Me: Yosh! chapter tiga udah mau mulaiii~ oke stop sampe situ, mari kita lihat apa yang sedang para Boboiboys lakukan untuk syuting#pilemajabukan di chapter tiga yang lebih banyak action bertengkarnya
Halilintar: Oi author, lu mau bikin aku latihan marah-marah GJ? #udah siap dengan pedang halilintar.
Taufan: Tau nih, Kak Hali di suruh latihan marah-marah tanpa sebab kayak orgil aja hihihihihi~
Halilintar: Ape kau cakap?
Taufan: #Sembunyi di balik punggung author...
Me: Apa-apaan sih kok udah pada berantem, ngomong-ngomong mana si Gempa?
Halilintar: Tuh#nunjuk Gempa yang udah serius ngapalin teks. Serius banget ngapalin teksnya.
Taufan: Tau tu, padahal belum tentu dia kebagian main -_-
Me: Yaaaah, anak yang rajin selalu begitu, dari pada kamu gak ngapalin teks sama sekali. kan belum tentu juga kamu gak kebagian main : (
Taufan: hehehhehe...#nyengirkuda.
Halilintar: Gak usah di ladeni tuh anak gak jelas, mending langsung aja ke chapter tiga ^^
Gempa:(mudah-mudahan aku kebagian main)
.
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
.
-Chapter 3. The Letter-
TENG...TENG...TENG...
Bel pulang sudah berbunyi diikuti oleh seluruh murid yang dengan segera meninggalkan ruang kelas untuk pulan. kecuali Yaya, gadis manis itu hanya menatap kosong surat yang berada di genggamannya sekarang. Tidak terasa jika airmatanya kembali mengalir di pipinya dan menetes di surat itu 'apa-apaan aku ini? kita kan sudah berjanji. Aku tidak boleh begini'. dengan kasar, ia menghapus airmatanya dan segera pergi keluar kelas untuk mencari Halilintar. Yaya segera berlari keluar sekolah lalu ia melihat seorang remaja dengan jaket dan topi bergaris hitamnya.
"KAK HALI" teriak Yaya sambil terus mengejar Halilintar. Halilintar yang merasa di namanya dipanggil menoleh kebelakang dan melihat sosok adik perempuannya mengejarnya idak jauh dari tempatnya. "Ada apa Aya?" tanya Halilintar seraya menunggu adiknya yang masih berusaha mengatur nafasnya. "Anu, i, ini. Dari temenku" Yaya langsung menyerahkan surat pemberian Yuuna kepadanya. Halilintar melihat surat itu sekilas lalu melihat Yaya, ia sedikit terkejut karena terdapat bekas jejak airmata di pipi adiknya, dengan lembut Halilintar mengusap bekas-bekas airmata di pipi Yaya lalu menatapnya dalam-dalam dan kedua tangannya memgang pipi Yaya.
Jarang sekali Halilintar bersikap begini padanya, bahkan sekarang Yaya diam mematung melihat kakaknya bereaksi seperti ini. "Siapa yang melakukannya?" tanya Halilintar menatap tajam Yaya. Yaya terdiam cukup lama, Halilintar dengan sabar menunggu jawaban dari Yaya. Tidak ada jawaban. Halilintar yang sudah frustasi melihat adiknya masih belum menjawab pertanyaannya, langsung menempelkan dahinya ke dahi Yaya "siapa yang melakukannya Aya?" kali ini suara Halilintar agak meninggi. "I, ini bukan a, apa-apa. A, aku tidak apa-apa." jawab Yaya sambil tersenyum paksa, lalu Yaya dengan lembut melepas tangan kakaknya yang dari tadi menempel di pipinya. "I, ini."Sekali lagi Yaya menyodorkan surat tadi kepada kakaknya. Halilintar mau tidak mau menerima surat itu lalu dibuka dan di bacanya. Ia sedikit mendelik kaget dengan nama pengirim surat tersebut 'Kim Yuuna Ah.' batinnya kesal.
halilintar lalu membuang kertas itu ketanah lalu diinjaknya dengan keras "cih, siapa yang mau sama cewek yang begituan. Menyebalkan" umpat Halilintar kesal dengan surat terutama pengirimnya yang sudah membuat Yaya menangis tadi siang.
"Eh," Yaya sedikit terkejut dengan kelakuan kakaknya, apalagi dengan umpatan pedas yang keluar dari mulutnya. Dengan segera, Yaya mengambil surat yang tadi di injak kakaknya. "Apa yang Kak Hali lakukan? dia sudah susah payah membuat surat pernyataan untuk kak Hali." kata Yaya dengan suara yang kecil namun masih bisa didengar oleh Halilintar. "Aku tidak suka padanya. Kenapa, masalah?" kata-kata itu terlontar dari mulut Halilintar. Sekarang Yaya tidak bisa menahan amarahnya, amrahnya sudah memuncak sampai ubun-ubun kepanya "bisakah kau menerima atau menolaknya dengan bersikap yang baik?" teriak Yaya emosi. Ia sudah tidak bisa lagi menerima sikap keras kepala kakaknya. Halilintar yang merasa di bentak juga merasakan emosi yang tiba-tiba keluar dari dalam dirinya.
Yaya yang dari tadi berusaha untuk meredamkan emosinya dengan berani memberi surat yang berada di genggamannya di depan Halilintar "paling tidak, kakak mempunyai seseorang untuk dicintai." kata Yaya dengan senyum lembut.
Halilintar tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia tidak bisa menahan ini semua, dan cuma ada satu cara untuk melepas belenggu Yuuna terhadapnya...
Ya... cuma satu cara...
BREEET...
Halilintar dengan dorongan emosinya merobek surat yang ada di genggaman Yaya. Merobeknya sampai menjadi potong-potongan kecil, lalu dihamburkannya di depan wajah Yaya. "Sudah puas dengan jawabanku?" tanya Halilintar dengan mata redbloodnya yang menatap Yaya tajam.
Yaya hanya diam. Diam kehabisan kata-kata untuk memarahi kakaknya lagi. Ia tidak percaya dengan sikap kakaknya barusan, dengan mata yang masih membulat tidak percaya Yaya menundukkan wajahnya. Halilintar meninggalkannya sendirian masih dengan perasaan kesal di depan sekolah yang sudah mulai sepi. Untungnya tidak ada seorang pun yang melihat adegan tadi, bisa-bisa besoknya menjadi bahan gosipan dan Halilintar akan mengamuk menjadi-jadi saat mendengar gosip tentangnya dan adiknya. "Aku... gagal ya?" gumam Yaya membodohi diri sendiri.
.
.
.
"Aku pulang~" kata Yaya yang sedang melepas sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu. Ia tidak sadar jika Gempa menunggunya dari balik punggungnya seraya berkacak pinggang. "Apa yang terjadi denganmu dan Kak Halilintar?" tanya Gempa. Yaya terdiam sesaat, ia tidak berani menghadap wajah kakaknya yang terkenal mempunyai sifat yang bijaksana. "Aku tidak tahu apa maksudmu" jawab Yaya sambil berlalu meninggalkan kakaknya yang hanya terdiam.
"Apa kalian bertengkar di sekolah?" tanya Gempa membalikkan badannya menghadap Yaya yang memunggunginya 'BINGO' Yaya terkejut tak bisa berkata apa-apa dan dengan perasaan gugup ia membalikkan badannya menghadap sang kakak yang sedang menatapnya dengan penuh selidik dan tanda tanya. "A, aku tidak mengerti apa maksudmu." Sela Yaya berusaha berbohong. Tetapi Gempa tahu kalau adik perempuannya ini tidak bisa berbohong. Hatinya terlalu bersih untuk mengatakan kebohongan. Gempa menghela nafas "sebaiknya kalian harus berbaikan dan minta maaf."
"Memangnya ada apa kak? Kak Halilintar mengamuk habis pulang dari sekolah?" tanya Yaya merasa bersalah, Bagaimana ia tidak merasa bersalah jika Kakaknya yang pemarah ini melampiaskan amarahnya kepada kakak-kakaknya yang lain.
Gempa terdiam sebentar lalu menjawab "kalian akan tidur berdua di kamarnya Kak Halilintar satu minggu ini." cengiran kemenangan tertampang jelas di muka sang kakak yang menggunakan topi dengan cara di gunakan terbalik itu. Ia tampak geli saat melihat wajah Yaya yang sekarang memasang tampang horor ditambah garis merah muda yang menghiasi pipinya sekarang. 'Imut' pikir Gempa tidak sadar dan terus memperhatikan adik perempuannya yang sekarang tampak... errrrr... merah? ya, wajahnya memerah sampai telinga seperti kepiting rebus mungkin?
"B, b, bisa diulangi lagi? mungkin aku salah dengar." pinta Yaya terbata-bata. Gempa menatap adiknya lama.
1 menit...
2 menit...
3 menit...
"KAK GEMPA, NANTI KERASUKAN LOH!" teriak Yaya di samping telinga kakaknya. Gempa yang terkejut dengan teriakan Yaya plus di samping telinganya, berusaha untuk tidak melamun karena tingkah laku Yaya yang menurutnya sekali lagi terlihat 'imut'?
"beneran kok, kakak gak bo'ong!" dengan senyumnya dan jarinya yang membentuk huruf V yang berarti peace. 'WHAT THE HELL!' teriak Yaya dalam hati, bagaimana bisa tidur dengan kakaknya sedangkan mereka sedang dalam keadaan di perang dunia ke-3. "Heee... kenapa aku harus tidur dengannya? memangnya apa yang terjadi dengan kamarku?" pertanyaan Yaya sukses membuat kakaknya bingung harus bilang apa, ia takut membuat Yaya marah padanya. Tapi ia tak punya pilihan lain.
"Ano, nanti temen-temennya kakak mau menginap disini untuk kerja kelompok, kebetulan ada anak perempuan di keompoknya kakak. Jadi ya, kakak mau pinjam kamarmu. Kan gak enak kalo cewek tidur di kamarnya cowok." jawaban Gempa membuat adiknya bersweatdrop, dan sepertinya Yaya ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya di telinga Gempa. Tapi, apa boleh buat ini untuk kebaikan nilai kakaknya. "Boleh ya, aya?" Gempa memohon kepada adiknya dengan mengeluarkan jurus mata sadpuppyeyes nya.
Yaya sudah tidak kuat lagi menerima jurus mata dari kakaknya itu 'sejak kapan ia mengcopypaste jurus andalanku?' batin Yaya. Yaya hanya memutar bola matanya disertai dengan anggukan kepalanya "terserah kakaklah" kata Yaya pada akhirnya. "YES!" teriak Gempa girang kesana kemari.
"eiits, tapi sampai kapan teman perempuannya kakak akan singgah di kamarku?" sela Yaya, yang ditanya hanya tersenyum jahil dan menjawab "cuman lima hari kok." jawabnya seraya meninggalkan Yaya yang mematung dengan mulut menganga dan mata hazelnya yang membulat tidak percaya.
'ini adalah hari tersialku' batinnya kesal sambil berjalan sempoyongan menuju kamarnya, untuk mengatakan selamat tingal pada kamar kesayangannya.
.
.
.
Halilintar POV
"Hihihi... kak Halilintar shock banget cuma diminta tidur berdua sama Yaya hahahaha..." tawa Taufan meledak saat melihat wajahku terlihat errrr... shock mungkin? dengan wajah yang sekarang berubah warna menjadi kemerah-merahan. aku tidak bisa menyembunyikannya lagi, aku hanya bisa menutup wajah sebelahku dengan salah satu tanganku. bagaimana bisa ia tidur berdua dengan perempuan di kamarnya, bahkan Yaya tidak pernah sekalipun masuk ke kamarnya.
"Aku pulang~"
Yeaaahhh... aku akui setelah mendengar suara Yaya dari kamarku di lantai atas aku sudah tidak bisa menahan wajahku sekarang, ditambah dengan suara tawa Taufan yang makin menjadi-jadi.
'BUUGHH'
Pukulan kepalan tanganku mendarat mulus di hidung Taufan sehingga membuat Taufan terpelanting dan pingsan. Ingat, jangan salahkan aku atas kejadian tadi, dia yang memintaku membuatnya babak belur dengan cara meninjunya di hidung, sama seperti kejadian beberapa hari yang lalu.
Dengan berani aku melihat Yaya dan Gempa dari sela-sela tangga, aku akui sekali lagi, aku memang grogi dalam hal yang berkaitan dengan hantu dan perempuan meski itu adalah adikku sendiri. Bahkan di sekolah aku selalu memasang tampang sedingin mungkin karena aku terlalu malas untuk mengobrol dengan laki-laki. Apalagi dengan fansgirl ku, hanya dengan membayangkan kejadian dimana aku dan adik-adikku yang popular disekolah dikejar-kejar dan dikelilingi dengan fansku setiap aku dan kedua adikku memasuki kawasan sekolah. Dan itu membuatku merinding jijik.
"B, b, bisa diulangi lagi? mungkin aku salah dengar." secara tidak sengaja aku mendengar omongan Yaya yang terbata-bata, sepertinya ia terlihat sama sepertiku, shock. 'Cih, tolong segera akhiri ini dengan tidak persetujuan Yaya.' kataku dalam hati memohon agar Yaya tidak setuju.
"Terserah kakaklah." aku kembali shock. Sepertinya harapanku telah jatuh saat Yaya mengatakan 'terserah' atau mungkin bisa dibilang 'setuju' kamarnya akan di pakai oleh teman-teman Gempa. 'Cih sialan kau Gempa'
.
.
.
Normal POV
"Kak boleh aku masuk?" kata Yaya seraya mengetuk pintu kamar Halilintar. Biasanya saat makam malam Halilintar lah yang selalu selesai duluan dan beranjak untuk tidur. Dan Yaya memutuskan untuk makan lebih cepat tadi malam, agar Halilintar tidak terganggu saat ia mengetuk pintu kamarnya, tidak ada jawaban. Dengan memberanikan diri ia membuka pintu kamar Halilintar dan melihat kakaknya sudah tertidur. Yaya melangkahkan kakinya menuju ranjang dan duduk di samping kakaknya lalu berbaring mencoba untuk tidur dengan membelakangi Halilintar.
Set...
"E, eh" mata Yaya membelalak saat seseorang memeluknya dari belakang "belum tidur ya?" tanya orang itu yang diketahui adalah Halilintar. Tidak ada jawaban dari Yaya "maaf yang kejadian di sekolah tadi." Yaya yang mendengar penuturanmerasabersalah kakaknya segera membalikkan badannya menghadap Halilintar sambil tersenyum. "Ya, gak apa-apa kok." jawab Yaya. Halilintar sedikit terkejut saat melihat adiknya yang ternyata belum tidur.
"Bagaimana jika cewek itu besok apa-apain kamu?" tanya Halilintar merasa firasat yang buruk jika besok adiknya tiba-tiba di bully dan pelakunya adalah Yuuna. " Tidak apa-apa kok, dia kan baik." cegah Yaya berusaha meyakinkan kakaknya agar tidak berpikir buruk mengenai Yuuna. Halilitar yang mendengar itu hanya tersenyum tipis, lalu berpikir.
Dengan bulg-eun agma ui miso nya itu membuat Yaya terdiam merasakan firasat buruk akan menimpanya malam ini.
"KYAAAAAA! KAK HALI NAKAL" dan suara teriakkan itu disertai dengan suara tawa puas lalu diakhiri dengan pukulan salting dari sang adik.
.
.
.
.
.
TBC or END?
.
.
.
.
.
Yeeeey dah selesai chapter tiganya. yang kalimat akhir chapter ini jangan salah tingkah ya!. Maafkan ane ya kalo updetenya baru sekarang! soalnya tetanga ane yang punya wi-fi lagi pergi holiday hehehehe... maklumlah numpang internetan sama orang lain ^^
eummm... tapi rasanya kurang panjang ya? ato alurnya gak jelas? typo? kalimatnya ada yang salah? yaudalah gak papa yang penting ni chapter udah selesai #plak
Sekali lagi para pembaca yang sudah baca sillent house gommenne ya. Cerita itu belum tentu ane bakal nglanjutin apa nggak, soalnya sekarang ane harus lebih fokus sama ni FF biar gak ambil pusing. Jadi untuk sementara FF yang sillent house itu bakal ane terlantarkan dulu, nah baru kalo FF yang ini sudah selesai, nanti ane bakalan ngelanjutin FF yang satunya (maksud ane yang sillent house itu)
Nah tadi ada bahasa koreanya kan? itu artinya... (silahkan cari di google translate sendiri. Author lagi males nulis artinya#dasargakmautanggungjawab -_-)
Oke deh terima kasih buat yang ngereview ni FF gak jelas, arigato, gamsahabnida, thank you ^_^ #author JKE-pop sih#
Untuk kata-kata terakhir...
.
.
.
REVIEW PLEASE ^^
