Haikyuu milik Furudate Haruichi
Warning : BL(of course), TsukixNeko!Noya, Typo(s), Gaje, berbelit-belit, dll.
By : Arina Ash
Saya menolak menyesali keberadaan fic ini.
OooOooO
Ada satu sifat Kei yang selalu menjadi hal yang menyebalkan bagi Yu. Protektif. Kei adalah orang yang hampir tak pernah membiarkan Yu keluar bersama teman-temannya. Entah apa alasannya. Yu telah cukup lelah untuk meminta izin. Bila dia tidak berkata pada Kei kemana ia akan pergi, Yu hanya akan mendapati wajah masam Kei saat kembali pulang. Dan Yu sangat benci melihat Kei marah, terutama padanya.
Seperti hari ini, Yu menemukan Kei berdiri di sebelah pintu kelasnya. Bersandar santai pada dinding lengkap dengan headphone-nya sembari sesekali membenarkan kaca matanya. Bahkan dia telah disana sebelum guru yang mengajar kelas Yu selesai. Dia beralasan pelajaran dikelasnya selesai lebih cepat, dan menampik fakta bahwa ia menjadi pusat perhatian. Lagi pula Kei tidak butuh semua perhatian mereka. Beberapa siswi terlihat mencoba menyapanya, namun Kei hanya mendengus tanpa berniat untuk menatap apalagi membalas sapaan. Yu menatap jengah tangan Kei yang menarik lengannya ketika dia baru saja keluar, memutuskan sepihak mereka bakal pulang bersama.
"Kei!" Yu menggeram kesal. Mengabaikan berpasang-pasang mata yang menatap heran. "Aku ada kegiatan club setelah ini. Kau tahu aku tak bisa meninggalkannya begitu saja."
"Persetan dengan kegiatan clubmu, sudah cukup untuk tadi pagi." Kei membalas tanpa menatap.
Dibelakangnya, Yu melangkah terhuyung-huyung. Jangan menyamakan langkah kaki mereka. Lebar kaki Kei jauh lebih baik ketimbang sepasang penyangga mungil milik Yu. "Dengarkan aku, Kei!" Dia menarik tangannya. Menatap kesal Kei yang balas menatap sama dari balik lensa kacamata, "Kau tidak bisa membuatku membolos kegiatan siang ini. Kejuaraan akan dilaksakan sebentar lagi dan-."
"Dan kuingat aku sudah bilang peduli setan dengan kegiatan clubmu," Kei menurunkan temponya. Tidak ingin seseorang menegurnya karena dikira sedang bermasalah dengan Yu. Meski nyatanya mereka memang bermasalah. Kei masih menatap pemuda yang lebih pendek darinya. Yu menghela nafas frustasi, Bagus sekarang Kei dalam mode keras kepala yang takkan bisa dibantah. "Kau harus mengganti waktu pagi ini. Kita perlu belanja, dan aku ingin kare."
Permintaan apalagi ini. Yu mendengus sebal. Dia dipaksa membolos hanya karena permintaan aneh itu? Oh sial ... bagaimana bisa Kei sekonyol ini? "Kei dengar! Aku masih bisa membuatkanmu kare meski aku pulang sedikit lebih sore, Okay? Aku akan izin pada Daichi-san. Dan hei ... seingatku kau juga bisa membuat kare, bukan?"
Kei melipat tangan keras kepala, "Aku tak ingat pernah bilang aku ingin karena buatanku sendiri. Untuk apa aku repot-repot menarikmu jika aku membuat kare sendiri, dan menikmatinya?"
Menyerah. Apapun yang Yu katakan takkan merubah keputusan Kei. Sementara itu Kei memasang senyum puas. Merasa menang atas argumennya dengan Yu. Dia menarik Yu lagi. Kei tahu jika mereka berpapasan dengan Sugawara, atau Daichi-san rencananya untuk menarik Yu siang ini akan gagal. Dia tak peduli jika Yu bertemu teman se timnya yang berisik, Tanaka-san. Atau senior besar bermental kecil, Asahi-san. Dia tak peduli. Setidaknya Kei bisa menipu mereka, tapi tidak dengan Daichi-san, dan Suga. Terlalu sulit.
Kei berjalan cepat. Melewati satu dua belokan koridor. Berpapasan dengan beberapa pelajar yang masih ada tugas piket. Memutar jalan ketika melihat Kiyoko-san berjalan kearah gedung 1. Kei tidak ingin Yu melihatnya, karena dia bakal kerepotan membujuk Yu lagi. Setelah beberapa menit berjalan mereka mencapai pintu keluar. Yu menarik nafas tersenggal, dia sudah cukup lelah meski sebenarnya dia adalah atlit olah raga sekolah ini. Namun mengikuti langkah Kei itu sulit sekali. Apalagi dia dalam keadaan tergesa. Yu bahkan tak bisa memprotes ketika dia tanpa sengaja melihat siulet Kiyoko-san. Kei menarik seringai yang menyebalkan bagi Yu. Lanjut berjalan diantara lautan manusia yang bertujuan sama yaitu pulang. Menunggu bis dipemberhentian. Menikmati tingkah Yu yang memasang wajah sebal. Kei ingin menarik pipi tembam pemuda itu namun ia mengurungkan niatnya. Sudah cukup dengan sikapnya tadi. Jika dia melakukannya, Yu bakal benar-benar marah. Dan Kei tidak ingin itu terjadi.
Beberapa siswa jelas menatap mereka dalam kebingungan. Beberapa seolah sibuk dengan kegiatan mereka, meski sebenarnya Kei tahu mereka mencuri pandang beberapa kali. Sudah menjadi perbincangan umum soal hubungan Kei dan Yu yang jelas lebih dari sekedar sepupu. Kei terlalu protektif, sementara Yu sama saja. Hanya saja Kei lebih arogan dalam menunjukkannya, sementara Yu menampik pernyataan itu. Jelas sekali mencoba menyembunyikannya. Kei seolah menuli, dia menarik lengan Yu untuk duduk di sebelahnya. Seorang gadis yang Yu kenal merupakan siswa cerdas kelas sebelas duduk di kanannya. Menarik perhatian Yu padanya.
Menit demi menit berlalu dengan percakapan ringan antara Yu, dan gadis bernama Haruko itu. Haruko menyukai semua tingkah Yu. Sering berubah-ubah ekspresi, dan terasa seperti adik ketimbang teman sepantaran. Hampir semua orang menganggapnya begitu. Yu sebagai seorang lelaki, dia terlalu menggemaskan. Yu merona ketika lagi-lagi dia dipuji menggemaskan, atau imut. Mengundah dengus Kei yang diabaikannya. Haruko menatap bingung Yu yang tidak berdiri saat bus datang. Haruko ingat seharusnya mereka berada dalam satu bus. Namun Yu menjawab sembari mengangkat bahunya santai, "Kei mengajak kami berbelanja hari ini, oh sejujurnya memaksa." Haruko memberikan sebuah senyum maklum, kemudian melambai dan meninggalkan Yu bersama Kei seiring berjalannya Bus.
Setelah hanya mereka berdua—karena kebanyakan pelajar yang bersama mereka menaiki bus itu—Kei kembali mengeratkan cengkramannya pada tangan Yu. "Obrolan yang sangat mengasikkan," gerutunya sarkatis.
Yu mendengus, "Hanya beberapa menit, Kei. Dan kau menyakiti tanganku!" Yu menepis tangan Kei keras.
Kei mengabaikan gerutuan Yu. "Keluarkan telingamu!" Lebih memilih untuk memberikan perintah dengan intonasi rendah. Mengundah ekspresi bingung Yu, dan berteriak dalam nada tidak percaya.
"Hah?" Yu tak mengerti apa yang dipikirkan orang ini sebenarnya, "Kau gila?!"
"Tidak," kata Kei cepat. "Setidaknya belum."
Yu memutar bola matanya. Mendramatisir keadaan. "Kita berada di tempat umum ingat?"
"Tidak."
"Kei!" Yu mengerang frustasi. "Jangan terus-terusan menggodaku!"
Kei mengalihkan perhatiannya dari Yu menatap bus yang mereka tunggu akhirnya telah tiba. "Setengah dari niatku adalah menggoda. Tapi sepertinya lebih condong kearah aku memang benar-benar ingin kau melakukannya."
Oh siapapun tolong pukul kepala bocah ini.
OooOooO
Awalnya bus mereka berjalan lambat. Melewati beberapa halte sambil menaikkan, dan menurunkan beberapa penumpang. Yu mendapatkan sebuah kursi kosong, namun Kei tidak. Kei bersikeras untuk meminta Yu duduk, sementara ia berdiri. Matanya melotot marah ketika Yu berniat memberikan tempat duduknya pada seorang gadis dari sekolah lain. Yu mengerang, berkata "Dia bisa menjadi korban pelecehan seksual di bus yang penuh ini, Kei."
Kei mendelik. Tidak menyukai pendapat Yu. "Kau punya kecenderungan menjadi korban lebih besar dari pada gadis itu." Menunjukkan gadis itu dengan dagunya tak sopan. Gadis itu mengumamkan kata maaf, dan berkata ia tidak apa-apa. Namun Yu bersikeras, dan Kei gemas sekali dengan sikapnya. "Jika kau mau kupeluk sepanjang kau berdiri, maka akan kuperbolehkan." Ancaman itu cukup ampuh untuk membuat seorang Nishinoya Yu berhenti keras kepala dengan wajah memerah menahan malu, sekaligus kesal. Dimana harga dirinya sebagai kakak kelas sebenarnya?
Setelah penumpang penuh. Perjalanan lima belas menit berlangsung lebih cepat karena jalanan legang. Kei mendului Yu keluar bus, dan berjalan kearah sebuah supermarket sepuluh meter di depan mereka. Yu menyusul terburu-buru. Rupanya ia cukup kesulitan keluar tadi. Sementara disisi lain Yu belum melupakan kekesalannya tadi.
Kei mendengus, "Masih sebal?" Menatap Yu dnegan salah satu alisnya yang terangkat. Yu tidak menjawab. Melenggang masuk kedalam supermarket, dan mengambil troli yang segera diambil alih Kei. "Kau bakal terlihat lucu jika mendorongnya."
"Hei!" Yu berteriak tak terima. Salah satu petugas tidak bisa menahan tawanya. Membuat Yu malu karena terlalu cepat emosi. Petugas menggumamkan kata maaf, dan selamat datang. Bertanya untuk berbasa basi, apakah pemuda itu adalah adik Kei. Yang dijawab dengan candaan menyebalkan bahwa dia adalah pacarnya. Petugas itu tertawa canggung, oh hubungan sesama jenis. Tak banyak yang menerimanya. Meski untuk Yu masa bodoh. Yu menengahi perbincangan menyesatkan Kei. Sebelum petugas itu mengusir mereka karena salah paham. "Dia hanya bercanda. Kami sepupu. Sungguh."
"Oh ..." Petugas itu masih tertawa canggung, "Baiklah semoga kalian mendapatkan apa yang kalian cari di toko kami." Petugas berusia sedikit lebih tua dari Yu itu meninggalkan mereka berdua. Yu menatap tajam pada Kei yang hanya mengangkat bahu. Semakin merasa kesal ketika melihat Kei seolah menyukai reaksi pak petugas. Petugas itu terlihat jijik, itu artinya dia percaya bahwa Kei dan Yu adalah sepesang kekasih.
"Kau tahu itu adalah candaan yang sama sekali tak lucu."
Kei menyeringai, mendorong troli pada bagian tempat penuh daging kesukaan mereka. "Aku memang tak pandai membuat lelucon," gumam Kei acuh. Mengambil beberapa daging kualitas menengah. Menimang-nimang mana yang akan mereka ambil. Sebelum akhirnya mengangkat bahu dan memasukkan semua. Kei tidak mengerti dimana letak perbedaan daging yang sama-sama masih segar. Lanjut pada daerah sayuran. Yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Yu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Menghela nafas pelan. "Kei bisakah kare malam ini tanpa sayur?"
"Tidak." Kei menjawab tegas. Mengambil beberapa kentang, dan memasukkannya ke troli. Beberapa sayuran hijau. Dan bumbu-bumbu lain untuk pesta kare malam ini. Dia mengambil banyak sayur karena tahu Yu benci bila diminta makan sayur. Tentu saja Kei memaksa. Pagi ini saja, Kei memaksa Yu memakan selada di sandwich Yu yang hampir dibuang si kucing.
Yu menggeram, "Kau tahu kucing benci sayur."
"Secara teknis kau memiliki tubuh manusia." Dia menatap Yu, "Dan manusia membutuhkan serat." Oh Kei takkan melewatkan waktu ketika ia memaksa Yu memakan banyak sayuran untuk kebutuhan manusianya.
OooOooO
Yu berpikir malam ini akan berjalan baik. Dia telah melupakan kemarahannya atas perlakuan seenaknya Kei beberapa saat lalu. Kei dengan sukses menghentikan rajukannya dengan tiga buah es krim. Kei mendengus menahan tawa ketika melihat Yu dalam kerepotan membawa dua stik es krim, sementara tangan satunya memasukkan es krim ke dalam mulutnya. Memakan dalam gigitan besar, yang membuat gigi Kei ngilu hanya dengan melihatnya. Dia mengingat kan Yu tentang giginya bisa sakit jika dia melakukannya. Dan yang paling buruk perutnya. Tapi Yu mengabaikkannya, terlalu larut pada rasa manis eskrim kesukaannya.
Perjalanan mereka cukup menyenangkan. Kei menurut dengan membawa sekantong besar plastik bahan makanan sendiri. Dia menolak saat Yu mau membantunya. Lagi pula bagaimana caranya Yu membantu mereka saat kedua tangannya penuh eskrim? Bis yang mereka tumpangi legang. Dan Kei tidak memprotes cara makannya yang asal-asalan. Toh Kei menikmatinya. Tiga stik es krim tandas tepat ketika Yu melihat sebuah mobil kuning terparkir di depan apartemen mereka. "Seseorang membeli mobil baru?"
Yu mendongak menatap Kei dengan ekspresi penuh tanya. Dan dia terkejut ketika melihat Kei memasang wajah keras, dengan mata yang terfokus pada mobil yang baru saja dilihatnya.
Seseorang turun dari mobil. Mereka cukup mirip, tapi berbeda. Yu tak mengerti dimana kemiripan mereka, tapi dia bisa merasakannya. Lebih pendek dari pada Kei, namun kelihatan lebih tua. Memiliki aura yang berbeda pula. Dia menggunakan kaus santai, jeans belel, dan sepatu mengkilat. Rambutnya tak terlalu rapi, dan senyumnya ramah. Yu pikir orang itu adalah tetangga baru mereka, namun melihat wajah Kei yang semakin tegang ketika orang itu melihatnya, Yu merasa tidak yakin dengan pikirannya.
"Kei!" Orang itu menyapa Kei dengan nama kecilnya. Yu menyerngit heran. Yu yakin sekali hanya dirinya disini yang memanggil Kei dengan namanya. Tapi kenapa dia memanggil Kei dengan dengan namanya? Kei menyerahkan bungkusan belanjaan begitu saja. Membuat Yu memasang wajah bingung, namun belum sempat memprotes, Kei telah memerintahkan Yu untuk masuk ke dalam.
"Masuklah kedalam. Dan jangan membukakan pintu untuk siapapun kecuali aku datang!"
"Tapi-." Suara Yu tercekat ketika Kei menatap tajam kearahnya, "Sekarang Yu!" Memerintahkannya sekali lagi dan membuat Yu tak memiliki pilihan lain selain menurut.
Dia berjalan tergesa-gesa, melewati orang itu yang memasang wajah bingung. "Hei ... Kenapa kau menyuruhnya masuk?" Dia berucap tak percaya pada tindakan Kei. "Kau tunggu ... siapa namamu?" Yu hampir saja berbalik dan menjawab ketika Kei berkata geram, "Jangan katakan apapun!"
Yu menaiki tangga dengan tergesa. Beban berat yang dibawanya, dan tubuhnya yang tergolong kecil membuatnya kesulitan. Dia hampir terpeleset ketika berada di tangga teratas, karena air bekas hujan semalam. Dia menjatuhkan belanjaannya. Dengan cepat menyeret belanjaannya. Membuka kunci pintu, dan segera masuk, dan menguncinya kembali.
Yakin bahwa Yu telah aman. Tak bisa melihat, ataupun mendengar pembicaraan mereka, Kei melangkahkan kakinya untuk menyapa. Tentu saja dengan nada tak suka yang tak ia sembunyikan. "Kenapa kau datang kemari?" Kei menatap orang itu, menarik perhatiannya dari Yu. "Kak?"
TBC
A/N
Konflik pertama ayo kita libatkan keluarga Tsukishima. Aku kebingungan dengan konfliknya si seme, kalo Noya sih udah dapet. Cuma entah kenapa aku lebih suka menyelesaikan punya Tsukki lebih dulu. OOC u.u. Tapi maafkanlah daku. Oke cukup basa basinya. Sampai jumpa ch depan.
Silahkan memberi kritikan dengan cara yang baik. Karena Kritik akan membangun seseorang.
