Sang surya sudah menenggelamkan dirinya dan kini mulailah tugas sang rembulan untuk menyinari pergantian waktu ini. Di malam yang tenang ini terlihat sebuah keluarga yang sedang makan malam, sang kepala keluarga bertanya kepada putra bungsunya.
"Sasuke, kalau sudah lulus SMA nanti kau ingin melanjutkan kuliah dimana?"
"Entahlah, aku belum memikirkannya."
"Kenapa belum Otouto? Kau kan pintar, kenapa kau tidak masuk ke kampus tempatku berkuliah saja?" kata Itachi.
"Iya benar, Konoha University adalah universitas terbaik menurut Tou-san."
"Aku masih belum tau, tapi akan kupikirkan baik-baik pendapat kalian."
"Baiklah.."
"Aku sudah selesai.." kata Sasuke sambil melenggang pergi.
"Cepat sekali."
"Mungkin dia kelaparan."
.
.
.
Sasuke POV
Aku merebahkan diriku diatas ranjang kemudian berpikir. Benar juga, aku sudah kelas 3 SMA sudah saatnya memikirkan kemana aku harus melangkah selanjutnya.
Konoha University?
3 tahun yang lalu
"Sasuke-kun, kalau sudah lulus SMA mau kuliah dimana?"
"Entahlah, belum terpikirkan."
"Hmm.. Kalau aku ingin masuk ke Konoha University."
Aku pun terhenyak dan teringat sesuatu.
Sakura...
Dia juga ingin masuk ke kampus itu. Tidak.. Tidak! Aku tidak mau satu kampus dengannya.
Aku...
Aku ingin pergi dari kehidupannya, aku ingin melupakannya. Aku pasti tidak akan bisa melupakannya kalau aku masih ada di ruang lingkup kehidupannya. Aku harus pergi. Ya... Pergi... Sejauh mungkin.
Aku menyalakan komputerku, membuka koneksi internet kemudian mulai berselancar di dunia maya dan mencari informasi tentang kampus yang sama bagusnya dengan Konoha dan tentu saja melihat program studi yang menjadi keinginanku serta prospek ke depannya.
Gotcha!
Suna University
Universitas terbaik sesudah Konoha. Aku melihat program studi apa saja yang ada disana, berharap prodi yang kuinginkan ada disana juga.
Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Aku memang suka dengan ilmu eksakta, dari dulu aku memang ingin masuk ke prodi Fisika. Sepertinya Kami-sama mengabulkan do'aku. Sudah kuputuskan, aku akan melanjutkan pendidikanku disana.
End of Sasuke POV
.
.
Pada kesempatan lain Sasuke mencoba berbicara dengan orang tuanya tentang jalan apa yang akan dipilih selanjutnya.
"Apa? Suna University? Kenapa kau ingin kuliah disana? Itu kan jauh sekali."
"Karena disana ada program studi yang sudah lama aku idamkan. Aku akan mengambil program studi Fisika."
"Kalau kau ingin kuliah di prodi yang berbau eksakta kenapa tidak di Konoha saja? Selain dekat dengan rumah, akreditasinya juga yang terbaik."
"Tou-san, ini bukan masalah akreditasi tapi ini tentang passion ku. Aku ingin mencari suasana baru lagipula Suna juga tidak kalah bagus dengan Konoha."
"Kau ini selalu saja melawan! Tidak pernah menuruti apa kata orang tua!" kata Fugaku yang mulai emosi.
"Fugaku... Tolong dengarkan penjelasan Sasuke." kata sang istri sambil memegang pundak suaminya.
"Hah~.."
"Sasuke, kenapa kau ingin kuliah di Suna? Kenapa tidak di Konoha saja?" tanya Mikoto dengan lembut.
"Kaa-san, aku ingin mencari pengalaman baru, aku ingin mengetahui dunia luar. Kalau terus menerus di Konoha bagaimana aku bisa melihat perkembangan ilmu pengetahuan dari sisi lain? Selain itu aku juga ingin belajar mandiri. Aku tidak ingin ketergantungan oleh kalian."
Penjelasan Sasuke akhirnya sukses meluluhkan kedua hati orang tuanya. Fugaku yang tadinya merasa kesal dan jengkel, akhirnya merasa tersentuh oleh ucapan anak bungsunya tadi. Akhirnya dia mengerti, bahwa putra bungsunya ini ingin menjadi pribadi yang lebih mandiri.
Setelah saling menatap beberapa saat, akhirnya Fugaku dan Mikoto mengizinkan putra bungsunya ini.
"Arigatou Tou-san Kaa-san."
.
.
Skip time
Satu tahun pun berlalu, hari ini murid kelas 12 Konoha Gakuen sedang merayakan hari kelulusan mereka, semua orang tua murid pun datang. Sasuke berhasil lulus dari Konoha Gakuen dengan nilai sempurna. Hal itu mengantarkannya pada Universitas yang dia inginkan, Sasuke tidak perlu repot-repot belajar lagi seperti yang lainnya. Dia berhasil masuk dan diterima di Suna University lewat jalur prestasi dan tanpa tes. Sebenarnya banyak Universitas yang menghampiri dan menawarkan kepada Sasuke untuk masuk dan menjadi mahasiswa disana dengan iming-iming tanpa tes, tapi tetap saja pilihan Sasuke tetap di kota Suna.
Setelah menerima penghargaan sebagai murid teladan, Sasuke turun dari mimbar dan menghampiri keluarganya. Mikoto menangis terharu, Fugaku tak henti-hentinya menatap Sasuke dengan perasaan bangga. Bagaimana tidak? Putra sulungnya telah berhasil membuat keluarganya bangga dan membawa nama baik Uchiha. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya, bertepuk tangan sambil meneriaki namanya.
"Sasuke selamat ya, kami sangat bangga padamu."
"Terima kasih, Kaa-san Tou-san."
.
.
"Wahh teme, kudengar kau baru saja didatangi beberapa pihak universitas untuk menjadi mahasiswa di kampus mereka ya? Beruntung sekali kau, sedangkan aku harus mengejar target untuk mendapatkan kampus yang ku mau. Eh tapi dari sekian banyak universitas yang ditawarkan kau sudah pasti masuk ke Konoha University, ya kan teme?" kata sahabat pirangnya sok tahu.
"Tidak."
"Eh, apa?"
"Aku tidak memilih Konoha University."
"Lho kenapa?"
"Aku hanya ingin merasakan suasana baru."
"Berarti kau kuliah hanya ingin merasakan suasananya dong? Bukan untuk menuntut ilmu."
"Bukan begitu dobe!"
"Lalu apa? Apa ada hal lain yang membuatmu ingin kuliah disana?"
'Hal... lain?'
"Aku hanya... ingin menjadi lebih mandiri saja, kalau aku kuliah disini aku pasti akan merepotkan kedua orangtua ku."
"Hmm begitu ya? Bagus pemikiranmu itu. Hei, kalau kau sudah kuliah di Suna jangan lupakan aku ya! Jangan lupakan orang-orang Konoha juga. Hehe.."
"Tentu saja tidak."
Sementara itu disisi lain, terlihat sekumpulan murid yang sedang mengerumuni Sakura. Tanpa sengaja Naruto dan Sasuke mendengar pembicaraan mereka.
"Sakura, kudengar keluargamu sudah bertemu dengan keluarga Uchiha ya?"
"Ciee Sakura, kudengar rencananya kau akan menikah dengan Itachi Uchiha yaa?"
"Lalu kapan kalian menikah?"
"Eh kalau kau dan Itachi-senpai akan menikah jangan lupa undang kami ya.."
Sakura terus saja dibanjiri pertanyaan disertai godaan dari teman-temannya, kelas 12-1 mendadak heboh dengan berita Sakura yang berencana akan menikah dengan Itachi. Padahal Sakura hanya bercerita pada Ino saja, tapi yang namanya Ino tetap saja akan keceplosan sehingga pada akhirnya orang lain pun tahu.
"E-eh? A-ano itu.."
"Ciee Sakura, kau akan menjadi nyonya Uchiha kalau begitu."
"Sakura, beritahu kami kapan kalian menikah?" tanya sang gadis berambut cepol yang sangat penasaran.
"Rencananya kami akan menikah bulan Juli, untuk tanggal nanti saja yaa pokoknya pasti kalian semua akan ku undang."
"Oke deh!"
'Dasar! Pasti ini ulah Ino.'
"Hei teme, apa benar Sakura akan menikah dengan kakakmu?"
"..."
"Apa kau tidak cemburu?"
"..."
"Lalu apa kau-"
"Naruto, tolong jangan bicara hal itu lagi." kata Sasuke dengan deathglare nya yang sukses membuat Naruto bergidik.
Hari ini seharusnya merupakan hari yang membahagiakan bagi Sasuke, tapi rasa kebahagiaan itu sirna seketika karena disebabkan oleh 1 hal yang membuat mood Uchiha bungsu itu rusak. Memang benar tadi teman-temannya memberi selamat pada Sasuke, tapi perhatian mereka seolah langsung berpindah haluan ketika mendengar berita tentang Sakura yang akan menikah dengan kakaknya. Dan Sasuke benci itu!
Oh iya dia hampir lupa...
Hari ini sudah memasuki awal bulan Juni.
"Aku akan menikahi Sakura jika Sakura sudah lulus SMA nanti."
"Mungkin sekitar bulan Juli."
Sasuke lupa kalau sebentar lagi adalah hari pernikahan kakaknya dengan Sakura. Dia bahkan tak tahu apakah dia sanggup menghadiri acara pernikahan itu sampai selesai atau tidak.
To be continued
