I'm Fine.
3.
Hermione sedang duduk di ruang tamunya sambil merajut dan menonton acara memasak di televisi saat ia mendengar anaknya membuka pintu dan menangis.
"Mum!" Maura berjalan menangis, air matanya tumpah, ingusnya keluar dari hidungnya. "Mommy!" Maura naik kepangkuan ibunya, menangis mearung-raung.
"What's wrong sweetheart?" Hermione bertanya, bergerak maju mundur menggendong Maura agar berhenti menangis.
"Mommy! Belikan aku ayah." Maura menangis, memeluk leher ibunya erat.
Hermione terdiam mendengar kalimat Maura barusan.
Apa yang harus dilakukannya sekarang?
.
"Mum." Maura berseru sebelum Hermione mematikan lampu dan pergi keluar.
"Iya sayang?" Hermione bertanya.
"Bolehkah aku tidur denganmu malam ini?" Maura bertanya pelan.
Hermione mempertimbangkannya sebentar, tentu saja ia ingin tidur dengan anaknya, tapi ia juga ingin Maura belajar mandiri. Hermione kemudian tersenyum dan mengangguk. Maura melompat dan mengambil boneka naga-nya lalu menggapai tangan ibunya lalu menuju ke kamar tidur ibunya.
Hermione mengelus-elus kepala Maura yang sudah menutup matanya, saat ia yakin kalau Maura sudah tidur, Hermione menarik selimut lalu menutup matanya.
"Harry terus-menerus mencurigaimu." Hermione berseru sambil berbaring di samping Draco.
Draco menghela nafasnya, tidak mengatakan apa-apa.
"Harry terus menerus curiga kalau kau sudah menjadi pelahap maut, ia terus menerus berusaha menuduhmu atas semua masalah yang terjadi, apa kau tidak bisa melakukan sesuatu?" Hermione bertanya lagi.
Draco masih diam.
"Malfoy!" Hermione memukul dadanya pelan.
"I am."
Hermione memproses apa maksud perkataan Draco barusan, apa ia baru saja mengiyakan kalau ia seorang pelahap maut? Mungkin Hermione salah dengar. Hermione duduk dan mencari-cari kemejanya di sekitar kasur yang mereka tempati.
"Apa?" Hermione bertanya memastikan.
Draco mencari tongkatnya di sekitar mereka, menggumamkan mantra kemudian lambang ular yang dimiliki semua pelahap maut muncul di lengannya.
Hermione menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Draco." Hermione menyebut nama Draco tidak lebih dari sebuah bisikkan.
"Aku tidak bisa menolak Granger! Dark Lord memaksaku, ia mengancam akan membunuh ibuku! Apa yang bisa kulakukan? Bagaimana jika kau ada diposisiku?" Draco bertanya meledak.
Hermione tidak tahu apa yang harus dikatakannya, ia benar-benar kehilangan kata-kata. "Kau bisa saja melakukan hal lain Draco." Hermione berseru pelan. "Kau bisa menemui Dumbledore! Kau bisa meminta pertolongannya!"
"Apa kau pikir semudah itu? Jika Dark Lord menjadikan rumahmu sebagai markas apa bisa dengan mudahnya kau keluar masuk, terutama pergi menemui penyihir tua itu?"
"Draco." Hermione memakai pakaiannya dengan cepat. "Apa kau sengaja? Apa kau menggunakanku? Apa kau memanfaatkanku?" Hermione bertanya, seketika kemungkinan-kemungkinan buruk muncul di kepalanya, bagaimana jika selama ini Draco hanya memanfaatkannya.
"Tidak! Yeah Well, kau tahu kan Granger kalau kita sama-sama memanfaatkan satu sama lain, tapi tidak, aku sama sekali tidak memanfaatkanmu seperti yang kau pikirkan! Aku tidur denganmu karena aku mau tidur denganmu." Draco berusaha menjelaskan dirinya meskipun penjelasannya terdengar menyedihkan.
Hermione menggeleng, tiba-tiba perasaan telah digunakan membasuh dirinya, seharusnya ia tidak tidur dengan Draco Malfoy, harusnya ia tidak menjadikan sex sebagai alasan.
Draco bisa melihat ekspresi wajah Hermione dan tahu kalau penyihir perempuan di depannya tidak mempercayai ucapannya.
"Hermione! Hermione, dengarkan aku!" Draco berjalan mendekat, berusaha meraih kedua bahu Hermione, tapi Hermione menepisnya dengan cepat.
Air mata sudah mengalir dari kedua sisi matanya. "Aku tidak bisa mempercayaimu Malfoy. Kau pasti sudah memanfaatkanku! Kenapa aku bisa begitu bodoh? Kenapa aku percaya kau tidak menginginkan hal lain dariku? Bagaimana jika kau sudah mengorek-ngorek informasi dariku tentang Harry dan memberitahunya pada Dark Lord-Mu itu?" Hermione berteriak, ia merasa jijik pada dirinya sendiri dan Malfoy.
Hermione mengambil tongkatnya dan beberapa barangnya yang tertinggal di ruangan itu, kemudian berjalan menuju pintu.
"Hermione! Aku tidak memanfaatkanmu seperti yang kau pikirkan!" Draco berkata sebelum Hermione pergi.
Hermione menghapus air matanya. "Buktikan! Buktikan Malfoy! Belum terlambat untuk menemui Dumbledore, minta bantuannya dan beritahu aku setelah itu."
Draco tidak pernah datang padanya setelah itu.
Hermione tahu apapun yang ada di antara mereka sudah berakhir begitu ia meninggalkan pintu room of requirment malam itu.
Hubungan tanpa status mereka itu mulai semenjak Hermione memukul Draco di tahun ketiga, setelah itu, mereka beberapa kali menghina satu sama lain tanpa sepengetahuan orang lain, biasanya mereka bertengkar di bagian paling dalam di perpustakaan, dan di pertengahan tahun ke-lima, pertengkaran itu berubah menjadi ciuman, ciuman berubah menjadi sex.
Hermione selalu tahu –apapun yang berlangsung di antara mereka- itu tidak akan berlangsung lama. Hermione selalu mengira Draco Malfoy akan menjadi kenangan indahnya begitu mereka berpisah setelah lulus Hogwarts.
Hermione tahu kalau kedua orangtua Draco berhubungan erat dengan Voldemort, dan ketika semua orang mengira kalau Draco akan mengikuti jejak ayahnya, di hati kecilnya yang paling dalam Hermione selalu berharap Draco akan memilih jalan yang lain, mungkin bukan jalan terang, tapi paling tidak Hermione berharap Draco tidak menjadi pelahap maut.
Tapi kemudian malam itu ia tahu harapannya sudah sirna.
Draco Malfoy dengan atau tanpa pilihan sudah menjadi pelahap maut. Setelah itu, well, saat itu juga Hermione masih melihat secerca harapan, belum terlambat bagi Draco untuk mendatangi Dumbledore dan meminta pertolongannya, tapi Draco tidak pernah melakukannya.
Dan Hermione tahu mereka sudah selesai.
Malam itu, malam saat ia terpisah dengan Dobby, Harry, dan Ron, ia sudah mempasrahkan semuanya, mempasrahkan apa yang akan terjadi, ia tidak memegang tongkatnya, dan ia terluka cukup parah sehingga tidak mampu menggumamkan wandless magic bahkan untuk sekedar meminta pertolongan.
Hermione berdoa pada Merlin, jika memang ia harus mati malam itu, ia berharap siapapun yang membunuhnya hanya akan langsung meng-avada-nya tanpa melakukan hal lain sebelum ia mati. Penyiksaan tidak begitu menakutkan, Crucio? Tidak masalah, ia baru saja mengalaminya, tapi Hermione tidak bisa membayangkan kalau ia sampai diperkosa atau semacamnya.
Hermione menutup matanya begitu ia mendengar suara langkah kaki, berharap kematiannya datang dengan cepat.
Tapi kemudian yang dilihatnya bukan kematian.
Sampai sekarang, jika ia mengingat-ingat malam yang gelap itu, Hermione masih bertanya-tanya apakah yang muncul di hadapannya saat itu lebih baik dari kematian atau lebih buruk?
Mereka berdua lupa menggunakan kontrasepsi, Hermione benar-benar ketakutan saat ia menyadari hal itu, tapi kemudian begitu ia tahu kalau ia hamil, Hermione tahu apa yang akan dilakukannya dengan bayinya dan hidup mereka.
.
Hermione berkata pada Maura kalau ia akan pergi sebentar untuk membeli susu, ia memberitahu Maura kalau ia tidak lama dan Maura tidak boleh meninggalkan rumah.
Maura duduk di depan televisi dan menonton film kartun kesukaannya yang dibatasi jamnya oleh ibunya itu, ia kemudian mendengar seseorang memanggil nama ibunya dari luar.
"Hermione."
Maura mengangkat alisnya. Kenapa orang itu berteriak-teriak? Apa ia tidak bisa mengetuk pintu atau menggunakan bel? Pikirnya.
Maura melompat dari sofa, ia kemudian berjalan ke arah pintu keluar lalu mengintip dari tirai siapa yang berteriak-teriak memanggil ibunya. Maura tidak mengenalinya, ia bahkan tidak pernah melihat orang itu sebelumnya di desa mereka.
"Hermione Granger! Keluarlah!" Maura mendengar orang itu berteriak lagi.
Haruskah ia keluar dan bertanya apa perlu orang itu? Bagaimana jika orang itu berniat jahat? Bagaimana jika orang itu ingin menculiknya? Tapi bagaimana jika orang itu teman ibunya yang datang dari London?
Mom sering bilang padaku kalau dulu ia tinggal di London, dan Gramp juga Granny juga tinggal di London. Tapi bagaimana jika itu orang jahat? Mom bilang aku tidak boleh bicara dengan orang asing. Ah, tidak masalah, aku bisa bicara dari pintu saja. Pikir Maura.
Maura melepaskan selotan pintunya lalu membuka kunci pintu rumahnya, ia membuka pintu rumahnya tidak begitu lebar.
"Ada perlu apa dengan Mom?" Maura bertanya pelan.
.
Hermione tidak biasanya meninggalkan Maura seorang diri, biasanya ia akan mengajak Maura berbelanja dan sekaligus mengajarinya beberapa hal, tapi hari ini begitu panas, dan Hermione tahu Maura hanya akan mengeluh sepanjang perjalanan dan ujung-ujungnya minta di gendong.
Hermione tidak tahu apa yang merasuki anaknya itu, umurnya sudah empat tahun, dan ia bahkan lebih besar dari anak-anak seumurannya, tapi ia selalu minta digendong kemana-mana. Hermione kemudian tersenyum, memikirkan berapa lama lagi ia akan sanggup menggendong Maura atau berapa lama lagi Maura akan terus minta digendong olehnya.
Jadi Hermione memutuskan untuk meninggalkan Maura di rumah, ia berpikir toh ia hanya sebentar dan tidak mungkin ada yang terjadi pada anaknya itu.
Hermione berjalan pulang setelah membeli beberapa hal, ia membeli susu dan bahan makanan, es krim, dan beberapa cemilan yang disukai Maura, yang sebenarnya tidak ada di daftar awal belanjaannya, kedua tangannya dipenuhi plastik. Ia berjalan dengan senyuman ke arah rumahnya.
Tapi kemudian senyuman itu hilang dan semuanya gelap.
.
Hermione terbangun dan melihat ke sekelilingnya, ia tahu ia tidak berada di tempat yang di kenalinya.
"Astaga!" Hermione seketika bangun dan menutup mulutnya kaget. Ia ingat apa yang terjadi.
"Mommy!" Maura melompat ke kasur tempat ia berbaring. "Mommy kau sudah sadar?" Maura memeluknya erat. "Mommy, kau kenapa? Kenapa Mommy tiba-tiba pingsan?" Maura berseru, sebentar lagi menangis.
"Maura." Hermione berkata tegas, melepaskan pelukkan anaknya itu, tentu saja ia senang dipeluk anaknya, hanya saja sekarang ada hal yang lebih penting untuk dilakukannya. "Maura, kita ada dimana?" Hermione bertanya panik, menyadari kalau mereka tidak ada di rumah.
"Kau ada ditempatku Granger." Draco Malfoy memasuki kamar itu dengan baki berisi dua gelas jus jeruk.
Hermione ingin pingsan lagi saja.
Draco berjalan dan meletakkan minuman yang dibawanya di meja di dekat situ. "Maura, minum ini dulu." Draco memberitahu.
Maura menggeleng, ia melihat ke arah ibunya yang sedikit ketakutan. "Mommy, Mommy kenapa? Ada apa?" Maura berseru, menggerak-gerakkan tangan Hermione.
Hermione melihat ke arah Draco yang menyeringai kepadanya.
"Maura, bisa keluar sebentar?" Hermione bertanya.
Maura menggeleng. "Aku tidak akan meninggalkan Mommy sendiri jika Mommy takut." Maura menggeleng, ia menggenggam tangan ibunya dan boneka naganya erat.
"Tidak apa Maura, keluarlah sebentar, hanya sebentar, kau bisa membawa jusmu." Hermione memberitahu.
"Maura, pergilah ke ruang televisi, kau tahu cara menyalakannya kan?" Draco bertanya pelan.
Maura melihat kedua orang dewasa yang ada didepannya, ia berpikir sebentar. "Mr. Malfoy, kau tidak akan melukai Mommy kan?" Maura bertanya pelan.
Draco tersenyum pada Maura. "Tidak, tentu tidak, tidak akan."
Maura menimbang-nimbang lagi. "Baiklah, aku akan keluar sebentar." Maura kemudian berusaha turun dari kasur tempat ibunya berbaring, ia mengambil satu gelas jus itu lalu pergi keluar ruangan.
Hermione menghela nafasnya. Ia seharusnya tahu Draco akan membawanya kerumah ini, bukan kerumahnya, toh Draco tidak bisa menembus ward-nya. Tapi apa yang dilakukan Draco disini? Di desa ini?
"She's mine." Draco berseru begitu ia menggumamkan Silencing-spell. Entah maksudnya bertanya atau memberitahu.
Hermione menghela nafasnya, ia tidak mungkin menyangkalnya lagi. Orang bodoh bahkan bisa melihat kesamaan di antara Maura dan Draco.
"Kau bahkan tidak menyangkal." Draco tertawa pelan, ia lalu duduk di ujung kasur itu.
"Sudah berapa lama kau disini?" Hermione bertanya.
Draco mengangkat bahunya. "Beberapa hari. Tenanglah! aku tidak sengaja datang kesini untuk mencarimu, aku bahkan tidak tahu kalau kau tinggal disini sampai kau pingsan begitu melihatku." Draco menjelaskan.
"Granger, apa kau tahu betapa kagetnya aku begitu melihat Maura di pantai?" Draco bertanya.
"Kenapa kau menyembunyikannya dariku Granger?" Draco bertanya.
"Apa yang kau harapkan dariku Malfoy? Apa kau berharap aku datang ke Malfoy Manor? Mencarimu dan memberitahumu kalau aku hamil? Begitu?" Hermione tidak bisa menahan nada sarkasnya.
"Aku tahu kondisimu setelah perang Granger! Aku tahu bagaimana orang-orang brengsek itu memperlakukanmu, hell aku bahkan tahu kau pergi karena kau hamil, tapi kau seharusnya paling tidak memberitahuku kalau itu anakku." Draco berseru, frustasi.
Hermione tertawa. "Apa yang akan kau lakukan kalau aku memberitahumu kalau aku hamil anakmu?" Tanya Hermione dingin.
"Jangan berpikiran naif Malfoy! Apa yang kau harapkan? Aku mengenalmu, dan paling-paling kau hanya akan berusaha mengambilnya dariku." Hermione berseru, tidak kalah frustasi.
Draco menggeleng. "Aku tidak mungkin mengambilnya Hermione! Jangan bercanda! Kau seharusnya memberitahuku, paling tidak aku bisa melakukan sesuatu! Aku bisa ikut denganmu! Kita bisa tinggal di suatu tempat! Aku bisa mengenal anakku! Granger! Aku bahkan tidak tahu siapa nama tengahnya? Kapan tanggal lahirnya? Apa makanan kesukaannya?!" Draco berseru.
Hermione tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Hermione, aku mohon, aku mohon, biarkan aku mengenal anakku."
Hermione menggeleng. "Draco, dia bukan laki-laki, bukan penerusmu atau semacamnya, kau tidak perlu mengkuatirkan kami akan mengganggumu atau semacamnya. Carilah penyihir perempuan lain, yang berdarah murni, lalu lahirkan anak laki-laki, a real Malfoy." Hermione berseru, berusaha keras agar Draco tidak berusaha mengambil Maura darinya.
"Hermione! Kau tidak mengerti! Aku tidak ingin sesuatu dari kalian, aku hanya ingin bertemu dengannya, bermain, memeluknya, memberitahu kalau aku ayahnya, aku tidak akan memaksanya atau semacamnya, dan aku juga tidak akan mengambilnya darimu!"
Hermione menggeleng. "Tidak, aku tidak bisa percaya padamu!"
Draco menahan emosinya, ia berusaha tidak mengeluarkan kata-kata kasar atau mengacungkan tongkatnya.
"Aku akan memberimu waktu Granger! Beberapa hari untuk menyiapkan mentalmu! Kalau kau masih memutuskan untuk tidak membiarkan aku bertemu dengan Maura maka bersiaplah! Aku akan menggunakan pengacara atau apapun untuk mengambil Maura!" Draco berseru, berusaha terdengar tenang dan dingin.
Hermione menutup mulutnya kaget. "Draco! Bagaimana mungkin kau melakukan itu? Kau mau mengambil anakku?"
"Kenapa Granger? Kau mengambil anakku duluan!" Draco berseru, benar-benar kesal.
Hermione menghela nafasnya. "Baiklah, baik!" Hermione meledak. "Dua hari, dua hari lagi. Tapi kumohon Draco, kumohon, jangan ambil Maura dariku. Hanya ia satu-satunya yang kumiliki." Hermione berseru.
Wajah Draco melembut, ia bisa melihat kalau Hermione memang benar-benar tidak akan bisa hidup tanpa anak mereka itu. "Aku tidak akan mengambilnya darimu jika kau tidak menghalangiku bertemu dengannya Hermione. Bagaimanapun juga, bukankah aku punya hak untuk mengenal anakku?" Draco bertanya, berusaha membuat Hermione melihat dan mengerti logikanya.
Hermione menghela nafasnya. Apa yang dikatakan Draco benar, Draco punya hal untuk mengenal anaknya.
Hermione mengubah pikirannya.
"Apa kau berjanji untuk tidak mengambilnya dariku?" Hermione bertanya sekali lagi, memastikan.
Draco menggangguk. "Aku bersumpah Granger." Draco berseru, meletakkan tangannya didadanya.
"Kau mau mengenalnya sekarang?" Hermione bertanya.
Draco tersenyum, dan Hermione tidak ingin memberitahunya betapa ia merindukan senyuman itu.
.
Hermione sedang berada di dapur membuat susu untuk Maura sebelum anaknya tidur. Hermione menghela nafasnya, Ia dan Draco membuat kesepakatan untuk tidak dulu memberitahu kalau Draco adalah ayahnya, sure, mereka berdua bisa melihat kalau Maura memang terlalu pintar untuk anak seumurannya, tapi mereka berdua tidak yakin kalau Maura akan dengan mudahnya menerima fakta itu.
Jadi Hermione memutuskan untuk membiarkan Draco dan Maura saling mengenal. Disatu sisi ia senang, karena Maura akan mendapatkan sosok ayah dari ayah kandungnya, tapi di sisi lain ia takut, takut kalau kalau Draco mengambil Maura darinya.
Jadi meskipun Hermione membiarkan Draco dan Maura dekat untuk sementara waktu, ia harus tetap berjaga-jaga, tidak boleh lengah.
"Mommy Mommy Mommy!" Maura melompat-lompat dikasurnya begitu Hermione memasuki kamarnya.
"Berhentilah Maura, kau akan jatuh nanti." Hermione tertawa, berusaha menangkap anaknya kemudian memeluknya.
Maura tertawa-tawa geli saat ibunya menggelitiknya. "Mommy stop! Aku akan mengompol." Maura berseru sambil tertawa-tawa.
Hermione berhenti, mereka kemudian berbaring dan menarik nafas.
"Bolehkah aku bermain dengan Mr Malfoy lagi besok?" Maura bertanya.
"Well…" Hermione berpura-pura berpikir. "Apa kau suka bermain dengan Mr Malfoy?" Hermione bertanya.
Maura mengangguk penuh semangat. "Mommy selalu bilang kalau kita berdua penyihir dan tidak boleh memberitahu orang-orang, jadi aku selalu merasa sedih tidak bisa bermain dengan sihir, tapi Mr Malfoy juga seorang penyihir, kami bermain banyak hal dengan sihirnya tadi, dan Mr Malfoy berjanji mengizinkanku berenang besok setelah kolam renangnya dibersihkan, ia bahkan mengizinkanku memanggilnya Draco, Mommy, bukankah Draco itu bahasa latinnya naga? Bukankah itu suatu kebetulan yang lucu? Nama depan Mr Malfoy adalah Draco, dan mahkluk sihir favoritku adalah Naga. Ah, pokoknya aku ingin bermain dengan Draco lagi besok."
"Hmm…" Hermione masih pura-pura berpikir.
"Ayolah Mommy…" Maura merengek.
Hermione tertawa. "Baiklah-baik, tapi kau tidak boleh merepotkannya, tidak boleh membuat rumahnya berantakan, bersikap sopan dan tidak menanyakan hal-hal aneh, dan jika Draco menawarkan untuk menaiki sapu terbang, kau tidak boleh menerima tawarannya." Hermione berseru, menekankan larangan terakhirnya. Ia mengenal Draco dan tahu persis kalau pria itu akan berusaha mempengaruhi anak mereka untuk menaikki sapu terbang.
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh menaikki sapu terbang?"
"Karena hal itu berbahaya Maura."
"Well, baiklah, aku berjanji akan bersikap baik." Maura berseru.
Hermione tersenyum, ia mencium kening Maura. "Kau ingin dongeng sebelum tidur?" Hermione bertanya.
Maura menggeleng. "Aku tidak ingin dongeng malam ini, aku ingin Mommy bercerita tentang Draco."
Hermione terdiam.
Maura memintanya bercerita tentang Draco, apa yang harus diceritakannya pada Maura?
"Apa yang ingin kau ketahui sayang?" Hermione bertanya.
"Draco bilang kalian sekolah bersama, apa kalian berteman? Hogwasss?" Maura bertanya penuh semangat. Hermione tersenyum, Maura selalu senang mendengar ceritanya tentang Hogwarts dan masa kecilnya di dunia sihir.
"Kami bersekolah di Hogwarts, tapi mom dan Draco tidak begitu akur saat kami kecil." Hermione memberitahu.
"Apakah Draco nakal? Apa dia suka meledek Mom seperti Allen meledekku? Apa Draco suka menarik rambut Mom?" Maura bertanya.
Hermione tertawa.
"Well, Draco memang nakal waktu kami masih bersekolah, nakal sekali, tapi ia tidak pernah menarik rambut Mom." Hermione memberitahu.
"Apa lagi? Apa ada hal lucu yang terjadi di antara Mom dan Draco?" Maura bertanya.
Hermione menggeleng. "Entahlah, kami tidak begitu dekat, karena Draco nakal, nakal sekali, Mom bahkan pernah memukulnya di tahun ketiga karena ia terlalu nakal."
Maura tertawa. "Benarkah? Lalu apa yang terjadi?" Maura bertanya lagi.
.
"Mommy! Mommy! Mommy!" Maura melompat-lompat tidak sabaran. "Ayo Mommy, apa kau sudah selesai?" Maura bertanya.
Hermione sedang membuat makan siang untuk di bawa ke rumah Draco, Maura berkata akan berenang disana, ia bahkan sudah memakai pakaian renangnya dan bahkan memakai pelampungnya.
"Sabarlah sedikit." Hermione tersenyum.
Setelah selesai membuat makan siang, ia kemudian menggandeng tangan Maura dan menuju ke rumah Draco, mereka tidak menggunakan pintu depan, tapi keluar dari pintu samping dan masuk lewat halaman belakang rumah Nott.
"Draco…" Maura melepaskan tangannya dari genggaman Hermione dan berlari begitu melihat Draco berdiri tidak jauh dari kolam renangnya.
Draco tersenyum lebar. "Maura…" Draco berjongkok dan membuka tangannya bersiap menangkap Maura yang berlari ke arahnya.
Draco dan Maura kemudian tertawa-tawa seperti orang bodoh, Hermione hanya tersenyum dan berjalan ke arah keduanya sambil membawa kotak piknik yang berisi makanan yang sudah disiapkannya.
"Maura, apa kau bisa berenang?" Draco bertanya.
Maura mengangguk. "Mommy mengajariku." Maura kemudian langsung melompat ke kolam renang tanpa pemberitahuan.
"Maura!" Hermione berteriak keras, sementara Draco tertawa, Maura kemudian muncul di permukaan dan tertawa-tawa seperti tidak terjadi apa-apa.
"Mommy, berhentilah panik berlebihan." Maura tertawa lalu mulai berenang.
Hermione menghela nafasnya lalu duduk di kain yang sudah di gelar Draco tidak jauh dari kolam, begitu Hermione duduk tidak lama Draco duduk disampingnya.
"Tell me about you Granger." Draco berseru pelan.
"Tidak ada yang harus diberitahu Malfoy." Hermione memberitahu
Draco tertawa. "Kau berakhir di desa Muggle menyedihkan ini dan kau bilang tidak ada yang harus diberitahu?"
"Apa yang ingin kau ketahui Malfoy?"
"Apapun yang kau rasa nyaman untuk diberitahukan padaku Granger."
Hermione diam.
"Apa kau dan Potter tidak lagi berteman?" Draco bertanya.
Hermione menghela nafasnya. "Tanyakan hal lain."
Draco tertawa lagi.
Draco mulai bosan dengan hidupnya setelah perang, ia hanya menghabiskan waktu di Manor tanpa melakukan sesuatu yang bermanfaat. Seperti hari ini, ia duduk di meja makan dengan ibunya, salah satu peri rumahnya mengantarkan korannya seperti biasa.
"Berhentilah membaca koran sampah itu Draco." Narcissa berseru begitu melihat Draco memegang Daily Prophet.
Tentu saja Draco tidak akan berhenti, satu-satunya alasan ia tetap membaca koran sampah itu adalah karena ia ingin tahu bagaimana keadaan Hermione. Anehnya empat bulan belakangan ini tidak ada satupun fotonya yang muncul meskipun namanya tetap bermunculan.
Apa yang terjadi? Apa Hermione bersembunyi? Kenapa ia bersembunyi? Apa ia jadi gemuk? Terlalu gemuk sampai tidak bisa keluar rumah? Draco tertawa terbaha-bahak.
"Draco! ada apa?" Narcissa bertanya
"Tidak ada apa-apa Mother." Draco berseru lalu membuka lipatan korannya.
THE END OF GOLDEN TRIO
Ron Weasley baru saja memberi pernyataan bahwa Hermione Granger tidak lagi berteman dengannya maupun Harry Potter. Kami mendapatkan informasi ini dari Ron Weasley sendiri di salah satu bar di Diagon Alley.
Menurut Mr. Weasley, keabsenan Hermione Granger belakangan ini di depan publik karena ia sedang mengandung dan Mr Weasley sendiri berkata bahwa itu bukan anaknya, terlepas dari hubungan singkat mereka setelah perang, Mr Weasley berkata bahwa ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandung oleh Mrs Granger.
Sampai saat ini kami masih terus mencari keberadaan Mrs Granger untuk mengkonfirmasi apa yang sebenarnya terjadi.
Harry Potter sendiri masih belum bisa dimintai keterangan terkait dengan hal ini.
Kami sendiri telah memastikan ke St. Mungo dan adalah benar kalau Mrs Granger sedang mengandung dan bahkan sudah melahirkan tiga hari yang lalu.
Lalu siapakah ayah dari anak yang dilahirkan Mrs Granger? Kenapa ia menyembunyikan kehamilan dan kelahiran anaknya? Dan kenapa Mr. Weasley berkata mereka tidak lagi berteman?
Draco mencampakkan koran yang dipegangnya lalu pergi ke kamarnya dan segera menghubungi Blaise.
"Apa Pers memakanku hidup-hidup setelah aku pergi?" Hermione bertanya.
Draco tertawa. "Bukan hanya memakanmu hidup-hidup, tapi juga mengunyahmu dan menggitmu."
"Ada apa Granger? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Tidak ada apa-apa."
Draco hanya menggeleng-geleng, tidak mengerti kenapa Hermione tidak mau memberitahunya. Draco kemudian berdiri dan membuka bajunya dan berlari ke arah kolam.
Hermione berusaha berpaling, tidak ingin ketahuan kalau ia masih terkesima oleh tubuh pria itu setelah bertahun-tahun.
"Maura!" Draco berteriak lalu melompat ke kolam dan mencipratkan air kemana-mana.
Maura tertawa-tawa. "Draco! kau membuat airnya keluar." Maura berseru.
Draco dan Maura kemudian bermain-main sambil tertawa-tawa.
"Mommy." Maura berseru. "Ayo ikut berenang"
"Ayo Granger!" Draco ikut berseru.
Hermione memutar matanya. "Aku tidak membawa pakaian renang." Hermione berbohong.
"Jangan bohong Mommy! Aku melihatmu memakai pakaian renang tadi." Maura berseru.
Draco tertawa. "Cepatlah Granger, sebelum aku dan Maura kesana dan memaksamu."
Maura mengangguk-angguk.
Hermione sudah lama tidak berenang, apalagi berenang dengan anaknya. Tapi ia merasa sedikit tidak nyaman dengan keberadaan Draco.
"Mommy…" Maura mulai merajuk.
"Baiklah-baiklah." Hermione berseru, ia membuka kemeja dan celananya kemudian ikut melompat ke kolam, membuat Maura tertawa senang.
Draco berenang agak menjauh, bersender ke ujung kolam, pertama untuk menyembunyikan efek yang disebabkan Hermione, kedua untuk melihat Maura dan Hermione bermain.
Draco bisa melihat tubuh Hermione dengan jelas tadi, ia bisa melihat tubuhnya berubah, tidak lagi tubuh remaja tapi tubuh seorang perempuan, pinggulnya dan juga dadanya menjadi lebih besar tapi anggota tubuhnya yang lain tetap sama, terutama kakinya, kaki yang begitu ingin ia rasakan melingkar lagi dipinggangnya.
"Mommy, Allen bilang ia bisa berenang gaya batu, apa Mommy bisa mengajariku?" Maura bertanya polos.
Hermione tertawa. "Tidak ada gaya batu Maura." Hermione menyipratkan air pada Maura.
Draco tersenyum, ia tahu ia melewatkan banyak hal, ia melewatkan kelahiran anaknya, melewatkan empat ulang tahunnya, melewatkan tawa pertamanya, tangis pertamanya, gigi pertamanya, apa kata yang pertama kali diucapkannya? Apa makanan favoritnya? Apa hobinya?
Draco menyesal ia melewatkan begitu banyak hal.
Draco tersenyum lalu berenang mendekat ke arah Hermione dan Maura. Ia akan membayar penyesalannya.
"Maura, ayo kita berlomba!" Draco berseru senang.
-To Be Continued-
