"Hai, aku Xi Luhan, masih ada hubungan sepupu dengan Kyungsoo." jelas Luhan dan menjabat uluran tangan Sehun paling pertama. Sehun mengangguk paham lalu mengalihkan atensinya pada Kyungsoo. "Kau?"
"Namaku Do Kyungsoo. Oh, ya, temanmu itu kenapa? Siapa namanya?"
Sehun menghela napas sok prihatin seiring bahunya yang jatuh merosot. Mata sayunya memandang jauh ke pagar rumah keluarga Kim dengan tatapan sedih. Sementara itu, Kyungsoo dan Luhan menatap Sehun bingung.
"Namanya Kim Jongin. Asal kalian tahu saja, dia sedikit sakit. Dia sering makan berdua di depan rumah bersama Meonggu sambil bicara sendiri. Tidurpun berdua bersama Meonggu. Dalam lima belas tahun di hidup bersejarahnya, dia tidak bisa jauh dengan anjingnya itu."
Tipeku sekaliiii. Dia sangat menyayangi binatang, ya (ˆˆʃƪ)
"Kasihan sekali. Dia pasti sangat kesepian."
"Pastinya. Dia sangat beruntung punya teman sepertiku." Dengarlah, Kim Jongin, apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatmu!
.
.
.
Dua kali mimisan tanpa sebab. Ada apa ini?
Jongin pernah menonton sebuah drama picisan di televisi bersama ibunya, drama itu menceritakan seorang laki-laki yang akhir-akhir itu sering merasakan pusing hebat, batuk berdarah dan mimisan, yang ternyata laki-laki itu mengidap penyakit tumor otak.
Apa Jongin juga sama? Akhir-akhir ini dia sering mimisan. Tidak sering juga sebenarnya, toh baru dua kali, itupun semenjak keluarga Do pindah ke samping rumahnya.
Jongin membasuh wajahnya dengan gerakan lamban supaya lebih mendramatisir. Dia menyentuh pipinya, kantung matanya dan beralih ke sekitaran lengan.
"Kim Jongin, kau terlihat semakin kurus."
Padahal porsi makan Jongin adalah yang paling banyak di keluarga. Jongin juga lupa kalau kemarin lusa pelatih ballet memintanya untuk menjaga pola makan dengan baik karena gerakan Jongin saat menari beberapa hari ini lebih terlihat seperti gerakan senam untuk ibu hamil.
"Pantas saja aku sering merasa pusing."
Benar sekali, tepatnya saat mengerjakan seratus soal matematika dari Jung seonsaengnim akibat tidak mengumpulkan tugas. Kepalanya sakit dan terasa mau meledak.
"Hidupku tidak lama lagi. Eottohkae?" Jongin menatap cermin di depannya. Wajahnya jelek sekali. Jongin sendiri tidak yakin kalau dirinya bisa sejelek itu. Ini gen siapa? Ayah atau ibu?
Memang ada benarnya untuk lebih selektif dalam memilih tayangan televisi kalau tidak yang ada hanya dibodohi. Seperti Jongin yang dimabuk oleh drama.
Setelah puas menyalurkan rasa sedihnya, Jonginpun keluar dari kamar, pergi menuju teras. Ayah, ibu dan hyungnya sudah bersiap rapih menunggu dirinya.
Hari ini, mereka sekeluarga ada urusan dengan keluarga Oh, membahas pertunangan Taemin dan Minho.
"Jongin, kau ini sudah mandi belum, sih?" tanya Taemin begitu Jongin muncul, dia tertawa kecil sambil membandingkan warna kulit mereka. Menyebalkan.
"Sudah. Ini kudapat dari hasil berjemur lima belas tahun di pantai." Sewot Jongin.
Nyonya Kim yang melihat dua anak laki-laki mereka sedang beradu mulut malah terpekik gemas lalu mencubit pipi kedua anaknya itu brutal. Jongin dan Taemin meringis kompak. "Aigoo walau kalian sudah besar tapi tetap lucu ternyata."
"Ayah!" "Tolong kami!"
Setelah sang ayah menjinakkan ibunya dengan menggeretnya masuk ke jok depan, Jongin dan Taemin juga mengikuti; duduk manis di jok belakang.
Sebenarnya jarak dari rumah keluarga Kim dan keluarga Oh itu tidak jauh. Mereka menggunakan mobil karena nanti begitu acara selesai, mereka akan sekalian mencetak undangan untuk disebar.
Mobil baru saja keluar dari halaman, tapi keluarga Do atau tepatnya Tuan besar Do mencegat di tengah jalan. Ayahnya keluar dari mobil untuk berbincang setelah menepikannya.
Jongin melihat Kyungsoo juga ada di sana, dia langsung menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh Taemin. Bertemu Kyungsoo sama saja dengan bertemu mamalia yang baru saja melahirkan. Mereka terlihat buas dan menyeramkan.
Taemin menggeliat kesal karena Jongin terus saja mendesak di punggungnya. Dia risih, ingin sekali melempar Jongin ke kandang Ricky tapi begitu-begitu juga Jongin adalah adik satu-satunya.
"Jongin, Apa yang kau lakukan sebenarnya?"
"Psst. Aku butuh tubuhmu, bodoh!"
DUAGH. Satu bogem mentah sarat akan cinta mendarat di perut Jongin dengan gratis.
"Dasar anak berotak mesum!"
Jongin tidak tahu dimana letak kesalahannya sehingga Taemin menyebutnya mesum. Hal mesum yang pernah Jongin lakukan cuma satu, menonton dua kucing yang sedang kawin di depan rumah. Itu saja.
Takut-takut, Jongin meraba sekitaran hidungnya, memastikan bogeman di perut barusan tidak akan memperparah keadaan otaknya.
"Untung saja." Gumamnya pelan karena tidak mimisan lagi. Tak lama setelah itu, ayahnya kembali ke mobil. Keluarga Do juga sudah tidak ada di sisi jalan. Ibu dan hyungnya langsung memburu ayahnya dengan pertanyaan macam-macam, sedangkan Jongin malas untuk ikut-ikutan.
Lima menit kemudian mereka sampai di rumah keluarga Oh. Para orangtua sedang berkumpul di meja makan sementara Jongin dan Sehun memilih bermain di kamar Sehun, di lantai dua. Lagi pula, bisa ditebak, obrolan para orangtua itu selalu sangat membosankan.
Begitu berada di kamar, Jongin langsung meniti rak berisi komik koleksi milik Sehun, sedangkan si empunya wilayah sibuk mengintip sekaligus menguping pembicaraan di lantai bawah dari balik pintu. Karena dipenuhi rasa penasaran, Jongin ikut menyempilkan tubuhnya di sana.
"Syukurlah." Sehun mengusap wajahnya lalu mengurut dadanya lega. Jongin sepertinya tertinggal sesuatu yang penting. "Apanya yang syukurlah?"
"Yang ditunangkan ternyata hyung kita, bukan kita." Wajah Jongin menampilkan ekspresi mual setelah mendengar jawaban Sehun. "Gila!"
"Waeyo? Aku benar, kan?" ucap Sehun memberi pembelaan. Bocah albino itu melempar tubuhnya ke atas tempat tidur disusul Jongin yang duduk di pinggirnya. Sehun mungkin akan segera tidur karena salah satu di antara mereka tidak ada yang kunjung bicara.
Jongin mendesah pelan, melipat halaman komik sebelum mengakhiri bacaannya. "Sehun? Kemana robot-robot milikmu yang dulu kau taruh di atas lemari? Kamarmu lebih bersih dan rapih daripada terakhir aku main."
"Semua berpindah ke kamar Lami. Status mereka yang awalnya superhero berubah jadi pasien dari boneka-boneka adikku, parahnya mereka merangkap sebagai suami mereka. Hah, anak perempuan." Jelas Sehun dan Jongin mengangguk paham, bibirnya membulat sambil mengucapkan 'Oh' nada panjang.
"Oh apanya? Oh ya, ngomong-ngomong aku belum mandi." Sehun mengendus-endus tubuhnya. Dia pikir bau yang diciumnya daritadi berasal dari telapak kaki Jongin karena Jongin paling malas dengan yang namanya mengganti kaos kaki sekolahnya.
"Lalu kenapa bilang padaku? Kau memintaku memandikanmu?"
"Siapa yang ingin?"
"Lalu maksudmu bilang kau kau ingin mandi?"
"Memangnya salah, ya? Tau ah, berdebat denganmu itu buang waktu. Sekarang aku mau mandi."
"Lalu kenapa bilang padaku? Kau memintaku memandikanmu?"
"Siapa yang bilang?"
"Lalu... Sehun, kita terlihat seperti idiot."
Tak terima dibilang idiot, Sehun secara gesit menindih tubuh Jongin untuk diberinya pelajaran. Jongin balik menggulingkan tubuh Sehun hingga kini dia yang berkuasa. Aksi tindih-tindihan mereka hanya begitu-begitu saja hingga Minho dan Taemin masuk ke kamar untuk memberitahu—
"OMO!"
Buru-buru Jongin dan Sehun saling mendorong, menjauhkan tubuh masing-masing karena Taemin dan Minho yang menatap mereka berdua dengan mata yang—ugh, seperti berhasil menangkap basah dua adik mereka yang sedang berbuat mesum.
"Kalian..." Taemin pergi dari sana dengan kalut, disusul Minho yang mengejarnya.
"Adegan tadi tidak baik jadi tontonanku. Tidak lulus sensor!" Sehun mendengus, menutup pintunya—kali ini sekalian menguncinya. Moodnya untuk mandi hilang setelah dua hyung mereka yang masuk tanpa izin. "Ah iya, kau tadi kenapa kabur begitu saja? Kau mimisan lagi?"
Jongin diam, mencerna baik-baik pertanyaan Sehun. "Maksudmu siang tadi?"
"Iya."
Siang tadi, Jongin mimisan, dan berakhir di kamar mandi—maksudnya di bawah pancuran shower sambil memikirkan semua kemungkinan buruk yang menimpanya.
"Sepertinya... Sehun, tapi kau jangan kaget atau malah menangis, okay?" Jongin menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Ini akan jadi moment yang paling mengharukan. "Aku... terkena tumor otak."
Hening.
Jongin sudah siap ingin memeluk Sehun kalau saja dia tidak—
"Pfffftthhkkhhh... BUAHAHAHAHAAA."
Jongin langsung pasang kuda-kuda. Sehun sudah melencehkan sekaligus merendahkannya. Dua tendangan untuk bocah tengik itu seperti cukup baik.
"Tenang dulu, tenang...," Sehun meringis kecil sambil memegangi perutnya. Dia mengedarkan tatapan matanya ke arah lain selain wajah Jongin agar tawanya tidak kembali meledak. "Aku cuma heran, baru lihat penderita tumor otak tapi lebih cocok disamakan dengan sapi gelonggongan."
Mata Jongin mendelik tajam. Dia ingin segera menghardik Sehun kalau masih saja tidak mempercayainya. Sehun harus siap-siap tinggal nama saja setelah ini.
"C'mon, dude. Kau terlalu banyak menonton drama picisan. Memangnya selama ini kau sering pusing hebat? Bagian tubuhmu ada yang mati rasa? Atau gerakan tubuhmu yang lamban? Rambutmu rontok? Kau sudah periksa ke dokter?"
Jongin menggeleng ragu, setengah mengiyakan tapi juga tidak. Jongin yakin kalau tebakannya memang benar. Tapi pertanyaan Sehun barusan seakan mematahkan simpulan yang Jongin buat.
"Kalau begitu mungkin aku alergi."
"Kurasa bukan, deh." Sehun menggosok telunjuknya di dagu sambil berpikir, kira-kira apa penyebab Jongin yang akhir-akhir ini sering mimisan. "Mungkin kau phobia?"
"Hal yang paling kutakuti di muka bumi ini ya wajahmu itu."
"Sialan!" Satu lemparan bantal mengenai tepat ke wajah Jongin. "Kau jatuh cinta?"
"Dengan siapa?" Jongin menggeser tubuhnya, sedikit mendekat pada Sehun. Dia mulai tertarik dengan arah pembicaraan kali ini.
Sambil menunggu Sehun bicara, Jongin juga berpikir. Selama ini dia tidak ada hubungan khusus dengan temannya. Lagi pula temannya semua payah dan tidak ada yang menarik.
"Mungkin Krystal? Anak baru di kelas sebelah. Dia kan cantik, siapa tahu kau menyukainya."
Aku menyukai Krystal? Sepertinya tidak. Bicara saja belum pernah—batin Jongin.
"Atau menyukai Kyungsoo?"
Jongin menoleh cepat ke arah Sehun yang sudah lebih dulu menatapnya jahil. Kyungsoo? Nama itu asing untuk telinga Kim Jongin. "Maksudmu Kyungsoo yang mana?"
Sehun menepuk dahinya gemas. "Tetangga barumu, Kim Jongin! Namanya Do Kyungsoo."
Oh. Keluarga Do yang sinting itu—tepatnya yang punya anak sinting itu? Kalaupun Jongin jatuh cinta, dia akan pilih-pilih dulu. "Mengarang!" sungutnya. "Eh? Mungkin bukan jatuh cinta. Ya hal lain yang masih ada sangkut pautnya dengan Do Kyungsoo itu. Masalahnya, dua kali pertemuan kita dengannya selalu berakhir aku yang mimisan."
.
.
.
Simpulan pertama, dibuat oleh Sehun; Jongin dilanda asmara karena Kyungsoo.
Simpulan ke dua, dibuat oleh Jongin; mimisan itu terjadi karena reaksi otaknya yang berontak, meminta Jongin tidak bertatapan dengan Kyungsoo. Itu berakibat fatal. Hindari pertemuan-pertemuan yang bisa membuat hidungnya kenapa-napa (lagi).
Jongin mengusap hidungnya yang basah. Ada sedikit darah yang keluar. Otaknya benar-benar menolak segala apapun yang berbau dengan Kyungsoo. Memikirkan namanya saja Jongin sampai mimisan.
"Sehun, bagaimana ini? Kyungsoo benar-benar membuatku gila."
"Nah, apa kubilang. Kau menyukai Kyungsoo."
Jongin berdecak sebal dan menggeleng cepat. "Bukan! Aku butuh alasan logis."
"Tau ah aku pusing! Ayo kita ke sana." Jongin hanya pasrah saat Sehun menarik tangannya mendekati kumpulan orang berpakaian serba hitam. Dimana lagi mereka kalau bukan di tempat pemakaman?
Jongin masih ingat ucapan Sehun kalau dia itu masih cukup waras dan keren jadi tidak baik mendatangi acara seperti tapi kenyataannya? Kalau Jongin, ibunya yang memaksanya untuk ikut atau uang saku jatah satu bulan tidak akan turun bulan depan.
"Kau tau? Aku dibayar dengan bubble tea gratis satu bulan penuh oleh Kyungsoo kalau aku mau menangis sepanjang acara nanti."
Jongin melebarkan matanya. "Serius?"
Sehun mengangguk yakin.
"Aku juga mau! Aku ingin dibayar dengan tiket penerbangan ke Holland."
Sehun berdecak, meremehkan. "Kalau itu nanti kau minta padaku saja. Nanti aku akan mengirimmu ke sana sebagai pemutar kincir angin!"
"Lebih baik tiketnya diuangkan saja."
Setelah semua yang diundang lengkap berkumpul, ada seorang laki-laki berumur berdiri di tengah-tengah. Dia melubangi tanah yang Jongin tebak sebagai liang penguburan Michael mereka tidak langsung ke acara inti melainkan ada acara pembukaan berupa pelepasan dua burung onta.
Burung onta?
Jongin mengusap wajahnya frustasi sepanjang acara. Butuh dua puluh menit bagi mereka untuk masuk ke acara inti. Orang-orang memakai sunglassesnya begitu juga dengan Jongin. Dia melihat Sehun di sebelahnya yang sudah berlelehan air mata.
Anak ini benar-benar professional.
"Sehun, kau tidak perlu menangis seperti itu. Ini berlebihan."
"Jongin, kau tidak tahu aku sedih sekali. Luhan menertawaiku sementara Kyungsoo—" Jongin tidak mendengarkan ucapan Sehun selebihnya, dia menyapu pandangan ke sekitar untuk menemukan Kyungsoo. Ternyata anak itu sedang mengawasi Sehun. Apa-apan ini?!
.
.
.
"Kim Jongin!"
Langkah Jongin berhenti saat ada yang memanggilnya. Dia perlu akui kalau suara itu indah. Sangat. Mendengar derap langkah yang kian mendekat, akhirnya Jongin membalik tubuhnya.
"WAAAAA!" "AAAAAAAAAA!"
Jongin dan Kyungsoo saling berteriak. Awalnya hanya Jongin saja yang berteriak namun karena Kyungsoo juga kaget, diapun ikut berteriak histeris.
Jongin mundur beberapa langkah sambil menutup hidungnya. Melihat hal itu Kyungsoo naik pitam. "Hei! Aku cuma ingin bicara baik-baik denganmu!"
"Kita harus jaga jarak!"
"Ini sudah!"
"Seratus meter!"
Kyungsoo menatap Jongin aneh. Sepertinya benar apa kata Oh Sehun kemarin. Kim Jongin memang kurang sehat. "Kau gila?! Seperti ini saja kita harus bicara keras!"
"Ya sudah kau maju satu senti!"
Satu senti tidak membawa efek banyak jadi Kyungsoo hanya diam sambil mendengus. Sementara Jongin meraba hidungnya. Aman.
"Kudengar kau itu lumayan bagus dalam urusan menari, kau mau mengajariku tidak? Kebetulan aku harus banyak berlatih untuk debutku. Bagaimana?"
Jongin diam sambil membenarkan letak sunglassesnya yang terus-terusan melorot. Dia berpikir sebentar. Bagaimana ini?
"Ah, kalau kau tidak mau aku akan meminta Oh Sehun saja." Ucap Kyungsoo dan melangkah untuk pergi.
"Kyungsoo! Tunggu..."
"Ne?"
.
.
.
TBC
.
.
.
maaf ya kalo chap ini garing lagi, typo dan eyd-nya jg lagi-lagi kacau parah... btw aku kehabisan bahan humor, yang punya rekomendasi ff bagi-bagi dong atau kalian ada yg punya ff humor? aku juga butuh ff lucu author lain buat hiburan di tengah kestressan menjelang UN /curhat;
untuk dialog kaihun di tengah chap yg diulang-ulang itu bukan typo aku memang stuck ide jadi duuuuh norak gitu. terus kaisoo momentnya chap depan yaaa. seriusssss! semoga suka~
satu lg, aku gak pernah bikin ff ini jd versi maincast lain. kalaupun ada ff yg sama seperti ini, berarti plagiat.
special thanks to;
dewilololala ; arvita . kim ; Thousand Spring ; kyung . kyungie ; yongchan ; Brigitta Bukan Brigittiw ; rossadilla17 ; ArraHyeri2 ; megajewels2312 ; KaiSoo Fujoshi SNH ; hdkL12 ; Minerva Huang ; DarkLiliy ; opikyung0113 ; Cassiopeia1215 ; Sexy Rose ; kimsangraa ; OhSooYeol ; kyeoptafadila ; LeeYeon ; LAB27 ; sicafiramin ; puputkyungsoo ; Penghulu kaisoo ; rnf ; flower you ; SooSweet ; Lalala Kkamjong ; baekhyung ; shiro ; Jenny ; kim jongsoo ; Love Couple ; N . Yera48 ; sehunsky ; ChenMinDongsaeng14 ; rnsoul ; Phiii Chann ; kimjongong ; realkkeh .
ada yg belum disebut/ typo?
Review? ^^
