Title : Trouble Friendship
Author : Minhyan-ssi
Pairing : Yunjae
Legh :3 of ?
Ratting : PG-17
Genre : Drama, Fluff, Romance, NC, Mpreg, Yaoi and a little straigh
Cast : – Jung Yunho – Kim Jaejoong – Etc
Happy reading all. . .
P.O.V Author
" Park Yoochun," panggil Jaejoong merasa suprise kedatangan Yoochun – mantan kekasihnya, di kantornya (Jaejoong).
Yoochun menutup lagi pintu ruang kerja Jaejoong dan berjalan menghampiri namja cantik itu.
" Chunnie, ada apa?" Jaejoong beranjak, berdiri ke sisi samping meja kerjanya.
Grep~ Jaejoong terhenyak kedua kali, Yoochun begitu saja memeluknya tanpa permisi.
" Bogosipo, Joongie-ah," bisik Yoochun, agak meniup daun telingan Jaejoong. Ia tahu betul di situ merupakan salah satu titik kelemahan namja cantik ini.
" Nghh… Chunhh…"
" Kau semakin cantik, Kim Jaejoong." Yoochun memandang wajah cantik Jaejoong, dalam. Perlahan, ia mendekatkan bibirnya dengan bibir Jaejoong.
Chu~ Ia melumat, merasakan lagi bibir cherry Kim Jaejoong yang selama lima tahun terahir tidak pernah ia rasakan lagi.
Jaejoong merasakan degup jantungnya mulai 'berulah'. Tanpa sadar ia sudah mengalungkan tangannya pada leher Yoochun, membiarkan namja casanova ini 'memperlakukan' bibirnya sesuka hati. Jaejoong menikmati setiap ciuman Yoochun, namun dalam waktu bersamaan, ada perasaan tidak enak yang mengganjal dan mengganggu. Entah perasaan apa, Jaejoong sendiri juga tidak pernah mengerti.
" Park Yoochun, cukup," sergah Jaejoong dengan nafas memburu.
" Tapi aku masih merindukanmu." Yoochun hendak mencium Jaejoong lagi. Tapi buru-buru Jaejoong menahannya.
" Ini sudah lebih dari cukup. Kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi, kau harus ingat itu, Park Yoochun."
" Arrasso. Tapi kau juga menikmati yang barusan, bukan? Kita masih saling mencintai, Jae. Dan aku mau, kita memulai semuanya dari awal lagi."
" Oppa, awas!" teriak Soo Jin.
Yunho menyetir tidak terlalu fokus, ia tak melihat anak kecil menyeberang dan hampir saja ia tabrak seandainya tidak secepat mungkin ia mengerem sekuat tenaga mobilnya.
" Oppa, cepat keluar. Anak itu sepertinya terjatuh di depan sana."
Dengan masih dipenuhi keterkejutan, Yunho segera keluar dari mobilnya. Soo Jin pun mengikutinya.
" Hiks… hiks… EOMMA… ! HUWE… EOMMA… ! hiks…"
Yunho terdiam langsung, matanya menerawang sosok kecil yang tertelungkup di jalan aspal – di depan mobilnya sambil menangis sangat histeris. Yunho merasa sangat mengenali suara tangisan seperti ini.
" Kim Moon Bin!" cetus Yunho. Ia dengan sigap menarik tubuh sosok kecil itu dan menggendengnya.
" Hiks… lepaskan aku… lepaskan aku… EOMMA…!"
Yunho agak kesulitan memastikan wajahnya karena anak kecil ini terus meronta sambil memukuli pundaknya (Yunho).
" Sayang… tenang… Ahjussi bukan orang jahat." Yunho harus berusaha keras untuk meredakan anak ini dan memastikan semuanya.
" Appa Bear…" lirih anak itu beberapa saat – setelah Yunho berhasil menenangkannya. Ia memeluk leher Yunho, masih sambil sesegukan.
" Ne, Binnie. Ini appa." Yunho menepuk-nepuk punggung anak itu atau tepatnya Moon Bin. Sejuta pertanyaan muncul di benaknya, bagaimana bisa Moon Bin berada jalanan sendirian seperti ini? Apalagi daerah ini cukup jauh dari apartemen Jaejoong atau pun sekolah Moon Bin.
—
Yunho mengeratkan pelukannya pada Moon Bin yang duduk di pangkuannya. Ia mulai geram dan emosi, setelah Moon Bin mengadukan semua apa yang terjadi.
" Kim Jaejoong, sialan kau!" gertak Yunho. Ia tanpa sadar memukul keras setir mobilnya di hadapan Moon Bin. Moon Bin yang terkaget dengan tindakan marah Yunho, jadi kembali menangis. Namja kecil ini butuh ketenangan.
" hiks… hiks EOMMA….!"
" Baby, mianhae. Appa Bear tidak sengaja." Yunho kembali panik, tapi hatinya tak berhenti mengutuki Jaejoong.
Jaejoong tidak menjemput ke sekolah, padahal semalam Moon Bin sudah berulang kali berceloteh bahwa hari ini ia akan pulang lebih cepat dan Jaejoong, selalu mengiyakannya. Moon Bin terus menunggu Jaejoong sampai semua temanya telah dijemput orangtua masing-masing. Gurunya tidak bisa menemani Moon Bin karena alasan pulang lebih awal adalah memang hari ini para guru ada rapat dengan pemimpin yayasan. Moon Bin yang tak tahan menunggu sendirian, memutuskan pulang sendiri berjalan kaki. Namun di tengah jalan, ia tersesat. Moon Bin belum lama tinggal di Seoul, wajar kalau ia belum hafal jalanan di sini. Beruntung ia bertemu dengan Yunho.
" Moon Bin~ah." Soo Jin mengelus kepala Moon Bin, membantu Yunho menenangkan?
" Dia anak Kim Jaejoong, sahabatmu itu?"
" Ne, tapi ibunya pergi setelah melahirkan Moon Bin. Pada kondisi tertentu, Moon Bin akan menganggap Jaejoong itu ibunya karena ia dibesarkan oleh Jaejoong seorang diri." Yunho tidak asal berbohong. Alasan ini adalah Jaejoong yang mengajarkannya. Namja cantik itu tak ingin dunia tahu kalau ia terlahir istimewa – bisa hamil. Kalau Moon Bin kelepasan bicara – memanggilnya Eomma di depan orang lain, Jaejoong selalu beralasan seperti itu. Yunho agak keberatan sebetulnya, namun ia sangat menghargai Jaejoong.
" Anak Jaejoong berarti anakku juga. Aku harap kau tidak berpikir macam-macam dan menganggap tindakanku ini berlebihan, Soo Jin-ah."
Soo Jin tersenyum penuh arti pada Yunho.
" Mianhae, Soo Jin-ah. Acara makan siang dan jalan-jalan berdua kita ke mall ini, sekarang jadi bertiga karena aku harus mengajak Moon Bin," ujar Yunho merasa bersalah pada Soo Jin, saat malam pertama mereka, ia malah menghabiskan waktu semalaman bersama Jaejoong. Dan hari ini sebetulnya Yunho dan Soo Jin bermaksud menghabiskan waktu berdua mereka secara romantis, tapi di tengah jalan bertemu Moon Bin yang butuh pertolongan. Jujur saja, Yunho semakin tak enak pada Soo Jin tapi ia tak mungkin mengabaikan anaknya sendiri yang dalam kondisi seperti itu.
Yunho berkeliling di dalam salah satu mall besar di pusat kota Seoul, sambil menggendong Moon Bin yang aktif berceloteh dan Soo Jin berjalan di samping keduanya.
" Oppa, jangan merasa bersalah begitu. Aku rasa ini sudah romantis, orang-orang yang melihat kita sekarang pasti berpikir kita adalah keluarga bahagia. Aku ibunya, kau ayahnya dan Moon Bin anak kita." Soo Jin berkata dengan ceria, membuat rasa bersalah Yunho semakin besar.
Yunho melirik pada pengunjung lain, benar, mereka tersenyum ke arah mereka bertiga. Ia tersenyum kecut. Moment seperti ini tidak mungkin bisa ia lewati dengan Jaejoong, sekarang saja namja cantik itu sudah melupakan anak mereka – Moon Bin.
" Tuan, Nyonya, tunggu sebentar," panggil seorang penjaga toko ice cream.
Yunho dan Soo Jin menghentikan langkan mereka, lalu menghampiri penjaga toko tersebut.
" Maaf Nona kam–"
" Appa… ice cream…." Moon Bin menarik-narik kerah mantel Yunho dan memotong ucapan ayahnya, barusan.
" Satu buah ice cream, gratis untuk anak yang manis ini."
Moon Bin menerima dengan girang uluran ice cream dari penjaga toko itu.
" Ini benar gratis, Nona?" tanya Yunho.
" Iya, Tuan. Hari ini adalah launching toko ice cream kami, kami memberikan ice cream gratis pada anak-anak yang sedang berjalan-jalan di sini bersama ayah dan ibunya."
Perasaan Yunho semakin teriris. Andai yang di sampingnya kini adalah Jaejoong. " Gomawo, Nona."
" Cheomanayo, kami tunggu keadatangan tuan lain waktu."
—–
" Kau sudah selesai, Joongie?" tanya Yoochun. " Ne, aku sudah selesai," balas Jaejoong sambil menaruh sendoknya di piring. Ia lalu mengambil tissu untuk membersihkan sekitar bibirnya.
" Aish, orang itu kalau membawa anak ke dalam restoran begini harusnya dijaga, tidak dibiarkan berlari-larian begitu," komentar Yoochun melihat seorang anak kecil berlari-larian di dalam restoran – tempat ia dan Jaejoong makan siang bersama, setelah tadi berkeliling di dalam mall ini.
DEG~ Jaejoong mematung seketika. Ia melupakan sesuatu yang sangat penting.
" Moon Bin." Gumam Jaejoong mendadak panik sendiri.
Yoochun yang baru saja menoleh padanya jadi menyeritkan dahi, bingung.
" Ada apa, Jae?"
" Anakku, aku lupa menjemput anakku."
Yoochun mengepalkan tangannya. Jadi Jaejoong sudah menikah? Sial.
" Kau telpon saja istrimu, biar dia yang menjemput anakmu."
" Aku tidak punya istri." Jaejoong beranjak, sudah siap untuk pergi.
Yoochun semakin mengerutkan dahinya. Tidak punya istri, bagaimana bisa mempunyai anak?
" Ceritanya panjang, Yoochun-ah. Aku harus pergi sekarang, lain kali akan kuceritakan padamu."
Baru berjalan satu langkah, tangan Jaejoong sudah ditahan Yoochun.
" Tunggu, aku ikut denganmu," ujar Yoochun.
Jaejoong cukup terkejut.
—
Buk~
" Hey! Kal–" Yunho tak jadi melanjutkan memakinya pada orang yang baru saja bertabrakan dengannya (Moon Bin yang digendong Yunho). Terhenti karena orang itu adalah orang yang sedang ia cari-cari sekarang.
" Soo Jin-ah, bisakah aku titip Moon Bin sebentar padamu?"
" Tentu saja, Oppa."
Yunho tersenyum pada Soo Jin, ia memindahkan Moon Bin dalam gendongan Soo Jin.
" Ayo ikut aku." Yunho menarik tangan orang itu dan menyeretnya paksa entah akan kemana.
" Eomma… Appa Bear…" teriak Moon Bin pada Yunho mulai menjauh sebari menyeret orang tadi yang ternyata adalah Jaejoong.
" Moon Bin di sini sebentar dengan Ahjumma, ya? Appa Bear-mu sedang ada urusan dengan Eomma-mu." Soo Jin mencoba memberi pengertian.
" Mereka akan segera kembali kan, Ahjumma?" tanya Moon Bin, yang sudah mulai akrab dengan Soo Jin.
" Ne, Sayang." Soo Jin mengelus puncak Moon Bin.
" Park Soo Jin, bagaimana kabarmu?" tanya Yoochun yang keadaannya tidak jauh dengan Soo Jin – sama-sama ditinggalkan 'pasangannya'.
" Yoochun, Oppa. Kapan kau kembali dari Amerika?" Soo Jin balik bertanya. Ia kenal ia tahu banyak tentang Yoochun karena mereka berdua adalah saudara sepupu.
" Seminggu yang lalu," jawab Yoochun sambil berjalan mendekati posisi berdiri Soo Jin. " Sudah seminggu, tapi kenapa kau tidak menghadiri pernikahanku?"
" Karena aku tidak menyukai Jung Yunho."
" Wae? Apa suamiku sudah berbuat sesuatu yang melukaimu?"
—
" Sekali lagi kau menyakiti Moon Bin, akan kubuat kau lebih sakit dari pada ini."
" Mmpphh…" desah Jaejoong, namun tertahan oleh tangan Yunho yang membungkam mulut. Kedua tangannya mencengkram erat lengan Yunho yang melingkar di pinggangnya. Butir-butiran air mata berjatuhan dari sudut mata indahnya. Sakit. Luar biasa sakit kini Jaejoong rasakan tidak hanya pada raganya namun juga batinnya. Di belakang sana, Yunho tengah menyetubinya secara kasar dan penuh amarah. Ini berkali-kali lipat lebih sakit dari yang kemarin.
Yunho menyeretnya ke dalam salah satu bilik kamar mandi, dalam waktu singkat celana keduanya telah ditanggalkan. Yunho membalik tubuh Jaejoong sehingga menghadap ke tembok, tanpa sentuhan sedikitpun, Yunho langsung memasukan juniornya ke dalam hole Jaejoong dan mengoyaknya kasar.
" Aaakhh…" desah Yunho setelah ia mencapai puncaknya. Ia 'melepaskan diri' dari Jaejoong juga secara kasar.
" Akh!" pekik Jaejoong meringis kesakitan.
Sret~ Yunho membalik lagi tubuh Jaejoong lalu mendorongnya ke dinding.
"Auww…" rintih Jaejoong karena punggungnya membentur dinding.
Yunho menarik dagu Jaejoong, mata musangnya menerawang jauh ke dalam mata indah namja cantik itu, seolah memberitahukan emosi besarnya melalu mata tersebut.
" Mi-mianhae, Yunnie…" ucap Jaejoong. Tubuhnya bergetar hebat, ia tahu Yunho sedang marah besar padanya. Di benaknya, ia tak berhenti mengutuki kebodohan terparah yang baru saja ia lakukan.
" Kau keterlaluan, Kim Jaejoong. Demi Park Yoochun sialan itu, kau melupakan anakmu sendiri. Kau tahu tadi dia menunggumu sangat lama, kau tahu tadi dia tersesat? KAU TAHU TIDAK, KIM JAEJOONG BODOH!" teriak Yunho.
Jaejoong memilih diam, ia sadar ini sepenuhnya adalah kesalahannya. Ia tak akan melawan, apapun yang akan Yunho lakukan padanya.
" KENAPA DIAM? AYO JAWAB! KAU TIDAK, HUH?!" Yunho mencengkram dagu Jaejoong.
" Mi-mianhae, Yunnie…"
" Baru bertemu kembali dengan Park Yoochun sialan itu saja kau sudah lupa dengan Moon Bin, apalagi kalau kalian menjalin hubungan lagi? Aku yakin kau tidak akan lagi mengakuinya sebagai anakmu. AKU TIDAK SUKA ANAKKU DIPERLAKUKAN SEPERTI ITU!"
Buk~ Kali ini Yunho membenturkan tubuh Jaejoong pada dinding lebih keras lagi. " Mian… nghh…" ucap Jaejoong sambil menahan sakit di punggung.
Yunho menatap sinis pada Jaejoong, ia sambil memakai kembali celananya.
" Mulai detik ini, kau bisa tenang dan leluasa berbuhungan dengan namja sialan itu. Kau tidak perlu terbenani Moon Bin lagi, karena Moon Bin akan tinggal bersamaku." Yunho merapikan pakaiannya dan mulai beranjak pergi.
" YUNNIE, TUNGGU! akh!" Jaejoong bergegas memakai celananya kembali, meskipun dengan bersusah payah menahan sakit di tubuh bawahnya. Dan mengejar Yunho.
—
" Ayo kita pergi dari sini." Yunho menarik tangan Soo Jin, mengajaknya pulang sekarang juga.
" Yunnie, jangan bawa Moon Bin. Aku mohon…" Jaejoong berusaha menarik Moon Bin dari gendongan Soo Jin, tapi Yunho menghalaginya.
" Kau hidup saja dengan namja sialan itu dan lanjutkan melpakan Moon Bin kalau perlu." Sesaat Yunho melirik pada Yoochun, sebelum ahirnya benar-benar menarik Soo Jin melangkah pergi. Yunho nampak tidak peduli, Soo Jin yang kebingungan dan Moon Bin yang tangisnya pecah lagi – memanggil-manggil Jaejoong.
" Moon Bin!" Jaejoong hendak mengejar Yunho kembali, namun dengan sigap tubuhnya ditahan Yoochun.
" Jangan selesaikan masalah dengan emosi. Biarkan Yunho tenang dulu."
" Anakku dibawa Yunho, Chunnie." Jaejoong mulai melunak.
" Dia mungkin hanya sedang emosi." Yoochun membawa Jaejoong dalam pelukannya, membiarkan namja cantik itu meluapkan tangis yang sejak tadi ia tahan. Yoochun melihat ke sekeliling mall, beruntung tidak banyak orang yang melihat kejadian di antara Jaejoong dan Yunho.
Ting~ Tong~
Jaejoong menekan bel rumah Yunho dengan nampak tidak sabaran. Ia tidak bisa tenang sebelum dapat membawa Moon Bin pulang.
Cklek~ Pintu terbuka dan munculah Soo Jin dari dalam.
"Annyeong, Soo Jin-ssi." Jaejoong agak membungkukkan badan.
" Maaf, kau siapa ya?" tanya Soo Jin. Ia merasa namja cantik di hadapannya kini tidak asing lagi, namun ia tidak ingat namanya.
" Kau sudah melupakanku? Padahal tadi siang kita baru bertemu. Aku Kim Jaejoong."
Soo Jin tersenyum tipis. ' Seperti ini ternyata sosok asli Kim Jaejoong. Seorang namja tapi kulitnya putih mulus, pinggang ramping, rambut lurus, wajah cantik. Menjijikan sekali selera si bodoh Jung Yunho itu.' Kata Soo Jin dalam hati.
" Soo Jin-ssi, kau masih disitu?" Jaejoong mengibaskan tangannya di depan wajah Soo Jin, karena yeoja cantik ini melamun.
" Ah, mianhae, Jaejoong-ssi. Aku malah melamun." Soo Jin menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tertawa kecil.
" Soo Jin-ssi."
" Ne."
" Bolehkah aku bertem–"
" Tidak semudah itu kau bisa bertemu dengan Moo Bin, Kim Jaejoong." Tiba-tiba Yunho muncul dan memotong ucapan Jaejoong.
" Yun- Yunnie."
" Pergi kau dari rumahku, aku tidak akan menyerahkan Moon Bin begitu saja padamu."
Brak~ Yunho menutup pintu rumahnya kembali dengan kasar.
" Soo Jin-ah, cepat kau masuk ke dalam. Jangan sekali-kali membukakan pintu untuk Kim Jaejoong. Arasso?"
" Ne, Oppa."
" JUNG YUNHO! HEY! BUKA PINTUNYA JUNG YUNHO!"
Yunho menoleh ke arah pintu sebentar, namun ia kemudian berlalu begitu saja kembali ke ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya.
~ TBC~
