~3~
"Bon Voyage"
Fajar mulai tiba di hutan tak bernama yang terletak di perbatasan Forget-Me-Not Valley. Langit yang tadinya gelap kini mulai dipenuhi semburat merah. Gray terbaring terlentang, beralaskan rumput, melihat langit yang terus berubah warna perlahan-lahan. Ia baru saja membuka matanya, menggerakkan jari-jari tangannya, dan sadar bahwa ia masih hidup setelah apa yang dilaluinya semalam. Ia menggerakkan bola matanya untuk melihat bagian bawah tubuhnya. Di bajunya yang berlumuran darah terdapat sobekan yang menyerong dari dada hingga perutnya. Tapi ketika ia melihat perutnya yang tak tergores luka sedikitpun di celah robekan itu, ia sadar bahwa yang dialaminya semalam bukanlah halusinasi ataupun ilusi.
"Kau sudah sadar?"
Gray menyipitkan matanya saat gadis itu duduk di dekatnya, menghalangi sinar matahari yang baru mulai muncul di ufuk timur. Gadis itu tampak kewalahan saat angin gunung memainkan rambut pirangnya yang panjang. Bagi Gray ia tampak seperti siluet yang sangat asing, dengan beberapa helai rambut pirangnya sesekali memantulkan cahaya merah matahari.
Merah? Ah, Gray mengingatnya dengan jelas. Apa yang terjadi semalam, saat dirinya berada di ambang kematian.
Gray yang sedang dalam kondisi buruk, sudah terkapar hanya dengan beberapa kali serangan kedua perampok itu.
"Sebenarnya aku tak ingin membunuhmu. Tubuhmu kuat. Instingmu juga bagus. Seandainya kau menurut, kami mungkin akan merekrutmu menjadi kelompok kami," kata si perampok kurus. "Tapi sudahlah. Kau bahkan melarikan gadis itu. Bunuh dia, Steve."
Si perampok gemuk, Steve, menghunuskan golok panjangnya, lalu menyabet perut Gray yang hanya bisa berdiri diam. Gray langsung terjatuh, tak bersuara lagi. Hanya napasnya yang terdengar sangat berat.
"Langsung habisi dia, Steve!" perintah si kurus.
Steve tertawa dengan giginya yang tajam-tajam. "Tak usah. Apa kau tidak dengar suaranya? Ia sedang sangat kesakitan, dan memintaku mengakhiri nyawanya. Aku tak mau."
"Dasar kau! Bagaimana kalau dia selamat?"
"Tidak mungkin. Biarkan dia merasakan neraka, paling tidak 10 menit lagi dia akan mati, hahaha. Ini pedangmu! Setidaknya kau mau mati bersamanya kan? Hahaha"
...dan mereka meninggalkan Gray sekarat di tanah dengan pedang Gray tergeletak di sampingnya. Gray bahkan tak bisa bersuara, hanya nafasnya yang tersengal dan kasar berembun di malam yang dingin itu. Darah terus mengucur dari perutnya.
"Ah, apa aku benar-benar akan berakhir di sini?" pikirnya putus asa.
Seperti yang sering Gray dengar, saat seseorang berada di ambang kematian, ingatan-ingatan masa lalu akan berkelebat kembali. Begitupun dengannya saat ini. Ia mengingat banyak wajah orang yang tersenyum padanya di desanya dulu. Juga partner sejatinya, Cliff… yang selalu tersenyum padanya. Tapi…
"Tuan…!"
"Tuan! Ka... kau bisa mendengarku?"
Samar-samar Gray membuka matanya, dan melihat gadis bertudung merah itu kembali. Gadis itu mengambil pedang kecil milik Gray, lalu melukai tangannya sendiri. Gray mulai kehilangan kesadarannya, tapi untuk terakhir kalinya ia bisa melihat, gadis itu mengucurkan darah dari tangannya tepat ke atas luka Gray. Setelah itu Gray tak mengingat apapun lagi.
Dan ketika ia sadar pagi ini, ia mendapati kulit perutnya bersih tanpa goresan sedikitpun. Ia juga melihat tangan gadis itu kini dibebat dengan kain. Jadi semua itu nyata. Gadis itu benar-benar 'menghilangkan' lukanya.
"Kau ini... siapa?" Tanya Gray dalam kebingungannya.
Gadis itu tersenyum ceria, dan hanya menjawab pendek pertanyaan Gray, "Aku Claire!"
Gray bangkit perlahan-lahan dari posisi berbaringnya. Lukanya tak terasa sakit, tapi efek obat yang diberikan perampok itu masih mempengaruhinya.
"Kau baik-baik saja, Tuan?" tanya Claire khawatir. Gray kini telah duduk bersilah tepat di hadapan Claire. Ia tetap seperti biasanya, tidak berekspresi, tapi kini alisnya sedikit berkerut.
"Apa kau penyihir?" tanya Gray tanpa basa-basi.
Claire tampak berpikir sebentar, lalu menggeleng cepat beberapa kali. "Bukan."
"Lalu bagaimana kau melakukan ini dengan darahmu?" Gray bertanya lagi sambil menunjuk bekas luka di perutnya.
Claire kembali diam dan berpikir, hingga akhirnya menjawab dengan singkat, "maaf, aku tak bisa memberitahumu."
"Heh..." respon Gray skeptis. Gadis ini jelas menyembunyikan sesuatu. Namun seperti biasa, Gray memilih untuk tidak terlibat lebih jauh. "Aku tak begitu peduli soal siapa kau, tapi terimakasih. Kau menyelamatkan nyawaku," ucap Gray sambil menatap langsung ke mata Claire. Gray tak tersenyum, tapi pandangan langsungnya membuat wajah Claire sedikit memerah.
Gray berdiri dan melihat daerah sekelilingnya yang sangat asing baginya. "Kau tahu kita di mana sekarang?" tanya Gray. Gadis itu menggeleng tidak tahu. Tentu saja, dilihat dari pakaiannya yang asing, Gray bahkan ragu dia tahu ke mana ia ingin pergi.
"Kau punya tujuan? Dari sini aku akan pergi ke Forget-Me-Not Valley," terang Gray.
"Zephyr..."
"Ya?"
"Aku harus pergi ke Zephyr."
-000-
"Zephyr?" Gray mengulangi kata itu sekali lagi, memastikan telinganya tidak salah dengar. Namun Claire ternyata mengangguk, meski dengan kepala tertunduk.
Zephyr. Meskipun kota itu dulu terkenal sebagai pusat perdagangan dunia, setelah peperangan besar antara Zephyr dan Castanet, kota Zephyr hanyalah sebuah kota mati yang menjadi tempat pelarian para buronan dunia. Orang yang akan pergi ke sana hanyalah penjahat, pedagang gelap, atau hunter sepertinya.
Melihat Claire yang menundukkan wajahnya, Gray memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh. "Kau bisa ke Zephyr melalui Forget-Me-Not Valley, lalu Flower Bud, dan Castanet. Itu bukan tempat yang dekat."
Claire mengangguk, entah mengerti atau tidak. Gray menghela napas, menenangkan pikirannya sendiri. Gadis ini entah kenapa membuatnya merasa khawatir. "Tujuan pertama kita sama, jadi kita bisa ke Forget-Me-Not Valley bersama," kata Gray sambil memegang dahinya sendiri. Ia tak percaya ia menawarkan diri melakukan perjalanan bersama seseorang.
Claire mengangkat wajahnya dan tersenyum. Gray bisa melihat jejak air di matanya. Tampaknya sesaat tadi, ketika ia menundukkan wajahnya, ia sempat ingin menangis. "Terimakasih," ucapnya.
"Ah, tapi..." Claire tiba-tiba teringat pada sesuatu.
"Kenapa?"
"Aku meninggalkan tas dan uangku di tempat penjahat itu."
Gray menghela napas lagi, menyadari bahwa tasnya tidak bersamanya. "Kau ingat arah kembali ke sana?" tanya Gray sambil meregangkan otot-ototnya yang mulai pulih.
-000-
Claire mengambil tas miliknya beserta isinya yang berserakan di pondok kecil dekat kandang kuda tempatnya disekap semalam. Ia juga meraih tas coklat milik Gray, lalu menyerahkannya pada Gray yang tengah berdiri di hadapan dua penjahat bersaudara. Mereka terikat bersama dengan punggung saling berhadapan. Gray meraih kantung kecil di pinggang si kurus, lalu mengambil beberapa jarum yang ada dalam sebuah wadah bambu di sana.
"Jadi ini yang kau gunakan padaku kemarin, hah?" tanya Gray sambil mengamati jarum supit itu. Ia mengangkat lengan si gemuk, lalu menyuntikkan jarum itu padanya. Perlawanan si gemuk langsung sirna seketika karena ia segera hilang kesadaran.
"Wow. Hebat juga efeknya. Apa kau sudah pernah merasakan racunmu sendiri?" Gray kemudian menarik lengan si kurus, dan menusuknya dengan jarum yang lain. Ia langsung tidur dengan nyenyak.
"Kau mengalahkan mereka dengan sangat mudah," komentar Claire kagum.
"Seandainya aku tidak terkena racun, aku pasti bisa melepas ikatan payah seperti itu sendiri," kata Gray, sedikit membanggakan dirinya sendiri. Ia memasukkan wadah bambu berisi jarum beracun penjahat itu ke dalam tasnya.
"Bantu aku membawa mereka ke gerobak. Kita akan dapat uang banyak jika membawa mereka ke polisi," kata Gray. Claire menurut dan menyiapkan gerobak dan kuda yang ada di sana. Mereka pergi mengikuti jalur yang diberitahukan oleh si kurus sebelum ia pingsan tadi.
"Kau seorang hunter?" tanya Claire saat mereka berdua dalam perjalanan di gerobak. Gray mengendalikan kuda, dan Claire duduk di sampingnya.
"Ya," jawab Gray pendek.
Claire berpikir sebentar, lalu bertanya lagi, "Hei. Apa yang akan kau lakukan di Forget-Me-Not Valley?"
Gray tidak menjawabnya, justru balik bertanya, "jika ku jawab, kau akan memberitahuku apa yang akan kau lakukan di Zephyr?"
Pertanyaan itu membuat Claire terdiam sesaat. Claire mengehembuskan napas ke kedua telapak tangannya, berusaha menghangatkannya. "Maaf," ucap Claire.
"Yeah," respon Gray pendek.
"Ah!" tiba-tiba Claire berdiri, membuat gerobak itu sedikit bergoyang.
"Apa? Jangan berdiri tiba-tiba!" omel Gray kesal. Claire kembali duduk dan meminta maaf.
"Maaf. Anu... siapa namamu?" tanya Claire takut-takut. Gray menghela napas. Benar juga. Selama ini ia belum memberi tahu namanya pada Claire.
"Gray," jawab Gray pendek, lagi-lagi. Seperti sudah terbiasa dengan sifat Gray, Claire menanggapinya dengan senyum, dan mengucapkan namanya sekali lagi, sambil melihat langit biru yang dihiasi dengan awan-awan sirrus tipis di atas sana.
"Gray..."
-000-
Desa Konohana, Puncak Gunung Konohana.
Seorang pria berusia 30 tahunan berdiri di dekat pagar pengaman dekat tebing. Topi bulat merah dengan bulu burung yang tersampir di sisi kanannya serta baju luaran merahnya tampak menyatu dengan dedaunan hutan yang memasuki musim gugur ini. Seekor elang besar kemudian menghampirinya dan bertengger di lengannya. Pria itu langsung menyadari surat yang terikat di kaki elang itu. Ia segera mengambilnya dan mengenali pengirim surat itu dari warna kertasnya yang hijau toska.
"Dari Reina?"
Ia membuka isi surat itu dan tak lama kemudian matanya langsung melebar. Ia segera naik ke atas kuda cokelatnya, dan menuruni gunung dengan kecepatan tinggi menuju ke desa.
"Reina kehilangan Claire!" teriaknya dalam hati sambil mengutuk kesal.
Gempuran kaki kuda pria itu membuat gaduh kuda-kuda di peternakan kuda Konohana tempat pria itu berhenti. "Kana! Ini gawat!" Serunya, memanggil Kana, pria seumurannya yang sedang menyikat kuda-kuda kesayangannya.
"Ada apa, Dirk?" tanya Kana khawatir. Kana berambut cokelat gondrong, yang diikat satu ke belakang. Ia berkulit gelap, bertubuh kekar, dengan tatoo etnik yang melingkar di lengan atasnya. Berbanding terbalik dengan Dirk yang berambut cokelat terang pendek, berkulit putih, dan bertubuh kurus.
"Reina kehilangan Claire. Sudah kuduga, kita tak seharusnya mengikuti kata-kata peramal tua itu dan membiarkan mereka pergi berdua saja!" seru Dirk kesal. Kana tampak berusaha tenang dan berpikir dingin, namun Dirk tampaknya tak sesabar Kana.
"Aku akan menyusul Reina dan mencarinya!"
Kana menahan Dirk, memegang lengannya, dan menatapnya tajam. "Tunggu, Dirk. Kau punya tugasmu sendiri di sini. Jika kau pergi, siapa yang akan menahan makhluk buas yang muncul di hutan?"
Dirk balik memandang Kana dengan tajam. "Kau sendiri cukup untuk melakukannya kan?" tanya Dirk, memaksa.
Kana masih keberatan, tentu saja. "Hei, aku tak mungkin melakukannya sendiri sepanjang wak…"
"Suruh Hiro membantumu, aku pergi sekarang!" seru Dirk. Ia segera memutar kudanya dan menungganginya ke luar desa. Kana yang ditinggal menghela napas kesal. Dirk selalu keras kepala. Terutama jika menyangkut Claire, yang sudah seperti adik, ah tidak, anaknya sendiri. Tak lama setelah kepergian Dirk, Kana mendengar suara lolongan dari arah gunung. Ia menghela napas lagi, kali ini tampak lebih pasrah. Kana masuk ke rumahnya dan keluar lagi dengan membawa sepasang samurai panjang. Mulai sekarang, ia harus menggantikan bagian Dirk menjaga hutan dari makhluk buas. Ya, makhluk buas yang sejak beberapa waktu lalu mulai menginvasi dunia Harvest Moon.
-000-
(Bersambung…)
0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Nah, tiga chapter berturut-turut selesai di posting! Gimana? Mulai ada gambaran ceritanya? Hehe. Berbeda dengan Fanfic ku yang sebelumnya, HALRRH ini mungkin sedikit kompleks, tapi mungkin nggak juga /lho?. Supaya nggak membingungkan, di sini kujelaskan bahwa generasi Konohana lebih tua lima belas tahun dari generasi Gray-Claire.
I hope you enjoy this chapter xD
