Finally, chapter 3 have arrived. Thanks buat yang udah review, dari lalanakmalas (tapi jangan males baca ya), Kirazu Haruka (yang hobinya minta digebukin), sama YurreiChan (hidup mahsiswa).

Okay, di chapter 3 ini ku akan menceritakan bagaimana Hadi cs bisa menjadi Persona-User. Enjoy it!

Disclaimer: (biar simpel) Semua yang berhubungan dengan Persona milik Atlus, termasuk beberapa character yang ada di P3. Sisanya... milik sendiri-sendiri.

Edited: Karena ada temanku yang protes, maka ada yang ku ubah di chapter ini.


Chapter 3 The Awakening

Sabtu, 18 April 2009
Pagi hari 08.00

"*Hooaamm* What a wierd dream. Sekarang jam berapa?" aku mengambil Hpku yang ada di meja dekat tempat tidurku. Saat aku lihat ada sms dari Arief, teman SMA ku yang paling 'ganteng'.

'Pasti isinya "Hooy bangun!! Udah siang tauu!!" atau sejenisnya' pikirku. Ternyata.... "Hooy, bangun!! Hiruplah udara pagi yang se-GAR!!". "Kalimat baru nih, tapi tetap saja intinya sama. Tidur lagi aahh.... nggak ada kuliah ini.".

"Hes! Udah bangun 'kan. Bantuin Pa bersihin motor!" teriak Ayahku dari garasi. "Crap, hancur sudah tidur nyenyakku!". Sisa hari ini ku isi dengan membantu orang tuaku membersihkan rumah. Oh well, I think I deserve it. At least, nanti malam giliranku yang main PS.


Malam hari 17.00

"Hes, malam ini kita pergi ke rumah teman Pa. Ada acara kumpul keluarga, jadi semua harus ikut, Okay." Kata Ayahku sambil mengganti pakaiannya. "What!! Noooo!!" Hancur sudah hidupku hari ini. "Tenang Hes, besok siang 'kan masih bisa main PS. Sudah, cepat ganti pakaianmu." Kata Ibuku tenang.

Sementara kulihat Andjar sedang menahan tawanya. "Kalo mau ketawa keluarin aja, nggak usah ditahan kayak gitu." Kataku kesal. "Hahaha, Hes hari ini nggak bisa main PS. Kasihan.... besok aku main PS lagi aahh, biar Hes nggak bisa main....hahaha!!". "De, pilih dibunuh pake pisau atau pistol? Sini kamu!!"


Minggu, 19 April 2009
Siang Hari 10.00

Setelah berpergian semalam, membuatku kelelahan dan bangun kesiangan. Akupun langsung mandi dan sarapan. Finally, saat yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba (SFX: lagu kemenangan). Akhirnya aku bisa main PS setelah berjuang mati-matian melewati berbagai rintangan.

"Hes, nanti katanya...." aku langsung menatap tajam ke arah Andjar. "Eh, nggak jadi deh.... sereemm...." dia langsung kembali ke ruang tengah. Sepertinya tadi dia mau bilang sesuatu, sudahlah tidak usah dipikirkan. Now it's show time!! *blup* "What the Heck?! Kenapa tiba-tiba TVnya mati?!" tanyaku.

"Tadi ku mau bilang kalo hari ini listriknya mau dimatiin. Ada pemeriksaan di PLN. Selesainya kira-kira sampe jam 18.00." jawab Adikku. "TIIIDAAAK!! I HATE THIS WORLD!!".


Dark Hour

"Hey, wake up. I want talk with yo...." aku langsung bangun dan mencekik lehernya, sampai ku sadar kalau ternyata dia bukan Adikku.

"Oh, it's you Pharos. Sorry, I thought you was my brother." Kataku sambil melepas tanganku dari lehernya. "It looks like you have a bad mood today." katanya sambil duduk di tepi ranjang.

"Hey, can you speak Indonesian?" tanyaku. "Eh, iya aku bisa kok, kenapa?". "Bagus kalau begitu. Jadi, aku nggak perlu susah-susah cari kata-kata. What're you doing here?" tanyaku.

"Sebenarnya kamu mau bicara dengan Bahasa Indonesia atau Inggris sih?" dia malah balik nanya. "Yah, maunya sih Bahasa Inggris, tapi aku masih belum lancar, jadi campur aja deh." Jawabku malu.

"Okay, I just want to tell you that the end is near.". "Heh, I just felt it this weekend. My peaceful life has come to an end." Kataku sambil tiduran. Pharos terlihat bingung. "Forget it. Jadi apa yang kau maksud dengan 'The End'?".

"Aku juga tidak tahu. Entah kenapa aku bisa mengingat hal ini tanpa tahu artinya. And, you will face an ordeal in one week.".

"Orgil?... maksudmu orang gila?" tanyaku bingung. "Bukan orgil, tapi ordeal, cobaan." Jelasnya. "OoO... Cobaan." Ku baru ngerti.

"But i'm sure you can do it. That's why I want become friend with you, kamu mau 'kan jadi temanku?" tanya Pharos sambil menyodorkan tangannya. "Of course, but can I ask you something?" tanyaku setelah bersalaman dengannya. "What is it?"

"Kamu ke sini naik apa?" selidikku. Pharos langsung sweatdropped. "Kalo orang lain pasti akan bertanya 'Bagaimana kamu bisa ada di sini?'. Kamu memang lain daripada yang lain ya. It's time for me to go. Good bye, I always watching you." Pharos pun menghilang.


Selasa, 21 April 2009
Siang hari (selesai kuliah) 13.00

Seperti biasa tiap Selasa aku dan Aziz pergi bareng ke kost Hadi. Tapi, saat aku mau keluar dari kelas. "Anggir, apa kamu ada waktu? Bapak ingin bicara denganmu." Kata Pak Pramono, dosen yang mengajar kelasku barusan sekaligus dosen wali jurusanku. "Eh, i-iya Pak, saya tidak sibuk kok. Aziz, kamu duluan saja, nanti ku nyusul." Bisikku ke Aziz.

Aku mengikuti Pak Pramono menuju ruangannya. "Ada apa Pak, saya tidak melakukan kesalahan 'kan?" tanyaku sambil terus mengikutinya. "Oh, tenang saja. Saya hanya ingin menjelaskan sesuatu yang penting kepadamu. Yang lain sudah menunggumu dari tadi." Jawabnya sambil menaiki tangga. 'Yang lain? Apa maksudnya?' pikirku.

Saat kami masuk keruangan Pak Pramono. "Hah, What you're doing here?" aku kaget karena Hadi, Hari dan Adipta sudah di dalam. "Hey Anggir, akhirnya datang juga." Jawab Hadi. "Nah Anggir, silakan duduk. Bapak akan menjelaskan soal Dark Hour." Kata dosenku mempersilakanku duduk.

"Hah, Bapak tahu soal Dark Hour?! Auww..." aku langsung kaget hingga terjatuh saat mau duduk. "Kagetnya nggak usah sampe kayak gitu dong. Bikin kita malu aja." Kata Hari marah. "Sudah, jangan bertengkar. Bapak akan mulai penjelasannya.".

"Dark Hour dan Tartarus muncul sejak 6 tahun yang lalu. Saat itu sedang diadakan penelitian tentang shadows." Jelas Pak Pramono.

"Penelitian shadows 6 tahun yang lalu? Jadi shadows sudah ada sebelum Dark Hour?" tanyaku.

"Ya, shadows tercipta dari kumpulan perasaan negatif manusia. Tapi jumlah mereka dulu tidak sebanyak sekarang, hingga sebuah kecelakaan terjadi."

"Kecelakaan? Oh, ya aku ingat. 6 tahun lalu ada ledakan di IPB 'kan? Tempatnya di sini 'kan?"

"Benar, akibat kecelakaan itu, 20 shadows terkuat kabur dari tempat penelitian. Lalu Dark Hour dan Tartarus muncul."

"20 shadows terkuat? Sebenarnya apa yang diteliti dari shadows?"

"Bagaimana mereka terlahir dan cara untuk mengalahkan mereka."

"Lalu apa hubungannya dengan 20 shadows terkuat?"

"Itulah sebabnya kalian berada di sini. Tugas kalian adalah membasmi 20 shadows yang kembali muncul setelah 6 tahun. Jika kalian berhasil mengalahkan mereka semua. Maka semuanya akan berakhir."

"Oh begitu, jadi tugas kita membasmi ke-20 shadows tersebut ya. Eh, sebentar, kenapa ada 20? Bukannya Arcana jumlahnya ada 22? Shadows juga memiliki Arcana 'kan?"

"2 Arcana yang tidak ada adalah 'Death' dan 'The World'. Kedua Arcana tersebut spesial karena memiliki arti khusus, yaitu 'Akhir'."

"Maksud anda 'The End' alias akhir kehidupan, ya 'kan?"

"Ya, tepat sekali. Saat penelitian berlangsung, kami tidak dapat menemukan shadows dengan 2 Arcana tersebut. Mungkin memang tidak ada."

"Lalu kapan 20 shadows ini muncul?"

"Sayangnya, kami juga belum tahu. Oleh sebab itu, kalian harus bersiap-siap jika ada salah satu dari mereka muncul."

"Kapan terakhirkalinya mereka muncul?"

"Bulan lalu, tanggal 27 Maret. Saat itu muncul 2 buah, untung saja Adipta dan yang lainnya bisa mengalahkan mereka. Aku sempat kuatir saat itu. Ku kira mereka masih belum siap menghadapi shadows tersebut."
"Arcananya apa saja?"

"Hermit dan Strength. Nah, apa masih ada yang ingin kamu tanyakan?"

"Eng... sudah tidak ada lagi."

"Sebenarnya Bapak tidak mau mengatakan hal ini, tapi untuk sementara ini kamu tidak boleh ikut menjelajahi Tartarus."

"Ini soal Persona 'kan? Karena saya masih belum bisa memanggilnya, jadi saya tidak bisa ikut, bukankah begitu."

"Ya, Bapak minta maaf karena kamu sudah terlibat dalam hal ini. Tapi jika kamu berhasil memanggil Persona, kamu akan menjadi anggota tetap grup ini."

"Grup? Grup apa?"

"Lho, kamu belum diberitahu oleh Adipta? Kami menyebutnya SEES, Specialized Extracurricular Execution Squad. Di IPB SEES dikenal sebagai klub yang membantu Komisi Disiplin, tapi misi sebenarnya adalah membasmi shadows."

"Oh I SEES"

*bletak* "Jangan bercanda saat berbicara dengan dosen tahu!" Hadi langsung memukulku. "Maaf, tapi aku 'kan cuma mau mencairkan suasana. Kamu juga tidak sopan memotong dialog kami." Kataku membela diri. "Ugh... anak ini!!" Hadi langsung menubrukku. Hari langsung menyeret kami keluar ruangan. Pak Pramono langsung sweatdropped.

"Eeh... maafkan kelakuan mereka ya Pak. Mereka memang selalu begini kalau bercanda." Kata Adipta meminta maaf. "Tidak apa-apa, namanya juga anak muda. Asal jangan saat kuliah kalian bercandanya. Baiklah, kalian boleh pergi sekarang, Bapak masih ada urusan lainnya. Semoga kalian sukses menghadapi shadows tersebut." Jawab Pak Pramono tenang. "Terima kasih Pak. Kami permisi dulu." Kata Adipta sambil menutup pintu dari luar.

"Kalian nggak bisa tenang apa! Perasaan kalo ketemu pasti ribut melulu!" kata Adipta. "Salah, bukan pas ketemu. Tapi, pas bercanda." Kataku memperbaiki perkataan Adipta. "Pokoknya kalo kalian berdua itu kayak anjing sama kucing." ejek Hari.

"Oh iya, kenapa Pak Pram bisa tahu soal Dark Hour?" tanyaku penasaran. "Justru Pak Pram duluan yang tahu tentang Dark Hour. Waktu pertama kali kita masuk ke Dark Hour, Pak Pram yang menemukan kita." Jawab Hadi. "Spare me the detail." Kataku meminta penjelasan. "Hm, berhubung agak panjang. Lebih baik ku jelaskan sambil kita jalan ke kost saja. Ayo kita berangkat." Ajak Hadi. Kami pun segera keluar dari kampus.


Flashback (POV Hadi)

Selasa, 16 Maret 2009
Malam hari 23.00

"Gimana, udah selesai belum tugas dari Pak Pram?" tanya Goman lewat telepon.

"Belumlah, kamu nggak bantuin gimana mau cepat selesai!" jawabku.

"Ya maaf, aku 'kan nggak boleh pulang malam-malam kalo lagi nggak libur. Lagian yang lain masih ada di kost Weton 'kan?"

"Dasar anak mami! Nana sama Feby aja masih di sini. Kalo nggak pasti ujung-ujungnya aku lagi yang kerjain sendiri. Si Setan sama Weton 'kan tukang tidur."

"Ya udah, sebagai gantinya besok ku traktir deh. Asal kelompok kita dapat nilai bagus."

"Janji ya! Kalo soal nilai sih nggak usah dipikirin, kelompok kita pasti 'the best'! Tenang aja, yang penting besok siapin uang yang banyak. Aku mau balas dendam gara-gara tadi nggak sempet makan malam."

"Beres bos! Soal uang sih nggak ada masalah, yang penting 'Low budget high impact'. Udah dulu ya, ngantuk nih. Daag!"

Setelah aku menutup telepon. Aku kembali mengetik tugas untuk besok di laptop. "Hadi, bagian untuk presentasi udah selesai, nih!" kata Nana sambil memberikan Flash Drive-nya. "Oh, thanks ya. Lho Feby mana?" tanyaku. "Dia udah tidur duluan, kelelahan dari dari sore sih. Aku juga mau tidur dulu ya!" jawabnya sambil menuju kamar. "Lho, kalian nggak balik ke kost?" tanyaku lagi. "Aku cuma tidur bentar kok. Capek banget nih. Nanti sekitar jam 12 bangunin kita ya." Dia langsung menutup pintu kamar dan dikunci.

'Yah dikunci, coba kalo nggak 'kan enak....' pikirku. Kulihat Hari dan Adipta sudah tidur di sebelahku. Aku pun juga merasa ngantuk, tapi aku berusaha untuk tidak tertidur. Tanggung, sedikit lagi selesai. Tapi lama-lama mataku semakin berat. Akhirnya.... Zzz

"Zzz... hah! Gawat aku ketiduran, udah jam berapa nih? Kok gelap sih, mati listrik ya? Laptopnya juga mati lagi. Woi, Setan, Weton, bangun! Lho kok nggak ada, perasaan tadi tidur disebelahku deh." Kataku sambil meraba-raba.

Tiba-tiba aku mendengar suara pintu dibuka. "Hadi, kamu ada di situ? Kok gelap sih, mati listrik ya?" seperti suara Feby. "Feby ya? Nana mana?" selidikku. "Nggak tahu, tadi sih tidur di sebelahku. Aku kirain dia keluar. Ada di situ nggak?" tanya Feby. "Nggak ada, Hari sama Adipta juga nggak ada. Aku nggak tahu deh mereka keluar atau ke kamar, habis tadi aku ketiduran." Jelasku.

"Aduh, gimana nih? Nggak ada senter atau sesuatu yang bercahaya apa? Aku nggak bisa lihat apa-apa nih! Aouw!!" sepertinya Feby tersandung sesuatu. Aku pun secara reflex berusaha menangkapnya meski agak sulit karena gelap. "Thanks ya Hadi.". "Huff, hampir saja kamu jatuh. Makanya hati-hati kalau berjalan dalam kegelapan." kataku menasehatinya.

"Aargh!! Kok gelap sih?! Feby, kamu di mana?!" terdengar teriakan Nana dari kamar. "Aku di ruang tengah sama Hadi. Kamu tadi ke mana? Kok aku cari di kamar nggak ada?" kata Feby sambil menuju kamar. *bruk* Lalu aku mendengar suara seperti buku yang jatuh.

"Aduuh, sakit!! Siapa sih yang nendang pantatku?" tiba-tiba suara Hari terdengar di dekatku. "Heh, justru aku yang sakit tahu! Kamu kalo tidur nggak bisa diam ya?! Masa aku ditimpa tangan sama kaki kamu. Emangnya aku guling?!" suara Adipta juga terdengar.

"Hey, kalian berdua dari mana? Kok tadi aku cariin nggak ada?" tanyaku sambil menenangkan mereka. "Dari tadi kita tidur di sini kok. Lho kok gelap, mati listrik ya?" jawab Hari setelah tenang. "Feby sama Nana mana? Sudah pulang?" tanya Adipta sambil menuju pintu keluar. "Nggak mereka lagi di kamar. Kamu mau ke mana Ton?" tanyaku. "Aku mau lihat keadaan di luar. Siapa tahu ada informasi soal mati listrik mendadak ini." Jawabnya sambil keluar kost.

"Hadi, pintu kamarnya dikunci nggak? Siapa tahu Feby sama Nana kenapa-kenapa. Lihat yuk!" ajak Hari. "Bilang aja kamu mau ngintip, dasar Setan!" kata Nana keluar dari kamar, Feby juga ada di sebelahnya. "Eh, orangnya udah di sini. Siapa bilang ngintip, 'kan aku kuatir, nanti kalian ketakutan kalo nggak di dekat 'Prince Hari'!" kata Hari bangga. Kami langsung cengo alias sweatdropped.

"Hey, teman-teman, sebaiknya kalian keluar. Ada yang aneh di luar, terlalu sepi." Ajak Adipta dari luar. Kami pun langsung keluar. "Ada apa Ton? 'kan memang selalu sepi kalo udah larut malam begini." Tanyaku. "Tapi ini terlalu sepi, masa aku tidak lihat seorang pun di sekitar sini. Di pos satpam juga tidak ada orang. Tapi tadi aku sekilas melihat ada sesuatu yang bergerak di sana." Jawab Adipta sambil menunjuk ke arah jalan raya.

Kami pun berjalan ke arah kampus. Lalu kami berhenti karena melihat sesuatu yang menakjubkan. "Apa yang terjadi? Kenapa kampus gedung CB (Cilibende) tiba-tiba menjadi sebuah menara?" kataku. "Udah gitu ada jurang di sekitarnya, kita jadi tidak bisa masuk deh. Masa nggak ada jembatannya sih?" tambah Hari. "Selain itu kenapa ada suara yang menyeramkan dari dalam sana? Lebih baik kita periksa gedung lainnya, siapa tahu ada petunjuk." Ajak Adipta.

"Tapi Ton, apa tidak apa-apa jika kita jalan lebih jauh lagi?" tanya Feby kuatir. "Udah Feb, tenang aja. Kita 'kan berlima, lagipula ada 3 cowok. Jadi, kalo ada apa-apa mereka bisa jagain kita." Kata Nana menenangkan Feby.

"Kalo kalian berdua takut, mendingan pulang aja deh. Nanti banyak hantu lho. Atau mau ditemenin 'Prince Harry'?" ejek Hari sambil merangkul Nana dan Feby. *buk* "Aouw!! Perutku!! Nana kejam!!" erang Hari sambil memegang perutnya. "Jangan main-main sama aku ya! Memangnya aku tidak bisa membela diriku!" kata Nana marah. "Sudah jangan ribut, lebih baik kita teruskan investigasinya." Kata Adipta. "Memangnya kita detektif?" tanyaku bercanda.

Saat kami mendekati gedung GG (Gunung Gede). "Teman-teman, aku merasakan sesuatu. Sesuatu yang berbahaya sedang menuju ke sini. Bagaimana ini?" kata Feby ketakutan. "Semuanya sembunyi di balik semak!" perintah Adipta. Kami langsung menunduk dan mendekati semak. Lalu muncul gumpalan hitam dari gerbang gedung GG. Gumpalan itu memiliki topeng dan dua tangan.

"Makhluk apa itu?" bisikku ke Adipta. "Aku juga tidak tahu. Sebaiknya kita jangan sampai ketahuan makhluk itu." saran Adipta. "Aaah!! Ada kecoak!!" teriak Nana. Makhluk itu langsung menuju ke arah kami. 'gawat, aku harus mengalihkan perhatian makhluk itu!' pikirku. Aku pun langsung keluar dari semak. "Hey gumpalan jelek. Kejar aku kalo bisa!" kataku sambil melemparnya dengan batu. Sesuai dugaanku, makhluk itu langsung mengejarku.

"Hadi, apa yang kau lakukan?! Jangan gegabah! Cepat lari!" teriak Adipta. "Hadi, awas!! Aku merasakan ada yang lainnya di depanmu!" teriak Feby. Sesuai perkataan Feby, ada makhluk yang sama menghadangku. 'Sial, apa yang harus kulakukan sekarang? Ah, hajar saja mereka!' pikirku.

Aku berusaha memukul mereka, tapi tidak terlalu berpengaruh meski mereka terkena pukulanku. Malah makhluk itu balik menyerangku. Saat aku menghindar, makhluk dibelakangku langsung menerkamku. "aaargh!! Sial!" erangku. "Hadi!!" teriak teman-temanku dari kejauhan. Aku menengok ke arah mereka. Mereka juga dikepung makhluk lainnya. 'Sial, apa aku tidak bisa menolong mereka?! Aku butuh kekuatan! Kekuatan untuk menolong teman-temanku!'.

Tiba-tiba aku mendengar suara dari dalam diriku. 'Aku telah menantimu sejak lama. Kini saatnya kau menggunakanku untuk menolong teman-temanmu. Akan kupinjamkan kekuatanku padamu agar kau dapat melakukannya. Panggilah namaku!'. Tanpa ragu aku langsung berteriak "Persona! Pegasus!!" sebuah sinar keluar dari tubuhku. Kedua makhluk yang menangkapku segera mundur seperti ketakutan. Dari sinar muncullah sosok kuda bersayap.

I am thou, thou am I
I am the winged white horse
I am Pegasus

"Pegasus, Horse Strike!" Perintahku. Pegasus langsung menendang kedua makhluk itu dan mereka hilang tak bersisa. Aku langsung berlari menuju teman-temanku. Makhluk yang ada di sana sudah bersiap untuk menerkam mereka. "Zio!!" aku menyebutkan kata yang muncul dari pikiranku. Petir langsung menyambar makhluk itu, dan hilang seperti yang lainnya. Setelah merasa aman, wujud Pegasus hilang. Aku merasa dia berada dalam diriku.

"Kalian tidak apa-apa?" tanyaku kuatir. "Ya, kami baik-baik saja." Jawab Adipta. "Wow, Hadi, tadi kamu hebat sekali! Bagaimana kamu bisa melakukannya?!" tanya Hari sambil menepuk pundakku. "Entahlah, tiba-tiba saja aku bisa memanggil Pegasus." Jawabku agak bingung. "Tadi kalau tidak salah kamu teriak Persona ya? Kenapa kamu menyebut Persona?" selidik Adipta. "Sebelumnya aku mendengar suara Pegasus dari dalam diriku, lalu kata itu muncul dipikiranku. Setelah itu Pegasus muncul." Jelasku.

"Bagaimana kalo kita balik dulu. Daripada ada makhluk lain yang datang lagi." Saran Nana. "Baiklah, ayo kita kembali ke kost. Kita diskusikan lagi di sana agar lebih aman." Perintah Adipta. Kami langsung berjalan ke arah kost.

Tiba-tiba muncul seseorang di depan kami. "Wah, akhirnya aku menemukan Persona-User. Sudah lama aku menantikan saat ini." Katanya sambil berjalan ke arah kami. "Siapa kau?! Apa kau yang melakukan semua ini?" teriakku. "Jangan berkata begitu kepadaku. Apa kalian lupa siapa aku?" katanya sambil berhenti saat berada di depan kami. "Eh, ternyata...".


Nah, bagaimana? Hadi lumayan keren 'kan (dipaksa ngomong sama Hadi). Oh iya, aku akan menampilkan profil dari setiap Persona-User yang udah munculin Personanya mulai dari chapter ini (tapi kalo belum ada yang baru, ya nggak ada). Artinya sekarang profilnya Hadi dulu.


PROFILE

Persona-User:

Nama: Hadiansyah

Panggilan: Hadi, Gae(cuma Hari yang manggil gitu)

Hobi: Main sepak bola atau futsal. Gebukin Anggir pas melakukan kebodohan (kejam! Begitu dijadiin hobi)

Sifat: Serius tapi santai. Suka bercanda. Gampang panik kalo lagi belajar

Weapon: Sarung tinju besi

Persona:

Nama: Pegasus

Bentuk: Kuda putih bersayap

Arcana: Chariot

Status: Strong terhadap Electric, Weak terhadap Ice

Skill: Zio, Mazio, Horse Strike, Takuraja


Ya, begitulah profil Hadi dan Personanya. I hope you satisfied. Don't forget, review ya!