Hallo minna ... indah kembali, maaf vakum sebentar karena kerjaan numpuk hhehe *plak*banyakalasan XD

Balas review yang mampir dulu yahh :D

Lala: aaa ... maaf senpai, indah usahain sesuai EYD yang benar, ini chapter 3 sudah keluar. semoga EYD nya dapat yaa :)

Hanazono yuri: ini sudah lanjut senpai :D

Nikechaann: hahaha jangan lompat dong :D, maafkan indah :( itu aslinya pakek kata aku tapi entah kenapa bisa berubah jadi saya ? hahaha XD tapi ini udh aku edit lagi bisa. aduhh! Nike-chan masih muda sekali, aku sudah tua ternyata *memang XD! ini chapter 3 sudah update, smoga suka yaa dan terima kasih semangatnya :D

bandung girl: terima kasih masukkannya senpai, itu sudah aku ganti semua ;D dan maafkan indah masalah kata-kata saya yang waktu Sakura ngajukin syarat ke Sasori itu karena aslinya aku tapi entah malah ke update kata-kata saya, hahaha :D *plak! inii sudah update lanjutannya, semoga suka :) *pelukcium dari semarang (again) :*

Sudah yappp ... langsung saja ke cerita! Enjoy for reading minna :D


Naruto (c) Masashi Kishimoto-sensei

.

.

.

.

Falling in Love

EYD amburadul, OOC, Typo bertebaran

Romance/angs

Warning : Don't Like Don't Read

.

.

.


Pagi ini Sakura sudah di kelasnya dan menanti sahabatnya datang, kelas masih tampak sepi karena hanya beberapa teman Sakura yang baru datang ke kelas, saat ini Sakura sedang sibuk dengan gadget-nya yang saat ini menampilkan permainan, saat sedang focus dengan game-nya, datang seseorang menghampiri Sakura dan duduk di depan Sakura.

"Hai Sakura ... sedang apa ?" tanya orang itu, dari nadanya sudah bisa ditebak kalau dia laki-laki.

Sakura menghentikan bermain game-nya, dia melihat siapa yang mengganggu aktivitasnya. Ternyata Toneri si ketua kelas di kelas XII Ipa-2.

"Kau ternyata Toneri, aku lagi main game. Ada apa memang ?" tanya Sakura

Toneri tersenyum membuat Sakura bingung, "Kenapa senyum, memang ada yang lucu atau ada sesuatu di wajahku yaa ?" tanya Sakura lagi sambil membersihkan wajahnya kalau-kalau benar ada sesuatu di wajahnya.

Toneri menggelengkan kepala "Aaa tidak, tidak ada yang lucu Sakura dan tidak ada apa-apa di wajahmu" jawab Toneri masih tersenyum sambil mengibas-ibas tanganya, Sakura menggaruk kepala karena heran dengan temannya ini.

Hening menyelimuti mereka, dan beberapa anak XII Ipa-2 sudah mulai berdatangan "Hmm ... Sakura, besok kau ada acara ?" tanya Toneri tiba-tiba.

"Besok ?" Sakura tampak berpikir, "Belum tahu ada acara apa tidak. Memang ada apa ?"

"Aku ingin mengajakmu jalan, kau bisa ?" tanya Toneri sambil memandangan ke arah Sakura.

Sakura bengong maksudnya dia diam membeku karena ini pertama kalinya ada yang mengajaknya jalan atau untuk istilah Sakura nge-date, secara Sakura belum tahu yang namanya CINTA. Tapi Sakura bingung karena akhir-akhir ini jantungnya berdetak tidak karuan kalau mengingat tentang Sasuke. "Bagaimana, kau bisa apa tidak ?" tanya Toneri lagi membuat Sakura tersadar dari bengongnya.

"Aku belum tahu besok bisa apa tidak, aku kabari lagi nanti bagaimana ?" jawab Sakura sedikit tidak enak karena secara tidak langsung dia menolak ajakan Toneri.

Toneri terdiam cukup lama membuat Sakura makin tidak enak hati "Hm Oke, aku tunggu besok kabarmu, tapi kalau lupa awas kau!" Toneri berucap dengan pengacungkan kepalan tangannya ke depan Sakura.

Sakura menghela nafasnya "Iya ... iya ... Aku akan menghubungimu nanti!" Sakura kemudian tertawa, sedang asyiknya mereka bercanda tiba-tiba Ino dan Hinata muncul mengejutkan Sakura dan Toneri.

"Oi ... kalian berdua sedang apa ? jangan-jangan kalian pacaran juga yaa ?" teriakan Ino membuat sebagian anak-anak yang sudah datang ke kelas menatap dua sejoli ini dengan tatapan penuh selidik.

"Diam kau pig, aku hanya bicara dengan Toneri!" jawab Sakura sedikit menaikan suaranya jadi 1 oktaf, Toneri hanya tersenyum.

Ino menyilangkan tangannya di dada "Jangan bohong kau forehead, pasti kau mau coba-coba menyembunyikan seperti Matsuri dan Gaara kan ?" goda Ino lagi.

Sakura hanya geleng-geleng kepala, "Terserah kau saja Ino mau percaya atau tidak, aku mau ke toilet dulu!" Sakura menjawab dengan nada dingin lalu beranjak pergi meninggalkan Ino, Hinata dan Toneri yang saling pandang, saat sampai di depan pintu kelas Sakura bertemu dengan Matsuri dan Gaara.

"Hai ... Sakura mau kemana ?" tanya Matsuri

"Mau ke toilet! sana pacaran dulu jangan ganggu!" Sakura berucap sarkasme, kemudian Sakura berlalu meninggalkan Matsuri dan Gaara yang saling tukar pandang heran dengan sikap dingin Sakura. Matsuri menghampiri Ino dan Hinata yang sedang mengobrol sedangkan Gaara ke tempat duduk yang sudah biasa dia tempati berdua dengan Matsuri.

"Etto, Sakura kenapa ? Kelihatannya dia kesal begitu, kalian tadi buat ulah apa lagi ke dia ?" tanya Matsuri yang sudah duduk di depan 2 gadis manis ini.

"Ki-kita tidak berbuat apa-apa ke Sakura-chan, ta-tadi Ino-chan hanya menggodanya karena dia berbicara berdua sa-saja dengan Toneri. Memang Sa-sakura-chan kenapa tadi ?" tanya balik Hinata masih dengan kegugupannya.

Matsuri menghela nafas pelan, "Tadi itu aku dan Gaara menyapanya, tapi dia jawabnya dingin begitu. Pasti ini gara-gara kau Ino yang sudah menggoda dia, sekarang Sakura marahkan ?" kata Matsuri

"Hmm ... mendingan kita cari saja dia, Aku jadi bersalah dengannya sudah menggoda dia dan menuduh yang tidak-tidak, kalau diingat-ingat tadi dia memanggilku dengan namaku, itu tandanya dia sedang marah" usul Ino diikuti anggukan Hinata dan Matsuri, Matsuri mengajak Gaara untuk ikut serta mencari Sakura.

Di lain sisi Sakura, orang yang sedang dicari berada di atap sekolahan, Sakura selalu di sana ketika dia sedang sedih dan bingung atau banyak pikiran. Suasana hati Sakura sekarang sedang dilema karena tidak tahu besok dia bisa menerima ajakan Toneri karena sebenarnya dia tidak ada acara apapun. Tapi dilain sisi dia merasakan dadanya berdesir cepat dan wajahnya memanas setiap mengingat Sasuke. 'Hah ada apa dengan ku ?' gumam Sakura yang memeggang pipi kanan dan kirinya dengan tanganya. Mencoba menghilangkan rasa panas di hatinya ini.

xxxx

"Dimana Sakura ? di mana-mana tidak ada ?" tanya Matsuri yang khawatir akan sahabat merah mudanya itu.

Sekarang Matsuri dan Gaara berada di depan Perpustakaan dan melihat ke dalam tapi keberadaan Sakura tidak di ada di Perpustakaan.

"Sudah ... tenang dulu, kalau mencari Sakura sambil panik malah tidak ketemu nanti" Kata Gaara mencoba menenangkan kekasihnya itu.

Pencarian Sakura dibagi menjadi 2 Hinata dengan Ino sedangkan Gaara dengan Matsuri, mereka ber-4 belum menemukan keberadaan Sakura di atap.

Disisi Ino dan Hinata yang mencari Sakura menuju ke kantin tapi hasilnya tetap nihil, karena Sakura tidak berada di Kantin saat ini.

"Co-coba aku hubungi dia saja" kata Hinata sambil mencari kontak Sakura setelah ketemu Hinata mencoba menelfon Sakura.

'Nomer yang ada hubungi tidak dapat menerima panggilan, coba… 'Hinata menutup telfonnya

"Gimana Hinata, diangkat tidak ?" tanya Ino

Hinata menggeleng "Mu-mungkin Handphone-nya di kelas, ba-bagaimana ini Ino-chan ? 15 menit lagi bel masuk" kata Hinata melihat arloji di tangan kirinya dengan panik begitu juga dengan Ino, Diwaktu yang sama Gaara dan Matsuri masih sibuk mencari Sakura.

"Hei ... kau tahu Sakura tidak ?" tanya Gaara ke salah satu temannya yang berjalan di koridor sekolah.

"Tidak tahu Gaara" jawabnya sambil berlalu meninggalkan Gaara dan Matsuri. Mereka berdua kembali sibuk mencari Sakura, sedangkan Sakura orang yang dicari sudah kembali ke kelas dengan muka masih ditekuk.

"Sakura kemana saja tadi kau ?" tanya Toneri yang mendapati Sakura masuk ke kelas tanpa teman-teman yang mencarinya.

Sakura mengernyitkan dahi, "Haa ... Aku ? Aku tadi ke toilet. Memang kenapa ?" dusta Sakura.

"Ke toilet lama sekali, tahu tidak, kau dicariin Ino dan yang lainnya" Toneri berucap seolah lega Sakura kembali ke kelas tapi sedikit khawatir karena teman-teman yang lainnya belum kembali ke kelas sedangkan sebentar lagi bel masuk.

Sakura nampak bingung, "Mencariku ? Seperti aku kemana saja pakai dicariin segala" ucap Sakura, kemudian berlalu meninggalkan Toneri dan duduk dibangkunya. Toneri hanya menghela nafas pendek karena memang begitulah sifat Sakura, ia kemudian mengirim pesan ke Gaara.

Drrttt ... Handphone milik Gaara bergetar tanda ada pesan masuk

From : Toneri

To : Gaara

Sakura sudah kembalike kelas !

Sebentar lagi bel masuk, aku harap kalian kembali secepat mungkin karena pelajaran pertama Kurenai-sensei !

Gaara menutup Handphone flip-nya "Matsuri ... kita kembali ke kelas sekarang, kau hubungi Ino" kata Gaara dijawab anggukan langsung dari Matsuri.

Matsuri bingung dengan ucapan Gaara, tapi dia tetap menjalankan apa yang disuruhnya, "Hm baik" jawab Matsuri tanpa bertanya kenapa kepada Gaara.

Gaara dan Matsuri sudah sampai ke kelas bersamaan dengan Ino dan Hinata yang terengah-engah karena berlari dari kantin sampai di kelas.

"Hah ... capek se-sekali" gumam Hinata yang masih mengatur nafasnya

Ino menyeka keringat yang meluncur dari pelipisnya, "Hah … hah … Gaara! kenapa menyuruh kita kembali ke kelas ? Sakura belum ketemu kan ?" tanya Ino yang sama masih mengatur nafasnya yang tersenggal akibat berlari.

"Siapa bilang Sakura belum ketemu ? Itu … Siapa yang lagi duduk sambil baca" tunjuk Gaara di bangku Sakura duduk dengan dagunya. Ino, Matsuri dan Hinata mengikuti arah tunjuk Gaara, tanpa babibu mereka masuk ke kelas tanpa mempedulikan tatapan mata dari teman sekelas mereka yang heran melihat Ino dan Hinata yang terlihat habis lari keliling lapangan, mereka kemudian langsung menghampiri bangku Sakura.

"Forehead ... Kau kemana saja kau ? Kami mencarimu kemana-mana tapi kau tidak ada dimana-mana!" Ino berucap paling heboh.

Sakura melihat teman-temanya satu persatu, "Aku tidak kemana-mana, lagian kenapa kalian mencariku ? Tidak biasanya kalian begini ?" tanya Sakura balik.

Ino menarik dan menghela nafas pelan dan masih menyeka peluh yang menetes dari dagunya akibat lari tadi, "Sakura ... tadikan aku sudah menuduhmu yang tidak-tidak, terus kau main pergi saja tidak bilang mau kemana ! Yaa … Aku takut saja kalau kau kabur pulang" jawab Ino dengan wajah bersalah.

Sakura menahan tawa geli, "Kenapa begitu, buang-buang tenaga dan buang-buang waktu sekolahku saja" Sakura geleng-geleng kepala tidak habis pikir dengan sahabat-sahabatnya, "Sudahlah … Kalian duduklah, nanti kurenai-sensei datang baru tahu rasa kalian" lanjut Sakura membuat Matsuri dan 2 sahabatnya teringat akan pelajaraan hari ini, cepat-cepat Matsuri dan 2 sahabatnya itu duduk di bangku mereka masing-masing. Sedangkan Sakura sudah dibuat tertawa dengan ekpresi mereka yang panik bukan main, karena setelah mereka menduduki bangku mereka Kurenai-sensei masuk dan memulai belajar mengajar di kelas 12-Ipa2.

xxxx

Siang ini Sakura tak menghabiskan waktu dengan Ino dan yang lainnya, selain itu Sakura sedang ingin menikmati kesunyian dan disinilah dia berada di perpustakaan bersama sepupu merahnya Gaara, Gaara yang yang baru-baru ini berpacaran dengan sahabat baiknya memutuskan ikut dengan Sakura ke Perpustakaan karena saat ini Matsuri-kekasihnya sedang dipanggil Anko-sensei. Sakura yang pada dasarnya menyukai manga sedang membaca komik yang belum selesai dia bacanya ini.

"Sakura tadi kau kemana saja ?" Gaara bertanya berbisik sambil memajukan badannya mendekat ke Sakura karena memang terhalang oleh meja.

Sakura yang duduk di depan Gaara menghentikan membaca Komik dan memandang lawan bicaranya saat ini, "Aku tadi ke toilet terus ke tempat yang biasa aku kunjungi kalau sedang Badmood, memang kenapa tanya ?"

"Tidak apa-apa, Aku Cuma mau tahu saja. Jangan dingin begitu!" Gaara mengoda sepupunya sambil terkikik geli.

Sakura memutar bola matanya bosan, "Yaa terserah kau sajalah panda! oea ... besok sabtu kau jadi buat party untuk anak-anak ?" tanya Sakura sambil menutup komiknya dan meletakkan di meja depannya.

"Tentunya jadi, ini juga sekalian perayaan ulang tahunku tidak hanya makan-makan konyol karena aku barusan jadian dengan Matsuri?!" jawab Gaara, Sakura hanya mengangguk mengerti.

Garaa menenggakkan tubuhnya dan teringat akan sesuatu, "Ohh ... iya kelupaan, Sasori juga boleh ikut, sekalian saja suruh ajak temannya biar dia tidak merasa yang paling tua. Hehe ..." kata Garaa. Sakura tiba-tiba berubah senang mendengar perkataan Garaa, 'Sasori-nii boleh mengajak temannya ikut ! tapi belum tentu Sasuke yang diajak Sasori-nii" Batin Sakura kembali memasang wajah lesu.

Garaa yang memperhatikan perubahan mimik wajah Sakura hanya menghela nafas pelan "Sakura ... kenapa kau malah diam ?" Kata Gara masih melihat Sakura dengan tatapan meyelidik.

"Ehh! etto aku setuju denganmu, biar dia punya teman" Sakura ketawa kikuk karena kata-kata yang keluar dari mulutnya rancu seperti itu, Garaa hanya geleng-geleng menghadapi sikap sepupunya yang tidak pernah hilang, selalu melamun.

"Jangan lupa beritahu Sasori, awas kalau kau lupa memberitahunya!" Ancam Gaara sambil beralih membaca buku yang diletakkan di atas meja.

"Iya … aku akan sampaikan ke Sasori-nii" jawab Sakura kembali berkutik dengan komiknya lagi yang sempat dia anggurkan.

Gaara dan Sakura sibuk membaca bacaan meraka masing-masing, tak ada yang lagi yang berbicara diantara mereka sampai seseorang menghampiri mereka , "Hai ... Cuma kalian berdua saja ? kemana pacarmu Gaara ?" tanya orang itu dengan nada bisik-bisik takut dimarahi pengawas perpustakaan, Gaara mendongakkan kepalanya ternyata dan mendapati Toneri sudah berdiri di sisi kiri ujung meja yang saat ini ditempati Sakura dan Gaara. Sakura yang mendengar suara yang bertanya dengan Gaara hanya melihat dari ekor matanya dan kembali fokus dengan komik yang tengah dia baca.

"Hmm … iya, Matsuri masih ada urusan dengan Anko-sensei katanya, tumben kau kemari ?" Ucap Gaara masih fokus dengan majalah sportnya.

"Hmm … hanya mampir saja dan kebetulan ketemu kalian berdua di sini" Toneri memposisikan diri di samping Sakura yang masih sibuk membaca komiknya dan tidak ada pergerakkan atau ternganggu dengan aktivitas duo laki-laki beken di sekolahnya ini. Gaara hanya ber O ria dan kembali ke alam bacanya tanpa melihat dua insan di depannya.

Toneri memperhatikan Sakura yang fokus dengan bacaan di depannya, "Lagi baca apa kau ?" tanya Toneri yang melihat Sakura begitu serius membaca buku yang digenggamnya dari tadi sampai tidak mempedulikan dirinya datang dan duduk di sebelahnya.

"Hmm ... baca komik, Kau sendiri lagi baca apa ?" tanya Sakura hanya melihat sesaat ke Toneri dan kembali ke bacaannya lagi.

Toneri melihat buku yang di letakkannya di hadapannya "Hanya membaca buku tentang Astronomi, Kau suka baca komik ya ternyata" tanya Toneri lagi.

"Bisa dibilang begitu" jawab Sakura singkat sambil membalikkan halaman berikutnya, Gaara yang diam-diam memperhatikan kedua orang berbeda gender ini merasakan kalau dirinya hanya menjadi obat nyamuk bagi mereka. Tapi Gaara tetap cuek dan kembali asyik membaca majalah sporty.

Toneri membuka buku Astronominya "Imouto-ku punya banyak koleksi komik, kalau kau mau kau boleh pinjam. Kebetulan Imouto-ku masih sekolah keluar kota" kata Toneri mempromosikan komik milik adiknya sambil membalikkan buku mengenai tata surya berserta isinya.

Sakura menghentikan membacanya, "Benarkah ? kenapa kau tidak pernah bilang, boleh pinjam salah satu komiknya ?" Sakura berseru senang dengan mata yang berbinar-binar senang.

"Ssstttttt" terdengar nada menyuruh Sakura untuk diam dan tidak berisik karena suaranya barusan menganggu ketenangan perpustakaan, Gaara yang tadinya fokus dengan bacaannya sempat kaget karena Sakura bersuara keras.

Sakura nyengir kuda, "Gomen… gomen…" ucapnya sambil menundukkan kepalanya berkali-kali, Gaara dan Toneri hanya mendengus geli melihat Sakura.

"Haha … tenang Sakura, tidak perlu sampai membuat perpustakaan menjadi ricuh begini" Toneri masih tertawa kecil dan berbisik, Sakura hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, 'memalukan' batin Sakura. "Aaa iya, kau tidak usah salah satu pinjamnya banyak pun juga boleh Sakura" Toneri berkata sambil mengacak rambut Sakura dengan gemas sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya di pipi sebelah kanan. (author membuat si Toneri berlesung! Tidak apa-apa kan?XD)

Sakura tesenyum kikuk diperlakukan seperti itu oleh Toneri "Hm … Arigatoo Toneri, kapan-kapan aku mampir kerumahmu lihat koleksi komik imouto-mu boleh ?" tanya Sakura

Toneri terlihat senang, "Dengan senang hati Sakura" jawab Toneri menutupi kesenangannya dengan bersikap biasa. Gaara hanya tersenyum melihat Toneri yang kelihatan senang sekali, ia seperti menyadari sesuatu 'jangan-jangan Toneri menyukai Sakura ?' batinnya, tapi dia hanya angkat bahu mengenyahkan pikiran-pikiran yang belum tentu benar itu.

Teettt ... Teettt ...

Bel Sekolah berbunyi Gaara, Sakura dan Toneri kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran berikutnya.

"Gaara-kun" Teriakan itu membuat ketiga orang itu menoleh ke belakang, Matsuri berlari dari arah ruangan guru langsung menghampiri Gaara. "Aaa … Toneri dan Sakura juga" Matsuri tersenyum ke arah teman sekelasnya itu.

"Kenapa berlari seperti itu ?" Sakura bertanya sambil memasang senyum menggoda karena sekarang Gaara dan Matsuri sedang bergandengan tangan.

Matsuri tersenyum, "Tidak ada apa-apa hanya ingin memanggil Gaara-kun saja" Matsuri bersemu merah saat mengucapkan itu dan Gaara mati-matian memasang wajah datarnya, "Kalian habis dari mana ?" lanjutnya bertanya.

Sambil berjalan menuju kelas Toneri menjawab, "Kami dari Perpustakaan" Matsuri hanya menggangguk.

Sakura menyikut tangan Gaara yang bebas dari genggaman Matsuri, "Tersenyumlah panda, kau beruntung mendapat Matsuri dan sekarang dia sejak memeluk tanganmu" Sakura berbisik dengan kekehannya, Gaara men-deathglare sepupu pinky nya dan itu hanya membuat Sakura tertawa lepas karena saat ini wajah Gaara sedang bersemu merah.

Sakura berdehem untuk menetralkan suara tawanya, Matsuri yang tahu apa yang dibisikan Sakura hanya bisa diam sambil mengontrol laju jantungnya yang berpacu begitu cepatnya, karena tindakannya yang di luar dugaan yang datang-datang langsung memeluk tangan Gaara, mau tidak mau membuatnya malu karena menunjukkan kemesraannya dengan Gaara di depan umum apalagi ini di depan sahabat baiknya.

Mereka masih bercanda tawa menuju kelas meraka dan Sakura dibantu Toneri masih menggoda Gaara yang mati-matian menutupi rona merah tipis di wajahnya.

xxxx

Sakura sedang duduk di meja makan, Sakura memakan makan siangnya dengan lahap tanpa adanya Kaasan-nya, karena memang Mebuki sedang keluar untuk bertemu dengan temannya. Saat enak-enaknya Sakura menikmati makan siangnya Handphone-nya berdering tanda telfon, segera Sakura mengambil Handphone-nya tepat di atas meja makan dan melihat siapa yang mengganggu ketenangan makannya, ternyata yang menelfonnya adalah baka aniki-nya.

"Hallo ... ada apa Sasori-nii ?" tanya Sakura sambil mengambil air putih dan meminumnya.

"Kenapa tanya ada apa, katanya kau mau bantuin bawa barang-barangku yang kemarin. Kau lupa yaa!" tanya balik Sasori dengan kesal disebrang sana, Sakura hampir tersedak.

Sakura memukul jidat lebarnya "Uppss ... Aku lupa, iya-iya aku antar, tapi aku habisin makananku dulu supaya bisa angkat barang-barang yang berat itu" jelas Sakura

"Yaa ... cepatan! mau ditata nih!" Sasori berteriak membuat Sakura menjauhkan Handphone-nya dari telinga.

"Iya-iya ... cerewet sekali jadi orang" gumam Sakura kesal.

"Aku dengar itu Sakura!" Sakura hanya menyengir tanpa dilihat Sasori. "Ohh iya bawa sekalian berkas di atas meja samping tempat tidur ku" Katanya lagi.

"Hm iya" jawab Sakura singkat terus memutuskan telfon dan melanjutkan makan siangnya yang tinggal sedikit dan bergegas mengantarkan pesanan kakaknya yang baka itu.

Di tempat Sasori

"Anak ini benar-benar" gumam Sasori kesal karena telfonnya dimatikan begitu saja.

"Ada apa Sasori-kun ?" Tanya Gadis berambut pirang yang duduk tidak jauh dari laki-laki berwajah awet muda ini.

Sasori melihat ke arah gadis itu lalu tersenyum simpul "Aaa tidak ada apa-apa Shion, gimana sudah kau tata dengan baik ?" jawab Sasori seraya berjalan menghampiri Shion.

Shion masih membetulkan letak tata surya dan menambah aksen-aksen biar menyerupai tata surya yang nyata "Yaa hampir sempurna, tinggal menambah manusia astronotnya saja" jawab Shion dengan senyum puas menghiasi wajah manisnya. Sasori hanya mengangguk dan kembali ke tempat nya mempersiapkan alat Astronominya.

xxxx

Sakura's POV

Setelah Sasori menelfonku, aku bersiap-siap ke kampus Sasori untuk mengantar barang-barangnya. memang berat tapi aku masih sanggup mengangkatnya dan membawa masuk ke mobil lalu dengan kecepatan tinggi aku menuju ke kampus Sasori tak lupa berpamitan dengan Kaasan yang kebetulan baru sampai ke rumah dan bertemu dengan ku si putri kesayangannya di luar rumah, tidak lebih dari 45 menit untukku sampai ke kampus Sasori. Sambil menyetir mobil aku mendengarkan lagu di tape recoder, saat ini yang sedang kudengarkan adalah lagu Utada Hikaru-First Love . Kalian tahu aku sangat menyukai lagu ini karena begitu menyentuh hati atua sebaliknya lagu ini sedang menggambarkan suasana hatiku akhir-akhir ini ? Aa lupakan kata-kataku barusan. Aku menyetir dengan menyanyikan lirik-lirik dari lagu tersebut. Sampailah juga aku di halaman kampus Sasori-nii, lalu aku memakirkan mobilku, setelah terparkir rapi aku mengambil Gadget-ku dan menelfon Sasori-nii sebelum membawa barang-barangnya masuk.

"Nee Sasori-nii ... aku sudah sampai, ini barang diantar kemana ?" tanyaku to the point.

"Kau sudah sampai, langsung ke kelasku. Aku tunggu!" Sasori-nii cepat menjawab dan cepat mematikan telfonku!

"Baik~ dimatikan?" Tidak bisa dipercaya "Ee … akukan tidak tahu kelas Sasori-nii, awas saja kau baka aniki ! mengerjaiku seenaknya begini" Aku memasukkan handphone-ku ke tas selempang yang saat ini menggantung di bahuku.

Aku kemudian turun dari mobil dan mengambil barang-barang Sasori-nii, Aku berjalan menyusuri koridor kampus yang lumayan ramai. Menaiki tangga untuk mencampai lantai 2 karena kelas untuk falkultas Astronomi ada di lantai 2 begitu aku melihat denah yang tadi aku lihat di pintu masuk, untung tempat parkirnya dekat dengan gedung falkutas kelas Sasori-nii menimang ilmu, sampailah aku dilantai 2 dan bergegas mencari kelas Sasori-nii tapi, karena kelasnya banyak aku akhirnya memutuskan untuk merencanakan aksi jalan pintas yaitu bertanya ke salah satu mahasiswa kampus sini :D

"Emm permisi ... boleh bertanya, kelas Sasori anak Fk Astronomi dimana yaa ?" tanyaku sopan ke gadis cantik yang aku hentikan ini.

Ia tersenyum ke arahku "Ohh ... kelas Sasori-kun ya, kamu lurus saja terus nanti belok ke kanan kelas Astronominya ada dipojok sendiri" jawab mahasiswi itu masih dengan senyum ramahnya 'cantik' batinku yang menilai sosok di depanku ini.

"Aaa … Arigatoo " Aku membungguk lalu kembali menyusuri koridor yang panjang ini. Setelah berjalan sesuai yang diberitahu mahasiswi cantik tadi, akhirnya aku sampai di kelas Sasori-nii dan di sini aku berjalan ke arah kelas Sasori-nii bisa kulihat dia yang sudah menungguku di depan kelasnya.

"Wuahh ... hebat juga kau Saku-chan, kau berhasil membawa barangnya dengan utuh" Sasori-nii tampak senang sambil mengambil alih barang-barang dari genggamanku.

Aku menepuk-nepuk tanganku seperti membersihkan tangan dari debu "Itu hal mudah!" sekali-kali sombong tak apakan ? "Kok kelihatan sepi, memang sudah pada pulang ya ?" Ku lihat sekilas kelas Sasori-nii yang tidak sepi dan tidak terlihat ramai.

"hm iya sudah pada pulang yang ada di dalam sana anak-anak yang alatnya belum jadi" Sasori-nii menjawab tanpa memperhatikanku dan masih melihat barang bawaan yang ku bawa dan mengeceknya apa aku kelupaan sesuatu ? hah! Yang benar saja.

Aku mengabaikan Sasori-nii yang sibuk mengecek barangnya dan melihat ke dalam kelasnya, terlihat orang-orang sibuk dengan alat-alat yang asli tidakku tahu itu. Tapi ada pemandangan yang tidak enak dari bangku tengah, Aku membelalak tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini, siapa yang duduk berdua di bangku itu. Iya laki-laki yang akhir-akhir ini lancang hinggap di pikiranku, siapa lagi kalau bukan Sasuke dan apa itu ? Dia dengan seorang gadis cantik berambut panjang pirang diikat hanya di ujungnya saja, mereka sedang bercanda sambil menatap ke laptop yang ada di depan gadis cantik itu. Sekarang dapat aku rasakan dadaku berdenyut nyeri seperti dihujam ribuan jarum tak kasat mata melihat pemandangan itu. Aku tidak pernah melihat Sasuke tersenyum seperti itu, kemarin waktu dia ke rumahnya, kediaman Uchiha, Aku hanya melihat senyumnya yang tipis sekali seperti benang, tolong dicatat tipis seperti benang! Dan itu saja sudah membuatku meleleh apalagi tatapan mata hitamnya yang tajam seolah membius siapa saja yang melihat mata itu. Tapi kali ini aku bisa melihat senyum lebarnya Sasuke merekah dengan indahnya membuatku tidak lepas dari sosok Sasuke yang masih serius memperhatikan laptop bersama dengan gadis cantik itu. Memang dari keliatannya Sasuke hanya tersenyum melihat ke laptop tapi tetap saja itu membuat dadaku berdesir merasakan sakit! Sungguh ini menyebalkan sekali!. 'Hey untuk apa kau sakit hati, kau bahkan bukan siapa-siapanya dia' Aku mengenyahkan pikiran-pikiran yang berkelebatan di kepalaku dan menetralkan laju Jantungku.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah Sasori-nii lagi, "Nee, Sasori-nii itu yang duduk di samping Sasuke siapa ?" tanyaku hati-hati untuk menutupi kecurigakan Sasori-nii.

Sasori-nii menghentikan aktivitasnya dan melihat ke kelasnya, "Ohh ... itu Shion, dia temanku juga waktu SMP dia itu…" Sasori-nii memberi jeda dan beralih menatapku, itu membuatku merasakan hal yang tidak enak setelah ini.

"Dia itu apa ?" Tanyaku mulai tidak sabar.

Sasori-nii masih diam memperhatikanku dengan intens "Pacarnya Sasuke"

DEG !

Jawaban Sasori-nii bagai jarum yang langsung bersarang di ulu hatiku! Aku membatu seolah mati rasa mendengar jawaban yang di keluarkan Sasori-nii, rasa sakit didadaku semakin menjadi, airmataku siap untuk keluar tapi kucegah karena takut niisan akan bertanya-tanya kenapa aku menangis.

"Memang ada apa ?" Sasori-nii bertanya, namun pertanyaan Sasori-nii tidak kuindahkan, aku masih terkejut dengan pernyataan Sasori-nii perihal gadis cantik itu adalah kekasih Sasuke. Sadar akan tidak ada jawaban dariku ku dengar Sasori-nii menghela nafas pelan.

"Sakura ... kau kenapa diam saja" Sasori menegur ku sambil menggucang tubuh mungilku.

Aku tersadar dari lamunanku, "Haa ... aku tidak apa-apa ?" jawabku berusaha bersikap biasa saja.

Sasori-nii hanya geleng-geleng kepala, bisa kupastikan dia masih tidak percaya aku belum menghilangkan hobiku yang suka melamun ini "Akhh ... sudahlah lagian tidak penting juga, sudah sana pulang tugasmu sudah selesai di sini!" Sasori-nii membereskan barangnya dan berbalik masuk ke kelasnya. Sedangkan aku masih diam saja tidak mengindahkan perintah Sasori-nii yang menyuruhku pulang.

"Kenapa masih diam disitu ? Sudah sana pulang nanti kau dicari Kaasan, bilang juga ke Kaasan kalau aku nanti pulang telat " Ucapan Sasori-nii membuyarkan lamunanku lagi, ternyata dia berbalik menghadapku yang masih diam di tempat.

Aku menatap Sasori-nii dengan wajah masam, "Iya … iya … aku pulang dulu Sasori-nii, salam untuk Sasuke !" pamitku berlalu meninggalkan Sasori-nii yang seperti nya mengumpat kesal karena aku langsung main pergi.

Normal's POV

Seperjalanan Sakura meninggalkan kelas Sasori, dia masih teringat kejadian di kelas niisan-nya tadi, seperti roll film yang terputar kembali di kepalanya, Sakura menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan bayang-bayang dari kejadian tadi, tapi otak dan matanya tidak mau bekerjasama dengannya dan akhirnya Sakura tidak dapat membendung airmatanya lagi. Sakura menangis sambil menyusuri koridor kampus dan tidak mempedulikan orang-orang melihatnya dengan tatapan bingung melihatnya menangis, sesampainya di parkiran Sakura masuk ke dalam mobilnya dan masih menangis dalam diam, dia tidak tahu kenapa dia menangis seperti ini, karena untuk pertama kalinya dia merasakan debaran yang berbeda dengan laki-laki lain tapi, dia cukup waras bahwa dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Sasuke karena insiden tabrakan dan mengakibatkannya jatuh kesimpulannya dia mencintai Sasuke, Sakura bahagia karena akhirnya dia bisa merasakan cinta untuk seseorang. Yahh kalau boleh jujur dia tidak pernah sedikitpun tertarik akan hal itu, memang dia banyak yang menyukai dan bahkan tak banyak dari mereka menembaknya untuk menjadi kekasihnya, tapi Sakura hanya menganggap mereka sebagai teman tidak lebih. Karena menurutnya hubungan lebih dari pertemanan kalau sudah berakhir akan mengakibatkan dia dan orang itu akan saling menjauh, dan Sakura tidak mau akan hal itu.

Tapi Sakura harus merasakan ini juga karena untuk pertama kalinya cintanya harus kandas karena bertepuk sebelah tangan, karena dia telah jatuh cinta dengan laki-laki yang memiliki seseorang yang sudah mengisi hatinya. 'Sungguh miris sekali' Sakura tersenyum pahit mendapati dirinya sangat menyedihkan saat ini. Sakura menyeka airmatanya kasar dan berlalu meninggalkan kampus Sasori dan berharap seiring perjalanannya pulang bayang-bayang tadi bisa ikut menghilang seperti jejaknya meninggalkan kampus Sasori.

xxxx

Sasori meletakkan barangnya di atas meja dekat peralatan Astronomi yang sudah dia tata, "Jadinya kau yang membawa sendiri itu barang ?" tanya Sasuke memandang ke arah Sasori yang menaruh peralatan Astronominya.

Sasori menggeleng "Tidak, tadi Sakura ke sini" Sasori berjalan menghampiri Sasuke.

Sasuke mengernyitkan heran "Sakura ke sini ?" Sasuke tampak tidak tahu akan kehadiran Sakura tadi ke kelas Sasori.

Sasori menduduki kursi di depan Sasuke "Kau tidak tahu yaa ? Kau saja masih sibuk sendiri dengan Shion" jelas Sasori, "Padahal Sakura melihat-lihat ke dalam kelas cukup lama" lanjut Sasori dengan seringai tipis di sudut bibirnya.

Sasuke hanya diam tidak tahu ingin mengatakan apa, "Aa .. Kau juga dapat salam dari Sakura" kata Sasori lagi.

"Hn … salam balik saja" kata Sasuke datar. Dijawab dengan anggukan Sasori

"Sasori-kun, tolong bantu aku!" Teriak Shion dari depan kelas.

Sasori memandangi Shion yang kerepotan dengan alat-alat yang bergelatakkan tidak karuan. Ia menghampiri gadis itu, "Baka, kenapa kau menaruh ini di sini ? harusnya ini di sini, dasar kau ini" Serunya kesal dan membenarkan letak alat yang salah dan dipindahkan di posisi yang seharusnya, Shion hanya menggembungkan pipinya karena dapat teguran lagi dari Sasori.

Shion memalingkan wajahnya "Habis Sasori-kun tidak mau membantuku, aku kan kerepotan tahu!" Rajuk Shion tidak mau disalahkan, Sasori hanya menarik nafas dan menghelanya pelan.

"Ini sudah aku betulkan, lanjut ke bagian lainnya" Sasori kembali ke tempat duduknya dan masih melihat kinerja Shion, Sasuke yang sedari tadi melihat kedua insan berbeda gender itu adu mulut hanya tersenyum simpul. Dia kembali melihat layar laptop yang sedari tadi dia lihat, foto seorang gadis kecil yang lucu dengan pita rambut berwarna merah yang menghiasi rambut sebahunya, pipi cubbynya yang bersemu merah menatap kamera. Dia tersenyum melihat foto itu.

"Kau lihat apa ? sampai tersenyum sendiri begitu" Tanya Sasori yang memperhatikan Sasuke tersenyum sendiri bahkan Sasori jarang melihat Sasuke tersenyum lembut seperti itu.

Sasuke mendongakkan kepalanya dari laptop, "Hn, tidak lihat apa-apa"

Sasori hanya angkat bahu acuh, kembali pandangannya ke Shion yang kembali kebingungan dengan alat-alatnya lagi. Sasori hanya tersenyum geli melihat wajah Shion yang kebingungan seperti itu.

"Jangan senyum-senyum saja Sasori-kun, cepat bantu aku!" Shion merengek kesal melihat Sasori masih tertawa melihat tampangnya yang kebingungan.

Sasori menghampirinya lagi "Makanya kalau ada penjelasan diperhatikan, bukannya sibuk dengan hal lainnya. Akhirnya kena batunya sendirikan, baka" Kata Sasori sambil melipat tangannya ke dada memperlihatkan seringai jahilnya yang tampak mempesona itu.

Shion buang muka tidak peduli atau sebenarnya dia menutupi rona merah dipipinya karena Sasori tampak tampan dengan gaya seperti itu, "Baik baik. Aku bantu nona manis" katanya lalu mengambil alih menata kembali alat-alat yang salah ke tempat yang benar, Shion beralih melihat Sasori yang menata alat-alatnya dan tersenyum kikuk menutupi semu merahnya, akhirnya dia mengalihkannya dengan memperhatikan penjelasan dari Sasori.

Sasuke yang melihat mereka hanya menggeleng kepala, "Pasangan yang aneh!" gumamnya kembali melihat layar laptop.

xxxx

Makan malam Sakura kelihatan tidak bersemangat hanya mengaduk-aduk makananya sampai terlihat seperti bubur. Dan berkali-kali Sakura menghela nafas pelan dan acuh dengan makan malamnya, Mebuki yang melihat anak kesayangannya bertingkah aneh malam ini mencoba bertanya.

"Sayang ... kenapa nasinya malah diaduk-aduk begitu, kamu sakit apa masakan kaasan tidak enak ya ?"

Sakura tidak menjawab dan masih mengaduk-aduk makanannya sambil menumpu pipi kirinya dengan tangan kirinya, hah ini dia jeleknya Sakura karena kebiasaannya adalah melamun dia tidak mendengar Mebuki bertanya padanya, "Sakura … kamu kenapa nak ?" giliran pria paru baya Kizashi, Tousan Sakura yang bertanya, tapi tetap tidak ada respon dari Sakura. Kedua orangtua paru baya ini hanya menggeleng kepala melihat sikap anak perempuan mereka yang memang hobi melamun ini dan tidak ada yang meneggurnya lagi sampai Sasori datang, yang baru selesai mandi karena dia baru pulang tadi dan disuruh Mebuki cepat mandi supaya bisa sekalian makan malam bareng.

Sasori yang melihat wajah Tousan dan Kaasan-nya bingung sambil menatap Sakura yang masih mengaduk-aduk makanannya bertanya dengan nada pelan 'Sakura kenapa ?' Kizashi dan Mebuki hanya geleng kepala tidak tahu dengan sikap aneh Sakura, akhirnya Sasori duduk di samping kanan Sakura dan melihat imouto-nya yang masih asik dengan dunia lamunannya.

"Sakura … " Panggil Sasori sambil melambaikan tangannya di depan wajah Sakura.

Sakura tidak mengubris Sasori dan tetap acuh sesekali menghembuskan nafasnya pelan, Sasori menatap Tousan-nya untuk ijin. Tahu maksud anak laki-laki dikeluarga Haruno ini, Kizashi menanggapi dengan anggukan, yah demi Sakura apapun dilakukan Sasori.

Sasori menarik nafas dan … "SAKURA !" teriak Sasori di telinga kanan Sakura.

Sakura sontak kaget dan kesal karena Sasori berteriak tepat di telinganya "Niisan! Ada apa dengangmu ? kenapa berteriak ? Sakit tahu! memang kalau ngomong pakai suara kecil aku tidak dengar apa ?" Sakura berseru marah sambil mengelus-elus telinganya karena berdengung akibat teriakan Sasori, Mebuki dan Kizashi hanya menghela nafas melihat anak-anak mereka.

"Sudah-sudah jangan mulai bertengkar, tadi Sasori-kun, Tousan dan Kaasan memanggilmu Sakura-chan. Tapi kamu diam saja sambil mainin makananmu. Itu lihat sudah seperti bubur saja makananmu gara-gara tidak kamu makan. Kamu kenapa sayang ?" kata Mebuki panjang lebar masih dengan nada lembut.

Sakura menghela nafas pelan, sesekali mengusap-usap telinganya yang masih berdengung "Aku tidak apa-apa Kaasan" Sakura mendorong makanannya dan meminum air putih dan beranjak berdiri.

"Kau mau kemana tukang melamun" goda Sasori

"Sasori-nii berisik! Kaasan Tousan, Sakura ke kamar dulu" Sakura berbalik dari meja makan.

"Lho ... kamu kan belum makan apa-apa sayang ?" Mebuki mencegah anak perempuan semata wayangnya ini, Tapi Sakura tidak mengubris kata-kata Mebuki dan berlalu berjalan meninggalkan meja makan, Mebuki hanya menghela nafas pelan sedangkan Kizashi menggelengkan kepalanya melihat sikap anak gadisnya masih saja bersikap begitu namun Sasori masih melihat punggung Sakura yang semakin menghilang dari balik pintu pembatas antara Dapur dan ruang tengah. 'Ada apa dengannya?' cemas Sasori dalam hati.

Sakura masuk ke kamar menuju balkon kamarnya, dia melihat pemandangan yang sepi di luar sana karena memang suasana perumahan memang begitu kan ? jauh dari kesan ramai. Sakura kembali teringat akan kejadian dimana dia melihat Sasuke dengan seorang gadis cantik berambut pirang yang jelas itu pacarnya dan tahu-tahu airmatanya kembali mengalir membasahi pipi mulus putihnya. Sakura merutuki dirinya yang bodoh masih memikirkan hal yang tidak penting ini dan tetap memutar bayang-bayang tadi siang seperti film yang enggan untuk berhenti meski Sakura mencoba mengenyahkan itu semua.

Setelah makan Sasori mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan adik semata wayangnya ini, dia naik ke atas dan menuju kamar Sakura dengan buru-buru.

Tokk ... Tokk ...

"Sakura … ?" panggil Sasori "Aku boleh masuk ?" lanjutnya meminta ijin masuk kamar Sakura. Tapi tidak ada sahutan dari Sakura, karena memang letak balkon jauh dari pintu kamar Sakura sehingga dia tidak mendengar ketukan pintu Sasori, dilain sisi Sakura masih menangis.

"Sakura ... kalau ada masalah cerita saja, siapa tahu aku bisa bantu" kata Sasori lagi dari balik pintu dan masih tidak ada sahutan dari dalam, sebal karena dicuekin akhirnya Sasori membuka kamar Sakura yang kebetulan tidak dikunci. Sasori mengedarkan pandangannya mencari Sakura, di meja belajar tidak ada, di kasur juga tidak ada, akhirnya matanya melihat pintu menuju balkon terbuka, dia melangkah mendekati balkon kamar Sakura.

"Hah … kau itu kenapa ? Akhir-akhir ini sikapmu aneh" Sasori sudah ada di samping Sakura yang sedang duduk memandang langit hitam sambil memeluk kakinya.

Sakura beralih dari langit melihat Sasori dan yang membuat Sasori kaget adalah untuk bertama kalinya dia melihat Sakura menangis, "Sakura … kau menangis ?" Tanya Sasori yang masih membelalakkan matanya tidak percaya melihat butiran bening mengalir dipipi putih imouto-nya. Sakura mengahapus air matanya dengan kasar.

Sasori menghela nafas pelan "Kalau ada masalah kau bisa bercerita, dengan membagi masalah dengan orang lain bisa menghilangkan beban berat yang kau rasakan" Sasori menatap langit hitam yang bertebaran bintang-bintang. Mereka masih diam tidak ada yang berbicara atau setidaknya Sasori menunggu Sakura siap menceritakan masalahnya ke dia.

"Sasori-nii belum tentu bisa membantu masalahku" Sakura akhirnya bersuara dengan suara sesugukkan sambil menangkup dagunya di luntutnya.

Sasori beralih memandang Sakura "Kenapa kau bicara begitu, setidaknya meski aku tidak bisa membantu, dengan bercerita kau mengurangi bebanmu"

Sakura mendesah "Sasori-nii, apa aku bisa merebut orang yang sudah jelas-jelas punya kekasih ?" ucap Sakura pelan dan sesuatu dari matanya mengalir lagi membasahi pipi mulusnya.

Sasori terdiam, menunggu Sakura menyelesaikan ceritanya "Aku baru merasakannya niisan, baru merasakan menyukai seseorang dan aku baru tahu kalau ternyata aku sudah jatuh cinta dengannya. Aku berpikir kalau aku hanya sekedar mengaguminya saja. Tapi ternyata aku terus memikirkannya, kalau bertemu atau sedang memikirkannya wajahku rasanya memanas dan terutama di sini rasanya berdebar-debar tidak karuan" Sakura sambil memeggang dadanya bercerita panjang lebar, air matanya masih menetes walau sudah disekanya berulang-ulang tapi masih saja turun tidak mau berhenti, Sasori yang baru pertama kali melihat Sakura menangis sesugukkan seperti itu langsung memeluknya, mungkin hanya ini yang sementara bisa membantu Sakura.

"Apa niisan pernah merasakan ini sebelumnya ?" masih di dekapan Sasori, Sakura bergumam. Meski pelan masih dapat ditangkap telinga Sasori.

"Hm, pernah. Tapi tidak sampai menangis seperti kau saat ini" goda Sasori sambil tertawa, Sakura tersenyum di dalam dekapan Sasori

"Aku lemah yaa terhadap cinta, baru begini saja sudah cengeng" Sasori mengelus-elus rambut sepunggung merah mudanya Sakura dengan lembut.

"Itu hal yang wajar Sakura, apalagi kau baru pertama kali merasakannya" ucap Sasori mencoba menenangkan hati Sakura, Sakura masih terbenam di dada bidang kakaknya dan menangis sesugukkan, ternyata benar apa yang dikatakan Sasori kalau dengan bercerita bisa meringankan beban yang sedang kau rasakan. Nyatanya Sakura lebih ringan rasanya setelah bercerita ke Sasori, Sakura melepas pelukan Sasori dan menyeka sisa-sisa air matanya.

"Kau jelek kalau menangis, lebih cantik kalau marah-marah" goda Sasori sambil mencubit pelan pipi mulus Sakura yang memerah akibat menangis.

Sakura tersenyum geli, "Dasar, arigatoo niisan" Sasori mengacak-acak pucuk rambut Sakura.

"Sama-sama" ucap Sasori sambil tersenyum lembut "Kalau boleh tahu siapa laki-laki yang kau sukai itu dan bagaimana kau bisa menyukainya ? maksudku apa dia temanmu yang sudah lama kau kagumi dan sukai diam-diam atau orang yang tiba-tiba masuk ke hidupanmu dan membuatmu merasakan ini semua ?" Pertanyaan Sasori yang ke dua tepat sasaran dan itu membuat Sakura membatu, Sakura diam untuk beberapa saat.

"dia laki-laki yang tidak sengaja aku temui akibat insiden bertabrakan denganku waktu lari pagi Minggu kemarin, kita memang sempat adu mulut bukan aku sih yang adu mulut, Cuma dia dan Matsuri yang adu mulut. Tapi menurutku dia orangnya baik sepertinya hehe aku baru sadar setelah beberapa hari ini selalu memikirkannya, dan saat bertemu dengannya lagi jantungku berdegup tiga kali lipat dari biasanya dan tatapan matanya yang tidak pernah bisa aku lupa, tatapannya seolah menghipnotis siapa saja yang bertatapan langsung dengan matanya tidak boleh beralih menatap yang lain! Dan aku selalu salah tingkah jika bertatapan dengannya, tapi anehnya aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari matanya, dan seperti pertanyaanmu tadi, sepertinya posisiku saat ini memang dia datang tiba-tiba dan membuatku merasakan semua ini " kata Sakura panjang lebar dengan senyum tipis di sudut bibirnya, Sasori hanya mangut-mangut tersenyum mendengar cerita Sakura.

"Lalu ... siapa nama Laki-laki itu ?" pertanyaan Sasori kali ini membuat Sakura kehabisan kata-kata, dilain sisi dia tidak ingin Sasori tahu perihal dia menyukai Sasuke yang notabenya adalah temannya Sasori, tapi di sisi lain dia tidak bisa membohongi Sasori, kakak yang selalu ada disaat apapun untuk menghiburnya yaa dilain sisi untuk menjahilinya biar Sakura tidak bersedih juga.

"Heiii …. " lambaian tangan Sasori di depan wajah Sakura karena tidak ada jawaban dari imoutonya ini.

"Hah iya .. Sasori-nii"

Sasori mendesah "Sakura … Sakura … ditanya siapa nama laki-laki itu malah diam"

Sakura terseyum kikuk "Namanya ..." Sakura gugup bukan main sekarang 'bilang, tidak, bilang, tidak, bilang' ada perang batin yang sekarang Sakura rasakan, Sasori tampak menunggu jawaban Sakura "Namanya … Uc-"

"Sasori-kun ... kamu dicari temanmu, dia ada diruang tamu" suara Mebuki dari balik pintu kamar Sakura mengintrupsi kelanjutan kalimat Sakura, 'Syukurlah' batin Sakura lega membelai dadanya.

"Yaa Kaasan! Tunggu sebentar!" jawab Sasori sedikit berteriak, Sasori tampak kesal karena asyik-asyiknya dengerin curhatan imouto-nya malah ada yang mengganggu.

Sasori beranjak dari duduknya "Ceritanya dilanjut nanti kalau temanku sudah pulang ya" minta Sasori sambil mengacak pucuk rambut merah mudanya Sakura.

"Hmm ... oke, sana temuin dulu teman niisan. Kasihan kalau harus menunggu tukang ngaret seperti Sasori-nii" ejek Sakura terkekeh geli.

"Enak saja tukang ngaret, dasar Dahi Lebar!" balas Sasori tidak mau kalah, dan buru-buru Sasori masuk kamar Sakura keluar dari balkon turun dan menemui tamunya.

"Aku terselamatkan dari teman Sasori-nii" kata Sakura menyusul Sasori masuk ke kamarnya dan menutup pintu menuju balkon, Sakura merebahkan diri di atas kasur mencoba menenangkan pikiran dan hatinya, matanya sedikit bengkak akibat menangis terlalu lama.

xxxx

Sesampainya di ruang tamu Sasori bertemu dengan orang yang berkunjung malam ini, yang berkunjung adalah Sasuke.

"Ehh ... kau Sasu, ada apa malam-malam ke rumah, tumben ?" tanya Sasori yang kemudian duduk berhadapan dengan Sasuke yang terhalang meja.

"Kebetulan tadi ke rumah Naruto sekalian mampir saja. rumahnya di daerah sini kau tahukan" jelas Sasuke masih memasang muka datarnya, tak berapa lama datang bibi untuk mengantar minuman.

"Hoo ... begitu, oiya silakan diminum dulu Sasu" Sasori mempersilakan Sasuke minum.

"Iyaa ... nanti saja" Sasuke menjawab dengan wajah datar andalannya, Sasori hanya menggangguk saja.

Mereka masih diam selama beberapa menit, Sasori yang sedari tadi memperhatikan Sasuke terus terusan mencuri kesempatan melihat ke arah dalam rumah. Menyadari akan sesuatu, ia menyeringai tipis yang tentunya hanya dia dan tuhan yang tahu arti seringainya.

"Kau mencari Sakura ? Apa mauku panggilkan ?" ucapan Sasori menginterupsi Sasuke untuk melihat ke arahnya.

"Hn ... terserah kau saja" jawab Sasuke datar.

Sasori tersenyum, "baiklah aku panggilkan dia dulu" kata Sasori lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Sasuke sendirian di ruang tamu. Sasori menaiki tangga dengan kecepatan tinggi.

Tookk ... Tookk ...

"Siapa ?" tanya Sakura di dalam kamar.

"Ini Aku, ada yang mencarimu!" jawabnya sedikit berteriak sambil bersender di pintu kamar Sakura dengan senyum seringainya masih terpatri di wajah bayinya.

Sakura mengkerutkan dahinya "Memang siapa yang mencariku malam-malam begini ?" tanya Sakura yang berjalan menuju pintu kamarnya.

"Sudahh ... kau turun dan temui dia dulu, jangan banyak tanya!" Desak Sasori agak kesal tapi tetap memasang senyum tipisnya.

'Hii ... ini niisan bikin down lama-lama' gumam Sakura sambil memegang kenop pintu kamarnya, Sakura yang tidak tahu Sasori sedang bersandar di pintu tiba-tiba membuka pintu begitu saja "Wow ... buka pintu tiba-tiba, hampir jatuh nih!" Sasori membenarkan letak berdirinya yang hampir terjatuh dan memasang wajah kesal ke arah Sakura, Sakura menahan tawanya "Kenapa tertawa!" gerutu Sasori kesal.

Sakura berdehem menghilangkan rasa ingin tertawanya, "Akhh ... sudahlah, kan hampir jatuh belum jatuh kan ? terus, siapa yang mencariku nissan ?" tanya Sakura mengabaikan wajah kesalnya Sasori.

"Lihat saja sendiri di ruang tamu, aku mau ke kamar mandi dulu nanti ku susul ok !" Sasori berjalan meninggalkan Sakura yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya dengan wajah bingung.

"Siapa yang malam-malam begini mencariku ? bukannya teman Sasori-nii yang ke rumah" gumam Sakura sambil berjalan menuju ke ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu Sakura membelalak kaget tapi tetap bersikap biasa karena takut reaksi kagetnya terlihat dengan orang yang sedang duduk bersandar di sofa empuk rumahnya.

"Sa-Sasuke ?" ucap Sakura gugup 'Sial, kenapa aku jadi gugup begini' umpat Sakura dalam hati. "Kau mencariku, Sasuke ?" Tanya Sakura mencoba sebiasa mungkin

"Hn" jawaban ambigu itu keluar lagi dari mulutnya.

Sakura hanya bisa tersenyum mendapat jawaban itu dari Sasuke, kemudian Sakura duduk menghadap Sasuke atau lebih tepatnya kursi yang tadi ditempati Sasori kini ditempatinya, tak ada yang memulai pembicaraan di antara mereka.

"Ehh ... diminum dulu?" tawar Sakura memecah kecanggungan diantara mereka berdua

"Hn" jawaban ambigu keluar lagi tapi kemudian Sasuke meminum minumannya.

"Wuahh ... giliran Sakura yang menyuruh baru diminum, kalau aku yang menyuruh nanti alasannya" Sasori yang tiba-tiba datang dari arah ruang keluarga membuat dua orang berbeda gender itu sontak kaget, namun Sasuke tetap memasang wajah datarnya.

"Sasori-nii bikin kaget saja!" Sasori hanya tertawa saja mendapati wajah-wajah lucu dari dua orang ini.

"Gomen … aku sengaja" Sasuke hanya mendengus mendegar jawaban Sasori.

"Aaa aku hampir kelupaan,Nee Sasori-nii besok sabtu Gaara ulang tahun ku harap kau tak lupa dengan ulangtahun sepupumu sendiri dan Sasori-nii diundang, niisan juga boleh mengajak teman, biar tidak kelihatan tua sendiri katanya Gaara karena teman 1 kelasku pada diundang semua"

Sasori menautkan alisnya "Enak saja tua, wajah babyface begini dibilang tua, nanti juga teman-temanmu pada naksir aku" Sasori berjalan dan memposisikan diri dikursi pinggir di sisi Kiri Sakura dan kanan Sasuke. Sasuke hanya menggeleng tak percaya mendengar jawaban temannya yang terlewat PD ini 'dia sama saja dengan dobe' batin Sasuke.

"Yaa ... terserah niisan, debat dengan orang yang mempunyai khayalan tingkat tinggi memang susah" kata Sakura cuek. Sasuke hanya tersenyum tipis.

"Hee Sasuke kenapa kau tersenyum, senang melihat aku dipojokkan yaa" Sasuke hanya angkat bahu tidak peduli "Ini teman sendiri membela musuh, tidak adil!" protes Sasori pura-pura kesal.

"Semua adil dalam perang dan cinta, wekk ..." ledek Sakura.

Sasori memutar bola matanya "Yaya aku mengalah kali ini Sakura" kata Sasori, Sakura hanya terkekeh melihat Sasori kalah debat dengannya "Hmm .. Sasu kau ku ajak, sekalian ajak Naruto dll. Ahhh ajak juga Shion!" lanjut Sasori bersemangat menyebut nama Shion. Sasuke hanya mengangguk saja.

Sakura reflek memasang wajah datar setelah Sasori menyebutkan nama Shion, 'apa ! Shion ikut keacara nya Gaara?' batin Sakura.

"Acaranya dimana ?" Sasori memandangi Sakura yang diam saja tidak menjawab pertanyaannya.

Sasori kemudian menghampiri Sakura dan melambaikan tangan ke wajah Sakura, masih tidak ada reaksi 'keluar lagi deh sifat jeleknya' gumam Sasori, Sasuke hanya memandang Sakura dan beralih memandang Sasori seolah bertanya 'ada apa dengannya' melalui gerakan kepalanya dan Sasori hanya menjawab dengan gelengan kepala. Akhirnya Sasori mengguncangkan tubuh Sakura hingga Sakura tersadar dari lamunannya "Kau ini, bisa tidak hilangkan sifat suka melamunmu itu ?" kata Sasori menekan kalimat melamun!

Sakura tersenyum kikuk "Gomen Sasori-nii, kau seperti tidak tahu aku saja"

Sasori menghela nafas pelan "Terserah, aku cuma mau kau mengurangi kebiasaan melamunmu itu, tidak baik. Sekarang aku tanya acaranya Gaara dimana ?"

"Iyaa iyaa akan aku coba … hm aku tidak tahu, mungkin di villa keluarganya" jawab Sakura.

"Hmm … baiklah, kalau ada kabar jangan lupa beritahu aku" Sasori kembali memandang Sasuke yang sedari tadi memandang kakak beradik di depannya ini

"Maaf Sasuke, kau harus melihat kebiasaan buruk Sakura yang aneh ini" kata Sasori sambil melihat orang yang dibicarakannya, Sakura hanya memalingkan wajahnya sebal

"Hn, tidak apa" Sasuke yang diam-diam mencuri pandang ke arah depannya, "Sepertinya aku pulang sekarang saja. Sudah malam" lanjut Sasuke beranjak berdiri.

"hmm baiklah, nanti aku kabari lagi tentang acara sepupuku itu mulai jam berapa dan dimana" Sasuke hanya membalas mengangguk dan beralih melihat Sakura yang sedari tadi memandanginya dalam diam, mata mereka bertemu satu sama lain, mata hijau klorofil dan hitam kelam. Mata menyejukkan dan mata menyeramkan, seolah-olah terbius dengan masing-masing mata yang dipandang sampai mereka tidak menyadari kalau itu berlangsung cukup lama, dan Sasori menyadari adegan pandangan itu dan hanya menghela nafas sambil tersenyum aneh yang sulit diartikan .

"Kau tidak jadi pulang Sasuke?" suara barinton Sasori membuyarkan pandangan matanya dan beralih memandang Sasori.

"Hn aku pulang dulu, oyasuminasai Sakura" Sasuke berlalu pergi meninggalkan Sakura yang sudah merona mendapatkan ucapan selamat malam dari Sasuke. Sasori yang kembali dari luar setelah mengantar Sasuke ke depan terheran mendapati adiknya yang masih duduk diam dan anehnya pipinya merona entah karena apa.

"Tidak sakit" Sasori melepas tangannya dari dahi lebar Sakura.

Sakura mengerutkan dahi mendapati Sasori memegang dahinya "Kau kenapa ? pipimu merah begitu ?" mengerti dipandang aneh dengan Sakura, Sasori menjelaskan dan duduk di samping kiri Sakura.

Sakura menggeleng "Aku tidak apa-apa niisan"

"Kau yakin ? kenapa juga wajahmu memerah seperti itu dan kau pun tidak demam, apa yang kau pikirkan nona ?" selidik Sasori dengan wajah serius.

Sakura memutar bola matanya "Aku baik-baik saja dan tidak sedang memikirkan apa-apa Sasori-nii, baka"

Sasori menghela nafas pendek. "Kalau tidak mau cerita ya sudah, bagaimana kalau dilanjut ceritanya yang tadi" Sakura tertegap mendengar ucapan Sasori.

"Etto, ak-aku ada tugas Sasori-nii. Aku ke atas dulu. Jaa-nee" jawab Sakura tergagap kemudian berdiri meninggalkan Sasori yang menatap bingung melihat sikap Sakura yang aneh 'Kenapa dengan anak itu' gumam Sasori angkat bahu sembari berdiri berlalu meninggalkan ruang tamu menuju dapur.

xxxx

Sakura menutup kamarnya dan menguncinya, dia medesah "Untung masih bisa menghindar dari Sasori-nii, bisa gawat kalau aku diinterogasi lagi" Sakura berjalan mendekat ke pinggiran kasur berukuran mini queen size-nya yang bernuasa peach itu.

Drt drt drt

Bunyi dari gadget nya membuat gadis bersulai merah jambu ini mengambilnya di meja samping kasurnya, pesan dari Toneri

From : Toneri

Hai Sakura, bagimana besok ? kau ada waktu untuk keluar besok atau kau jadi ke rumahku untuk melihat koleksi komik adikku ? kau janji akan menghubungiku, kau lupa yaaa.^^

Sakura menepuk dahinya "Astaga aku kelupaan, aduhh tapi gimana yaa ? terima tawarannya tidak yaa ?" gumam Sakura sambil merebahkan tubuhnya ke kasur empuknya, kemudian Sakura sibuk mengetik gadget nya dengan lihai setelah selesai dia meleparkan gadget nya ke sampingnya.

From : Sakura

Gomen Toneri aku lupa mengabarimu, besok sepertinya aku bisa mampir ke rumahmu melihat koleksi komik adikmu, sampai jumpa besok. Jaa~

Sakura terdiam sesaat sambil menutup matanya, mungkin tidak ada salahnya keluar dengan teman, lagipula dia dan Toneri sudah kenal dari bangku SMP, Sakura masih menutup matanya sambil sesekali menghela nafas pelan.. Tiba-tiba dia merasakan dadanya berdesir cepat sekali dan wajahnya mulai panas sampai ke telinga, Sakura bangkit dari tidurnya dan duduk sambil memegang dadanya erat. Rasa ini datang lagi entah gara-gara apa ? kemudian dia tersenyum ternyata dia kembali membayangkan kejadian beberapa waktu lalu saat dirinya dan Sasuke saling tatap.

Sakura pun tak bisa pungkiri saat bertatapan dengan Sasuke dia seperti diikat kencang seolah tidak boleh berpaling dan tetap menatap mata onyx Sasuke, dan kembali Sakura memegang pipinya yang mulai panas teringat ucapan 'selamat malam' dari Sasuke yang berhasil membuat Sakura seperti orang kesetanan seperti ini 'Setidaknya biarkan aku menikmati masa-masa ini walaupun dia sudah ada yang punya' gumam Sakura kembali tidur dan menyelimuti tubuhnya sampai dada, dia mencoba untuk tidur tapi gara-gara desiran didadanya masih cepat dia mencoba menutup matanya dan berucap pelan "Oyasuminasai Sasuke-kun"

.

.

~~To be Continued~~

boleh minta Riview ... :)