FF ini sebenernya di buat untuk kontes, namun terhenti karena ada beberapa masalah. Salah satunya adalah, terhenti pembuatannya di karenakan sidang JYJ yang memenangkan tuntutannya atas manajemen mereka yang terdahulu. Aku sungguh senang akhirnya mereka mendapatkan keadilan, tapi berakibat pada berhentinya FF ini karena feelingnya hilang. Seting FF ini dibuat waktu JYJ masih dalam perkara soalnya.
.
.
Warning : Banyak terdapat kata-kata kasar di dalam FF ini. Dan sekali ini, ini hanyalah FanFiction yang merupakan khayalan yang di ciptakan oleh seorang penulis bernama pena Zee. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata. Rate M untuk jaga-jaga, karena banyak Kata-kata dan tindakan kasar dalam FF ini.
.
.
Title : Back to Tomorrow
Cast : JaeJoong Kim, Yunho Jung
Changmin Shim, Yoochun Park, Junsu Kim
Rating : General – Mature
Genre : Friendship, Angst, Romance
Author : Zee
.
.
~Back to Tomorrow~
.
.
PART 2
.
AUTHOR's POV
Pagi itu , saat sedang break bekerja, para anggota mempunyai kegiatannya masing-masing. Yoochun di ruang musiknya, mencoba membuat lagu dan berlatih untuk album baru mereka. Junsu pergi pagi-pagi sekali untuk mengunjungi keluarganya dan melanjutkan untuk latihan drama musicalnya. Changmin masih meringkuk di tempat tidurnya. JaeJoong memilih untuk membereskan dorm mereka. Dan Yunho baru saja berangkat ke kantor manajemen mereka untuk bertemu dengan manajer dan beberapa orang di sana.
Sudah pukul 10 pagi, tapi JaeJoong belum juga mendapati Changmin keluar dari kamarnya yang sekaligus kamar Junsu. Padahal biasanya dia sudah sangat kelaparan sekarang. JaeJoong mengetuk pintu kamar tersebut dan tidak ada sahutan dari dalamnya. Dia pun memutuskan untuk langsung masuk saja ke dalam.
"Changmin~ah"
Namja jangkung itu masih meringkuk di balik selimut tebalnya, dia hanya menggumam tak jelas menyahuti JaeJoong
JaeJoong duduk di tepi ranjang, melihat dengan seksama keadaan magnaenya tersebut, bibir pecah-pecah, tubuh agak gemetar dan keringat yang berlebihan. JaeJoong mengerenyitkan dahinya, teringat kemarin sepulang dari kegiatan mereka, Changmin mengeluh sakit. JaeJoong menempelkan punggung tangannya ke dahi Changmin.
"Ommo, Changmin~ah, kau demam"
JaeJoong berdiri, ingin mengambil kopresan tapi ditangannya keburu ditahan oleh tangan Changmin, hingga dia kembali terduduk di ranjang itu.
"Hyung, jangan pergi" Rengek Changmin
JaeJoong tersenyum. Magnaenya ini tidak terlalu banyak berubah ternyata, dia masih saja manja jika sedang sakit. JaeJoong tersenyum lembut, lalu mengusap tangan Changmin yang memegang lengannya.
"Tidak, aku akan mengambil kompresan untukmu, badanmu panas. Tidak akan lama, nee"
Perlahan pegangan tangan Changmin mengendur dan terlepas. JaeJoong dengan cepat keluar kamar dan mengambil baskom kecil dan handuk kecil untuk mengompres Changmin.
Changmin meleguh pelan ketika merasakan dingin di dahinya. Dia menggeliat tidak nyaman dalam tidurnya. JaeJoong kembali keluar kamar setelah mengukur suhu tubuh Changmin dan mengganti kain kompresnya. Dia membuat bubur untuk Changmin mengingat namja itu belum makan sejak pagi.
Satu Jam kemudian JaeJoong kembali ke dalam kamar, dan mendapati Changmin sudah bersandar di kepala ranjangnya.
"Kau sudah bangun"
"Eum"
JaeJoong menaruh nampan yang di bawanya di atas nakas meja di samping tempat tidur. Dia mengecek suhu tubuh Changmin lagi dengan punggung tangannya.
"Masih panas" Ujar JaeJoong
JaeJoong kembali duduk di tepi ranjang di dekat Changmin, lalu membawa mengambil nampan dan menaruh di pangkuannya.
"Jja, makan dulu. Kau belum makan dari pagi"
Changmin mengangguk lalu membuka mulutnya, JaeJoong terkekeh, rupanya namja jangkung itu memberi isyarat untuk menyuapinya. Dengan telaten, JaeJoong menyuapi Changmin hingga bubur di mangkuk itu habis, dia memberikan obat yang biasa di minum oleh Changmin ketika demam.
"Ganti bajumu dulu, nee. Yang kau pakai sudah basah oleh keringat"
Changmin mengangguk, dan membiarkan JaeJoong memilih baju yang nyaman untuknya dan memakaikannya. Changmin benar-benar membiarkan namja itu melakukan segalanya untuknya, hal yang tak pernah dia biarkan orang lain melakukannya.
"Sekarang tidurlah lagi, kau harus banyak istirahat"
"Eum, hyung…"
"Nee "
"Bi-bisakah kau disini, menemaniku tidur?" tanya Changmin malu-malu.
JaeJoong kembali tersenyum lembut. Changminnya tidak berubah.
JaeJoong mengambil nampan yang berisi gelas dan mangkuk kosong dan berdiri
"Aku harus membuat makan siang untuk Yoochun, setelah itu aku akan segera kesini. Tidurlah dulu, nee"
.
.
YUNHO's POV
Aku memasuki Dorm saat senja sudah turun dan sebentar lagi hampir gelap.
Sepi.
Hanya dentingan piano yang ku dengar dari ruang musik. Mungkin Yoochun. Living room kosong, biasanya ada Junsu yang bermain game. Pasti dia sedang sibuk latihan untuk drama musical bodohnya itu.
Cih …
Ah … Sepertinya kemarin keadaan Changmin sedang tidak baik, dan tadi pagi aku tidak melihatnya keluar dari kamar. Lebih baik aku melihatnya dulu di kamarnya.
Owh …
Aku tersenyum sinis melihat pemandangan di depanku sekarang.
Entah mengapa hatiku berdenyut sangat sakit. Bagus sekali kelakuan mereka berdua. Berpelukan di dalam kamar yang temaram karena cahaya yang kurang dari luar jendela dan lampu belum di nyalakan.
Good.
Aku menaikkan saklar lampu.
Ku lihat namja bernama Kim JaeJoong itu mengerjap-ngerjapkkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Lalu mata bulatnya memandang ke arahku
"Ah, kau sudah pulang Yun"
Dia mencoba bangun dan duduk, namun rupanya gerakannya itu mengganggu namja jangkung yang tengah tertidur di sampingnya.
"Ung …"
Dan diapun di tarik semakin mendekat oleh tangan yang sedaritadi melingkar di pinggangnya.
"Jadi seperti ini yang kau lakukan jika kau sedang senggang Kim? Tidur berpelukan dengan namja lain? Owh … aku tidak bisa menebak sudah berapa namja yang tidur denganmu di luar sana"
Ucapku sinis, dia melihatku dengan tatapan dingin yang terluka. Lalu kembali mengacuhkanku dan memandang Changmin.
"Changmin~ah, Irona, ini sudah hampir malam"
JaeJoong menepuk-nepuk pelan pipi Changmin
"Aku masih ngantuk …" Suara Changmin terdengar parau dan sangat manja, lalu dia menyusupkan wajahnya ke perpotongan leher JaeJoong.
"Minnie~ah, Hyung ha-"
"CEPAT BANGUN DAN BUATKAN AKU MAKAN MALAM !"
.
Aku keluar dari kamar setelah berteriak dan menutup pintu kamar itu dengan membantingnya. Aku melihat Yoochun berlari keluar dari ruang musik dengan cepat dan memandangku heran
"Ada apa , Hyung?" Sepertinya dia mendengar suara bantingan pintu, aku memandangnya dengan acuh tak acuh.
Lalu ku dengar di belakangku pintu terbuka dan tertutup pelan. Dan JaeJoong ada di hadapanku sekarang, memandangku dengan tatapan sinisnya.
"Tuan Jung, bisakah kau bersikap lebih baik lagi? Changmin sedang sakit dan kau mengganggunya" Dia melipat tangannya di depan dadanya.
Aku mendengus kesal melihat gaya angkuhnya itu.
"Apa peduliku, Kim? Aku lapar, cepat buatkan aku makanan"
"Huh? Membuatkan kau makanan? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah biasanya kau tidak mau makan makanan yang ku buat. Kau merindukan masakan ku, eoh?" Dia mendongakkan kepalanya sedikit congak. Aku menyeringai buas.
"Kau terlalu percaya diri , Kim" ucapku ketus. Aku melirik ke arah Yoochun yang berada di belakang JaeJoong, memandang kami dengan wajah yang menegang.
"Aku tidak akan pernah membuatkanmu, makanan" Putusnya.
.
Okey
Aku memiliki batas kesabaran. Aku sudah memintanya beberapa kali dan dia tidak mau menyanggupinya. Aku mencengkram tangan kanannya dengan erat dan kasar, ku lihat dia mengerenyit kesakitan. Apa peduliku.
"Jung Yunho, lepas!"
Dia meronta, dengan tangan yang bebas, dia mencoba melepaskan pegangan tanganku, namun semakin dia melakukannya, aku akan semakin erat mencengkramnya.
"Hyung …"
Yoochun mengikuti kami-ani – aku yang menyeret kasar JaeJoong menuju ke dapur
"Yunho, apa yang kau lakukan, kau melukaiku" Jerit JaeJoong dia pasti merasakan sakit di lengan atasnya, aku tidak peduli.
Setelah sampai di dapur, aku melepas tanganku kasar hingga tubuhnya terhuyung kedepan dan kepalanya terbentur konter dapur yang terbuat dari batu marmer besar berwarna putih.
"Ya Tuhan, Hyung …" Yoochun segera menghampiri JaeJoong, dan membantunya berdiri dengan benar.
"Jangan pernah ada yang membantahku, Kau dan Kau …"
Aku menunjuk pada JaeJoong dan Yoochun secara bergantian, mereka memandangiku dengan tatapan marah.
"Kalian yang memutuskan untuk kembali pada kami, jadi kalian harus menurutiku. Sekarang, masak untukku!"
Setelah membentak dan tak mendapatkan reaksi yang berarti dari mereka, aku segera melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar. Berendam air hangat sepertinya sangat ku perlukan sekarang.
.
Aku kembali melewati ruang tengah dan mendapati Changmin berdiri di depan kamarnya dengan wajah lusuh penuh peluh dan pucat.
"Hyung, ada apa?" Tanya nya dengan suara parau
"Kau jangan seenaknya bermanja pada mereka. Mereka itu dulu pernah meninggalkan kita, kau tahu!" marahku padanya. Dia menatapku dengan tatapan seolah tidak peduli pada ucapanku
"Apa yang kau mau sebenarnya, Hyung? Mengapa kau jadi seperti ini?" Tanyanya, suaranya sangat lemah, sepertinya dia benar-benar sakit.
Aku mendekatinya hingga wajah kami berdekatan dan mata kami saling menatap tajam
"Mereka itu tidak lebih dari seorang pengkhianat, pembual, penjilat, dan orang-orang tidak tahu terima kasih!" tegasku. Lalu aku melangkah menuju kamarku, meninggalkan Changmin yang terlihat shock dengan perkataanku.
Aku memasuki kamar mandi, berdiri di bawah guyuran air yang keluar dari Shower yang ada di atas kepalaku. Hari ini benar-benar melelahkan dan memuakkan.
Apa-apaan itu aku di suruh untuk datang ke perusahaan hanya untuk membicarakan soal scandalku dengan Ahra. Mereka ingin aku berpura-pura memiliki scandal dengan yeoja itu untuk menaikkan rating Drama yang akan di bintangi oleh yeoja sialan itu, sudah berapa kali ku katakan aku tidak menyukainya. Mengapa sekarang aku harus memiliki skandal dengannya, merusak citraku.
Cih
Menyebalkan. Itu benar-benar menggangguku dan membuatku kesal.
Dan entah kenapa kemarahanku, kulimpahkan pada JaeJoong. Aku semakin kesal begitu melihat wajahnya tadi. Dan apa-apaan tadi dia tidur sambil berpelukan dengan Changmin, dia pikir mereka itu Lala dan Poo di teletubies.
Memuakkan !
.
.
JAEJOONG'S POV
"Yoochun~ah, tolong panggilkan Yunho, makan malam sudah siap"
Ujarku, tanganku yang tadi sempat di cengkram oleh Yunho masih saja bergetar, dahiku yang terbentur meja marmer itu sudah di obati dan di beri plester oleh Yoochun, tadi sempat berdarah sedikit, dan sekarang hanya menyisakan memar dan benjolan saja kurasa.
Aku menyiapkan bubur dan segelas air putih di atas nampan, untuk Changmin. Aku akan membawakan makanannya ke kamar.
"Hyung" Yoochun memandangku dengan cemas.
"Aku baik-baik saja, Yoochun~ah, panggillah hyungmu, dan makanlah bersamanya. Aku akan mengantarkan makanan untuk Changmin dulu, setelah makan taruh saja piring kotornya di tempat cucian, nanti akan ku bereskan." Ujarku
Yoochun menggeleng lemah
"Ani, hyung istirahat saja, aku akan membereskannya nanti"
Aku menurut dan mengangguk
"Gomawo, Yoochun~ah. Eum, dan tolong jangan ceritakan hal ini pada Junsu atau Changmin"
Yoochun mengangguk , menyanggupi permintaanku. Aku merapihkan poniku kembali, memastikan agar luka dan memarku tidak terlihat, aku tidak ingin Changmin bertanya macam-macam. Aku baik-baik saja, tentu. Dulu sekali ketika masa awal debut kami, kami pernah perkelahi dan aku mendapatkan luka yang lebih parah dari ini. Aku baik-baik saja, tak apa jika dia kasar padaku, asal tidak melampiaskannya pada dongsaeng-dongsaengku. Hanya satu yang ku sesalkan, dia melakukannya di hadapan Yoochun.
.
.
Ketika masuk ke kamar yang di tempati Changmin dan Junsu, aku mendapatkan Changmin yang memandangku dengan tatapan khawatirnya, aku memberikan senyuman terbaikku untuknya, meyakinkan bahwa aku baik-baik saja.
Aku mengambil meja lipat yang selalu disimpan di samping lemari pakaian, lalu meletakannya mengukung paha Changmin yang sedang duduk menyandar pada kepala tempat tidur. Kemudian aku menaruh nampan itu di atas meja. Sayup-sayup dari luar aku mendengar suara Junsu yang mengucapkan salam pulang kerumah. Sepertinya dia langsung menuju ke dapur karena ku dengar Yoochun berteriak memanggilnya dari dapur sekaligus ruang makan kami.
"Mau makan sendiri atau di suapi?" Tanyaku, dia tersenyum jahil
"Tentu saja di suapi" Jawabnya, aku terkekeh pelan. Lalu mulai menyuapi Changmin yang tangan dan matanya sedang fokus pada PSP yang sedang di mainkannya. Aku benar-benar seperti seorang umma jika sedang begini.
Changmin memang selalu manja jika sakit, si healty-freak ini terkadang memang selalu berlebihan jika sakit, menganggap sakit ringan saja seperti penyakit yang parah dan ingin segera di sembuhkan. Tapi entah kenapa hari ini dia tidak merengek minta di bawa ke rumah sakit dan diperiksa oleh dokter.
Setelah makanan Changmin habis, aku menaruh piring kosong di sudut ruangan tersebut. Aku tidak ingin keluar kamar dan bertemu dengan Yunho yang sekarang pasti masih berada di ruang makan.
"Kau baik-baik saja, Hyung?" Tanya Changmin ketika aku kembali menghampirinya, dia sudah berbaring di kasurnya dan PSPnya di letakkan di nakas meja di samping tempat tidur. Aku mengangguk lalu tersenyum.
"Aku tidur disini, tidak apa-apa kan?" Tanyaku, dia mengangguk cepat. Lalu aku menyusupkan badanku di balik selimut yang sama dengan Changmin.
"Tidurlah sekarang. Besok kita harus bekerja lagi"
"Nee"
Ku matikan lampu di nakas meja di sampingku. Lalu aku tidur memunggungi Changmin.
Tidak.
Aku belum ngantuk sama sekali.
Tapi jika aku terus bercengkrama dengan Changmin, aku takut tidak mampu menahan diriku untuk tidak menjerit dan menangis.
Dahiku berdenyut keras lagi, mengingat perlakuan Yunho tadi. Sungguh aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Setelah sekian lama, baru kali ini dia berlaku kasar hingga membuatku terluka begini. Tidak hanya kekerasan verbal yang biasa di lakukannya, tapi juga fisik. Yunho ku sangat lembut, dan sekarang dia menjadi sangat menakutkan.
Hatiku berdenyut lebih sakit daripada luka di dahiku.
Rasanya sesak.
Aku mencintainya. Tapi kenapa semua jadi seperti ini, hubungan kami bahkan lebih baik ketika kami terpisah menjadi dua grup. Sekarang kenapa kami justru seperti musuh daripada sepasang kekasih.
Sejak aku memutuskan kembali masuk ke grup. Tak ada lagi senyuman di bibirnya untukku, kecuali di layangkan ketika kami sedang di depan umum. Tak ada lagi tatapan hangat penuh kasih yang selalu ada setiap kali kami berpandangan. Tak ada lagi usapan halus dan sentuhan sayang darinya, tangannya yang dulu membelaiku lembuh malah melukaiku sekarang.
Tuhan.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Air mataku meleleh ketika kurasakan sebuah rengkuhan hangat dari namja yang tidur bersamaku, dia memelukku dari belakang, dan melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Menangislah, jika kau ingin menangis, Hyung. Aku ada disini, kau tidak sendirian"
Suara parau itu, meruntuhkan benteng pertahananku. Aku terisak dalam pelukannya, dan dia semakin erat memeluk tubuhku.
Aku ingat. Dengan sangat jelas aku mengingat mengapa hatiku menjadi begitu sakit tadi, hingga aku tak mampu merasa sakit di dahiku. Yunho mengatakan aku sering tidur dengan namja lain, apakah aku memang terlihat begitu rendah di matanya. Aku hanya mencintai dia, walau banyak namja atau yeoja yang mendekatiku. Dan aku hanya mencintainya seorang, dia jelas tahu aku tidak seperti itu, tapi kenapa dia tega mengatakan hal sekejam itu.
Aku membalikkan tubuhku, hingga aku bisa membenamkan wajahku di dada bidang Changmin , dia memelukku erat.
"Menangislah sepuasmu, hyung. Setelah itu kau harus kembali menjadi JaeJoong hyungku yang kuat" dia membelai kepalaku dengan sangat lembut.
Entah kenapa aku hanya dapat menangis bebas di depannya. Dulu, kami-maksudnya aku dan Yunho hanya mampu mengungkapkan perasaan kami yang sesungguhnya ketika kami berdua, aku hanya akan menangis di depannya saja begitupula dengannya. Tapi sekarang, aku bahkan terlalu takut untuk sekedar menatap matanya dan berhadapan dengan dirinya, aku takut terlihat lemah , dan dia semakin menginjakku.
Changmin, dongsaengku yang paling kecil ini, kata-katanya memang tajam, tapi dia selalu berlaku lembut padaku. Dia kerap kali masuk ke kamarku, diam-diam tidur di sampingku sambil memelukku, dan akan pergi sebelum aku bangun. Aku tahu itu, tapi aku membiarkannya, kadang dia menangis sebelum tidur, aku tahu walau dia tak bersuara, tapi tubuhnya bergetar dan kurasakan baju bagian belakangku basah. Terkadang dia akan membisikkan kata-kata lembut untuk memotivasiku ketika aku tidur setelah lelah menangis.
.
.
AUTHOR's POV
Kegiatan mereka padat, dengan latihan dan persiapan untuk melakukan tur promosi album baru mereka. JaeJoong lebih memilih untuk diam saja dan tidak bertengkar dengan Yunho, dia akan menuruti setiap ucapan Yunho walau itu terkesan seperti menjadi seorang pelayan, dia hanya tidak ingin mendapatkan perlakuan kasar lagi. Yoochun juga lebih memilih diam, dia kecewa sebenarnya pada Yunho yang di lihatnya melukai JaeJoong, dan JaeJoong yang malah diam saja dan terkesan tidak ada apapun diantara mereka, dia juga benci pada dirinya sendiri karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu JaeJoong, namja cantik itu melarangnya, sedangkan kemarahan dan kekecewaannya pada Yunho makin bertambah setiap kali melihat Yunho berlaku kasar pada membernya khususnya pada JaeJoong. Hanya Junsu dan Changmin yang kerap kali meramaikan suasana.
Kekesalan Yoochun memuncak ketika mereka tengah latihan untuk sebuah lagu di album baru mereka. Junsu yang baru saja menyelesaikan pertunjukan musicalnya, melakukan kesalahan dan terlalu lama menyerap gerakan tari mereka, hingga membuat Yunho marah besar.
"KIM JUNSU, bisakah kau melakukannya dengan benar!" Bentak Yunho
"Mianhae , Hyung" Junsu membungkuk sebentar untuk meminta maaf.
"Jangan karena kau terlibat dalam sebuat teater lalu kau bisa seenaknya saja begini" Teriak Yunho lagi, JaeJoong menghela nafasnya. Dia ingin melerai namun sebuah jemari lentik seorang namja jangkung melingkar di lengannya, menahannya untuk beranjak dari tempatnya.
"Sudahlah, Hyung. Dia hanya salah sedikit saja, kenapa kau begitu mempermasalahkannya? Kita hanya perlu mengulang lagi"
Yoochun maju ke hadapan Yunho dan menggeser Junsu menjauh.
"Mwo? Enteng sekali bicaramu itu , Park. Kau juga sama saja dengannya, gerakanmu kacau, tidak ada yang benar" Cerca Yunho, dan itu membuat Yoochun terpancing
"Nee, kami memang tidak sepandai kau dalam menari, Jung Yunho. Tapi suara kami juga tidak bisa kau remehkan. Apa kau tahu bahwa suaramu itu hanya pelengkap saja?" cela Yoochun. Semua orang disana terkesikap mendengar celaan dari Yoochun
Changmin yang memang berwajah pucat pasi karena belum sembuh benar bertambah pucat, JaeJoong menengang, dan Junsu bahkan manarik nafas dengan berat. Yunho mengepalkan tangannya geram, lalu tanpa di duga, dilayangkan sebuah pukulan ke wajah Yoochun hingga namja casanova itu jatuh tersungkur.
"Yoochun~ah" Junsu bergerak mendekati Yoochun, Yoochun memandang nyalang pada Yunho, luka robekan di sudut bibirnya yang di pukul Yunho mengeluarkan sebercak darah segar. Junsu membantu Yoochun berdiri.
"Apa kau pikir kami tidak bisa bertahan tanpa kalian? Huh? Buktinya sampai sekarang hanya berdua dengan Changmin , nama TVXQ masih berjaya, dan kalian? Cih … Hanya orang-orang yang memanfaatkan popularitas kami untuk mendongkrak popularitas kalian yang mulai tenggelam. Lebih baik kalian pergi saja, tidak ada gunanya kalian kembali pada kami. Menyusahkan!"
Kata-kata sinis itu tentu tidak hanya menyakiti hati Yoochun, tapi juga Junsu dan JaeJoong, tidak terkecuali Changmin, tentu saja dia tidak terima Yunho mengatakan hal tersebut. Tangannya yang memegang lengan JaeJoong bergetar hebat.
Yoochun berdiri di bantu oleh Junsu. Dia menyeka darah di sudut bibirnya. Berjalan mendekat hingga dapat bertatapan muka langsung dengan Yunho dengan jarak yang begitu dekat, dan saling melayangkan tatapan tajam.
"Okey, Jika kau berpikiran seperti itu. Kita lihat saja nanti Jung. Aku keluar!" Bahkan tanpa menggunakan embel-embel 'hyung' lagi untu memanggil Yunho, Yoochun melangkah pergi setelah melayangkan tatapan sinis pada Yunho, sedangkan Yunho hanya menyeringai.
"Yoochun~ah" Panggil JaeJoong, namun tak dihiraukan oleh Yoochun karena namja itu langsung saja keluar ruangan latihan tanpa menoleh lagi kebelakang. JaeJoong ingin mengejar Yoochun, tapi begitu dia ingin melepas tangan Changmin, manik hitam itu menumbuk pada pemandangan seorang namja jangkung yang tengah menahan sakit. Tangan yang tidak di gunakan untuk memegang lengan JaeJoong, melingkar di perutnya sendiri.
"Kau sungguh keterlaluan , Hyung" Junsu kali ini yang menatap tajam Yunho
"Kenapa? Apa kau mau pergi juga seperti dia? Begitu? Silahkan, tidak ada yang melarangmu, Kim" ujar Yunho sinis, Junsu berdecih kesal.
"Nee, aku akan mengikutinya. Bukankah dulu aku pernah bilang, aku tidak butuh siapapun asal ada Yoochun di sampingku. Kau menang, Jung. Teruslah bertahan dengan sikap angkuhmu itu dan perlahan kau akan kehilangan orang-orang di sekitarmu "
Yunho hanya menaikkan dagunya dan mendengus sinis mendengar perkataan Junsu, Junsu kesal karena namja itu tentu saja tidak mengambil hati sama sekali perkataannya, dia memandang sekilas sekali lagi pada wajah dingin tersebut, dan mengambil langkah untuk pergi.
"CHANGMIN~AH "
Tapi sebuah teriakan menghentikannya. Junsu menoleh ke sumber suara yang di yakininya adalah suara milik hyung tertuanya. Begitu juga dengan Yunho. Pada dancers yang ikut berlatih dengan mereka yang sedari tadi yang memandangi mereka mulai beranjak mendekat ke arah JaeJoong.
Changmin terjatuh, tak sadarkan diri , dengan wajah pucat, dan keringat dingin yang bercucuran. Junsu langsung berlari ke arah roommatenya tersebut.
.
.
YOOCHUN's POV
Aku berlari menyusuri lorong rumah sakit. Menyusul JaeJoong hyung, Junsu, dan manajer serta beberapa orang yang ikut mengantar Changmin. Aku khawatir dan panik sekarang, setengah berlari, aku mencari ruang UGD tempat Changmin di larikan tadi.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, akhir-akhir ini Changmin memang terlihat pucat, waktu latihan juga. Dan tadi saat aku tidak bisa lagi menahan emosiku pada orang yang masih mengaku dirinya sebagai leader grup, aku memilih pergi setelah dia memukulku hingga sudut bibirku terluka. Dia benar-benar kasar sekarang, setelah waktu itu sempat membuat dahi JaeJoong hyung terluka, sekarang aku. Lalu nanti siapa lagi yang akan dibuatnya terluka. Saat aku berjalan menuju tempat parkiran mobil di basement, aku melihat JaeJoong hyung dan Junsu dibantu dengan dua orang dancer kami, sedang membopong tubuh jangkung yang ku yakini adalah Changmin. Dan disinilah aku sekarang.
"Junsu!" Seruku ketiku kulihat Junsu sedang berdiri dengan gelisah di depan sebuah ruangan. UDG tulisan di atas pintu ruang tersebut.
"Yoochunnie" Sahutnya
"Apa yang terjadi? Ada apa dengan Changmin? Mana JaeJoong hyung dan Yunho hyung?" Tanyaku bertubi-tubi sambil memegang erat kedua bahunya
"Entahlah, aku juga tidak mengerti, tadi waktu aku ingin menyusulmu keluar, Changmin tiba-tiba jatuh pingsan, dia di dalam sekarang bersama JaeJoong hyung, Changmin tak mau lepas tangan JaeJoong hyung waktu dia sempat sadar tadi. Dan Yunho, aku tidak tahu. Aku tidak peduli"
Aku menatap pintu UGD yang tertutup tersebut. Changmin sakit, dia memang tidak terlihat sehat beberapa hari ini, kondisi setelah dia sempat demam tidak juga membaik, aku tidak tahu kenapa. Bodohnya aku karena tidak memperhatikannya. Aku seorang hyung yang gagal. Changmin adalah healty-freak, bagaimana dia bisa jatuh sakit bahkan tanpa ku sadari, dan dia juga diam saja, biasanya dia akan mengeluh terus jika sedikit saja sakit.
Aku tak melihat Yunho hyung dimana-mana di sekitar sini, Junsu tampak tidak peduli ketika aku menanyakannya. Dia bahkan menanggalkan kata 'hyung' ketika menyebut nama Yunho. Mungkin saat ini dia marah pada leader kami. Yeah … Aku tahu dia pasti sangat marah. Begitu juga denganku. Andai saja Junsu melihat perlakuan Yunho pada JaeJoong hyung, aku tidak tahu akan seperti apa jadinya.
Changmin di periksa dan di pindahkan ke ruang rawat intap VIP. Dari jendela kamar di lantai 3 Rumah sakit ini, dapat ku lihat banyak wartawan di bawah sana. Cepat sekali berita ini tersebar, tapi mengingat cara mereka membawa Changmin ke rumah sakit yang terkesan terburu-buru, mungkin saja banyak orang yang melihat hal itu dan langsung terdengar ke telinga para pemburu berita.
Changmin masih tertidur, setelah hampir 2 jam di pindahkan ke kamar. Hari sudah gelap. JaeJoong hyung sedang membelikan makanan di kantin rumah sakit, Junsu menunggui Changmin dengan duduk di sebelah ranjang Changmin. Aku berdiri di depan jendela, menatap pemandangan di luar sana.
Mengapa kami jadi seperti ini?
Aku tidak mengerti.
Apa sebenarnya yang terjadi, hubungan kami baik-baik saja sebelumnya, bahkan lebih baik ketika kami berpisah dulu. Tapi sejak kami kembali, semua berubah, Yunho hyung dan JaeJoong hyung yang saling mencintai, sekarang terlihat seperti musuh dan sama sekali tidak terlihat jika mereka saling mencintai, apakah cinta mereka sudah padam dan hilang sama sekali? Tapi kenapa? Mereka kerap kali bertengkar bahkan karena hal sepele.
JaeJoong hyung yang biasanya penuh perhatian, jadi lebih acuh tak acuh, dia lebih senang menyendiri seperti dulu, selalu berkesan dingin. Yunho hyung yang selalu menjaga wibawanya di depan kami berubah menjadi pemarah dan lebih parahnya sekarang dia menjadi ringan tangan, aku masih ingat waktu aku mengobati luka di dahi JaeJoong hyung karena ulahnya, dan tadi dia memukulku.
Sungguh….
Aku tidak mengerti.
Kami seakan berpisah di tengah kebersamaan kami.
"Hyung ~~~"
"Changmin~ah"
Aku menoleh ketika mendengar suara tersebut. Suara parau Changmin yang lemah di sahut dengan suara Junsu.
Aku menghampiri mereka, duduk di tepi ranjang.
"Kau sudah bangun, Changmin~ah"
Changmin mengangguk lemah lalu memaksakan sebuah senyuman.
Kulihat manik mata Changmin bergerak, kekiri dan ke kanan, seakan memeriksa ruangan tersebut. Lalu dahinya mengerenyit.
"kau ada di rumah sakit sekarang, tadi kau pingsan" Sepertinya Junsu menyadari kebingungan Changmin.
"JaeJoong hyung mana?" Tanya Changmin
"Dia sedang ke kantin sebentar" Jawabku
Changmin memang selalu seperti ini, dia selalu saja menempel dan manja pada JaeJoong hyung jika sedang sakit. Changmin mengangguk mengerti.
.
Dia memandangku dan Junsu bergantian dengan tatapan sendu.
"Junsu~ie"
"Nee, waeyo"
Changmin memanggil Junsu dan menatapnya intens.
"Kau tidak jadi pergi kan?" Tanya Changmin, Junsu menaikkan alisnya bingung
"Yoochun~ie hyung. Kau tidak pergi kan? Kau tidak akan meninggalkanku lagi kan?" Kali ini aku yang menaikkan alisku bingung dengan pertanyaan Changmin
"Apa maksudmu Changmin~ie?" tanya Junsu
"Nee, memangnya siapa yang akan meninggalkanmu?" Tambahku
Changmin kembali menatap kami dengan pandangan yang terlihat menyedihkan dan mata yang berkaca-kaca sekarang.
"Junsu~ie, Yoochun~ie hyung. Aku mohon jangan pergi lagi." Changmin memejamkan matanya, dan air mata lolos dari sudut matanya. Aku dan Junsu tersentak kaget. Magnae kami menangis. Kenapa?
Changmin membuka matanya dan titik titik air mata kembali lolos, membuat aliran basah di kedua belah pipinya.
"Changmin~ah, waeyo, kenapa kau menangis?" Junsu terlihat panik, buru-buru dia bangun dari duduknya dan mendekati Changmin, dia mengusap air mata Changmin, tangan Changmin yang bebas dari selang infus mengamit tangan Junsu yang mengusap air matanya tadi. Lalu dia berkata lirih.
"Berjanjilah padaku, jangan pergi lagi. Kita jangan berpisah lagi, nee. Ta-tadi aku takut sekali. Sungguh aku sangat takut waktu Yoochun~ie hyung berkata ingin keluar dan pergi dari ruangan itu"
Changmin menitikan kembali air matanya
Owh Tuhan, apa aku menyakitinya.
Aku menggeser dudukku mendekat pada wajah Changmin, lalu menggantikan tangan Junsu yang masih dalam genggaman Changmin untuk menghapus air matanya.
"Aku tidak ingin berpisah lagi dengan kalian, aku sudah terlalu lelah selama ini hanya berjuang dengan Yunho. Aku sangat takut tadi ketika kau keluar dari ruangan, hyung. Dan saat Junsu mengatakan dia ingin mengikutimu, hatiku sakit sekali, kepalaku sama sekali tidak bisa berpikir. Aku sungguh ketakutan. Aku tidak bisa membayangkan jika akhirnya kalian kembali pergi dan meninggalkanku. Aku mohon, jangan pergi , aku memohon pada kalian… jangan tinggalkan aku lagi … aku mohon"
Changmin terisak.
Junsu membawa genggaman tangan Changmin ke dekat wajahnya, di genggam erat tangan Changmin, lalu wajahnya menunduk, Junsu mencium jemari panjang Changmin dengan sayang, lalu mulai terisak.
Aku mendongakkan kepalaku untuk menahan air mata yang akan jatuh.
"A-aku mohon, Hyung. Jangan pergi … Junsu~ie, aku mohon ja-jangan pergi" Changmin terus memohon di antara isak tangisnya, membuat Junsu semakin keras menangis, dan akhirnya aku menitikkan air mata.
Magnae kami tidak pernah menangis seperti ini. Terlebih memohon seperti tadi. Tidak pernah aku lihat Changmin begitu frustasi.
"Tidak akan ada yang meninggalkanmu" Kata Junsu walau dengan suara paraunya dan isakan jelas terdengar, suaranya bergetar, namun dia mencoba untuk meyakinkan Changmin.
"Nee, kau tenang saja Changmin~ah, tidak akan ada yang meninggalkanmu. Tidak ada, aku dan Junsu tidak akan pergi"
Junsu mengangguk cepat tanda setuju dengan ucapanku.
"Jeo-jeongmal?"
Aku mengangguk cepat. Perlahan aku mencondongkan badanku lalu kupeluk tubuh Changmin yang baru kusadari sekarang semakin kurus.
"Tidak akan ada yang meninggalkanmu, kami berjanji. Tidak akan ada yang pergi lagi"
Kami bertiga berpelukan, menangis, meluapkan emosi yang selama ini kami pendam masing-masing. Changmin begitu ingin kami tetap bersama, tapi kenapa aku dengan mudahnya tersulut emosi dan berpikir untuk meninggalkannya lagi.
Ya Tuhan
Changmin~ah, maafkan aku nee, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku harus mengalahkan egoku sendiri. Aku memiliki dongsaeng yang perasaannya harus ku jaga. Semoga saja keadaan akan menjadi lebih baik suatu hari nanti.
.
.
AUTHOR's POV
JaeJoong menyeka air mata yang mengenang di sudut matanya. Baru saja dia akan masuk ke ruang rawat Changmin setelah membeli makanan di kantin untuk para dongsaengnya, tapi mendengar pembicaraan dari dalam kamar, ia memutuskan untuk menguping dari luar. Hatinya benar-benar sedih ketika mendengar percakapan tersebut. Ketiga dongsaengnya menangis bersamaan.
JaeJoong sendiri sampai tidak bisa menahan tangisnya. Satu hal yang terpikir harus di lakukannya sekarang adalah bertemu dengan Yunho dan membicarakan perihal ini pada namja tampan tersebut. Tapi namja itu bahkan tidak mengikuti mereka ketika, Changmin di bawa ke rumah sakit. JaeJoong sampai harus bertanya pada manajer mereka tentang keberadaan Yunho, karena Yunho tidak juga menjawab sambungan telponnya.
JaeJoong menggerutu terus sepanjang perjalanannya di sela kegiatan mengemudinya.
"Cih, bisa-bisanya namja itu pergi ke club, sementara Changmin harus di rawat di rumah sakit karena maag kronisnya. Dia benar-benar keterlaluan"
JaeJoong mendecih kesal. Sangat kesal hingga rasanya dia ingin sekali melayangkan tinjunya tepat di rahang tegas Yunho. Namja yang sudah menghina Junsu, memukul Yoochun, dan sekarang bersenang-senang di club sementara Changmin sedang kesakitan di rumah sakit.
JaeJoong juga terus saja menyalahkan dirinya sendiri karena lalai memperhatikan para dongsaengnya hingga Changmin sampai masuk rumah sakit. Namja jangkung itu jelas sekali tidak makan dengan teratur, dan kerap kali dilihatnya hanya minum soju atau wine saja.
.
JaeJoong tiba di sebuah club yang diberitahukan oleh manajer hyungnya.
Begitu masuk telinganya di tulikan dengan suara dentuman musik yang menggema di ruangan remang tersebut. Manik bulatnya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan teliti memperhatikan setiap detail ruangan tersebut, mencari sosok namja yang di carinya.
Retina mata hitam JaeJoong akhirnya merefleksikan bayangan sosok Yunho dengan balutan skiny Jeans biru yang di padu dengan atasan kaus putih berbalut jaket kulit hitam yang sangat pas di tubuhnya, hingga memperlihatkan lekuk tubuh tangguh Yunho. Tatapannya berubah sendu ketika melihat kegiatan yang Yunho lakukan. Jantungnya tiba-tiba berdenyut tidak normal menimbulkan sensasi nyeri dan membuatnya sesak seketika.
Yunho tengah meliuk kan tubuhnya mengikuti irama musik di dance floor, tapi di hadapan Yunho ada seorang yeoja, yeoja yang menjadi model untuk Music Video debut mereka dulu. Go Ahra. Tangan Yunho merengkuh kedua sisi pinggang Ahra, sementara Ahra mengalungkan lengannya di leher Yunho. Tubuh mereka berdempetan tanpa celah, bahkan wajah mereka menempel, dahi mereka saling bersentuhan, bibir mereka hampir saja bertemu.
JaeJoong mengepalkan tangannya, nafasnya memburu. Dia melangkah cepat dengan langkah lebar dan menarik Yunho menjauh dari Ahra.
"YA! Apa yang kau lakukan?" Yunho marah besar ketika kegiatannya terganggu , apalagi setelah melihat siapa pelakunya tersebut.
JaeJoong dan Yunho saling beradu tatapan, nyalang dan seperti ingin menghabisi satu sama lain. Tanpa memedulikan Ahra, JaeJoong menarik kasar Yunho, menuju toilet pria, mereka masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Tentu saja JaeJoong harus mengurangi resiko mereka terlihat orang lain, bagaimanapun mereka publik figur yang terkenal, sebisa mungkin kejadian ini tidak menjadi konsumsi umum yang nantinya malah akan menimbulkan gosip yang tidak bagus.
"Apa mau mu , Kim?" Bentak Yunho setelah berhasil melepaskan tangannya dari JaeJoong dengan menyentak kasar tangan JaeJoong hingga membentur pintu toilet, membuat ia harus mendesis menahan sakit.
"Apa yang kau lakukan disini, sementara Changmin sakit di rumah sakit?" JaeJoong bertanya balik tidak kalah keras.
"Bukan urusanmu" Balas Yunho
"Kau sibuk bersenang-senang, padahal Changmin sedang terbaring di rumah sakit, tidak kah kau memiliki perasaan sedikit saja, Tuan Jung?" Ujar JaeJoong sinis, Yunho memandang nyalang pada pemuda yang tubuhnya lebih kecil darinya tersebut.
Tangan kekar Yunho memenjarakan tubuh JaeJoong, hingga namja cantik itu tersudut di pintu bilik tersebut.
"Aku ini pria dewasa yang normal, Tuan Kim. Aku juga perlu memuaskan kebutuhan biologisku"
DEG
Hati JaeJoong berdenyut sakit mendengarnya. Apa maksud Yunho barusan, apakah Yunho berpikir untuk melakukan sesuatu dengan Ahra tadi. Apakah mereka akan melakukan hal yang lebih intim daripada kegiatan yang di lihatnya tadi?
"A-apa maksudmu, Yu-Yunho?" Suara JaeJoong bergetar, tangannya kembali mengepal erat hingga buku jarinya terlihat memutih.
"Kau lebih tahu apa maksudku, Kim"
JaeJoong semakin bergetar, lulutnya tiba-tiba terasa lemas, keinginannya untuk membawa Yunho dan membicarakan soal kelangsungan grup mereka, terlupakan begitu saja ketika rentetan kalimat itu keluar dari bibir tebal seorang Jung.
"Ke-kenapa? Bu-bukankah kita …. " JaeJoong tak mampu meneruskan perkataannya. Bukankah mereka masih sepasang kekasih walau akhir-akhir ini mereka kerap kali bertengkar tapi tidak ada kata berpisah sama sekali.
"Kita apa, huh?"
Yunho mendekatkan tubuhnya pada JaeJoong, menimimalisir jarak diantara keduanya.
"Ke-kenapa kau melakukan itu Yunho~ah, kau se-seharusnya tidak melakukannya. Aku-aku ti …"
"Kau tidak mau aku melakukannya dengan orang lain, huh?" sela Yunho sebelum JaeJoong yang terbata menyelesaikan kalimatnya. JaeJoong tak bereaksi mendengar pertanyaan tersebut. Hatinya berkata ,tentu saja dia tidak ingin Yunho melakukannya, tapi entah kenapa mulut dan tubuhnya tidak mau menunjukkan tanda-tanda tersebut. Dia hanya menatap mata lawan bicaranya, berharap mampu mengantarkan arti dari tatapannya tersebut.
"Kalau kau tidak mau aku melakukannya dengan orang lain. Maka kau harus melayaniku!"
"Yu-Yunho…?"
.
.
Tarik Bang Changmin
.
~Te. Be. Ce~
