You, Me and Our Memories
.
.
.
03
.
.
.
^_^ Happy Reading ^_^
.
.
.
Satu minggu berlalu sejak hari dimana Baekhyun di tetapkan menjadi dokter pengganti di EXORDIUM Corp. Bukan hal yang mudah baginya berada di tempat yang sama dengan orang-orang dari masalalunya, dia berusaha keras untuk menghalau semua perasaan sakitnya. Dan semakin hari, dia semakin terbiasa dengan kehadiran orang-orang itu.
Seperti yang pernah di katakan Minho padanya, dia tak harus memikirkan orang-orang itu. Meski mereka bekerja di bawah naungan perusahaan yang sama, bidang pekerjaan mereka berbeda. Kalaupun tak ingin bertemu, Baekhyun memilih untuk menghindar.
Baekhyun juga sudah bertekad, bahwa dia akan menatap lurus pada masa depannya. Tak peduli sekarang ini dia ada dimana. Dia bahagia dengan hidupnya yang sekarang.
"Boleh duduk di sini?"
Baekhyun yang saat ini tengah menikmati makan siangnya di salah satu lorong di perusahaan itu, terpaksa menolehkan kepalanya ke belakang.
Dia merasa sedikit tersentak dengan keberadaan Chanyeol di sana, berdiri dengan sebungkus roti dan satu cup kopi di tangannya.
Kejadian itu tak berlangsung lama, Baekhyun memilih kembali menikmati menu makan siangnya yang berupa sandwich sambil menatap pemandangan di luar gedung perusahaan itu.
Sudah sekitar empat hari ini, Baekhyun memilih menghabiskan waktu makan siangnya di tempat ini demi menghindari bertemu dengan Chanyeol dan gerombolannya. Ajakan Luhan untuk makan siang bersama, dua kali di tolaknya dan tampaknya, temannya itu cukup mengerti alasan penolakannya itu, hingga di hari ketiga, Luhan tak lagi memaksanya ikut makan siang di kantin.
Baekhyun menikmati kesendiriannya dengan bekal makan siangnya. Tiga hari di lalui tanpa ada yang mengganggunya, tapi hari ini, ketenangannya terusik oleh seseorang yang ingin di hindarinya.
Chanyeol yang berdiri tak jauh dari Baekhyun, mendesah pelan. Hanya dengan sikapnya saja, Baekhyun seolah memberi isyarat penolakan padanya. Tapi... dia sudah membulatkan tekadnya untuk meminta maaf. Kalaupun hubungan mereka tak bisa menjadi lebih baik, setidaknya kata maaf sudah dia dengar dari mulut wanita yang sepuluh tahun ini selalu memenuhi pikirannya.
Satu minggu berada di tempat yang sama dengan Baekhyun, dengan rentang waktu hampir dua belas jam perhari, tidak serta merta membuat Baekhyun meliriknya. Bahkan gadis itu memilih menghindarinya. Baekhyun juga membatasi dirinya, hingga dia tak menemukan celah untuk mendekati gadis itu.
"Mianhae." Lirih Chanyeol setelah mengambil duduk di tempat yang sama dengan Baekhyun meski jaraknya cukup jauh.
Meski lirih, Baekhyun dapat dengan jelas menangkap kata itu dengan indera pendengarnya. Gadis itu tak lagi bisa melanjutkan kunyahannya, ada yang berdenyut sakit di dadanya saat pada akhirnya, kata yang sepuluh tahun yang lalu ingin sekali di dengarnya, meluncur dari pria itu siang ini.
"Ahahahaha... dia terlihat amatir sekali."
"Daebak! Aku tak menyangka Chanyeol mau mencium si bau ikan itu."
"Dia sangat murahan, membuatku semakin jijik melihatnya."
"Apakah Chanyeol tak mencium bau amis dari dia, saat mereka berdekatan seperti itu. Iiiihhh...!"
"Kalau itu aku, mungkin aku sudah muntah. Visualnya saja tak menarik apalagi yang lainnya. Mereka benar-benar gila."
Baekhyun melangkah gontai menuju ke kelasnya. Sepanjang langkahnya menyusuri lorong yang akan membawanya kembali ke kelasnya itu, telinganya menangkap komentar-komentar bernada sinis dari beberapa murid yang kebetulan berpapasan dengannya. Bahkan ada yang sengaja menghentikan langkahnya dan menatapnya dengan tatapan jijik.
Ada apa?
Apalagi yang terjadi?
Dia sudah cukup patah hati dengan pernyataan Chanyeol tadi, masih adakah yang lainnya yang terjadi dan tak di ketahuinya?
Pikiran Baekhyun terus bertanya-tanya, hingga kakinya menginjak lantai ruang kelasnya. Suasana kelas tampak lebih ramai, beberapa teman kelasnya terlihat bergerombol, mengerubungi teman sekelasnya yang bernama Suho. Mereka seperti tengah melihat sesuatu dari handycam yang di bawa anak orang kaya itu.
Saat dia masuk, semua mata tertuju padanya. Ketika langkahnya di ayun ke bangkunya, seorang pemuda menghampirinya, menatapanya dari atas hingga bawah, seakan menggulitinya.
"Baekhyunie! Untuk berciuman denganmu, bayarannya cukup mahal ternyata. Ehm... aku jadi ingin mencobanya. Bagaimana Suho-ya?"
Mata Baekhyun menatap pemuda itu tak mengerti. Ada apa ini? Ciuman? Ciuman apa?
"Kalau kau melihatku seperti itu, kau seperti gadis polos yang tak mengerti apa-apa. Padahal... hih! Kau menjijikkan."
Mata Baekhyun membulat lebar mendengar kalimat itu.
"Apa maksudmu?"
"Aaaahhh! Teman-teman! Dia bertanya maksud ucapanku, apa aku harus menjelaskan padanya?"
Suasana kelas itu berubah riuh dengan komentar-komentar tak enak untuk di dengar. Baekhyun semakin kebingungan.
"Bagaimana rasanya remasan tangan Chanyeol? Apakah aku boleh melakukannya juga? Aku bisa lebih baik dari dia, setidaknya aku tak akan melakukan hal itu di gedung tua tak terpakai yang sudah jelas sangat kotor itu."
Gedung tua?
Ingatan Baekhyun di tarik pada kejadian beberapa hari yang lalu, saat Chanyeol mengajaknya menikmati senja di sebuah gedung tua yang tak selesai pembangunannya. Awalnya semua berjalan baik-baik saja, sampai kemudian Chanyeol tiba-tiba menciumnya dan meremas dadanya.
"Wae? Kau bertanya-tanya darimana kami tahu adegan mesummu itu? Lihatlah disana! Suho merekam semuanya dan memamerkannya pada kami."
Baekhyun mengalihkan tatapannya pada sudut ruang kelasnya. Disana, Suho tengah mengembangkan senyum jahatnya, bersama Jongin dan Kyungsoo serta teman sekelasnya yang lain.
Tubuh Baekhyun bergetar dengan sangat hebat. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apakah ini bagian dari rencana Chanyeol dan teman-temannya itu?
"Aku pikir kau gadis baik dan polos, tapi... kau menjijikkan Byun Baekhyun!"
Baekhyun bangkit dari duduknya, kilasan masa lalunya, kembali melukainya. Cukupkah hanya sekedar dengan kata maaf maka semua akan selesai? Dia sempat berpikir demikian, tapi kenyataannya, saat kata maaf itu benar-benar terucap setelah semua terlanjur terjadi, hatinya justru menolak dan semakin terasa sakit.
Berhadapan dengan orang-orang itu, melemahkan semua pertahanan yang selama ini di bangunnya. Dia masih sangat sakit hati.
Baekhyun melangkah pergi meninggalkan Chanyeol. Dia tak ingin mendengar apapun yang keluar dari mulut pria itu yang membuatnya kembali teringat akan kejadian sepuluh tahun lalu. Cukup!
"Baekhyunie!"
Langkah Baekhyun terhenti seketika.
"Chanyeollie!"
"Jangan pernah lagi memanggilku seperti itu. Kau bukan siapa-siapa bagiku dan rasanya sangat menjijikkan mendengarmu memanggilku seperti itu."
"Jangan memanggilku seperti itu, kita tidak begitu dekat hingga kau bisa memanggilku seperti itu." tegas Baekhyun diiringi langkah lebarnya meninggalkan lorong itu.
Chanyeol merasakan sesuatu berdenyut nyeri di dadanya. Sesuatu yang mungkin dulu di rasakan Baekhyun saat dia menghardik gadis itu untuk tak lagi memanggilnya 'Chanyeollie!'.
"Jeongmal mianhae!" lirih Chanyeol sembari menatap punggung Baekhyun nelangsa.
.
.
.
Baekhyun kembali ke tempatnya klinik, setelah mencoba menenangkan dirinya di toilet beberapa saat lalu.
Saat membuka pintu klinik, dia dibuat terkejut dengan beberapa karyawan yang keluar dari kliniknya, tersenyum dan menyapanya dengan sopan.
Satu minggu berada di gedung ini, Baekhyun merasa cukup banyak karyawan perusahaan ini yang mengunjungi klinik dengan berbagai keluhan, mulai dari kepala pusing, demam, luka kecil tersayat cutter atau yang lainnya. Dia memberikan pengobatan pada setiap keluhan itu, tapi menurut dua perawat yang menemaninya berjaga di klinik itu, hal itu sengaja mereka lakukan agar mendapat perhatian dari Baekhyun. Karena pada dokter sebelumnya hal seperti ini juga terjadi.
"Kenapa lagi mereka?" tanya Baekhyun pada salah satu perawat dengan name tag Sunny.
"Biasa. Mencari perhatian dari dokter, tapi mereka harus kecewa karena aku mengusirnya. Tak bosan apa setiap hari mengunjungi klinik dengan alasan yang sama. Pusing 'lah, demam 'lah, atau apapun itu, kalau sudah jelas merasa tak enak badan, harusnya tak usah masuk kerja, jangan menyu..."
"Eonni sudahlah!" Baekhyun menatap Sunny dan tertawa kecil. Bukan sekali ini Sunny menggerutu setiap kali pasien pura-pura itu datang. Bahkan saat dia baru masuk ke dalam klinik, Sunny sudah memprediksi kejadian ini, karena dokter sebelumnya juga sering menerima pasien pura-pura itu.
Sunny terhenyak menatap Baekhyun, seminggu bekerja bersama-sama, Baekhyun sangat jarang bicara padanya kalau tidak masalah pekerjaan. Bahkan kalau dia menggerutu seperti tadi, Baekhyun hanya akan menanggapinya dengan sebuah senyum tipis, tapi kali ini, dokter muda itu memanggilnya 'eonni' dan tertawa kecil. Dia tak salah dengar 'kan?
"Wae eonni?" tanya Baekhyun yang mendapati Sunny hanya diam menatapnya.
"A-apa aku tak salah dengar? Dokter memanggilku 'eonni'?"
"Eoh. Kita sudah satu minggu bekerjasama, maaf kalau sikap selama satu minggu ini membuat Sunny eonni dan Yuri eonni tak nyaman." Baekhyun duduk di kursinya sambil menatap Sunny. Yuri, perawat yang lain, yang juga membantunya di klinik perusahaan ini sedang makan siang sepertinya.
Sunny menurunkan bahunya dan mendesah pelan. Kemudian dia melangkah mendekati Baekhyun dan duduk di depan dokter muda itu.
"Saat baru melihatmu, kami merasa kalau kau orang yang baik. Tapi pemikiran kami sedikit berubah setelah menjalani satu minggu bersama-sama, jujur, aku sempat menganggapmu sombong. Maaf kalau pemikiranku itu salah."
Baekhyun tersenyum maklum atas apa yang dikatakan Sunny padanya, lalu menggeleng pelan. Dia mengerti, setiap orang yang baru bertemu dengannya akan mengambil kesimpulan yang sama atas dirinya. Masalalu mengajarinya untuk lebih hati-hati saat dekat dengan seseorang, entah itu yang bertujuan untuk menjadi temannya atau tujuan yang lainnya. Dia tak ingin kejadian sepuluh tahun lalu terulang lagi. Dengan kata lain, Baekhyun membatasi dirinya bergaul atau menjadi dekat dengan orang lain.
Brak!
"Tolong!"
Baekhyun dan Sunny berdiri dari duduknya karena terkejut dengan suara pintu yang di buka paksa dan beberapa orang masuk ke dalam klinik. Chanyeol masuk dengan tergesa, di susul Jongin yang menggendong Kyungsoo dan juga Luhan.
"Dia mimisan sejak tadi, darahnya banyak yang keluar, tolong dia!" pinta Chanyeol dengan nafas terengah.
Baekhyun langsung mendekati Kyungsoo yang sudah di dudukkan di ranjang oleh Jongin.
"Jangan mendongak, bungkukkan badanmu. Eonni tolong aku menekan cuping hidungnya. Pelan."
Sunny mengangguk dan mengikuti perintah Baekhyun. Sedangkan Baekhyun mengambil tisu sebanyak yang dia mampu lalu meletakkannya di bawah lubang hidung Kyungsoo yang terus mengalirkan darah.
"Bernafaslah dengan mulut." Ujar Baekhyun sambil dengan telaten mengusap lelehan darah merah yang keluar dari bibir Kyungsoo.
"Eonni ambil kompres, isi dengan air dingin!"
Sunny berpindah, dia mengambil alat kompres.
"Luhannie tolong!" Luhan mendekati Baekhyun, menggantikan tugas Baekhyun mengelap lelehan darah dari hidung Kyungsoo.
Baekhyun sendiri beralih ke samping, dan mulai menekan perlahan hidung Kyungsoo.
"Saem ini!"
Baekhyun menerima kompres dingin dari Sunny, lalu meletakkannya di hidung Kyungsoo.
"Sejak kapan dia mimisan?" tanya Baekhyun.
"Lima menit sebelum di bawa kesini." Sahut Chanyeol yang tak melepaskan perhatiannya dari Baekhyun.
"Aku tak bicara denganmu." Sergah Baekhyun dingin.
Chanyeol menarik nafasnya perlahan lalu mundur beberapa langkah, Luhan melirik Chanyeol dan juga Jongin sedangkan Sunny terlihat bingung.
"Lima menit sebelum di bawa kesini." Sahut Luhan mengulangi apa yang di katakan Chanyeol.
Baekhyun melepas kompresnya, darah sudah tak lagi mengalir dari hidung Kyungsoo. Dia kemudian melakukan pemeriksaan terhadap gadis itu.
"Buka mulutmu!"
Kyungsoo mengikuti anjuran Baekhyun, mulutnya di buka lebar.
"Sejak kapan kau demam?" tanya Baekhyun sambil memeriksa rongga mulut Kyungsoo.
"Sudah tiga hari ini." jawab Kyungsoo.
Baekhyun mengerutkan keningnya.
"Tiga hari dan kau tak melakukan apapun?" Baekhyun menjauh dari Kyungsoo dan menatap gadis itu dengan tatapan tajamnya.
"Aku pikir demam biasa, dari kemarin sudah minum obat, panasnya juga turun tapi..."
"Kenapa sekarang kau kesini? Kenapa tidak kau obati sendiri mimisanmu?"
"Baekhyunie!" Luhan berdesis pelan.
Baekhyun berbalik dan menatap Luhan tak kalah tajam.
"Kau pikir aku bicara seperti ini karena aku membencinya? Dia sudah cukup pintar dengan mengobati dirinya sendiri, kenapa mimisannya tak di obati sendiri juga?" nada suara Baekhyun terdengar tegas, dia kemudian menatap Sunny "Eonni! Hubungi rumah sakit, kita harus membawanya ke rumah sakit!" lanjutnya sambil memeriksa dada Kyungsoo dengan stetoskopnya
"Nde." Sahut Sunny.
"Dia sakit apa?" tanya Jongin dan Chanyeol bersamaan.
"Ada indikasi demam berdarah."
.
.
.
"Kenapa kau menyuruhku datang kemari?"
Chanyeol memutar perlahan cairan berwarna kuning keemasan yang terdapat di dalam gelas yang di pegangnya, tatapannya datar dan lurus ke depan. Bukan pada pria yang duduk di sampingnya, yang mengundangnya datang di pub yang cukup terkenal di kawasan elite Gangnam.
"Dia kembali Chanyeol-ah."
Akhirnya, Chanyeol mengalihkan tatapannya pada pria berkacamata minus itu, yang tadi sempat di temuinya di rumah sakit saat dia menyertai Kyungsoo yang di rujuk Baekhyun untuk di rawat di rumah sakit tempat pria itu bekerja.
"Aku tahu. Aku bahkan melihatnya setiap hari satu minggu ini."
"Benarkah? Lalu kau sudah bicara padanya?"
Chanyeol berdecih sinis.
"Menurutmu? Kau pikir semudah itu bicara padanya? Dia mau melihatku saja, aku sudah sangat bersyukur. Kenapa kau tidak mencobanya, bukankah di juga bekerja di rumah sakit yang sama denganmu? Kalau kau berhasil, beritahu aku bagaimana caranya."
Pria itu menatap Chanyeol dengan tatapan yang sulit di artikan. Mendengar pernyataan Chanyeol, rasanya yang di alaminya seminggu yang lalu belum ada apa-apanya.
"Tubuhku kaku saat melihatnya untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun. Rasanya tak percaya, dia begitu berbeda."
Chanyeol tersenyum sinis, lalu menenggak cairan berwarna kuning keemasan itu.
"Aku bahkan tak bisa bernafas dengan baik selama sepuluh tahun terakhir ini, Kim Junmyeon-ssi."
Kalau boleh jujur, bertemu dengan Suho merupakan sesuatu yang dia hindari selama ini. Dia merasa malas untu bertemu atau bahkan berbicara dengan pria itu. Hubungannya dengan Suho tak berjalan dengan baik sejak kejadian sepuluh tahun yang lalu.
Chanyeol cukup menjaga jarak dengan Suho. Bahkan setelah insiden itu, Chanyeol memilih mengasingkan dirinya ke desa tempat neneknya dari pihak ibunya tinggal. Disana dia merenungkan kesalahan fatal yang di buatnya, di desa itu dia juga berusaha mengubur kenangan buruknya.
Namun siapa yang menyangka, saat dia masuk ke sebuah perguruan tinggi di Seoul, dia kembali di pertemukan dengan orang-orang yang di hindarinya itu. Mungkin ini salah satu cara Tuhan untuk mengingatkannya akan dosa yang pernah dia lakukan terhadap Baekhyun. Di perguruan tinggi, meski intensitas pertemuan mereka bisa di katakan sering, tapi Chanyeol enggan bicara pada Suho. Sikapnya seperti itu hanya dengan Suho. Dengan Jongin dan Kyungsoo dia tak bermasalah.
Chanyeol masih sakit hati dengan Suho setelah kejadian itu.
"Kau masih menyimpan dendam padaku?"
"Menurutmu?" Chanyeol menatap Suho tajam. "Kau pikir setelah kejadian itu aku akan mudah memaafkanmu? Taruhan itu memang kesepakatan yang kita buat, tapi kejadian setelah itu, semua di luar batas nalarku. Bagaimana bisa kau melakukan hal itu padaku, orang yang kau akui sebagai sahabatmu ini?" lanjut Chanyeol tegas.
Suho tertunduk dalam.
"Aku menyesal. Dan asal kau tahu, hukuman yang aku terima setelah kejadian itu, menyisakan penyesalan mendalam Chanyeol-ah."
"Kau pikir aku tidak seperti itu?"
"Hah!" Suho mendesah perlahan.
Membicarakan kejadian sepuluh tahun yang lalu, ingatan Suho seolah di tarik pada masa itu. Masa paling gelap dalam perjalanan hidupnya.
Sepuluh tahun yang lalu, tak hanya Baekhyun yang mengalami keterpurukan, tapi juga Chanyeol dan dirinya. Kalau Chanyeol hanya menerima amukan dari kedua orangtuanya dan berakhir dengan dia yang mengasingkan diri di pedesaan, lain halnya dengan Suho.
Pria itu harus merelakan kepergian orang yang sangat di sayanginya, yaitu ayah kandungnya untuk selamanya.
Dua hari pasca terbongkarnya taruhan dan penyebaran video itu, orang tua dari Chanyeol, Suho, Jongin dan Kyungsoo di panggil pihak sekolahan.
Ayah Suho jelas terkejut dengan pemanggilan itu, apalagi alasan pemanggilan itu adalah tindakkan tak manusiawi yang Suho lakukan terhadap teman sebayanya. Selama menjadi siswa di sekolah itu, Suho mencatatkan banyak prestasi yang membanggakan. Tapi hari itu, beliau seolah di tampar oleh kenyataan bahwa anaknya ternyata tak sebaik yang dia pikirkan.
Mendapati kenyataan yang menyakitkan itu, ayah Suho langsung terperosok jatuh ke lantai. Orang yang sangat disayangi oleh Suho itu, meregang nyawanya beberapa saat setelah tiba di rumah sakit. Nyawa beliau tak tertolong setelah mendapat serangan jantung akibat kabar yang di dengarnya itu.
Langit cerah yang biasanya Suho tatap, berubah gelap dan runtuh saat itu juga.
Suho tak pernah berpisah dari ayahnya, sejak perceraian orangtuanya terjadi. Suho begitu dekat pria yang mengalirkan sebagian darahnya ke dalam tubuhnya itu. Bahkan dari cerita yang pernah di dengarnya, ibu kandungnya tak pernah mengharapkan kehadirannya, ayahnya 'lah yang memohon pada sang ibu untuk tetap mempertahankannya.
Suho tumbuh besar dengan kasih sayang ayahnya. Sejak kecil, kalau ada yang bertanya padanya siapa orang yang paling di sayanginya? Dia akan lantang menjawab ayahnya.
Tapi... Tuhan menegurnya dengan sangat kejam atas salah yang dia lakukan terhadap temannya. Dia kehilangan sosok yang selalu membanggakannya, sosok yang selalu di sayanginya dan sosok yang selalu mengajarinya kebaikan. Kehilangan ayah yang sangat di cintainya, Suho seperti kehilangan separuh nyawanya. Dia jatuh terpuruk saat itu.
Tak berhenti sampai di situ. Suho yang saat itu masih berusia di bawah umur, harus mendapat pendampingan dari orang dewasa di sekitarnya. Karena keluarga ayahnya menganggap dia pembunuh ayahnya dan keluarga dari pihak ibunya tak mengharapkannya, perwalian Suho saat itu jatuh pada Ibu Sehun, yang di nikahi ayah Suho dua tahun sebelumnya.
Rasa kecewa yang dirasakan ibu Sehun, membuat wanita itu mengambil tindakan tegas atas diri Suho saat itu. Wanita yang berkarir sebagai designer itu, terpaksa mengirim Suho ke New Zealand, ke sebuah sekolah yang memiliki asrama dan pengawasaannya cukup ketat.
Sebenarnya, ibu Sehun bukanlah orang jahat, dia wanita baik yang menyayanginya tulus seperti dia menyayangi Sehun. Hanya saja, mungkin karena tindakan jahatnya pada temannya yang membuat ibu Sehun kecewa padanya dan pada akhirnya terkesan membuangnya.
"Kalau sudah tak ada yang ingin kau bicarakan, lebih baik aku pergi." Chanyeol turun dari kursinya.
"Mianhae Chanyeol-ah. Jeongmal mianhae."
.
.
.
Baekhyun terpaksa harus keluar rumah beberapa menit yang lalu, sesaat setelah dia menerima pesan singkat dari kekasihnya yang mengabarkan tak bisa menjemputnya untuk makan malam karena jadwal operasinya yang padat.
Mereka sebelumnya memang sudah membuat janji akan malam bersama di luar, makanya Baekhyun tak jadi belanja ke super market sepulang kerja tadi, karena berpikir mungkin nanti sepulang makan malam dengan Minho, kekasihnya itu bisa mengantarnya berbelanja. Tapi... ya sudahlah, dia memaklumi kesibukan Minho sebagai dokter bedah.
Gadis berperwakan mungil itu tengah mendorong trolly belanjanya di sepanjang deretan rak sayuran dan daging segar, matanya memperhatikan dengan seksama bahan-bahan makanan itu, memasukkan ke keranjang kalau memang yang di carinya di temukannya di deretan itu.
Setelah selesai disana, Baekhyun kemudian berpindah, dari satu rak ke rak yang lainnya. Memenuhi keranjang belanjanya dengan berbagai macam barang yang di butuhkannya di rumah yang baru di huninya satu minggu terakhir ini.
Tiga puluh menit kemudian, Baekhyun sudah mengantri di meja kasir. Ya, acara belanjanya sudah selesai, kini dia tinggal mengantri untuk membayarnya.
"Selamat malam!" sapa kasir itu ramah pada Baekhyun. Gadis itu hanya menanggapinya dengan senyum tipis sambil mengeluarkan barang-barang belanjaannya dari dalam trolly.
Kasir itu mulai menghitung barang-barang itu sambil memasukkannya ke kantong kresek besar.
"Total semuanya empat puluh sembilan ribu won." Ujar kasir itu yang di angguki Baekhyun.
Baekhyun merogoh saku celana trainingnya, ekspresinya berubah bingung saat dia tak menemukan apa yang di carinya di saku itu. Tak menyerah, Baekhyun merogoh saku jaketnya, tak ada apapun juga di sana. Ya Tuhan! Dia tak membawa dompetnya.
"Wae?" tanya kasir itu, yang menatap Baekhyun dengan tatapan curiganya.
"Jeosongeyo. Saya... lupa membawa dompet. Ehm... bisakah anda menyimpan bel..."
"Jadikan satu dengan yang ini!"
Baekhyun mengalihkan tatapannya pada pemilik suara itu. Matanya membulat kaget saat di dapatinya Chanyeol berdiri di sampingnya dengan belanjaannya yang sudah di letakkan di meja kasir.
"Tidak perlu! Tolong simpan belanjaan saya disini, saya akan kembali setelah mengambil uang." Sahut Baekhyun tegas menolak pertolongan yang di tawarkan Chanyeol padanya.
"Aku hanya ingin membantumu. Tak ada maksud lain. Lagipula, sebagai teman, tak masalah bukan kalau kita saling menolong?"
"Tuan ini benar. Kalau kalian teman, tak ada salahnya kalian saling menolong." Sahut kasir itu sambil memasukkan barang belanjaan Chanyeol ke kantong plastik.
"Jangan ikut campur kalau anda tak tahu apa-apa!"
Kasir itu terkejut dengan nada suara Baekhyun yang tak bersahabat sama sekali. Berbeda dengan beberapa menit yang lalu, yang terdengar lembut dan sopan.
"Kalau anda tak mau menyimpannya, kembalikan saja ke raknya!" lanjut Baekhyun dengan nada marahnya. Gadis itu kemudian berlalu dari hadapan kasir itu.
Kasir itu hendak mengomel ketika Chanyeol menyentuh lengannya dan menggeleng pelan.
"Saya yang bayar belanjaannya dan biarkan saya yang membawanya." Ujar Chanyeol. kasir itu menatap Chanyeol dengan tatapan kesalnya, sisa kekesalannya terhadap sikap tak sopan Baekhyun.
"Katakan pada teman anda, jangan sombong kalau jadi orang."
Chanyeol mengangguk, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang kertas untuk pembayaran barang belanjaannya dan barang belanjaan Baekhyun.
Setelah mendapat sisa pembayarannya, Chanyeol keluar dari super market dengan dua kantong kresek besar.
Jarak antara supermarket dan rumahnya tak begitu jauh, jadi Chanyeol tadi memutuskan jalan kaki ke tempat itu.
Dari kejauhan matanya menangkap sosok Baekhyun yang melangkah cepat. Satu pertanyaannya, apakah Baekhyun tinggal di lingkungan yang sama dengannya?
Chanyeol tak ingin mengejar Baekhyun, dia hanya mengikutinya saja. Dia tak ingin membuat Baekhyun semakin marah.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Chanyeol melihat Baekhyun masuk ke dalam sebuah rumah yang di depannya terdapat tangga. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Haruskah dia mengetuk pintu gadis itu dan menyapanya kemudian menyerahkan barang belanjaannya? Ataukah dia mengetuk pintu lalu pergi setelah meletakkan barang belanjaan itu sebelum Baekhyun keluar rumah?
Tiga menit kemudian, Chanyeol menapaki tangga yang membawanya ke pintu utama rumah Baekhyun. Setelah mengumpulkan keberaniannya, Chanyeol memutuskan memencet tombol bel rumah Baekhyun, lalu secepat kilat di turun sebelum Baekhyun tahu dia yang melakukan semua itu.
Klek
Kriet
Baekhyun membuka pintu rumahnya.
Tak ada siapapun disana selain kantok plastik berisi barang belanjaannya. Baekhyun termangu menatap kantong itu. Dia kemudian melangkah maju hingga pagar pembatas. Tak ada siapapun di sana. Tapi... sepertinya dia tahu siapa yang meletakkan barang belanjaan itu di depan pintu rumahnya.
"AKU TAK INGIN MEMILIKI HUTANG APAPUN PADAMU, JADI AKU AKAN MENGGANTI UANGNYA BESOK!"
Chanyeol yang sebenarnya berdiri tak jauh dari tempat itu, tersenyum miris mendengar teriakan Baekhyun.
Luka yang dia goreskan di hati Baekhyun, ternyata mengubah pribadi gadis yang sudah merebut semua hatinya itu. Baekhyun yang dia kenal sepuluh tahun lalu, berbeda dengan Baekhyun yang sekarang.
"Mianhae." Lirihnya sebelum melangkah pergi meninggalkan rumah Baekhyun.
.
.
.
Minho melepas maskernya, dia bisa bernafas lega sekarang, dua operasi yang di lakukannya di waktu yang berurutan, selesai dengan sukses.
"Sunbae! Kau ada acara setelah ini?"
Minho yang sedang mencuci tangannya menatap Taemin sekilas, lalu menggeleng.
"Bagaimana kalau pergi minum?"
"Aku lelah, ingin langsung pulang dan tidur. Ajak saja yang lain Taemin-ah."
"Aku inginnya dengan sunbae. Kau sedikit sombong sekarang, selalu menolak setiap kali aku mengajakmu pergi minum setelah kita pulang kerja."
Minho tersenyum tipis.
"Kau sangat tahu aku bukan peminum yang hebat Taemin-ah. Hah! Baiklah! Malam ini aku mengabulkan keinginanmu. Kita pergi minum tapi aku hanya akan minum satu gelas. Ok!"
Taemin tersenyum lebar. Usahanya satu minggun ini akhirnya berhasil.
"Kau pergi saja dulu, tunggu di lobi. Aku akan ganti baju dan menelpon Baekhyunie." Ujar Minho sambil melangkah meninggalkan Taemin setelah menepuk pelan lengan rekan sejawatnya itu.
Taemin menatap punggung Minho yang menjauhinya dengan tatapan sendu. Baekhyun lagi. Tak bisakah Minho tak menyebut nama itu sehari saja.
Taemin cemburu? Iya! Dia menyukai Minho, tidak, mencintai lebih tepatnya sejak mereka berada di sekolah tinggi yang sama. Sayangnya, cintanya tak pernah bersambu baik oleh Minho. Saat sekolah tinggi dulu, Minho menjalin hubungan dengan teman dekatnya Choi Jinri. Lalu begitu lulus sekolah Minho menghilang dan setelah kembali, pria itu memiliki ikatan dengan wanita lain. Hah!
"Sunbae!" Taemin berlari menghampiri Minho yang hampir masuk ke ruang ganti. "Tak bisakah kali ini kau tak memberitahunya tentang kepergian kita ini?" tanya Taemin. Minho menatap Taemin singkat, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Tak ada yang harus kita tutupi dari hubungan kita ini Taemin-ah. Dan lagi, dalam hubungan kami, kejujuran yang menjadi pondasi kami, jadi apa dan bagaimana keadaanku, aku akan tetap mengatakan padanya. Jangan khawatir, Baekhyunie tak akan cemburu padamu." Tegas Minho sebelum melangkah masuk ke ruang ganti.
"Bukan dia yang cemburu oppa. Tapi aku... aku yang cemburu." Batin Taemin menjerit pilu.
Empat puluh lima menit kemudian, Minho sudah duduk berdua dengan Taemin di sebuah warung tenda pinggir jalan yang menyediakan Soju dan beberapa jenis makanan ringan yang lain.
Minho minum sedikit demi sedikit, dia tak tahan dengan alkohol. Lagi pula, jadwal kerjanya padat besok dan dia harus menyetir sendiri nanti, jadi dia memilih untuk tidak mabuk. Lain halnya dengan Taemin yang sudah menghabiskan tiga botol Soju dan sekarang mulai terlihat mabuk.
"Apa sunbae tahu kalau selama ini aku menyukai sunbae? Ani... bukan hanya menyukai, tapi juga mencintai sunbae." Taemin menatap Minho dengan mata sayunya. Minho hanya tersenyum menanggapi racauan Taemin.
"Tapi... kenapa sunbae tak pernah melirikku? Dulu... kau dekat dengan Jinri, lalu kau menghilang dan sekarang kekasihmu adalah Baekhyun-ssi. Ehm... apa aku tak pantas mendampingimu, Minho sunbae?"
"Taemin-ah! Bukankah kau tahu kalau rasa cinta tak akan bisa di paksakan? Kau gadis yang baik, aku tahu itu. Aku yakin suatu saat kau akan menemukan pria yang mencintaimu dengan tulus."
"Andwae! Aku hanya ingin bersama sunbae selamanya."
"Aku tak bisa."
"Waeyo? Apa karena Baekhyun-ssi? Ehm... Sunbae! Bagaimana kalau kita berkencan? Aku tak masalah menjadi yang kedua, aku akan berusaha mengerti keadaan kita ini."
Minho menarik nafasnya perlahan. Dia melipat tangannya di depan dada dan matanya menatap Taemin. Dia bukan tak tahu akan perasaan Taemin padanya.
Percayalah! Kalau ada seseorang yang menyukaimu, meski orang itu tak pernah mengungkapkan rasa sukanya secara langsung padamu, hatimu akan tahu dengan sendirinya kalau orang itu menyukaimu. Dari bahasa tubuh dan tatapan mata, semua terlihat sangat jelas.
Minho pun tahu dan merasakan hal itu. Taemin memang tak pernah terang-terangan mengatakan menyukainya, tapi dari bahasa tubuh gadis itu, dari tatapannya yang tak sengaja dia tangkap, Minho tahu kalau juniornya di sekolah tinggi itu menyukainya.
Taemin bukan gadis yang tak populer di sekolahnya dulu. Dia dan Jinri menempati posisi sama di sekolah sebagai gadis dengan paras cantik. Sayangnya, hati Minho sudah lebih dulu tertambat pada Jinri saat itu, hingga Taemin dianggap tak lebih dari junior oleh Minho.
Bukankah perasaan cinta tak bisa di paksakan? Minho menyukai Taemin, tapi hanya sebagai teman, tak lebih dari itu. Dan perasaan Minho tak berubah hingga saat ini. Taemin adalah rekan sejawatnya yang di sayanginya sebagai teman. Tak lebih dan tak kurang.
Kalau sekarang Taemin mengharapkan hubungan yang lebih dari sekedar itu, dia tak bisa dan tak ingin melakukannya. Hatinya terisi penuh oleh Baekhyun.
"Taemin-ah! Aku harap kau mengerti. Aku menyayangimu sebagai teman, tidak akan lebih dari itu. Kajja! Aku akan mengantarmu pulang!" Minho berdiri dari duduknya lalu menarik pelan lengan Taemin. Namun gadis itu menepisnya.
"Kau pulang saja. Aku masih ingin disini."
"Jangan seperti ini Taemin-ah. Kau berangkat bersamaku tadi, jadi pulang juga harus denganku." Ajak Minho lagi. Pria itu kembali menarik lengan Taemin, tapi sekali lagi di tepis gadis itu.
"Jangan membuatku salah paham dengan sikap pedulimu itu sunbae. Kau tak memperdulikan aku, aku bisa pulang sendiri. Pulanglah! Kekasihmu pasti sudah menyuruhmu lekas pulang bukan? Kka! Kka! Kka!" Taemin berdiri sempoyongan sambil mendorong Minho.
"Taemin-ah!"
"Apa kau tahu sakit yang ku rasakan sunbae? Aku sakit setiap kali melihatmu atau mengingat senyummu yang terukir bukan karena aku. Wae? Wae? Kenapa bukan denganku kau jatuh cinta? Kenapa harus Jinri? Kenapa sekarang dengan Baekhyun-ssi? Kenapa? Kenapa sunbae?"
Tubuh Taemin merosot ke bawah, duduk di trotoar dengan racauan yang semakin lama terdengar semakin banyak dan panjang. Minho dengan sabar mengusap punggung Taemin, bahkan ketika kemudian Taemin memeluknya dan menagis di pelukannya, Minho hanya bisa mengucapkan kata maaf.
.
.
.
TBC
NOTE : Terimakasih untuk jejak cinta dan perhatian kalian terhadap cerita ini.
Tak banyak yang bisa saya katakan selain maaf.
Maaf menunggu lama, maaf kalau chap ini mungkin tak sesuai dengan yang kalian harapkan.
Pada tiap chapnya, saya akan berusaha menghadirkan kejadian sepuluh tahun yang lalu ya... mohon bersabar untuk chap selanjutnya. Rasa malas penulis mulai datang, nulis dikit berhentinya bisa sampai seharian dan kalau sudah seperti itu, sulit mengembalikan mood menulisnya.
Ok... terlalu panjang omongannya sepertinya.
Big Love For You Guys 3
.
.
.
^_^ Lord Joongie ^_^
