Coklat Abu's here~

Pertama, ane ucapin maap banget lantaran masa apdet yang lama. Berikutnya, ane bakal apdet lebih cepet, dan makasih banget buat semuanya yang udah nge-review, alert, bahkan nge-fav penpik ini~

Kayak biasa, buat reviewer login, ane bales lewat PM, dan ane bales di sini buat anon;

Ind : Ngehehe~ thanks, ya! Kalo bagian diksi ane usahakan di chapt ini lebih lancar. Biar lebih bisa nyerap + jadi plotnya dapet. Cara VA dijelasin di bawah. Makasih udah RnR ya~

Firah-chan : Wao! Idung ane terbang. Tangkeeep! Yap, semoga aja hepi ending. Biarkan mereka bersatu. ^ ^. Makasih udah RnR ya~

YamanakaemO : Iye~ haha. Doain aja ane seganteng Gray Fullbuster~ (?) Ok. Makasih udah RnR~

Zo-senpuhai : Hayo, warna tanah liat apaaa? Ngehehe~ ini udah apdet, senpuhai. Makasih udah RnR~

Ficya : Semoga bakal tetep suka, ya~ makasih udah RnR~

Lavender-chan : Iya, semoga kagak begitu, dah. Hmm~ siapa, ya, ntu cowok? Jawabannya ada di chapt ini, so pasti. Makasih udah RnR ya~

Hikari Shourai : Ngehehe~ berarti udah lama kagak di-apdet, ye. Aduh, buat berikutnya bakal lebih cepet~ wah, thanks berat, ya~ thanks juga udah RnR penpik ane ini~

Ulva-chan : Tau, tuh. Nyosor aje, sih. Ya, itulah namanya kalo kepincut. Kekuatan Hinata bakal dibahas dikit-dikit mulai chapt depan~ thanks udah RnR ya~

Ryu Uchiha : Siapa yang keren? Beuh, ane emang kerennya kagak nahan. Sekeren pantat ayam. (bah?) Makasih udah RnR ya~

Shyoul Lavaen : Sebenernya jawabannya gampang, lho~~ tanah liat warnanya apa, hayooo~ thanks udah RnR ya~

Sei-chan : Ebuset, ini nama atawa nama? Diniatin lagi! Ngehehe, diusahain lainkali kagak ngaret, koook~ ini apdet~ thanks buat RnR-nya ya selingkuhan Ebisu~

Dan karena ada beberapa pertanyaan yang masuk seputar "gimana, sih, virtual ally itu?", maka di sini ada penjelasannya.

"Virtual ally itu pada saat yang biasa berada di dalam layar tablet PC/ipad dalam bentuk kecil. Di sana mereka akan berdiam di dalam sebuah ruangan berwarna putih yang seperti kamar, berikut dengan perabotan, dapur, bahkan kamar mandi! Ketika si pemilik memanggil atau secara otomatis sekehendak virtual ally sendiri, virtual ally dapat keluar dari tablet PC-nya dan memakai tubuh sebesar manusia, dan nyata. Bagaimana caranya? Anggap saja ada sebuah metode mutakhir di mana partikel virtual ally akan secara otomatis diperbesar dengan suatu alat setelah ia dikeluarkan dari layar. Wujud virtual ally sendiri; untuk perempuan, mereka mengenakan gaun satu warna yang polos tanpa aksen dan untuk laki-laki mengenakan kemeja dan celana—satu atau maksimal dua warna. Mereka tidak mengenakan alas kaki apa pun. Ciri khas lain dari virtual ally adalah bahwa di tangan kanan (untuk perempuan) dan tangan kiri (untuk laki-laki), terdapat sebuah tato. Untuk penjelasan tato dan wujud yang lebih jelas ane bakal ngasih tau lewat gambar di grup atau akun DA ane. Bagaimana virtual ally makan? Virtual ally dapat makan secara otomatis karena kurang lebih sebenarnya mereka sama seperti manusia, mereka bisa membuat makanan di dapur dalam layar maupun makan-makanan manusia ketika mereka ada dalam wujud manusia (yang kering). Virtual ally tidak minum, karena air menjadi elemen yang paling mereka hindari sebagai makhluk elektronik."

Thousand thanks for you!

Hyou Hyouichiffer, Hana 'Reira' Misaki, Yhatikaze-kun, Sabaku no Rei, Desy Cassiotaku, Uchihyuu Nagisa, Zoroutecchi, Ind, Keiko-buu89, Mei Anna AiHina, Fuyu-yuki-shiro, Firah-chan, El Lavender, YamanakaemO, Hikari Mozuru, Lollytha-chan, Ficya, Chibi Tsukiko Chan, Lavender chan, Hikari Shourai, Ulva-chan, Ryu Uchiha, OraRi HinaRa, Saqee-chan, Shyoul Lavaen, Saruwatari Yumi, Sei-chan

(Hope you don't mind to RnR again)

And,

Here we are!


.:: Virtual Love ::.

.●.

Disclaimer

N A R U T O © Masashi Kishimoto

.●.

Main Character

My beloved pair :: Sasuke Uchiha & Hinata Hyuuga and slight pairs

.●.

I warn you, first. On this fict, you may find some typo(s), OoC, out of EYD, inspirated by Epotoransu, and more

.●.

Capitulo 3:: Misunderstand!

Ok, Minna-san, this's just for pastime!


Beberapa tahun yang lalu, mereka bertemu. Ceritera yang tertulis dalam skema takdir jauh sebelum kalian menemukan kisah ini …


Kibasan warna merah bata yang dikecup sang angin melenggak-lenggok seirama langkahnya. Ia menelusuri kelokan, tanjakan dan tikungan dengan tergesa. Nafasnya memburu, melukiskan rona merah di kedua pipi pucatnya. Meski demikian, senyuman bahagia tak pernah enyah terpampang elok di paras tampannya. Bocah laki-laki berusia delapan tahun itu terus berlari hingga menyongsong sebuah kediaman mewah yang letaknya tak jauh dari kaki mungilnya melaju. Ia kembali menderapkan langkah kakinya pasca sepasang kelereng emerald bertumbu pada sisiran helai indigo yang menari pelan dari balik bingkai jendela.


Sabaku no Gaara, ya, itulah nama sang wakil ketua OSIS. Ia masih merasa gamang dengan penglihatannya yang kini mulai terburamkan titik demi titik air mata.

"Kau …. "

GRAB!

Sebuah dekapan menyelimuti tubuh Hinata yang tak paham sama-sekali dengan situasinya saat ini. Kenapa pemuda di depannya mendekap ia spontanitas?

Barulah ketika bibir Gaara membelah untuk sebuah nama, sang puteri virtual ally mengerti dengan jelas.

"Haruna …, " suara berat milik Sang Junior Sabaku menggema lembut di gendang telinga Hinata. Sebuah nama familiar yang kini menjawab sederet pertanyaan dalam benaknya.

Hinata melepaskan diri dari dekapan Gaara. Ia sentuhkan sepasang telapak tangan hangat miliknya pada pipi sang pemuda. "Aku bukan Haruna. Kau salah, Tuan."

Menyadari dua kelereng Gaara membola, Hinata tersenyum pahit.


Derap langkah kecil namun gesit milik sang bocah berlabuh di teras mewah kediaman Sabaku. Tak tunggu lama dari saat ia menekan bel yang terpasang di sana, sosok yang semula ia lihat dari balik kaca, kini ada di hadapannya. Di antara kayu penyangga pintu utama lelaki dengan sepasang kelereng emerald melompat girang pada dekapan sang pemilik helai indigo.


"Meski warna rambutku indigo, meski warna mataku lavender, aku bukan dia." Hinata menyentuhkan tangan di surai indigo miliknya yang selaras dengan milik dia yang tengah Gaara pikirkan.


Lengan mungil pucat melingkar di antara leher yang tercantik baginya. Gaara terdiam sejenak, menyesap wewangian yang menyapa hidungnya kala ia menelesupkan kepalanya di bahu sang lavender.

"Selamat datang, Gaara."

"Aku pulang, Haruna-san!"


" … Aku bukan di—"

"—Aku tahu," Gaara memijat pelipisnya, tegas ucapannya menginterupsi suara pelan Hinata. Emerald milik pemuda itu lantas hanya menuding ke arah lantai kelas yang putih bersih dengan kesenduan yang kental terpancar. "M-maafkan aku, aku refleks memelukmu."

Hinata tersenyum, masih dengan nada getir yang tersirat dari dua bola matanya yang kini redup. Ia tahu mengapa Gaara bisa salah mengenalinya. Tentu saja, karena parasnya dan dia memang serupa.

Karena dia ...

"Kau Sabaku-san, bukan? Putera dari pemilik sah hak Ibuku."

"Ibu?" Gaara menoleh lekas kepada sosok sahaja di hadapannya. "Kau puteri Haruna-san?"

... Adalah Ibu sang tuan puteri dari para virtual ally.


Sasuke melirik selingkar jam di pergelangan tangan, mengorek waktu untuk diketahui adanya. Istirahat masih tersisa kurang lebih sepuluh menit dan dia telah merasa jengah dari rasa kekhawatiran yang melintas di hatinya. Seakan ada sebuah firasat yang membuat ia merasa ingin bertemu dengan Hinata. Ia tak pernah percaya pada firasat atau mitos. Tidak, hingga ia berjumpa dengan sebuah virtual ally nun mempesona yang kini berhasil mengunggah kepercayaannya pada sebuah firasat.

Shikamaru yang menyadari ketidakberesan dari gerak-gerik Sasuke hanya mengulas senyuman mencemooh sembari menopang dagu.

"Bagaimana, tuan cerdas? Sudah menyingkirkan ego-mu yang luar biasa keras itu?"

Tak ada balas atas cemooh yang dilontarkan. Hanya sebuah ekspresi teguh yang mewakili kata "iya".

Shikamaru berdecih dengan seringainya. "Pergilah! Bawalah virtual ally-mu itu di sisimu."

Anggukkan, dan Sasuke telah berlari meninggalkan rekan-rekannya di kantin. Seorang Sasuke yang berlari dengan air muka gelisah boleh jadi merupakan suatu fenomena langka yang semestinya diabadikan. Ia adalah pangeran yang terkenal akan kepala dinginnya yang selalu sukses menyikapi pelbagai persoalan dengan tenang.

Pertanyaan seperti "ada persoalan sebesar apa yang menghantam Sasuke hingga ia menanggalkan topeng tenangnya?" adalah isian untuk banyak benak di sana.


BRAK!

Pintu kelas terbuka, memampangi sebuah panorama tabu untuk ia dan rasa cintanya. Dimana sang objek cinta yang beberapa saat lalu masih berdiam di dalam dunia elektronika dalam modus padam di PC, kini justru terlihat dalam wujud manusia—berbincang ria dengan seorang pemuda yang tak ia sukai, karena acap kali disebut sebagai rival-nya.

Gaara.

Dua siluet yang membelakanginya tak menyadari bahwa kini seorang adam beserta aura kemurkaannya tengah menghampiri. Seperti seorang pangeran yang hendak merebut sang puteri dari cengkeraman tokoh antagonis. Namun, pangeran mana yang justru memaket air muka garang melebihi sang tokoh antagonis? Hanya Sasuke, barangkali.

"Hinata!"

Sosok yang barusan namanya disebut berbalik dengan wajah keheranan. Heran karena mendapati banyaknya garis di sekitar alis Sasuke.

"Ada apa, Sasuke?" Ia memorsir jarak sedekat mungkin, dan menaruh jemarinya di pipi Sasuke. "Kau terlihat … gelisah?"

Pengabaian dari Hinata membuat sang virtual ally menatap oniks murka yang kini tengah terarah pada emerald Gaara. Seolah hendak melabuhkan meteor-meteor amarah di ladang hijau tersebut.

Beruntung, Gaara lebih bertanggung jawab dengan titelnya sebagai seorang pemuda berkepala dingin selain Sasuke. Ia mampu menetralisir keinginan untuk menimpali pandangan tak sopan Sasuke yang seolah mengintimidasinya karena perkara ini.

Ia lelaki, seperti halnya Sasuke. Hanya sekelebat, sang wakil ketua OSIS telah menafsirkan sebuah rasa "itu" mekar di hati sang pemuda Uchiha. Rasa cinta.

Ia menepuk perlahan bahu mungil Hinata sebelum beranjak meninggalkannya dengan sang pemilik hak.


Kepingan kejadian barusan membuat Sasuke tak bergeming sedikit pun. Dua insan tersebut hanya silih diam mengikuti simfoni keheningan yang dialunkan.

"Sasuke?" Hinata meraih tangan Sang Uchiha, membawanya hingga bertumbukan dengan pipi pualam miliknya. "Jangan diam saja. Katakanlah sesuatu. Aku virtual ally-mu. Aku tidak mau melihatmu seperti ini."

"Virtual ally-ku?" Sinis Sasuke. Ia menepis jemari Hinata di tangannya seraya berjalan pergi. "Kau tak lebih dari virtual ally murahan yang gemar tebar pesona pada orang lain!"

TRAK!

Pintu kelas yang lengang tertutup dengan hanya menyisakan Hinata seorang. Sepasang lavender memandangi jemarinya yang terasa dingin setelah bersentuhan dengan tangan Sasuke. Ia mengeratkan kepalan tangannya di gaun, menggoreskan kerutan di sana. Sesak. Dikatai demikian oleh pemilik haknya bukanlah hal yang baik.

Ia ingin mengejar siluet Sasuke, kini. Namun, urung.

Jangan jatuh cinta pada manusia, Hinata! Mereka akan membinasakanmu seperti kain perca!

Wejangan dari orang itu mengisi lingkup pemikiran Hinata. Membuat sebuah perasaan yang hampir saja melesak keluar kembali terkatup rapat dalam sukmanya. Terkunci rapat-rapat seolah rasa itu adalah bencana yang harus disegel agar tak merusak segalanya.


"Ayah," seorang gadis bersurai sebahu menyandarkan diri di dada bidang milik seorang laki-laki dengan helaian coklat panjang, "kenapa Ibu harus pergi dari kerajaan? Kenapa Ibu harus pergi ke dunia manusia dan mendekam di zona elektronik?"

"Itu takdir, Hinata."

"Takdir? Itu berarti, apa suatu saat Hinata juga akan menyusul Ibu ke sana?"

Usapan pelan di puncak kepalanya membuat Hinata menengadah untuk memfigurai wajah sang Ayah yang teduh dalam senyuman tipisnya.

"Jika itu memang takdirmu, maka kau pun pasti akan pergi ke sana …. "


Takdir.

Hinata sadar inilah takdir yang digariskan untuk ia jalani. Inilah suratan yang harus ia isikan dalam perkamen hidupnya. Sulit untuk luput dari keputusan-Nya. Maka, tidak ada jalan lain selain menerima segalanya.

Ia menerima dengan lapang saat sang Ibu diharuskan untuk melintasi lorong waktu menuju takdirnya. Ia lapang dada tatkala mendapati bahwa ia pun haruslah demikian, menjadi "boneka" dari manusia dengan iming-iming "pemilik hak". Akan tetapi, ada dua hal yang tak dapat ia terima hingga saat ini. Atau, setidaknya belum. Yakni, cinta dan takdir penghujung Ibunya. Sekali pun cinta itu menguasai hatinya, ia akan segenap jiwa berupaya agar cinta itu tak sampai mengontrol emosinya. Agar ia tidak terjerembab dalam jerat yang sama dengan yang menjebak sang Ibu.


Ilalang melambai-lambai di halaman belakang sekolah. Sebuah tempat yang tepat bagi siapa pun yang menghendaki ketenangan untuk berelaksasi sejenak.

Emerald menerawang ke angkasa, menelaah apa yang berkubang di alam pikirnya saat ini. Percik kenangan. Kenangan masalalu yang selalu mendengung layaknya itu terjadi saat ini, layaknya itu bukan sebuah kenangan.


"Apa? Jadi, Haruna-san sudah berkeluarga?" Sosok mungil Gaara yang berada dalam pangkuan seorang wanita cantik berpaling.

"Iya, aku sudah punya keluarga di dunia virtual ally. Sebuah keluarga kecil untuk ukuran keluarga kerajaan yang sering digambarkan besar. Hanya seorang suami dan dua orang puteri."

Gaara memandang takjub, "Apa puterimu cantik dan baik sepertimu, Haruna-san?" Bocah itu memberikan tanya dengan sorot keluguannya.

Haruna hanya meluncurkan tawa kecil, "Ya, mereka puteri yang cantik dan baik. Meski kakak-beradik, paras dan pembawaan mereka begitu berbeda."

"Benarkah? Aku jadi ingin bertemu dengan mereka."

"Tentu saja kaubisa bertemu jika mereka terpilih sebagai pendamping manusia di sini. Sang kakak seusiamu, Gaara. Kuharap kalian dapat menjalin hubungan yang baik."

Mendapati air muka yang begitu lembut dari sosok keibuan seorang Hyuuga Haruna, mau tak mau, secara tak sadar Gaara ikut tersenyum lembut. Bibir mungilnya melengkung sementara matanya terpejam.

"Iya!"


Gaara menyentuh dadanya yang terasa bergejolak hangat. Ia selalu merasakan hal yang sama jika mengingat sosok wanita itu. Wanita yang terpaut sangat jauh darinya. Sosok yang senantiasa mengumbar kehangatan untuknya yang kerap dirundung nestapa, sungguhkah kali ini rasa gejolak itu hadir dari Gaara untuknya? Untuk Haruna?

Sebuah pertanyaan yang jawabannya masih belum diketahui.


BRAKKK!

Suara pukulan yang dahsyat terdengar bermuara di salah satu bilik toilet pria. Siapa pelakunya? Tentu saja seorang tersangka yang tadi telah melontarkan kata-kata sinis untuk virtual ally-nya sendiri. Dialah Sasuke Uchiha. Raja egois yang pernah ada. Sesal, kini mulai merembes di hatinya. Rasa sesal karena bertindak dan berkata sebelum menggunakan akalnya.

Ah, entah bagaimana perasaannya jika posisinya dan Hinata ditukar tadi. Bagaimana jika Hinata-lah yang berkata demikian? Jelas ia akan sakit hati karenanya.

Bodoh! Kenapa semudah itu emosiku terpancing? Hinata! Aku harus minta maaf kepadanya!

Uchiha itu bersandar di balik pintu. Wajahnya menengadah ke langit-langit. Ia tak ingin hubungannya kian mendingin dengan sang virtual ally. Ia pun mengiba kehangatan seperti halnya Naruto dengan Sakura atau Shikamaru dengan Temari. Mereka begitu karib dengan komunikasi lancar di antaranya, dengan perdebatan yang membawa mereka untuk semakin akrab. Maka dengan kebulatan tekad, sang Uchiha menegakkan tubuhnya. Pintu bilik pun terbuka dan dengan segera ditinggalkan sang pemuda yang kini tengah berlari menjauh.

To Be Continued


Apa ini? Aduh! Maap kalo chapt ini ngecewain~

Ane usahain chapt berikutnya lebih baik. Daaan~ chapt berikutnya bakal full romens, serta pembahasan lebih rinci soal virtual ally. Semoga bakal suka. Ok dah, minna, sudikah buat review?

Sign,

::: Coklat Abu :::