"Tidak usah bertanya padaku, Hinata. Biarkan hatimu yang menentukannya sendiri."
Saran dari Neji segera masuk ke dalam telinga Hinata.
"A-aku takut, Nii-san."
Neji tersenyum bijak. "Ketika kau merasa takut seperti sekarang ini, apakah kau mau menghentikan mimpimu?"
Hinata menggeleng cepat. "Bagaimanapun juga, a-aku te-tetap tidak bisa walaupun a-aku s-sudah berusaha."
"Maka itulah pilihanmu."
#
.
Model oleh Clarette Yurisa
Naruto © Masashi Kishimoto
AU, Alur Berantakan, OOC
.
#
Hanabi tersenyum mendapati wajah Hinata sudah tidak semendung kemarin. Dialihkan pandangannya sebelum retina sang bungsu Hyuuga itu menemukan sosok kakak sepupunya tengah sibuk menonton berita di televisi.
"Neji-niisan sudah di sini sejak kapan?"
Neji mengalihkan perhatiannya sebelum Hanabi mendudukkan dirinya tepat di sebelahnya. "Sudah sejak satu jam yang lalu, kurasa."
Hanabi menatap layar televisinya sebelum kembali memandangi Neji. "Biar kutebak! Pasti Hinata-neechan sudah menceritakan masalahnya padamu, lalu Nii-san memberinya nasihat hingga sekarang Nee-chan terlihat… lebih baik dibanding sebelumnya. Benar, bukan?"
Neji menganggukkan kepalanya. "Kurasa ia memutuskan untuk mengikuti kata hatinya."
Hanabi tersenyum tipis. "Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya. Untung saja kami bertemu dengan Uchiha itu, kalau tidak aku yakin sampai sekarang Nee-chan pasti masih memendam impiannya."
"Uchiha?"
Hanabi menganggukkan kepalanya antusias. "Iya, Nii-san. Berkatnya, aku berhasil menemukan kembali sosok Hinata-nee yang terlihat bahagia ketika ia mengejar mimpinya. Bukan sosok Hinata-nee yang selalu pura-pura tersenyum jika ditanya mengenai impiannya."
Neji mengernyitkan keningnya. Marga Uchiha yang Hanabi sebutkan cukup menganggu pikirannya. Pria yang perawakannya hampir sama dengan kedua gadis tersebut terlihat berpikir keras mengenai sebuah marga yang terdengar tak asing lagi bagi telinganya. Hanya saja… kapan ia pernah mendengarnya? Lebih tepatnya lagi, dimana?
"Ne, kenapa Nii-san?" tanya Hanabi saat melihat wajah Neji yang berkerut.
Neji menggeleng. "Tidak apa-apa," sahut Neji akhirnya. Mungkin hanya perasaanku saja, sambungnya dalam hati.
"Kalian mau coklat hangat?" nada tanya Hinata yang ceria terdengar dari arah dapur tanpa gagap sedikitpun. Kebiasaan Hinata bicara tanpa gagap ini memang akan hilang bila suasana hati gadis itu sedang sangat sangat baik.
Neji dan Hanabi berpandangan sesaat sebelum gadis berusia lima belas tahun itu berseru, "kalau kau tidak keberatan, Nee-chan."
Hinata bersenandung riang tatkala mendengar jawaban adiknya. Tentu saja dia tidak akan keberatan. Lagipula, memang Hinata yang menawari mereka berdua, bukan? Tangan mungilnya segera menyambar dua buah cangkir lagi sebelum menyeduh minuman hangat tersebut. Suasana pagi seperti sekarang ini memang sangat sempurna bila ditemani dengan secangkir coklat hangat. Terlebih lagi bila suasana hatimu terasa baik.
Hati Hinata menghangat. Rasanya benar-benar lega dan menenangkan setelah menceritakan segala kegundahan yang dirasakannya semula pada Neji. Lagi-lagi senyum manis itu kembali terpancar dari wajah cantiknya.
"Ini coklatnya," ucap Hinata sembari meletakkan dua cangkir beserta satu miliknya yang ia bawa dengan sebuah nampan.
Hanabi menyeruput pelan-pelan coklatnya sebelum tersenyum lebar. "Aku senang melihat Nee-chan seperti sekarang," ucap gadis itu blak-blakan.
Hinata terdiam beberapa detik sebelum kembali menyunggingkan senyumannya.
"Lalu, Nee-chan sudah menghubungi Uchiha itu?"
Seakan tersadar, Hinata menepuk dahinya sebelum matanya menatap jam dinding yang tergantung di dekatnya. Jarum jam menunjukkan kalau sekarang tepat pukul 8. Hinata mengerang tanpa sadar sebelum berlari menuju kamar mandi. Meninggalkan duo Hyuuga yang hanya bisa menatapnya kebingungan.
"Ada apa dengan Hinata?"
Hanabi hanya bisa mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
.
Hinata menatap pantulan dirinya. Kaos longgar serta celana denim selutut yang dipakainya membuat Hinata menatap bayangannya was-was. Pikirannya sibuk bertanya-tanya, kalau ia berpenampilan seperti ini apakah Uchiha-san masih akan tetap memilihnya sebagai model?
Hinata kembali menatap jam tangannya sebelum menggigit bibirnya. Sudah jam setengah sembilan, dan kalau Hinata memutuskan untuk mengganti pakaiaannya, gadis itu yakin ia akan terlambat. Akhirnya ia putuskan untuk beranjak dari tempatnya sebelum menyambar kunci mobil yang sejak kemarin masih tergeletak di atas meja belajarnya.
Sebenarnya Hinata tidak berani melanggar peraturan Ayahnya lagi untuk membawa mobil, setelah tiga minggu yang lalu mobilnya ditabrak hingga bempernya rusak parah. Hanya saja kali ini masalah darurat. Pasalnya Hinata yakin kalau ia harus naik kendaraan umum, ia dipastikan akan terlambat.
Untuk yang kedua kalinya, Hinata melanggar larangan Ayahnya.
Hinata menghela napasnya. Mungkin ia akan melanggar untuk yang ketiga kalinya. Ya, ia akan menerima tawaran Uchiha Sasuke untuk menjadi modelnya. Kali ini, Hinata tidak akan mundur lagi, itulah tekadnya.
Maka dengan segenap keberanian yang gadis itu miliki, ia segera menjalankan kendaraan beroda empat itu menuju tempat tujuannya. Konoha Mall.
.
Uchiha Sasuke menatap jam tangannya sebelum mendesah. Masih ada sepuluh menit lagi sebelum waktu perjanjian mereka berakhir. Sasuke berharap kalau gadis itu akan datang menemuinya. Masalahnya kalau dia benar-benar tidak datang, Sasuke terpaksa menyetujui saran yang Sakura berikan padanya tempo hari. Sasuke mendecak sebal.
Pria bermata onyx itu memilih menyenderkan tubuhnya di pintu mobil. Sesungguhnya Sasuke tidak suka menunggu. Hanya saja untuk yang kali ini, Sasuke harus memberikan pengecualian. Kecuali bila ia tidak menginginkan Hinata sebagai modelnya.
Lima menit lagi. Sasuke mengeluh.
Tepat setelah itu, sebuah mobil memasuki parkiran Konoha Mall. Pemilik mobil itu memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil Sasuke. Dalam hitungan detik, pintu pengemudi itu segera terbuka sebelum menampilkan sosok yang Sasuke tunggu sejak dua puluh menit yang lalu.
"A-aku be-belum terlambat 'kan?" tanyanya dengan wajah panik.
Sasuke tersenyum tipis. Tidak sia-sia ia menunggu kalau pada akhirnya gadis itu benar-benar menampakkan dirinya di hadapan Sasuke. Pria penyandang marga Uchiha itu segera menarik tangan Hinata untuk memasuki pintu belakang Mall. Ia menariknya hingga mereka tiba di sebuah toko yang menurut Hinata adalah milik pria yang tengah menarik tangannya ini.
Mendadak Hinata merasakan wajahnya memanas saat menyadari kalau tangannya digenggam Uchiha bungsu tersebut. Bibirnya yang mungil, ia gigit tanda menahan malu yang kini melandanya.
"Selamat pagi, Sasuke-sama."
Ucapan itu mengudara begitu saja ketika mereka berdua memasuki toko yang ukurannya terbilang cukup luas dibandingkan toko sekitar. Sasuke masih saja menarik lengan Hinata hingga mereka sampai di depan sebuah ruangan kecil yang terletak di pojok.
"Berikan pakaiannya!" perintah Sasuke pada seorang gadis berambut merah muda.
Sakura, sang pemilik rambut merah muda, mendengus pelan mendapati nada perintah yang Sasuke ucapkan padanya. Segera disambarnya sebuah pakaian yang memang sudah dipersiapkan untuk acara puncak dari fashion show tersebut pada Sasuke.
"Aku harap pas," ucap Sakura.
Sasuke segera memberikan pakaian tersebut pada Hinata sebelum menyuruhnya untuk ke ruang ganti.
"Etto… Bi-bisa Uchiha-san le-lepaskan ta-tanganku? K-kalau begini a-aku ti-tidak bisa m-mencoba pakaiannya, b-bukan?" ucap Hinata tergagap sembari menundukkan wajahnya yang sudah memerah semenjak tadi.
Sasuke yang menyadarinya segera melepaskan tangannya dengan cepat. Ia membuang wajahnya ke arah lain sebelum mendapati semua pegawai tengah menatap mereka berdua dengan wajah penasaran.
"Kau bisa ke ruang ganti sekarang," ucap Sasuke.
Entah mengapa, Sasuke mendapati wajahnya terasa memanas. Terlebih lagi ketika tubuh mungil Hinata menghilang di balik bilik ruang ganti, tawa Sakura yang terdengar mencemoohnya terlepas begitu saja. Sasuke merasa dirinya semakin terlihat panik ketika Sakura dengan santainya berkata, "wajahmu memerah loh, Uchiha Sasuke."
"Diam kau!"
Sakura tidak bisa berhenti tertawa. "Jadi, dia itu pacarmu?"
Sasuke mendelik.
"Selama aku mengenalmu, baru kali ini aku melihatmu seperti ini, Sasuke. Katakan saja terus terang, tidak apa-apa kok," ucap Sakura santai sambil menyipitkan matanya tanda menggoda Sasuke.
"Hinata Hyuuga bukan pacarku."
Sakura menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Berarti kalian masih dalam tahapan pendekatan, begitu?"
Sasuke mendeathglare gadis di hadapannya tersebut. Sayangnya semua itu sama sekali tidak ampuh.
"Ano…"
Suara Hinata menghentikan perbincangan —atau mungkin lebih pantas bila disebut perdebatan—antara Sasuke dan Sakura. Kedua pasang mata itu menatap Hinata takjub mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hinata dalam balutan dress ungu muda polos dengan sebuah pita mungil tepat di bagian dada tersebut sukses membuat semua pasang mata yang melihatnya terpesona.
Sasuke segera memanggil salah seorang pegawainya untuk memberikan sepasang flat shoes pada Hinata sebelum dipakai oleh gadis pemilik mata berwarna lavender tersebut.
Sakura berdecak kagum. "Terus terang saja, Sasuke. Dari semua model pilihanmu, hanya gadis ini yang menurutku benar-benar… perfect."
Hinata menundukkan kepalanya mendengar kalimat Sakura.
"Dia terlihat cantik dengan seluruh kepolosan yang ia miliki," Sakura kembali berkomentar. "Matamu memang tidak salah, ne, kalau kau berniat menjadikannya sebagai kekasihmu. Benar bukan, Sasuke?"
Wajah Sasuke kembali merona tipis. Ia berdecak sebal sembari menyuruh Sakura untuk berhenti menggodanya. Sementara Hinata merasakan wajahnya kian memerah mendengar kalimat terakhir Sakura tersebut.
"Aku yakin dress musim panas ini akan laku terjual nantinya," tutur Sakura penuh keyakinan.
Sasuke bergumam tanda menyetujui ucapan Sakura.
"J-jadi fashion show ini u-untuk memperkenalkan pakaian m-musim panas?"
Sakura mengangguk riang. "Benar sekali. Selain itu, kau akan muncul paling akhir karena pakaian yang kau kenakan ini akan menjadi icon musim panas perusahaan kami."
Hinata tersenyum paham.
"Ah, hampir saja lupa," ucap Sakura sebelum menjulurkan tangannya. "Namaku Sakura Haruno."
"Hinata Hyuuga," sahut Hinata sembari tersenyum.
.
Finally update cepet juga. Yak, mudah-mudahan chapter ini gak mengecewakan yaaa readers semuaa. Actually, Yurisa ucapin terimakasih buat yang udah bersedia baca cerita ini, dan berterimakasih banget buat yang udah review di chapter sebelumnya; rajabmaulan, Bee Hachi dan flowers lavender.
See you di chapter selanjutnya yaaa :D
