Kagum, fanfic yang ngaco ini ternyata lumayan disukai juga ya, terima kasih banyak!

Saya akan berjuang untuk meneruskannya!


Semua orang di dunia ini pasti memiliki alasan ketika melakukan sesuatu, terutama sesuatu yang sangat penting. Entah alasan itu memiliki maksud yang baik atau buruk, namun sebuah alasan mampu mendorong manusia melakukan hal-hal hingga mencapai batas kemampuan mereka.

Alasan yang mungkin tidak dimiliki oleh Kisaragi Gentarou.

Ia menatap sosok Zodiart yang ada di depannya, tidak percaya apa yang sedang terjadi. Kenapa?

Kenapa monster ini tidak kunjung kalah?

Ia tidak mengerti, sosok Zodiart di depannya ini tidak sekuat Horoscope yang sudah pernah ia hadapi sebelumnya. Namun, sekuat apapun Gentarou berusaha mengalahkannya, Zodiart itu tetap bangkit. Entah apa yang mendorongnya untuk berjuang sekuat itu. Gentarou tidak tahu, ia juga tidak mau tahu. Tapi, ia bisa merasakan kemarahan dalam dirinya, ia merasa harga dirinya terluka karena tidak bisa menumbangkan monster di hadapannya ini.

Sementara itu, Kengo dan Yuki memantaunya dari jarak yang aman. Kengo terus berusaha menganalisa kekuatan Zodiart yang tampak berbeda dari biasanya. Padahal semua data yang ia dapat menunjukkan bahwa Zodiart ini seharusnya mampu Gentarou kalahkan dengan cepat, tapi kenapa?

Bila terus begini, bisa berbahaya…

Gentarou segera menekan satu switch yang ada di beltnya kemudian sebuah roket pun muncul di tangannya. Kali ini ia harus berhasil, ia dan Zodiart itu sama-sama kelelahan, tapi ia pasti menang!

"Hiyaaaa!" Gentarou berteriak, saat ia meluncurkan serangan pada Zodiart tersebut. Zodiart itu mampu menghindar, namun gerakannya yang lambat membuatnya tak mampu menghindari serangan Gentarou selanjutnya yang tepat mengenai tubuhnya.

Zodiart itu terpental jauh, menabrak dinding sebuah bangunan tua. Sementara Gentarou segera menon-aktifkan switchnya. Semakin lama, tubuhnya terasa semakin berat, napasnya pun terengah-engah dan sulit sekali baginya untuk fokus.

Apa ia sudah mencapai batas pemakaian cosmic power?

Gentarou siap menekan tuas, ia harus melancarkan serangan terakhir sekarang. Harus…

"Kisaragi!"

Gentarou menoleh, menatap Kengo yang berada sangat jauh darinya, namun ia bisa mendengar nada panik dari suanya.

"Jangan lakukan limit break, kau akan…," suara Kengo terputus saat tiba-tiba Zodiart itu kembali bangkit, membuat Gentarou tersentak.

Sudah seperti itu masih bisa bangun?

"Aku… tidak akan kalah…," gumam Zodiart itu. Gentarou hanya memandangnya dengan tatapan tak percaya. Apa monster di depannya ini ingin mati?

"Sayangnya, aku harus menang di sini," kata Gentarou, tangannya meraih tuas pada belt.

"Aku tidak akan kalah darimu… yang tidak punya alasan untuk bertarung…," gumam Zodiart itu lagi, menyulut api kemarahan pada diri Gentarou.

Alasan untuk bertarung? Ia tidak butuh omong kosong seperti itu untuk menang!

Gentarou menekan tuas kemudian menekan switch rocket, dengan cepat ia melancarkan serangan limit break pada monster itu. Tapi matanya terbelalak saat monster itu berhasil berkelit saat ia hampir mengenainya, membuat Gentarou hanya memukul angin kosong sementara monster itu dengan cepat menghilang dari pandangan menggunakan sisa tenaga yang ia miliki.

Apa-apaan itu?

Deg!

Gentarou merasakan tubuhnya seperti dihantam sesuatu yang sangat berat, serta merta ia ambruk ke tanah. Badannya gemetaran dan pandangannya mulai gelap.

"Kisaragi!"

"Gentarou-kun!"

Ia hanya bisa mendengar sayup-sayup suara Kengo dan Yuki yang menghampirinya sebelum ia kehilangan kesadarannya.

IoI

"Ukh…"

Senyum Yuki mengembang saat Gentarou mengerjapkan matanya dan perlahan matanya terbuka.

"Gentarou-kun! Syukurlah!" seru Yuki dengan perasaan lega.

Gentarou perlahan bangkit, berusaha mengingat apa yang terjadi. Kalau tidak salah, ia sedang bertarung dengan Zodiart, lalu…

"Kau pingsan hampir seharian penuh, sudah kubilang memakai cosmic power berlebihan itu berbahaya," tegur Kengo yang datang menghampirinya. Gentarou hanya mendengus dan mencoba untuk melihat dimana ia berada.

Rabbit Hutch?

Ah, pantas rasanya ringan…

Tapi…

"Sial, dasar Zodiart sialan!" kutuk Gentarou, membuat Yuki dan Kengo sedikit terkejut.

Kengo menghela napas dan duduk di samping Yuki yang sedang kebingungan. Ia memperhatikan Gentarou yang tampak marah, mungkin kesal karena tak mampu mengalahkan Zodiart itu.

Ia sendiri tidak mengerti kenapa…

Gentarou mendadak bangkit, membuat Yuki dan Kengo terkejut. Yankee itu segera pergi dari Rabbit Hutch tanpa mengatakan apapun, seakan begitu marah hingga tak bisa bicara. Kengo hanya menggelengkan kepalanya, merasa pening dengan sikap Gentarou. Biasanya yankee itu tidak terlalu emosional, namun ternyata ia tidak bisa menerima kekalahan.

"Lho, Kengo-kun? Kok tanganmu memar? Kenapa?" tanya Yuki, membuat Kengo kaget. Ia segera menyembunyikan luka memar yang ada di tangannya.

"Tanganku terkena sudut meja tadi pagi," jawabnya cepat, membuat Yuki ragu. Kengo segera bangkit dan melarikan diri ke ruang kontrol, menyibukkan diri mengolah data dari pertarungan Gentarou melawan Zodiart tadi.

IoI

Alasan untuk bertarung? Apa sih yang Zodiart itu ocehkan? Gentarou tidak mengerti. Ia berjalan menuju sekolah dengan perasaan berat. Ia ingin bolos, tapi tak ada yang benar-benar bisa ia lakukan di luar sana.

Saat ia tengah memelototi siswa-siswi tak berdosa yang lewat di sekitarnya, ia menemukan Kengo berada di sebuah tempat sepi dengan beberapa siswa mengerubunginya.

Gentarou tidak pernah melihat Kengo dengan siswa lain, kecuali dirinya dan Yuki. Ia terkenal sebagai siswa yang dingin dan sakit-sakitan sehingga banyak yang menjauhinya.

Kengo menyerahkan sesuatu ke mereka, seperti buku-buku. Gentarou hanya mengernyit, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Begitu buku-buku itu berpindah tangan, seorang siswa mendorong Kengo untuk menyingkir. Air muka Kengo tampak kesal, namun tetap sabar. Siswa berpenyakit berat itu pun melangkah pergi menjauhi mereka.

Dari caranya berjalan dan tangannya yang terus mengusap lengannya, ia tampaknya terluka.

Gentarou mendengus, akhirnya mengerti apa yang terjadi.

Bully ya?

Ia tidak menyangka kalau ternyata Kengo cukup normal untuk mengalami hal seperti bully. Ia sangka yang ada di sekitar pemuda itu hanya hal-hal aneh dan ajaib saja.

Gentarou, berbalik, tidak tertarik untuk ikut campur. Ia kan bukan temannya, untuk apa?

Meski begitu, ia tetap sedikit penasaran. Kenapa Kengo menyembunyikan hal ini darinya dan Yuki?

IoI

Alasan untuk bertarung. Memang perlu ya? Gentarou menatap sekelompok yankee yang sudah berbaring tak sadarkan diri di sekitarnya. Tenang, tidak mati kok.

Ia yakin ia kuat, tapi kenapa ia tidak bisa menang?

Gentarou mendengus, ia bertarung untuk bersenang-senang…

Ia mengepalkan tangannya.

Ia bertarung untuk melupakan kehidupannya.

Ia ingin bebas, ia ingin…

Gentarou mengacak-acak rambutnya, dasar Zodiart sial, membuatnya mengingat sesuatu yang membuatnya kesal.

Tidak mungkin Zodiart itu bisa mengerti yang ia rasakan, sama seperti ia tidak mengerti apa yang Zodiart itu katakan padanya.

Ia hanya ingin bertarung, itu saja sudah lebih dari cukup.

Gentarou segera kembali ke kelas, seharusnya menurut perkiraannya sekarang adalah waktunya makan siang.

Ia merogoh sakunya namun mendengus saat ia tidak menemukan apa-apa. Dasar sial…

Ia membuka jendela kelasnya dan melompat masuk, membuat beberapa orang memekik ketakutan. Memangnya ia hantu apa?

Gentarou hanya memalingkan wajahnya untuk melihat Yuki yang sedang menawarkan bekalnya pada Kengo.

"Kengo-kun, ini bekal untukmu," katanya dengan wajah cerah.

"Kau tidak perlu membuatkanku bekal seperti ini Yuki, aku bisa beli sendiri," ucap Kengo. Gentarou hanya mendelikkan alisnya, ia yakin bukan hanya ia yang merasa mereka itu berpacaran bila dilihat seperti ini. Pasangan orang sekarat dengan maniak luar angkasa. Sungguh pasangan yang aneh.

"Tapi kalau tidak seperti ini Kengo-kun suka tidak makan," kata Yuki dengan wajah cemberut. Kengo hanya menghela napas. Senyum tipis terukir di bibirnya. Meski ia berkata seperti itu, bukan berarti ia tidak senang Yuki membuatkannya bekal.

Gentarou berniat untuk pergi, tidak tahan dengan atmosfir aneh yang menyelimuti mereka berdua. Memangnya mereka pikir dunia cuma miliki mereka berdua, yang lain ngontrak?

Namun, ia berhenti saat ada seorang siswa yang menyenggol Yuki, membuat gadis itu hampir jatuh bila tidak segera ditangkap Kengo, namun bekal yang ada di tangannya jatuh ke lantai, membuat Yuki memekik. Isinya berhamburan ke luar.

"Oh maaf ya, makanya jangan di jalan dong," kata siswa itu. Gentarou merasa pernah melihatnya di suatu tempat.

Kengo menatap siswa itu dengan tajam, namun anehnya ia tidak mengatakan apapun, membuat Gentarou panas.

Gentarou menghampiri mereka, membuat Yuki yang tampak sedang menangisi bekal buatannya yang terbuang percuma terkejut. Yankee itu mengambil sepotong telur dari lantai, menghampiri siswa kurang ajar itu dan menyumpal mulutnya dengan telur itu.

"Kau sendiri, jangan buang-buang makanan," kata Gentarou kesal. Kengo dan Yuki terkejut dengan apa yang Gentarou lakukan.

Siswa itu tampak kesal, ia melotot pada Gentarou, Kengo juga Yuki namun ia berbalik dan pergi.

Huh, dasar pengecut, beraninya sama yang lemah saja.

"Terima kasih, Gentarou-," kata-kata Yuki terputus saat Gentarou menarik lengan Kengo, membuat Kengo merintih kesakitan.

"Kau sendiri, ada apa denganmu sebenarnya?" tanya Gentarou, mempererat genggamannya, membuat Kengo merintih menahan sakit.

"Gentarou-kun apa yang kau lakukan?" pekik Yuki panik.

"Ini tidak ada hubungannya denganmu," kata Kengo ketus, membuat Gentarou kesal. Ia menggeretakkan giginya, berusaha untuk tidak melempar orang yang sedang ia pegang itu ke luar jendela.

"Ikut aku," kata Gentarou, menarik Kengo dengan kasar, membuat Kengo kesakitan.

Yuki berusaha mengikuti mereka, namun Gentarou berhenti dan menunjuknya. "Dan kau, tunggu di sini," perintahnya, membuat Yuki berhenti. Ia hanya bisa melihat Gentarou menyeret Kengo keluar dengan kasar.

Ada apa sebenarnya?

Gentarou melepaskan Kengo begitu mereka tiba di tempat sepi. Kengo segera mengelus lengannya yang terluka. Ia menatap Gentarou dengan kesal, namun yankee itu terlihat sama kesalnya.

"Tidak kau, tidak Zodiart sialan itu, sama saja keras kepalanya," omel Gentarou kesal, Kengo hanya menutup mulutnya, masih menatap Gentarou dengan marah.

"Apa maksudmu?" tanya Kengo. Gentarou menarik kerang bajunya, membuatnya sedikit terngkat dari tanah.

"Kau dibully kan?" tanya Gentarou. Kengo terkejut namun dengan segera ia tenang kembali, berusaha menutupinya.

"Kenapa kau tahu?" tanyanya. Gentarou memutar matanya.

"Kenapa kau tidak memberi tahu aku… atau minimal, pacarmu itu, Yuki?" tanya Gentarou.

"Yuki bukan pacarku," jawab Kengo dengan wajah lurus.

"Terserah, kenapa kau tidak beri tahu kami?" tanya Gentarou. Wajah Kengo berubah muram, Gentarou mengendurkan genggamannya, membiarkan Kengo kembali menapaki tanah.

"Aku tidak bisa, aku punya alasan," jawab Kengo, menghindari mata Gentarou.

Alasan lagi?

Alasan untuk bertarung? Alasan untuk tidak memberi tahu?

"Alasan apa? Beri tahu aku," kata Gentarou, berusaha untuk tetap tenang.

Kengo menatapnya dengan muram, tampak ragu untuk memberi tahunya. Untuk pertama kali, Gentarou tidak melihatnya berusaha untuk tegar. Selama Kengo sadar, ia selalu terlihat tenang, tegar dan dingin. Tidak pernah seperti ini.

"Aku diancam beberapa murid, untuk membuatkan mereka PR dan contekan, hanya itu," jawab Kengo dengan getir.

"Tidak mungkin, 'hanya itu' kau mau menuruti mereka," kata Gentarou lagi. Kengo terlihat tidak senang namun kemudian ia menghela napas.

"Mereka mengancam akan melukai Yuki bila aku menolak, kau puas sekarang?" kata Kengo dengan kesal, namun wajahnya tampak kehilangan harapan dan muram.

Orang ini… apa ia sudah menahan bully selama ini dan terus bertarung bersama dengannya dalam keadaan seperti ini?

Gentarou mengacak-acak rambutnya, alasan yang tidak dapat ia mengerti.

"Karena itu, jangan beri Yuki, aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan bila ia tahu yang sebenarnya," kata Kengo dengan getir, tangannya meraih lengannya yang terluka.

Gentarou menatap Kengo dengan bingung.

Orang yang lemah, sekarat juga kesepian seperti dia, untuk apa menahan semua penderitaan yang ia alami hingga seperti ini? Di bully, bertarung dengan Zodiart, sakit-sakitan, apa tidak lebih baik mati saja sekalian? Apa alasan yang mendorongnya untuk bertarung dengan semua itu?

Alasan untuk bertarung…

Kengo berbalik dan pergi, jalannya agak sempoyongan dan pelan, namun tetap tegak berdiri. Gentarou tahu, ia pasti akan pergi dan menghibur Yuki, berbuat seakan-akan tidak ada apa-apa.

Apakah salah satu alasannya untuk gadis maniak luar angkasa itu?

Yang bisa membuat Kengo tersenyum hanya Yuki saja. Meski hanya senyum tipis, tidak ada orang lain yang bisa membuatnya tersenyum.

Gentarou tidak mengerti…

Ia tidak mengerti…

Gentarou memukul dinding, entah kenapa ia merasa kesal. Ia tidak mengerti, kenapa Kengo bisa begitu kuat hanya untuk gadis lemah itu, kenapa Zodiart itu tidak bisa ia kalahkan?

Apa karena ia tidak memiliki seseorang dalam hidupnya?

Gentarou menggigit bibirnya, tidak bisa menahan ingatan yang menghampirinya.

Ibunya… Ayahnya…

Sekarang semuanya sudah tidak ada.

Ia tidak punya keluarga, tidak punya teman, ia tidak memiliki seorang pun.

Tidak ada.

IoI

Gentarou ingat saat dulu ayahnya mengajarkannya bela diri, ayahnya mengatakan ia harus bela diri untuk melindungi orang-orang yang berharga baginya. Tentu saja, ia dulu sangat polos dan percaya perkataan itu sehingga ia berlatih dengan giat.

Tapi, itu dulu. Sekarang, tak ada yang ingin Gentarou lindungi, ia tidak punya apa-apa.

Hidup memang aneh, ia ingat dulu ia adalah anak yang ceria, ramah dan senang berteman, tapi hidupnya berubah 180 derajat sekarang.

Alasan untuk bertarung…

Hanya karena itu saja ia kalah.

Jika orang tuanya masih hidup sekarang, mungkin ia masih memiliki alasan itu, tapi sekarang…

"Kali ini aku akan mengalahkanmu!" seru Gentarou, menatap Zodiart yang ada di depannya.

"Aku tidak akan kalah," kata Zodiart itu, membuat Gentarou merasa kesal.

Dengan cepat ia menekan semua switch yang ada di beltnya kemudian menekan tuas dan dirinya pun berubah menjadi Kamen Rider Fourze.

"Kita lihat nanti," kata Gentarou, segera menerjang monster yang membuatnya merasa kesal itu.

Kengo dan Yuki memperhatikan pertarungan mereka. Rasa aneh muncul di benak Kengo, pertarungan Gentarou tidak seperti biasanya. Gentarou biasanya tenang dan tidak akan terbawa oleh irawa lawannya. Tapi ini… pertarungan Gentarou berantakan, penuh dengan amarah dan tidak terkontrol.

Kalau begini terus, ia tidak akan menang…

"Kau menyedihkan sekali…," kata Zodiart itu, ketika tak ada satu pun serangan Gentarou yang berhasil melukainya.

"Kau itu yang menyedihkan, bergantung pada kekuatan monster seperti itu," balas Gentarou, melancarkan tendangan namun segera dielakkan oleh zodiart tersebut.

"Demi tujuanku, menjadi monster pun tak masalah," tandas zodiart itu, mengirimkan ledakan ke arah Gentarou yang berhasil kena telak.

Gentarou terpental jauh, meski dilindungi oleh suit ia masih bisa merasakan sakitnya terkena ledakan itu.

"Kalau begitu, mungkin kau bisa beritahu aku alasanmu kenapa kau bertarung seperti ini?" tanya Gentarou segera bangkit dan bersiap menyerang kembali.

"Orang kasar sepertimu tak akan mengerti," balas monster itu kembali beradu otot dengan Gentarou.

Gentarou berhasil memukul wajah Zodiart itu secara telak, namun sebelum terhempas Zodiart itu menendang tubuh Gentarou hingga tersungkur.

Gentarou segera mengaktifkan salah satu swicthnya, dengan segera sebuah bor berwarna kuning muncul di salah satu kakinya.

Sebelum monster itu bisa bangkit, Gentarou menerjang ke arahnya, mengarahkan kaki bornya ke wajah zodiart itu. Zodiart itu mengelak di saat-saat terakhir, membuat bor Gentarou menembus tanah.

"Aku tidak bisa kalah di sini, kalau tidak… mereka bisa…," gumam Zodiart itu, tak Gentarou pahami.

'Mereka'? Siapa yang ia maksud? Tanya Gentarou dalam hati.

Tapi, ia tidak punya waktu untuk memikirkan masalah monster itu, itu bukan urusannya.

Zodiart itu mengacungkan tangan, sepertinya akan kembali membuat ledakan, tapi Gentarou terpaku saat tangan itu bukan di arahkan kepadanya, tapi kepada…

"Sial, Yuki, cepat lari," kata Kengo, segera bangkit dan menarik Yuki bersamanya. Tubuhnya terasa berat dan sakit, namun bila ia tidak lari, ia tahu Yuki dan dirinya bisa langsung berakhir di alam kubur.

Gentarou merasa waktu seperti berhenti. Hati kecilnya mengatakan untuk segera melindungi mereka berdua.

'Tapi, untuk apa?' tanyanya pada dirinya sendiri.

Mereka bukan siapa-siapa, cuma pemuda sekarang dan gadis cengeng saja.

Tidak layak untuk dilindungi.

'Benarkah begitu?' tanyanya pada dirinya lagi.

Yuki yang tersenyum padanya, tidak takut meski ia yankee. Kengo yang berani menghadapinya meski ia sakit-sakitan.

Ketika melihat mereka, Gentarou mengerti, Yuki dan Kengo sebenarnya sama seperti dirinya. Orang yang kesepian, tidak disukai oleh orang lain, tapi bedanya, mereka sudah memiliki satu sama lain. Dunia mereka terkucil, tapi mereka tetap memilih untuk melindungi orang lain yang telah menyakiti mereka.

Bully, pandangan dingin, cemooh…

Gentarou tahu betul rasanya, tapi ia sudah belajar untuk tidak mempedulikan semua itu.

Tapi mereka?

Kenapa masih mau mengambil resiko demi orang lain? Kenapa masih mau tersenyum pada dirinya yang bersikap kasar dan tak menghargai mereka?

"SIIAAAALLLL!" teriak Gentarou, segera berlari ke arah Kengo dan Yuki, menjadikan dirinya tameng.

Saat ledakan itu mengenai dirinya, Gentarou terhempas jauh, rasa panas dan rasa sakit menyerang tubuhnya. Ia sempat bertanya, apa ia menyesal sudah melindungi kedua orang aneh itu?

Tidak… anehnya tidak…

Sedikit merepotkan sih, tapi ia tidak merasa menyesal.

"Kau…," Zodiart itu tercengang, begitu pula Kengo dan Yuki.

Gentarou perlahan bangkit, badannya sedikit limbung tapi ia berusaha untuk berdiri tegak.

"Kalau mereka mati, aku bisa susah," kata Gentarou dengan lantang.

Kengo dan Yuki terpana namun sang gadis segera tersenyum sementara Kengo masih merasa kebingungan dalam hatinya, apakah karena terluka parah omongan Gentarou jadi ngawur?

"Ternyata kau juga…," gumam Zodiart itu tampak ragu.

"Aku tak tahu apa orang-orang seperti mereka cocok untuk menjadi 'alasan bertarung' tapi yang jelas, kalau mereka mati, aku bisa susah," jelas Gentarou lagi, mengambil ancang-ancang untuk kembali menyerang.

Mendengar hal itu, senyum tipis hadir di bibir Kengo, tangannya meraih lengannya yang terluka.

Alasan untuk bertarung ya? Ia melirik Yuki yang sedang memberi semangat pada Gentarou meski yankee itu tidak memperdulikannya. Demi sesuatu, demi seseorang, semuanya bisa dilakukan, bisa dilalui.

Aneh rasanya Gentarou sudah menjadikan dirinya dan Yuki sebagai 'alasan bertarung' tapi…

Ia melihat punggung Gentarou yang tengah bertarung dengan Zodiart yang kini tampak ragu dan terguncang, mungkin… selama ini Gentarou cuma kesepian.

Kesepian, entah karena apa, yang jelas Gentarou selalu sendiri.

Sikapnya yang dingin dan kasar cuma untuk menutupi lubang di hatinya. Kengo tahu betul, karena ia melakukan hal yang sama sebelum bertemu Yuki.

Dulu pun ia sempat ragu untuk melakukan semua ini, membuat switch, bertarung dengan monster… untuk apa? Ia sakit berat, bisa mati kapan saja, untuk apa melindungi dunia bila sebentar lagi ia akan meninggalkannya. Ia tidak punya seorang pun yang bisa ia lindungi. Ia tidak punya alasan untuk melindungi orang lain yang tidak peduli padanya.

Sebelum Yuki muncul, gadis itu seperti meteor yang tiba-tiba jatuh ke dunianya yang sempit.

Aneh memang, tapi begitu mengenal Yuki, Kengo merasa ia bisa melakukan ini semua. Karena ia masih ingin hidup, bertemu dengan Yuki, menjalani kehidupan di sekolah senormal yang ia bisa, ia tidak mau semua ini hilang.

Apa Gentarou merasakan hal yang sama dengannya sekarang?

Entahlah… Kengo tak paham pola pikir yankee yang kasar itu, tapi…

Mungkin, ia bisa mencoba untuk lebih akur dengan Gentarou, ya, ia akan mencobanya, tapi ia tidak janji apakah hasilnya baik atau buruk nanti…

"Limit Break!"

Gentarou siap untuk menghancurkan Zodiart yang ada di depannya, sosok yang sudah membuatnya frustasi selama beberapa hari ini. Kali ini berbeda dari biasanya, Zodiart itu tampak menyerah dan menerima nasibnya.

Seperti kehilangan semangat bertarung…

Zodiart itu terkejut saat serangan Gentarou meleset, beberapa centimeter lagi mengenainya tapi tetap meleset.

Gentarou diam dan memandang Zodiart yang terpaku ditempatnya.

"Undo perubahanmu," kata Gentarou, membuat Zodiart itu kaget.

Gentarou mengundo perubahannya, membuat orang-orang yang ada di belakangnya kaget bukan kepalang. Zodiart yang ada di depannya pun hanya terpana.

Tapi, Zodiart itu menekan switch hitam yang ada di depannya, membuatnya kembali ke wujudnya sebagai manusia.

"Aku tidak tertarik bertarung dengan orang yang sudah kehilangan semangat bertarung," kata Gentarou tegas. Ia memperhatikan orang yang memegang switch hitam itu.

Pemuda biasa, kurus, lebih pendek darinya, matanya berkantung dan pucat, seperti Kengo saja. Tapi sepertinya itu semua karena penggunaan switch Zodiart itu, karena swicth itu menguras energi kehidupan sang pemakai.

"Aku harus melindungi mereka… tapi…," gumam pemuda itu.

"Mereka?" tanya Gentarou.

"Aku tinggal di panti asuhan, tapi panti asuhanku sekarang terkena hutang besar, penagih hutang kerap datang dan mengancam panti asuhan akan ditutup bila hutang tidak segera dibayar," cerita pemuda yang merupakan murid AGHS itu.

Gentarou diam mendengarnya. Panti asuhan? Ah… begitu rupanya, ternyata pemuda itu juga yatim piatu.

"Tapi, hutang itu bukan dari panti asuhan kami, ada orang yang menggunakan nama panti asuhan kami untuk membuat hutang," jelas pemuda itu lagi, terlihat getir dan putus asa.

"Karena itu kau menjadi Zodiart? Untuk melindungi panti asuhan itu?" tanya Kengo yang menghampiri mereka, mengingat pertarungan tampaknya sudah selesai.

"Aku tidak punya pilihan lain…," gumam pemuda itu, menatap switch di tangannya dengan tatapan aneh. Namun, sebelum ia bisa menekannya kembali, switch itu sudah direbut Gentarou.

"Menyedihkan sekali bergantung pada switch seperti ini," kata Gentarou, ia menjatuhkan switch itu ke tanah kemudian menginjaknya sampai hancur.

"Apa yang kau lakukan!?" pekik pemuda itu kaget bukan kepalang.

"Kau harus melindungi mereka dengan tanganmu sendiri!" seru Gentarou, membuat pemuda itu terpana.

"Mungkin jebakan hutang itu memang diset untuk menghancurkan panti asuhanmu," kata Kengo, membuat pemuda itu seperti ditampar.

"Untuk apa memangnya? Itukan kejam sekali," tanya Yuki.

"Mungkin untuk memiliki tanah dari panti asuhan itu, atau sekedar balas dendam ke orang yang memiliki panti asuhan itu. Aku curiga ini ada hubungannya dengan yakuza," kata Kengo sambil berpikir, sayang masalah ini terlalu berat, murid seperti mereka bisa melakukan apa?

"Ho… Yakuza? Sudah lama aku ingin mencoba bertarung dengan yakuza, hei kau, markas mereka ada dimana? Kau pasti tahu," kata Gentarou, membuat Kengo dan Yuki tercengang lagi, yankee itu memang penuh kejutan.

"Kisaragi! Itu terlalu berbahaya! Jangan cari masalah dengan dunia hitam!" seru Kengo marah. Gentarou menoleh ke arahnya dengan seringai serigala.

"Tenang, kan ada ini," katanya enteng, mengayunkan belt yang ada di tangannya.

"Apa?! Fourze dibuat untuk mengalahkan Zodiart, bukan untuk bertarung dengan yakuza, dasar bodoh!" seru Kengo semakin marah.

"Ah berisik, intinya kan sama-sama melawan orang jahat, tenang, tak akan ada masalah," kata Gentarou enteng, ia menarik pemuda yang tak ia ketahui namanya itu.

"Ayo pergi ke markasnya!" katanya, kelihatan bersemangat.

Kengo hanya terpana di tempat, ingin menghentikan perbuatan bodoh itu tapi anehnya ia hanya diam.

Yah, mungkin tidak apa-apa ya?

"Kengo-kun tidak ikut?" tanya Yuki dengan wajah ceria, seakan menyerang markas yakuza seperti piknik melihat bunga sakura.

"Tidak, ini kan bukan pertarungan melawan Zodiart, biarkan saja. Tapi awas kalau sampai terjadi sesuatu nanti, aku tidak mau tahu," kata Kengo, membereskan tasnya.

Yuki hanya tersenyum dan mengikuti Kengo yang pergi menjauh.

"Setidaknya, yang Gentarou-kun lakukan tidak salah, tugas Kamen Rider memang membasmi kejahatan kan?" kata Yuki, Kengo hanya memutar matanya.

"Aku cuma berharap ia tidak menarik perhatian banyak orang awam, bisa bahaya nanti," kata Kengo kelihatan pusing, tapi ada senyum di sudut bibirnya.

Yuki ikut tersenyum melihatnya. "Tidak akan terjadi apa-apa, kan Gentarou-kun akan melindungi kita!" seru Yuki, membuat Kengo hanya tertawa kecil.

"Aku juga akan melindungi Kengo-kun dan Gentarou-kun sebisaku! Oh ya! Mulai besok aku buatkan Gentarou-kun bekal makanan juga deh, kayaknya dia jarang makan siang juga," seru Yuki mulai sibuk bicara sendiri.

Kengo hanya tersenyum mendengarnya. Tangannya meraih lengannya yang luka karena terkena bully.

"Karena itu, Kengo-kun, kalau ada masalah, cerita padaku ya," kata Yuki lagi dengan senyuman tulus. Kengo tersentak, kemudian ia mengangguk cepat.

"Iya… terima kasih…"

Mungkin, bukan cuma dirinya dan Gentarou saja yang butuh alasan untuk bertarung. Yuki juga… alasannya untuk ikut campur dalam masalah berbahaya ini…

Yuki berlari kecil di depannya, tampaknya bersemangat entah karena apa, ia berbalik dan tersenyum pada Kengo dan mengatakan pada pemuda itu untuk berjalan lebih cepat.

"Ayo cepat Kengo-kun!" katanya sambil tersenyum.

Kengo mengangguk, ia berlari kecil mengikuti Yuki. Mungkin… bila besok para siswa itu datang membullynya lagi, ia akan menghajar mereka, atau setidaknya, meminta Gentarou untuk menghajar mereka. Tidak buruk kan?

Tbc


Perkembangan yang sangat aneh, maaf ya, makin lama jadi makin ngawur

Yosh, review bila berkenan