A/N: Selamat lebaran semua! #telat. Buat yang enggak merayakan, selamat liburan! #udahmauabisjuga. Semoga 10.340 ribu kata di bawah ini cukup sebagai permintaan maaf karena saya tahu kalo ini apdetnya lamaaa. Tanpa banyak cin-cong-omong-kosong lagi, selamat membacaaa! ^w^

.

.

.

.

Kenapa?

.

.

.

.

Melupakan kejadian beberapa saat yang lalu dan kembali melaksanakan tugas untuk menghabiskan jatah bubuk mimpi di kantongku, akhirnya aku bisa kembali mendapat sisa waktu untuk mencarimu, Penghias Malamku. Aku sudah beberapa kali mengelilingi apartemenmu, tapi aku tak kunjung menemukanmu di mana pun. Di mana kau? Aku ingin memastikan keadaanmu, apa kau masih seperti kemarin itu? Aku benar-benar khawatir padamu! Ditambah lagi dengan keadaan seperti sekarang, sepertinya dengan sangat terpaksa aku juga harus mengambil kembali hadiah yang kemarin kuberikan….

Aah, tunggu sebentar! Apa itu kau? Manusia berambut biru dan berkemeja putih yang penuh dengan noda darah―

―Sebentar, darah?! Apa noda berwarna merah yang cukup banyak di tubuhmu itu benar-benar darah?! Hei, apa yang telah kau lakukan?!

Kau tidak… kau tidak membunuh bosmu itu, kan?! I-iya, kan?!

.

.

.

"… Sial, seenaknya saja mengguyurku dengan anggur! Apa tak ada yang melihatnya pura-pura tersandung seperti itu?! Untung orang macam dia sadar untuk segera memanggilku kembali dengan kenaikan gaji! Kalau tidak, mungkin aku sudah mengguyurnya balik dengan kerosin! Huh!"

.

.

.

Ooh, syukurlah itu ternyata hanya noda minuman. Kukira kau telah melakukan hal yang buruk, ternyata itu hanya aku yang berpikir terlalu jauh. Dan lagi, 'memanggil kembali'? 'Kenaikan gaji'? Yipiiii! Aku berjingkrak-jingkrak gembira di udara, bubuk buatanku bekerja sebagaimana mestinya! Aku benar-benar senang! (Meski nantinya kau harus segera mencuci kemejamu. Noda berwarna di atas kemeja putih seperti itu cukup sulit untuk dibersihkan, bukan?).

Merasa lega dengan gerutuan lucu yang terdengar cukup jelas itu, aku menghela napas lega dan diam-diam mengikutimu menuju kamarmu. Di situ kulihat kau melepaskan kemeja bernoda itu dan merendamnya dalam seember air yang dicampur cairan dari botol kecil bertuliskan 'Sok Lin'. Ugh, bau cairan itu benar-benar tidak enak! Setelah memastikan kemejamu terendam, kau mengambil pakaian ganti dari lemari lalu masuk ke kamar mandi—

―A-a-a-aku tidak mengintip, ya! Aku memang mengikutimu ke mana-mana, tapi aku tidak pernah sekali pun ikut masuk ke sana! Aku seorang malaikat, mana mungkin aku melakukan hal tidak terpuji macam mengintip orang mandi?!

Beberapa menit berlalu dan akhirnya kau keluar sambil mengeringkan rambutmu dengan handuk. Kini kau mengenakan kaus lengan pendek warna biru laut, dengan celana hitam sepanjang lutut. Jauh kelihatan lebih segar juga harum. Juga, wangi apa sajakah yang dapat kucium darimu? Aku hanya bisa menebak mint, sedangkan campuran wewangian lainnya aku tak begitu tahu. Yang jelas wangi maskulinnya cocok untukmu. Tapi, ah, harum wewangian seperti apa pun tak akan begitu jadi masalah jika pemakainya adalah dirimu. Aku suka kau apa adanya.

Usai mengunci pintu rapat-rapat, kau naiki tangga lantai teratas berjumlah dua puluh empat, lalu duduk di tepian pembatas atap yang tak bersekat. Menyapa langit kelam dengan dua bongkah nilam. Berbeda jauh dengan telaga keruh yang muncul di hari lalu. Ditambah hati yang kini sejuk, makin terbuai aku pada sorot teduhmu. Tapi aku tentu masih ingat perkataan Kurokocchi itu, jadi terpaksa aku harus agak menjauh agar kau tidak melihatku yang tengah berada di atas kepalamu.

Ehm, tapi terbang di atas kepalamu juga sama berbahayanya karena bisa jadi terlalu mencolok, ya? Apalagi dengan sayapku yang harus sesekali mengepak, bisa bahaya kalau kau sampai mendongak!

Dengan benar-benar begitu sungguh sangat terpaksa, kudaratkan kedua kakiku di belakang bangunan-kecil-yang-berisi-anak-tangga-untuk-menuju-ke-atap-aku-tak-tahu-para-manusia-menyebutnya-apa. Kulipat sayapku dan 'kusembunyikan' dengan sejumput taburan bubuk penghilang buatanku saat masih di pelatihan dulu yang kusembunyikan di kantong kemeja— Kumohon, jangan beritahu Momoicchi soal ini atau dia akan mengomeliku habis-habisan. Jangan!

Sedikit info dariku, bubuk ini tak bisa menyembunyikan keberadaanku sepenuhnya. Terutama darimu yang telah memiliki sebagian kecil dariku, makanya kutaburkan bubuk ini pada sayapku saja. Karena selain sayap, tubuh malaikat tak ada bedanya dengan manusia. Seandaikata nanti kau tak sengaja melihatku pun, aku yakin kau akan menganggapku sebagai manusia sepertimu.

Kecuali jika aku masih terbang di atas kepalamu tentunya. Untung hal seperti ini sempat terpikirkan sebelumnya. Syukurlah.

Oke, persiapan antisipasi selesai. Kuperhatikan kembali dirimu dari balik dinding. Kini kau tengah berbaring santai di atas permukaan dingin lantai dengan wajah menghadap angkasa yang damai permai. Kedua tangan terlipat di bawah kepala, kaki lurus diselonjorkan, dan helaan napas panjang keluar dari bibir yang tersenyum tenang. Belaian angin juga semakin membuatmu nyaman, berbeda dengan emosi meledak-ledakmu beberapa saat ke belakang.

Waah, sepertinya kau benar-benar menikmati pemandangannya, begitukah? Senang rasanya melihat hatimu tenteram mengagumi langit dan bintang-bintang, dada jadi terasa begitu ringan.

"Haaah…," desahmu keras dan terdengar lumayan jelas dari tempatku sekarang. "… Terima kasih ya Tuhan. Hidup sebagai pegawai kantoran memang sulit…. Mohon berikan kekuatan pada hambamu ini…." Doamu singkat seraya memejamkan mata.

Pegawai kantoran? Kalau tidak salah, itu jenis pekerjaan yang berhubungan dengan membuat laporan atau sejenisnya untuk dilaporkan pada atasan, bukan? Pekerjaan kita tidak terlalu berbeda jauh juga ternyata. Sudah begitu, aku senang mendengar pernyataan bersyukurmu. Kau adalah orang yang kuat! Hidup mungkin berat, tapi aku yakin kalau kau bisa mengatasi semua rintangan! Berjuanglah! Semoga doamu segera dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, amin!

"Nnngghhhhhh!"

Setelah mengucap doa, kau mengerang kencang seraya merenggangkan badan. Gerakanmu lucu sekali, seperti anak kucing yang menggeliat-geliat sebelum tidur. Kedua tangan diluruskan ke atas kepala sambil berguling ke kiri sebentar, lalu berguling ke kanan, dan akhirnya kembali menghadap atas dengan kedua tangan dan kaki yang dibuka dan ditutup bersamaan. Ya ampun, sulit sekali menahan tawa di sini! Tidur-tiduran di lantai saja tingkahmu sudah sebebas itu, bagaimana jika kau melihat hamparan rumput dan bunga yang begitu luas di surga? Mungkin semuanya sudah habis kau jadikan tempat berguling-guling, ya.

Ketika tawaku berhasil kuhentikan, kulihat kau kembali meletakkan sebelah tangan di bawah kepala sementara yang satunya mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celana. Aku tak bisa melihatnya dengan begitu jelas. Uuhm… warnanya gading agak terang dan sedikit bercahaya, lalu bentuknya pipih nan panjang…. Apa itu bulu sayapku yang kemarin malam kuberikan padamu? Kau… menyimpannya?

Aku tak tahu harus senang (Karena kau menerima hadiahku) atau harus waspada (Karena identitasku bisa terancam ketahuan olehmu). Kau memutar-mutar dan memainkan hadiah-yang-jadi-pembawa-masalah tersebut di antara jemari tanganmu sambil terus memandanginya dengan tatapan fokus. Aku tidak bisa membaca pikiranmu, tapi aku yakin pertanyaan macam 'Dari mana asalnya?' atau 'Siapa yang meletakkannya?' pasti sempat terpikirkan olehmu―

Chu!

"Ahahaha~"

―Alih-alih tampak memikirkan sesuatu yang serius, kau tiba-tiba tersenyum lebar dan mencium bulu sayapku itu dengan penuh rasa sayang. Kau juga sampai tertawa sebegitu senangnya.

Aku terpana sampai-sampai tanpa sadar mulutku menganga. Auramu memancarkan kebahagiaan. Tanpa kebohongan. Tanpa beban. Seperti tawa seorang anak yang baru saja dibelikan mainan baru oleh orang tuanya, jika ingin ada deskripsi persamaan dalam membayangkannya. Begitu menyenangkan untuk didengar.

Sesegera mungkin aku berbalik dan menahan jeritan dengan membekap mulut memakai kedua tangan sementara wajah sudah sepanas panggangan. Aaaaaa! Manisnyaaaa! Sepertinya aku akan lebih sering berterima kasih pada Yang Maha Kuasa, manusia memang ciptaan-Nya yang paling indah! Tapi ini membuatku semakin bertanya-tanya; Apa kantong bubuk mimpiku benar-benar bocor dan aku menghirupnya terlalu banyak sampai lemas begini? Tapi, yah, hebat juga aku memilih tempat persembunyian. Setidaknya ada dinding yang bisa kupakai untuk menopang tubuhku karena tulang-belulang di dalam kakiku serasa terbuat dari agar-agar; Lembek dan gemetar.

Mengatur napas sampai suhu wajah dan kedua kakiku kembali normal, kuperhatikan lagi dirimu yang masih berseri-seri dengan mata terkunci menatap bulu sayapku dalam genggaman. Tampaknya kau sungguh suka dengan hadiah yang kuberikan, ya? Aku bukannya ingin mengganggumu yang sedang senang, tapi sepertinya terpaksa aku harus mengambil kembali apa yang sudah kuberikan karena itu ternyata telah membuat kekacauan. Aku benar-benar minta maaf….

"Meooong~"

Aduh, kenapa bisa ada kucing yang mendekatiku disaat seperti sekarang? Kucoba untuk menghalaunya, tapi si kucing malah semakin mendekat! Suara mengeongnya cukup keras pula! "Sssshhh!" Desisku dengan suara berbisik-setengah-menjerit, "Jangan berisik! Aku sedang tidak bisa diajak main sekarang—"

"—Meoooong~ Prrrrr~ Prrrrrrr~"

Ya ampun, kucing manis itu sekarang malah melingkarkan badannya dengan nyaman di pergelangan kaki kananku sambil mendengkur-dengkur manja. Seandainya ini jam bertugasnya para peri pengurus hewan, mungkin aku bisa mengharapkan bantuan mereka. Tapi karena jam bertugas mereka telah lama usai, aku hanya bisa mengayun-ayunkan kedua tanganku panik ke arahnya agar ia segera melepaskan kakiku dan pergi meninggalkanku sendirian.

"A-ayolaaaah! Aku sedang sibuk!"

"Meooooong~"

"Sudah kubilang, aku sedang tidak bisa main! Lepaskan kakiku—"

"—Meeeeeoooooong~"

"Aaaah!" Jeritku tertahan, masih berbisik-setengah-menjerit padanya yang malah semakin kuat menggeliat. "Aku mohon, kucing kecil! Lepaskan kakiku! Lepaskaaan!" Pekikku pelan menahan kesabaran lantaran tengah kelimpungan. Kalau keadaannya seperti ini terus nanti aku bisa—

"Hahaha, sepertinya kucing itu menyukaimu."

Ketahuan.

Dengan tubuh gemetar, perlahan-lahan kubalikkan pandangan ke belakang. Benar saja, kau ada di sana dan aku sama sekali tidak menyadarinya (Uugh, aku sungguh makhluk yang ceroboooh!). Kau berdiri dengan kedua tangan terlipat di belakang kepala, dengan senyum geli-atau-kasihan-atau-mungkin-campuran-keduanya-duuh-aku-tak-tahu-yang-mana-karena-oh-ayolah-aku-tak-kuat-terus-menatap-senyumanmu-itu mengembang. Mengangalah lagi mulutku sekarang. Bagaimana tidak? Kau benar-benar bisa melihatku! Pikiranku campur aduk sekarang. Maksudku, hey, apa yang harus aku lakukan?! Ini keadaan gawat darurat!

Tak ada pilihan. Menelan ludah, aku berusaha mengumpulkan keberanian untuk menanggapi ucapanmu barusan, "A-ah, m-m-mungkin?"

Aaargh, kenapa bisa-bisanya aku berbicara dengan suara terpatah-patah?! Seluruh tubuhku juga tiba-tiba terasa panas! Dan khusus untuk kakiku, kumohon dengan sangat padamu, jangan sampai kau benar-benar berubah menjadi agar-agar! Jangan sampai!

Tertawa sejenak, kau menggendong kucing yang meliliti pergelangan kakiku dan mengelus-elus kepalanya dengan penuh perhatian. Setelah berhasil membuat kucing manja tersebut diam, akhirnya kau mengalihkan pandanganmu padaku yang masih kelabakan mencerna keadaan. "Omong-omong, apa yang kau lakukan di sini?" Tanyamu sambil masih mengelus si kucing.

"H-ha?"

"Kau bukan penghuni apartemen ini, kan? Lagi pula, aku berbaring di sini dari tadi dan aku sama sekali tidak melihatmu datang kemari. Jadi, kau sedang apa di sini?"

Gyaaaah! Kau menanyakannya! Aku harus menjawab apa?! Apa?! Apaaaa!?

Aku tak akan menyangkalnya, aku begitu kebingungan sampai gelagapan dan tergagap-gagap! "A-a-a-a-aku hanya… uuh, a-a-aku hanya—"

"—Hanya apa?" Tanyamu ikut kebingungan melihat reaksiku. "Ah, apa mungkin kau ingin mencari seseorang di apartemen ini?"

Aku tak punya alasan yang lebih baik untuk dikatakan, jadilah aku mengangguk pelan. "I-i-iya. A-aku ingin mencari temanku, ma-makanya aku menunggunya di sini…," tuturku sebisa mungkin memberikan sesuatu untuk dijadikan alasan— Atau mungkin berbohong lebih tepatnya.

Aku jadi ingin segera menyucikan diri. Seorang malaikat berani berbohong? Rendah sekali. Masih untung kau tidak menganggapku sebagai pencuri atau semacamnya. Sudah begitu, kau tampaknya biasa saja melihatku. Berarti bubuk yang kutaburkan di sayapku masih bisa bekerja. Syukurlah….

Kau yang masih menggendong kucing menatap pintu-yang-berisi-anak-tangga. "Hmm… begitu?" Ucapmu sambil sedikit menganggukkan kepala. "Yaah, seperti apa yang bisa kau lihat. Selain aku -kalau tidak sudah tertidur- sekarang masih banyak penghuni apartemen yang belum pulang karena mengambil jam lembur atau alasan lainnya," terangmu sambil kembali memandangku.

"O-ooh, begitu, ya?" Balasku gugup.

Kau mengangguk singkat. "Hey, apa kau masih ingin menunggu temanmu itu? Aku bisa menemanimu di sini untuk sementara waktu, itu pun kalau kau mau. Bagaimana?" Tawarmu sambil kembali tersenyum.

Bagaimana mungkin aku menolak tawaran sebegitu menggiurkannya? Lagi pula, aku bisa saja mencari kesempatan untuk mengambil bulu sayapku itu secara diam-diam, bukan? Kuanggukkan kepala kuat-kuat sementara kau kembali tertawa melihatku yang begitu antusias.

Kita pun duduk bersebelahan di tembok tepian pembatas atap. Kau duduk di kanan dengan tenang sementara tanganmu membelai si kucing di kepalanya, sedangkan aku yang duduk di kiri hanya mengunci mulut rapat-rapat dengan kedua kepalan tangan yang berkeringat. Aku masih tidak percaya kita bisa duduk berdua (Atau mungkin bertiga, jika si kucing di pangkuanmu dihitung serta) di bawah langit malam berbintang yang indah. Kita sama-sama terdiam tanpa suara. Angin tiba-tiba datang lumayan kencang dan membuatku harus melindungi mataku dari debu menggunakan lengan sambil memalingkan wajah ke arah kanan— Ke arahmu. Saat hembusannya mulai mereda, apa yang kulihat membuatku terperangah.

Berbeda denganku yang memalingkan wajah, kau hanya menutup mata seraya mendongakkan kepala. Rambutmu bergerak lembut mengikuti aliran anginnya. Kelopak matamu kemudian membuka perlahan. Kedamaian menampakkan binarnya. Senyum tipis di bibirmu ditarik penuh perasaan.

Satu kata; Indah.

"… Ada apa?"

Euh… menatap seseorang terlalu lama memang selalu membuat masalah datang, ya? "E-eh? Aah, t-tidak ada apa-apa, kok! Hanya saja…," aku terdiam sebelum kembali melanjutkan ucapan dengan mencoba mengembangkan sedikit senyuman. "… Kau tampak sedang begitu senang, apa ada hal baik yang terjadi?" Tanyaku pelan.

Tampaknya kau sedikit tertarik dengan pertanyaanku hingga kuperhatikan kau membetulkan posisi dudukmu agar bisa lebih dekat denganku. "Dari mana kau tahu?"

Aku menelan ludah. "T-tidak ada hal khusus, sih… hanya sempat terpikirkan saja. Anggaplah yang tadi itu tebakan yang beruntung…."

Kau terkekeh pelan, "Kurasa itu lebih dari tebakan beruntung kalau perasaan orang yang baru kau temui beberapa menit lalu saja sempat kau pikirkan. Jadi, bisa kau beritahu aku hipotesismu?" Balasmu memberikan pernyataan dan pertanyaan dengan wajah antusias. Sebegitu hebatkah pertanyaan singkatku untuk menarik perhatianmu?

Melihatmu penuh rasa ingin tahu, tentu dengan senang hati kuberi penjelasan yang kau tunggu-tunggu. "B-baiklah. Aku… menduganya dari saat kau memergokiku dan betapa positifnya cara berpikirmu terhadapku. Kau yang paling tahu tentang penghuni apartemen ini dan kau tahu kalau ini adalah jam-jam sepi di apartemenmu, tapi ketika melihat orang asing yang datang entah dari mana sepertiku kau sama sekali tidak tampak terganggu. Biasanya, orang akan langsung curiga kalau-kalau si orang asing ini adalah pencuri atau semacamnya, tapi kau malah menawarkan diri untuk menemaniku. Ditambah lagi, untuk ukuran perilaku di depan orang yang baru kau temui, kau benar-benar sering tersenyum tanpa keterpaksaan. Oh ya, saat ada angin kencang tadi juga kau tampak rileks sekali. Jadi, kuasumsikan kalau suasana hatimu sedang bagus oleh suatu hal." Aku berhenti sejenak untuk menarik napas. "Apa ucapanku benar?"

Kini giliranmu yang menganga ditambah tatapan tidak percaya. Dengan gelak tawa yang lumayan kencang, kau memberiku seulas senyuman riang. "Wahaha! Baru pertama kalinya aku bertemu dengan orang sepertimu! Apa pekerjaanmu? Psikiater? Atau detektif? Kau hebat sekali!" Ucapmu kegirangan penuh pujian diselingi tawa bernada ceria sambil menepuk-nepuk pundakku semangat. Aku hanya mampu menunduk malu dan mengulum senyuman lebar.

Untuk pertama kalinya, kau menyadari keberadaanku. Kau menawarkan diri untuk menemaniku. Kau duduk tepat di sampingku. Kau menyentuhku. Kau memujiku. Kau banyak tertawa karena aku.

Ternyata pengamatanku akan rasa keingintahuan manusia dan bagaimana cara menanggapinya selama ini tidak sia-sia belaka. Syukurlah.

"Oh, bicara soal orang asing, kurasa kita bahkan belum saling bertukar nama tapi aku sudah begitu menyukaimu, Pirang," kau -secara mengecewakannya- melepaskan tanganmu dari pundakku setelah memberiku panggilan itu (Tapi mana mungkin aku mengabaikan kata 'menyukai' yang kau ucapkan?) dan mengarahkannya ke hadapanku. "Namaku Aomine Daiki. Terserah ingin kau panggil apa, toh tampaknya kita seumuran. Kalau kau?"

Sedikit gemetar, kusambut perkenalanmu dengan menjabat tanganmu semantap yang kubisa. "N-namaku Kise Ryouta. Senang berkenalan denganmu…."

Mengguncangkan tanganku sejenak sebelum melepaskannya, kau kembali memamerkan senyum cerah. "Begitu juga denganku, Kise! Wahaha, sepertinya aku beruntung bisa bertemu orang yang begitu cermat dan perhatian sepertimu, ya?" Pujimu lagi sambil membiarkan kucing itu turun dari gendongan dan pergi entah ke mana. "Semua yang kau katakan tadi itu benar, moodku sedang bagus saat ini. Ingin dengar ceritanya?" Tawarmu sambil bangit dari tempat dudukmu dan mengambil posisi untuk berbaring.

Mana mungkin aku menolak? Toh suasana mulai terasa menyenangkan dan aku tak ingin melewatkannya. Aku pun bangun dan mengambil tempat duduk di sebelahmu yang tengah berbaring sebagai jawaban, tapi kau malah menarik-narik lenganku yang jelas membuatku menatapmu.

"A-ada apa?" Tanyaku sedikit gelagapan dengan kontak fisik yang terjadi.

"Jangan duduk sendirian begitu, berbaringlah. Langitnya lebih enak dipandang seperti ini. Daripada mendongak terus, lehermu lebih cepat pegal nantinya," kau menghapus debu di lantai sebelah tempatmu berbaring dengan usapan tangan. "Nah, kurasa sudah cukup bersih. Ayo, sini!" Ajakmu sambil menepuk-nepuk tempat yang baru kau bersihkan. Untukku.

Letupan-letupan hangat di dada menyeruak hebat dan sekujur tubuhku memanas dengan begitu cepat. Sensasinya bertambah dua kali lipat saat kubaringkan tubuhku di sebelahmu yang terpaku menatap bintang-bintang di langit itu. Rasanya aneh dan mendebarkan, namun terasa begitu baru nan menyenangkan. Dunia serasa milik berdua, milikku dan milikmu. Ditambah langit berbintang dan sepoi angin yang bertiup perlahan, semuanya begitu sempurna.

Diselingi tawa dan canda, kau bercerita panjang-lebar tentang apa yang telah kau alami seharian. Aku mendengarkan dengan saksama sambil curi-curi pandang— Yang terkadang tertangkap basah. Kau sempat menunda perjalananmu -yang dipanggil kembali- ke kantor untuk membantu seorang nenek tua menyeberangi jalan dan ia menghadiahimu sepotong roti isi sebagai balasan. Sampai di sana, bos yang memanggilmu itu belum datang hingga jam makan siang tiba dan kau berencana untuk memakan roti itu di taman dekat gedung kantormu. Roti itu hanya kau makan separuh karena setengahnya diberikan pada seekor anjing yang kelaparan. Begitu petang menggantikan siang, bosmu masih juga belum datang jadi kau memutuskan untuk membeli sekaleng kopi di minimarket. Sampai di sini, kau berhenti untuk mengambil napas sejenak.

Saat hendak kembali ke kantor, tahu-tahu ada seorang perampok yang menarikmu paksa ke dalam sebuah gang gelap dan menodongkan pisau ke arahmu. Ia memintamu untuk menyerahkan semua uang yang kau miliki (Aku benar-benar marah saat kau menceritakan itu, dan kau hanya tertawa melihat reaksi kesalku). Tapi sebelum kau hendak menyerahkan dompetmu, si anjing yang tadi siang kau beri roti datang dan menggigit lengan si perampok. Perampok tersebut pun kabur dikejar anjing itu tanpa sempat mengambil apa pun. Kesempatan itu pun kau ambil untuk segera kembali ke gedung kantormu.

Sekembalinya kau ke kantormu, ternyata bosmu itu sudah menunggumu di ruang rapat bersama para atasanmu yang lain. Kau pun dipersilahkan untuk duduk bersama mereka yang tengah merundingkan soal pemecatanmu yang begitu tiba-tiba kemarin. Dan meski bos menyebalkanmu itu sempat 'tak sengaja' menumpahkan minumannya padamu, hasil rapat tadi sudah bulat; Kau tak jadi dikeluarkan dan justru mendapat kenaikan gaji sebagai bentuk permintaan maaf.

Saat kutanyakan apa yang menjadi kesalahanmu hingga bosmu langsung memecatmu di tempat, kau tersenyum dan mengalihkan pandanganmu ke langit malam. Kau hanya mengatakan 'Biasa, dunia perkantoran memang seperti itu. Semuanya berusaha untuk saling menjatuhkan satu sama lain'. Aku tak begitu mengerti maksud ucapanmu dan yang bisa kuasumsikan hanyalah fakta bahwa pekerjaanmu cukup berat, jadi aku hanya bisa memberi bunyi 'Hmm' pelan dan ikut menatap bintang sebagai balasan.

"Huachi! Huacchiii!"

Refleks, aku menengok ke arahmu yang tiba-tiba saja bersin-bersin. "Ehm, apa kau butuh tisu, A-Aominecchi?" Tanyaku pelan sambil bersiap mengambil tisu dari saku sambil mencoba memanggil namamu.

"Uugh, tidak usah. Tadi hidungku hanya sedikit gatal— Tunggu," kau tampak menyadari sesuatu dan langsung menengokkan kepala ke arahku dengan mata membulat dan alis naik satu. "—Barusan kau memanggilku apa?" Tanyamu bingung campur terkejut. "Aomine… cchi?"

"Eh?! Ah, euh, ehm… itu… uhm…," gelagapku gugup. Aku benar-benar panik melihat reaksimu yang seperti itu. "A-a… aku… punya kebiasaan untuk menambahkan '-cchi' di akhiran nama setiap orang yang kuanggap… eeehm… menarik…. A-apa kau tak suka? M-maafkan aku…."

Kau terus saja terpaku menatapku dengan ekspresi terkejutmu itu. Bisu dan kaku. Tubuhku panas-dingin dibuatmu, dan angin yang melewati tengkukku sama sekali tak membantu. Duuh! Tahu begitu, aku tak akan langsung terburu-buru mencoba memanggil namamu! Aku dan kebiasaan burukku itu memang terlalu!

"… Benarkah?" Tanyamu memecah kaku.

"I-iya…," jawabku. "Tapi kalau kau tak menyukai panggilan itu, aku tak akan memakainya lagi…."

Kau kembali terdiam—

"Hey, kata siapa aku tak menyukainya? Aku hanya merasa… apa itu namanya? Ja vu? De vu? Sesuatu yang terdengar seperti bahasa perancis… arrgh, sudahlah! Yang jelas aku hanya sedikit kaget saja begitu mendengarmu memberiku panggilan lucu seperti itu," terangmu memberikan penjelasan. "Dan, ayolah~ Jangan pasang wajah sedih begitu! Kemari kau!"

"A-apa yang kau— Ah!"

—Lalu mengulum senyuman jahil sementara sebelah tanganmu menarikku dalam dekapan, sebelahnya lagi mengacak-acak rambutku gemas, serta kakimu meliliti kakiku bagai guling sehingga aku tak bisa bergerak.

Demi apa ini bukan mimpi?! Demi apa?! Demi apaaa?! Ini benar-benar bukan mimpi?! Yang benar?!

Ya ampun, aku tak pernah sekali pun membayangkan akan didekap seperti ini olehmu, sungguh! Tangan kekar di bahu dan rambutku, detak jantung yang teratur, dan kaki yang membelitku kuat-kuat itu… oh ya ampun, ya ampun, ya ampun! Aku sudah tak mampu berpikir lagi dibuatmu! Apa lagi kau mendekapku begitu erat hingga wajahku menempel ke dadamu, aroma tubuhmu yang begitu maskulin benar-benar membuatku—

"… Se? Kise?! Sadar, hoy! Kise!"

.

.

.

Plaaak!

.

.

.

—Kembali dari alam khayal saat sebuah tamparan keras mengenai pipiku. Telak. Hingga secara refleks aku langsung mendudukkan diri di lantai.

"Aduuuuh…," ringisku sambil mengusapi pipi. "Kenapa kau menamparku?! Sakit, tahu!" Ketusku protes.

Kau ikut duduk dengan ekspresi yang -kurang lebih- sama denganku. "Kau ini bicara apa?! Harusnya aku yang bertanya!" Balasmu tak mau kalah. "Kau bengong dari tadi! Kupanggil-panggil, kau tak menyahut. Kuguncang-guncang bahumu, masih tak ada respon. Ya sudah, daripada aku harus berurusan dengan orang yang berpotensi kesurupan, lebih baik kau kutampar saja!" Jelasmu panjang lebar.

"Enak saja!" Protesku lagi. "Aku tidak mungkin kesurupan, tahu!" (Lagi pula, bagaimana bisa seorang malaikat kerasukan arwah manusia?!).

"Tahu dari mana kau tidak akan kesurupan? Orang-orang yang kuat iman saja masih ada kemungkinan untuk dirasuki, apalagi orang biasa macam kita?"

"Tentu saja aku tahu! Aku sudah terbiasa melihat arwah! Aku juga bisa meminta mereka untuk melakukan apa pun yang kumau! Mana mungkin aku kesurupan?"

"Aah, mana mungkin—"

"Ooh?! Jadi kau tidak percaya?! Kuberitahu ya, ada satu yang baru saja lewat tepat di belakangmu! Perempuan pula!"

"A-apa—"

"Dan sebagai tambahan, rahang bawahnya hilang dan jalannya merangkak! Mau kupanggilkan?!"

"H-hah?! J-jangan—"

"Hey, gadis kecil! Kemarilah! Kakak berambut biru ini ingin main— Uhmp!"

Kau tiba-tiba membekap mulutku sekuat tenaga. "Sssssttt!" Desismu ketakutan. "Iya, iya, iya, iya, iyaaaaa! Aku percaya sekarang! Aku percaya! Suruh hantu itu pergi! Aku sudah merindiiiing!"

Tak kusangka kau bisa ketakutan begini. Orang setenang dirimu bisa panik juga rupanya. Kasihan sih, tapi lucu juga kelihatannya. Toh gadis itu benar-benar ada di belakang punggungmu, sedang asyik bersandar malah. Jadi, kau…

… Kuusilli sedikit tak ada salahnya, kan?

Aku mengangguk dan perlahan kau melepaskan bekapan tanganmu dari dari mulutku. "Uugh, kau membekapku kencang sekali— Memangnya kau bisa merinding?"

"Tentu saja bisa! Apa lagi punggungku, entah kenapa jadi d-dingin sekali," ucapmu gemetaran.

"Hm? Di punggung?" Tanyaku pura-pura acuh tak acuh (Mana mungkin aku benar-benar mengacuhkanmu?) sambil melirik punggungmu. "Yaah, mau bagaimana lagi? Gadis itu sedang bersandar di punggungmu. Memangnya tidak terasa?" Ucapku memberi tahu.

Tanpa aba-aba, kau melompat ke pangkuanku sambil memelukku erat-erat hingga dadaku sesak. "SURUH DIA PERGIIIIIII! AKU TAK MAU DIHANTUI SETAAAAN!" Jeritmu dengan wajah pucat yang disembunyikan di dadaku.

"Dia bukan setan, Aominecchi. Dia ar—"

"—AKU TIDAK PEDULI! POKOKNYA, SURUH DIA PERGIIIII!"

W-waduh, kurasa aku mulai keterlaluan kalau melihat keadaanmu sekarang. Senang sih bisa dipeluk lagi olehmu, tapi melihat gigimu sampai bergemeletuk begitu aku jadi merasa bersalah padamu. Perlahan, kubelai rambutmu dengan tangan kanan sambil membisikkan permintaan maaf. Yang sebelah lagi kupakai untuk mengisyaratkan arwah si gadis agar pindah dari punggungmu.

"Hdhihaaa… hluhhuuu… (Dia… lucu…)," ucap arwah tersebut dengan susah payah.

Aku terkikik geli mendengar komentarnya. Meski rahang bawahnya benar-benar hilang, aku tahu kalau ia sedang tersenyum. Mata cokelat gelapnya yang hampir copot sebelah itu juga tak menyiratkan kejahatan. Dia arwah yang baik rupanya. Mungkin dia tersesat—

"—K-KISE?! APA YANG KAU TERTAWAKAN?! APA DIA BELUM PERGI?!"

"Belum, aku ingin bicara padanya sebentar—"

"—JANGAN MEMBUATNYA SEMAKIN LAMA DI SINI, KISE! CEPAT SURUH DIA PERGIIII!"

"Tenang saja, Aominecchi. Dia baik, kok! Dia bahkan bilang kau lucu!"

"AKU TIDAK PEDULI! SURUH DIA PERGI!"

"Ih, kau kejam sekali mengusir seorang anak kecil seperti itu! Tidak baik, tahu!"

"TAPI DIA SUDAH MATI, KISE! AKU TIDAK MAU DIIKUTI ORANG MATI! TIDAK MAUUUU!"

"Makanya, biarkan aku membicarakan ini dengannya secara baik-baik, oke? Tenanglah," ucapku sambil terus membelai rambutmu lembut agar kau bisa lebih tenang, lalu kembali memandangi arwah gadis itu. "Boleh aku bertanya, gadis kecil?"

Ia mengangguk singkat.

"Siapa namamu?"

"Aidhaaa… Rhikhooo… (Aida… Riko…)."

"Waah, nama yang manis—"

"—KISEEE!"

"Iya, iya! Duuh, kau ini…," balasku sambil melirik dirimu yang masih gemetar. "Yaah, seperti apa yang bisa kau lihat, temanku ketakutan. Jadi, ehm… maaf, bisa kau pergi?"

Arwah si gadis kecil bernama Aida Riko tersebut pun melirikmu sejenak, menundukkan kepalanya sopan seraya membisikkan selamat tinggal, lalu merangkak pergi hingga menghilang dari pandangan. Saat hawa keberadaannya sudah tidak terasa, mataku pun beralih padamu yang rambutnya masih terus kuelus. "Hey, Aominecchi? Kau tidak apa-apa? Apa punggungmu masih kedinginan?" Bisikku lembut di telingamu.

"T-tidak, sih. Apa dia sudah pergi?" Tanyamu ketar-ketir bernada khawatir.

Aku tertawa kecil. Bukannya mengejek, tapi aku tak menyangka kau yang ketakutan bisa semenggemaskan ini! "Hahaha~ Tenang saja, dia sudah pergi jauh dari sini."

"Yang benar? Kau tak bohong, kan?"

"Untuk apa aku berbohong? Dosa."

Kau terdiam sejenak. "… Sampai dia ada di belakangku, akan kuhabisi kau!"

"Silahkan saja, Aominecchi. Toh di sini memang tidak ada apa-apa. Kalau tak percaya, kenapa tidak kau cek sendiri?"

"… B-baiklah…."

Perlahan, kau turun dari pangkuanku, menoleh ke belakang, dan -akhirnya- menghembuskan napas lega. "Hahaha, kau seharusnya melihat wajahmu sendiri, Aominecchi," komentarku sambil tertawa geli melihatmu, "Kau benar-benar ketakutan, ya?" Godaku setengah mengejek setengah prihatin pada ekspresi campur-adukmu itu.

Kau langsung memalingkan wajahmu padaku dengan tatapan kesal. "Hey, kau ini bagaimana, sih?!" Omelmu jengkel. "Tentu saja aku ketakutan! Mana hawa dinginnya benar-benar menusuk tulang pula! Aku bukan orang yang terbisa melihat hal-hal gaib sepertimu, tahu!" Lanjutmu sambil membuang muka.

Kusudahi tawaku begitu menyadari sesuatu pada wajah dongkol yang sedikit pucat milikmu itu. Ya ampun, apa itu air mata yang ada di sudut matamu? "Iya, iya. Aku memang salah," ucapku mengakui kesalahan padamu yang tampak nyaris menangis itu. "Aku minta maaf sudah membuatmu takut. Aku tak menyangka kau akan ketakutan seperti itu. Bisa kau maafkan aku?"

Kau diam. Masih tak mau menatapku.

"A-Aominecchi?"

"…."

"H-hey? Kau semarah itu padaku?"

Kau hanya melirikku sekilas, lalu kembali mengalihkan arah pandangan. Bulir-bulir air di sudut matamu sudah semakin banyak.

Spontan, aku panik. Apa keusilanku kelewat batas? Aah, jahat sekali aku membuatmu menangis! Dengan perlahan dan penuh penyesalan, kucoba untuk menggenggam tangan kananmu. Kau balas dengan lirikan tajam. "Apa?!" Hardikmu keras. Membuatku tersentak begitu kau beri perlakuan tak bersahabatmu itu. Kupejamkan kedua mataku erat-erat. Menyiapkan mental kalau-kalau kau akan segera menepis tanganku, membentakku, lalu pergi begitu saja—

"Apa, Kise?"

—Tapi tanganku masih kau biarkan menggenggam tanganmu. Suaramu melembut. Dan kau masih ada di hadapanku, meski butiran air masih tersangkut di pelupuk matamu.

Syukurlah, masih ada harapan untuk meminta maaf! "A-aku benar-benar minta maaf, Aominecchi. Aku minta maaf! Aku berjanji tak akan menakutimu lagi! Sungguh! Tapi kumohon, jangan benci aku! J-jangan menangis juga!" Pintaku penuh harap.

Mimik wajahmu berubah seketika. "Haaa?! Memangnya siapa yang menangis?! Aku tidak menangis!" Ucapmu sambil buru-buru menyeka air matamu.

"Terus, kenapa matamu merah dan berair?"

"M-mataku kelilipan debu!"

"Dua-duanya?"

"Iya!"

"Dan suaramu? Kenapa jadi parau begitu?"

"Aku kedinginan! Tadi anginnya dingin sekali dan itu membuat tenggorokanku tidak enak! Uhuk, uhuk! Brrr, udaranya dingin sekali!"

"Tapi rasanya dari tadi tidak ada angin yang berhembus…."

"A-ada, kok! Kau saja yang tidak menyadarinya!"

"Benarkah? Lalu kenapa wajahmu memerah, bukan memucat? Tanganmu juga tidak dingin sama sekali."

"I-ini gara-gara aku yang tak begitu tahan dingin, makanya wajahku jadi memerah begini!"

"Eh, tak tahan dingin? Tapi tampaknya kau sudah terbiasa tidur-tiduran di lantai, di tengah malam begini pula. Serius kau tak tahan dingin?"

"A-aku serius!"

"Kalau begitu, coba jelaskan kenapa kau nekat tidur-tiduran di lantai tengah malam begini hanya dengan kaus dan celana pendek?"

"…."

Sebagai bentuk pengumuman kemenangan, aku yang menahan tawa langsung menarikmu yang masih membeku kaku itu ke dalam pelukan. "Sudahlah Aominecchi, jangan berbohong terus. Memangnya kenapa kalau kau menangis? Tidak ada yang salah dengan menumpahkan sedikit emosimu," ujarku kembali berusaha menenangkanmu dengan senyuman lembut dan usapan halus di punggung. "Tapi, hey, kau masih belum menjawab pertanyaanku yang tadi."

"… Pertanyaan apa?" Jawabmu pelan dan malu-malu -yang ditutupi dengan sedikit nada malas- sambil menyembunyikan wajah merah merona itu di bahuku. "Kau terlalu banyak bertanya tadi, aku jadi lupa."

Kutarik napasku dan kueratkan pelukanku. "Apa kau akan membenciku karena aku sempat menakutimu tadi? Aku benar-benar tidak tahu kalau kau akan setakut itu. Jangan benci aku…," tuturku sambil berusaha menjaga senyumku.

Sunyi. Angin berhembus satu kali. Kututup dua kelopak mataku. Menanti jawaban yang cukuplah tiga kata darimu. Tapi empat puluh detik telah terlewat. Senyum lima jariku pudar.

"Hey."

Akhirnya. Satu kata dan mataku membuka. Dua jari masing-masing mencubit pipiku di kiri-kanan. Tiga hitungan lamanya. Empat totalnya karena kau mencubit hidungku juga. Lima kata diucap dengan senyum lebar:

"Mana mungkin aku membencimu, Kise?"

Kutatap safir kembarmu takut-takut. "… Benarkah?" Tanyaku meminta kepastianmu.

Tawa renyah kau lontarkan beberapa saat sebelum dilanjut dengan beberapa cubitan gemasmu di kedua pipiku. "Tentu saja benar!" Jawabmu dengan cengiran sehabis tertawa. "Bukankah sudah kubilang kalau aku sudah menyukaimu? Dan, yaa, tadi itu aku memang sempat menangis sedikit— Sedikit, ya! Cuma sedikit! Tapi, mana mungkin baru diusili segitu saja aku sampai membencimu? Kesal sebentar sih masih iya, tapi sampai membenci? Aah, kau ini, membuatku gemas saja!" Ungkapmu sambil mencubit hidungku.

Melihat respon positifmu, kuusap hidungku dengan tanganku dan kutatap kau malu-malu. "Uhm… jadi, kau mau memaafkanku?"

Satu anggukan singkat dengan senyum lebar kau beri sebagai balasan. Lega segera membebaskan dada yang tertekan. Melepaskan napas yang tertahan. Menyembuhkan pikiran yang berantakan. Beruntunglah permintaan maafku kau terima, aku sudah bisa tenang sekarang. "Haah… syukurlah kau mau memaafkanku. Aku sempat panik saat melihatmu menangis tadi…," tuturku menghela napas sambil mengusap dada.

Seulas cengiran kau sunggingkan padaku. "Ayolah, kau berlebihan! Tak usah sampai mengurut dada begitu— Eh, sebentar," kau menyetop kalimatmu sejenak. "… Hanya aku, atau itu benar-benar batu rubi?" Tanyamu dengan pandangan takjub sambil menunjuk dadaku.

Segera kulihat arah yang kau tunjuk. Aduh, aku benar-benar lupa akan keberadaan batu rubi pemberian Momoicchi tersebut, aku terlalu asyik bercengkerama denganmu! "Oh, ini?" Kusentuh batu yang membuatmu terkagum-kagum begitu. "Kau benar, kok! Batu rubi ini hadiah dari temanku. Sebagai pembawa keberuntungan."

Mendengar penuturanku, wajah tercengangmu langsung kau arahkan padaku. Kedua pundakku kau cengkeram. "H-hadiah? S-serius?!" Gagapmu bertanya dengan wajah tidak percaya.

"Serius, Aominecchi."

"Benar-benar diberikan sebagai hadiah?!"

"Iya."

"Batu rubi ini?!"

"Iya."

"Sebesar telapak tangan begini?!"

"Iya."

"Gratis?!"

"Iya— Itu hadiah, Aominecchi. Memangnya kenapa?"

"Apa kau tidak tahu?! Batu berharga sebesar itu cukup untuk membeli selusin mobil baru!"

"Begitukah?"

"Iya! Tapi, hey," perlahan, kau melepaskan cengkeraman bahuku. Kekagetan mulai luntur dari wajahmu dan kau ganti dengan senyum simpul. "Kalian berdua… pasti berteman dekat, kan?"

Aku mengangguk, ikut tersenyum. "Sebenarnya bukan hanya dia saja, temanku yang lain juga banyak. Mereka semua selalu ada untukku, dan aku menyayangi mereka semua," ucapku seraya membayangkan semua wajah teman-temanku.

Kau tertawa kecil mendengar ucapanku, "Baguslah, aku senang mendengarnya. Jaga tali persahabatan kalian semua, oke?"

Aku senang mendengar bahwa kau senang. Dengan semangat, kubuat pose hormat, "Siap, pak!" Seruku lantang dan berhasil membuatmu kembali tertawa senang.

Tapi begitu tawamu mereda, kau menghela napas panjang— Yang tampak sedikit lelah dari apa yang terdengar. Kau peluk kedua lututmu erat dan mengistirahatkan dagumu di atasnya. Arah pandanganmu kau arahkan ke lantai. Senyum yang tadinya merekah indah kini berubah… hampa? "… Aominecchi? Kau kenapa?" Tanyaku perlahan dan penuh kekhawatiran. "Apa ada sesuatu yang salah?"

Mendengar pertanyaanku, kau langsung mengibas wajah murung itu dengan tawa hambar. "Tidak, kok! Tidak ada! Ahaha," tawamu cepat-cepat menyanggah ucapanku sebelum kembali tersenyum murung. "Aku hanya… ukh…."

Lalu diam. Hanya suara angin yang ada. Ingin rasanya kuusik keheningan yang mengganjal. Tetapi tidak. Karena diammu itu ternyata bukan diam biasa. Itu jenis diam yang bagai pakaian tanpa jahitan. Bagai rajutan tanpa simpul benang. Bagai bencana tanpa kehancuran. Itu jenis diam yang justru berteriak sekencang-kencangnya dalam amukan emosi luar biasa, yang telah lelah meronta dari ribuan rantai yang menjerat dan mencekik kuat-kuat, yang, oh, sudah begitu lama menunggu kesempatan untuk melontarkan kata penuh kebenaran, agar ada seseorang yang tahu betapa banyak pilu yang terpendam.

Sampai rasa tidak percaya itu tiba.

Kau tahan semuanya tepat di tenggorokan, nyaris membiarkannya keluar. Pusing. Napasmu sesak. Tubuhmu bergetar 'kedinginan'. Bimbang segera merasuki pikiran juga meluluhlantakkan segala kata yang telah tersusun sedemikian rupa, membuatmu terpaksa menelan kembali semuanya. Takut menutupi mata. Ragu menyelubungi kepala. Berbagai tanda tanya bermunculan. Katakan, atau bungkam? Bisakah aku percaya, atau tidak? Padahal, kau jelas ingin mengatakannya. Kau jelas ingin percaya. Hatimu menginginkan, tapi kau sendiri yang tidak mengizinkan.

Karena kau tak ingin terluka.

Diammu itu diam yang berkata 'Bersabarlah, aku belum siap'.

Aku memang bukan manusia sepertimu, tapi -entah bagaimana- aku tahu semua itu begitu melihat matamu yang kini tampak keruh. Tapi aku tak mampu melakukan apa pun. Kupeluklah kedua lututku. Kutumpukan juga daguku di situ— Persis sepertimu. Lalu, aku menunggu. Hanya memandangimu yang terlarut dalam belitan pikiran-pikiran dalam itu. Menurutku kau masih tampak menawan di mataku. Ah, ralat: Kau memang akan selalu tampak menawan di mataku. Aku ingin memelukmu.

"… Mmh…," gumamanmu terdengar samar-samar. Pandanganmu yang sedari tadi hanya menatap lantai kini mencuri-curi pandang kepadaku. "… Kise?" Panggilmu pelan.

Segera kufokuskan mataku untuk menatap hanya kepada manik yang tampak tak yakin itu. "Ya, Aominecchi?" Jawabku halus.

"Sebenarnya… aku…," ada sedikit jarak pada kalimatmu itu. "… Aku iri padamu…."

Angin berhembus, tepat saat kalimatmu kembali kau gantung. Beberapa helai rambut menutupi sebagian wajahmu. Menyembunyikan wajah yang berusaha keras menggerakkan lidah. Kau kembali menatap lantai, lalu kembali menatapku. Bimbang yang mengeruhkan matamu itu kubalas dengan senyum lembut. Tak apa. Berusahalah. Aku masih mendengarkan.

Kau membalasku dengan senyum simpul, dan menarik napas panjang terlebih dahulu. "… Dari dulu, aku sendirian," tuturmu pelan. Manikmu kembali menatap lantai. "Tak ada yang mau dekat-dekat denganku. Entah itu saat masih sekolah, kuliah, bahkan di tempat kerja. Semuanya sama saja. Dingin, egois, muka dua. Hanya jika aku diperlukan saja mereka menganggapku ada. Aah, jangankan teman, orang tua saja aku tidak punya. Sudah begitu, bosku sempat memecatku kemarin. Aku capek dengan dunia ini, dan aku sempat terjun dari atas sini kemarin lusa. Lucunya, aku mendarat di tempat sampah, makanya aku bisa selamat. Ahahaha…." Tawa hambar itu kembali terdengar, sambil kau sibak rambut yang menutupi pandangan dengan tangan kanan. "Tapi… kini aku bersyukur masih diberi waktu untuk hidup. Karena…."

Jeda. Kau diam, menatapku.

Punggungmu kau tegakkan dan pandanganmu lurus. Padaku. Senyummu tak lagi murung, dan keruh di matamu luruh. Tatapanmu sejuk. Senyummu teduh. Dan raut wajahmu itu adalah raut wajah seseorang yang berhasil menebas leher naga. Yang berhasil jinakkan Badai Katarina. Yang berhasil membuka mulutnya untuk bercerita. Yang berhasil meyakinkan diri bahwa ia akan baik-baik saja. Yang berhasil percaya. Kontradiksi yang memusingkan telah usai. Hatimu menang. Rantai-rantai itu melonggarkan jeratannya agar kau bisa menarik napas, memberikanmu kesempatan untuk menghalau kabut-kabut kebimbangan, dan, kau, sudah tak sabar untuk segera menyuarakan semua kata yang sempat tertelan.

Raut wajahmu itu berkata 'Sekarang, aku ingin kau dengar'.

.

.

.

"… Karena aku bertemu denganmu."

.

.

.

Teduh nan sejuk binar nilakandi kembar milikmu menyeruak ke seluruh tubuhku. Rasanya hangat, namun juga sejuk. Aku terperangah mendengar penuturanmu. Apa kau benar-benar bilang begitu?

Kau tertawa kecil melihat reaksiku dan segera melanjutkan kalimatmu. "Tak perlu terkejut begitu, Kise. Kau itu berbeda dengan semua orang yang pernah kutemui. Kau hangat, periang, peduli, dan apa adanya. Saat memergokimu dengan kucing itu pun aku langsung tahu kalau kau bukan orang jahat, padahal aku baru kali ini bertemu denganmu. Aku juga tahu kalau kau tak bohong soal memiliki banyak teman. Jelas saja, rasanya nyaman saat bersamamu. Maka dari itu—" Perlahan, kedua tanganmu meraih tangan kananku dan menggenggamnya lembut. Semburat rona merah tipis hadir di kedua pipimu. Senyum lebar ditarik malu-malu.

"—Bisa jadikan aku salah satu temanmu?"

Kau tahu? Di saat seperti ini biasanya aku akan mempertanyakan diriku tentang kebocoran kantong bubuk mimpiku. Tapi aku sedang tak peduli soal itu! Kau! Kau bilang bahwa kau nyaman berada di dekatku! Kau bahkan ingin menjadi temanku! Itu kabar yang begitu membahagiakanku! Aku benar-benar senang dibuatmu!

Dengan tawa sebegitu riang gembira, aku balas menggenggam kedua tanganmu dan menggoyang-goyangkannya dengan penuh semangat. "Tentu saja, Aominecchi! Tentu saja kau bisa!" Pekikku semringah. "Aku benar-benar senang kau ingin menjadi temanku! Terima kasih sudah mau menjadi teman baruku!"

"Hahaha, aku tak menyangka reaksimu akan seheboh itu," tuturmu sambil tertawa geli. "Tapi, seharusnya aku yang berterima kasih. Aku benar-benar bersyukur bisa bertemu denganmu. Beruntunglah— Hey, bicara soal beruntung, kau bilang kalau rubi itu benda pembawa keberuntunganmu, bukan?"

Aku mengangguk dan kau melepaskan genggaman tangan kita untuk menepuk-nepuk tanganmu. "Wuaah, berarti kau juga percaya pada hal-hal yang seperti itu? Kita sama! Rubi keberuntunganmu telah memberikanmu seorang teman baru, dan— Sebentar…," kau merogoh saku celanamu dan mengeluarkan sesuatu.

Bulu sayapku.

"… Benda keberuntunganku ini telah memberikan teman pertamaku! Mereka mempertemukan kita! Tidakkah itu hebat?" Ucapmu sambil menciumi bulu sayapku di tanganmu dengan senyum yang begitu lucu.

Segala kesenangan itu menghilang. Tubuhku gemetar seketika. Hey, itu benar-benar bulu sayapku! Aku harus segera mengambilnya kembali darimu! Masalahnya, bagaimana caranya? Apa kurampas dari tanganmu dan langsung pergi begitu saja? Tapi kau tengah memegang dan menciuminya dengan begitu sayang, mana mungkin aku tega berbuat segitu jahatnya?! Tapi jika tidak kuambil, aku akan segera berada dalam masalah besar! Apa yang harus aku lakukan?! Aku panik! Aaargh!

"Kise? Kau kenapa?"

"Eh— Huaaa!"

Menyadari wajah bingungmu yang terlalu kau dekatkan dengan wajahku, aku yang kaget spontan melompat mundur. Panas langsung menyebar ke seluruh mukaku dengan cepat. "A-Aominecchi! W-wajahmu dekat sekali! Aku kaget, tahu!" Omelku sambil mengusap kedua pipiku agar suhu panas di sana cepat turun sementara kau tertawa melihatku.

"Maaf, maaf! Lucu saja melihatmu kaget sampai melompat seperti itu," komentarmu sehabis tertawa. "Lagi pula, kau bengong lagi! Kenapa? Apa ada yang salah? Aku tak ingin menamparmu lagi, salah-salah ada sesuatu yang lewat nanti! Hiii!"

Aah, kau mengkhawatirkanku? Senangnya! Dan perkataan terakhirmu barusan juga telah memberikanku ide untuk mengambil bulu sayapku darimu— Meski itu akan menjadi kebohongan keduaku….

"T-tidak ada apa-apa, kok! Aku juga tidak merasakan kehadiran lain selain kita berdua, kecuali…." Kugantung kalimatku dengan wajah serius.

Melihat perubahan ekspresiku, kau mulai bergidik ketakutan. "K-kecuali apa, Kise? Cepat katakan!" Desakmu memintaku melanjutkan.

"Aku… merasakan sesuatu (Yaitu masalahku) dari bulu di tanganmu!" Ujarku berseru menakut-nakutimu sambil menunjuk bulu sayapku yang kau pegang itu. "Bulu itu bisa membawa malapetaka besar (Untukku) jika terlalu lama disimpan oleh orang biasa (Tepatnya manusia) sepertimu. Untungnya aku tahu tempat yang aman untuk menyimpannya (Di sayapku, aku bisa minta bantuan Kurokocchi untuk 'menempelkannya' saat pulang nanti). Dan sepertinya temanku itu (Duuh, kebohongan pertama terpaksa harus kuungkit!) tidak datang juga, jadi aku bisa langsung membereskan masalah ini untukmu (Terutama untukku) secepatnya. Sini, berikan (Sumber masalah) itu padaku!" Paparku panjang lebar sambil hendak mengambil bulu sayapku di tanganmu.

Yang menjadi masalah, begitu jariku hampir menyentuhnya, kau langsung menjauhkan tanganmu dan mendekapnya erat. "Aku tidak mau!" Tolakmu tegas. "Aku tidak peduli pada semua itu. Karena—," ekspresimu melunak dan kau menatapku dengan ketetapan hati yang sudah bulat. "—Berkat inilah aku bisa mendapat teman pertamaku, setelah sekian lama. Kau tidak akan berpikir sejahat itu untuk menyingkirkan sesuatu yang berharga dariku, kan?"

"T-tentu tidak, Aominecchi! Tidak!" Sanggahku cepat. Aku jelas tak tega, mana kau menanyakannya dengan wajah seperti itu pula! "Maafkan aku kalau ucapanku tadi terdengar agak memaksa, aku benar-benar minta maaf! Hanya saja, apa kau serius?" Jelasku sambil meminta maaf.

"Aah, maafkan aku juga kalau aku sedikit bertingkah keras kepala, tapi… ya, aku serius." Tegasmu masih sambil mendekap bulu sayapku. "Dan yang lebih penting, apa kau tidak lelah? Ini sudah nyaris lewat tengah malam. Temanmu itu juga tidak datang-datang, kan? Huaaam~" Tuturmu mengingatkan waktu sambil menguap lebar akibat kantuk.

Oh, ya ampun! Aku benar-benar lupa waktu! Jika aku sampai terlambat, Murasakibaracchi akan segera menggembok ganda gerbang surga dan aku tak akan bisa masuk sampai besok malam! Itu bisa menambah masalah! "Be-benarkah? A-aku harus segera pulang kalau begitu. Terima kasih sudah mengingatkan, Aominecchi! Maaf, aku pergi dulu!" Ucapku kelabakan memberikan salam perpisahan kilat sambil berlari menuju pintu-yang-berisi-anak-tangga. Karena aku tak mungkin asal terbang di hadapanmu begitu saja, kan?.

"Tunggu!"

Grep!

Refleks, aku menengok ke arahmu yang menahan pergelangan tanganku kuat-kuat. Angin kembali berhembus. Kucoba untuk sedikit menggerakkan tanganku itu, dan kau makin mengeratkan peganganmu. Kubalikkan tubuhku menghadapmu perlahan. "… Kenapa, Aominecchi?" Tanyaku padamu yang sekelebat sempat terlihat berwajah tidak rela itu.

"Di jam-jam seperti ini, banyak orang mabuk yang berkeliaran. Agak berbahaya. Tapi mereka semua tidak ada yang berani mengangguku. Aku bisa mengantarmu sampai ke depan. Bagaimana?" Tawarmu pelan.

Mana mungkin aku menolak niatan baikmu? Terutama dengan wajah seperti itu. Meskipun tak ada manusia lain yang bisa melihatku selain dirimu, kurasa tak ada salahnya membiarkanmu mencoba melindungiku. "Kurasa itu ide yang bagus," ujarku menyetujui tawaranmu. "Kalau begitu, ayo!" Ajakku sambil menarik tanganmu demi mengembalikan senyum manismu.

Kita menuruni tangga bersama-sama. Kaulah yang di depan, akulah yang di belakang, dengan berpegangan tangan. Genggamanmu tidak terlalu kencang, dan tidak terlalu longgar. Dua puluh empat anak tangga terlewati. Sampai di lantai empat. Kosong. Kau membimbingku melewati lorong kosong yang remang, menuju tangga ke bawah yang berada jauh di seberang.

Kita menuruni tangga bersama-sama. Kaulah yang memimpin, akulah yang dibimbing, dengan menjalin jari. Gamitan lembutmu masih menghiasi tanganku. Empat puluh delapan anak tangga terlewati. Sampai di lantai tiga. Kosong. Kau menuntunku menyusuri lorong kosong yang temaram, menuju tangga ke bawah yang berada di ujung jalan.

Kita menuruni tangga bersama-sama. Kaulah yang menuntun, akulah yang menurut, dengan jemari bertaut. Meski dipegangi lama begitu, kukumu tidak sekali pun melukaiku. Tujuh puluh dua anak tangga terlewati. Sampai di lantai dua. Ada seseorang. Kau menarikku mendekat, berbisik padaku untuk diam dan mengabaikannya sambil menjagaku tetap aman, menuju tangga terakhir di depan sana.

Kita menuruni tangga bersama-sama. Kaulah yang tinggal di sini, akulah yang pergi, dengan genggaman yang enggan dipisah kembali. Saat terpisah pun, kehangatan hatimu masih begitu terasa di tanganku. Sembilan puluh enam anak tangga terlewati. Sampai di lantai dasar. Hanya ada kita. Kau mengantarku melewati pintu keluar, pekarangan depan, dan akhirnya menghentikan langkah di ambang gerbang.

Kau berdiri di sisi dalam, dan aku di sisi luar. Saling hadap, saling tatap. Senyap.

Aku menundukkan kepalaku sedikit, "Terima kasih sudah mengantarku, Aominecchi!" Ucapku berterima kasih, lalu menaikkan kepala dan memberimu senyum manis. Berat rasanya meninggalkanmu sendiri, tapi aku benar-benar harus pulang secepat mungkin.

Senyum milikmu kembali mengembang. "Tak perlu berterima kasih begitu, ah! Itu bukan apa-apa," timpalmu sambil mengibaskan tangan. "Tapi, kau yakin mau pulang sekarang?"

Aku mengangguk.

"Tengah malam begini?"

"Iya."

"Kau bisa pulang sendiri?"

"… Aku bukan anak kecil, Aominecchi."

"B-bukan begitu maksudku! Kereta terakhir sudah berangkat dari tadi, lho!"

"Tak apa, aku masih bisa naik bis."

"Bis juga sudah tidak ada yang lewat!"

"Tapi tadi ada satu yang lewat di ujung gang sana…."

"K-kau salah lihat! Itu pasti bis yang hendak kembali ke terminal!"

"Begitu? Aku akan cari taksi—"

"—Eeeh! Jangan, jangan! Taksi yang beroperasi malam hari itu berbahaya! Salah-salah, nanti kau malah dibawa entah kemana!"

"B-baiklah… aku jalan kaki saj—"

"—Ooy! Memangnya kau tak ingat ceritaku tadi?! Aku yang cuma pakai kemeja kantor saja ditodong pisau di siang bolong! Di siang bolong! Bagaimana denganmu di tengah malam begini?! Ngeri aku membayangkannya!"

"L-lalu… aku harus apa?"

"K-kau boleh… menumpang di apartemenku malam ini…."

Hey, berhentilah membuatku gemas! Aku jadi tidak bisa pergi nantinya! Itu tawaran yang benar-benar-sungguh-sangat menggoda sekali! Tapi mau-tak-mau, aku harus pulang. Kuhela napas panjang dan kupeluk bahumu erat. "Terima kasih banyak untuk perhatiannya, terima kasiiih sekali. Tapi, aku bisa kok menjaga diriku sendiri," bisikku lembut di telingamu sebelum melepaskan pelukanku.

Kau masih saja menatapku dengan kekhawatiran di wajahmu. "Yang benar?"

Aku mengangguk, berusaha meyakinkanmu. "Oh, bukankah besok kau harus mulai bekerja? Maaf telah membuatmu terjaga sampai larut begini. Setelah ini, segeralah beristirahat. Oke?"

Pada akhirnya, kau mengangguk juga. "Baiklah…," jawabmu sendu. "Tapi kalau ada apa-apa di jalan, cepat kembali ke sini dan cari aku! Aku akan langsung membukakan pintu untukmu. Mengerti?"

Aku mengangguk-anggukkan kepala sambil menggigit bibir kuat-kuat. Perilakumu itu benar-benar menggemaskan! Kutarik napas sebentar untuk menguatkan hati, "Aku… pergi dulu, Aominecchi."

"Ya…," gumammu pelan. Dengan senyum yang dipaksakan. "… Hati-hati di jalan."

Aku tak kuasa melihatmu tersenyum paksa. Segera kuberbalik badan dan mulai mengambil langkah. Aku tak begitu tahu harus pergi ke mana, pokoknya lurus terus sampai kau kembali memasuki gedung apartemenmu. Kulangkahkan kakiku terus-menerus hingga sampai di ujung gang. Hey, kalau aku berbelok ke sini, gedung apartemenmu akan tertutupi bangunan-bangunan lain dan aku punya kesempatan untuk langsung melesat pulang! Sempurna! Tapi, tunggu. Apa kau sudah masuk ke apartemenmu? Kulirik belakangku….

… Oh, kau sudah masuk! Kukira kau akan terus menatapku di depan gerbang, ternyata tidak. Fyuuh, akhirnya sayapku bisa dikembangkan! Kukepakkan sebentar untuk pemanasan, dan aku pun segera lepas landaaas! Angin malam menerpaku yang tengah melesat kencang. Aku terus dan terus menaikkan kecepatan hingga menembus awan. Biasanya aku akan melakukan sedikit manuver saat sampai di sana, tetapi tidak untuk sekarang. Aku harus cepat-cepat sampai!

Tak begitu lama kemudian, aku sudah berada di depan kubah surga. Sedikit lagi aku sampai! Kupejamkan mataku sambil melesat menembus kubah bening tersebut, dan pendaran cahaya lembut saat tubuhku mengenai kubah itu segera menyelimutiku. Seluruh rasa pegal di sayapku seketika menguap. Nyaman rasanya. Kubuka kembali mataku saat cahaya tersebut memudar. Gerbang surga segera terlihat. Murasakibaracchi masih di sana! Syukurlah! Segera kukepakkan sayapku cepat-cepat menuju gerbang.

Sesampainya di depan gerbang, aku langsung menarik napas untuk menguatkan suara. "Murasakibaracchiiii!" Teriakku memanggilnya yang sedang asyik mengunyah roti tak jauh dari gerbang. "Tolong bukakan gerbangnyaaaa!"

Beruntunglah ia segera mendengarkan teriakanku. "Mpph! Syhebenhaaar! (Mpph! Sebentaaar!)" Balasnya dengan mulut penuh makanan sambil terpogoh-pogoh menghampiri gerbang. Sisa roti di tangannya langsung dijejalkan ke dalam mulut -setelah semua isinya ditelan, tentu saja- sebelum melepaskan kunci gerbang yang dikalungkan di lehernya dan membukakan gerbang untukku. Setelah aku masuk (Dengan napas terengah, capek terus-menerus menambah kecepatan begitu!), dia langsung mengunci gerbang tersebut dan mengalungkan kembali kuncinya.

Aku masih sibuk mengatur napas saat Murasakibaracchi mengeluarkan gembok-gembok besar dari saku khusus yang berada di seragamnya dan memasangkannya di gerbang. "Hey, Kisechin," panggilnya setelah semuanya terpasang. "Kau pergi lama sekali. Aku sampai kelaparan menunggumu kembali. Untung kau datang tepat pada saatnya aku menggembok gerbang."

"Waah, yang benar?" Tanyaku dengan mata membulat senang. "Kau menungguku kembali?"

"Iya. Coba kau lihat," Murasakibaracchi mengeluarkan kantong permennya dan memperlihatkan isinya padaku— Kosong. "Sambil menunggumu kembali, aku makan satu permen setiap lima menit. Tapi saat permenku habis semua, kau belum datang juga. Ya sudah, aku titip beli roti pada Kurochin yang sedang lewat. Untung kau sekarang sudah datang, Kisechin. Karena yang tadi itu adalah roti terakhirku." Ceritanya panjang-lebar.

Ooh, pantas saja. Tapi kasihan juga sudah membuatnya menunggu sampai kelaparan begitu. Lagi pula, kalau saja dia tidak menungguku, mungkin aku tidak akan bisa masuk. Jadi… kurasa cukup adil kalau aku benar-benar membelikannya permen sebagai tanda terima kasih. "Hoo, begitukah?" Ucapku menanggapi cerita salah satu temanku itu. "Maaf sudah membuatmu menunggu sampai seperti itu, Murasakibaracchi. Juga terima kasih sudah mau menungguku kembali! Kalau tidak, mungkin aku masih berada di luar gerbang sekarang ini."

Sepasang ametis itu ditutup saat kepala berhelai lembayung panjangnya dipakai mengangguk. "Tapi, kau benar-benar akan membelikanku permen, bukan? Kau masih ingat, kan? Iya, kan?"

Aku tertawa begitu diberi serentetan tanda tanya dengan nada yang jauh lebih semangat dari biasanya. "Hahaha! Tenang saja! Aku ingat, kok! Tapi jangan lupa untuk membagi permennya dengan yang lain, oke?"

"Mmh, baiklah…," gumamnya pelan.

"Tapi, memangnya masih ada toko permen yang buka? Yang murah juga, kalau bisa? Aku takut uangku tidak cukup," ujarku sambil memeriksa uang di sakuku. Hanya ada tujuh keping koin emas dan tiga keping koin perak.

"Ada," jawabnya cepat dengan mata berbinar. "Toko permen langgananku masih buka. Permen di sana murah dan banyak jenisnya. Rasanya juga enak semua. Terutama permen cokelatnya. Aku yakin Kisechin dan yang lain akan suka. Ayo kita pergi ke sana sekarang," ajakmu sambil menarik-narik tanganku.

Aku pun membiarkan Murasakibaracchi menarikku mengikutinya menuju toko permen yang ia katakan. Semoga harga permen di sana sesuai dengan jumlah uang yang kupunya….


Sekembalinya dari toko permen (Harga permen di sana ternyata benar-benar murah. Aku bahkan bisa membeli permen cokelat itu satu kantong besar, bonus empat tangkai permen lolipop karena Murasakibaracchi adalah salah satu pelanggan tetap), aku langsung pergi ke ruang penyucian. Ruangan itu beratap tinggi juga begitu luas. Dan meskipun tak berjendela, tapi ada angin sepoi yang bertiup di dalamnya. Dinding dan lantainya dari pualam. Pintunya putih cemerlang, dengan ukiran-ukiran indah berlapis emas. Di tengah ruangan ada sebuah pancuran besar yang dikelilingi oleh banyak kolam. Pancuran besar tersebut memancurkan air suci. Kolam-kolam di sekitarnya juga penuh berisikan air suci.

Kubuka pintunya dan masuk ke dalam. Tidak ada siapa-siapa.

Saat kucoba untuk menangkup sedikit air dengan kedua telapak tanganku, rasanya seperti tersetrum. Maklum saja, aku sempat berbohong dua kali saat di dunia manusia. Itulah penyebabnya. Untunglah sensasi setruman itu tidak terlalu menyakitkan. Kutarik napasku dalam-dalam, dan kubasuh mukaku dengan cepat dan berulang-ulang. Mulanya kulit wajahku seakan mati rasa, tapi tak lama kemudian semua sensasi tersebut hilang dan berganti dengan kesejukan yang menenangkan. Syukurlah… berarti aku sudah bersih sekarang. Aku pun beranjak dari tempat indah tersebut untuk kembali ke ruanganku.

Singkat saja, aku sudah berada di depan pintu ruanganku. Saat aku baru saja mengeluarkan kunci ruanganku, tahu-tahu Momoicchi, Kurokocchi, dan Murasakibaracchi datang menghampiriku. Momoicchi bilang bahwa Murasakibaracchi membagikan permen pada Kurokocchi dan dirinya, lalu memberitahu kalau aku yang membelikannya. Mereka memutuskan untuk mengajakku makan permen bersama-sama. Dan karena semuanya sudah berada di depan pintu ruanganku, kupersilahkan mereka masuk.

Kami pun duduk dan makan bersama sambil bersenda gurau. Saling bertukar cerita, bercanda, dan tertawa bersama. Begitu hangat dan menyenangkan. Keseluruhan hari ini pun menyenangkan. Aku bisa menghabiskan malam denganmu, dan menyelesaikan waktu yang tersisa bersama teman-temanku. Betapa bahagianya—

BRAAAAK!

Pintu ruanganku tiba-tiba dibanting kencang hingga mengejutkan aku dan yang lainnya. Itu Midorimacchi. Sebenarnya dia sudah biasa membanting pintu ruanganku jika aku sedang usil menyembunyikan barang-barangnya, tapi kali ini tampak jelas ada sesuatu yang salah. Napasnya tak beraturan. Rambutnya awut-awutan. Raut wajahnya bagai habis dikejar singa kelaparan; Panik luar biasa. Dirinya adalah sosok yang tenang, dan melihatnya sekacau itu berarti ia punya hal buruk untuk dikatakan.

"M-Midorin?" Momoicchi angkat suara. "Kau kenapa?"

Tak ada jawaban. Midorimacchi langsung menghampiri gadis itu dengan ketidaktenangan yang tak luntur jua dari wajahnya. "Momoi, kau yang memberikan batu rubi pada Kise, kan?!" Tanyanya serius. "Di mana kau mendapatkannya?"

Yang ditanya mengangguk kaku. "Ah, I-iya," balasnya gugup. "Aku menemukannya saat berjalan-jalan di sekitaran gerbang kemarin…."

"Apa ada orang lain di sana sebelum kau menemukannya?"

"A-aku sendirian saja waktu itu."

"Apa kau melihat rubi merah lain?"

"T-tidak."

"Dan," Midorimacchi menarik napas sejenak sebelum melanjutkan. "Siapa yang memberitahumu kalau rubi itu pembawa keberuntungan?"

Momoicchi tersentak mendengar pertanyaan itu, lalu bungkam. Diam. Cukup lama untuk membuat Midorimacchi tidak sabaran. "Oy! Momoi, jawab! Siapa yang—"

"—Ketua."

Kini ganti Midorimacchi yang bungkam. Dengan mata terbelalak.

Perlahan, Momoicchi kembali bersuara. "Uuhm… w-waktu itu aku melihat sesuatu yang berkilau. Saat kudekati, ternyata itu batu rubi. Baru saja kupungut rubi tersebut, tahu-tahu ketua sudah berdiri di belakangku— D-dia muncul begitu saja! Padahal aku yakin kalau dia tidak ada di sana sebelumnya! Sungguh! A-aku pun menyapanya dan begitu dia melihat rubi di tanganku, dia bilang ada baiknya kalau aku berikan pada Ki-chan sebagai pembawa keberuntungan…," tuturnya berusaha menjelaskan.

"Akashi rupanya! Gawat!" Midorimacchi mengacak-acak rambutnya berang begitu Momoicchi selesai bercerita. "Tak kusangka, perkiraanku benar! Ini benar-benar buruk!" Rutuknya kesal sambil mengusap muka dengan kedua tangan.

Murasakibaracchi yang diam mengulum cokelat terdengar menggumam. "Hmm? Memangnya kenapa?" Tanyanya pendek.

Membenarkan posisi kacamatanya, Midorimacchi menghela napas pendek. "Biar kuberitahu pada kalian semua, terutama kau, Kise! Dengar baik-baik!" Serunya sambil menunjuk wajahku. "Sepulang bertugas, aku langsung mencari tahu tentang batu rubi itu. Itu bukan rubi biasa. Batu rubi itu— Oh, tidak."

Shriiiiing

Penjelasannya terpotong saat rubi di dadaku tiba-tiba bersinar merah menyilaukan. Bukan merah delima, tapi merah darah. Sinarnya benar-benar menyilaukan hingga aku hanya mampu membuka mataku dengan jarak pandang yang tidak seberapa. Semuanya menutupi mata dengan tangan dan berusaha menggapaiku. Tapi tangan mereka terus menembus tubuhku! Kucoba untuk balik berusaha menggapai mereka. Tidak bisa juga! Tanganku malah menembus tangan mereka. Apa yang harus aku lakukan?!

Tanpa aba-aba, cahaya dari rubi tersebut bersinar dua kali lipat lebih menyilaukan dari sebelumnya.

Lalu, semuanya gelap.


(Author's POV)

Seberkas cahaya merah muncul di tengah-tengah suatu ruangan. Perlahan, cahaya merah tersebut kian membesar dan mulai membentuk sesosok malaikat. Bertubuh tinggi semampai, berkulit terang, dan berambut pirang. Saat malaikat tersebut telah terbentuk lengkap wujudnya, cahaya itu membawa tubuhnya melayang ke atas sebuah meja.

Meja penyiksaan.

Meja tersebut terbuat dari besi yang tebal. Ukurannya cukup besar untuk meletakkan tubuh tinggi itu di atasnya. Sabuk-sabuk di berbagai sisi permukaan meja segera melingkarkan diri pada sosok yang tak sadarkan diri tersebut. Kedua pergelangan tangan, kedua pergelangan kaki, leher, hingga keningnya ikut dibelenggu begitu erat. Bagian kaki meja yang memiliki tuas dongkrak di sisi dekat bagian kepala bergerak, membuat posisinya sedikit condong ke depan beberapa derajat. Cahaya yang tadi menyelimutinya pun memudar begitu semuanya siap.

Kemudian, matanya terbuka.

Kelopaknya mengerjap-ngerjap lambat. Penglihatannya masih buram dan kesadarannya masih belum terkumpul semua. Namun, pandangannya sudah terlebih dahulu melihat keadaan tubuhnya. Realita segera menohok kepala. Ratna cempaka kembar melebar ketakutan. Wajah memucat. Napas sesak. Air mata keluar. Ia ingin berteriak minta pertolongan, namun pita suaranya sulit diajak bekerja sama. Bernapas saja sudah susah, apa lagi berteriak? Sebagai gantinya, bola matanya digerakkan ke segala arah; berusaha mencari jalan keluar.

Gelap. Jarak penglihatannya terbatas karena absennya cahaya. Meskipun demikian, jelas bahwa dirinya tengah berada di dalam suatu ruangan asing yang cukup luas. Dindingnya sewarna arang, dengan banyak rak yang berisi berbagai macam barang― Apa itu kapak yang berada di salah satu rak? Ketinggian langit-langitnya sedang dengan lampu yang padam. Sarang laba-laba di mana-mana. Debu mengkontaminasi udara. Sedangkan perabot yang ada hanyalah sebuah kursi dan meja tepat di sebelah meja yang ditidurinya. Tidak ada hal lain lagi di sana.

Berbagai tanda tanya bermunculan dalam pikiran. Ini jelas bukan ruangannya. Malaikat itu sungguh tidak tahu ada di mana ia atau mengapa dirinya bisa berada di sana. Lagi pula, bagaimana dengan kawan-kawannya? Mereka semua pasti khawatir dan sedang mencari-carinya. Sosok berambut pirang tersebut pun membulatkan tekadnya. Pokoknya, ia harus segera mencari jalan keluar!

Seluruh tubuhnya digerakkan kuat-kuat demi membebaskan diri dari sabuk-sabuk yang menahannya. Tapi tak seinci pun sabuk-sabuk itu melonggar.

Dicobanya lagi dengan tenaga dua kali lipat hingga meja tempatnya ditahan ikut bergetar. Gagal. Tubuhnya tidak kuat.

Ganti rencana, ia berhenti meronta dan hanya memutar-mutar kedua pergelangan tangannya. Jemari panjangnya pun turut berusaha menggapai-gapai kait pengunci sabuknya. Kali ini berhasil! Pengait sabuk di tangan kanannya berhasil diangkatnya. Ia hanya tinggal mengeluarkan pengait itu dari lubang lilitan sabuk untuk membebaskan tangannya―

"Mau ke mana, Kise Ryouta?"

―Sampai seorang malaikat― Ralat. Sampai seorang pemimpin malaikat menegurnya dengan sebuah pertanyaan singkat. Rambutnya merah dengan heterochromia merah-jingga yang terfokus melihatnya. Hawa keseriusan di sekitarnya begitu kontras dengan senyum yang mengembang di sana. Langkahnya diambil dengan pelan dan tenang, mendekati tempatnya yang terikat. Semakin banyak langkah yang diambilnya, semakin teranglah ruangan tersebut hingga Kise bisa melihat jelas apa barang-barang yang terpajang di rak yang hampir memenuhi semua bagian dinding ruangan; senjata.

Matanya terbelalak. Tubuhnya tidak dapat bergerak. Ia sama sekali tidak menyangka tengah berada di dalam ruang hukuman. Ia juga tidak menyadari kehadiran orang lain di sana. Terlebih itu ketuanya. Ketakutan melingkupinya begitu melihat aura berbahaya dari orang yang tengah berjalan mendekatinya. Dan ketika sosok tersebut sudah berdiri di hadapannya, hanya bibirnya yang mampu bergerak. "K-k-k-ketua?" Gagapnya seraya gemetaran. "A-a-apa yang―"

"―Shhhhh~"

Sang ketua meletakkan telunjuknya di depan bibir yang masih menyunggingkan senyuman; Diam. Manik dwiwarna itu memandangnya sejenak, dan melirik pengait yang terbuka di pergelangan tangan kanannya. "Tidak usah kaku begitu, Ryouta. Aku tak pernah melarangmu untuk memanggil namaku," Cakapnya ringan. Tangannya menurunkan kembali pengait tersebut, lalu kembali menatapnya. Dengan senyum yang melebar. "Tapi, kulihat kau tengah berusaha melarikan diri," tuturnya sambil mengusap tangan kanan yang gemetar itu sekilas. "Kau tahu? Rasanya aku tak pernah mendengarmu memanggil namaku. Sekarang, coba panggil namaku seperti halnya kau memanggil yang lain, dan kau akan kumaafkan untuk yang satu ini."

Kise menelan ludah. Bingung dengan perintah tidak biasa yang diberikan. "K-k-kenapa?" Tanyanya masih tergagap.

Tidak mendapat jawaban yang diinginkan, sang ketua hanya tertawa. Binar matanya hampa, namun mulutnya tergelak. Menghasilkan sebuah tawa hambar yang menakutkan. "'Kenapa?' kau tanya?" Ujarnya mengulang pertanyaan begitu gelaknya usai. Menyisakan senyum lebar di wajahnya. "Kau bertanya mengapa kau harus meminta maaf? Tentu saja, itu karena―"

Kemudian, ia mengangkat sebelah tangan sejajar kepala dan menjentikkan jarinya.

Klik!

Raut wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat. Senyumnya hilang. Digantikan dengan rahang yang mengeras. Sorot oniksnya lebih tajam dari pedang. Murka menutupi wajahnya. Hawa berbahaya yang menyelimutinya semakin memekat bagaikan asap. Aura gelap yang ikut dibawanya pun turut bertambah berat. Suhu udara di sana turun mendadak. Dingin membekukan. Keseriusan mutlak yang mengerikan.

"―Kau telah membuat masalah."

Tepat selesai berucap, semua sabuk-sabuk yang mengikat Kise tiba-tiba mengencang begitu kuat. Semua. Terlalu cepat, hingga ia bahkan tidak sempat berteriak. Tubuhnya menggeliat kesakitan. Lengannya menggelinjang. Tungkainya meronta. Pergelangan tangannya bergetar hebat. Pergelangan kakinya bergerak-gerak liar. Jari-jari miliknya memucat. Kulit di sekitar keningnya yang juga dibelenggu mulai ikut kehilangan warna, hasil dari cengkeraman sabuk di kepala. Yang paling parah adalah lehernya. Berbeda dengan sabuk lain yang kini diam, sabuk di lehernya itu terus-menerus mengencang. Permukaan kasarnya menggores kulit di sana sambil tak henti-hentinya menekan tenggorokan. Matanya membulat sempurna. Air mata tumpah ruah. Irisnya perlahan bergerak makin naik seiring dengan cekikan yang semakin kencang. Biru rambati wajahnya. Tak ada jerit atau teriakan yang keluar dari juluran lidah atau bibir yang terbuka; hanya ceguk tertahan yang berusaha meraup udara.

Tanpa memedulikan keadaan malaikat di depannya, sang ketua menundukkan kepalanya. "Semua barang di sini adalah milikku, Ryouta. Mereka tunduk padaku. Termasuk meja yang kau tiduri ini. Sekarang, jika kau ingin aku membiarkanmu bernapas, bisa panggil namaku?" Bisiknya di telinga kanan Kise.

Tak ada pilihan. Di antara napas yang berantakan, ia coba untuk mengumpulkan tenaga agar bisa bersuara. "A… Akh… kha… shii… cchhiii…," ceracaunya memanggil nama yang diminta dengan pelafalan tidak jelas. Gencetan sabuk di lehernya benar-benar menyiksa.

Wajah sang ketua yang dipanggilnya 'Akashicchi' melunak. Senyum kembali terpajang. Tatapan mematikannya menghilang. "Hahaha, akhirnya kau mengucapkannya," komentarnya singkat sambil tertawa pelan. "Hmm… sepertinya kau jadi sulit bicara, ya? Biar kubantu," ia pun kembali menjentikkan jarinya dan sabuk-sabuk tersebut sedikit melonggarkan belitannya. Dipandangilah sosok yang langsung menghirup udara banyak-banyak di depannya. Begitu tergesa hingga sesekali terbatuk keras. Membiarkannya mengambil napas sejenak, ia pergi untuk mengambil kursi yang berada tak jauh dari sana. Perabot tersebut diangkat dan diletakkannya tepat di tempatnya berdiri semula. Setelah duduk dengan nyaman, matanya kembali terarah padanya; si malaikat pirang.

Akashi diam. Ekspresi netral yang tampak berpikir dalam-dalam. Punggung bersangga pada sandaran kursi yang didudukinya. Kedua tangan terlipat di dada. Menatap wajah sengsara itu hingga ia yakin bahwa kebutuhannya akan udara telah terpuaskan. Menunggunya siap diajak bicara. Saat gerakan naik-turun dadanya kembali normal, barulah mulutnya dibuka. "Ryouta," panggilnya. "Apa kau sudah mendengar penjelasan Shintarou tentang rubi yang kau pakai?"

Kise yang baru menstabilkan napasnya melirik ketuanya. Ia benar-benar diawasi rupanya. "T-tidak," jawabnya singkat. Suaranya serak. "D-dia baru mau menceritakannya, ta-tapi tahu-tahu rubinya bercahaya dan aku sudah berada d-di sini…," tuturnya sedikit tersendat. Napas dikumpulkan sebelum melanjutkan. "M-memang, ada apa sebenarnya? Kenapa a-aku berada di sini? M-masalah apa yang kau maksud, A-Akashicchi?"

Senyum maklum muncul di wajah sang ketua. "Biar kutanyakan beberapa hal dulu kepadamu," balasnya seraya menyilangkan kaki kanan di atas kaki kirinya. "Kau sudah tahu kalau salah satu tugasku adalah mengawasi kinerja setiap malaikat, malaikat pencabut nyawa, dan peri dengan menggunakan Emperor Eyes, bukan?"

Menelan ludah, ia menjawab. "I-iya."

"Dan kau juga tahu kalau mata hanya dapat digunakan untuk melihat, benar?"

"B-benar."

"Kalau begitu, apa kau tahu tentang Rubi Tahanan?"

Ada sedikit jeda sebelum ia memberi jawaban. "A-aku tidak tahu…."

Akashi menggeleng-gelengkan kepala mendengar pengakuannya. Senyum masih terpampang di wajahnya. "Baiklah, biar aku jelaskan untukmu," ujarnya sambil menautkan jemari-jemarinya sebagai tempat mengistirahatkan dagunya. Tubuhnya sedikit membungkuk dan kedua belah sikutnya bertumpu pada betis kanannya. "Rubi itu bisa membuat pemiliknya mendengarkan semua percakapan antara si pemakai dengan yang diajaknya bicara. Rubi itu juga memiliki kekuatan untuk memindahkan si pemakai ke tempat yang pemiliknya inginkan. Penggunaan batu rubi ini hanya untuk tahanan yang dalam masa percobaan, makanya disebut Rubi Tahanan," paparnya memberi penjelasan. "Dan apa yang ada di dadamu itu―"

Senyum maklum berganti seringai. Punggung kembali direbahkan pada sandaran kursinya. Tautan jemari dibuka. Tangan kembali dilipat di depan dada. "―Adalah Rubi Tahanan milikku."

Kise bungkam. Bola mata membulat. Sepasang topas di dalamnya melebar. Tarikan napas meningkat cepat. Keringat dingin bercucuran. Resah menyiksa dada dan gelisah menggerayangi kepala begitu fakta telah diucap oleh sang ketua. "J-j-jadi… k-kau… kau―"

Tawa pelan menguar. Memotong pertanyaan yang gelagapan diutarakan. Reaksi yang disuguhkan benar-benar sesuai perkiraan. "―Ya, Ryouta," lanjutnya begitu tawanya reda. Kaki kanannya diturunkan dan ia beranjak dari kursinya. Begitu ia telah berdiri tegak, raut wajahnya kembali berubah. Ia mendekati sang malaikat yang terikat dengan gilap mata kelam. "Aku mungkin harus membagi Emperor Eyesku untuk mengawasi yang lain, tapi telingaku tetap bisa mendengar obrolanmu dengan yang lainnya. Bahkan dengan manusia itu. Semuanya," ungkapnya penuh keseriusan sambil terus melangkah.

Kise tak bisa bergerak. Hanya mampu menatap merah dan jingga yang tajam terpaku pada oniks kuningnya. Begitu ia sampai di hadapannya, diperkecillah jarak di antara wajah mereka berdua.

"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak berikatan dengan manusia, Ryouta. Terutama dengan si rambut biru itu. Aku masih bisa menoleransi perbuatanmu yang menyelamatkannya karena setelah kulihat arsipnya, itu memang belum waktunya," tuturnya pelan dengan nada menusuk sebelum meninggikan suaranya. "Tapi yang tidak bisa kuterima, adalah kau yang malah berteman dengannya! Dia orang jahat, Ryouta! Tidak tahukah kau bahwa ia adalah salah satu calon penghuni neraka?!"

Mendengar penuturan bercampur amarah dari sang ketua, ia terkejut luar biasa. Tapi tidak cukup untuk membuatnya diam saja. "Tidak!" Tentangnya keras dengan tenaga yang didapatnya entah dari mana. "Tidak, tidak, tidak! Dia bukan orang jahat! Aku mengawasinya sendiri selama tiga tahun dan dia orang baik! Apa dosanya sampai kau menyebutnya orang jahat calon penghuni neraka, hah?!"

Giliran Akashi yang tersentak. Tak menyangka akan balas dibentak. Ia mundur selangkah, menjauhkan jarak dengan wajah gusar yang sama sekali tidak terima dengan apa yang dikatakannya. Lemas. Lagi pula, apa itu barusan? Seorang malaikat mengawasi manusia tiga tahun lamanya? Dan ia baru mengetahuinya sekarang? Tidak bisa dipercaya.

Ia kembali mendudukkan diri di kursinya. Energi yang dimilikinya serasa menghilang begitu saja. Mata yang kehilangan binarnya tersebut diarahkan pada Kise. Mendung dan muram. "… Apa kau tahu kalau kau dulunya adalah manusia? Sama seperti instrukturmu, Kuroko Tetsuya?" Tanyanya lemah.

"I-iya," jawabnya pelan. Perubahan aura di sekitar ketuanya itu membuatnya sedikit iba. Tampak begitu terpukul begitu mendengar bantahannya barusan.

"Pernahkah dia menceritakan apa pun soal itu? Coba ceritakan apa yang kau tahu."

"K-Kurokocchi bilang kalau dulu dia berasal dari panti asuhan yang sama denganku. Kurokocchi meninggal karena sakit, jauh sebelum aku meninggal saat terjadi kebakaran besar di sana. Jadi, begitu Kagamicchi yang membawaku ke surga memberitahunya, Kurokocchi langsung menawarkan diri untuk menjadi calon instrukturku di pelatihan nanti saat aku sudah cukup besar."

"Apa Tetsuya juga memberitahumu siapa yang mengubahmu menjadi malaikat?"

"T-tidak… dia diam setiap kali aku menanyakannya. Begitu pula saat aku bertanya pada Kagamicchi atau yang lainnya."

Akashi menutup mata dan menghela napas panjang. Jarinya kembali bertaut sebagai tempat mengistirahatkan dahinya. Tubuhnya sedikit membungkuk dan kali ini sikutnya bertumpu pada kedua lututnya. "Tahu alasan utama yang membuatku benar-benar marah saat tahu kau berteman dengan manusia berambut biru itu? Aomine Daiki, kalau aku tidak salah sebut?"

"K-karena aku berteman dengan manusia?"

Akashi menggeleng. "Lebih spesifik lagi. Hal ini jugalah yang membuatku tahu kalau dia akan menjadi calon penghuni neraka."

"A-aku tidak tahu," Kise menyerah. "Kenapa?"

"Karena dialah orang yang bertanggung jawab atas kebakaran di panti asuhan itu."

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Yeaaay, akhirnya saya apdet! Gimana? Apa jumlah wordsnya cukup mengenyangkan? Kalau kurang, bilang aja! Saya juga minta maaf yang sebesar-besarnya kalau ini keknya luamaaaa banget dilanjutnya, banyak masalah di RL. Dari ide yang nggak jalan, kurang asupan, saya yang keluar dari kelompok band (dan itu bikin rapot ngedelep kek Titanic, masih untung saya naik kelas. Tapi gak tau deh kedepannya gimana) ampe ribut ma ortu gara-gara ntar-kuliah-sastra-mo-kerja-apa juga ada. Apa lagi sekarang saya udah kelas tiga SMA… kokoro saya mesti kuat… *angkat barbel* #plak.

Terus, iya, ending buat chapter ini emang begitu. Akashinya juga begitu (Btw, saya bingung ngegambarin mata beda warnanya dia pake batu permata apa. Ada yang bisa bantu?). Tapi saya tegaskan, INI BUKAN JENIS CERITA DI MANA SI KORBAN JATUH CINTA SAMA PEMBUNUHNYA! N! Aomine sendiri juga enggak ngebunuh Kise! Ada alasannya sendiri kenapa Aomine jadi yang bertanggung jawab atas kebakaran ntu, dan alasannya jelas bukan buat ngebunuh Kise! Akashi pun sebenernya bukan villain di sini! Saya paling cuma nyeritain gamblangnya aja (dari apa yang bakal diceritain Akashi ke Kise) di chapter 4 nanti, karena ini alurnya maju terus pantang munduuuuuur! XD #plak. Tapi saja ngerencanain buat ngebikin chapter ekstra yang isinya cerita masa lalu Kise ma Aomine, kok. Biar semuanya terungkap, huahahahaha~ #ditabogh.


Udahlah, saudara-saudara. Daripada main tebak-tebakan(?) berujung su'udzon ama si mine, mending bales ripiu, yuk!

97531: (Sebentar, kok rasanya kenal… *baca ulang isi reviewnya* … ini Friann, bukan? Situ ganti username, ya? #soktau #dipentung). Yeaay, saya berhasil ngelanjutin! \ ^W^ / *tebar confetti*. Baru dipanggil doang masa udah kasian? Tapi iya sih, kan Kise anak baek, makanya sekalinya kenapa-napa pasti banyak yang ngekhawatirin! (- diem-diem sirik #duagh). Ahahaha, bolehlah~ toh dia ngeharem di sono #hush. Tapi kalo dikau suka pairing ijo-kuning, di profil saya ada ntu ff MidoKi buat event CPC tahun kemaren, judulnya 'Gila'. Itu gore pertama saya di fandom KnB. Saya bahkan bikin MV khusus buat ff ntu. Monggo dicek~ #promosi. Iya nih, dia dulunya manusia. Tuh di chapter ini udah saya konfirmasi. Soal masa lalu Kise ma Aomine juga udah saya informasiin di atas. Kalau mau ngorek masa lalu mereka, ikutin terus kelanjutan ff ini ya!

Kalo saya sih mau nyemilin gula satu toples juga enggak bakal batuk, tapi karena tenggorokan orang kondisinya beda-beda, disesuain aja deh. Toh cuma buat charm mainan gitu XD.

Iya, maaf, ya. Selain karena saya demennya gore yang 'bersih', rate M kan isinya bukan cuma 'ehem-ehem' doang. Topik-topik dewasa lainnya kan juga ada. Makanya saya pasangnya rate M biar bisa nulis sesuai apa yang saya rencanain, bukan gegara udah nanggung rate M. Jadi, maafkan saya dan mohon pengertiannya, ya! *nunduk*. Tapi kalo soal gore yang hot (dalam artian saya)… udah saya pikirkan. Jangan pundung di pojokan dulu makanya! Dan… saya nggak nyangka bakal ketemu sesama kanibal(?) di sini. Selain potong-potong, rebus-rebus, dan goreng-goreng, apa situ demen yang dipanggang ama dibakar ala steak ato barbecue? :3

Kalo chapter ini gimana? Apa memuaskan? Apa panjangnya kaya rel kereta api Sabang-Merauke? #gakadawoy #dibanting. Tapi saya minta maaf ya kalau yang ini enggak bisa diapdet cepet kaya dua chapter ntu. Banyak masalah di sini…. He? Rasanya saya belum ada yang ngeneror apa-apa selama ini. Apa berarti ini apdetnya masih terbilang cepet? #dibom. Bye-bye juga! Mohon ditunggu chapter berikutnya, ya! Semoga dikau suka dengan chapter ini dan terima kasih sudah review! ^w^

Hyenie: Ini udah dilanjut, kok! Suka ceritanya? Waah, terima kasih banyaaak! Semoga dikau suka dengan chapter ini, dan terima kasih sudah review! ^w^


Okelah, sebagai penutup, saya pengen tau bagian mana yang kalian suka. Fluffnya bagus nggak? Deskripsi 'diamnya' Aomine ntu gimana? (Saya nulisnya beneran pake hati itu XD #plak) Ceritain dong di kolom review! Dari yang jelek-jelek macem Typo dan kesalahan ejaan ampe yang bagus macem krisar (Kritik-saran) bahkan pujian dan sebagainya juga mohon disampaikan lewat kolom review. Tombol fav dan follow juga bisa dipencet dan profil saya juga silahkan dicek. Semua pendapat anda akan jadi sangat berarti untuk saya. Tapi, no flame, ya! Ntar ampe ada yang kebakaran bisa bahaya loh! Mohon ditunggu kelanjutannya! Sekian dari saya si penulis amatiran pecandu(?) Fr*it T*a, dan salam semanis hubungan AoKi untuk kalian semua! XD

Teh Rasa Tomat-Chan

(P.s 1: Sori buat Kagami yang di sini muncul nama doang, juga Aida Riko yang cuma nebeng lewat jadi hantu. Gomennaassaaii #dihajar)

(P.s 2: Ada yang nutis merek pemutih bajunya Aomine? X3)