Hate, Hurt, Kill Me Now!

The Reason

CHAPTER 3

Warning! YAOI, Semi-antagonis!Main chara, M-PREG bikin muntah (ini serius), Alur tidak beraturan, Typo(s) gak masuk akal.

Pair! Johnny x Ten

NCT adalah punya Sment, saya cuma pinjem nama dan gejolak cinta yang mereka rasakan satu sama lain (?)

.

Happy Reading

.

Hari ini adalah hari ulang tahun perusahaan milik grup Seo. Jadi, bisa ditebak laki-laki itu tak menampakkan batang hidungnya di sekolah untuk mengikuti segala tetek-bengek rangkaian acara perayaan penghambur uang itu. Di saat seperti ini, Ten ingin sekali tinggal di rumah dan bergelung dalam selimut hangatnya. Secara, ini pertengahan musim gugur yang dingin. Hujan suka datang tiba-tiba serta membawa angin sedingin milik musim salju. Sungguh tidak adil.

Ditemani Taeyong, Ten menikmati makan siangnya di tribun lapangan sepak bola. Tidak biasanya ia menampakkan diri di tempat ramai seperti itu. Karena dalam sekejap, pasti anak-anak perempuan akan mengerubunginya. Kehadiran Taeyong memperburuk suasana. Tapi, hari ini dia ingin keluar dari gudang berdebu itu. Menikmati hari sebagai siswa biasa.

"Aku 'kan sudah bilang, bawa sumpitmu sendiri. Johnny itu bawa sumpit sendiri makanya dia bisa makan denganku. Menyusahkan." Ten menggerutu saat tidak melihat Taeyong mengeluarkan alat makannya. Jadi, dia menyodorkan telur gulung ke pengikutnya dengan sumpitnya.

"Tuan..."

"Makan. Aku tidak mau pengikutku mati kelaparan."

Akhirnya mereka menghabiskan bekal makan siang Ten berdua dengan sang pemilik menyuapi pengikutnya.

Saat itu, Taeyong menemukan eksistensi perempuan cantik tengah duduk di seberang lapangan dengan bekalnya juga. Wajahnya terasa tidak asing. Mungkin mereka beberapa kali berpapasan di lorong, tapi Taeyong merasa pasti ada hal lain yang membuatnya tampak familiar.

"Kenapa kau memperhatikan Irene?" tanya Ten.

Taeyong langsung mengingat gadis itu. Orang yang dijodohkan dengan Johnny sekaligus sosok yang ingin Ten singkirkan.

"Tuan tidak bertindak? Hari ini pertemuan perempuan itu dengan Johnny."

Hampir saja Ten lupa pada masalah ini. Matanya membulat tanpa sadar. Beberapa saat kemudian dahinya berkerut tanda tengah merencanakan sesuatu.

"Tuan..."

"Aku tidak bisa berpikir."

.

Perhelatan itu berlangsung megah. Aula gedung penyiaran CBS disulap menjadi ruang pesta dengan dominan warna biru dan silver yang membuat ratusan pasang mata membelalak takjub. Tak tanggung-tanggung, sepertinya pemilik acara ingin menggunakan semua uangnya untuk memanjakan para tamu sebagai rasa syukur atas kesuksesan perusahaannya. Juga mungkin, menyelipkan sedikit rasa ingin pamer dan niat terselubung lainnya.

Johnny menahan bibirnya agar tetap melengkung ke atas. Terhitung hampir dua jam dia berdiri, mengikuti ayahnya kesana-kemari untuk diperkenalkan sebagai putra tunggal sekaligus calon penerus perusahan yang sedang berulang tahun itu. Ia harus bertahan untuk bersikap sebagai seorang pria santun dan berbudi di tempat itu jika tidak ingin nyawanya melayang malam itu juga di tangan sang ayah. Padahal tangannya sudah gatal ingin mengobrak-abrik meja para tamu lalu bernyanyi rock di atas panggung. Suasana formal ini membunuhnya perlahan.

Ah, seandainya Ten ada disini.

"Johnny, bersiaplah." Bisik sang ayah saat tak ada seorang pun tamu menghampiri mereka.

"Kenapa?"

"Keluarga Bae sudah datang."

Seketika perasaan Johnny berubah seratus delapan puluh derajat. Ia menjadi antusias dengan pesta itu.

Saat keluarga Bae mendekati kedua laki-laki sang pemilik acara, jantung Johnny tak berhenti menyerukan degup-degup menyenangkan sampai sesak rasanya. Dia melihat sosok cantik Irene di samping ayahnya menggunakan dress pink pendek berkilauan. Seketika, ruangan itu jadi serasa gelap karena satu-satunya yang menarik untuk dilihat hanyalah sosok cantik itu. Johnny mati-matian mengatupkan bibirnya agar tidak tersenyum terlalu lebar berkat kebahagiaannya.

"Tuan Seo." Ayah Irene menyalami ayah Johnny. Ia seperti telah menunggu saat ini sejak lama. "Maaf kami datang terlambat."

"Ah, tidak. Pesta ini bahkan belum dimulai." Ayah Johnny melirik Irene. "Kalau pemeran utamanya saja baru muncul."

Kedua laki-laki dewasa disana tertawa bersamaan. Sementara itu Irene hanya tersipu malu sembari menundukkan kepalanya.

"Oh, perkenalkan. Ini Seo Youngho, putraku satu-satunya."

Kini giliran Johnny yang mengulurkan tangannya pada sang calon mertua.

"Yeoksi... Tampan seperti ayahnya. Ah! Irene."

"Annyeonghaseo, Bae Jo Hyun imnida."

"Cantik dan tampan. Serasi sekali." Komentar ayah Johnny.

Sedari tadi, mata Johnny tak teralih dari sosok Irene yang malu-malu. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Wanita itu seperti sebuah kesalahan yang Tuhan ciptakan. Terlalu sempurna.

Pada saat yang tak diduga, Irena mendongakkan kepalanya. Dia bertemu pandang dengan Johnny. Semburat merah muda terlihat samar di pipinya. Meski begitu, perempuan itu juga tidak kunjung mengalihkan pandangan. Lalu, keduanya tersenyum bersamaan.

.o0o.

Sinar mentari menembus kain korden abu-abu yang bergerak pelan diterpa angin dari ventilasi. Pagi yang sedikit terlambat datang menyapa sesosok namja mungil di ranjang besarnya. Dia menggeliat, merentangkan lengan telanjangnya keluar selimut hingga hawa dingin AC menggelitik kulitnya. Matanya menatap sekeliling. Kamarnya masih sama, terasa familiar dengan ratusan kertas tertempel di dinding, sebuah manekin di pojok ruangan mengenakan gaun pernikahan putih setengah jadi, dan sebuah rak buku besar yang menyimpan segala yang ingin sang pemilik simpan.

Sosok mungil itu lalu menggeliat pelan. Bergerak menuju pusat kasur yang dia kira akan hangat. Tangannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang asing. Dia terlonjak hingga nyaris jatuh dari kasur, tetapi seseorang meraih bahunya. Sesuatu yang asing itu memeluk tubuh kecilnya sambil menyamankan diri tanpa berniat untuk bangun.

"Tenanglah... Masih pagi."

"J-Johnny."

Rambut panjang orang yang memeluknya sedikit tersikap. Menunjukkan mata coklat tuanya yang jernih. Seketika Ten merasa tubuhnya bergetar. Tangannya yang kini bersentuhan dengan dada telanjang Johnny terasa sangat asing. Dia tidak bisa berpikir jernih dengan kehadiran sosok orang yang dicintainya di ranjangnya.

"Kenapa sayang?" tangan besar Johnny menyisir rambut Ten ke belakang telinga. Sentuhan itu semakin membuat Ten kehilangan kesadarannya.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Hmm? Kenapa? Bukannya aku tidur disini setiap hari?" Johnny memberikan kecupan di bibirnya sekilas sebelum akhirnya tersenyum nakal. "Apa yang semalam membuatmu melupakan segalanya ha?"

"A-Apa maksudmu?"

Johnny mendekatkan bibirnya ke telinga Ten. "Kita berusaha membuat adik untuk Herin, Irene-ku."

Tak ada kesempatan untuk Ten berbunga-bunga. Matanya membelalak. Dia mendorong kasar tubuh Johnny, juga menyingkirkan tubuhnya sendiri dari atas ranjang.

"Irene?" Johnny memanggil nama wanita itu lagi. Namun, matanya terfokus pada Ten. Membuatnya bingung setengah mati.

Ten mengedarkan pandangannya. Rak buku miliknya hilang tergantikan dinding polos berwarna kuning, kertas-kertasnya hilang, korden abunya terkoyak, dan gaun setengah jadi di pojok kamar kini kusam. Dia mundur perlahan. Sosok Johnny yang duduk di ranjang seakan menyambutnya dia abaikan.

Brak!

Punggungnya menabrak sesuatu. Saat dia berbalik, sebuah cermin besar berdiri di sana. Memantulkan sosok wanita mungil dengan wajah tanpa cela yang ketakutan. Itu Irene.

"AAAAKH!"

"AAAAKH!"

Tubuhnya serasa jatuh. Dia mengglepar di ranjang sebelum akhirnya bernapas terengah. Semua yang dia lihat gelap. Namun, ini kamarnya. Benar-benar ruang pribadinya. Masih ada banyak kertas tertempel di dinding, juga rak bukunya, dan gaun setengah jadi pojok ruangan. Baru saja itu hanya mimpi. Mimpi buruk.

Ten mendudukkan dirinya di pinggir kasur. Berusaha membuang sisa-sisa ingatan tentang mimpi itu. Sebagian merupakan kenangan dan keinginannya yang terpendam, sebagiannya lagi adalah kesadarannya akan realita.

Dia menatap gaun yang terabaikan sejak beberapa hari lalu. Gaun pernikahan putih itu masih setengah jadi. Belum ada bagian lengannya, belum ada rendanya, pitanya, hanya sebuah gaun putih panjang yang membosankan. Ten berjalan mendekati pakaian itu. Disentuhnya.

Senyuman tipis terukir di wajahnya hanya dengan merasakan halus kain gaun itu.

Betapa beruntung mereka yang bisa memakai pakaian ini. Betapa bahagianya mereka menggunakan pakaian ini dan berjalan di altar dengan seseorang yang menanti di ujung jalan. Seseorang yang memandangnya penuh kekaguman dan kehangatan. Seseorang yang mencintai dan dicintainya.

Tanpa sadar air mata Ten menetes. Hatinya seakan tersayat oleh benaknya sendiri.

Tidak, Ten. Kau sudah menyerah untuk memiliki kisah seperti itu. Lupakan. Lupakan!

"Papa..." cicitan lirih Minhyung membuatnya terperajat. Ten menghapus air matanya secepat mungkin lalu mencari asal suara anaknya itu. "Kenapa?" balita itu berlari tertatih ke arahnya lalu memeluk kakinya.

"Tidak apa-apa. Papa, hanya terbangun." Ten menyejajarkan tingginya dengan Minhyung. Dia mengelus rambut Minhyung penuh kasih sayang.

"Tadi papa belteliak. Papa kenapa?" Minhyung tidak mau menyerah. Tangan kecilnya memeluk leher sang ayah. Saat dia tak kunjung mendapatkan jawaban, Minhyung mulai tak sabar. "Papa!"

Tapi yang didapatkannya hanya balasan pelukan dan suara isakan sang papa yang membuat Minhyung kaget. Dia ingin melihat wajah menangis ayahnya, tapi Ten memeluknya lebih keras lagi sembari menangis tanpa dapat dibendung. Selama ini Ten tidak pernah menangis. Minhyung tidak pernah melihat ayahnya selemah ini. Jadi, dia ikut menangis.

"Papa sangat mencintai ayahmu, Minhyung. Tapi, dia tidak mencintai papa. Dia hanya mencintai gadis cantik yang baik hati. Sedangkan papa orang jahat. Papa ingin merasa dicintai oleh ayahmu, tapi papa tidak pantas mendapatkannya."

Ten tahu, yang baru saja dilakukannya adalah hal konyol. Mana mungkin seorang anak berumur 4 tahun bisa mengerti kata-katanya. Dan ayah –ibu- mana yang dengan bodoh menceritakan masalah hati pada anaknya? Seharusnya dia menyimpan luka hatinya dalam-dalam. Seharusnya ia tak membuka kebenaran bahwa ayah dari anaknya bahkan tak mencintainya.

"P-papa, walau pun ayah tidak mencintai papa, tapi- hiks... Minyung sayang papa kok. Minyung tidak peduli papa baik atau jahat. Apa sayangnya Minyung belum cukup? Jangan menangis paa. Huee..."

Ten kelabakan dengan ledakan tangis Minhyung. Biasanya dia akan marah jika anaknya itu menangis seperti ini, bahkan melihatnya merajuk pun Ten tidak suka. Namun, sekarang dia tidak bisa berkata 'berhenti' atau 'diam' pada putranya. Ten merasa tersentuh dengan empati yang Minhyung miliki. Padahal selama ini dia tak mengajarkannya untuk peduli pada orang lain.

"Oppa, Papa. Hik... papa, papa!"

Pekikan melengking Herin membuat Ten makin terkejut. Kaki-kaki kecilnya membawa Herin mendekati Ten dan Minhyung. Dia menangis sedih sebelum akhirnya menarik-narik lengan baju Ten seakan mencari perhatian.

"Kenapa Helin disini!? Oppa bilang kan Helin lus tidul! Pelgi!"

"Aniaa... Papa!"

Panggilan 'papa' itu entah sejak kapan Herin lekatkan pada sosok Ten. Ten sendiri kini bingung dan kaget. Namun, dia tak menampik perasaan hangat yang menjalar di dadanya kala sang gadis kecil memanggilnya 'papa'. Ten senang mendengarnya.

"Sudah, jangan bertengkar. Ayo berhenti menangis. Papa sudah selesai menangis, lho."

Kedua balita itu diam. Meski bibir mereka masih melengkung ke bawah dan ingus masih keluar dari hidung mereka. Herin menyembunyikan wajahnya di lengan Ten, sementara Minhyung memeluk lehernya lagi.

"Ya ampun... Oke, papa biarkan kalian manja malam ini. Tapi, syaratnya harus bantu papa ya."

Satu-satunya yang merespon hanyalah Minhyung. Dia menatap papa. "Apa?"

"Bantu papa menghias gaun itu."

.

Taeyong datang ke apartemen Ten lebih pagi dari biasanya. Dia harus memastikan sang majikan telah bangun dan siap untuk menghadiri rapat rutin di perusahaan Yeon.

Saat dia menekan bel berkali-kali namun tak mendapat jawaban, Taeyong mulai was-was. Dia menekan bel sekali lagi dan hal yang sama terulang. Terpaksa dia memasukkan kode pintu apartemen yang memang dia ketahui, tanggal lahir Minhyung.

Dia tidak melihat hal yang aneh di ruang tamu. Semuanya masih sama seperti semalam. Saat dia melihat pintu kamar anak-anak terbuka dan tidak menemukan seorang pun di sana, barulah dia kembali was-was. Taeyong cepat-cepat menghampiri kamar Ten. Sebenarnya sang majikan melarang keras seorang pun mendekati apa lagi memasuki ruang itu. Tapi Taeyong memberanikan diri. Dia hendak mengetuk pintu kayu tersebut saat tiba-tiba pintunya sedikit terbuka. Mempertontonkan sang pemilik kamar yang sedang tertidur bersama putra-putrinya.

Dari celah kecil itu Taeyong melihat kedua lengan Ten penuh dengan Minhyung dan Herin. Pemandangan itu tidak cukup memuaskan baginya. Jadi, dia membuka pintunya lebih lebar untuk menemukan betapa bahagia raut wajah Minhyung dalam tidurnya.

Taeyong merasakan kehangatan di sekujur tubuhnya. Jika dia boleh sedikit mencaci Ten, sang majikan, dia akan menyalahkannya tentang bagaimana dia membesarkan Minhyung dengan keras dan kini bahkan berencana melakukan hal yang sama pada Herin. Dia ingin mengatakan kalau cara mendidiknya itu sangat salah. Minhyung dan Herin bisa tumbuh menjadi orang tanpa perasaan seperti 'mereka' yang Ten benci.

Namun, pemandangan di hadapannya meruntuhkan segala kekhawatiran Taeyong.

Tanpa sengaja, matanya melihat gaun pernikahan di pojok ruangan. Keningnya berkerut. Seingatnya, Ten tidak pernah mau mengerjakan gaun pengantin di rumah. Pekerjaannya di bridal itu selalu dia kerjakan di kantor. Dan kondisinya sekarang adalah bridal itu telah tutup. Seharusnya sudah tidak ada lagi orang yang menggunakan jasanya.

Taeyong tak kunjung mengalihkan pandangan dari pakaian itu. Karena tiba-tiba dia merasa familiar. Sampai dia melihat detail payet berbentuk kupu-kupu di bagian pinggangnya.

"I-itu..."

.

Selama beberapa hari, Johnny disibukkan oleh pekerjaan barunya. Dia menyingkirkan segala ego dan harga diri sebagai mantan pemilik perusahaan besar Korea dan bekerja di perusahaan kecil sebagai manajer. Bagaimana pun juga dia harus tetap melanjutkan hidup dan merebut kembali apa yang pernah dia miliki. Dia juga harus kembali mendapatkan hak asuh Herin dan menyelesaikan kasus kematian Irene yang dia ajukan ke pengadilan. Hidup terus berjalan.

Selama jam makan siang, Johnny tak melepaskan ponselnya. Dia menatap ponselnya dengan tatapan terluka. Foto keluarga kecilnya -dia, Irene, dan Herin- adalah sesuatu yang dia lihat sejak tadi. Rasanya dia benar-benar merindukan hidup damainya dulu. Dia merindukan istrinya, juga anaknya.

Sudah sangat lama, jika dihitung sejak Ten mengambil Herin, dia tidak mendengar kabar apapun tentang anaknya. Johnny sungguh khawatir dengan keselamatan putrinya itu di tangan dingin sang pemimpin kelompok Shiyam. Bagaimana jika anaknya ditelantarkan? Bagaimana jika anaknya tidak disayangi? Apa Ten bisa mengurus anak kecil? Apa mungkin dia memberikan Herin pada orang lain untuk diasuh?

Pertanyaan-pertanyaan itu sekiranya memenuhi kepala Johnny setiap harinya.

"Hei, ada seseorang yang ingin bicara denganmu. Pergilah ke lobby." Seorang manajer dari departemen lain datang menghampirinya.

"Siapa?" tanya Johnny.

Manajer itu berdehem. Seperti sulit sekali untuknya mengungkapkan siapa orang yang mencari Johnny.

"Kau lihatlah sendiri."

Setelah menghabiskan seluruh makan siangnya, Johnny bergegas turun ke lobby. Dia berharap Jaehyun atau Doyoung yang datang dengan membawa kabar baik tentang perkembangan kasus Irene. Namun, yang dia lihat duduk di lobby adalah Ten dan Taeyong yang berdiri di samping kursinya.

Johnny nyaris kabur. Tetapi dia terlanjur bertemu pandang dengan Ten. Dan sosok yang duduk di pangkuan namja itu membuat matanya terbuka lebar.

"Herin!"

Panggilan keras itu mengalihkan fokus Herin dari dasi Ten. Dia menoleh dan bersorak sangat senang saat melihat daddy-nya berlari mendekat.

"Daddy!" Pekiknya saat Johnny mengangkatnya dari pangkuan Ten.

"Astaga... sayang..."

Ten maupun Taeyong hanya diam melihat reuni anak dan ayah itu. Saat air mata Johnny mengalir saking bahagianya, mereka hanya bisa menahan senyum.

"Aku tidak percaya kau membawanya kembali padaku." Johnny nampak tampak senang. Namun juga naif di saat yang sama.

"Aku tidak pernah bilang akan mengembalikan Herin padamu." Ucap Ten. Dan saat itu pula senyuman Johnny luntur. "Duduklah dulu Youngho-ssi."

"Apa yang kau mau!?" desis Johnny.

"Hanya... sedikit bantuanmu."

Johnny melemparkan tatapan tak bersahabat.

"Sekretarisku baru saja mundur. Aku kesulitan mencari orang untuk menggantikannya."

"Kau menginginkanku jadi sekretarismu?"

"Wow, ternyata pikiranku mudah terbaca. Aku harus berhati-hati." Ten tersenyum licik. Dia berjalan menuju Johnny lalu mengambil Herin darinya. Johnny sama sekali tidak ingin melepaskan Herin, tapi saat ia melihat sang anak tak menolak sama sekali, hatinya tiba-tiba terasa sakit. Dia seperti baru saja dicampakan.

"Keinginanmu tidak akan pernah terjadi."

"Gaji di perusahaanku cukup besar. Dan aku yakin kau tidak terlalu bodoh untuk tahu bahwa perusahaan ini juga ada dalam genggaman kelompokku bukan?"

"Keparat. Mengancamku hah?"

"Aku memberikan penawaran, Youngho-ssi." Ten menggendong Herin dengan penuh sayangnya. "Jika kau bekerja untukku, kau dapatkan gaji besar dan kau juga akan melihat Herin lebih sering."

Mata Johnny terbelalak.

"Bukankah, Herin sangat berarti untukmu? Kau bisa melihatnya setiap hari."

Johnny tak berkutik. Pikirannya mempertimbangkan dan memprediksi apa yang sedang Ten rencanakan sebenarnya.

"Ah! Benar juga, bukannya kau sedang menyelidiki kelompok Shiyam untuk kasus bunuh diri Irene?"

Dari mana dia tahu?

"Tidakkah kau berpikir, jika kau bekerja padaku, penyelidikan itu akan berjalan lebih lancar? Aku tidak keberatan loh kau mata-matai."

"Jangan macam-macam, Ten."

Ten tertegun untuk beberapa saat. Saat namanya itu keluar dari mulut Johnny, rasanya Ten siap meledak dalam kebahagiaan.

"Aku beri waktu kau berpikir tiga hari. Datang ke kantorku dan berikan jawabanmu. Herin, ucapkan selamat tinggal pada daddy."

"Eung?" Herin menunjukkan aegyo-nya. Dia terlihat tidak ingin pergi.

"Herin." Panggil Ten dingin.

"Bye, daddy..."

.o0o.

Pertemuan yang tak bisa Ten cegah dan rusak itu adalah kesalahan terbesar. Buntut dari pertemuan itu membuat Ten kesulitan sendiri. Dia tidak tahu lagi bagaimana cara memisahkan Johnny dan Irene. Meski tidak pernah terlihat berdua di sekolah, tetapi keinginan Johnny untuk berjalan melewati kelas Irene setiap kali akan ke gudang memperjelas segalanya. Pertemuan hari itu pasti berjalan mulus. Jadi, keduanya tak masalah jika rencana perjodohan itu diteruskan.

Kini Ten harus menahan kesal setiap kali Johnny tersenyum tanpa alasan saat makan siang bersamanya. Tanpa bertanya, dia tahu apa yang ada dalam otak laki-laki itu. Seseorang yang sedang dimabuk cinta.

"Sepertinya hubungan kalian berjalan lancar ya?" celetuk Ten saat mereka bertiga tengah menikmati makan siang. Meski ambigu siapa yang dia ajak bicara, tapi Johnny sadar diri. Dia tersenyum lebar.

"Sepertinya dia juga suka padaku."

"Ah! Yang benar? Bukan hanya untuk formalitas karena waktu itu kau mengundangnya?" Celetuk Ten sambil memainkan sumpitnya di depan Johnny.

"Kalau aku jadi Irene, tentu aku akan memperlakukan Johnny dengan baik. Waktu itu 'kan acaranya Johnny." Timpal Taeyong.

"Hei-hei, Lee Taeyong. Sejak kapan kau berani berargumen hah?" Johnny tampak tak suka dengan ikut campurnya Taeyong. "Tapi paling tidak aku tahu dia tidak membenciku. Padahal aku kan urakan, tapi dia sepertinya tidak merasa terganggu dengan itu. Ah... rasanya jalanku untuk mendapatkannya sangat mulus dan penuh bunga."

"Kalau begitu aku akan jadi batu kerikilnya." Ucap Ten tanpa proteksi.

"Hah?"

"Kalau tidak ada naik turunnya, jalanmu itu akan terasa membosankan. Bukan begitu, Taeyong?"

"Ya..."

Saat jam pelajaran selanjutnya berlangsung, Taeyong mendapatkan tugas dari gurunya untuk mencari sebuah buku literatur di perpustakaan. Karena hal itu, dia ada di ruangan penuh buku sekarang.

Perpustakaan sekolah ini tidak seperti perpustakaan sekolah di Korea pada umumnya. Saat sekolah lain merawat perpustakaan mereka dengan begitu baik karena siswanya begitu gigih belajar, sekolah ini seakan tak peduli. Debu dan sarang laba-laba bukan jadi hal asing di temui di sana. Taeyong bergidik ngeri dalam hati. Dia benci kotor. Sialnya, buku yang diinginkan sang guru ada pada bagian baling dalam perpustakaan. Dimana tempat itu bisa diprediksi paling penuh debu dan lembab.

"Tidak... tidak... bukan..."

Taeyong menyusuri rak demi sebuah buku yang mungkin sudah dimakan rayap. Memikirkan hal itu, Taeyong jadi ingin mengumpat.

Suara derit kayu terdengar setiap kali Taeyong menarik sebuah buku dari deretannya. Rak kayu itu sepertinya nyaris roboh. Taeyong cepat-cepat menggulirkan matanya untuk menemukan buku yang dia cari. Tapi, tanpa sengaja dia malah melihat dua pasang kaki tengah saling berdempet di pojok perpustakaan. Pandangannya terhalang rak-rak buku sehingga Taeyong tidak tahu siapa yang sedang bertindak asusila di sana. Dia ingin mengabaikan eksistensi mereka.

"Hentikan! Lepaskan aku!"

Pekikan tertahan itu mengurungkan niat Taeyong. Dia jadi penasaran dengan apa yang dilakukan mereka berdua. Sebenarnya dia tidak diizinkan terlibat dalam masalah orang lain di sekolah ini oleh Ten. Tapi, intuisinya berkata untuk bertindak kali ini.

Taeyong melihat sesosok wanita cantik tengah dihimpit laki-laki ke tembok. Laki-laki itu menyerang leher sang wanita seperti tiada hari esok. Sementara wanita itu sendiri berusaha melepaskan diri. Dia berusaha mendorong bahu si laki-laki tapi sia-sia.

"Hei! Apa yang kau lakukan?" Taeyong menarik bahu laki-laki yang mencubui sang wanita. Lalu matanya melihat wanita yang berantakan yang ternyata adalah Irene. "Irene-ssi. Kau baik-baik saja?"

"Lepaskan aku!" pekik laki-laki yang ada dalam cengkraman Taeyong.

"Kau tahu siapa aku kan? Pergilah sebelum kuhajar wajahmu." Ujar Taeyong.

Laki-laki itu segera pergi. Dia ketakutan saat melihat wajah Taeyong. Siapa yang tidak mengenalnya? Seorang anggota dari kelompok Shiyam, dan segerombolan dengan Johnny serta Ten si perusuh sekolah.

"Terima kasih... Taeyong-ssi."

Cicit Irene. Dia terlihat ketakutan dan nyaris menangis sekarang. Tapi, Taeyong sama sekali tidak tergerak hatinya.

"Sebagai gantinya, bisa kau bantu aku? Ada sebuah buku yang harus segera kutemukan." Ucap Taeyong sambil menunjung deretan buku di sebelahnya.

"Tentu. Dengan senang hati."

Tanpa mereka ketahui, Ten melihat seluruh kejadian itu dari balik rak tinggi. Dia hanya sedang mencari sebuah buku saat melihat Taeyong melakukan hal yang sama. Saat dia ingin mendekat, pelayannya itu malah sudah melibatkan diri dalam masalah Irene. Jadi, dia memutuskan untuk diam dan melihat semuanya.

"Aah..." Ten melihat senyuman malu-malu Irene. "Bagaimana ini? Ternyata pelayanku memang terlalu tampan."

.

Alasan Taeyong datang ke sekolah yang sama dengan Ten tentu agar bisa mengikuti tuannya kemana pun. Tuan Leechaiya mempercayakan kemampuannya untuk melindungi Ten dan mengikuti segala kemauan cucunya itu. Jadi dalam benaknya tidak pernah terlintas untuk membuat hubungan dengan siapa pun di sekolah kecuali tuannya. Dia ingin fokus pada Ten, mengabdi padanya hingga akhir. Matanya tak pernah berpaling dari sang tuan. Ten adalah satu-satunya objek yang harus dia perhatikan.

Awalnya itulah yang Taeyong pikirkan. Dia hanya akan berada di mana pun, asalkan disana ada Ten. Seakan pusat dari kehidupannya adalah lelaki itu. Namun, hari ini berbeda. Ten merasa tidak enak badan, sesuatu yang sangat jarang terjadi. Dia ingin beristirahat di rumah. Taeyong bersikeras untuk tetap di rumah bersama Ten. Seperti pekerjaannya sejak awal. Tetapi sang tuan mendorongnya keluar kamar. Dia mengusir pelayannya itu dan membentaknya untuk tetap pergi kesekolah.

Itulah kenapa sekarang dia duduk di gudang bersama Johnny tanpa melakukan apapun.

"Jadi... Ten sakit." Komentar Johnny untuk memecahkan keheningan diantara mereka berdua. Taeyong tidak menanggapinya. Dia sudah bilang pada Johnny sejak awal. "Lalu kenapa kita masih disini? Tidak ada makanan disini."

"Memang kau ke gudang hanya untuk makan saja?"

"Tentu. Untuk apa lagi memang?"

"Untuk bertemu dengan Tuan Ten mungkin..."

Wajah Johnny berkerut heran mendengar perkataan Taeyong. "Untuk apa aku ingin bertemu dengannya? Memang aku kekasihnya? Bertemu di tempat sepi begini."

"Memang harus jadi kekasih hanya untuk berkeinginan saling bertemu?" Tanya Taeyong. Dia punya keinginan pribadi untuk menguak bagaimana Johnny memandang tuannya. Apakah dimasa depan, laki-laki ini akan terus ada dalam pihak mereka, atau bisa berubah menjadi ancaman. Taeyong harus memastikan hal itu. "Karena aku rasa, Tuan Ten ke sini setiap hari, membawakanmu makanan dan mendengarkanmu cerita, bukan hanya karena dia ingin makan. Tapi, karena dia ingin bersamamu."

Johnny terdiam beberapa saat. Dia memikirkan hubungan pertemanannya dengan Ten selama ini. Semua terjadi di dalam gudang ini, juga di arena tawuran. Hanya itu sekiranya tempat yang pernah mereka datangi berdua. Semua juga karena Johnny punya keinginan tersembunyi. Dia tidak pernah mempertimbangkan perasaan Ten yang mengikutinya dan menuruti kemauannya. Dan yang lebih jahatnya lagi, dia tidak pernah mempertanyakan alasan kenapa Ten bertahan di sisinya.

"Yah, kalau dia memang datang karena ingin melihatku, aku tidak masalah. Terus aku harus bagaimana? Harus ikut-ikutan ingin melihatnya begitu? Maaf saja aku bukan orang yang berhubungan dengan orang lain tanpa tujuan pasti."

"Oh. Begitu rupanya. Padahal aku pikir kalian benar-benar berteman. Habis, kalau bersama kalian berdua di sini rasanya asik sekali. Kehilangan satu saja rasanya sudah beda. Lihat kita sekarang. Suram."

"Kami berteman!"

"Kau berteman dengan tuan untuk tujuanmu sendiri. Memang itu yang namanya teman?"

"Ya! Lee Taeyong!"

"Maaf, permisi. Apa aku mengganggu?"

Suara lembut khas perempuan membuat keduanya melihat ke arah pintu. Mata Johnny terbelalak karena kehadiran sosok yang tak pernah diduga akan datang ke tempat itu. Refleks dia berdiri.

"Irene-ssi..."

Wanita itu masuk kedalam gudang tanpa meminta izin. Sekiranya dia agak terganggu dengan banyaknya debu di sana, tapi tetap memaksakan langkahnya. "Kalian cuma berdua? Kemana si adik kelas itu?"

"Tuanku sedang sakit. Apa yang ingin kau lakukan di sini?" tanya Taeyong.

"Aku bawa makanan. Kalau boleh, bisa aku bergabung dengan kalian? Rasanya... kita semua perlu jadi akrab."

.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, Johnny tak bisa melepaskan bayang-bayang Ten di kepalanya. Bahkan sesi makan siangnya dengan Irene tadi pun tak bisa mengalihkan pikiran Johnny dari si kecil. Perkataan Taeyong seakan menyihirnya. Bayangan bagaimana jahatnya dia memperlakukan Ten membuat Johnny jadi merasa sangat tidak enak hati.

Johnny menatap ponselnya. Dia menyimpan nomor kontak Ten di benda persegi itu. Namun, entah kenapa dia tidak pernah menggunakannya. Johnny sadar selama ini tidak pernah menghubungi Ten lewat pesan singkat atau telepon. Karena memang dia tidak pernah membutuhkan teman kecilnya itu di luar sekolah.

Jemarinya mengetikkan sesuatu di kolom pesan.

[Untuk, Ten

Heh! Gara-gara kau tidak masuk, aku jadi terlambat makan siang! (delete)

Aku makan siang dengan Irene karena kau tidak datang! (delete)

Taeyong sangat membosankan! Gara-gara kau tidak ada, kami jadi canggung! (delete)

Kau baik-baik saja?] Terkirim 06.33 PM

"AGH!"

Johnny berteriak frustasi saat tanpa sengaja menekan tombol send. Dia berguling di kursi mobil sampai supirnya bertanya kebingungan.

"Bagaimana ini? Aduh! Kenapa aku tanya begini!? Ini seperti bukan aku!"

Johnny melempar ponselnya ke samping. Rasanya dia tidak ingin melihat benda persegi panjang itu lagi. Rasanya, dia ingin tenggelam saja ditelan bumi. Harga dirinya sudah jatuh.

Ting!

Notifikasi itu membuat Johnny berseru kaget. Tapi dia tidak bisa menahan refleksnya untuk segera mengambil ponselnya dan membuka sebuah pesan.

[Dari, Ten

Iya. Aku baik.]

Hanya seperti itu. Tapi, Johnny bisa bernapas lega. Entah kenapa kalimat singkat Ten itu bisa membuat hatinya terasa seringan ini.

Tiba-tiba sebuah pesan baru dari pengirim yang sama dia terima.

[Bagaimana harimu?]

[Untuk, Ten

Luar biasa! Karena aku makan siang dengan Irene! (delete)

Biasa saja. Tapi, rasanya aneh karena cuma berdua dengan Taeyong.] Terkirim 06.42

Johnny tidak mau berbohong. Dia melewati makan siangnya dengan Irene dalam perasaan hati yang tak senang. Jadi, tak ada yang berbekas dari kejadian siang tadi.

[Dari, Ten

Dia memang agak canggung. Tapi sebenarnya dia orang yang ramah.]

[Untuk, Ten

Jadi kau sedang membanggakan pelayanmu itu?

Wah, aku cemburu.]

[Dari, Ten

Tapi dia memang orang yang baik.

Kkk... jangan marah ^^]

Senyuman di wajah Johnny tak kunjung hilang. Membaca setiap pesan Ten, menunggu sebuah balasan. Rasanya, sangat menyenangkan. Dia menyesal tidak melakukannya sejak lama.

Lalu, sepanjang hari itu, mereka bertukar pesan tanpa henti. Membicarakan hal konyol dan tidak bermutu. Seakan membayar waktu yang telah mereka sia-siakan sebelumnya.

.

"Taeyong-ah!"

Taeyong berhenti berjalan. Dia menemukan Irene berlari kecil ke arahnya dengan senyum ramah seperti biasa.

"Kenapa?"

"Boleh aku minta nomor ponselmu?" tanya Irene.

Itu adalah hal yang selama ini tak pernah Taeyong bagi pada sembarangan orang. Dia tidak boleh terlalu banyak punya hubungan dengan orang lain.

Raut wajah ragu itu sepertinya tampak. Irene seperti bisa membacanya.

"Aku tidak akan membeberkan nomor ponselmu pada siapa pun. Hanya untukku."

"Untuk apa?"

Irene terkejut dengan pertanyaan itu. Seharusnya dia sudah tahu kalau pertanyaan itu bisa saja muncul.

"Ya... kau mungkin sudah tahu bahwa aku dijodohkan dengan Youngho. Aku, mungkin menginginkan sedikit bantuan darimu. Kalau-kalau ada yang ingin aku tanyakan tentangnya."

"Maaf. Aku tidak bisa melakukannya. Lagi pula, hubunganku dengan Johnny tidak sedekat itu sampai aku tahu banyak tentang dia. Aku permisi."

"T-Tunggu sebentar!"

Irene menahan tangan Taeyong saat laki-laki itu terburu ingin segera pergi.

"Sebenarnya, aku hanya ingin lebih mengenalmu!"

.o0o.

Sang wakil direktur perusahaan Yeon tengah berdiam diri di kursinya. Matanya memandang kosong kedepan. Dimana tidak ada siapapun di sana.

Taeyong tidak bisa melupakan gaun yang dilihatnya beberapa hari lalu. Dia tidak yakin dengan ingatannya. Tetapi, perasaan familiar itu sangat kuat. Begitu matanya melihat wujud gaun dalam kamar Ten, memorinya tentang hari-hari 'itu' muncul kembali. Saat mereka bertiga berkumpul di gudang tua berdebu dengan sebuah kertas di tengah mereka.

Ten tengah berfokus dengan gambarnya saat Johnny datang dengan spidol hitam besar. Laki-laki tinggi itu tertawa keras saat melihat apa yang sedang digambar Ten. Dia menggoda temannya habis-habisan karena menggambar sesuatu yang tidak seharusnya laki-laki gambar. Apalagi untuk Ten yang notabennya adalah anggota kelompok Shiyam. Kelompok yang kejam dan identik dengan kekuatan.

Johnny langsung merebut kertas itu lalu mencoret-coret sisi sebelah gambar Ten dengan spidolnya.

"Nih! Aku beri dia pasangan. Hey! Taeyong, cepat kemari dan gambar sesuatu!"

"Hentikan! Kembalikan padaku!"

Taeyong yang saat itu dengan dalam mood baik mengambil alih kertas dari Johnny. Dengan pulpen dia menggambar hal yang sama dengan Johnny di sisi lain dari gambar Ten. Kini terlihat gambar itu terlihat seperti seorang putri yang diapit oleh laki-laki bertuksedo yang berantakan.

"Gambarku!" Ten memekik marah saat akhirnya bisa mengambil kembali gambarnya. "Jahat!"

"Jangan marah... Sini lihat gambarnya!" Johnny merebut kembali kertas Ten lalu meletakkannya di meja. Kini kertas itu ada di tengah-tengah mereka bertiga.

"Ini aku," Johnny menunjuk gambar pulpen Taeyong yang memang terlihat lebih tinggi dari yang lain. "Ini Taeyong," lalu menunjuk gambarnya sendiri.

"Jadi ini aku?" tanya Ten sambil menunjuk perempuan dalam gaun pengantin diantara mereka.

"Bukan, itu Irene." Ucap Taeyong dengan nada menggoda.

"Yak! Dasar pelayan kurang ajar!" Ten menendang tulang kering Taeyong hingga dia berteriak kesakitan. "Rasakan!"

"Sudahlah! Iya, ini Ten. Ini kamu." Johnny menarik Ten mendekat ke arahnya agar tidak memukul Taeyong lagi lalu menunjuk wanita cantik dalam gambar.

"Tapi, masa aku perempuan!?"

"Gaun pernikahan ini bukan sekedar melambangkan perempuan tahu! Tapi juga kebahagiaan, akhir dari harapan serta mimpi. Seseorang harus bahagia untuk memakai gaun ini. Begitupun kau. Kau, akan bahagia seperti perempuan di hari pernikahannya saat berada di tengah-tengah kami berdua. Jangan lupakan hal itu."

Ten membungkam mulutnya. Sepertinya perkataan Johnny itu benar-benar membuat otaknya berhenti berfungsi.

"Ah, sepertinya akan bagus kalau ada seekor kupu-kupu di pinggang sini." Ujar Johnny.

"Dan mungkin di dada sebelah sini." Timpal Taeyong.

Saat keduanya kembali mencoret kertas Ten, sang pemilik tak berkata apa-apa. Dia hanya diam. Lalu diam.

"Tuan Lee. TUAN LEE!"

Taeyong terlonjak dari kursinya. Sekretarisnya telah ada di depan meja dengan wajah kesal. Sudah bisa dipastikan apa yang baru saja terjadi.

"Seseorang ingin bertemu dengan Direktur."

Itu adalah pekerjannya. Ya, meski jabatannya adalah wakil direktur, tetapi Taeyong harus tetap memastikan setiap orang yang akan bertemu dengan Ten adalah orang yang aman.

Dia berjalan ke lobby dan menemukan sosok Johnny disana.

"Ikut aku." Ucapnya singkat. Tanpa pertimbangan, Taeyong membawa Johnny ke kantor Ten.

Saat Ten mempersilahkan Taeyong untuk masuk, saat itulah dia bisa melihat tuannya setengah terkejut dengan kedatangan Johnny.

"Kau datang."

Ketiganya kini berada di ruang yang sama.

"Seperti yang kau mau kan?"

"Tidak. Aku tidak ingin kau datang dengan jawaban yang tidak ingin kudengar."

"Tenang saja. Jawabanku, seperti yang kau inginkan. Biarkan aku bekerja untukmu, tuan Leechaiya."

Tekanan dalam ruangan itu terasa menjadi lebih berat. Taeyong menahan napasnya kala Johnny membungkukkan tubuhnya untuk menghormati Ten. Dia tidak bisa melihat pemandangan seperti ini. Tidak setelah bayangan indah masa lalu mereka kembali menghampirinya.

Dalam ruangan tertutup itu, akhirnya mereka bertiga kembali bertemu. Telah lengkap, namun tetap berbeda.

"Senang mendengarnya, Sekretaris Seo."

.

TBC

.

A/N Dilanjuut~

Akhirnya lanjut... maaf chapter ini membosankan lagi. Tapi, aku punya firasat untuk chapter-chapter depan gak akan terlalu flat kok. Karena akhirnya! Tiga pemeran utama kita! Berkumpul! UGH! Siap-siap berasa pingin Ten sama Taeyong aja. Siap-siap kena second lead syndrome! #plak becanda. Ya Tuhan, kuatkanlah aku dari godaan Taeyong yang jablay... Tapi kalo gak ada cinta-cintaan Taeten kok hambar ya? Astaga! Tidak-tidak! Aku khilaf. Tidak-tidak! Johnten! Selamatkan author!

Aku yakin ada yang merasa FF ini membosankan karena permasalahannya udah ketebak. Alurnya maju-mundur gak konsisten kek perasaan author buat Johnten #eh. Aku juga ngerasa begitu. Awalnya pingin menonjolkan sisi remaja mereka, tapi kok ternyata sisi dewasa mereka juga asik buat ditulis. Galau luar biasa.

Yasud. Nikmati aja kegajean ini. Wkwkwk...

Hope You Like It ^^