Long last

.

.

.

CHANTAO

.

.

Last prolog

.

+oOo+

Sinar matahari pagi yang menembus gorden jendela kamar Chanyeol –Park Chanyeol- membuat bocah kelas dua sekolah dasar itu mengeluh silau. Ia mencoba menghindari sinar mentari itu dengan menutupi seluruh wajahnya dengan selimut, namun justru gerah dan sesak nafas lah yang ia dapatkan. Jam dinding dikamarnya sudah menunjukan pukul setengah tujuh, dan yang membuat Chanyeol frustasi adalah ia tidak bisa tidur lagi , padahal sekolahnya masih akan mulai satu setengah jam lagi. Waktu yang masih cukup lama untuk seorang bocah pemalas seperti dirinya.

Chanyeol bangkit dari ranjangnya.

Wajahnya yang tampan itu turun dari kasurnya dengan malas-malasan. Karena sudah tidak bisa tidur lagi, ia terpaksa harus bersiap mandi sekalipun waktu ke sekolahnya masih lama sekali. Ia mandi dengan cepat , dan segera memakai pakaian sekolahnya pula. Ada satu tujuan yang terlintas di kepala Chanyeol saat melihat masih jam –sangat pagi seperti sekarang.

"Chanyeol ...kau sudah bangun , nak?"

Ibunya menatap Chanyeol dengan lembut, ia terlihat sedang menata meja untuk sarapan. Satu gelas susu dan juga secangkir teh serta kopi hitam panas sudah tertata dengan rapi pada masing-masing sudut meja. Chanyeol pun tak ketinggalan ikut andil membantu sang Ibu untuk menata beberapa helai roti bakar berselai cokelat dan juga stoberi di meja. –Ah selai stoberi, Chanyeol jadi teringat bocah itu.

"Jadi , ada gerangan apa pada putra Ibu yang biasanya jika dibangunkan saja susah setengah nyaris mati ini dapat bangun sendiri , bahkan lebih pagi dari Ayahnya –yang sekarang ia bahkan baru mandi Ibu rasa?"

Chanyeol terkekeh , ia duduk pada sisi meja miliknya. "Salah jika aku bangun pagi , bu? Kurasa justru aku sedikit mengurangi tugas mu pada pagi hari." Ibunya mengambilkan piring untuk Chanyeol dan meletakkan roti berselai cokelat pada piringnya –tapi sebelum bocah itu protes , "Aku ingin selai stoberi" Wajah Ibu Chanyeol memandang heran pada putranya , "Kau mau stoberi? Ibu tidak salah dengar , kan , Park kecil?"

"Ada apa? Kenapa marga ku kau bawa-bawa , hum?"

Ayah Chanyeol yang kini sudah berpakaian kantor lengkap dengan tas kerja yang ia taruh dibawah kakinya. Ia duduk pada sisi meja yang berseberangan dengan meja Chanyeol. Secangkir kopi menyapa indra penciumannya. Ibu Chanyeol menggeleng saja , "Tidak ada apa-apa. Hanya saja aku sedikit kaget dengan Chanyeol yang tiba-tiba meminta roti dengan selai stoberi. Tidak kah kau ingat bahwa ia benci dengan hal-hal yang berbau anak perempuan? –dan stoberi salah satunya."

"Kurasa Chanyeol sudah memiliki alasan nya sendiri untuk hal itu –benarkan , Chan?"

Chanyeol mengangguk dengan diiringi kekehan kecil pada bibirnya , ia juga menatap sang Ibu dengan tatapan yang sulit diartikan dan disambut dengan wajah Ibunya yang kesal dengannya yang sudah main rahasia-rahasiaan sekarang. "Dasar. Ayah dan anak ini , sama saja."Cibirnya yang mengundang gelak tawa Ayah dan Chanyeol .

"Oh iya, ngomong-ngomong , bu. Bisa kau membawakan ku bekal roti stoberi juga? Nanti aku ada kelas tambahan."

Ibu Chanyeol mengangguk saja, "Baiklah, nanti akan Ibu siapkan."

Chanyeol tersenyum.

"Oh , bagaimana dengan sekolahmu sekarang , Chan?"

"Sekolahku? –Ah , oke. Seperti biasanya aku tidak bisa peringkat satu."

Ayah Chanyeol memutar bola matanya jengah. "Bisakah kau berhenti bicara begitu? Kau tidak bisa peringkat satu itu juga karena ulahmu. Belajar yang benar makanya." Chanyeol meneguk susu nya sekali tenggak. "Ayah dengar..-"Ucap Chanyeol . "-..seberusaha apapun aku untuk mengalahkan si Albino kakak angkat dari si cantik Zitao itu , aku tetap tidak akan bisa. Aku selalu peringkat dua –selalu."Lanjut anak kelas dua sekolah dasar itu.

Ibu Chanyeol sedikit terkikik kecil akibat mendengar perkataan Chanyeol tadi , si Albino? –Maksudnya , Sehun? Dan si cantik Zitao? –Oh , Tuhan putra nya blak-blakan sekali. "Jadi , apa sekarang kau sedang curhat pada kami , Chanyeol? Dimana jiwa mu yang main rahasia-rahasia dengan ibu tadi , huh? Menguap?"Sindir Nyonya Park itu.

"Ya ampun , Ibu. Kau kira aku memiliki gangguan kejiwaan karena ingin makan roti selai stoberi begitu? –sampai-sampai kau mengira aku ada rahasia dengan Ayah karena tingkahnya yang seperti kriminal itu? Bukankah Ayah memang selalu menjadi kriminal , bu? –maksudku , ayolah.."

"Ehem."

Dehaman menggelegar dengan suara berat dan serak-serak menyapa telinga Nyonya Park dan juga Chanyeol . Mungkin mereka melupakan kalau manusia yang sedari tadi mereka nistakan berada ditengah-tengah mereka.

"Kau bilang apa tadi , Park Chanyeol? –Kurasa kau sudah melupakan dari mana margamu berasal , kan?"

Chanyeol menoleh kearah suara Ayahnya, dengan senyuman kikuk . Dan pagi ini , kediaman Park dipenuhi dengan gelak tawa dan juga jejeritan gembira dari setiap anggota keluarganya.

.

.

.

.

Mobil pribadi keluarga Park yang mengantar jemput Chanyeol setiap ia bersekolah kini sudah memasuki halaman dari sekolahnya. Chanyeol menatapi beberapa murid dari kaca mobilnya dengan mata mengantuk –anak yang benar-benar pemalas. Tapi sekalipun pemalas, hebatnya cowok dengan rambut yang sengaja ia warnai cokelat dan keriting itu dapat menempati peringkat kedua –secara umum, artinya dari seluruh siswa kelas dua. Masih di bawah kakak angkat Zitao , Oh –Huang- Sehun.

Seragam hari ini adalah baju kemeja putih dengan bawahan –baik rok ataupun celana- kotak-kotak hitam. Chanyeol tentu sudah berpakaian yang dimaksud. Ia turun dari mobilnya dengan dibukakan pintu oleh supir pribadinya. "Silahkan , Tuan muda. Bel masuk akan berbunyi kira-kira masih empat puluh lima menit lagi dari sekarang."Ucap supir pribadinya tersebut memberikannya informasi. Chanyeol mengangguk , ia turun dan mengambil tas punggung miliknya untuk diseret. "Selamat belajar , Tuan muda." Supir pribadinya pun menutup pintu mobil dan melajukan mobilnya pelan-pelan keluar dari lingkungan sekolahnya.

Chanyeol memang tidak pernah menggendong tas punggung pada punggungnya –hal itu bisa membuat seragamnya yang rapih menjadi kusut. Benar-benar anak yang arrogant memang. Yah, walaupun ke-arrogant-nan nya tidak akan bisa bertahan lama jika sudah berjumpa dengan anak perempuan itu. Anak perempuan dengan wajah yang bersinar juga cantik , terdapat kantung mata berwarna samar-samar hitam dibawah matanya yang membuat mata anak perempuan itu tampak sayu dan menenangkan untuk siapapun yang melihatnya. Dia –yang sedang berdiri dengan beberapa anak perempuan yang lain diujung lorong tempat Chanyeol melangkah saat ini.

Beberapa anak yang melewati Chanyeol yang dominan perempuan , mencoba menyapa anak pintar dan juga orang kaya itu dengan ramah. Tapi seluruhnya harus menelan kekecewaan karena Chanyeol tak pernah menghiraukan mereka barang sedetik pun. Atau mungkin suara mereka bahkan sudah terhembus oleh angin sesaat sebelum sampai pada telinga anak itu.

Sombong sekali dia

"Chanyeol , selamat pagi.."

Kecuali dengan anak itu ,

"Oh , Zitao? Pagi. Kau sudah berangkat? Tidak biasanya?"

Zitao –anak perempuan yang dimaksud oleh Chanyeol itu tampak meminta izin undur diri dengan teman-temannya melalui tatapan , berjalan mendekati Chanyeol , ia tersenyum . "Aku memang selalu berangkat lebih pagi darimu ngomong-ngomong."Ucapnya sambil tertawa. Chanyeol terpaku sejenak. Sebelum ia teringat akan sesuatu, "Ini untukmu." Chanyeol menyerahkan sebuah kotak bekal bergambar bola basket pada Zitao. Bocah perempuan itu memandang kotak bekal itu dan Chanyeol bergantian , "Chanyeol , ini apa?"

"Roti stoberi."

Setelah selesai mengatakan apa isi dari kotak bekal milik nya ini , Chanyeol merasa bahwa mata anak didepannya ini berbinar melebihi sinar dari lampu senter paling terang manapun. "R-Roti stoberi? Untukku?"Tanya Zitao dengan wajah yang sudah menampakkan kata-kata seperti , 'cepat serahkan roti itu , aku ingin memakannya' . Chanyeol mengangguk sebelum mengambil tangan kanan bocah perempuan itu dan memberikan kotak bekalnya , "Ibuku membuat roti selai stoberi pagi ini, jadi aku memintanya untuk membawakanku beberapa untuk aku berikan padamu. Semoga kau suka."

Zitao mengangguk tanpa ragu , ia memeluk kotak bekal itu layaknya memeluk sebuah boneka. Erat sekali. "Aku pasti suka. Terima kasih , Chanyeol , kau baik sekali." Zitao tersenyum , dan membuat anak-anak yang melihatnya terpana beberapa saat termasuk Chanyeol. –Kukira mereka semua lupa dengan usia mereka yang masih belia .

"Sama-sama , habiskan ya."

"Oke!?"

Huang Zitao. Tch.

Chanyeol pun kembali melanjutkan jalannya menuju kelasnya dengan langkah ringan seolah tanpa beban , entah menguap kemana kemalasan nya tadi dan untuk informasi–Oh dia , Zitao dan juga Sehun satu kelas. 2-2 . Sebelum ia mendengar sebuah suara tubrukan dan diiringi dengan pekikan yang Chanyeol kenal sekali suaranya . Zitao!

Ia menoleh dengan cepat dan mendapati bocah panda yang baru saja ia ajak bicara itu terduduk dilantai dengan lutut yang berdarah, matanya berkaca-kaca sekalipun belum menangis. Beberapa siswa ataupun siswi yang melihatnya hanya memandang Zitao dengan tatapan iba –hanya iba , tetapi tak membantunya. Mata Zitao tidak berkedip sama sekali, memandangi kotak bekal pemberian Chanyeol dengan isinya yang sudah berhamburan. Ia terdiam. Dengan seorang anak perempuan lain yang berdiri tegap didepannya , yang kalau Chanyeol tidak salah ingat nama anak itu –Baek-hyun.

Mata Chanyeol membelalak kala melihat anak perempuan itu menginjak roti stoberi buatan ibunya. Hei , apa sekarang dia sedang melakukan pembulian?

"Aku tidak salah lihat , kau dekat sekali dengan Chanyeol , kan , Zi-Tao?"Tanyanya penuh penekanan. Chanyeol hanya memandangi dulu bocah perempuan itu dari jarak yang tidak akan diketahui kehadirannya. Zitao menunduk, "Dia sahabatku , B-Baekhyun ..ayahku dekat dengan ayahnya." Baekhyun menghiraukan ucapan Zitao , entah seperti kerasukan apa tiba-tiba ia sudah menjambak paksa rambut anak perempuan yang sedang terduduk dengan beberapa luka lain akibat dorongannya tadi. "Ikut aku sekarang." Baekhyun –menarik paksa Zitao menuju halaman belakang sekolah. Disini tidak akan ada yang melihat apapun yang ia lakukan pada Zitao –pengecualian untuk Chanyeol , karena ia membuntuti dua bocah yang seumuran dengannya itu sedari tadi. Baekhyun tidak ingin reputasi nya sebagai anak dari kepala sekolah hancur begitu saja saat seseorang melihat ini memberikan sedikit 'pembelajaran tambahan' pada Zitao seorang.

Ia menghempaskan Zitao dengan kasar ke tanah, membuat seragam nya sedikit kotor karena debu. Baekhyun menatapnya jengah , ia benar-benar tersulut emosi pagi ini. Bagaimana ramahnya ia menyapa Chanyeol pagi ini , namun dihiraukan begitu saja . Tetapi , dengan seenaknya anak perempuan dihadapannya ini mendapat perhatian lebih dari Chanyeol. Ditambah dengan sebuah kotak bekal miliK Chanyeol yang diberikan padanya.

"Kau tahu apa kesalahanmu , Huang?"

Zitao menggeleng takut , entah kemana bela-diri wushu yang selama ini ia pelajari.

"Kau tidak tahu? Demi Zeus! Kau mengambil Chanyeolku, Zitao!?"

"Pffttt..."

Mata Baekhyun membelalak ketika mendengar suara kekehan tertahan itu, ia menoleh ke segala arah. Rambut merah sepundaknya berhembus dengan cepat seiring dengan tergesa-gesanya ia menoleh. "Siapa itu!? Keluar kalau kau berani dengan anak kepala sekolah seperti ku!?"

"Memang nya kenapa dengan kau yang menyandang status anak kepala sekolah, hum?"

"C-Chanyeol?"

Baekhyun terkejut bukan main saat melihat seseorang yang ia kagumi saat ini sedang berdiri dengan tegap dihadapannya. Yang lebih membuat ia terkejut lagi adalah Chanyeol saat ini sedang melihatnya 'menasehati' Zitao yang bahkan sekarang ini sedang terduduk dengan wajah menunduk didepan nya. Benar-benar keadaan yang dramatis. "Belakangan ini aku sering melihatmu membuli beberapa adik kelas kita. Tidak kusangka kau sekarang mulai berani membuli teman setingkatmu, besok apa? Kakak kelas? Lalu bagaimana dengan lusa? Lansia?"Cibir Chanyeol. Dengan tenang ia berjalan kearah Zitao dan membantu anak perempuan itu untuk berdiri, tapi ia sadar kaki Zitao sedang terluka , dan ia pasti kesulitan untuk berdiri –jadi Chanyeol berinisiatif untuk menggendongnya. Ia berjalan menuju UKS saat ini , sebelum suara Baekhyun terdengar lagi ,

"Kenapa, Chanyeol?"Tanyanya.

Chanyeol berbalik , masih dengan Zitao yang berada didalam gendongannya. "Apa yang kenapa?"

"Kenapa kau menyukai anak itu?"

Deg

Chanyeol kaget bukan main saat Baekhyun bicara dengan seenaknya saja mengenai perasaannya itu, cepat-cepat ia melihat wajah Zitao saat ini –beruntung ataupun tidak beruntung- mata bocah ini sedang terpejam . Bisa saja tertidur ataupun pingsan , melihat bagaimana kejamnya aksi Baekhyun beberapa menit yang lalu. Ia menatap Baekhyun kini dengan wajah tanpa ekspresi yang ia pelajari tanpa sadar dari Sehun , "Kau bertanya kenapa aku menyukainya , kan?"

Baekhyun mengangguk , ia benar-benar ingin tahu alasan Chanyeol menghiraukan oranglain tetapi tidak dengan Zitao itu. Ia benar-benar merasa bahwa itu tidaklah adil –ia sudah lama menjadi pengagum Chanyeol , sejak awal penerimaan murid baru di sekolah dasar ini. Ia selalu saja memperhatikan bocah laki-laki itu dari jauh, dan secara tidak langsung pula ia sering melihat Zitao disekitar Chanyeol. Awalnya Baekhyun mengira Zitao adalah adik perempuan Chanyeol , makanya ia menerima saja kedekatan keduanya. Namun, saat salah satu teman dikelasnya mengatakan bahwa keduanya tidak memiliki ikatan darah –disitulah kebenciannya meledak.

Sudah lama anak perempuan berambut merah ini mencari sela untuk memberi Zitao sedikit 'nasihat' untuk menjauh dari Chanyeol. Salahkan drama-drama yang ia sering tonton di televisi , dari sanalah ia belajar , 'bahwa berbicara baik-baik tidak akan membuahkan hasil apa-apa, harus ada beberapa tindakan yang dilakukan untuk membuatnya jera' . Dan tindakan itulah yang sedang ia lakukan pada Zitao baru saja.

"Aku benar-benar penasaran tentang hal itu."

"Aku menyukai Zitao karena dia anak yang baik, sopan, cantik, pintar dan terakhir..-"

Baekhyun diam menunggu kelanjutannya Chanyeol bicara.

"-..ia memiliki sifat seorang malaikat, bukan iblis."

.

.

.

.

"Ugh-"

Zitao menggeliat dari balik selimutnya. Matanya membuka perlahan-lahan untuk menyesuaikan cahaya yang akan masuk ke matanya. Ia hendak memposisikan dirinya duduk dan bersandar pada bantalnya sebelum ia merasakan bahwa tangannya saat ini sedang di genggam seseorang, Zitao menoleh pelan dan mendapati dirinya nyaris –benar-benar nyaris berteriak, saat melihat sosok anak laki-laki dengan rambut keriting berwarna cokelat lah yang sedang menggenggam tangannya saat ini. Dia , Chanyeol.

Ia ingat terakhir kali mendengar bahwa Baekhyun terkejut dan mengucapkan nama Chanyeol dengan terbata-bata, hanya itu , sebelum kesadarannya benar-benar hilang. Ternyata Baekhyun tidak main-main saat membuli dirinya tadi. Jambakan pada rambutnya membuat Zitao kehilangan focus melihat betapa kuatnya Baekhyun menariknya. Ia bahkan berpikir , mungkin jika rambutnya ini bukanlah ciptaan dari Tuhan , kemungkinan besar seluruhnya akan rontok sesaat tadi.

Zitao melihat kesekeliling ruangan tempatnya berbaring saat ini –Ah , UKS. Pasti Chanyeol lah yang membawanya kemari, ia yakin sekali dengan hal itu. Zitao memutuskan untuk kembali berbaring dan membiarkan bocah laki-laki itu tetap menggenggam tangannya. Ia memandangi wajah tidur Chanyeol yang tenang, sesekali terkekeh tanpa suara saat melihat berbagai ekspresi yang bocah itu tunjukan dalam tidurnya.

Sebangun dari anak ini, Zitao bersumpah benar-benar akan mengucapkan terima kasih padanya. Karena jika bukan karena Chanyeol, kemungkinan Baekhyun masih menyiksanya saat ini sangatlah besar, itu karena saat ini para pelindungnya yang biasa ..–Sehun sedang menerima pelajaran tambahan karena ia akan mewakili sekolah untuk beberapa perlombaan Kimia dan Biologi . sedangkan Yifan? –jangan terlalu berharap banyak dengan dia yang akan melihat Zitao dibuli, ia kelas tiga, dan kelasnya terletak sangat jauh dari tempat insiden pembulian dirinya tadi.

Zitao kembali memandang wajah Chanyeol yang sedang tidur ,

"Jangan memandangiku seperti itu, aku tahu kalau aku tampan, tapi –ayolah.."

Zitao refleks terduduk dan menarik tangannya pada genggaman Chanyeol dengan cepat. Ia berpura-pura menatap arah lain saat Chanyeol sudah duduk dan terkekeh memandangnya. "Aku t-tidak memandangmu , kok. Jangan terlalu percaya diri kau , Yoda."

"Hei , kau menghina orang yang baru saja menjadi pahlawanmu , huh? Dasar Zitao , tidak tahu berte-"

"Terima kasih , Chanyeol. Sudah menolongku banyak sekali hari ini. Sekali lagi, terima kasih banyak."

Chanyeol terdiam mendengar ucapan Zitao yang memotong ucapannya itu –ia bukan marah, mustahil ia bisa marah pada sosok yang sudah menenangkan jiwanya sejak pertama kali ini bertemu dengan Zitao ketika awal penerimaan murid baru saat mereka masih pada tingkat taman kanak-kanak dulu. Hanya saja ia terpana, ini pertama kalinya ia mendengar Zitao mengucap kata-kata setulus itu hanya untuknya –biasanya hanya untuk Yifan , tetangganya ataupun Sehun , kakak angkatnya. Tapi hari ini , ucapan terima kasih tulus itu , ditujukan untuknya.

"Chanyeol? Kau baik-baik saja?"

Suara Zitao yang terdengar pada alam lamunannya itu membuat Chanyeol tersadar dan menggerejapkan matanya cepat, ia menoleh pada Zitao. "Ya? Aku oke, kenapa memang nya?"Tanya Chanyeol balik. Zitao menggeleng,

"Wajahmu saat melamun seperti sedang memberitahukanku bahwa sekarang ini kau sedang ada pikiran. Iya , kan?"

Tentu saja , dan itu tentangmu tahu. Pikir Chanyeol.

"Tidak, Tidak. Hanya saja , terima kasih ucapanmu tadi tulus sekali."

Zitao terkekeh, "Tak masalah. Tapi , ngomong-ngomong maaf roti stoberi buatan ibumu jadi terbuang sia-sia tadi. Aku bahkan belum sempat memakannya."

"Tidak apa-apa , sungguh. Kau bisa mampir ke rumah ku sepulang sekolah ini jika kau mau lagi sebagai penggantinya."

"Boleh?"Mata bocah itu berbinar lagi. Chanyeol tak tahan untuk tidak tersenyum , "Tentu saja , Zitao. Siapa yang melarangmu , huh?"

Ucapan Chanyeol membuat Zitao tertawa kecil. Tawa yang membuat Baekhyun yang sedang memandangi keduanya dari balik kaca pintu UKS terdiam. Ia merasa asing dengan kebahagiaan yang ada di dalam sana yang entah kenapa sangat menyesakkan dirinya yang masih di bawah umur ini. Baekhyun terlalu kecil untuk mengetahui apa itu cinta , ia masih bocah perempuan yang bahkan belum bisa dikatakan sebagai seorang gadis. Ia butuh waktu untuk memahami itu , dan butuh waktu pula untuk dapat mengendalikan emosinya agar tidak seperti beberapa saat yang lalu.

"Maafkan aku , Zitao , Chanyeol..-" Pelan-pelan Baekhyun menjauh dari sana , meninggalkan Chanyeol dan Zitao . Meninggalkan sekolah ini–

Bahkan , –meninggalkan China.

"selamat tinggal."

.

.

.

Event if i left you now , it's only for a moment

Maybe something called 'destiny' can change anything

Maybe –yes or no.

.

.

.

Disclaimer :

All the Cast in this story actually GOD's.

And,

The story is absolutely mine

So , with attention READ and REVIEW please

And

Enjoy ma stories ^^

.

.

.

Long-last

.

.

Chapter 1 , COMING SOON!

`jesshy2016