a/n: Assalamu'alaykum, akhirnya vea update juga, tapi rasanya alurnya semakin lama, semakin berat, mungkin akan vea jadikan rate M nanti. Ingat, ngga ada lemon di fic ini, hanya tema dan bahasan yang berat saja! Sebelumnya makasih banyak yang udah mau nunggu kelanjutan cerita ini, yang menanyakannya di PM, FB juga lewat sms, makasih ya :)
Tifa : Terima kasih, ini sudah vea lanjutkan :)
Fujyo : Yup, Jin juga manusia yang punya salah, oke, udah update nih :)
This chapter special untuk AMMA yang sudah mengenalkanku pada Gondes, munsyid dengan nasyid parodi berjudul Jagalah Istri...
POLIGAMI
Kamichama Karin ; Kamichama Karin chu © Koge Sensei
POLIGAMI © Invea
Warning : GaJe! OOC! Aneh! Ngga Rame! OC! De eL eL
.
.
Kazusa mendesah pelan. Sesekali ia menyeka air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Sudah hampir 3 jam ia terdiam di situ. Menangis tiada henti. Ia sudah bingung kepada siapa lagi ia harus mengadu.
Kazune―?
Tak mungkin. Kakaknya itu terlalu dingin. Menceritakan kejadian semalam sama saja dengan menyulut api kemarahan yang sudah lama terpendam di hati kakak kembarnya itu.
Sudah sedari awal Kazune dan Jin bersaing. Mereka hampir bersaing dalam segala hal, salah satunya memperebutkan Karin. Namun, Jin kalah dalam persaingan ini. Karin rupanya menaruh rasa pada Kazune. Hal ini jelas membuat pemuda berambut hitam gelap itu sangat terluka. Di saat seperti itu, datanglah Kazusa.
Jin pada awalnya bersikap ketus padanya. Ia tidak menyukai adik kembar Kazune itu. Sebenarnya, tak ada alasan yang tepat untuk membenci Kazusa. Gadis itu selalu mencoba menghibur Jin dan bersikap ramah padanya. Hanya saja, Jin membencinya karena Kazusa adalah adik Kazune. Ya, saat itu ia membenci siapapun yang ada sangkut pautnya dengan pemuda yang telah mengalahkannya tersebut.
Namun, Kazusa tak pernah menyerah. Rasa cintanya yang kuat pada Jin yang membuatnya bersabar dan yakin bahwa Jin pasti akan berubah. Tekadnya pun terpenuhi. Lambat laun, Jin mulai luluh akan kebaikan Kazusa. Ia pun mulai memendam rasa pada gadis itu. Akhirnya, setelah menyelesaikan study S-1 nya, mereka pun menikah.
Kazusa kembali mendesah. Ia kemudian menatap layar ponselnya. Matanya menyusuri beberapa kontak nama yang mungkin bisa ia hubungi.
Karin―?
Sepupunya itu mungkin sangat cocok untuk dijadikan tempat curhat. Tapi, ia sangat takut ada Kazune di rumahnya yang dulu. Ini adalah hari dimana Kazune sedang libur dari pekerjaannya sebagai seorang dokter.
Ia kemudian kembali mencari nama lain yang sekiranya dapat membantunya. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk menemui Himeka. Adik bungsunya yang baru saja menikah.
Kazusa kemudian bergegas mengganti pakaiannya. Ia kemudian memandikan Kuzuka dan memakaikannya baju bepergian. Tepat ketika ia hendak pergi, pintu kediamannya terbuka. Kazusa bergegas melihat siapa yang datang. Rupanya itu suaminya dan juga calon teman barunya di rumah.
"Ji―Jin," panggil Kazusa. Matanya nanar menatap pemandangan dihadapannya kini. Calon istri kedua suaminya itu tengah memeluk lengan suaminya dengan manja. Hal ini membuat kecemburuan Kazusa semakin menjadi. Ingin rasanya ia marah, berteriak dan membentak. Tapi, suaranya tercekat di tenggorokan. Lidahnya terasa kelu dan tubuhnya seakan lumpuh.
"Hn, buatkan aku kopi dan jus jeruk untuk Rika," sahutnya dingin. Mereka kemudian berjalan berlalu melewati Kazusa. Rika tersenyum menatap wanita itu. Kazusa hanya terdiam menatap pintu yang masih terbuka. Ia tak sudi melihat wanita lain memiliki suaminya. Tapi ia tak bisa membantah. Ia hanya bisa pasrah.
Perlahan, ditutupnya pintu rumahnya. Ia kemudian membuatkan kopi untuk suaminya. Sementara itu, ia mencari-cari jeruk di kulkas. Sayangnya, tak sebutir pun ia temui di sana.
Dengan sedikit ragu, ia kemudian mendekati ruang tamu. Di sana Jin tengah bercengkrama dengan Rika. Wanita itu terlihat memanja dan mereka sangat mesra di mata Kazusa. Api cemburu semakin membakar dadanya. Tapi ia tak bisa melakukan apapun.
"Je―Jeruknya habis. Ba―bagaimana kalau ku buatkan minuman lain?" tanya Kazusa dengan sedikit gugup. Ia berusaha menahan amarahnya yang membuncah. Ia berusaha tegar.
"Kau ini bagaimana? Kalau habis, ya beli dong!" bentak Jin.
"Sudahlah sayang, tak apa kok. Aku minum apa saja yang ada," seru Rika kemudian.
"Tidak, Rika. Kau kan senang sekali jus jeruk. Kazusa bisa membeli jeruknya sekarang. Benar kan?" tanya Jin seraya memasang deathglare ke arah Kazusa. Wanita itu hanya mengangguk lemah. Ia kemudian pergi mengambil mantel dan berbelanja buah jeruk.
.
.
"Tadaima," sahut Kazusa seraya menutup pintu rumah yang baru saja ia buka. Terdengar suara Kuzuka tengah menangis. Dengan segera, Kazusa bergegas ke kamar. Ia mengkhawatirkan keadaan anak satu-satunya tersebut.
"Kau ini, belanja sama lama sekali! Cepat sana! Hentikan tangisan anakmu itu! Sangat mengganggu!" keluh Jin seraya mendorong wanita itu. Kazusa hanya meringis kesakitan. Ia kemudian berusaha menenangkan Kuzuka.
"Huh! Bayi itu bisanya mengganggu saja. Suara tangisannya keras sekali, untung saja Rika tidak marah mendengarnya," sahut Jin kemudian. Kazusa yang mendengar hal itu merasa tersinggung. Bagaimana mungkin seorang ayah bersikap seperti itu?
"Dia ini anakmu!" seru Kazusa kesal. Jin menatapnya tajam. Ia kemudian menampar pipi putih Kazusa. Kazusa hanya menangis. Ia kemudian berlalu pergi meninggalkan rumah menuju kediamannya dulu bersama Kuzuka.
.
.
Ting! Tong!
"Sebentar," Terdengar suara lembut Karin dari dalam. Kazusa hanya menunggu sembari tersedu. Ditatapnya wajah damai Kuzuka. Sedari tadi, anaknya itu tak henti-hentinya mengelus pipi ibundanya seakan-akan hendak menyeka air mata sang ibu.
"Silahkan ma―Kazusa!" seru Karin kaget melihat keadaan Kazusa sekarang. Ia terlihat begitu menyedihkan. Wajahnya pucat dipenuhi dengan tetesan air mata.
"Ka―Karin―"
.
.
"Begitulah," Kazusa mengakhiri ceritanya kepada Karin dan Kazune. Karin hanya menatapnya dengan wajah prihatin. Air mata turut menetes membasahi pipinya. Sementara Kazune, semenjak tadi ia mengepalkan tangannya. Ia merasa kesal akan tingkah laku Jin yang telah menyakiti adiknya.
"Biar ku hajar pemuda brengsek itu!" seru Kazune sembari bangkit dari kursinya. Karin menahannya. Begitu pula dengan Kazusa.
"Biarlah, nii-san, ini sudah jadi keputusanku," seru Kazusa.
"Tapi, dia melakukan kekerasan dalam rumah tangga!" seru Kazune tak mau kalah.
"Kazusa, kau bisa mengadukannya," sambung Karin kemudian. Kazusa menggeleng lemah.
"Tidak, nanti nama Jin akan tercemar," ujarnya. Kazune semakin geram mendengarnya. Ia hendak mendatangi Jin namun, Kazusa tak henti-hentinya melarangnya.
"Nii-san, dia akan semakin marah padaku kalau begini. Biarkan aku mengatasinya sendiri, aku hanya butuh tempat berbagi perasaan tadi, tak lebih," sahut Kazusa. Kazune kemudian menatap wajah istrinya. Karin hanya memberikan isyarat pada Kazune untuk mengikuti keinginan Kazusa. Akhirnya ia pun mulai mengendalikan emosinya.
"Kalau ada apa-apa, datanglah kemari," ujarnya kemudian. Kazusa mengangguk kemudian pamit pulang bersama Kuzuka. Karin dan Kazune hanya bisa menatap nanar punggung Kazusa. Mereka tak menyangka wanita itu akan mendapat cobaan seberat ini.
"Kazune," panggil Karin pelan.
"Iya?"
"Berjanjilah padaku kau tak kan menduakanku dan mengkhianati cinta kita," seru Karin pelan. Desah kegelisahan dapat terdengar dari setiap katanya. Rupanya wanita itu takut dimadu cintanya.
"Tenanglah Karin, aku hanya akan mencintaimu,"
"Selamanya?"
"Ya,"
"Meski aku mati?"
"Tentu,"
"Janji?"
"Aku berjanji, permaisuri hatiku," Pria itu kemudian mengecup lembut bibir istrinya. Karin hanya memejamkan mata merasakan kehangatan yang menjalar dari sentuhan suaminya.
"Duh, panas deh," sahut Suzune yang tiba-tiba ada di depan mereka. Wajah Karin dan Kazune pun memerah. Ciuman mereka dilihat Suzune rupanya.
"Ayah dan ibu curang! Masa Suzune ngga dicium juga?"
"Wah, jagoan ayah iri rupanya ya?"
Karin hanya tersenyum menatap putra kecilnya. Ia dan Kazune kemudian dengan spontan mengecup pipi anak mereka. Masing-masing di belahan pipi yang berbeda. Suzune hanya tersenyum. Beberapa detik kemudian, meledaklah tawa di antara mereka bertiga. Aih, bukankah mereka merupakan sosok keluarga yang bahagia? Bikin iri saja.
.
.
