Author's: Terima kasih buat yang telah membaca cerita saya dan mereviewnya. Review kalian sangat berarti buat saya. Oh ya jika ada yang tidak mengerti tentang sesuatu di dalam cerita ini, silahkan bertanya kepada saya via PM. Saya akan dengan senang hati menjawabnya sejauh itu bukanlah sebuah spoiler. Kalian pasti tidak ingin mengetahui hal yang belum waktunya kan? Nanti kejutannya jadi tidak seru lagi. ^_^
Untuk yang menanyakan kenapa saya memberikan judul cerita ini '29', jawabannya akan benar-benar terkuak di chapter ini! lol
Genre: Mysteri/Criminal/Sci Fi/Suspense
Note: Cerita ini dibagi menjadi beberapa bagian (phase). Alurnya akan bergerak maju dan mundur di sepanjang cerita berlangsung. Tapi tenang saja, saya membuatnya dengan keterangan yang sangat jelas untuk memudahkan pembaca memahami inti dari cerita ini. Dan tentu saja untuk menikmatinya.
Setting: Setting dimulai dari keadaan dimana Light mengalami 'lupa ingatan' terhadap death note. No chain.
Warning: Saya tidak tahu apakah ini bisa masuk dalam kategori rated M atau tidak. Tapi saya akan menyampaikan bahwa akan ada beberapa (benar-benar sedikit) adegan murder yang sedikit 'disturbing' di dalam cerita ini. Tapi menurut saya tidak terlalu 'membahayakan' sih. Hal yang biasa saja saya kira.
Please enjoy.
-29-
Chapter Three: Replica
PHASE NORMAL
Phase One: Investigate
Situasi itu diam.
Ryuzaki dan Light menyatukan pandangan mereka.
Pandangan yang dipenuhi oleh gelagak rasa ingin tahu yang menuntut.
Mirip seperti seseorang yang tengah menantikan sebuah mukjizat tapi sekaligus tidak mempercayainya.
Tentu saja ada yang tidak benar disini.
Anak itu tidak mempunyai identitas katanya?
Omong kosong macam apa yang di dengar mereka ini?
Ryuzaki mengernyit.
Tanda semangatnya yang tinggi membanjir keluar.
Semua yang mereka dapat sejauh ini memang tampak seperti mimpi.
Tidak nyata dan mengada-ada.
Pertama sebuah microchip, kemudian sebuah tanggal dan akhirnya sebuah kenyataan yang mencengangkan.
Sang korban tidak punya identitas.
Identitas apa yang dimaksud disini?
Anak itu tidak mempunyai data tentang tubuh atau keberadaannya di dalam daftar sebuah negara.
Sidik jarinya nihil.
Tidak terdaftar.
Tidak di manapun.
Tidak di bumi ini.
Lalu?
Siapakah anak ini sebenarnya?
Pertanyaan yang tepat adalah dari manakah ia berasal?
Ryuzaki sampai kepada sebuah tahap dimana seluruh sel-sel kelabu dalam otaknya bergejolak.
Merasakan adanya sebuah sengatan.
Seluruh darahnya bergelora.
Semua ini sudah masuk ke dalam tahap misteri yang tidak umum.
Semua ini supernatural.
Tapi justru karena itulah Ryuzaki menyukainya.
Ia membutuhkan sebuah tantangan yang lebih dari sekedar kasus-kasus normal yang membosankan.
Ia butuh sebuah sengatan.
Sesuatu di atas segala pemikiran masuk akal manusianya.
Beyond everything.
"Ryuzaki?"
Ryuzaki terbangun dari imaji-nya.
Ia mendekati komputer dan menjawab Watari.
"Terima kasih, Watari. Aku akan menunggu berita selanjutnya."
Watari pun pergi.
Ryuzaki pergi ke sofa dan duduk disana dengan pose favoritnya.
Light masih menatapi amplop putih di tangannya.
Kemudian ia menatap Ryuzaki-yang sekarang tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Lalu Light kembali menatap amplop di tangannya.
Ia memeriksanya sekali lagi, kalau-kalau ia salah lihat.
Kalau-kalau matanya hanya tertipu oleh sebuah garis atau titik.
Tapi tidak.
Ia tahu bahwa ia tidak salah.
Tanggal pada cap-post itu adalah tanggal sepuluh tahun kemudian dari sekarang.
Light menarik napas dalam.
Ia kemudian beranjak ke sofa dan ikut duduk di seberang Ryuzaki.
Sejenak mereka hanya berdiam diri.
"Ryuzaki..."
Light mencoba memanggil detektif yang tengah tenggelam dalam lamunan tingkat tingginya itu.
"Ryuzaki..."
Ryuzaki menoleh.
"Maksudku... apakah seseorang di lantai bawah tidak melihat saat si pelaku pergi dari sana? Tidak adakah saksi yang melihatnya pergi keluar dari kamarnya?"
"Kau tahu itu losmen seperti apa, Light-kun... bahkan jika mereka menyiksa seseorang di sebelah mereka, aku berani taruhan bahwa mereka tidak akan peduli. Tidak, Light-kun... si pelaku benar-benar cerdas karena memilih tempat seperti itu."
"Aku tahu... maka dari itu... aku hanya bertanya-tanya..."
"Permasalahannya adalah... siapa si pria itu? Dan apa hubungannya dengan anak tersebut. Jika mereka itu ayah anak, mengapa sang ayah mau membunuh anaknya di tempat lain, dia kan bisa saja membunuh anaknya di dalam rumahnya sendiri dan bisa tenang setelah membuang jenasahnya ke suatu tempat. Tapi mengapa ia malah menyusahkan diri sendiri dan seperti memberikan sebuah resiko bagi dirinya sendiri?"
"Benar sekali. Jadi ayah anak kita coret. Bagaimana dengan penculikan?"
"Bisa jadi, Light-kun."
"Si penculik membawa anak itu ke losmen karena ia tidak mempunyai tempat untuk menyekapnya, dan kemudian sesuatu terjadi. Katakanlah ayahnya yang kaya raya itu menolak untuk menebus sang anak, maka si penculik frustasi dan membunuhnya..."
"Dengan membabi buta?"
"Kurasa..."
"Aku rasa itu terlalu berlebihan, Light-kun..."
"Kurasa juga begitu..."
"Bayangkan jika kau menjadi si pelaku, Light-kun... mengapa kau mau melakukan hal seperti itu? Bukankah cukup bila kau menusuknya sekali saja apabila itu sudah bisa membuatnya meninggal? Tidak, itu pasti mempunyai sebuah motif... sebuah alasan yang sangat kuat sehingga si pelaku melakukan tindakan keji seperti itu..."
"Aku hanya bisa membayangkan bahwa ia pastilah sangat mabuk atau sangat marah... sehingga kehilangan kontrol... jangan lupa juga dengan fakta bahwa ia tentu saja mempunyai masalah dengan amarahnya."
"Analisis yang bagus, Light-kun..."
"Um, bagaimana jika kita kesampingkan dulu mengenai motif si pelaku... bagaimana jika kita pikirkan dulu tentang identitas si korban?"
"Kau benar, Light-kun. Aku benar-benar tidak pernah merasa bersemangat seperti ini, sekaligus juga merasa sangat takut."
"He?"
"Aku takut tidak bisa memecahkannya, Light-kun... aku sangat membenci kekalahan..."
Light menatap Ryuzaki.
"Tenang saja, Ryuzaki... kau kan L, ya kan?"
Light memberikan senyum.
Ryuzaki menatap Light dan kemudian membuang muka.
Light menyipitkan mata.
Percuma saja berbicara dengan orang yang tidak punya kemampuan sosial.
Light mendengus.
"Baik. Kita mulai dari cap-post. Apakah mungkin untuk kita membuat sebuah cap-post palsu, Ryuzaki?"
"Itu mungkin saja, Light-kun. Tapi pertanyaannya adalah, untuk apa? Apa tujuannya?"
"Aku... tidak tahu... mungkinkah untuk sekedar bersenang-senang?"
"Ayolah, Light-kun... aku sedang tidak ingin bercanda..."
"Oke, baik-baik... lihat stuasinya. Semua amplop itu tampak tua. Kecuali yang satu ini. Bagaimana dengan kemungkinan bahwa seseorang membawanya kesana? Seseorang yang baru saja membawa amplop itu ke rumah di Kislovodsk?"
"Untuk apa?"
"Itu poin yang penting."
"Catat itu, Light-kun."
"Sebuah chip di perangko... kita sepakat bahwa siapa pun yang menuliskan sebuah pesan di benda semacam itu bukanlah sebuah gurauan... sekalipun isinya ternyata mirip seperti permainan teka-teki di taman kanak-kanak..."
"Sebuah teka-teki... bagaimana jika itu adalah pesan yang sangat penting untuk seseorang, dan hanya orang tersebutlah yang bisa membacanya?"
"Maksudmu seperti sebuah sandi?'
"Tepat, Light-kun. Sebenarnya pesan di surat itu adalah sebuah sandi. Dan hanya orang yang mengerti sandinya saja yang bisa membaca pesannya. Sungguh cerdas."
"Masuk diakal. Tapi jika benar begitu, pesan itu bisa jadi adalah sebuah pesan yang sangat penting... sangat berbahaya?"
"Semua kemungkinan bisa terjadi, Light-kun."
"Kemudian... identitas... tolong katakan padaku, Ryuzaki... selama karirmu, apakah belum ada seseorang yang sama sekali tidak mempunyai identitas?"
"Tidak, Light-kun. Setiap manusia pasti memiliki data di sebuah negara tertentu. Bahkan seorang yatim piatu sekalipun."
"Aku mengerti. Maksudku... bagaimana dengan fakta bahwa ada seseorang yang dilahirkan secara diam-diam dan ia tidak didaftarkan dimana pun?"
Ryuzaki menatap Light dengan tatapan yang memberikan kesan ejekan.
"Kau terlalu banyak nonton film, Light-kun."
Light menyipitkan mata.
"Sesungguhnya yang kau katakan itu mungkin saja terjadi, Light-kun. Tapi itu sangat jarang terjadi... dan itu biasanya hanya bertahan hingga si target berusia lima tahun. Setelah itu negara pasti menemukannya dan mendaftarnya."
"Bagaimana jika ia benar-benar sebuah rahasia? Sebuah gerakan bawah tanah misalnya?"
Ryuzaki menatap Light.
Kali ini tatapannya berbicara 'berhenti bercanda, jenius.'
"Iya... iya... aku kan hanya memikirkan setiap kemungkinan..." protes Light.
"Kenyataan yang mengejutkan, huh?"
Light mendengus. "Kenapa terlalu banyak yang kita dapatkan dalam sekali pukulan?"
Ryuzaki beranjak ke meja kerja dan mengambil sebuah map.
Ia kembali duduk di sofa di dekat Light dan membuka mapnya.
Ia menarik sebuah foto dari dalam map tersebut.
Foto sang korban.
"Bocah ini bernama Edgar Hardlow. Usia sepuluh tahun. Asal Los Angeles, C.A. Dan fakta penting yang bisa kita tarik dari hal-hal tersebut hanyalah usianya saja, karena ID nya palsu. Jadi... apakah yang bisa kita ambil dari bocah sepuluh tahun ini?"
"Kau yakin dia bukan putra Presiden Amerika, Ryuzaki?" Light menyeringai sekaligus mengejek.
"Tentu saja, Light-kun... aku juga putra presiden AS... kalau kau belum tahu..." gumamnya seraya mengambil potongan pie apel dari atas meja.
Light tertawa kecil. "Menurutku anak ini bukan berasal dari Amerika, Ryuzaki... maksudku, asalnya yang sebenarnya... lihat wajahnya... sepertinya ia orang Rusia atau Jerman... atau mungkin juga orang Inggris... yang pasti wajahnya itu wajah orang Eropa..."
"Kau benar, Light-kun."
"Oh ya, apakah ada bekas tali?" Light mendekati Ryuzaki dan menatap foto di tangan detektif itu.
"Menurutmu?"
"Sepertinya tidak ada..."
"Jadi pria itu tidak mengikatnya... mengagumkan... penculik yang baik hati..."
"Jadi, Ryuzaki... menurutmu, apakah bocah ini yang meninggalkan surat itu?"
Ryuzaki tampak berpikir.
"Ia pergi ke rumah di Kislovodsk, kemudian ia diculik atau pergi dengan kemauan sendiri ke Jepang, kemudian tewas di sini... atau sebenarnya ia sudah lama meletakkan surat itu di sana..."
"Jadi kau yakin bahwa anak ini yang meninggalkannya? Terlepas dari segala situasi?"
"Aku yakin lima belas persen Light-kun."
"Baik."
Light kembali ke sofanya, dan ia kembali menatapi amplop putih itu.
"Ryuzaki... kau ingat apa yang pernah kau katakan?"
Ryuzaki menoleh ke Light.
"Kau pernah mengatakan bahwa kau tertarik dengan pesan nomor dua... tentang teori waktu..."
Ryuzaki mengeluarkan reaksi terkejut yang halus.
Matanya yang besar menatap langit-langit dan kemudian ia bangkit dan meraih laptopnya.
Ia kembali duduk dan membuka sebuah browser internet.
Light memperhatikan.
Ia memperhatikan saat Ryuzaki membuka sebuah search engine dan mengetikan kata kunci.
'Paradoks waktu'
.
Phase Two: The Theory
Mesin pencari bekerja.
Tak lama hasil yang diinginkanpun muncul.
"Aku sudah tahu sebelumnya, hanya ingin menegaskan saja..."
"Apa? Paradoks?"
"Ya. Teori paradoks waktu."
"Kau berbicara tentang masa depan? Kupikir kalaupun bocah itu menuliskan tentang teori waktu, hal itu pasti mempunyai arti lain yang maknanya berkaitan dengan hal itu... tapi... Ryuzaki, kau membacanya secara gamblang?"
"Benar. Aku membacanya secara gamblang."
"Oh, come on!"
"Ingat tentang tanggal di cap-post itu, Light-kun... dan juga tentang teknologi yang kita temukan... dan tentu saja, identitas si korban... ini layak diperhitungkan, Light-kun."
"Kau berbicara tentang hal yang tidak masuk akal, Ryuzaki! Ini buang-buang waktu! Aku percaya bahwa segalanya bsia dijelaskan secara ilmiah! Tidak ada kaitannya dengan hal-hal seperti itu!" Light berseru frustasi.
Ia hanya tidak siap menghadapi semua misteri ini.
Ia tidak siap menantikan hal yang akan datang kepadanya.
Ryuzaki tidak memedulikan ocehan Light.
Ia nampak asyik dengan temuannya.
"Mau tahu atau tidak, Light-kun? Kalaupun memang semua ini hanyalah sebuah misteri normal yang hanya tampak supernatural, tapi tidak ada salahnya kan mempelajari sebuah pengetahuan baru?"
Light diam sejenak sebelum ia kemudian menghampiri Ryuzaki dengan wajah merengut.
"Paradoks adalah sebuah jaringan, Light-kun. Paradoks tidak hanya berbicara tentang masa depan saja. Paradoks adalah keseluruhan skenario di rentang kehidupan di alam semesta ini... sejauh yang kita-manusia-ketahui tentunya..."
"Aku tahu sedikit banyak tentang hal itu..."
"Jadi, sebuah paradoks itu bersifat tetap. Kita ambil satu contoh. Kau pada saat ini mengambil sebuah selai. Dan saat itu, kau menyadari ada seseorang yang mengintipmu melalui jendela. Namun, orang itu telah pergi sebelum kau sempat melihatnya. Maka di masa depan saat kau mampu bepergian dalam ruang waktu, kau akan kembali ke waktu di masa lampau saat kau melihat ada orang yang mengintipmu melalui jendela saat mengambil selai. Dan saat kemudian kau akhirnya pergi ke waktu itu, maka, kau akan dengan sangat terkejut mengetahui bahwa dirimu sendirilah yang sesungguhnya mengintip saat itu-di masa lampau. Kau akan segera pergi sebelum dirimu di masa lampau itu mengenalimu. Itulah paradoks, Light-kun. Segala yang telah terjadi itu tetap dan tidak bisa diubah."
"Teori yang menarik."
"Walau sampai sekarang itu hanya sebuah teori, karena tentu saja kita-manusia-belum mampu bepergian dalam ruang waktu, tapi itu tetap teori yang sangat menarik"
"Tentu saja."
"Lalu..."
Ryuzaki melakukan repetisi pada mesin pencari dan kemudian mengetikan kata kunci lainnya.
Mesin bekerja dan sebentar saja hasil yang diinginkan muncul.
"Ini Ligh-kun... adalah kebalikannya... ah, bukan kebalikan sebenarnya... tapi sebuah teori lain yang lebih 'liar'."
Light tampak tertarik.
"Many world interpretation?" Light membaca.
"Ya. Sebuah teori waktu yang jauh lebih rumit jika dibandingkan dengan sebuah paradoks."
"Jelaskan."
"Teori ini mengatakan bahwa kita-manusia dan mungkin juga seluruh makhluk di alam semesta ini-hidup dalam bermilyar-milyar dimensi, bahkan lebih dari itu, Light-kun."
"Dimensi yang berbeda? Aku rasa aku mengerti... tapi... bagaimana teori ini bsia mengatakan tentang hal tersebut?"
"Aku beri contoh. Jika kau saat ini berencana akan ke sebuah tempat, Light-kun, kau pasti sudah punya bayangan kan jalan mana yanng akan kau lewati? Nah jalan itu tentunya bukan hanya satu-satunya saja kan? Ada banyak jalan yang seharusnya bisa dilewati. Misalnya saja, saat kau keluar rumah, kau memutuskan akan berbelok ke kanan, maka kau akan berbelok ke kanan, kan? Tapi tidakkah kau sadari bahwa sesungguhnya saat kau tengah berada di persimpangan itu, bermilyar-milyar dimensi sudah mengantri di depanmu?'
Light terdiam.
"Ya. Kau bisa saja kan berbelok ke kiri... jadi saat kau berada di persimpangan, kau akan menciptakan milyaran dimensi yang berbeda tergantung dari tindakan yang akan kau lakukan. Termasuk apabila kau ingin melangkahkan kaki kiri terlebih dahulu atau kaki kanan. Segala tindakan kita itu akan menciptakan bermilyar-milyar dimensi, Light-kun... dan tentunya milyaran dimensi itu akan menciptakan milyaran dimensi lainnya... terus seperti itu... dan saat kita mampu melakukan perjalanan dalam ruang waktu, aku rasa kita akan bertemu milyaran diri kita di dimensi yang berbeda."
"Jadi... misalnya... aku bisa saja bertemu dengan diriku yang berbelok ke kiri atau ke kanan atau bahkan tewas tertabrak kendaraan saat mengambil jalan lurus?"
"Tepat sekali."
"Menarik sekali."
"Dan jangan lupa bahwa perpindahan dimensi disini bukanlah berarti bahwa kita mengalami pindah waktu dari masa sekarang ke masa lampau atau masa depan... kita hanya melakukan pindah tempat saja, Light-kun..."
"Tapi kurasa, mungkin bisa juga berpindah masa, Ryuzaki..."
"Kemungkinan itu bisa."
"Ini benar-benar dahsyat..."
"Satu lagi... lihat ini... sesungguhnya waktu itu linear. Tidak ada masa depan dan masa lampau. Sesungguhnya kita semua mengalami sebuah perpindahan dimensi. Kita semua mengalami sebuah perjalanan waktu selama kita hidup. Musim terus berputar, begitu juga dengan jam dan hari. Sesungguhnya tidak ada masa lampau dan masa depan. Semua hanya bergerak berulang-ulang saja. Dan kita semua hanya melakukan perjalanan waktu. Dari saat kita masih kecil hingga beranjak dewasa... itu semua adalah kita yang berpindah dimensi, berpindah dalam ruang waktu. Dan bukan waktu yang seolah-olah berjalan."
Light tampak termenung.
"Menarik, kan, Light-kun?"
"Aku berharap... semua ini tidak berkaitan dengan apa yang sedang kita hadapi, Ryuzaki... karena jika ya, aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa... mengetahui tentang definisi tentang ini saja aku sudah merasa tidak berdaya..."
"Aku pun berharap seperti itu, Light-kun."
Mereka saling memberikan tatapan penghiburan dan kemudian mereka tertawa.
"Tapi teori yang mana yang menurutmu lebih ditekankan oleh si bocah, Ryuzaki?"
Ryuzaki tidak menjawabnya.
Light pun tidak mengetahui jawabannya.
Sisa hari itu dilewati mereka dengan beristirahat.
Mereka membeli makan malam mereka di Mc D.
Light tidur pukul sebelas.
Dan ia tidak tahu pukul berapa Ryuzaki tidur.
Atau mungkin saja orang itu sama sekali tidak tidur.
Sama seperti hari-hari sebelumnya.
Saat segalanya masih tampak normal.
Light-entah kenapa-mulai merindukan gedung penyidikan dan juga rumahnya.
.
Phase Three: Another
[Keesokan harinya, The Hotel 10:55]
Hal itu bermula saat Light tengah memeriksa foto TKP.
Light tengah memeriksa foto yang memperlihatkan namanya di cermin toilet losmen.
Ryuzaki tengah asyik memeriksa foto korban.
Lagi.
Light kembali menatap foto di komputernya.
Light memfokuskan dirinya untuk mengamati segala hal yang berada di dalam foto tersebut.
Segalanya.
Sekecil-kecilnya.
Ini adalah salah-satu bukti yang memberatkan dirinya selain dari sidik dari di tubuh korban.
Setidaknya dari bukti ini ia harus menemukan sebuah petunjuk lain.
Tentu saja ia berharap sebuah bukti yang menggugurkan teori bahwa ia adalah pelakunya.
Light was-was.
Dan saat kemudian Light merasa menemukan sebuah petunjuk, hal itu dimulai.
Suara dering telepon.
Ryuzaki dan Light serempak menoleh ke arah telepon kamar.
Ryuzaki kemudian mengaktifkan penyadap dan speaker yang disamungkan ke komputernya.
Ada kira-kira tujuh detik sebelum akhirnya Light mengangkat telepon itu.
"Ya?"
Mereka sangat berharap bahwa panggilan itu dari pengelola hotel.
Tapi, sayangnya, mereka salah.
Suara di seberang sana adalah suara yang dikenal Light.
Suara seorang gadis.
"Light..."
Light membelalakan matanya.
"Misa?"
.
"Light..."
"Misa?"
Ryuzaki membeku.
Hanya ada 0,001 persen kemungkinan Misa mengetahui dimana posisi Light sekarang.
Dan apabila gadis itu tahu, itu berarti dua kemungkinan.
Buruk dan buruk.
Light mempersiapkan dirinya untuk kejutan yang akan segera datang kepadanya.
"Misa? Bagaimana kau tahu-"
"Light..."
Light terpana.
Ia yakin bahwa suara itu adalah suara gadis yang ia kenal.
Gadis yang ia tahu sangat mencintainya.
Gadis yang merupakan misteri terbesar di dalam kehidupannya belakangan ini.
Namun Light benar-benar terpaku mendengar suara Misa.
Sebuah ekspresi yang jelas.
Sama sekali tidak dapat disembunyikan.
Suara itu ketakutan.
"Misa? Apa yang terjadi? Mengapa kau mengetahui-"
"Light... tolong Misa... Misa takut..."
Kemudian terdengar suara Misa yang menjerit kecil.
Hening.
Suara keributan di kejauhan-suara seseorang yang merebut telepon dari Misa.
Hening.
Kemudian... Light bersumpah ia mendengar suara itu lagi!
Desahan yang sama.
Seperti yang ia pernah dengar sebelumnya.
Suara desahan yang berat dan kasar.
Terdengar sangat jelas.
Light tidak mendengarnya.
Ia merasakannya.
"Halo..."
.
Light menekan perasaan ingin melempar telepon di tangannya jauh-jauh.
Walau ia benar-benar merasa ngeri, tapi ia bertahan.
Ia bukan seorang pengecut, kan?
Kalaupun akhirnya jawaban semua ini datang, walau seperti apapun, ia harus mengahadapinya.
Harus.
Light memberanikan diri menjawab panggilan itu.
Ia menatap Ryuzaki seraya berkata, "Siapa ini?"
"Kita bertemu lagi. Tolong jangan bertanya siapa aku atau darimana aku atau apa mauku, karena aku akan segera menjelaskannya padamu. Bukankah waktu itu aku sudah katakan aku ingin mengatakan sesuatu padamu? Nah, sekarang aku akan dengan senang hati menjawabnya." suara berkeresak mirip seperti plastik yang diinjak.
Namun ini jauh lebih mengerikan.
"Baik. Tapi jika kau berpikir dapat melakukan hal-hal yang buruk, kuberi tahu, kau hanya bermimpi." tegas Light.
Ia tertawa.
"Tentu saja. Aku tidak akan macam-macam terhadap buronan polisi sepertimu."
Light mengumpat.
"Dengar, datanglah ke kamar nomor 21, kamar itu tepat berada di bawah kamarmu sekarang. Oh iya, kurasa temanmu boleh ikut jika ia mau. Kau mendengarku kan, teman buronan? Aku menunggu kalian."
Sambungan terputus.
Light dan Ryuzaki refleks saling menatap satu sama lain.
"Fakta satu: dia tahu dimana kita berada." kata Ryuzaki berbisik.
"Fakta dua: dia tahu kita memakai penyadap di telepon." kata Light menyambung.
"Fakta tiga: dia tahu siapa kau, Light-kun, buktinya dia mendapatkan Amane."
"Fakta empat: dia juga sepertinya mengenalmu, Ryuzaki... kau harus hari-hati."
"Fakta lima: tujuh puluh persen dia adalah si pelaku."
"Fakta enam: 75 persen dia memang orang yang kutemui di Akihabara."
"Fakta tujuh: dia sangat cerdas sehingga menggunakan tempat pertemuan sedekat ini dengan kita."
"Fakta delapan: aku yakin bahwa ia bukanlah orang baik-baik."
"Fakta sembilan: aku yakin tujuannya bukanlah untuk mentraktir kita makan siang di Mc D."
Light menatap Ryuzaki dalam-dalam sebelum kemudian berbisik,
"Fakta sepuluh... aku yakin bahwa ia ingin membunuhku, Ryuzaki..."
.
Mereka keluar kamar dan menuju lantai bawah.
Satu lantai di bawah mereka.
Lift berguncang pelan dan kemudian berhenti.
Mereka berjalan ke kamar yang dituju.
Saat menatap pintunya, Light benar-benar mendapatkan firasat buruk.
Sangat buruk.
Ia bahkan sempat memutuskan untuk berbalik dan kembali ke mamarnya di lantai atas.
"Ingat Amane-san, Light-kun. Kau tahu kan bahwa pria itu bukanlah orang yang baik. Kau mau meninggalkan Amane bersamanya?"
Light mengumpat.
"Ayo kita hadapi, Light-kun."
Light berdiam sejenak.
Kemudian ia mengetuk pintu di depannya.
.
Terdengar sebuah suara dari dalam.
Samar-samar.
"Masuk."
Light tahu siapa yang menjawabnya.
Light menekan handel pintu dan menariknya ke dalam.
Di dalam temaram.
Light dan Ryuzaki melangkahkan kaki ke dalam ruang di depannya.
"Masuk dan tutuplah pintu itu..."
Pria itu berbicara. Tapi ia tidak kelihatan.
Mungkin berada di dalam kamar. Atau dapur.
Suaranya memang tampak teredam.
Light menuruti perkataan itu.
Ryuzaki tampak awas.
"Anggap saja rumah sendiri..."
Suara berat dan kasar itu terdengar lagi.
Light ingin sekali menutup telinganya.
Suara itu mirip seperti suara seseorang yang menggaruk kuku di sebuah papan tulis.
Sangat mengganggu.
Dan juga mengerikan.
"Ah... baik sekali kau mau datang..."
Light menatap sesosok tubuh keluar dari dalam kamar.
Dari sudut matanya, Light melihat Ryuzaki menggigit bibir bawahnya.
"...Yagami Light..."
Orang itu pun keluar dari bayang-bayang.
.
Pria itu jelas-jelas adalah pria yang ditemui Light di Akihabara.
Ia tinggi, berpostur ramping dan bermata hijau terang.
Matanya itu tampak bersinar di tengah cahaya yang redup.
Ia memiliki style berpakaian yang sangat baik.
Light dapat mengenali blus ber-merknya dan juga celana jeansnya yang berkualitas bagus.
Semua atribut yang dipakainya di Akihabara dilepasnya, kecuali satu hal.
Syal di sekeliling lehernya.
Pria itu berusia sekitar dua puluhan.
Penampilannya sangat elegan.
Kulitnya putih bersih.
Rambut silvernya yang lurus jatuh di sekitar wajahnya yang rupawan.
Ia bersandar pada pintu di belakangnya.
Menatap Light dan Ryuzaki dengan penuh percaya diri.
Ia tersenyum.
"Sebelumnya..." ia bergerak mendekati Light dan Ryuzaki, "ada yang ingin kuberitahukan... pertama, kalian cuma membuang-buang waktu saja jika kalian memutuskan untuk berteriak, kedua kalian juga hanya akan bermimpi jika mengira polisi akan datang ke tempat ini... lagipula apabila melihat posisimu sekarang, kau tentu akan bersikap bijak kan, Light?"
Light berjengit.
Ia hanya tidak suka pria ini menyebut namanya.
Apalagi dengan suaranya yang seperti itu.
Dan satu hal lagi, what-in-the-world-this-man-could-called-me-by-my-first-name-anyway?
Light merasa terserang migrain.
"Kemudian... kalian hanya perlu duduk dan mendengarku saja... oh iya, ingat juga gadis yang ada di dalam..." ancam pria itu.
"Jadi, kenapa kalian masih berdiri seperti orang tolol disana? Ambil kursi dan duduklah.."
Light menuruti dan ia duduk di sofa.
Ryuzaki bergerak mengikuti Light dan ikut duduk di sebelahnya.
Pria itu tampak puas.
Ia kemudian mengambil tempat di seberang mereka.
Setelah menatap Light dalam-dalam, pria itu memulai upacaranya.
"Well... satu hal lagi... kuharap kalian tidak terkejut dengan apa yang akan kalian dengar..."
Pria itu tersenyum.
.
"Baik... sebenarnya kita bisa berbicara dengan baik seperti ini, kan Light? Kau ternyata masih seperti itu... sama sekali tidak berubah..." pria itu tertawa.
Rupanya orang ini sudah gila.
Light mengernyit.
"Hei, bisakah kau hentikan kegilaanmu dan katakan apa yang mau kau sampaikan kepada kami? Atau kau lebih suka bila aku memanggil polisi dan menangkapmu? Kau kan yang membunuh bocah di losmen itu? Leofrey Headrhey?"
Pria itu terdiam seketika.
Ia melirik Light dengan sudut matanya.
Wajahnya berubah keras.
Sedetik kemudian ia kembali tertawa.
"Tolong jangan sebut-sebut bocah tolol itu... aku ingin membunuh seseorang jika aku mengingatnya..."
"Jadi benar?" tuntut Light.
"Hei! Kurasa kau sudah lupa aturannya, tuan sok pintar? Aku yang akan berbicara disini! Bukan kau!"
Light menelan liurnya.
Ryuzaki memberikan isyarat untuk bersabar kepada Light.
"Baik... kurasa sudah waktunya kau harus tahu..."
Pria itu menelengkan wajahnya ke kanan, kemudian ke kiri kemudian ke kanan lagi.
"Aku mulai bosan... tapi kuharap ini yang terakhir..." gumamnya kepada dirinya sendiri.
Pria itu menundukkan kepala dan sejenak terdiam sambil tersenyum.
Setelah detik-detik yang asing lewat, ia mendongak dan menatap Light lurus dan dalam.
"Sebelumnya, perkenalkan dulu..."
Pria itu menyeringai.
Ia mengulurkan tangannya ke arah Light.
"Yagami Light."
.
Light tampak tertegun.
Ha?
Orang ini bodoh atau memang tidak tahu cara berkenalan?
Bukankah seharusnya saat kita berkenalan itu, kita menyebutkan nama kita alih-alih nama orang yang akan kita kenal tersebut?
Tetapi kenapa orang ini...
Light merasakan ledakan tawa dari dalam tubuhnya, tapi sekaligus juga ia dapat merasakan sebuah aliran yang lain dari dalam adrenalinnya.
Ia merasakan mimpi buruk yang akan segera terjadi.
Aneh, kan?
Tidak, tidak aneh.
Light sama sekali sadar.
Ia sadar sepenuhnya.
Ini bukanlah waktu untuk berkelakar.
Ia tahu itu!
Dan pria di depannya ini juga tidak sedang berkelakar!
Sangat kecil kemungkinannya bahwa pria berpenampilan elegan ini tidak tahu cara berkenalan.
Tapi, kenapa ia melakukan cara berkenalan yang sangat konyol?
Menyebutkan nama orang lain saat mengulurkan tangan?
Tapi justru hal ini yang membuat bulu kuduk Light meremang.
Orang ini tidak bodoh.
Ia bahkan mungkin adalah orang paling cerdas yang ditemui Light setelah L.
Jadi, apa maksudnya dengan menyebutkan nama 'Yagami Light' tadi?
Light memaksa otaknya bekerja sepuluh kali lebih keras.
Tentu saja ia sudah tahu jawabannya.
Light hanya berusaha mencari sebuah kemungkinan lain yang persentasinya jauh lebih kecil.
Mencari sebuah alasan konyol yang mungkin bisa menyelamatkannya dari situasi mengerikan yang sudah bisa ia cium.
Ia sesungguhnya sudah tahu apa artinya.
Hanya saja pikirannya tidak mau menerimanya.
"Yagami Light." kata si pria.
Light masih tertegun.
Pria itu tertawa.
"Sudah kuduga... hhh... sudahlah..." pria itu menarik tangannya.
"Kau... bukan lelucon, kan?"
Suara Ryuzaki.
Pria itu menatap Ryuzaki.
"Ya. Aku bukan lelucon, Ryuzaki... sama sepertimu yang juga bukan lelucon..." jawab si pria.
Ryuzaki merasakan seluruh tubuhnya menegang.
"Kau..."
Light tahu sekarang.
Suara itu.
Pantas saja ia merasa seperti mengenalnya.
Saat ia terserang flu yang keras di masa kanak-kanaknya, ia sempat mendengar suaranya sendiri.
Sebuah masa lalu yang menyelinap di antara kesadarannya.
Pria itu-yang ditemuinya di Akihabara-adalah orang yang ia kenal.
Orang yang jauh ia kenal dari siapa pun juga.
Pria berpenampilan elegan di depannya itu adalah...
Dirinya sendiri.
Karena suara itu adalah suara yang sangat ia kenal.
Suaranya sendiri.
.
Phase four: 29
Entah dari sebuah kenyataan yang tidak dimengertinya, atau dari sebuah perspektif yang mustahil, orang di depannya itu adalah Yagami light.
Dirinya sendiri.
Light merasakan seluruh tubuhnya berguncang.
Ia mulai merasakan kakinya lemas.
Kemudian ia merasa ingin muntah.
"Tenanglah... kau sudah tahu kan siapa aku... maka kau mengenalku, kan?"
"Aku tidak percaya... aku sungguh tidak mempercayainya... tapi aku tahu bahwa kau nyata... aku tahu kau adalah seseorang yang kukenal..." kata Ryuzaki tercekat.
"Itu detektif hebat." kata pria itu puas.
"Oh ya, cat rambut yang bagus, Light-kun... begitu juga dengan lensa kontaknya..." kata Ryuzaki.
Pria itu tertawa sejadinya.
"Wah, wah... dasar L... selalu saja teliti... eits, tapi tunggu dulu... kau harus merubah panggilanmu itu, sebelum aku hilang kendali dan membunuhmu..."
Light tahu ada yang tidak beres disini.
Ia tahu bahwa orang di depannya ini adalah-dengan-cara-yang-tidak-mungkin-Yagami light, tapi mengapa ia tampak begitu lain dari dirinya sendiri?"
Dari awal, Light sudah menyadari ada yang berbeda dari pria ini.
Sesuatu yang tampak menonjol dari segala yang dimilikinya.
Itu adalah sebuah 'kekejaman'.
Pria ini jelas-jelas memiliki hati yang sangat jahat.
Light tahu itu, walau ia sangat bersedih akan hal itu.
"Tidak..."
Ryuzaki dan si pria menatap ke arah Light.
"Aku tidak percaya... kau pria sialan..." suara Light bergetar.
"Sudah kuduga... hhh, diriku yang keras kepala..."
Pria itu bangkit berdiri dan beranjak ke tempat Light.
Light terpaku.
Pria itu mendekati Light.
Ia berlutut di depan Light.
Pria itu melirik Ryuzaki sekilas.
Ia tersenyum.
Kemudian, ia menatap Light lurus di matanya.
"Aku adalah Yagami Light. Lahir di Tokyo, 28 Februari 1986. Menyelesaikan perguruan tinggi di Universitas Tokyo. Dan kemudian menjabat sebagai Kepala Inverstigasi di kepolisian pusat, menggantikan ayahku."
Light menatap orang di depannya dengan ngeri.
"Aku terlibat dalam kasus yang dinamakan Kira saat masih berusia sembilan belas tahun," pria itu melirik Ryuzaki, "dan seseorang yang mengaku sebagai L-detektif tersohor di dunia-menahanku bersamanya."
Light tidak bergeming.
Pria itu meraih lengan kiri Light.
"Kau masih belum percaya? Mau mendengar lebih banyak lagi tentang masa depan?" ia menyeringai.
Light mengernyitkan dahinya.
Ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari pria di depannya itu.
Pria itu kemudian tersenyum. Senyum yang sangat jahat.
"Aku berhasil membunuh L..." ia kembali melirik Ryuzaki, "dan kemudian menguasai namanya... kemudian muncul penerusnya... dan aku kembali berhasil menjatuhkannya... kemudian..."
Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Light.
"...aku menguasai dunia... dengan menjabat sebagai pimpinan tertinggi kepolisian di Jepang, dan seluruh institusi hukum di dunia ini tunduk kepadaku..."
Light kini menunjukkan wajah seperti sehabis dipukul.
"Maka sekarang, aku, Yagami Light, usia 29 tahun, menjabat sebagai sesosok dewa di bumi yang fana ini..."
Keheningan yang mencekam jatuh di ruangan itu.
.
"Sh... shit... f*ckin shit... si... siapa kau... sebenarnya..." kata Light terbata-bata.
Pria itu mencengkeram lengan Light dan memaksakan jari-jarinya menyentuh wajah pria di depannya itu.
"Rasakan... kau bisa merasakannya? Ha? Tubuh yang sama, kulit yang sama... roh yang sama..."
Seketika Light melepaskan dirinya dari pria itu.
Ia bangkit berdiri dan berseru, "Omong kosong!"
"Oh ya, ada satu hal lagi yang belum kau ketahui... aku, kau, adalah Kira."
Light membelalakkan matanya.
"Oh ya... kau tidak akan kaget setelah menyentuhnya nanti..."
Ryuzaki berdiri. "Aku tahu itu."
"Wah, iya... aku hampir lupa kau ada disini... habisnya kau sudah mati bagiku.. ah, maaf. Tapi tidak di dimensi ini ya.."
"Jadi... teori itu benar..."
"Hei, jangan berani-berani berpikir ke sana Sherlock! Kau akan menghancurkan otakmu yang jenius itu..." pria itu tertawa.
"Baiklah, aku muak dengan basa basi. Aku akan menjelaskan segalanya. Silahkan duduk manis, tuan-tuan."
.
"Kita mulai dari satu hal yang paling penting. Kau, Ryuzaki... L... kau sudah mati bagiku... di dimensiku tentunya, dan bagiku kau selalu akan seperti itu, maka kau jangan bermimpi untuk mengalahkanku. Kemudian aku ingin mengatakan bahwa aku adalah Kira. Ya, kau dengar itu L? Kau puas kan? Aku adalah Kira. Si pembunuh serial itu."
"Tidak! Hentikan omong kosongmu!" Light menjerit frustasi.
"Diam kau landak kecil! Aku sedang membelamu disini!" kata si pria menghardik Light.
"Oke, aku teruskan. Nah, L... kau bisa dengan mudah memilih duduk diam dan melihatku beraksi atau kau akan mengalami kematian lagi, walau kini di dimensi yang berbeda tentunya, tapi tetap saja bagiku."
"Teruskan. " kata Ryuzaki.
Ia tegang.
Ia tidak bisa menyembunyikan itu.
"Teori waktu itu benar adanya. Tapi yang kukenal bukanlah sebuah paradoks. Ya, tepat sekali. Many world interpretation."
"Sudah kuduga..."
"Dunia ini memiliki bermilyar-milyar dimensi dan aku telah menyusuri sepersekian bagiannya... dengan tujuan tertentu pastinya. Dan aku katakan bahwa tujuanku itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Kira. Ini sama sekali adalah bisnis yang lain. Aku datang hanya untuk berurusan dengan diriku sendiri. Diriku di dimensi ini."
Hening. Pria itu melanjutkan.
"Aku, Light, adalah Kira, dan kau, L... L Lawliet..."
Ryuzaki tidak mampu menyembunyikan suara tercekatnya.
"... telah kukalahkan... oh ya aku tahu namamu, aku sudah melihatnya..." ia menyeringai. "...maka kau sudah bukan apa-apa lagi bagiku. Harap kalian tahu, dimensi di kehidupan ini banyak sekali, namun, tetap saja berhubungan. Mereka semua memiliki konjugasi yang berhubungan. Dan terkadang dimensi yang satu dengan dimensi yang lain memiliki sebuah perbedaan yang berakibat sangat fatal terhadap ending di sebuah cerita di masing-masing dimensi. Sebuah awal yang hanya berbeda satu bab saja..."
Masih hening.
"Jadi kurasa cukup bocoran masa depannya tuan-tuan... que sera-sera, the future not yours to see, gentlement... but for me..."
"Baik, Light-kun... katakan apa tujuanmu..."
"Ryuzaki, berhenti memanggilnya begitu..."
Ryuzaki menatap Light.
Ia tampak prihatin dengan anak muda itu.
Ia tahu bagaimana perasaan Light.
Light yang ada bersamanya memiliki hati yang belum dipenuhi oleh kebusukan... setidaknya itu yang dipikirkannya, dan bila seorang manusia diperhadapkan oleh masa depannya sendiri, terlebih lagi itu adalah dirinya yang sangat bertentangan dengan idealismenya, maka itu adalah hal yang paling kejam yang pernah dirasakan oleh seorang manusia.
Ya, Ryuzaki tahu bahwa orang di depannya ini benar-benar berbeda dari Light yang dikenalnya selama ini.
Walau ia yakin bahwa Light adalah Kira, tapi ia masih berpikir bahwa Light itu hanyalah seorang muda yang masih labil.
Masih mencari jati dirinya.
Salahkan saja percaya dirinya yang terlalu kuat.
Tapi, yang berdiri di depannya saat ini bukanlah Yagami Light yang dikenalnya.
Ia adalah sesosok iblis.
"Oke. Aku akan langsung ke tujuan."
Light menatap pria di depannya.
Aku adalah Kira?
Aku adalah si penjahat sakit jiwa itu?
Jadi itu mengapa aku mengalami hilang ingatan?
Apakah ada hubungannya dengan Kira?
Pastinya!
Lalu jika benar begitu, dengan apa aku melakukannya?
"Sebentar..." Light berbisik.
Memotong ultimatum yang akan dikatakan si pria.
"Jika benar kau adalah Kira... bagaimana caranya kau melakukan hal itu?"
"Tentu saja! Kau mau tahu kan?" kata si pria sambil melirik Ryuzaki.
"Baik! Dengarkan aku, L. Ini masa depan yang akan kau dengar... setidaknya di dimensiku. Aku melakukan semua pembunuhan itu menggunakan Death Note. Sebuah buku yang dijatuhkan dewa kematian. Dengan itulah aku mengatur segalanya. Dan saat ini-sembilan belas tahun, diriku mengalami masa-masa hilang ingatan terhadap benda itu, karena aku melepaskan kepemilikannya. Dan aku melakukan semua itu bukan tanpa tujuan. Itu termasuk dalam rencana brilianku. Dan sayangnya aku tidak bisa memperlihatkan buku itu pada kalian karena saat ini buku itu berada di bank di Swiss di dimensiku tentunya..."
"Kau berbicara tentang hal-hal yang luar biasa... bisakah kau menjelaskannya? Setidaknya katakan mengapa kau membunuh bocah itu?"
Si pria melirik Ryuzaki dengan tatapan marah.
"Kubilang diam! Aku yang berhak bicara disini!"
Ryuzaki terdiam.
"Bisa aku teruskan?"
Ryuzaki mengangguk.
"Light... sebenarnya aku hanya ingin bertemu denganmu... urusanku di dimensi ini hanya denganmu... dan aku tidak akan membiarkan semua rencanaku berantakan, apalagi gagal... kau yang paling tahu dirimu sendiri, Light..."
Light merasa jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat.
"Baik. Sekarang serahkan padaku." pria itu mengulurkan tangannya.
Light terpana.
Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud si pria.
Si pria tampaknya mulai bosan mengulurkan tangannya tanpa sambutan.
"Light..."
Light memperlihatkan pandangan tak mengerti.
Pria itu mengubah air mukanya.
Mereka melihat aura dingin yang tiba-tiba saja keluar dari tubuh si pria.
"Jadi... kau masih mau membohongiku, hah?" tanya si pria pelan.
Ia mendekati Light dan meraih tenggorokannya pelan.
"Dengar, Light... aku adalah dirimu sendiri... walau kita berbeda dimensi, tapi kita itu satu... satu pikiran, satu tujuan... jadi, kau mau kan menolong dirimu sendiri mencapai tujuanmu?"
Pria itu menekan tenggorokan Light perlahan.
"Walau ada sebuah perbedaan antara kita, namun itu adalah perbedaan yang tidak berguna. Kau itu aku... aku adalah kau..."
Kini pria itu meremas rambut Light dan menariknya dengan kasar.
Light mengernyit dan menutup matanya.
Ryuzaki bisa merasakan sebuah kepedihan yang dalam merayapi tubuh Light.
Pemuda itu tengah dikhianati oleh dirinya sendiri.
"Hei... lepaskan dia..."
Si pria menatap Ryuzaki.
Ia kemudian melepaskan Light dan berjalan menjauh.
"Oke... begini saja... aku akan memberikan kalian waktu... jika sampai besok kalian tidak juga memberikan apa yang kuminta... jangan salahkan aku bila aku benar-benar menghabisi seseorang di sini..." ia menatap Light dan menyeringai. Kejam. "Tentu saja berikutnya aku akan memilih seseorang yang lebih berharga daripada pelacur itu..."
Pria itu melangkah menuju meja dan mengambil ranselnya.
Cara yang sama dengan Light memanggul tasnya.
"Aku akan memberikan petunjuk berikutnya." katanya seraya membuka pintu ruangan.
"Dan ingat... kalian harus sudah membawanya... jika tidak mau melihat... um, Sayu? Ibumu? Hancur berkeping-keping... sampai jumpa."
Ia pun berlalu.
.
Phase Five: Reload
Ryuzaki masih harus menyadarkan Light yang shock.
Kemudian, saat Light mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan mampu berjalan, mereka beranjak mendekati pintu kamar.
Ryuzaki membukanya dan mereka menatap Misa di dalamnya tengah bergelung dengan tubuh gemetar.
Light menghampirinya.
Misa menoleh ke arah Light. Ada jeda sejenak sebelum ia kemudian merangkul Light dengan tangan gemetar.
Wajahnya tampak tidak berbeda dari Light.
Ia shock.
Misa langsung menangis di dalam dekapan Light.
Light mengelus kepalanya lembut.
Menenangkan gadis itu dari ketakutannya.
Light memang tidak memercayai apa yang baru saja terjadi, namun, ia benar-benar tahu bahwa pria itu adalah Yagami Light.
Tidak bisa ia sangkal.
Pria itu adalah dirinya sendiri di lain dimensi.
Seperti yang diakuinya.
Light tahu ia punya firasat buruk tentang semua ini di awal kejadian.
Dan ia kini harus menghadapinya.
Benar kata Ryuzaki.
Ryuzaki.
Orang itu mengatakan bahwa Ryuzaki akan meninggal.
Apakah ia yang telah membunuhnya?
Apakah ia yang akan membunuhnya?
Dengan mendengar perkataan itu, seharusnya ia menjadi sangat takut, namun, Light angkat topi untuk detektif itu.
Ia bahkan tidak gentar.
Ia tahu bahwa takdirnya mungkin akan buruk, tapi ia tetap dengan kuat menghadapinya.
Tapi Light benar-benar merasa kecewa dengan dirinya sendiri.
Ia selama ini bersikeras bahwa dirinya bukanlah Kira, tapi!
Sekarang seseorang yang mengaku dirinya di masa depan di lain dimensi, jelas-jelas mengatakan itu di depan dirinya sendiri!
Juga di depan sang detektif yang menuduhnya.
Sungguh sebuah hal yang sangat kejam.
Misa masih menangis.
"Light..."
Light menunduk menghadap Misa.
"Dia... pria itu... mengatakan kepadaku... ia berbisik padaku tentang hal-hal yang menakutkan..."
"Apa, Misa? Dia bilang apa?"
Light mempersiapkan dirinya mendengar sebuah omong kosong lain.
"Dia bilang Misa tidak seharusnya takut padanya... karena Misa adalah istrinya... apa yang ia katakan? Misa kan akan menjadi istri Light kan? Iya kan?"
Light menenangkan Misa.
Seraya menunggu Misa berhenti menangis, Light dan Ryuzaki tidak putusnya saling menatap.
Berkomunikasi dalam bahasa yang asing.
Namun saling mereka pahami.
Sudah waktunya memikirkan rencana selanjutnya.
Jika apa yang dikatakan si pria itu benar, maka Light tidak boleh menganggap remeh setiap perkataannya.
Siapa yang paling mengenalnya?
Bukankah Light sendiri?
Dan ia tahu membedakan kapan saat dirinya serius dan kapan saat dirinya sedang bercanda.
Light tahu bahwa pria berusia 29 tahun itu tidak sedang bercanda.
Dan saat tidak sedang bercanda, ia benar-benar sangat berbahaya.
To Be Continue
Author's: Tentang teori waktu, saya membuatnya menggunakan kata-kata sendiri. Namun hal itu memiliki makna yang mirip dengan pemahaman teori yang sebenarnya.
Oh ya, memang saya sangat mencintai tema tentang teori waktu.
Itu sangat mengasyikan. ^_^
Fic oneshot saya yang bertemakan tentang paradoks waktu berjudul 'Chess is about' dan cerita ini adalah opposite-nya.
Lol
Okeh, bagaimana, sekarang pembaca sudah tahu, bukan? Atau malah bingung? Hehe...
Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada yang sudah meluangkan waktunya membaca cerita ini. Dan untuk chapter-chapter ke depan, kejutannya masih akan muncul kok. Hehe... ditunggu saja.
Thanx for read and review.
