THE LEGENDIARY OF KORRA
Disclaimer: I do not own Twilight, either its characters, basic plot, backgrounds, etc... They all belong to Stephenie Meyer. This is the spin off of my other fanfic The Another Black.
.
Spring 2012
.
Korra POV
.
.
3. Seth
Friday, February 15, 2012
6:14 PM
.
.
Pikiranku entah kemana sejak Jacob pergi. Aku berusaha sebisa mungkin mengikuti alur bincang-bincang kecil Seth sepanjang perjalanan, tidak tahu mengapa aku melakukannya. Mungkin ini hanya demi menghormatinya. Mungkin juga hanya untuk mengurangi ketegangan yang entah bagaimana mulai mengambil tempat, bagiku dan baginya. Baginya, jelas, karena bagaimanapun ia yang harus mengatasi situasi rumit denganku, manusia biasa yang kebingungan, setelah insiden super-egois dan tak bertanggung jawab yang dilakukan sang Alfa. Sedangkan aku, jujur saja, mendapati sang Alfa tidak menerimaku, ketegangan sedikit merambati menemukan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi di masa depan.
Sebenarnya, bukan pertama kali aku menemukan Alfa emosional. Bukan pertama kali pula aku mendapati diriku tidak diterima oleh pemimpin kawanan penguasa suatu tanah. Tepatnya, hampir selalu kehadiranku tidak diterima. Catat ini. Tidak ada yang akan menerimamu jika di kawananmu ada seekor Alfa haus kekuasaan yang berencana memasukkan kawanan itu ke dalam aliansi taklukannya… Tapi sudah. Jawaban atas sikap keras itu cukup satu: kalahkan saja dia. Mudah. Setelah itu, mau tidak mau mereka harus menundukkan egonya yang setinggi langit itu dan tunduk di hadapan Alfaku. Dan di mana posisiku? Hmmm… tebak saja. Yang jelas aku, dalam banyak hal, termasuk yang diuntungkan.
Tapi kali ini tidak. Aku sama sekali tidak diharapkan untuk memancing pertempuran, perkelahian apapun. Aku harus memasuki keluarga mereka, menjadi bagian dari mereka, mengumpulkan keterangan yang kubutuhkan, dan pergi tanpa menimbulkan sedikit pun permasalahan. Misi terlaksana. Nah, apa langkah halus yang bisa kuperbuat, kalau belum-belum saja sudah ada benih busuk yang berkembang di antara aku dan sang Alfa?
Merapalkan sebait sumpah serapah yang kucuplik dari berbagai bahasa, aku memandang jalanan. Kota dengan deretan gedung dan rumah-rumah sudah jauh tertinggal di belakang tanpa kusadari. Kami kini sudah mulai memasuki jalan lurus nan besar dengan pemandangan hamparan padang rumput, lantas jalan berliku-liku dengan deretan pepohonan di kiri-kanan yang kian lama kian rapat. Pura-pura antusias dengan kondisi di sekitarku, kulongokkan kepalaku keluar jendela. Setidaknya kuharap itu bisa menghentikan celotehan Seth dan upayanya yang menyedihkan untuk meyakinkanku bahwa aku disambut baik di rumahku.
Karena siapapun tahu nyatanya tidak.
Dan kedua, itu bahkan bukan rumahku.
Tapi rupanya tindakanku salah. Lagi.
Seth rupanya malah melihat kemungkinan topik baru melihat antusiasme palsuku. Masih terlihat berusaha keras membuatku kembali riang, ia berpaling sedikit padaku dan bertanya, "Kau suka hutan?"
Ah, pertanyaan macam apa itu?
Serius, apa cowok ini bahkan pernah mendekati cewek? Entah dengan alasan apa. Teman, pacar, apapun… Tidak bisakah ia melihat bahwa aku sedang tidak ingin bicara dengannya?
Oh, mungkin tidak. Mungkin seumur masa remajanya dihabiskan di hutan dengan para hewan liar. Huh, ia memang terlihat ramah, mudah bergaul, berusaha keras tampak menyenangkan… Tapi tetap saja…
Aku mengalihkan pandanganku padanya, tersenyum, berusaha terlihat ramah. "Ya. Tentu. Aku menghabiskan banyak waktu di hutan."
Matanya membelalak lebar, sedikit meleng dari jalanan. Jika dia manusia, mungkin aku akan khawatir dia akan menabrak pagar pembatas jalan dan melemparkan kami ke jurang yang menganga bak patahan neraka. Tapi tidak. Meski jalannya berliku-liku, ia dengan sigap memutar setirnya pada saat yang tepat. Mungkin memang itu bagian dari kemampuan naluri serigalanya, tapi mau tak mau aku merasa kagum. Tetap butuh naluri yang sangat tajam dan latihan ketat untuk melakukannya.
"Sungguh?" ucapnya kemudian.
"Ya…" sahutku. "Aku dan Mom sering bepergian lintas negara. Dan kami jarang sekali tinggal di kota besarnya. Kami lebih sering merambah hutan, mendatangi suku-suku terpencil… Hidup bersama mereka sekian bulan sebelum berpindah ke suku lain…"
Itu tidak bohong. Sama sekali tidak.
"Wuiii…" ia sedikit bersiul. Nadanya terdengar kagum. "Kalau begitu kau takkan kesulitan beradaptasi dengan cara hidup suku kami, eh?"
Cara hidup yang mana? Lari-lari setiap hari di tengah hutan? Memburu makhluk-makhluk berdarah beku? Oh ya, sama sekali tidak ada kesulitan…
"Mungkin malah sulit…" cengirku. "Bisa jadi kalian suku paling modern yang pernah kutemui. Jujur saja, aku lebih terbiasa berburu ikan untuk makan malam di sungai daripada di swalayan…"
Pemuda itu tertawa. Ada lesung pipi di dekat bibirnya kala ia melakukan itu. Lumayan manis untuk ukuran cowok yang setiap malam berubah jadi serigala. Ini mungkin cowok serigala pertama tanpa codet membelah wajah yang kutemui dalam jangka waktu sekitar dua tahun ini. Setelah kuperhatikan, bahkan di lengan bawahnya yang tersingkap hingga batas siku, di bawah lengan kaos polo itu, tak ada bekas luka sama sekali. Wajar, ini pasti hubungannya dengan kemampuan penyembuhan alaminya. Pada penilaian kedua, entah mengapa aku tak lagi mengurusi bekas luka tapi malah fokus pada kulitnya. Kulitnya coklat tembaga dan mulus, bahkan bulu-bulu tebal di tangan khas cowok maskulin pun hampir tak ada. Mungkin ini efek dari gen dalam tubuhnya.
Aku tidak tahu bagaimana dengan suku ini, tapi beberapa suku shifter yang kutemui memiliki penanda fisik yang berbeda-beda. Aneh kalau kubilang penanda fisik, karena seharusnya yang judulnya shifter seharusnya tersembunyi, tanpa tanda apapun. Tapi entah mengapa, selalu saja gen mereka melakukan pengkhianatan. Menjadikan wujud manusia mereka entah bagaimana memiliki karakteristik yang hampir seiring sejalan dengan karakter wujud yang mereka ambil ketika berubah. Pada beberapa jenis shifter, mungkin ada semacam gen yang bekerja membangkitkan hormon pertumbuhan. Mereka jadi seperti semacam makhluk semi-raksasa berotot. Suku beruang di Amerika Utara ada yang semacam ini. Tetapi bedanya dengan mayoritas suku lain, mereka bergerak individual, tidak menerapkan sistem kawanan. Sesama mereka kadang saling bertarung. Mungkin itu alasannya mereka bersaing dalam ukuran tubuh dan kekuatan fisik. Yang terbesar dan terkuatlah yang menang. Ada pula yang entah mengapa jadi tinggi dan langsing, tapi tidak berotot. Suku semacam ini biasanya mengambil wujud yang mengutamakan kecepatan dan kelenturan, misalnya kawanan cheetah di Afrika. Namun, meski sama-sama kucing besar, suku macan kumbang Sumatera malah secara umum lebih mungil. Mereka sangat anggun, cantik dengan rambut hitam legam, namun begitu misterius. Persis wujud transformasi mereka. Suku rubah betina Jepang begitu cantik dengan rambut yang sangat halus. Mata mereka berwarna abu-abu atau hijau, jadi mudah mengenali mereka dibanding orang normal lainnya. Kudengar ada suku shifter yang mengambil wujud rusa. Aku tidak tahu mengapa mereka mengambil wujud rusa. Hewan itu begitu lemah. Tapi kabarnya mereka punya kemampuan spiritual sangat tinggi dan kecantikan yang begitu mempesona. Wujud manusianya pun begitu indah dan agung. Entah ini benar atau cuma isapan jempol, karena aku belum pernah bertemu langsung.
Jujur aku tidak bisa bayangkan jika ada shifter yang mengambil wujud singa laut atau penguin. Apa wujud manusianya akan gendut dan pendek?
Ah, aneh-aneh saja aku ini. Lagipula, nenek moyang mana yang mau mengambil wujud singa laut dan penguin?
Yang jelas satu hal: pastinya gen ini ada pengaruhnya dengan manipulasi DNA, sehingga apapun kecenderungannya, mereka punya semacam kecantikan tersendiri.
Gen apa? Gen ketampanan? Agar bisa memikat lawan jenis sebanyak-banyaknya untuk tujuan regenerasi? Oh, please…
Terserahlah. Yang jelas pesona begituan takkan mempan padaku. Aku takkan terpikat pada shifter manapun, seindah apapun rupanya. Maaf saja.
"… Nanti mungkin kau bisa memancing di sana. Billy suka sekali memancing…" suaranya kembali mencuat di kesadaranku. Aku mengerjap, baru sadar sekian lama aku agak larut dalam pikiranku sendiri sehingga tidak terlalu memperhatikan kata-katanya.
"Maaf?" kataku, agak bingung.
Ia mendelik padaku dengan tampang kecewa, namun kemudian cengiran lebar terpampang di wajahnya. "Hei, aku tak menduga kau begitu terpesona pada ketampananku hingga tak memperhatikan apa yang kukatakan!" ujarnya sambil tertawa jahil.
Heh, apa?
Percaya diri betul dia!
Tapi mau tak mau aku tertawa. "Dalam mimpimu saja, Seth…" komentarku riang. "Siapa yang mengajarimu?"
"Apa?"
"Kalau itu kalimat yang bagus untuk flirting sama cewek?"
"Aku tidak flirting denganmu..."
Aku mendengus. "Oh ya?"
"Ayolah, Korra… Aku tidak flirting dengan adik Jake… Kecuali kalau kau flirting denganku, nah itu lain lagi…"
Aku mengernyit pada ucapannya. "Memangnya kenapa kalau kau flirting dengan adik kakakku?"
"Yah, dia bisa dibilang agak… protektif, mungkin?"
Oh, ya, tidak usah dikatakan. Sudah kelihatan, kok. Standar Alfa manapun juga.
"Lalu kalau aku bukan adik Jake, kau mau flirting denganku?" godaku iseng, agak mengerjap-ngerjapkan bulu mata.
Ia melirikku sekilas, lalu kembali menatap jalanan. "Entahlah, Korra… Aku kan bukan pedofil…"
Huh, santai sekali ia mengucapkan itu...
"Pedofil apanya!" Kupukul bahunya. Pelan-pelan.
Ia tertawa mengejek. "Kau pasti bohong saat kaubilang kau 16. Mungkin kau bilang begitu cuma supaya kau bisa terbang tanpa pendamping. Dari postur badanmu, paling-paling kau baru 13…"
"Enak saja!" sergahku. "Mentang-mentang aku pendek! Aku ini benar-benar sudah 16, tahu!"
"Oya? Tapi kau kan kekanak-kanakan sekali…" ejeknya lagi."Dan kau suka film kartun..." tambahnya.
Aku melotot. "Masalah hobi dan umur itu kan tidak ada hubungannya! Kau saja yang kelewat dewasa… Berapa memang umurmu? 25?"
Dia langsung memasang tampang manyun. "20! Memangnya aku tampak setua itu?"
Hahaha… terus terang dia seperti 22 atau 23… Tapi mungkin itu karena pengaruh gen pertumbuhannya.
"Apalagi kalau begitu, Seth… Kau cuma selisih 4 tahun dariku! Di tempatku tinggal dulu, kau tidak disebut pedofil kalau yang kaucintai sudah berumur lebih dari 14 tahun… Meski kau kakek-kakek sekalipun…"
"Oh, tempat yang mana?" ia memicingkan mata melirikku dan aku tahu arah kesinisannya. Aku sudah bilang kalau aku hidup berpindah-pindah, jadi pastinya tidak jelas itu aturan dari mana. Tapi ya, setelah kupikir-pikir, aku juga lupa itu adat dari daerah mana…
Kupasang tampang mengejek dan ia kembali tertawa riang. Lesung pipi itu kembali lagi. Mungkin dari sisi ini ia agak manis juga… Dan tambah lagi, ia menyenangkan… Meski di awal perjalanan aku tidak antusias gara-gara kepergian Jake, setelah sekian puluh menit berkendara dengannya, bisa saja ia memancing keceriaanku kembali. Ceria yang benar-benar ceria, maksudku. Bukan yang pura-pura. Sudah lama sejak aku lupa bagaimana rasanya benar-benar senang. Dan ia mampu membuatku tertawa.
Heh, apa yang kupikirkan?
"Jadi, apa itu benar?" tanyanya lagi.
"Benar apanya?"
"Kalimat yang tadi itu efektif untuk flirting sama cewek?"
Aku mengernyit. "Kalimat mana?"
"Soal kau terpesona pada ketampananku…"
Kupukul lagi bahunya. Kali ini ia pura-pura kesakitan. Ya, pastinya pura-pura. Aku yakin betul aku sudah mengurangi tenaga. Lagipula, mana mungkin shifter bisa kesakitan oleh pukulan seperti itu? Kalau ada cewek beneran memukulnya pun, yang ada malah tangan si cewek yang remuk…
"Kukatakan ya, Seth, kalau kau nanti mau merayu cewek, jangan pakai kalimat begituan lagi…" kataku.
"Oh ya? Mengapa?"
"Karena itu sama sekali tidak mempesona, tahu… Lain kali, bawakan dia bunga."
Dia berdecak. "Rupanya kau tipe cewek seperti itu ya, Korra?"
"Cewek bagaimana?"
"Cewek yang suka dirayu dengan bunga…"
Aku menekur. Apa aku tipe cewek yang suka dirayu dengan bunga? Aku tidak tahu. Aku tidak pernah dirayu siapapun yang membuat hatiku berdebar-debar hingga saat ini. Banyak cowok memang tekuk lutut di hadapanku. Tapi itu pastinya, sudah barang tentu, sepenuhnya, aku yakin betul, 199,99999999% sama sekali tidak pernah ada hubungannya dengan soal asmara.
"Memang kenapa kalau aku suka dirayu dengan bunga?" aku kembali usil. "Kau memangnya mau merayuku?"
Ia tertawa kecil, tapi tak menjawab. Membuatku memalingkan wajah padanya dan meneliti mukanya dengan mata memicing.
Sesuatu mendadak klik di kepalaku.
"Ha! Kau naksir aku!" tunjukku langsung ke wajahnya.
Dia langsung terlihat gugup. Lucunya…
"Tidak!" ia membantah.
"Oh, ya…" aku berdendang menyebalkan.
"Tidak!"
Aku mencebik. "Maaf mematahkan hatimu, Seth… Tapi aku tidak suka tipe cowok ceria, maaf saja…"
Agak kasar dan terlalu kekanakan memang melakukannya. Tapi itu yang harus kulakukan. Jika sampai ada shifter, apalagi shifter Quileute sampai suka padaku, itu masalah besar. Siapapun tahu yang namanya shifter sangat, sangat posesif. Bisa-bisa aku takkan pernah bisa pergi. Ya, memang belum tentu sih dia benar-benar suka padaku atau tidak. Bisa jadi aku memang ke-geer-an. Tapi tak bisa mengambil resiko.
Ia melotot, tapi tak mengalihkan matanya dari jalanan.
"Memang kau suka tipe cowok seperti apa?"
Seperti apa, ya?
Kuputuskan mengambil asal comot tipe pangeran standar yang ada di komik-komik cewek yang kubaca dulu, waktu aku masih kecil, tanpa benar-benar memikirkan intinya.
"Romantis, lembut, perhatian… Dewasa dan bertanggung jawab… Penuh pertimbangan dan kaya raya." Bagian 'kaya raya' itu sedikit berlebihan sih, membuatku tampak seperti cewek matre. Tapi setidaknya jika Seth memang menyukaiku, membuatnya menganggapku cewek matre adalah hal paling tepat untuk mengusirnya. Maksudku, siapa sih yang suka cewek matre?
Ia tertawa. "Pangeran berkuda putih?"
Perumpamaan yang bagus. Mau tak mau aku ikut tertawa. "Semacam itulah…"
"Lalu apa kau Putri Tidur? Atau Cinderella?"
Aku agak mengernyit. Entah mengapa aku jadi serius memikirkan pertanyaan bodoh itu. Aku Putri Tidur? Atau Cinderella?
Tidak. Aku Penyihir. Yang mengurung Rapunzel dalam menara tinggi. Yang membuat Aurora pingsan dan tertidur ratusan tahun… Yang membuat Snow White terusir dari istananya. Atau malah bukan Ratu Penyihir yang itu, yang begitu menyedihkan dan putus asa menginginkan cinta pangeran atau terobsesi pada kecantikan. Paling tidak mereka memiliki cinta. Cinta yang tak terbalas, tapi tetap cinta. Tidak, aku Penyihir lain. Yang merambah hutan mencari desa-desa untuk dihancurkan. Pengikut dari Ratu Penyihir ambisius dan hanya mencari kekuatan, kekuasaan. Yang tak pernah berpikir tentang cinta.
Cinta tak ada untukku. Tidak pernah.
"Aku Rapunzel," kataku akhirnya. "Tapi bukan Rapunzel yang versi asli. Yang versi Disney terbaru."
Ya. Masa sih aku bilang aku Putri Angsa? Angsa Hitam, lagi… Kan itu terlalu 'membuka diri'… Ha-ha-ha...
Ia agak mengernyit, mungkin tak mengerti. Wajar saja. Aku tak berharap seekor serigala mau menonton film animasi anak-anak. Meski ceritanya sudah diubah sehingga tidak terlalu girly. Mungkin cuma aku shifter satu-satunya di dunia ini yang masih nonton film kartun.
Tapi kemudian ia mencebik kecewa. "Yah… kupikir kau mau bilang kalau kau Bella."
Aku mengerjap. Bella? Bella di film Beauty and The Beast?
Itu film lama. Jadi kalaupun ia tidak tahu film Coraline yang tadi kusebutkan di bandara, yang baru sekitar satu atau dua tahun lalu diproduksi, wajar jika ia tahu film Beauty and The Beast. Lagipula film itu lumayan fenomenal pada masanya. Kalau melihat usia Seth, mungkin masa kecil Seth masuk dalam rentang waktu itu. Tapi yang membuatku terperangah adalah hal lain.
The Beast?
Aku memutar kepalaku begitu rupa. Tanpa sadar membelalak, menatapnya tak percaya.
Serius ia mengatakan itu?
Ia melirik. "Kenapa?"
Kembali aku mengerjap. Menggeleng-gelengkan kepala, berusaha membuang pemikiran itu dari kepalaku. Ini bodoh, ini benar-benar bodoh. Mengapa aku sampai mengeluarkan reaksi itu?
Aku masih di ambang sarang macan. Cowok di depanku ini macan, koreksi, serigala jahat. Wakil Alfa. Bagaimana mungkin aku begitu tanpa perhitungan? Bagaimana mungkin aku begitu terbawa suasana? Di balik kesantaiannya, di balik keceriaannya, mungkin ia dengan licin membuat suatu skema untuk menjebakku, menilai reaksiku. Mencari waktu yang tepat untuk mengeluarkan pancingan. Mencari tahu apakah aku cukup aman untuk diundang memasuki sarangnya atau lebih baik dihabisi di luar.
Aku memutuskan untuk membalik meja.
Agak tersenyum menggoda, aku bertanya, langsung menunjuk similaritas ironis antara tokoh itu dan mereka. "Lalu apa kau berpikir kaulah The Beast?"
Ia tertawa gugup, tapi entah mengapa pandangan matanya sekilas agak awas.
Aku baru sadar, sekali lagi, aku salah langkah.
Bodohnya aku… Bisa jadi ini malah reaksi yang ia tunggu-tunggu.
Cowok ini ternyata licin. Lebih licin daripada Jake.
Ya. Menghadapi yang ini, aku harus berhati-hati. Aku harus segera memikatnya sebelum ia benar-benar melakukan hal buruk yang merugikanku.
.
.
Sejak ia bicara tentang The Beast itu, tanpa sadar aku kembali ke posisi defensifku. Aku berusaha untuk tampak ceria dan bebas, tapi aku tahu ia menyadari ada yang salah, ada yang berbeda denganku. Dalam hati aku mengutuk habis-habisan diriku sendiri. Aku harus belajar akting lebih baik dari ini.
Aku, bagaimanapun, berusaha menunjukkan bahwa kemuramanku adalah karena aku mengingat sikap penerimaan Jacob yang rendah terhadapku. Bahkan walau tidak mempertimbangkan dia Alfa dan lain sebagainya, bagi seorang adik yang baru kembali ke keluarganya setelah sekian tahun, penerimaan seorang kakak penting buatku. Seth kembali berjuang membuatku kembali ceria, tapi kali ini aku lebih awas. Aku agak susah menahan kontrol kalau kelewat ceria, maksudku kalau aku betul-betul ceria, bukan ceria yang dibuat-buat. Mungkin alasannya adalah rasa nyaman. Orang yang membuatku ceria bisa mendatangkan rasa nyaman bagiku. Dan rasa nyaman membuatku agak mengurangi penjagaan. Nah itulah yang gawat.
Kemuramanku membuat Seth agak muram. Entah mengapa agak membuatku sedih, melihat rona kekecewaan di wajahnya, tapi itu tak terhindarkan.
Lagipula memang nyatanya, begitu mendekati La Push, mau tak mau aku tak bisa tersenyum lagi. Sungguh, aku merasakan tekanan yang aneh. Aura mengancam. Membakar. Seakan memperingatkanku, menyuruhku pergi.
Aku tahu apa itu. Aura shifter. Para pelindung tanah ini. Aura mereka memberikan sinyal peringatan bagi shifter lain untuk tak memasuki daerah kekuasaan mereka. Meski ya, aku juga memiliki darah mereka, aku bukan bagian dari mereka.
Aku sudah sering mengalami ini, jadi bukan sesuatu yang mengagetkan bagiku. Yang membuatku shock adalah pada begitu menekan dan intensnya aura itu. Aura semacam ini bersifat kumulatif. Aura dengan intensitas sekuat ini tak mungkin muncul hanya dari dua atau tiga shifter. Lebih dari lima, bukan, bahkan mungkin lebih dari… berapa? Delapan? Sepuluh? Aku tak pernah mendapat perasaan seperti ini atau memasuki kawasan yang dijaga lebih dari lima shifter, sehingga aku tak berani memperkirakan. Apapun itu, jelas ukuran kawanan Quileute lebih besar dari yang kubayangkan.
Ketegangan menggelayutiku bahkan tanpa bisa kutahan. Kusadari Seth mengawasi reaksiku, tapi aku tak bisa lebih tidak peduli. Kuharap ia mengira ketegangan yang kutampilkan adalah karena alasan personal. Ketegangan wajar karena aku akan bertemu ayah yang tak pernah kutahu, misalnya.
.
Beberapa puluh menit setelah berkendara melewati danau gelap dengan tebing-tebing yang curam, akhirnya kami sampai ke sebuah rumah. Rumah itu adalah rumah yang sangat sederhana, satu lantai, kendati ada tambahan semacam loteng kecil di atas atapnya. Dindingnya terbuat dari kayu, berwarna merah kusam. Catnya sudah pudar dimakan usia, entah itu efek cuaca atau memang efek yang diinginkan pemiliknya. Untuk menambah kesan rustic, entahlah. Berdiri di atas padang kosong seluas sekitar 800 meter persegi, dikelilingi hutan. Sebatang pohon, agak besar, berdiri tak jauh dari rumah itu, satu-satunya pohon di halaman gersang yang bahkan tidak diisi satu pun tanaman hias. Hanya ada gerombolan rumput yang botak di sana-sini. Tak jauh darinya, ada sebuah bangunan terpisah, yang kelihatannya semacam garasi. Pintu garasi itu terbuka. Di dalamnya aku sempat melihat sebuah truk tua berwarna biru gelap.
Seth memarkirkan mobil yang kami kendarai tepat di depan garasi. Aku membuka pintu, menjejak tanah yang baru kali ini kembali kuinjak setelah sekian waktu berlalu. Kapan terakhir kali aku menginjak tempat ini? Tiga belas tahun lalu? Aku sama sekali tidak ingat.
Ia tersenyum dan setengah berlari menunjukkan jalan memutar, separuh mengelilingi rumah, menuju ke beranda depan. Ia baru menapaki dua anak tangga ketika pintu terbuka, dan wajah seorang pria muncul di baliknya.
Ayahku? Tidak. Masih terlalu muda. Mungkin orang ini usianya belum sampai 30 tahun.
"Sam?" ujar Seth, entah mengapa terlihat heran. Mungkin pria ini tidak tinggal di sini.
Orang yang dipanggil Sam hanya mengangguk memberi salam, lantas mengalihkan pandangannya padaku. Aku menapaki anak tangga dengan hati-hati, langsung berhadapan dengannya.
"Kau pasti putri Billy. Aku Sam Uley," katanya mengulurkan tangan.
Aku balas menjabat tangan Sam. Aku sedikit terperangah melihatnya, lebih lagi kala menyentuh tangannya.
Ia juga shifter. Dan lebih dari itu. Auranya, aku tak mungkin salah, ini juga aura Alfa.
Apa maksudnya ini? Alfa lain? Di dalam tanah Quileute? Bukankah tadi kurasakan bahwa kakakkulah Alfa? Apakah mungkin ada kepemimpinan ganda di suku ini? Atau malah ada dua kawanan?
Dua kawanan? Bukankah jika memang ada dua kawanan, mereka seharusnya saling bertempur? Bahkan tak mungkin ada dua Alfa dalam satu kawanan, tanpa salah satunya berusaha menjadi lebih dominan ketimbang yang lain, dan memaksa Alfa lain untuk menjadi subordinat.
Dan aku yakin Seth adalah wakil Alfa. Seth. Jika pria ini Alfa, lantas siapa yang dijunjung Seth? Jacob atau pria ini?.
Dan lagi, aura Alfa pria ini berbeda. Tidak semurni Jake, tidak seagung Jake…
Apakah… dia Alfa yang dikalahkan? Mantan Alfa?
Sungguhkah?
Astaga. Drama apa yang ada di suku ini?
Aku berusaha menghapus semua pikiranku dan memperlihatkan ekspresi yang sebisa mungkin tampak wajar, meski jelas sekali agak gemetar.
"Korra, Coraline Gerrard," ujarku memperkenalkan diri.
Sam mundur untuk memberi kami ruang masuk. "Billy sudah menunggu dari tadi," katanya.
.
Benar saja. Begitu aku memasuki rumah, kulihat sosok seorang laki-laki tua menunggu di ruangan dalam, duduk di atas kursi rodanya. Di belakangnya, tampak sebuah meja besar yang penuh dengan makanan. Bergerak satu dua langkah mendekat, aku bisa mencium bau beragam masakan dan mengidentifikasinya. Kalkun panggang, pai apel, roti, sup asparagus, puree kentang, sosis dan ham, buah-buahan, kue-kue… Meja yang sudah padat itu bahkan lebih dipadati dengan keberadaan satu jambangan besar penuh bunga-bunga liar di tengahnya. Rupanya memang ia benar ketika mengatakan di sms bahwa ia akan mempersiapkan sebuah pesta besar. Menyambutku.
Menakjubkan, demikian pikirku. Entah bagaimana caranya mempersiapkan semua ini, karena setahuku, dari bau dan dari rupa rumah ini, tak ada kehadiran seorang perempuan pun. Rumah ini hanya ditinggali ayah dan Jacob.
Lelaki tua itu tersenyum. Senyum sangat lebar.
Entah mengapa begitu melihatnya, semua rasa bimbang, pedih, sakit hati yang kupendam selama bertahun-tahun hilang begitu saja. Itu senyum tulus. Senyum penerimaan. Senyum kasih sayang. Dari seorang ayah…
Tanpa dapat kutahan lagi aku tersenyum. Kurentangkan tanganku, berlari ke arahnya seraya berteriak riang memanggil namanya.
"Dad!" seruku.
Ayahku tertawa, memanggil namaku dan merengkuhku dalam dekapannya. Pelukan yang hangat. Tenteram. Menenangkan. Dan entah bagaimana aku merasa terlindungi. Rupanya inilah yang namanya pelukan seorang ayah.
"Akhirnya bisa juga aku memelukmu," ujarnya. Riang. "Kupikir seumur hidup tidak akan bisa."
Entah mengapa aku merasakan kesenduan dalam kalimatnya yang terakhir. Seakan ia memang merindukanku, menantikanku kembali padanya. Menyayangiku seperti seharusnya. Dan entah bagaimana itu mempengaruhiku.
Bertahun-tahun kurasakan kebencian padanya, pada keluarganya. Untuk hidup yang terenggut dariku, untuk hidup indah yang tak pernah mampir padaku. Sewaktu aku kecil dan tidak tahu bahwa hidup tak selalu ideal, setiap orang bertanya di mana ayahku, aku menangis. Setiap ibu bercerita tentang ayah, meski aku berusaha tersenyum dan tertawa untuk tiap hal indah yang ia lantunkan, diam-diam aku menangis. Setiap aku mambaca dongeng tentang keluarga bahagia, keluarga yang utuh, aku selalu menangis. Berpikir bahwa segala idealisasi manis itu takkan mungkin pernah kucecap.
Tapi kini, takdir yang membelitku ternyata mengantarku ke sini. Di balik segala hal buruk yang tampak di permukaan, mungkin seharusnya aku bersyukur. Aku mendapat kesempatan. Satu kesempatan. Untuk menjalani hidup yang tak pernah kurasakan, yang selama ini diam-diam kuimpikan.
Aku tersenyum, berlutut dan mencium pipi ayahku. "Senang bertemu Dad," ucapku, lirih.
Kupejamkan mataku. Dan kubayangkan ibuku ada di situ. Di sisiku. Memelukku. Bersama ayah...
.
.
Catatan:
Kisah hari pertama masuknya Korra ke La Push, mengisi kekosongan perjalanan Korra dan Seth yang ga diceritain di The Another Black.
Karakter Seth agak berbeda dengan karakternya belakangan ini di Another Black? Lebih mirip Collin? Hahaha… Aku cuma pengen bikin jembatan, bahwa siapapun bisa berubah… :D
