ibunya.." kata Sakura.
"Hmm.. Tapi Boruto sama sekali tidak mirip dengan Hinata. Dia mirip sekali dengan ayahnya. Aku harap dia tidak seceroboh ayahnya kalau sudah besar nanti.." kata Ino.
Sakura tertawa.
"Aku harap juga begitu.." katanya.
Tiba-tiba terdengar suara rengekan kecil di dekat mereka. Inojin yang berada dalam gendongan Ino tampak bergerak-gerak. Kedua kelopak mata bayi itu membuka dan memperlihatkan iris biru laut yang sama dengan mata Ino. Lalu beberapa saat kemudian, tangisan keras keluar dari mulutnya.
"Ahh.. Sayang.. Kau terbangun rupanya.." kata Ino, seraya menggoyang-goyangkan tubuh Inojin dengan pelan.
"Mungkin dia terbangun karena suaraku. Ah, maaf, ya, Inojin?" kata Sakura seraya mencolek pipi gembul milik Inojin. Wajahnya melembut saat melihat bayi yang sedang menangis itu .
"Ah, aku rasa dia haus.." kata Ino, menoleh pada Sakura.
"Oh, begitu, ya? Kalau begitu, kami pamit saja. Aku akan ke sini lagi kapan-kapan.." ujar Sakura seraya beranjak dari tempat duduknya. Diikuti Sasuke yang masih tidak mengatakan apapun.
"Terimakasih kunjungannya, ya.. Sakura.. Sasuke-kun.." kata Ino.
Sakura dan Sasuke akhirnya pamit diri dari rumah Ino, meninggalkan Ino yang kewalahan karena bayinya yang menagis terus menerus.
.
.
.
Sasuke duduk di sofa yang ada di ruang tengah keluarganya sambil melihat daftar misi yang akan dijalankannya beberapa hari ke depan. Kakashi, mantan guru sekaligus Hokage keenam, memerintahkannya untuk menyelidiki perampok yang sering mencegat beberapa pengunjung yang akan pergi ke Konoha. Tugas itu diserahkan pada Sasuke dan dua orang dari klan Hyuuga karena para perampok itu bisa menyamarkan cakra mereka. Hanya Uchiha dan Hyuuga yang bisa membaca pergerakan mereka.
Yah, walaupun perang sudah usai, tapi itu bukan berarti kejahatan tidak berhenti sama sekali.
"Sasuke-kun.." suara Sakura membuyarkan pikirannya.
Sakura sudah duduk di sampingnya sambil membawakan secangkir teh panas yang masih mengepul untuknya.
"Kau belum tidur?" Sasuke melihat jam dinding di ruangan itu yang menunjukkan pukul 10 malam.
Sakura meletakkan cangkir teh itu di atas meja, di samping gulungan misi milik Sasuke.
"Aku tidak bisa tidur. Dia bergerak-gerak terus sejak tadi.." kata Sakura seraya mengusap perutnya.
"Ini sudah malam sekali. Dan kau tidak boleh tidur terlalu malam.." kata Sasuke.
"Temani aku kalau begitu. Bayinya tidak mau tenang kalau kau tidak ada.." ujar Sakura.
Sasuke menghela napas panjang. Dia tahu kalau misi juga adalah kewajibannya untuk desa. Tapi istrinya juga kewajibannya dan dia tidak mau mengecewakannya.
"Ayo.." katanya seraya berdiri dari tempat duduknya. Dia menarik tangan Sakura dan berjalan mendahuluinya menuju kamar mereka.
.
.
.
"Sasuke-kun.. Menurutmu.. dia akan seperti siapa?" suara Sakura masih terdengar di antara keheningan yang menyelimuti mereka. Kamar tempat mereka berbaring itu hanya diterangi oleh cahaya remang dari lampu meja yang ada di samping tempat tidur.
Sakura kini berbaring miring menatap jendela kamar mereka dan Sasuke yang berbaring di belakangnya. Sasuke melingkarkan lengan kanannya pada tubuh Sakura dan menenggelamkan wajahnya di bahu Sakura. Sakura bisa merasakan deru hangat dari napas Sasuke di bahunya. Dan itu menimbulkan sensasi geli di tengkuknya.
"Tidurlah.. Sudah malam.." kata Sasuke pelan. Suaranya teredam oleh bahu Sakura.
"Tapi aku belum mengantuk.." kata Sakura.
"Kau akan mengantuk kalau kau tidak bicara terus.." kata Sasuke.
Jujur saja, sebenarnya dia sendiri yang sudah mengantuk sejak tadi. Dia hanya menarik napas pelan, menikmati aroma tubuh Sakura dari bahunya. Tangannya sesekali merasakan gerakan samar di perut Sakura yang dipegangnya.
Hening.
Hanya terdengar suara binatang malam di luar kamar mereka dan suara detikan jam dinding memenuhi ruangan itu.
Tiba-tiba Sakura meraih tangan Sasuke yang melingkar di perutnya dan mengarahkannya ke atas.
Sasuke menghela napas panjang saat dia merasakan tangan Sakura mengarahkan tangannya ke dadanya, membuatnya merasakan benda kenyal di sana.
"Sakura.. Jangan mulai.." kata Sasuke dengan nada memperingatkan.
"Sudah lama kau tidak memegang ini kan, Sasuke-kun?" kata Sakura dengan suara menggoda.
"Demi Tuhan.. Tidurlah.." kata Sasuke pasrah.
"Kau tahu, setelah anak ini lahir, kau tidak bisa menikmatinya untuk waktu yang cukup lama. Karena anakmu akan mendominasinya.." kata Sakura. Sasuke mendesis pelan.
"Aku tahu. Dan aku akan mengalah.." katanya kemudian.
Hening lagi. Tapi Sasuke jadi tidak mengantuk lagi karena tangannya masih berada di dada Sakura. Dia berusaha sekuat tenaga menahan keinginannya untuk tidak meremas benda kenyal itu. Kalau dia melakukannya dan mendengar suara desahan Sakura, itu akan membuatnya kehilangan akal sehat dan langsung menyerang Sakura sekarang. Dia tidak mau mengambil resiko mencelakai bayi mereka berdua.
"Sasuke-kun.. Apa kau pernah mendengar mitos tentang.. orgasme yang memicu terjadinya kontraksi?" tanya Sakura beberapa saat kemudian.
Sasuke menghela napas lagi. Ternyata belum tidur.. batinnya pasrah.
"Tidak tahu. Dan aku tidak mau membahasnya sekarang.." kata Sasuke. Tentu saja dia mengelak. Mendengar Sakura mengatakan tentang orgasme, membuatnya teringat dengan malam-malam panas yang sudah lama tidak dilakukannya dengan istrinya. Sejak dia tahu Sakura hamil, dia mencoba menahan libidonya untuk tidak menyentuh Sakura. Walaupun Sakura berkali-kali mengatakan melakukan seks saat hamil itu bukan masalah, tapi Sasuke tetap tidak mau mengambil resiko.
Dan malam ini, tiba-tiba saja Sasuke merasakan organ intim di pangkal pahanya ikut menegang saat dia mendengar kata orgasme yang diucapkan dari mulut Sakura.
"Benarkah?" tanya Sakura. Kini wanita itu membalikkan badannya dan tidur terlentang, menatap langit-langit kamar mereka.
"Baiklah.. Apa maumu?" tanya Sasuke kemudian. Akhirnya dia menyerah untuk mencoba tidur.
Sakura menoleh padanya sambil tersenyum. Dia meraih wajah Sasuke dan mengusap pipinya lembut.
"Bagaimana kalau kita.."
"Tidak!" Sasuke langsung menolaknya dengan tegas. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya itu. Walaupun organ intimnya sudah mengeras sejak tadi, dia akan menahan dirinya. Bagaimanapun juga, setiap dia berhubungan intim dengan Sakura, dia akan selalu lupa diri dan tidak akan bisa berhenti sampai benar-benar puas. Dengan keadaan Sakura yang seperti sekarang ini, mana tega dia membuat Sakura kelelahan karena aksi panasnya di ranjang.
"Kau mau terus tersiksa? Aku bisa merasakannya, Sasuke-kun.. Kau tegang.. Iya kan?" Sakura mengusap pipinya lagi dengan lembut. Kali ini suaranya dibuat mendesah dan agak menggoda. Jemari halusnya turun dari pipinya menuju ke rahang keras Sasuke dan berlanjut ke lehernya.
"Sakura.. Hentikan.." desis Sasuke. Jemari Sakura mengusap lehernya dengan lembut dan itu mau tidak mau membuat organ intimnya semakin menegang. Sial..
"Aku sudah bilang padamu kan? Tidak apa-apa.. Semua akan baik-baik saja.. Sasuke-kun.." kata Sakura. Dia semakin gencar menggoda suaminya.
Tidak tahan lagi, Sasuke meraih tangan Sakura dan menghentikan gerakannya.
"Kau yang meminta.." kata Sasuke dengan napas memburu.
"Kau juga menginginkannya.." sahut Sakura, seraya tersenyum.
Tanpa menunggu lagi, Sasuke segera meraih wajah Sakura dan mencium bibir wanita itu.
Seolah sudah hapal dengan perlakuan suaminya, tanpa diperintah, Sakura langsung membuka mulutnya dan membiarkan mulut mereka bertemu. Lidah mereka saling beradu dengan liar di tengah deru napas panas mereka yang membara. Sakura mengeran dan mendesah pasrah di sela-sela ciuman mereka yang panas. Dan itu membuat Sasuke semakin gencar mencium istrinya.
.
.
.
Jam dinding di kamar itu menunjukkan waktu baru saja berlalu setengah jam sejak dua suami istri itu masuk ke kamar itu. Tapi pemandangan berbeda terlihat di kamar yang semula hanya dikelilingi keheningan itu. Lantai kamar yang awalnya terlihat bersih dan rapi itu, kini sudah terlihat berantakan dengan beberapa potongan pakaian yang kelihatan dilemparkan begitu saja di sana.
Suasana kamar yang tadinya hanya terdengar detikan jarum jam, kini dipenuhi dengan suara desahan napas dan erangan tertahan seseorang.
Sakura yang kini sudah tidak mengenakan sehelai pakaian pun di tubuhnya, tampak terbaring terlentang di tempat tidur. Kedua tangannya memegang sprei di bawahnya dengan begitu erat sementara kedua kakinya tampak mengangkang di bawahnya. Kedua tangan kekar tampak menahan kedua kakinya agar tetap berada di posisi seperti itu, sementara pangkal pahanya sudah dimasuki oleh sesuatu yang lunak.
"Ahh.. Sasuke-kun.. Cukup.. AH!" desah Sakura seraya mendongakkan kepalanya begitu dia merasakan sesuatu bergerak-gerak dengan liar di bagian dalam organ intimnya.
Dia meremas rambut Sasuke yang sekarang berada di antara pangkal pahanya dan sedang memasukkan lidahnya ke dalam tubuhnya. Sasuke memposisikan diri dengan berlutut di depan pangkal paha Sakura dengan keadaan tanpa busana, sama seperti Sakura.
Meskipun Sakura memintanya berhenti, tapi Sasuke sama sekali tidak menghiraukannya. Dia sudah memperingatkan istrinya untuk tidak menggodanya, tapi istrinya malah menggodanya terus menerus. Dan lihat akibatnya sekarang, Sakura..
"Sasuke-kun.. Mmmpph!" Sakura berusaha menahan erangannya saat dia merasakan lidah Sasuke bergerak semakin liar di dalam tubuhnya, dan tubuhnya merespon gerakannya itu dengan meremas lidah Sasuke dengan erat.
Dan Sasuke semakin menggerakkan lidahnya dengan liar dan itu membuat Sakura tidak tahan lagi. Dia merasakan tubuhnya memanas. Dan sesuatu di pangkal pahanya sudah terasa seperti gunung api yang siap meledak sekarang. Lava dalam tubuhnya sudah tidak tertahankan untuk keluar.
"Ah! Kami-sama! Sasuke-kun! AHH!" Sakura mendesah keras sekali saat cairan orgasmenya keluar.
Sasuke menarik wajahnya menjauh dari organ intim Sakura. Sebuah seringaian tampak di wajahnya melihat wajah istrinya yang sudah merah padam seperti sekarang. Peluh tampak di wajah Sakura yang sedang mengatur napasnya yang tersengal.
Mata Sasuke sedikit terbelalak saat dia melihat ke arah dada Sakura. Puting Sakura yang masih mengeras mengeluarkan cairan putih.
"Itu..?" Sasuke menatapnya dengan wajah bingung.
Sakura tersenyum geli melihat kebingungan di wajah Sasuke.
"Jangan khawatir.. Ini ASI. Memang sudah saatnya keluar kan? Kalau dipacu seperti tadi, dampaknya akan seperti ini.." jelas Sakura.
"Aku tidak butuh pelajaran medismu sekarang.." kata Sasuke tidak mau tahu.
Dia mengangkat tubuhnya sampai wajahnya berada di dada Sakura. Berhati-hati untuk tidak menekan perut besar Sakura. Lalu dengan gerakan perlahan, dia mendekatkan wajahya ke arah dada Sakura.
Sakura harus kembali menahan desahannya saat Sasuke menjilat cairan susu yang keluar dari putingnya dengan perlahan. Rasanya sama sekali tidak enak dan hambar sekali. Tapi Sasuke terus menjilatnya sampai tidak tersisa. Dengan gemas, dia menggigit puting Sakura dan mengisapnya dengan lembut.
"Sasuke-kun.. Sisakan untuk anak kita.." kata Sakura.
Sasuke menghela napas dan mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Sakura.
"Kau benar-benar merusak mood-ku. Sekarang miringkan tubuhmu.." kata Sasuke dengan nada memerintah.
Sakura menuruti perintah Sasuke dan memiringkan tubuhnya, membelakangi Sasuke yang kini ikut berbaring di belakangnya.
"Aku sudah memperingatkanmu tentang ini. Tapi kau memaksa. Jadi jangan memintaku berhenti untuk yang satu ini.. Sakura.. chan.." kata Sasuke, tepat di telinga Sakura dengan nada menggoda. Dan mau tidak mau itu membuat perasaan Sakura berdesir tak karuan.
"Lakukan semaumu, Sasuke-kun.." balas Sakura, dengan nada yang tak kalah seduktif.
Sasuke hanya menyeringai tipis.
Dia lalu mengangkat salah satu kaki Sakura dengan tangan kanannya yang utuh, dan melebarkan kaki Sakura ke atas. Kejantanannya yang sudah sejak tadi menegang, dia arahkan ke organ intim Sakura.
Dengan sekali hentakan dan tanpa persiapan apapun, organ intimnya sudah masuk ke dalam tubuh Sakura.
"Ah!" Sakura terpekik kaget. Salah satu tangannya mencengkeram sprei di bawahnya dengan erat. Sudah lama sekali sejak mereka berhubungan intim terakhir kali, dia merasakan organ intim Sasuke yang menegang di dalam tubuhnya. Benda yang keras dan panjang itu berdenyut-denyut di dalam tubuhnya. Walaupun rasanya selalu aneh, tapi dia menikmatinya perlahan-lahan.
Sasuke mulai menggerakkan pinggulnya dan membuat gerakan keluar masuk di organ intim Sakura.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Sasuke dengan napas tersengal.
Sakura tidak menjawab dan hanya mengangguk.
Saat dia merasakan gerakan Sasuke di bawahnya lebih cepat, Sakura mengeratkan pegangannya pada spreinya dan tangannya yang satu meraih kepala Sasuke yang berbaring di belakangnya.
Sasuke menenggelamkan wajahnya di antara bahu dan leher Sakura.
"Kenapa diam saja.. Sakura.. ah? Kenapa tidak menyebut namaku.. ah.. seperti biasanya.. ah?!" kata Sasuke di sela napasnya yang tersengal.
Sakura hanya mendesah dan mengerang dengan keras menikmati hentakan demi hentakan yang dilakukan Sasuke di dalam tubuhnya. Tubuhnya menggelinjang hebat. Sudah lama dia tidak merasakan yang satu ini.
Sasuke semakin memperlebar kaki Sakura dengan mengangkat pahanya semakin ke atas. Napasnya semakin memburu dan peluh sudah keluar dari tubuh mereka. Dia semakin cepat menghentakkan organ intimnya ke dalam tubuh Sakura dan merasakan remasan erat yang membuatnya menggeram berkali-kali.
"Jangan meremasku.. Sakura.. Ergh!" Sasuke berkata di bahu Sakura.
Dia tidak tahan lagi saat Sakura meremas rambutnya dengan tangannya yang satu sementara tangannya yang satu meremas sprei di bawahnya sampai sprei itu kusut sekali.
"Sasuke.. kun.. Kami-sama! AHHH!" Sakura mendesah keras saat Sasuke semakin dalam memasuki tubuhnya dan semakin mempercepat gerakannya. Dia ikut menggerakkan pinggulnya berlawanan arah dengan gerakan Sasuke.
Remasan tangan Sakura di rambut Sasuke semakin erat dan itu mau tidak mau membuat Sasuke semakin membenamkan kepalanya di bahu Sakura. Tubuh Sakura menggelinjang semakin hebat dan peluh sudah memenuhi tubuhnya.
Saat Sasuke semakin gencar menghentak di dalam tubuhnya, Sakura kembali merasakan tubuhnya semakin memanas. Sesuatu di pangkal pahanya siap untuk meledak lagi.
"AHH! AHH! Sasuke-kun! OH!" Sakura mengerang keras sekali saat merasakan cairan panas kembali keluar dari tubuhnya dan membuat organ intimnya penuh dengan cairan lengket.
Dengan keluarnya cairan orgasme yang kedua Sakura, itu membuat gerakan Sasuke semakin menggila.
Organ intimnya yang berada dalam tubuh Sakura semakin berkedut dan semakin membesar.
Sasuke mengentakkan pinggulnya berkali-kali ke dalam tubuh Sakura dengan gerakan yang lebih cepat dan dalam. Dia menggeram pelan.
Bunyi penyatuan tubuh mereka terdengar semakin keras saat Sasuke semakin mempercepat gerakannya dan menghujamkan organnya ke dalam tubuh Sakura semakin dalam. Dia masih bisa mendengar Sakura mendesahkan namanya.
"ERGH! Sakura!" Sasuke menggigit leher Sakura untuk menahan geramannya. Sakura menjerit kaget. Tapi Sasuke tidak peduli dan terus memacu tubuhnya dengan lebih cepat. Tangannya yang memegang paha Sakura semakin mencengkeram paha itu dengan erat.
Ya, ampun.. Aku tidak tahan lagi.. batinnya saat dia merasakkan orgasmenya sudah dekat.
"AGH!" Sasuke menghujamkan kejantanannya ke dalam tubuh Sakura sedalam-dalamnya saat dia merasakan cairan hangat keluar dari organ intimnya dan memenuhi tubuh Sakura. Dia menghujamkan organnya beberapa kali ke dalam tubuh Sakura sampai tidak tersisa cairan yang keluar dari tubuhnya lagi.
Sasuke melepaskan kaki Sakura dan menurunkannya lagi. Dia memeluk tubuh Sakura yang penuh peluh di depannya dengan erat.
Napas mereka sama-sama menderu karena kelelahan. Kedua tangan Sakura kini terkulai lemas di atas sprei tempat tidur yang sudah sangat kusut. Sasuke menyingkirkan beberapa helaian rambut merah muda milik Sakura yang menempel di wajahnya yang penuh dengan peluh sama dengannya.
"Kau menikmatinya?" tanya Sasuke di sela-sela napasnya yang masih tersengal.
Sakura hanya mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa. Ternyata melakukan seks saat hamil lebih melelahkan dibanding biasanya.
"Hari ini.. satu ronde saja.. Sasuke-kun. Aku benar-benar lelah. Setelah anak ini lahir.. Kau boleh melakukannya beberapa kali.. sesukamu.."ujar Sakura dengan napas yang sama tersengalnya.
Sasuke hanya menyeringai tipis.
"Sekarang tidurlah.." katanya kemudian. Dia menyingkirkan rambut yang menempel di dahi Sakura karena peluh dan mencium keningnya.
Sasuke bangkit dari ranjangnya dan mengambil tisu yang ada di atas meja yang ada di samping ranjang.
"Kau mau membersihkannya sendiri atau aku bersihkan?" tanya Sasuke.
Sakura terdiam.
"Sakura?" panggil Sasuke.
Terdengar suara dengkuran lembut dari tubuh Sakura. Sasuke hanya tersenyum tipis.
'Dasar.. Aku sudah bilang kan? Jangan berani menggodaku. Lihat akibatnya..' batin Sasuke.
Akhirnya Sasuke menarik selimut dan menutupi tubuh telanjang istrinya.
.
.
.
.
Sasuke sudah siap dengan peralatan yang akan dibawanya saat menjalankan misi hari ini, saat Sakura tiba-tiba muncul di depan kamarnya dengan raut wajah cemberut.
"Kau benar-benar mau pergi?" tanyanya.
"Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa menolaknya.." jawab Sasuke.
"Tapi bagaimana kalau anak ini tiba-tiba lahir saat kau sedang dalam misi?" tanya Sakura seraya mengusap perutnya.
Sasuke ikut mengusap perut Sakura.
"Tunggu Papa, ya? Tidak akan lama.." kata Sasuke. Sebuah gerakan samar kembali terasa di perut Sakura.
"Nah.. Dia sudah menjawabnya. Dia tidak akan lahir sampai aku pulang dari misi.." kata Sasuke.
Dia berjalan melewati Sakura menuju dapur rumah mereka.
Walaupun sedikit kesal karena akan ditinggalkan oleh Sasuke, Sakura tetap membuatkan sarapan dan bekal untuknya. Bagaimanapun juga, Sakura tidak akan tega membiarkan suaminya kelaparan saat menjalankan misi nanti.
Sasuke duduk di meja makan. Sakura sudah menyiapkan sarapan untuknya di meja itu dan Sasuke tinggal memakannya.
"Akan aku buatkan jus untukmu.." kata Sakura kemudian, saat Sasuke memasukkan suapan pertama ke mulutnya. Sasuke hanya mengangguk sebagai jawaban.
Sasuke kembali mempelajari gulungan misi di tangannya dengan seksama. Jadi dia harus pergi ke hutan sebelah.. Dua orang dari klan Hyuuga akan menemaninya.. Dan dia menjadi kapten untuk misi kali ini..
PRANG!
Sasuke langsung menghentikan makannya dan melemparkan gulungan misi di tangannya begitu dia mendengar suara pecahan di belakangnya. Dia menoleh dengan cepat.
Matanya membulat saat Sakura menatapnya dengan wajah pucat.
"Sa-Sasuke.. kun.." panggil Sakura lirih.
Mata hijau emeraldnya menatap ke bawah dengan tatapan ngeri.
Sasuke mengikuti arah pandangannya dan ikut terbelalak saat melihat apa yang ada di depannya sekarang.
Dia melihat cairan bening merembes turun dari kaki Sakura. Rok yang dipakai Sakura terlihat basah di bagian bawah.
"Air ketubannya..." kata Sakura lirih.
"Sakura! Ya, Tuhan!" Sasuke meloncat kaget dari kursinya dengan gerakan cepat. Dia segera menghampiri Sakura dan menggendongnya dengan wajah pucat.
Dengan gerakan sigap, Sasuke segera melesat pergi dari rumahnya sambil menggendong Sakura. Dia segera berlari ke arah rumah sakit.
Wajahnya benar-benar pucat sekarang melihat Sakura merintih kesakitan di gendongannya.
Dia tidak pernah melihat wajah Sakura yang menahan kesakitan seperti itu. Pasti rasanya sakit sekali.
"Sasuke-kun.."
"Tahan sebentar. Kita akan sampai sebentar lagi.." kata Sasuke berusaha menenangkan.
Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah Sakura dan bayi yang akan dilahirkannya. Sasuke sama sekali lupa dengan misi yang diberikan Hokage Keenam yang harusnya dia jalankan hari ini.
Terserah.
.
.
.
.
FIN (maybe)
.
.
.
Oke.. What is this?
Kenapa saya tiba-tiba bikin cerita lemon begini, ya?
Sebenernya saya gak jago bikin lemon. Apalagi yang hardcore.
Saya lebih suka yang implisit. Gak tahu kenapa rasanya lebih ngena.
Ah.. Apa, sih? Ya, sudahlah.
Maaf, ya.. Buat yang udah ngikutin fic ini yang awalnya rate T jadi rate M.
Gomen.
