ESCAPE
Seluruh prajurit berkuda sudah dipersiapkan dibarisan terdepan lengkap dengan tombak dan tameng yang siap melindungi, belum lagi kekuatan prajurit barisan depan adalah yang paling kuat karena prajurit-prajurit tersebut dipilih sendiri oleh Marzban yang ada dan tentu saja sebuah kebangaan amat besar bila bisa menjadi laskar utama dari rombongan Barstasian.
Jungkook dapat mendengarnya, suara ringkikan kuda yang bersahutan ditengah hentakan kaki prajurit, setiap kali kuda-kuda tersebut bergerak aka nada suara gesekan antara angina dengan baja yang menempel dikulit kuda-kuda tersebut.
"Kim Jungkook", suara berat tersebut memanggil nama Jungkook dengan amat tegas hingga ia segera mengalihkan pandangannya dari kuda-kuda tersebut kepada Yang mulia Raja.
"Ada apa ayahanda ?"
"Aku ingin kau bersama barisan depan"
"Tapi Eran Kris berkata bahwa aku hanya akan berada dibelakang selama perang bersama para penysusun strategi"
"Rencana dibatalkan, segeralah kau naik keatas kudamu, agar kau tau sehebat apa tentara Bars itu", dan yang dikatan oleh Raja adalah mutlak hukumnya. Jungkook tidak dapat berargumen lebih lanjut memilih untuk mengikuti apa yang diperintahkan oleh ayahnya.
Dengan segera menaiki kudanya mengikuti para prajurit yang lain, dari kejauhan ia bisa melihat jubah hitam milik Jin yang berkibar-kibar diantara baju zirah berwarna merah keorenan yang juga membuat dirinya amat menonjol diantara prajurit.
Di Bars baju zirah dibagi menjadi beberapa warna untuk membedakan posisi dan pangkat, yang paling terlihat adalah warna pakaian para prajurit. Bila mereka berada di pasukan berkuda warna baju zirah mereka kemerahan, lalu bewarna merah keorenan untuk prajurit berpedang, baiasanya merekalah yang bertugas mengawal para petinggi kerjaan seperti pangeran dan Eran serta Raja, namun Raja Namjoon adalah salah satu manusia yang amat ditakuti keberadaanya di tanah Parsian sehingga ia bisa dibilang tidak lagi membutuhkan pengawalan. Serta warna hijau lumut untuk para pemanah, biasanya mereka ditempatkan di perbatasan.
Untuk pangeran sendiri seharusnya baju zirahnya berwarna hitam, layaknya Raja dan Marzban, namun karena menurut rencana ia mengikuti para pembuat strategi dan penasihat kerajaan yang memiliki baju zirah berwarna putih sehingga miliknya khusus berwarna cream untuk membedakan bahwa ia adalah pangeran kerajaan Bars.
Mencoba berbaur dengan prajurit lainnya sambil membiaskan diri dengan keadaan yang ada, meskipun ia akan dilindungi oleh prajurit lain, tidak menutup kemungkinan ia akan terluka juga, menghembuskan nafas keras untuk mengurangi debaran amat keras di Jantungnya. Detik demi detik berlalu namun debaran keras dari jantungnya tidak kunjung mereda bahkan semakin keras karena saat untuk menyerang sudah dekat.
Jungkook lagi-lagi menghembuskan nafas berat dengan apa yang akan menghadangnya didepan sana. "TREEEEEEEET! SERANG !" , suara trompet super menggelegar itu membuat para prajurit yang sudah siap perang maju menjalankan kuda mereka untuk menyerang Etrasalion yang bahkan belum nenunjukkan tanda-tanda perang.
Suara derapan langkah cepat yang amat terdengar ditanah yang sepi itu membuat suasana semakin meningkat. Jungkook ingat dulu saat ia sama sekali tidak tertarik dengan urusan perang, ia sangat benci suara derapan itu karena setiap kali suara itu terdengar selalu saja ia melihat kesedihan dimata beberap orang. Ia tidak pernah suka.
Namun seiring berjalannya waktu ia tau bahwa apa yang akan dilakukan ayahnya dimedan perang adalah strategi terbaik yang pernah ada. Tidak ada yang mampu menentang karena nyatanya hingga saat ini belum ada satu pun kerajaan yang benar-benar berhasil melawan bars semenjak kejadian Marriton.
Namun satu hal yang raja Namjoon salah perhitungkan bahwa mereka benar-benar dijebak, Ini semua kesalahan emosi serta ego tinggi yang dimiliki oleh raja yang amat mengerikan itu. Para prajurit yang berada didepan masuk kesebuah lubang besar berisikan cairan yang terasa amat lengket. Seluruh pasukan berkuda battalion pertama jatuh kedalam lubang tersebut, beberapa ada yang langsung mati akibat tertusuk pedang dan tombak mereka sendiri.
Tiba-tiba dari langit meluncur ratusan panah api yang mendarat langsung menuju lubang tersebut hingga menimbulkan kobaran api yang amat besar higga membakar seluruh prajurit yang sudah masuk kedalam lubang tersebut.
Mendadak awan hitam membumbung membuat suasan amat mencekam, suara teriakan para prajurit yang tubuhnya terbakar terdengar amat menyakitkan didengar, suara minta tolong mereka yang terjebak didalam lubang jebakan yang berisikan lem bercampur dengan minyak tersebut membuat kobaran api semakin membesar.
Prajurit bagian tengah yang melihat hal tersebut segera menahan gerakan mereka untuk menyerang namun kemudian ribuan anak panah meluncur membat satupersatu tubuh diatas kuda itu berjatuhan bagaikan kapas. Dengan tiba-tiba dari bagian kanan dan kiri pasukan tersebut keluarlah anggota prajurit Etrasalion yang menggunkan zirah berwarna biru gelap. Mulai melakukan serangan mendadak mereka membuat prajurit amat tidak siap mengahadapi serangan dari berbagai arah tersebut, belum lagi sebagian besar prajurit terlatih mereka berada dibarisan depan. Prajurit berpedang tanpa kuda dengan sigap segera melindungi Jungkook dari tombak-tombak runcing yang menyerang.
Jungkook yang panik oleng dan kehilangan keseimbangannya hingga jatuh dari kuda, hingga satu persatu seluruh pasukan bagian depan Barstasian habis, tertinggal ia sendiri yang hanya bisa meratapi seluruh keadaan yang ada, dengan tanah gersang yang penuh darah serta baju zirahnya yang sudah terlumur darah dari salah seorang prajuritnya.
Ini terjadi terlalu cepat bahkan otaknya belum bisa menerima jebakan yang dilakukan Etrasalion pada pasukan Bars yang sudah mati itu banyak tubuh pengawal yang berhamburan di sekelilingnya sudah tidak lagi bernyawa. Pikirannya mendadak kosong.
"SEOKJIN! SEHUN ! KRISS ! SIAPA SAJA. ", Jungkook berteriak keras karena sekarang ia benar-benar sendirian. Ia berjalan sempoyongan, " Yang Mulia Anda mendengar ku ?!", jungkook mencoba mengangkat tubuhnya setinggi mungkin " SEHUN ! AKU DISINI ! AKU KEHILANGAN SEMUA PRAJURIT KU ! TO-" teriakan Jungkook terpotong saat ia malah melihat sehun berjalan dengan prajurit Etrasalion, matanya melebar tidak percaya. Sehun Berhianat !.
"ERAN ! Kami mendapat laporan prajurit dari pasukan depan bahwa Etrasalion melakukan jebakan hingga membuat seluruh pasukan habis di tangan prajurit Etrasalion!" setelah menyelesaikan laporannya beberapa prajurit Etrasalion keular dari kumpulan asap tebal yang mengumpul.
"LALU BAGAIMANA DENGAN PANGERAN JUNGKOOK ?! SEOKJIN SEGERA KAU CARI DIA !" , dengan itu Seokjin melecut kudanya dengan keras hingga kuda itu berlari amat cepat melewati kabut hitam yang pekat. Nyatanya Eran menahan Seokjin untuk maju dibarisan pertama karena mereka harus membahas pergantian strategi, tanpa tau bahwa jungkook sudah diutus dengan prajurit barisan pertama.
Erlan sudah memerintahkan seluruh prajurit yang tersisa untuk menjalankan perang. Raja Namjoon dengan wajah mengeras terdiam, "DIMANA MARZBAN SEHUN ?!", ia berteriak pada salah satu prajurit. Wajah prajurit tersebut pias hingga ia bahkan tidak mampu berbicara akibat ketakutan. Manusia penuh ego akhirnya menyadari bahwa ia sudah dijebak.
"KAMI TIDAK TAU YANG MULIA !"
"SIALAN! Cari dia, jangan kembali sampai kalian mampu menemukannya !"
"BAIK !"
Seokjin dapat melihat pangeran Jungkook dari kejauhan terjatuh ditanah dengan menatap nanar kepada Marzban Sehun yang terlihat siap menusuk kepala sang putra mahkota. Harusnya Seokjin sadar dari awal bahwa Sehun berhianat kepada Bars. Melecutkan kudanya untuk bergerak lebih cepat, raut wajah Jin sudah amat murka, ia mengeluarkan seluruh serangan kepada siapapun yang menghalai jalannya.
Seluruh prajurit Etrasalion yang berada dihadapannya akan segera ia penggal kepalanya dengan amat cepat hingga prajurit tersebut tidak sadar bahwa mereka sudah mati. Ia tidak dijuluki mardan e mardan tanpa alasan. Saat ia tinggal beberapa meter dari pangeran jungkook ia dengan segera menjulurkan tombak untuk menghalangi Marzban sehun yang siap mengayunkan pedangnya pada sang pangeran mahkota.
'TRINGG!'
Suara gesekan besi terdengar antara ujung tombak dengan pedang milik marzban Sehun. Jin dengan amat murka segera melancarkan banyak serangan. Pangeran Jungkook hanya bisa menatap nanar jin yang mati-matian membelanya sementara ia sendiri amat lemah tidak bisa melindungi dirinya sendiri.
"MARZBAN SEHUN, KENAPA HARUS BARSTASIAN YANG SUDAH KAU BELA PULUHAN TAHUN!", ujar Jin yang terbakar emosi sambil terus memainkan tombaknya yang berujung besi itu dengan amat lihai melancarkan serangan.
"Banyak hal yang tidak akan kau mengerti seokjin", Ujar Marzban Sehun dengan wajah penuh peluh dan pias. Meskipun Marzban Sehun sudah hidup lebih lama daripada Jin sendiri, tapi ia tau bahwa kekuatan pemuda yang ia lawan ini bahkan bisa disamakan dengan Raja Namjoon sekalipun.
"Kau dengan sengaja memintaku untuk melapor pada yang mulia agar aku menghadapi kemarahan Raja Namjoon dan melepaskan gelar Marzban sehingga aku tidak bisa melindungi Pangeran Jungkook"
"ah, kau sudah tau, ternyata kepintaran mu itu memang tidka bisa diragukan. Sayangnya kau tidak bisa melihat dunia ini dengan lebih luas dengan otak hebatmu itu"
Dengan kode tangan ia meminta prajurit Etrasalion untuk membantunya dengan menyerang pangeran Jungook yang berada dibelakang kuda seokjin, tangan Jungkook sudah terluka akibat luka goser, meskipun tidak terlalu dalam namun itu cukup menyakitkan.
Jin yang masih sibuk melawan Marzban Sehun tidak menyadari bahwa salah satu prajurit etraslion sudah berusaha menusukan pedang kepada Pangeran yang amat ia sayangi itu. Saat hendak menghunuskan pedang tiba-tiba kabut merah pekat menutupi seluruh pandangan prajurit Etrasalion maupun Barstasia, dengan itu para prajurit barstasia yang mengerti kode itu bergerak mundur.
Prajurit Etrasalion yang berada dibenteng meniupkan terompet besar yang bahkan bisa terdengar diseluruh tanah samag. "RAJA NAM JOON SUDAH MUNDUR KITA MENANG !", Jin yang mendengar itu kembali sadar dengan sekelilingnya dan dengan segera menaikkan Jungkook kekudanya dan lari sekencang-kencangnya menuju hutan belantara yang berada sekitar 20 kilometer dari ibu kota Etrasalion. Tempat sahabatnya.
"HAHAHA, ternyata cuma segini kekuatan pasukan Barstasia yang katanya amat hebat itu", Seluruh kerajaan Etrasalion sading bersuka ria dengan kemenagan yang mereka dapatkan mereka menggelar pesta besar-besaran sambil mengarak prajurit tawanan dari Barstasia, serta penggalan kepala dari para panglima dari Barstasia mereka pajang didepan pintu gerbang kerjaan.
Warga yang berkerumun melihat wajah-wajah jendral perang yang amat disegani di lima negara bagian dipajang bagaikan ongokan sampah masih dengan darah yang berbau amis. Mereka dapat melihat penggalan kepada Erlan Kris yang berada paling ujung serta paling pertama, namun rakyat bertanya-tanya.
Dimana kepala Raja dari kerjaan Barstasia, Raja yang terkenal amat kejam itu, Raja Kim Nam Joon. Satu hal yang dapat disimpulkan oleh rakyat Etrasalion.
Raja Namjoon tidak seganas seluruh cerita yang mereka dengar.
Jungkook seharusnya tau bila hal ini akan terjadi, semua hal buruk selalu terjadi bila ia melakukan sesuatu. Seharusnya ia tau sejak awal bahwa ia tidak seharusnya ikut perang. Sekali lagi ia hanya bisa membawa kehancuran pada Bars. Selalu.
Masih dengan tubuh tegang, ia hanya bisa terdiam kaku dibelakang punggung lebar jin yang terus memacu kudanya dengan amat kuat menembus barisan pohon yang menghalangi, tidak ada sedikit pun keraguan. Angin sore yang berhembus dimusim panas semacam ini tidak sedikitpun mengurangi ketegangan yang ada, Jungkook hanya terus memandang kosong pada semua hal yang ada.
"Tinggalkan aku disini", Tiba-tiba pemuda tanggung itu mengeluarkan suara yang cukup pelan untuk didengar telinga jin.
"maaf yang mulia ?"
"Aku bilang. TINGGALKAN AKU DISINI !"
Suara teriakannya membelah keheningan suara hentakan kaki kuda yang bergesekan dengan angin sore. Jin mendadak menghentikan kudanya lalu menoleh pada yang lebih muda, Jin tau ini tidak akan mudah bagi sang pangeran untuk menerima hal yang barus saja terjadi pada mereka.
"Yang Mulia hamba tau ini adalah keadaan ya-"
"AKU BILANG TINGGALKAN AKU DISINI, INI PERINTAH !", getaran tubuh dari pangeran muda itu membuat Jin semakin yakin untuk mengabaikan kata-kata sang pangeran dan melanjutkan perjalanan mereka. Setidaknya sampai mereka tiba di tempat yang lebih aman untuk berdiskusi lebih lanjut.
Dengan itu Jin melancarkan lecutan keras pada kudanya dan kembali menerobos barisan hutan lebih dalam lagi. Dapat Jin rasakan dari belakang punggungnya tangan milik sang Pangeran memukul dengan amat kencang memerintahkanya untuk memberhentikan kuda mereka namun Jin meneguhkan hatinya untuk tidak terpengaruh, ia dapat merasakan getaran tubuh sang pangeran yang bercampur dengan rasa penuh ketakutan dan terror.
Ia dapat dengar suara isakan pelan yang amat lirih untuk didengar, Jin sekarang benar-benar harus menulikan telinganya dan berharap pendengarannya menghilang. Ia tidak bisa menahan rasa keinginan yang amat besaruntuk merengkuh pemuda yang berada dibelakang punggunganya ini, meminta maaf yang sebesar-besarnya pada dewa karena sudah berani melukai hati salah satu malaikat mereka.
AGE 4, Foster Parents House's
"Kasihan sekali Pangeran Jungkook harus mengalami hal sekeji ini bahkan diumurnya yang baru menginjak balita"
"Tidak taukah kalian rumor yang beredar ?"
"jangan bilang kau percaya pada rumor seperti itu ?"
"Semua orang telah mempercayainya, Bahwa Pangeran Jungkook pembawa sial"
AGE 7 , Prince Taehyung Funeral's
"Aku dengar, bahwa kejadian Pangeran Taehyung hari ini sudah di prediksi oleh tabib dari Orelain"
"kau benar, aku juga pernah mendengarnya berita tentang ramalan itu"
"Belum lagi, tabib yang meramalkan hari ini ternyata bubuh diri dihari yang sama dengan menghilangnya Pangeran Taehyung"
"YANG BENAR ?!"
"TENTU SAJA ! beritanya sudah tersebar keseluruh Pars"
"mungkin yang diramalkan tabib Kibum benar"
"ah- sayang sekali tabib sehebat ia harus dipenggal mati karena meramalkan masa depan Pangeran jungkook"
"Hush, kalau ada yang dengar kita bisa dipenggal juga"
"Astaga ! ini bahkan sudah sudah menjadi rahasia umum-
-Bahwa Pangeran Jungkook adalah pembawa sial"
Age 11, Palace Backyard
"Bagaimana hal sesadis ini terjadi ?"
"Aku tidak tau, saat kami kembali anjing itu sudah terkoyak seperti ini"
"Bahkan ini baru 2 hari, padahal sebelumnya tidak ada satupun serangan hewan."
"Ternyata memang benar, Bahwa pangeran Jungkook adalah pembawa sial "
Age 14, Unknown
" Tidak mungkin hal ini bisa terjadi"
" Pangeran Jungkook memang-….."
"SIAL"
"PEMBAWA BENCANA"
"KERUNTUHAN BARSTASIAN"
"Aku memang seorang pembawa sial"
"AKU MEMANG PEMBAWA SIAL !"
Suara teriakan lirih itu membelah hutan yang amat sepi itu, dilanjutkan suara isakan tangis yang semakin mengeras, suara rintihan yang amat terluka. Ia memang amat sial, tidak pernah berguna bagi siapapun, selalu menyusahkan orang lain.
Ia adalah orang paling tidak berguna didunia ini. Dari semua orang buruk ia adalah ia yang terburuk, bahkan semenjak kelahirannya saja sudah salah, ia tau ia tidak akan bisa memenuhi segala impian yang diinginkan Bars, tapi Jungkook selalu berusaha dengan amat keras, amat sangat keras untuk bisa memenuhi kriteria yang ada.
Tapi tetap saja ia selalu tidak bisa, ia sangat membeci dirinya sendiri yang amat tidak berguna ini, ia selalu melihat keberhasilan orang-orang disekitarnya, Eran, Marzban, Pelayan, prajurit, Raja, Ratu, bahkan kakaknya sendiri. Mereka adalah orang-orang hebat yang selalu berhasil tapi mengapa ia tidak bisa seperti mereka yang selalu bisa melakukan apapun.
"aku memang yang terburuk", suara itu terbawa angin sore yang telah menemani perjalanan panjang sang pangeran.
Short chapter because I'm lazy :v
