Terima kasih:

Kikyo Fujikazu, ayushina, ReadR, Harukaze Chiharu, Yusei'Uzumaki'Fudo, Fumiya Ninna 19, edogawafirli, Sakura 'Yessy' Kudo, Sha-chan anime lover, uchiha cucHan clyne, L-ThE-MyStEriOuS, Peri Hitam. Atas review'nya… Semoga tetep pengen ng'review fanfic ini lagi!

Insert story:

Kikyo Fujikazu: Endingnya mungkin masih lama… Soalnya aku belum kepikiran sama sekali… Bikin chapter2 selanjutnya pun, mungkin mengalir begitu saja… Maaf ya…

ayushina: Syukurlah kalau seru… Kesehariannya akan muncul di chapter ini.,. Dan kelihatannya, seharian mereka berdua bakal sama serunya kayak Conan dan Ran… Kogoro? Masih misteri… Chapter depan baru aku ceritain…

ReadR: Iya juga sih… Sebenarnya dia nggak bego2 amat, cumin rada' pasrah… :D… Ada kok! Chapter ini muncul,

Harukaze Chiharu: Makasih kamu udah suka! Iya, akhirnya… Dunia memang adil ya? Christie itu… Pokoknya baca dulu, ntar juga ngerti… Nama itu ide dadakan… Aaahh, Shinichi tidur? :D oke, makasih…

Yusei'Uzumaki'Fudo: Lah, aku juga bingung mau bilang apaan… :D… Di chapter ini, kamu bakal tau hal yang belum tau, kecuali soal kogoro… Yey!

Fumiya Ninna 19: Hoho, pertanyaan kamu, jawabannya ada di chapter ini… Maaf aku nggak jawab langsung, takut kamunya malah nggak baca lagi…

edogawafirli: Iya juga ya? Bodoh nih, Shinichinya… :D, enggak kok, dia cuma belum nyadar aja… Ntar juga lama-kelamaan dia bakal tau…

Sakura 'Yessy' Kudo: Syukurlah, yang kali ini nggak lupa! Makasih kalimatnya! (?)… Hahaha, sebetulnya memang gitu sih… (eeh)… Oh ya, The Tale of Genji itu novel best seller, yang uda ditranslate ke bahasa inggris dengan bertahap… Karena itu novel, kayaknya nggak muncul di komik deh?

Sha-chan anime lover: Iyaa, updatenya aku jadwal jadi seminggu sekali, jadi nggak usah khawatir… Lha itu dia, kenapa dia ngomong gitu ya? Aku juga jadi ngerasa aneh… (Ini author gimana sih, nggak nyambung sama fanfic sendiri… ckckck)

uchiha cucHan clyne: Aduuh, sempet bengong liatin Cu ketawa… (?)… Hahaha, gimana jawab pertanyaannya nih? Gini2, Christie itu… Halah, baca sendiri deh… Ntar juga ngerti… Hahaha, maaf, aku benar2 bingung ini…

L-ThE-MyStEriOuS: Si author bilang apa ya? Aduh, abisnya kalau dia nggak dibikin sedikit bego, ntar ini fanfic abiz dalam 1 chapter dong? :D… Tapi tenang, dia nggak bego2 amat, Cuma masih loading dan belom nyantol aja… :D, Enggak kok!

Peri Hitam: Aku juga nggak nyangka, ceritanya laku… :D, Christie itu si… Yayaya, aku tau isi kepala kamu… Yang tidur kayak kucing? Hm… Lagi nyari Pascal kali ya? Nyari kucing maksudnya, DCLA 3… Halah… Oke, salam kenal juga… ^^

Berkat reviews'nya, saya jadi semakin sering melamun untuk cari ide… Makasih… , oh ya, buat yang penasaran Christie itu siapa, baca chapter ini! Chapter yang membahas tentang si anak asing yang suka numpang (halah), oke… Semoga suka yaa… Maaf terlalu banyak percakapan di chapter ini…


REVERSE WORLD

...

chapter 3

I'm Christie

...

Disclaimer: Detective Conan belongs - Aoyama Gosho

...

"Pagi Kak Shinichi!" Christie menyapa penuh semangat pada Shinichi yang sedang turun dari tangga.

Hari ini Christie sangat senang, sebab kemarin setelah dia menghampiri Shinichi yang sedang mengurung dirinya di kamar, dia bisa membuat Shinichi tersenyum kembali. Dia sempat khawatir kalau Shinichi kenapa-kenapa. Shinichi kemarin seperti orang linglung dan sakit, wajahnya pucat dan dia selalu menyembunyikan wajahnya. Ketika Christie ingin bertanya penyebabnya, dia mengurungkan niat karena takut Shinichi tambah sedih atau malah tak mau menjawab. Jadi kemarin Christie putuskan untuk menghibur saja. Dan syukurlah, ide itu berhasil.

Walaupun Christie hanya seorang anak kecil, dia bisa mengetahui perasaan Shinichi lewat mata dan tingkah lakunya. Karena mereka juga sudah tinggal bersama selama beberapa minggu, jadi Christie bisa mengenali Shinichi lebih dalam.

'Itu jika… Aku memang anak kecil biasa…' Christie berkata dalam hati.

Shinichi menoleh pada asal suara yang menyapanya. Shinichi tersenyum senang, ternyata yang menyapanya itu adalah Christie. Berkat Christie, sekarang Shinichi merasa lebih baik. Dia kemarin sempat putus asa dan ingin pergi meninggalkan rumah untuk mencari Ran, tapi ide gila itu dia batalkan. Shinichi berpikir, jika dia lari dari keadaan yang dihadapinya sekarang, itu namanya pengecut. Walau seluruh hati dan pikirannya mengkhawatirkan Ran, Shinichi memutuskan untuk menunggu Ran dan menjalani kehidupannya sekarang apa adanya. Tentu saja bersama gadis kecil yang bisa mengerti perasaanya, Christie.

"Pagi juga, Christie! Ng? Kau kenapa murung begitu?" tanya Shinichi yang sempat melihat sekilas wajah Christie yang terlihat sedih. Wajah yang tidak biasa dia temukan pada anak kecil.

"Ti, tidak kok!" Christie tersenyum.

Shinichi yang sedikit curiga, menghampiri Christie yang sedang berdiri mematung. Dia berjalan pelan, ada hal yang ingin dia pastikan. Dia tak ingin gadis kecil ini bersedih, kemarin dia sudah susah payah menyembunyikan kesedihannya, tapi jika dibayar dengan kesedihan malaikat kecilnya ini, itu sama saja dengan omong kosong. Jadi dia harus tahu alasan kenapa Christie murung.

Shinichi mendekatkan wajahnya ke wajah Christie, hanya terpaut 1 cm saja sebelum wajah mereka bertubrukan. Christie yang diperlakukan seperti itu, wajahnya mulai memanas dan merah merona. Jantungnya sedikit berdetak lebih cepat dan kencang daripada biasanya. Christie sendiri sedikit khawatir, kalau-kalau Shinichi bisa mendengar detak jantungnya yang tak karuan ini.

Cukup lama Shinichi mendekatkan wajahnya ke wajah Christie, kurang lebih satu menit lamanya. Shinichi mengamati wajah cantik yang ada di hadapannya. "Ng… A, anu… Ka, kak Shinichi mau apa?" Christie gugup melihat wajah Shinichi yang begitu dekat dengannya dan tak kunjung beralih. Wajahnya semakin merah saja.

"Hmp… Hahahahahaha!" Shinichi tertawa terbahak-bahak dan menegakkan kembali tubuhnya yang tadi berjongkok saat mendekatkan wajahnya pada Christie.

Christie bingung. Wajahnya yang tadi merah karena gugup, sekarang berubah linglung. Dia tak mengerti kenapa Shinichi tiba-tiba tertawa. Dia merasakan perasaan yang tidak enak.

"Kenapa tertawa?" tanya Christie polos. Sedangkan Shinichi masih senang menikmati kegiatannya sekarang, yaitu tertawa.

"Hmp… Maaf, maaf…" Shinichi sekuat tenaga menahan tawanya agar tak keluar lagi. Dia takut Christie tersinggung.

"Aku hanya teringat Ran… Wajahmu tadi mirip sekali dengan Ran saat aku mendekatkan wajahku ke wajahnya… Lucu sekali… Wajahnya memalukan sama sepertimu! Hahahaha…" Shinichi tertawa lagi.

Christie yang mendengar itu, langsung memasang wajah cemberut sambil menatap kesal pada Shinichi.

'Wajahku memalukan katanya? Kurang ajar…' keluh Christie dalam hati. Dia dongkol sekali.

Karena terpancing amarah, tanpa sadar Christie mengayunkan kakinya untuk menendang kaki Shinichi. Dan whuuush, tendangannya mengenai kaki Shinichi. Segera saja Shinichi mengaduh kesakitan dan berhenti tertawa.

"Aduuuhh…"

"Eh, ma, maaf kak… Aku tak sengaja!" Christie sadar bahwa dia salah kendali. Tiba-tiba saja kakinya bergerak menendang Shinichi. Christie menggigit jari.

'Bodoh… Kenapa malah aku tendang?' umpat Christie dalam hati, menyesal dengan tindakannya.

"Ah, kau ini…" Shinichi memegangi kakinya yang ditendang Christie.

'Cukup keras juga tendangan anak ini… Apa dia marah padaku karena aku menertawakannya?' pikir Shinichi dalam hati.

"Sakit ya kak? Maaf!" Christie menghampiri Shinichi dan memegang kaki Shinichi yang tadi dia tendang. Dia mengelusnya pelan, berharap jika dielus sakitnya akan hilang.

"Kenapa kasar sekali sih?"

"Maaf…"

"Apa yang ada dipikiranmu sampai menendangku segala?"

"Maaf!"

"Kau kira ini nggak sakit?"

"Kan sudah ku bilang 'maaf'!"

"Tapi ini sakit tahu! Ku balas kau!"

"Eeh?"

Shinichi berjalan mendekati Christie yang melepaskan tangannya dari kaki Shinichi. Shinichi berjalan maju langkah demi langkah, sedangkan Christie mundur dengan langkah yang sama. Mereka berjalan maju-mundur seperti itu sampai Christie terjebak di tembok. Tak bisa melangkah mundur lagi. Shinichi yang menyadari itu mempercepat gerakannya dan tersenyum karena dia menang.

"Kakak mau apa?" Christie ketakutan.

"Balas dendam"

"Kan aku sudah bilang 'maaf' tadi!"

"Tapi aku dendam"

"Aku kan masih kecil!"

"Siapa yang peduli" Shinichi sudah berada di depan Christie tepat. Dia memandang seram ke arah Chritie. Membuat gadis kecil itu ketakutan setengah mati.

"Maaf Kak!" ulang Christie.

'Ya ampuuunn… Dia mau apa?' keluh Christie dalam hati.

"Bersiaplah menghadapi akhir hidupmu, gadis kecil!" ancam Shinichi.

"Tidak…" wajah Christie ketakutan setengah mati melihat wajah Shinichi yang ada tepat di depannya dengan tampang seram.

'Walaupun aku bisa menghajarnya… Tapi aku sekarang kan kecil… Aku bisa kalah!' Christie mulai khawatir.

Christie yang pasrah menutup matanya. Berharap bahwa balasan yang dia dapatkan nanti, tidak begitu sakit. Dia sendiri juga tak habis pikir, kenapa Shinichi bisa sesensitif ini?

Shinichi tersenyum penuh kemenangan. Saatnya dia melakukan pembalasan. Dia menggerakkan kedua tangannya ke pinggang Christie. Dan memegang erat. Lalu…

Menggendongnya!

"Hahahahaha… Kena kau!" teriak Shinichi sambil tertawa dan mengangkat tubuh Christie ke atas. Membuat Christie melayang-layang di udara dalam dekapan Shinichi.

"Eh?" Christie membuka matanya. Dia sadar bahwa tidak merasakan sakit apapun melainkan melayang dan didekap seseorang.

"Hahahaha… Inilah balas dendamku!"

Christie diam saja. Dia shock. Tapi sedetik kemudian wajahnya memerah. Tentu saja memerah karena digendong Shinichi. Dalam beberapa detik dia larut dalam sensasi pelukan Shinichi. Sampai dia sadar bahwa dia harus mengelak.

"Ah… Kak Shinichi menggodaku!"

"Memang benar! Eh, wajahmu memerah tuh…" goda Shinichi.

'Hah? Benarkah?' Christie mulai panik. Dia memegangi pipinya dengan kedua telapak tangan berharap itu bisa menutupi wajahnya yang sekarang mungkin tampak memalukan.

"Tidak!" elak Christie.

"Oh ya? Yang seperti itu namanya bukan merah ya? Lalu jika aku melakukan sesuatu sekarang, apakah kau masih bisa bilang bahwa wajahmu tidak merah, Christie…?"

"Hm?" Christie bingung, dia mau diapakan lagi oleh Shinichi.

Shinichi tersenyum, lalu memeluk Christie yang tadi digendongnya. Memeluk sangat erat.

'Haha… Aku berhasil mengerjainya…' Shinichi tersenyum puas.

Yang dipeluk justru melongo tak percaya. Tadi hanya pipinya saja yang merah, namun sekarang sepertinya seluruh wajahnya sudah berubah warna menjadi merah merona. Sangat merah malah.

'Hah?' teriak Christie dalam hati.

Shinichi semakin memeluk erat dan erat. Dia sudah sangat berhasil menggoda Christie. Lalu Shinichi melepas pelukannya dan kembali mengangkat Christie ke udara, tentu saja untuk melihat reaksi dari gadis itu.

"Hahahaha… Sekarang apa kau masih bisa mengelak kalau wajahmu tidak merah?"

"Ti, tidak kok…"

"Haduh… Kau ini ngotot sekali… Tuh liat ke cermin, seberapa merah wajahmu sekarang!" Shinichi mengendong Christie menuju cermin besar di rumahnya.

Di cermin, Christie bisa melihat betapa merah wajahnya. Begitu merah, sampai membuatnya tak bisa berkata-kata lagi untuk mengelak kembali. Dia bisa melihat di balik wajahnya yang memalukan itu ada wajah Shinichi yang tersenyum puas setelah menggodanya habis-habisan seperti ini.

"Turunkan aku Kak!"

"Nggak! Sampai kau mengaku bahwa wajahmu memang merah sekarang!"

"Aku bilang turunkan!"

"Tidak mau!"

"Kakak!"

"Hei, hei… Kalian ini ribut sekali sih? Ada apa?" keluh Yukiko yang tiba-tiba muncul dibalik pintu ruang keluarga. Yukiko yang melihat adegan Shinichi menggendong Christie langsung menahan tawa. Sebab Shinichi dan Christie sama-sama memalingkan wajah ke arahnya. Shinichi dengan wajah puasnya, sedangkan Christie dengan wajah merahnya. Membuat Yukiko ingin sekali tertawa. Tapi tidak jadi.

"Ng… Tante! Suruh kak Shinichi menurunkan aku…" mohon Christie.

"Tapi kamu kan belum mengaku Christie!"

"Turunkan kak!"

"Tidak mau…"

"Aaaaahh…" desah Christie.

"Sudah turunkan sana, nanti kalian terlambat kalau tak segera sarapan dan berangkat sekolah!"

"…"

"Ayo, Shinichi!"

"Iya iya… Tapi dengan ini aku menganggap kalau wajahmu memang merah!"

"Kan sudah ku bilang, tidak!" Christie masih sempat mengelak setelah diturunkan oleh Shinichi.

"Kau ini…"

.

.

"Hei, apa Kudo sudah baikan?"

"Sepertinya begitu…"

"Kau apakan dia?"

"Aku hanya bicara sedikit…"

"Jangan bilang tentang identitas aslimu?"

"Tentu saja tidak… Aku hanya berbicara hal yang mungkin… Tidak terlalu penting…"

"Oh ya, kau sudah dapat informasi kemana mereka pergi setelah kasus itu?"

"Belum… Seperti biasa, mereka menghilang tanpa jejak… Yah, walaupun di sana banyak orang… Tetap saja tak ada yang tahu pasti kemana mereka pergi setelah kasus pembunuhan di tempat perbelanjaan itu… Hah! Aku jadi menyesal ikut ke kantor polisi, seharusnya aku menolak ajakan inspektur Megure…"

"Sudahlah… Kalau kau mengejarnya secara gegabah kan bahaya juga… Sabarlah, detective!"

"Sudah kubuilang jangan memanggilku 'detective', bodoh!"

"Lho… Bukannya kau ketua grup Detective Cilik yang kau buat itu?"

"Kau jangan mengejekku… Itu perbuatan mereka… Aku hanya dilibatkan secara paksa… Huh…"

"Tapi kau bisa menganalisis dengan baik bukan? Itu mungkin bakat dadakan!"

"Apa maksudmu dengan bakat dadakan, hah?"

"Ayahmu kan detective… Yah, walaupun sedikit payah… Dan juga, Kudo itu juga detective kan? Baguslah kalau kau ikuti jejak mereka…"

"Tak ada hubungannya! Sudahlah berhenti bicara, Ai! Nanti saja dilanjutkan di kelas… Aku sedang malas bicara apa-apa tentang hidupku sekarang!"

"Wah wah… Rupanya kau begitu menyesal sudah menjadi kecil ya, Ran?"

"Tentu saja!"

"Hei, kenapa kalian bisik-bisik?" tanya Shinichi yang sedari tadi memperhatikan kegiatan kedua gadis kecil yang sedang berjalan di belakangnya itu. Shinichi sangat heran, kenapa wanita suka bicara diam-diam, sekalipun itu di tempat yang sepi. Tak terkecuali untuk dua gadis kecil itu, mereka kan juga wanita. Bedanya sekarang mereka sedang di jalan menuju sekolah, bukan di tempat sepi.

"Tidak kok…"

"Shinichi! Wanita itu punya saatnya harus bicara tanpa didengarkan orang lain, tau! Jadi jangan mencoba cerewet!" sela Sonoko.

"Ya… Tapi jika kau yang berbicara berbisik begitu, sudah jelas aku mendengar!"

"Eh? Kenapa?"

"Karena kau cerewet!" ejek Shinichi.

Sonoko langsung mengayunkan tasnya ke kepala Shinichi dan memberinya seribu makian. Sedangkan Shinichi hanya tertawa. Dan dua gadis kecil di belakang, Ai dan Christie hanya tersenyum melihat dua orang di depannya sedang bertengkar dan saling mengejek. Setelah reda beberapa saat, mereka kembali berjalan menuju sekolah masing-masing.

.

.

Christie yang sedang duduk murung di mejanya, melamun sendirian sambil memegang buku yang terbuka walau tak dibacanya. Beberapa kali dia menghela napas panjang dan membolak balik bukunya. Ai yang menyadari keadaan konyol itu, menghampiri Christie dan mengajaknya bicara. Sambil menyeret kursi di bangkunya ke bangku Christie. Sekarang kan sedang jam kosong, jadi tak masalah dia sedikit mengubah kerapian kelasnya. Lagi pula, semua anak sedang sibuk belajar untuk ulangan matematika besok. Ada juga beberapa yang sedang berlarian dan mengobrol. Ai rasa, pembicaraannya tak akan terdengar dan diperhatikan, karena biasanya dia juga berbicara dengan berbisik.

"Sedang memikirkan detective itu, nona?" tegur Ai, membuat Christie tersentak dan malu mendengarkan teguran yang bisa disebut dengan ejekan itu.

"Ti, tidak kok…" jawab Christie tergagap.

Ai hanya tersenyum mengejek, "Terserah kaulah, mau mengaku atau tidak… Memangnya apa yang kau khawatirkan?"

"Dia sedikit aneh kemarin… Sepertinya setelah bangun tidur, dia lupa padaku… Seperti tak mengenalku…" desah Christie.

'Mengaku juga akhirnya…' ejek Ai dalam hati. "Sepertinya begitu… Sebab dia kemarin ke rumah professor Agasa dan dari wajahnya kelihatannya dia ingin bertanya… Tapi tidak jadi setelah melihatku… Entah kenapa?" lanjut Ai.

"Tapi ku harap dia tak mengenal siapa kita sebenarnya… Aku tak ingin menyusahkannya…" kata Christie dengan suara pelan.

"Ku rasa dia akan segera tau tentangmu…"

"Eh? Bagaimana bisa?"

"Sebab penyamaranmu itu memalukan… Apa kau tak bisa menyamar lebih baik lagi? Kenapa hanya menguncir rambut, sih? Bodoh…" keluh Ai.

"Habisnya…" Christie mencoba mengelak.

"Kenapa? Tak mau pakai kaca mata atau operasi plastik?" potong Ai.

"Begini saja aku susah! Lagi pula… Jika dia melihatku dengan seperti ini… Dia bisa melihat bayang-bayang Ran dari aku kan?"

"Kan kau, Ran-nya!"

"Ya memang, tapi sekarang aku ini Christie! Ini semua gara-gara organisasi itu! Hidupku jadi susah… Aku menyesal telah mengikutinya saat di Tropical Land…"

"Tapi kan dengan ini kau bisa membuka niat jahat mereka kan? Apa kau juga menyesal telah bertemu denganku yang mantan organisasi hitam?"

"Tidak… Yang aku sesali adalah… Kenapa harus ada orang seperti Gin dan Vermouth…"

"Tidak juga… Kalau tak ada orang seperti mereka, kita tak akan pernah tahu seperti apa sisi hitam itu…"

"Kau ini bicara apa sih?" keluh Christie.

Ai hanya menyipitkan matanya sambil memandang Christie. Walaupun mereka sama-sama wanita, yang terkadang bisa melankolis, tapi Christie kerap kali tak mengerti dengan ucapan Ai. Hal tersebut sering membuat Ai mengomel dan mengkritik omongan Christie yang kadang tinggi tapi artinya sangat sederhana. Tepat sebelum Ai akan membuka mulut untuk memulai acaranya mengomel pada Christie, pintu kelas terbuka dengan keras.

Genta berdiri di ambang pintu dengan napas tersenggal. Seisi kelas memandang heran padanya. Mencoba menebak alasan kenapa Genta terburu-buru dengan wajah pucat.

"Kenapa lari-lari? Berniat diet, hah?" ejek Ai.

"Celaka! A, ada kasus!" sahut Genta sambil mengatur napasnya yang masih naik turun. Dia tak mempedulikan ejekan Ai, sebab sebenarnya dia tak terlalu mendengar jelas dan jika berdebat dengan Ai pun, pasti dia langsung kalah.

"Kasus apa?" tanggap Mitsuhiko dengan antusias.

"Anak kelas 2B, satu persatu hilang diculik!"

"Tahu dari mana mereka diculik?" tanya Christie.

"Ada yang melihat… Dua orang berbaju hitam membawa pergi dua anak kelas itu sepulang sekolah!"

"Lalu?" tanya Ayumi dengan nada cemas.

"Baru saja ada orang mencurigakan datang ke sekolah… Mereka bertanya pada anak kelas 2B, apakah ada gadis kecil berambut agak panjang dan gadis berambut pendek pirang… Itu artinya mereka mau menculik lagi kan?"

Sontak, Ai dan Christie berpandangan dengan wajah pucat.

'Jangan-jangan…'

.

.

Jam istirahat sudah berlalu 10 menit yang lalu. Tapi tampaknya tak ada niat bagi Shinichi untuk keluar kelas. Memilih membaca buku pelajaran sendirian di kelas, itulah kegiatan Shinichi sekarang. Sebenarnya Shinichi sendiri juga tak percaya kenapa dia bisa berubah menjadi rajin begini. Biasanya dia lebih memilih membaca buku pelajaran di rumah, bukan sekolah. Tadi di menolak ajakan teman-temannya untuk membeli makanan dengan alasan sudah kenyang.

Sonoko berjalan pelan mendekati Shinichi, berniat untuk mengagetkannya dengan teriakan keras. Sepertinya akan menarik jika melihat Shinichi dengan ekspresi kaget.

'Haha… Siap-siap untuk tuli, detective bodoh! Aku akan meneriakimu sampai telingamu putus! Hahaha…' tekat Sonoko dalam hati. Sekarang dia tepat berada di belakang Shinichi yang tengah asyik membaca, jika dilihat dari gerak-gerik Shinichi sepertinya dia tak menyadari kehadiran Sonoko. Sonoko tertawa puas. Penuh percaya diri rencananya akan berhasil.

Ketika mulut Sonoko sudah menganga dan bersiap berteriak, Shinichi berdesah.

"Hentikan, Sonoko… Aku tidak bawa penyumbat telinga!" kata Shinichi dengan nada malas.

"Kenapa kau bisa tahu, sih?" keluh Sonoko. Rencananya gagal.

"Aku mendengar langkah kakimu, lagi pula tadi kau mengambil napas keras sekali, jadi aku tahu kau akan meneriakiku…" jelas Shinichi santai.

"Bercanda denganmu memang tidak menyenangkan!" Sonoko menghela napas panjang. Sudah sejak dulu, jika dia akan mengagetkan Shinichi, Shinichi selalu bisa mengagetkannya lebih dulu. Tak terhitung sudah berapa kali.

"Aku kan memang tak berminat kau ajak bercanda"

"Huh! Oh ya aku mau tanya sedikit…" Sonoko memilih mengganti topik sebelum mereka bertengkar dengan hebat.

"Apa?"

"Menurutmu… Christie itu seperti apa? Aku rasa dia orangnya agak aneh…"

Shinichi menoleh, dan menyudahi membaca buku. Tumben-tumbennya Sonoko bertanya tentang Christie.

"Dia anak yang baik, manis, itu saja…"

"Haaahh, kau ini… Kenapa kau mau dia menumpang di rumahmu?" tanya Sonoko.

"Memangnya tak boleh? Sudahlah, kau ini selalu saja cerewet…" ejek Shinichi.

"Bilang sekali lagi, akan ku bunuh kau!" ancam Sonoko.

.

.

Grup detective cilik pulang bersama-sama. Setelah tadi mencari banyak informasi tentang siswa kelas 2B yang hilang satu persatu. Sekarang mereka berlima, membicarakan kasus itu secara serius sambil berjalan pulang.

"Dari informasi yang kita dapat… Anak yang hilang ada 3 orang…" kata Ai memulai pembicaraan. Sebenarnya Ai tidak terlalu tertarik dengan misteri, hanya saja Christie memaksanya untuk berdiskusi bersama.

"Ya… Kalau tak salah namanya… Ayaka Sakabe, Ritsu Nomiya, dan Risa Kayami… Semua perempuan ya?" sambung Mitsuhiko sambil meletakkan tangannya di dagu. Membuatnya fokus berpikir.

"Mereka hilang setelah pulang sekolah…" kata Ayumi.

"Sudah ku duga, mereka diculik!" tambah Genta.

"Yang aneh adalah tingkah laku mereka sehari sebelum hilang… Mereka hilang dalam selang 1 hari dari yang lainnya… Dan sikap mereka sebelum hilang adalah jadi pendiam dan gugup jika di ajak keluar kelas… Saat ditanya oleh teman-temannya, mereka bilang tidak ada apa-apa… Tapi saat pulang sekolah, mereka berlari seperti sedang terburu-buru…" jelas Christie.

"Mungkin mereka diancam dengan sesuatu…" kata Ai.

"Benar juga, dengan begitu mereka tak akan cerita pada siapa pun!" jawab Ayumi.

"Tapi untuk apa, mengancam? Jika memang sudah yakin dengan ancamannya, tak perlu menculik kan?" sambung Christie.

"Mungkin mereka mengira mengancam saja tidak cukup, makanya sekarang menculik!" tanggap Mitsuhiko.

"Pasti dua orang berbaju hitam itu yang menculiknya!" sahut Genta.

"Hei… Benarkah itu mereka?" bisik Ai pada Christie. Memulai pembicaraan rahasia.

"Aku tak tahu… Tapi jika itu memang mereka, tidak mungkin mereka membiarkan anak kecil itu berkeliaran selama 1 hari… Mereka pasti akan menculik secara langsung… Lagi pula untuk apa menculik 3 anak kecil?" jawab Christie.

"Tapi Genta tadi bilang kan, mereka mencari gadis kecil berambut panjang dan pendek pirang! Bukannya itu kita? Mungkin saja, 3 anak itu adalah kamuflase atau jebakan untuk kita kan? Mereka mencari kita!" kata Ai dengan tatapan menyeringai.

"Kan sudah aku bilang, mereka orangnya waspada… Mana mungkin meninggalkan jejak dengan bertanya pada anak lain tentang keberadaan kita?"

"Tapi mereka kan anak kecil! Bisa disingkarkan kapan saja!"

"Itu tidak mungkin, anak kecil selalu mengamati orang dengan baik… Dan juga gampang bicara pada siapa saja… Kalau anak itu sudah cerita pada orang lain, lalu tiba-tiba hilang karena dibunuh, mereka bisa dilacak polisi…" kata Christie.

"Tapi bagaimana sekarang?"

"Tetap waspada… Aku tak tahu bahaya apa yang akan datang, mungkin juga informasi tentang 2 anak kecil mirip kita tadi salah… Aku akan melindungimu di saat darurat, jangan khawatir!" Christie tersenyum menenangkan.

"Kau ini wanita, Ran… Jangan libatkan dirimu dalam bahaya… Walaupun aku juga tak berniat meninggalkanmu sendirian…" kata Ai dengan nada bicara yang sudah agak menurun.

"Tenang saja!" Christie tersenyum sekali lagi.

"Hei, bagaimana kalau kita ke rumah 3 anak itu? Aku punya alamatnya!" usul Mitsuhiko.

"Ayo!" sorak Genta dan Ayumi bersamaan.

.

"Christie pulang telat?" tanya Shinichi mengulang ucapan ibunya.

"Ya… Tadi dia menelepon ada kasus mendadak… Tapi dia tadi pulang agak siang, jadi mungkin penyelidikannya sudah selesai…" jawab Yukiko sambil menonton televisi.

"Benarkah?"

"Tentu saja! Kau jangan khawatirkan dia… Bukannya dia sudah biasa seperti itu?" saran Yukiko yang sedari tadi bicara tanpa memandang wajah Shinichi.

"Baiklah…" jawab Shinichi pendek.

Shinichi yang baru pulang sekolah dan masih mengenakan seragam, berjalan pelan menuju kamar. Padahal dia sudah berencana akan mengajak Christie membaca buku misteri yang baru saja dia beli. Walaupun sebenarnya Shinichi senang, Christie terlibat kasus, tapi entah kenapa dia ingin Christie berada bersamanya sekarang. Entah kenapa.

'Perasaan yang aneh…' gumam Shinichi setelah sampai di kamarnya.

.

"Menurut informasi yang kita terima, bisa di simpulkan bahwa mereka menjadi aneh setelah pulang dari suatu tempat…" kata Christie memulai pembicaraan setelah dia selesai makan.

Sekarang mereka semua ada di restoran cepat saji, mereka memutuskan untuk menghentikan dulu pencarian dan berdikusi sambil makan. Walaupun sebenarnya alasan mereka untuk makan, dilandasi oleh keluhan Genta yang merasa lapar. Mengeluh berkali-kali membuat teman-temannya tak tahan dan akhirnya menuruti kemauan Genta.

"Iya… Tapi dari ketiga orang tua anak-anak itu, yang tau bahwa anaknya mengunjungi sebuah tempat hanya satu… Itupun dia tidak memberikan jawaban pasti… Katanya kalau tidak salah di apartemen blok 4 kota Beika…" tambah Ai.

"Kita coba ke sana sekarang? Mungkin akan ada petunjuk!" usul Ayumi.

"Jangan… Jangan gegabah… Kita pikirkan dulu tempat lainnya… Lagi pula apartemen itu adalah salah satu rumah teman anak itu tinggal… Belum tentu 2 anak yang lainnya pergi ke sana…" cegah Christie.

Handphone Mitsuhiko berbunyi tiba-tiba, sepertinya ada telepon masuk. Setelah menunggu beberapa menit, Mitsuhiko yang selesai bicara menutup teleponnya. Lalu dia menunjukkan wajah senang.

"Aku dapat petunjuk! Barusan teman anak-anak itu meneleponku dan member informasi suatu tempat yang pernah diceritakan pada mereka oleh 3 anak itu sebelum hilang!" seru Mitsuhiko gembira.

"Kau berikan nomor teleponmu pada mereka?" sindir Ai.

"Bu, bukan! Eh maksudku, I, iya! Ku pikir berguna untuk penyelidikan!" jawab Mitsuhiko malu.

"Mitsuhiko genit ya…" kata Ayumi.

"Haaahhh… Kau ini…" tambah Genta yang baru bicara setelah tadi diam sendiri.

"Di mana tempat itu?" tanya Christie antusias.

"Ng… Tadi dia menyebutkan 3 tempat… Di restoran Ayagi di blok 4 Beika, toko baju Dressy di blok 3 Beika, dan Restoran Karabe di blok 5 Beika…" jelas Mitsuhiko.

"Kenapa menyebutkan 3 tempat? Apa itu dari masing-masing 3 anak?" tanya Genta.

"Tidak… Dia bilang yang cerita hanya Ayaka dan Risa… Ayaka bilang restoran Ayagi dan Karabe… Tapi Risa bilang toko Dressy dan restoran Karabe…"

"Eh? Ada 1 tempat yang sama?" tanya Ayumi.

"Benar…" jawab Mitsuhiko.

"Mungkin memang di restoran Karabe! Pasti di sana markas 2 penculik itu!" usul Genta.

Sedangkan Christie hanya menunduk sambil berpikir, dan Ai menunggu analisisnya.

.

'Kenapa perasaanku begini ya?' kata Shinichi dalam hati.

Dia sedang berbaring di tempat tidur sambil memikirkan sesuatu yang sedang menyerang hatinya. Entah kenapa, dari tadi ada rasa yang aneh di hati Shinichi saat tahu bahwa Christie belum pulang. Dia jadi resah dan enggan melakukan apa-apa. Dia berpikir dan berpikir, untuk menemukan kegelisahan hatinya.

Tiba-tiba dia teringat sesuatu…

"Apa? Kau tak bisa menemukan di mana Ran berada? Kenapa bisa?" teriak Sonoko.

'Eh? Itu tadi kan…'

"Kau ini bodoh ya? Kita bisa kalah dengan Ran!" keluh Sonoko.

"Maaf Sonoko, tapi aku tak bisa menemukannya!" kata salah seorang temannya.

"Kau memang payah! Biar aku saja yang cari!" Sonoko melangkah pergi dengan kesal.

'Itu kan cerita waktu aku masih kelas 1 SD… Kenapa jadi terbayang itu ya?' Shinichi tersenyum sendiri.

'Aku jadi ingat ekspresi kesal Sonoko yang tak bisa menemukan di mana Ran bersembunyi saat bermain petak umpet… Hahaha… Lucu sekali…'

Shinichi memutar ulang ingatannya ke hari itu.

.

"Hei Christie! Ayo kita berangkat ke restoran itu!"

Ayumi, Genta, Mitsuhiko dan Ai, sudah beranjak dari kursi. Mereka akan pergi ke restoran Karabe. Sedangkan Christie masih mematung di kursinya, asyik berpikir.

"Aku rasa… Mereka tak ada di sana…" kata Christie.

"Kenapa bisa? Bukankah itu tempat yang disebut oleh 2 orang anak!" protes Genta.

"Memang… Tapi tempat mereka sebenarnya… Bukan di sana!" jawab Christie yakin.

.

'Ran itu… Terlalu pandai bersembunyi…' puji Shinichi dalam hati.

'Oh ya… Waktu itu… Ran kan dalam bahaya…' sambung Shinichi lagi.

.

"Kau yang benar, Christie! Memangnya mereka di mana?" Genta kembali protes.

"Mereka ada di blok 4! Restoran Ayagi!" kata Christie dengan pasti.

"Bagaimana bisa begitu?" tanya Mitsuhiko.

"Sudahlah, kita ke sana saja!" jawab Christie.

"Kalau begitu, kita ke sana sekarang! Ke tempat 2 laki-laki penculik berbaju hitam!" kata Ayumi.

Ai yang mendengar itu, menatap Christie dengan khawatir.

'Benarkah tak apa-apa? Menemui mereka? Orang-orang baju hitam!'