Update... Maafkan Author yang kalau update-nya itu lama setengah mati ini...
?: Jangan malas. Fokus juga sama sekolahmu.
Kamu munculnya di akhiran aja lah... 'Sebenarnya dia siapa sih?'
HAPPY READING~ (Maaf kalau romance-nya "gak ngena" dan "memaksa")
Seiya membuka matanya dan... benar saja, dia kembali ke dalam mimpi itu. Bukannya dia membencinya. Sebaliknya, kali ini dia merasa tempat itu... menenangkan, mungkin karena dia sudah menyelesaikan apa yang ingin dia lakukan, perasaan mencekam tempat itu kini lenyap. Hanya saja, setiap di sini, pikiran-pikiran ruwet selalu bermunculan di kepalanya. Seperti, manusia melihat karena menerima cahaya, jadi karena dia berada dalam kegelapan bagaimana dia bisa melihat? Atau, kekosongan dikatakan begitu karena, sudah jelas, kosong. Tapi karena dia ada dalam kekosongan itu, berarti itu bukan kekosongan lagi karena ada isinya? Dan masih banyak pikiran-pikiran ruwet lainnya, dia hanya mencoba untuk tidak memikirkannya.
Akhirnya dia mengangkat tubuhnya, dan dari ujung matanya, dia menangkap sebuah cahaya terang. Karena penasaran, dia menoleh ke arah datangnya cahaya tersebut. Yang dia temukan adalah sebuah lentera kertas, mengapung di permukaan lautan hitam. Cahaya keemasannya adalah sesuatu yang belum pernah dilihat Seiya di mimpi-mimpi sebelumnya.
Lentera itu bergerak pelan, seolah-olah menunggu Seiya mengikutinya. Setelah menyadarinya, Seiya pun mendekati lentera tersebut. Seiring Seiya mendekat, lentera itu bergerak menjauh, menuntun Seiya sampai akhirnya mereka tiba di tempat yang telah dikenalnya betul. Pulau kecil tempat dia bertemu gadis misterius itu.
Tapi ada yang berbeda, walau dari kejauhan bisa terlihat jelas. Tempat itu menjadi terang karena dikelilingi oleh lentera kertas yang sama dengan yang ditemukannya tadi. 'Mungkin karena tangan-tangan itu takut dengan cahaya, makanya lentera itu digunakan sebagai perlindungan?' Puas dengan deduksi itu, dia mengambil selangkah lebih dekat pada pulau itu.
Lentera yang menuntunnya tadi, kini bergerak lebih cepat menjauhi Seiya menuju pulau tersebut. Ia mengisi sebuah bagian kosong dalam lingkaran lenteranya. Sepasang tangan menyambutnya, sang gadis misterius kini membenarkan posisi lentera tersebut.
Seiya hanya berdiam di tempat. Jarak mereka terlalu jauh untuk berkomunikasi, tapi cukup dekat untuk melihat satu sama lain. Sang gadis mendongak dan tersenyum. Hanya saat sekilas itulah Seiya dapat melihat wajahnya, karena sedetik kemudian, sebuah angin kencang bertiup entah dari mana. Secara refleks dia mengangkat tangannya untuk melindungi matanya dari angin tersebut. Dari celah di antara tangannya, dia berusaha untuk menjaga agar pandangannya tetap pada si gadis.
Sementara itu, sang gadis masih duduk di ujung pulau, menghiraukan angin kencang yang membuat rambut panjangnya menari di atas angin. Matanya yang bagaikan safir biru menatap lurus ke depan, dan dengan senyuman lembut, ia berkata:「Terima kasih...」
Bonds Between The Two
.
.
Pagi hari di Mansion Kido, biasanya adalah pagi yang tenang dan sunyi, hanya dihiasi oleh kicauan burung atau senandung angin yang berhembus di antara dedaunan. Tapi hari ini, banyak sekali orang yang datang ke Mansion, menciptakan kebisingannya sendiri.
Kanon duduk dan melihat keluar dari jendela, orang-orang seperti pekerja keluar-masuk bangunan utama Mansion, sibuk mengerjakan sesuatu.
"Apa yang mereka lakukan, sih?" gumamnya.
"Saya mempekerjakan mereka untuk mempersiapkan pesta nanti malam."
Kanon berbalik dan menemukan Saori berdiri di ambang pintunya yang terbuka.
"Pesta?" tanyanya lagi.
"Ya," jawab sang Athena dengan singkat.
"Boleh saya tanya... untuk apa?"
Sebenarnya, Saori menunggu Kanon untuk menanyakan itu. Ia tertawa kecil dan menjelaskan, "Saya mungkin adalah Athena, tapi saya juga Kido Saori. Kido Saori, CEO dari Graude Foundation. Dan sepertinya, saya sudah mengabaikan peran tersebut untuk terlalu lama."
Kanon mengusap-ngusap bagian belakang kepalanya. "Maaf, tapi apa hubungan itu dengan pesta ini...?"
Sang Athena sebenarnya sadar kalau penjelasan yang diberikannya barusan bertele-tele, tetapi ia sengaja memberikannya. "Selama ini, perusahaan-perusahaan yang bekerja sama denganGraude Foundation berpikir perusahaan ini sudah gulung tikar. Di pesta malam ini, perusahaan-perusahaan itu akan diundang. Tujuannya, tentu saja untuk menunjukkan bahwa Graude Foundationmasih berdiri." Dan iapun mengakhiri penjelasannya dengan sebuah senyuman.
'Kenapa tidak mengatakan itu dari awal saja?' batin Kanon, tanpa sadar dia mendesah panjang.
"Apa saya membuatmu bosan, Kanon...?" tanya Saori dengan senyuman lembut.
Kanon langsung menegakkan postur tubuhnya. "Tentu saja tidak, Athena!" serunya.
Sang Athena malah memejamkan matanya, lalu berjalan melewati Kanon, ke ujung lain kamar itu. Saat tiba di depan jendela, tanpa menatap sang ksatria Gemini, sang gadis berkata, "...Bagaimana, kalau kamu jalan-jalan mengunjungi kota? Ini pertama kalinya kamu datang ke Jepang kan, Kanon?"
Ada selang kesunyian beberapa saat sebelum Kanon menjawab, "Tidak bisa. Tugasku di sini adalah untuk menlidungi Anda, bukan untuk bersenang-senang."
Saori terdiam, lalu menengadah menatap langit pagi.
"Kau tahu... Hidup hanya untuk memenuhi kewajiban, tanpa pernah merasakan kesenangan... adalah hidup bagaikan mesin. Jika begitu, aku tidak ingin ikut bagian dalam kehidupan seperti itu."
Kanon mengangkat sebelah alisnya, menunggu penjelasan sang Dewi. Akhirnya, Saori berbalik menghadap Kanon dan kembali tersenyum, "Seseorang pernah mengatakan itu pada saya. Nasihat yang baik, tidakkah kamu pikir begitu?" lanjutnya, "Lagi pula, di sini ada sepuluh orang ksatria yang, saya sangat yakin, dapat melindungi saya. Menurut saya, tak ada yang perlu kamu khawatirkan. Jadi... bagaimana kalau bersenang-senang, walau sekali ini saja? Saya ingin sekali melihatmu tersenyum... untuk pertama kalinya..."
Dengan kata-kata itu, ia meninggalkan Kanon. Setelah suara langkah kakinya ditelan oleh kesunyian, barulah Kanon mulai memikirkan kata-kata tersebut.
'Seiya, ya? Memang benar. Kalau Seiya... Aku yakin dia bisa melindungi Athena, mungkin, bahkan lebih baik dariku...'
Dia menatap lemari di sisi lain kamarnya. Setelah tiba di Jepang, Saori telah menyediakan segala kebutuhan sederhana untuknya―seperti pakaian―jadi dia tidak perlu khawatir soal tidak berbaur dengan orang-orang. Dia juga tak perlu khawatir akan masalah apakah dia bisa menyesuaikan diri dengan masyarakat atau tidak. Mau dia Saint yang seumur hidupnya tinggal diSanctuary, mereka semua pasti tak akan mendapat kesulitan untuk bersosialisasi dengan masyarakat normal.
Jadi apa yang menahanmu? Jujurlah, kamu juga tertarik untuk melihat-lihat negeri ini kan?
Rasanya ada bisikan seperti itu dari dalam dirinya.
"..."
Akhirnya Kanon mengambil sebuah jaket hitam dan berjalan keluar.
.
.
.
.
.
'Sepertinya... aku sudah menemukan jawaban dari pertanyaan itu...' pikir Kanon.
Kini dia ada di antara kerumunan orang, mengikuti arus orang-orang yang berjalan. Langkahnya terhenti, dan kembali, sebuah desahan panjang lepas dari mulutnya. Setelah keluar dari Mansion Kido, dia berjalan tanpa arah. Sampai akhirnya, dia sampai di daerah ramai, penuh dengan bangunan-bangunan tinggi. Tempat itu berbeda dari Athens, penuh dengan gedung pencakar langit, pemandangan gedung-gedung ini adalah perubahan yang menyegarkan dari bangunan-bangunan kuno Sanctuary.
Sebagian besar waktu selama berjalan, kepala Kanon akan terangkat dan melihat-lihat bangunan di sekelilingnya. Sikapnya sedemikian rupa, sehingga bukan memberikan kesan orang udik, tetapi lebih seperti turis. Yah, walaupun itu memang kenyataannya.
Kanon terus berjalan. Tanpa dia sadari, gedung-gedung tinggi menjulang itu kini digantikan dengan gedung setinggi 2 lantai. Ternyata, dia sudah kembali ke pinggiran kota, dekat dengan daerah perumahan.
Hanya ada satu masalah kecil―
'Akui saja, aku tersesat.'
―Kanon tersesat.
Saat itu, matahari sudah tinggi. Kanon memutuskan untuk kembali, tetapi... pemilihan waktunya kurang tepat. Jalanan kini penuh sesak dengan orang. Jam sibuk. Sejauh matanya, yang ada adalah lautan manusia tak berujung. Dan makin lama, jumlah orangnya justru bertambah. Akhirnya... Kanon terbawa oleh arus orang yang hilir mudik... sampai ke sisi lain kota.
Dan akhirnya dia sampai ke sini.
'Bagaimana aku kembali ke Mansion sekarang?' keluhnya dalam hati. Di tempat yang tidak dikenali, jalan yang tidak diketahui, berjalan tanpa tahu arah hanya akan memperburuk situasi.
Sinar matahari tiba-tiba menyerang matanya, secara refleks Kanon mengangkat tangannya di depan matanya. Matahari kini sudah tepat di atas kepalanya, udara semakin panas, keringat mulai mengalir dari dahinya.
Kanon mengalihkan pandangannya dari langit ke jalan di sisinya. Di depannya, ada sebuah penyebrangan, banyak orang yang menyebrang dari kedua sisi jalan, tapi ada seorang gadis yang langkahnya terhenti. Seiring dengan itu, dia menengadah menatap langit.
Lampu lalu lintas kini berubah merah, orang-orang mempercepat langkahnya untuk menyebrang sebelum ada kendaraan datang. Tapi, gadis itu masih tetap berdiri di sana. Ombak kekhawatiran mendadak mendatangi sang ksatria Gemini.
Yang datang berikutnya adalah sebuah suara memekakkan telinga, bunyi klakson dari sebuah truk. Ada truk yang datang, datang dengan cepat. Orang-orang hanya berdiri di sana dengan wajah khawatir, beberapa mengabadikannya dengan kamera handphone mereka. Tapi tak ada yang bergerak untuk menyelamatkan gadis itu.
Akhirnya, Kanon melompati pagar pembatas dan berlari ke arah gadis itu. Meski mereka tidak mengenal satu sama lain, tidak perlu bersembunyi di balik topeng bernama Saint, ada dorongan tersendiri dari hati Kanon untuk menyelamatkan semua orang yang bisa dia selamatkan. Menebus dosa-dosanya? Ya, mungkin karena itu.
Dia menggenggam tangan sang gadis dan bersiap menariknya. "Oi! Bukan saatnya untuk melamun!" serunya. Merasakan seseorang memegangnya, sang gadis tersentak sadar dan berpaling ke arah Kanon.
Untuk sesaat, waktu seolah melambat dan berhenti.
Gadis itu berparas cantik, rambutnya panjang berwarna cream, dan matanya bagaikan batu safir biru. Dari tubuh dan tinggi badannya, dia kurang lebih terlihat seperti gadis dewasa. Wajahnya yang lembut membuatnya terlihat seperti keluar dari sebuah lukisan. Jika saja dia tersenyum... pasti akan sempurna... Kanon segera menyadarkan diri dari lamunannya. Yang benar saja, mata mereka hanya bertemu untuk sesaat, dan dunia seakan berhenti? Apa mungkin karena kamu jarang bertemu gadis-gadis, selain para Saint wanita yang bertopeng, Kanon?
Truk tadi mendekat, melaju kencang ke arah mereka. Kanon menarik sang gadis ke sisi jalan, dan ―secara refleks― mendekatkan gadis itu ke pelukannya. Terkejut, gadis itu tidak mengatakan apa-apa dan hanya terdiam di situ.
Tepat pada saat itu, sebuah truk melaju kencang melewati mereka dengan pengemudinya meneriakkan sesuatu yang tidak baik untuk dituliskan di sini.
Kanon memperhatikan arah truk itu pergi, lalu bernafas lega. Ia berbalik menghadap sang gadis dan berkata, "Apa kamu baik-baik saja?"
Sang gadis tak menjawab. Setelah Kanon membantunya berdiri, barulah dia sadar kalau tangan gadis itu bergetar.
'Tentu saja dia syok...' batinnya. Kepalanya diturunkan sedikit, berusaha melihat wajah sang gadis yang ditundukkan, tetapi wajahnya tertutupi oleh rambutnya.
Sekali lagi, Kanon menatap sekeliling mereka. Orang-orang yang sedari tadi hanya melihati peristiwa itu kini sudah kembali sibuk dengan urusannya masing-masing.
Kanon pun menggenggam jari jemari sang gadis dan membawanya ke taman yang ada di depan matanya.
Taman itu tak terlalu luas dan dikelilingi oleh pepohonan, tak ada orang lain selain keduanya.
Kanon membawakan dua buah kaleng minuman kepada sang gadis yang duduk menunggu di salah satu bangku taman. Diberikannya satu kaleng kepada sang gadis.
"Terima kasih," ucapnya pelan.
Kanon mengangguk dan duduk di sampingnya. Kaleng minumannya dibuka, dan dia meneguk isinya.
Ada sebuah kesunyian nyaman menyelimuti keduanya. Angin semilir bertiup, beberapa ekor burung berkicau di dahan pohon dekat mereka, cahaya matahari juga melembut.
"...Terima kasih juga, sudah menyelamatkanku tadi..." ucap sang gadis, memecah kesunyian.
"Tak apa. Lain kali jangan melamun ketika menyebrang," balas Kanon.
Sang gadis tertawa kecil.
"Memangnya apa yang kamu lamunkan?"
Gadis itu terdiam. Tak lama, ia kembali menengadah ke langit. "...beberapa hari ini, bulan muncul di siang hari... Aku ingin tahu, apakah itu memiliki suatu arti..." jelasnya. Entah kenapa, matanya berubah sendu.
Kanon memerhatikannya sebentar, lalu kembali meminum minumannya. 'Apa ini ada hubungannya dengan situasi kita...?'pikirnya.
Gadis itu menatap wajah Kanon sejenak, berusaha membaca ekspresinya. Lalu pandangannya beralih ke kaleng di tangannya. Akhirnya dia membuka kaleng itu, dan menyesapnya sedikit. Tubuhnya agak terkejut ketika rasa pahit menyerang lidahnya.
Dia menatap merek yang terpampang di kaleng itu. 'Tentu saja pahit, ini kopi...' pikirnya.
Dia kembali menyesap minuman itu, kini lidahnya sudah terbiasa dengan rasa pahit kopi itu. Keduanya hanya diam seperti itu, meminum minuman masing-masing.
.
.
"Baiklah, sepertinya kamu baik-baik saja..." ucap Kanon setelah membuang minuman mereka berdua. "Sudah waktunya aku kembali." Dia bangun dan berjalan beberapa langkah, sebelum akhirnya berhenti.
Dia melupakan masalah kecilnya.
"Ada apa...?" tanya sang gadis, masih duduk di tempatnya.
Kanon terlalu malu untuk mengakui ini di depannya. Tapi akhirnya, dia berbalik ke arah gadis itu. Pipinya memerah sedikit ketika dia bertanya, "Apa kamu tahu... jalan ke Mansion Kido...?"
"Eh...?" Dia terdiam sejenak. "Y-Ya... Aku tahu... Jangan-jangan..."
Kanon mengangguk dengan enggan.
...
"Ffhh... Ahaha..." Sang gadis tertawa kecil.
'Argh, bagus... Aku mempermalukan diri sendiri di depan orang yang tak kukenal,' pikir Kanon sambil mengacak rambut panjangnya.
"Apa Anda ingin kuantarkan ke sana?" tanya sang gadis. "Sebenarnya, rumahku juga di dekat sana." Kali ini, sebuah senyum tulus mengiringi perkataannya.
Kanon menatap sang gadis dari ujung matanya. "Kalau kamu tidak keberatan," jawabnya.
"Oh, tidak," balasnya. "Dan maaf, saya tidak bermaksud menertawakan Anda barusan." Sang gadis bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum kepada Kanon.
"Tak apa, aku tidak tersinggung," katanya, "Yang ada, aku malu akan diriku sendiri."
Sang gadis mengangguki perkataan Kanon. "Apa sebaiknya kita pergi sekarang?"
"Ya. Tapi sebelum itu... Boleh kutanya, siapa namamu?"
"Ah... Maaf, aku lupa memperkenalkan diri." Sang gadis kembali tersenyum, kali ini lebih manis dari sebelumnya. "Mitsuki, Kamishiro Mitsuki."
"Mitsuki..." ulang Kanon. "Senang bertemu denganmu, Mitsuki. Namaku Kanon." Kanon memperkenalkan dirinya sambil tersenyum.
.
.
Kanon dan Mitsuki berjalan berdampingan. Jalan yang dipilih Mitsuki adalah melalui daerah perumahan, berbeda dengan kota, daerah ini cukup sepi dan tak banyak orang lalu lalang.
"Hei, apa kamu tidak keberatan aku menanyakan sesuatu?" tanya Kanon.
Mitsuki menoleh ke arahnya dan menggeleng. "Aku tidak keberatan."
"Apa kamu biasa jalan sejauh ini? Maksudku, rumahmu juga di sisi lain kota, kan?"
"Ah... itu..." Mitsuki menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Sebenarnya, aku terbawa arus orang banyak... dan berakhir di situ..." jawabnya dengan malu.
"Hoo...? Kita sama kalau begitu. Sebenarnya aku juga terbawa arus jam sibuk sampai ke sana."
"Eh...? T-Ternyata... begitu..." Sang gadis tertawa gugup. "Aku semakin menyesal tertawa tadi... Maaf."
"Sudah kubilang aku tidak tersinggung," ucap sang ksatria Gemini datar.
Mitsuki menatapnya sejenak dan mengangguk pelan. "Ngomong-ngomong, aku junga ingin menanyakan sesuatu. Kalau tidak keberatan, tentunya."
"Tentu, tanyakan saja."
"Baiklah. Kanon-san, ada urusan apa di Mansion Kido? Ada kabar juga kalau Kido Saori-san sudah kembali ke Jepang..."
"Ya. Aku datang ke Jepang bersamanya. Uhm, agak sulit menjelaskan ini. Pekerjaanku... intinya itu, kurang lebih... Pokoknya, pekerjaanku adalah melindungi seseorang―"
'Bodyguard?' batinnya.
"―dan orang yang harus kulindungi sekarang itu,"
"Saori-san?" tebak Mitsuki.
Kanon mengangguk.
"Kalau begitu, apa tidak apa-apa bersantai-santai seperti ini?" tanyanya lagi.
Kanon terdiam, memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu. "Awalnya, menurutku tidak. Tapi, ada sepuluh pemuda lain di sisinya, dan aku percaya mereka bisa melindunginya."
Entah kenapa, gadis bermata biru safir itu tersenyum. Mitsuki sendiri tidak tahu kenapa dia tersenyum, mungkin dia kagum dengan keyakinan Kanon pada kawan-kawannya.
'Ya, pasti itu.' Mitsuki memejamkan mata saat memikirkannya, senyuman lembutnya masih terlihat jelas.
Langkah sang gadis terhenti. Kanon baru sadar ketika dia sudah berjalan beberapa langkah di depannya. Sang pemuda ikut berhenti, lalu berbalik badan dan bertanya, "Ada apa?"
Mitsuki memalingkan kepalanya ke samping sebelum menjawab, "Sudah sampai."
Kanon ikut memalingkan kepalanya. Ternyata benar, mereka sudah sampai di gerbang utama Mansion Kido. Sang gadis mengamati Kanon seiring sang ksatria berjalan ke depan gerbang.
"Jadi... sampai di sini saja..." Mitsuki membungkuk sopan, berbalik, dan berjalan menjauh.
Aah... Entah kenapa, ada perasaan berat yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata dalam hati sang gadis.
"Hei―" panggil Kanon.
Mitsuki menghentikan langkahnya, tetapi tidak menoleh ke arah Kanon.
"―Uhm, jangan melamun di jalan, ya. Hati-hati dengan truk, dan... Kau tahulah. Ahaha..."
Entah bagaimana, kata-kata itu berhasil mengangkat sedikit perasaan berat itu dari hatinya.
Akhirnya Mitsuki menoleh. Tanpa ia sadari, bibirnya melengkung menjadi sebuah senyuman.
"Terima kasih," balasnya.
Melihat senyumannya, Kanon pun membalas dengan senyumannya sendiri.
Sang gadis kembali berjalan pergi, lalu berkata, "Dan... sampai bertemu nanti malam, Kanon-san." Mitsuki mengucapkannya saat jarak di antara mereka berdua cukup jauh. Kanon tidak menyadari perkataan gadis tersebut sampai dia berada di tengah-tengah kebun Mansion.
"Nanti malam?"
.
.
.
Matahari telah tenggelam. Kini saudarinya, sang Bulan, menggantikannya menerangi Dunia. Cahayanya pucat dan lembut, berbeda dengan cahaya dari Mansion Kido yang kini terang benderang. Banyak mobil memasuki gerbang, dan ada lebih banyak orang lagi yang memasuki pintu utama Mansion.
Semuanya mengenakan pakaian-pakaian mewah dan indah, perhiasan-perhiasan mahal ikut menghiasi penampilan mereka. Kelihatan sekali, mereka adalah orang-orang kaya dan atau penting.
Di dalam Mansion, suasana tidak kalah ramai. Alunan musik lembut seperti diredam oleh perbincangan-perbincangan para tamu. Mereka yang baru datang segera menghampiri tuan rumah acara ini, Kido Saori. Ada yang hanya sekedar menyapa, ada yang membicarakan masalah perusahaan, dan ada juga yang bergurau tentang sesuatu yang hanya dapat dimengerti oleh mereka yang berdompet tebal.
Sang Athena mengenakan gaun putih berlengan panjang dengan jalinan emas pucat dan kain sutra berwarna lavender pink di bagian dalam rok gaunnya yang terbelah di tengah, serta sarung tangan berwarna putih.
Cantik, belum cukup untuk menggambarkan penampilan sang Dewi.
Lalu masuk seorang lagi ke dalam ruangan pesta. Ia mengenakan jas putih di atas sebuah kemeja hitam, seiring dia berjalan masuk, banyak perempuan yang tersipu-sipu dan berbisik satu sama lain. Sama seperti tamu yang lain, begitu memasuki ruangan, kakinya langsung membawanya ke hadapan sang Athena. Saori tersenyum lembut ketika melihat kedatangannya.
"Apa kamu menyukai pakaian yang saya persiapkan, Kanon?" tanyanya.
Kanon mengangguk. "Ya. Tapi saya minta maaf, merepotkan Anda dengan ini..."
"Lagi-lagi... Sudah saya katakan berapa kali? Saya tidak keberatan sama sekali."
Kanon mengalihkan pandangannya, bersamaan dengan dia mengalihkan pembicaraannya. "Dimana para Bronze yang lainnya?"
Saori ikut mengalihkan pandangannya dan menunjukkan di mana Saint lainnya itu berada. Mengikuti pandangannya, Kanon menemukan mereka tak jauh dari sana. Ada yang mengenakan jas sepertinya, ada yang hanya sekedar mengenakan kemeja dan dasi, lalu ada Shiryu yang mengenakan pakaian tradisional Cina.
Tak lama, Seiya berjalan mendekati mereka.
"Seiya," kata Kanon, "kamu tidak berencana untuk mencuri sesuatu, kan?" komentarnya ketika melihat pakaian Seiya. Dia mengenakan jas dan celana putih di atas kemeja biru dan dasi merah. Ya, kalian pasti tahu siapa yang dimaksud Konanー Ah bukan, Kanon.
"Aku tahu, aku tahu," balas Seiya, sembari menggaruk pipinya. "Neesan yang menyuruhku memakai ini. Katanya: "Karena ini pesta, lebih baik jika mengenakan pakaian pesta, kan?". Begitu."
"Ooh, kakakmu. Lalu, di mana dia?"
"Sudah pulang. Dia merasa tidak cocok berada di pesta seperti ini."
Terlihat jelas perubahan ekspresi Seiya. Sekeras apapun dia mencoba menyembunyikannya, perasaan sedih seolah tertulis dengan spidol permanen di wajahnya. Oh, mungkin tidak permanen. Sedetik kemudian, dia tersenyum ceria seperti biasa.
"Lagi pula, kalau aku mau mencuri sesuatu... Aku akan mencuri hati Saori-san, ahaha!"
Tentu saja, dia bercanda. Atau setidaknya, dia sendiri berpikir kalau dia bercanda. Sementara dia tertawa, Saori berusaha keras agar wajahnya tidak berubah merah padam. Ia mengalihkan wajahnya, dan berjalan menjauh.
"Oya, oya... Kamu sudah tumbuh dewasa sejak terakhir kali kita bertemu, ya?"
Sebuah suara memanggil Saori. Ketika ia berbalik, seorang pria lanjut usia sedang berjalan menghampirinya. Beliau mengenakan sebuah haori berwarna gelap di atas kimono pria yang berwarna gelap juga. Rambutnya telah memutih seperti salju, matanya sayu, wajahnya memberikan kesan kebijaksanaan, dan pada saat yang sama, kejenakaan seorang anak kecil. Ia menggunakan sebuah tongkat kayu untuk berjalan, tetapi tubuhnya tetap tegak dan cara jalannya memberikan kesan wibawa yang kuat.
Kanon, yang sedari tadi berada di sisi Saori, mengamati sang kakek dari atas ke bawah.
"Saya senang sekali Anda bersedia datang, Kamishiro Sonosuke-sama," sapa Saori.
"Hohoho," tawa sang kakek. "Tak mungkin aku menolak. Mitsumasa adalah kawan lamaku, kupikir ide bagus untuk datang ke sini dan mengunjunginya."
'Itu... Bercanda, kan? Orang ini tahu kalau Kido Mitsumasa sudah meninggal, kan?' batin sang Gemini. 'Ngomong-ngomong, Kamishiro...?'
"Ojiichan, jangan mengatakan hal menyeramkan seperti itu! Kata-katamu seolah akan menyebrang ke sana untuk menemui―"
Kanon menoleh ke arah suara itu. Suara yang tak asing... Mata keduanya bertemu. Orang ituーgadis itu, belum menyelesaikan perkataannya ketika mata mereka bertemu.
"Mi-Mitsuki...?" Mata Kanon terbelalak melihat gadis berambut cream di hadapannya.
.
Saori, Mitsuki, dan kakeknya memasuki sebuah ruangan. Di dalamnya, terdapat 3 buah sofa yang mengelilingi sebuah meja, dan ada sebuah piano. Pada dinding di belakang piano itu, ada sebuah lukisan besar. Lukisan Kido Mitsumasa. Kamishiro Sonosuke berjalan ke hadapan lukisan itu, lalu menatapnya dengan tatapan rindu dan sedih.
"Wahai sahabatku," katanya, "Sudah berapa tahun sejak kepergianmu? Lama sekali kita tak bertemu. Hari ini, cucumu mengundangku untuk hadir ke pestanya. Tentu saja aku menerimanya. Aku datang bersama dengan cucu perempuanku, apa kamu masih mengingatnya? Terakhir kalian bertemu, dia masih kecil sekali. Ah... betapa cepatnya waktu berlalu..."
Dia pun mulai berbincang dengan kawan lamanya itu.
Saori dan Mitsuki memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu dan kembali ke ruang pesta. Keduanya berjalan bersampingan di lorong kosong yang hanya diterangi oleh cahaya rembulan.
"Olympia Corporation," kata Mitsuki, memecah kesunyian. "Perusahaan yang dipimpin Ojiichan sekarang. Kalau tidak salah, Olympia Corporation dan Graude Foundation dibangun bersama-sama, ya?"
Saori mengangguk. "Sejak awal, kedua perusahaan ini menjalin hubungan kerja sama yang baik. Saya akan senang sekali, jika hubungan itu bisa berlanjut."
"Aku mungkin tidak mengerti urusan-urusan mengenai perusahaan, ekonomi, atau semacamnya. Tapi, aku cukup yakin hubungan ini akan berlanjut selama mungkin." Mitsuki mengatakannya sembari tersenyum. Saori membalas senyumannya.
Tanpa disadari, mereka sudah mendekati ambang pintu menuju ruangan pesta. Sebelum masuk, Saori berhenti dan bertanya kepada Mitsuki. "Mitsuki...? Apa kamu benar-benar ingin kembali ke pesta ini? Saya tahu orang-orang yang ada di sini adalah orang-orang kaya yang hanya akan membicarakan kekayaan mereka, menyombongkannya, bahkan beradu siapakah yang memiliki harta lebih banyak... Kamu tidak menyukai hal itu, bukan?"
Mitsuki terkejut dengan bagaimana Saori bisa mengetahui hal itu. Ia berpikir sebentar, lalu menatap ke lorong di belakangnya. "Hm... Bagaimana, ya...? Sejujurnya, aku tertarik untuk menjelajahi tempat baru seperti ini. Tapi, mungkin tidak malam ini." Ia kembali tersenyum.
Saori tampak sedikit bingung dengan kata-katanya, 'Tempat baru?' batinnya. Tetapi, seolah menyadari sesuatu, ia hanya mengangguk. Dan akhirnya, kedua gadis itu kembali ke ruangan pesta.
Saori kembali sibuk menyapa dan menghibur tamu-tamu pesta. Sementara Mitsuki lebih memilih menyendiri. Memang benar, dia tidak mengenal dan tidak tertarik untuk berbincang dengan tamu lainnya. Sama halnya dengan tamu yang berbincang dengannya. Jika ada yang menyapanya, dia akan tersenyum dan balas menyapa. Hanya sampai di situ. Kedua sisi tidak punya apa-apa untuk dibicarakan, jadi keduanya mundur. Sebenarnya, alasan dia datang ke sini ialah hanya untuk menemani kakeknya yang sudah tua. Dan juga...
"Jadi ini yang kamu maksud tadi siang?"
Sebuah suara menyapanya.
Kanon mendekati Mitsuki yang berdiri di depan sebuah jendela. Di tangannya, ada 2 gelas berisi minuman bening berwarna keemasan. Mitsuki berbalik dan tersenyum kecil.
"Seharusnya kamu bilang saja kalau kamu diundang ke pesta ini," lanjut Kanon.
Keduanya tertawa. Sang Gold Saint menyodorkan salah satu minumannya kepada sang gadis.
"Ah, tidak. Aku tidak minum minuman beralkohol..." tolaknya.
"Aku juga tidak. Mana mungkin aku minum alkohol saat bertugas, ini soda."
Sembari berkata "Oh," Mitsuki menerima gelas tersebut dan meminumnya. Memang benar, itu soda. Dia meneguknya beberapa kali, sebelum memandang Kanon dari ujung matanya. Sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Katakan saja," ucap Kanon tanpa memandangnya.
Mitsuki terdiam sejenak. Lalu... "Baiklah," katanya, "...Aku merasa aneh menanyakan ini, tapi... Apa tidak lebih baik Kanon-san berada di sisi Saori-san?"
Kanon terdiam sejenak, menyusun kata-kata untuk menjawab pertanyaan sang gadis. Lalu, ia memandang ke sisi lain ruangan pesta, mengamati sosok Seiya dan Saori di kejauhan. Mitsuki yang memperhatikannya, mengikuti arah pandangan sang Gemini. Dia tidak tahu siapa atau apa yang dicarinya, tetapi dia tidak keberatan ataupun bertanya. Sang gadis senang melatih otaknya, menjaganya agar tetap tajam.
"Ada seseorang yang ingin berdua dengannya. Aku hanya menghargai keinginan itu, dan memberikan dia kesempatan untuk mewujudkannya," jelas Kanon.
Mitsuki menjawabnya dengan "Hmm," dan sebuah anggukan, matanya masih berusaha mencari sosok yang dimaksud Kanon.
"Dan juga..." kata Kanon lagi, mengalihkan pandangan Mitsuki kepadanya. "... Akhirnya, aku bertemu denganmu. Mana mungkin aku membiarkanmu lepas lagi?"
Kalau sebelumnya Kanon mengalihkan pandangan Mitsuki, sekarang pandangan sang gadis terpaku padanya. Matanya terbelalak, dan dia berusaha keras agar rona merah di pipinya tidak muncul ke permukaan.
Pandangan keduanya masih tertuju pada satu sama lain.
"Aku baru sadar," ucap Kanon. "Kau tahu, Mitsuki. Aku... belum mengucapkan terima kasih, ya? Terima kasih sudah mengantarkanku ke Mansion Kido." Kanon mengakhiri perkataannya dengan sebuah senyuman.
"Oh. Ng... Ah, tentu. Terima kasih kembali." Akhirnya dia menyerah. Pipi Mitsuki berubah merah padam karena rasa malu akan satu dan lain hal. Sang gadis memalingkan kepala dan menundukkannya, berharap pemuda di sisinya tak dapat melihat pipinya yang merah.
Sementara itu, Kanon menarik nafas lega. Akhirnya dia mengatakannya. Rasanya sudah tidak ada beban di hatinya, Kanon bahkan tidak sadar dirinya tersenyum. Sekarang setelah urusannya selesai, sang Gemini sedang menimbang-nimbang apakah dia akan tetap bersama Mitsuki, atau kembali ke Athena. Saat membanding-bandingkan kedua pilihan itu, tanpa sadar dia menoleh ke arah Mitsuki.
'Kalau dilihat-lihat... dia cantik juga...' batinnya.
Sang gadis memang berparas cantik, tapi baru saat itu Kanon memerhatikan penampilan sang gadis dengan teliti. Rambut cream panjangnya dibiarkan tergerai begitu saja bagaikan kain sutera. Walaupun kini tertutupi oleh poni Mitsuki yang cukup panjang, dia mengingat jelas bola mata bagaikan sepasang safir biru itu. Gaun yang dikenakannya adalah gaun tanpa lengan berwarna soft cyan dan bergradasi menjadi putih di ujung bawah gaunnya. Ia mengenakan sarung tangan tanpa jari yang senada dengan gaunnya, menutupi pergelangan tangan sang gadis dan berlanjut ke atas, hampir menyentuh bahunya. Kalau diperhatikan, penampilan gadis tersebut adalah yang paling simple di antara tamu-tamu lainnya. Dari leher sang gadis, tatapan Kanon turun ke bawah. Sang gadis tak mengenakan perhiasan apapun, tak ada cincin, gelang, anting, maupun kalung.
Saat itu, tiba-tiba Mitsuki menoleh kepada Kanon. Dia menangkap Kanon sedang memperhatikannya dan saat sadar kemana arah matanya tertuju, dalam sekejap dia kembali tersipu, kini lebih parah dari sebelumnya. Secara refleks, dia meletakkan tangannya untuk menutupi daerah dadanya. Melihat tindakan Mitsuki, wajah Kanon ikut berubah merah.
'Bukan! Bukan begitu! Dia pasti mengira aku barusan menatap- Argh, tidak!' rutuk Kanon dalam hati. Sementara di dunia nyata, dia berpaling ke samping dan mengacak-acak rambut biru panjangnya.
Walaupun awalnya panik setengah mati, akhirnya dia berhasil menenangkan diri. Kanon menarik nafas dalam-dalam, lalu menatap Mitsuki. "Kamu tidak memakai perhiasaan apapun, ya? Kalung saja tidak."
Menyadari maksud dari perkataan itu, Mitsuki menurunkan tangannya, ekspresinya menjadi lebih rileks.
"Kalau kubilang," jawabnya, "aku tidak suka memamerkan kekayaan... Apa Kanon-san percaya?"
Kanon meletakkan jarinya di bawah dagunya. "Kamu tidak terlihat seperti tipe orang pembohong... Kenapa tidak?"
Mitsuki tertawa kecil. "Aku ingin menjawab begitu. Tapi, mungkin jawaban sebenarnya... Karena aku belum menemukan sesuatu yang kusuka, dan masih menunggu."
Kanon kurang mengerti maksud perkataan sang gadis, tetapi dia mendiamkannya dan tak bertanya lebih lanjut. Matanya kembali mencari sosok sang Athena.
Saori dan Seiya, akhirnya ditinggalkan sendiri oleh para tamu, kini menyingkir ke pojok ruangan. Akhirnya kita bisa istirahat, atau setidaknya itulah yang mereka pikir.
"Akhirnya aku menemukanmu, Athena." Sebuah suara yang tidak asing memanggil mereka. Keduanya berbalik, hampir bersamaan, dan mata mereka terbelalak, hampir bersamaan juga. Di hadapan mereka adalah seorang pemuda berambut biru seperti laut, mengenakan tuksedo putih dari atas ke bawah. Tak jauh dibelakangnya, ada seorang pemuda lain berambut ungu pucat, dengan mata hampir senada dengan wine yang ada dalam gelas yang dipegangnya.
Secara refleks, Seiya berdiri di depan Saori, menghalangi pendatang baru itu untuk mendekati sang Dewi. "Poseidon." Ada sesuatu seperti amarah dalam suaranya. "Ada apa kamu di sini?"
"Tenanglah, Pegasus Seiya. Aku diundang ke sini oleh Dewi di belakangmu itu." Matanya melewati pundak Seiya, dan memandang gadis di belakangnya dengan senyuman kecil. "Aku mungkin Dewa Penguasa Laut. Tapi, aku juga Julian Solo. Jangan lupa, perusahaanku dan Graude Foundation adalah mitra. Jadi aku akan menghargai... jika kamu tidak memanggilku Poseidon di depan umum seperti ini." Perkataan itu lebih cocok disebut ancaman, apalagi ketika dibarengi dengan tatapan mengancam seperti itu.
"Dia benar, Seiya." Saori akhirnya menangani situasi, menenangkannya. "Saya yang mengundangnya. Dan saya juga setuju mengenai bagaimana kita harus memanggil satu sama lain. Jadi, saya juga akan menghargainya jika Anda tidak memanggil saya begitu di sini." Sebuah senyuman menghiasi wajah Saori.
Julian membalas senyuman itu dan berkata, "Cukup adil." Dia berbalik kepada pemuda di belakangnya. "Tentu kalian ingat Sorrento?" tanyanya sembari mengambil salah satu gelas dari tangan Sorrento.
"Dia satu-satunya General Marina yang selamat dari pertarungan terakhir kita. Tentu saja, satu-satunya selain..."
Tentu saja mereka tahu. Tentu saja mereka bisa menebak siapa yang dimaksud oleh Poseidon.
"...Sea Dragon."
Begitu dia mengatakannya, sebuah tangan menepuk pundaknya. Ketika berbalik, ternyata pemilik tangan itu adalah Kanon. Keduanya menatap satu sama lain dalam-dalam, tak ada kata-kata yang terucap.
"Sea Dragon Kanon. Ternyata benar, kamu dibangkitkan juga."
"Juga? Apa maksudmu, Kaiou? Jangan-jangan... Para Marina juga...?"
"Hmm... Bagaimana, ya? Kalau kamu kembali, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menjawab pertanyaanmu, Sea Dragon."
Senyuman Julian makin melebar. Sedangkan ekspresi Kanon mengeras.
"Aku bukan Marina-mu lagi. Sekarang aku adalah Gold Saint Gemini, ksatria pelindung Athena."
"Terserah kamu ingin mengatakan apa. Tapi bagiku, kamu akan terus menjadi Sea Dragon. Lagi pula... Posisi itu memang bukan milikmu dari awal, kan? Gemini, dari dulu sampai sekarang, adalah posisi yang dipegang oleh kakakmu, Saga. Bukan kamu."
Kanon tak bisa menahan diri lagi. Dia bersiap menarik kerah sang Raja Laut, dan melemparkannya ke udara. Tapi sebelum dia bisa melakukannya, sepasang tangan memegangi tangan mantanSea Dragon itu. Bukan Saori, tetapi Mitsuki.
Ternyata sang gadis mengikuti Kanon ketika dia melesat ke sisi Athena.
Mitsuki hanya memandangi Kanon, tapi bukan dengan tatapan lembut, iba, ataupun simpati. Kedua matanya seolah bersinar dengan keyakinan kuat. Bibirnya tertutup rapat, tapi Kanon tahu sang gadis menyuruhnya berhenti.
Kanon pun melepaskan cengkramannya dari kerah Julian, dan menundukkan kepalanya, tak ingin melihat ekspresi kemenangan di wajah sang Poseidon.
Julian mendekati gadis yang baru datang tersebut. "Anda... Cucu CEO Olympia Corporation, kalau tidak salah namamu..."
"Kamishiro Mitsuki. Dan saya mengenal Anda, Julian Solo-sama."
"Oh, tidak usah terlalu sopan seperti itu." Julian meraih tangan sang gadis, lalu mengecupnya. "Senang bertemu denganmu, Mitsuki." Tatapan Julian menunjukkan seolah ia mengetahui sesuatu tentang gadis itu, yang mungkin tidak diketahui oleh sang gadis sekalipun.
Sementara itu, Seiya menatap sang gadis dari kejauhan. 'Dia, rasanya... Mirip seseorang... Apakah dia...?'
.
.
.
Malam semakin larut, tetapi orang-orang dewasa yang menghadiri pesta ini tidak memperdulikannya. Mereka masih bersenda gurau, minum, makan, dan menikmati suasana pesta.
Mitsuki kembali menyendiri di depan jendela, mengamati bulan purnama di langit. Tanpa sadar, tangannya mulai mengusap satu sama lain, mencoba mengusir rasa dingin yang menyerangnya.
"Kedinginan?"
Sebuah jas putih tiba-tiba menyelimutinya, membantu menghilangkan kedinginan dengan kehangatan yang diberikannya.
"Terima kasih, Kanon-san," balas Mitsuki.
Kanon tidak tahu apakah dia senang dipanggil begitu atau tidak. "Kanon-san" membuatnya merasa tua.
"Ini cuma tebakanku, tapi... Kamu tidak biasa terjaga selarut ini, ya?"
"Maaf, tapi tebakanmu salah. Aku tidak apa terjaga sampai pagi menyingsing. Tapi, mungkin malam ini aku kelelahan."
"Ooh... Kelelahan kenapa?"
Alih-alih menjawab, Mitsuki menggenggam erat jas yang diberikan Kanon, enggan menjawab pertanyaannya. Atau mungkin, tidak bisa menjawabnya.
"A, Hei, aku tidak memaksamu menjawab. Tak apa kalau kamu tidak mau memberitahuku."
"...Ya. Terima kasih... Maaf..."
Makin larut, ada tamu-tamu yang akhirnya meninggalkan pesta dan pulang. Tempat itu masih ramai, tapi jumlah orangnya bertambah sedikit.
"Hohoho..."
Kakek Mitsuki, Sono, kembali tak lama tadi. Beliau mulai menikmati macam-macam minuman yang ada di pesta itu. Tampaknya, sekarang dia mabuk. Sebenarnya, dia memang tidak bisa minum banyak.
"Ojiichan, cukup. Kamu sudah mabuk."
Ini juga salah satu alasan kenapa Mitsuki menemaninya.
"Apa lebih baik kita pulang?"
Kini dia harus membantu kakeknya agar bisa berdiri tegak.
"Pulang selarut ini berbahaya. Bagaimana kalau kalian menginap di sini?" usul Saori.
"Terima kasih. Tapi kami tidak ingin merepotkan," balas Mitsuki.
"Sama sekali tidak." Saori tersenyum, lalu melanjutkan, "Tetapi saya tidak memaksa, ini terserah pada Anda."
"Mitsuki." Tiba-tiba Sono memanggil cucunya. Dari matanya, dia terlihat sudah tidak mabuk lagi. "Kamu menginap saja, aku tidak keberatan."
"E-Eh? Aku menginap? Ojiichan bagaimana?"
"Tentu saja, Ojiichan pulang."
"Kalau begitu, aku juga. Mana mungkin aku meninggalkan Ojiichan pulang sendiri!"
"...Sejujurnya... Ojiichan ingin kamu menginap, agar bisa lebih akrab dengan Saori."
Mitsuki dan Saori menatap satu sama lain, kebingungan.
"Untuk apa?" tanya Mitsuki.
"Ojiichan mau... pesahabatan Ojiichan dan Kido juga berlanjut pada cucu kami. Hahaha, aneh, ya?" Nada suara Sono, entah kenapa, terdengar sendu. Mitsuki dan Saori bisa mendengarnya.
Setelah sebuah desahan panjang, akhirnya Mitsuki mengangguk setuju.
"Baiklah, aku akan menginap. Tapi, TOLONG hati-hati di jalan, Ojiichan."
Setelah itu, Mitsuki dan Saori menemani Sono sampai pintu utama Mansion. Mereka mengamati Sono masuk ke dalam sebuah limousine milik keluarga Kamishiro. Pengemudinya masuk ke dalam mobil, dan setelah menyalakan mesinnya, mengemudikannya keluar dari pekarangan Mansion. Setelah mobil itu menghilang di kejauhan, keduanya kembali masuk.
"Mari saya antarkan ke kamarmu, Mitsuki," ucap sang Athena.
.
Mendekati tengah malam, Mansion Kido kembali sunyi senyap. Semua tamu sudah pulang. Para pelayan sudah selesai membersihkan ruangan pesta dan kini beristirahat di kamar mereka. ParaSaint juga sudah terlelap di kamar masing-masing. Begitu juga sang Athena, dan tamunya, Mitsuki. Semua jiwa yang ada di Mansion Kido sudah memasuki Dunia Mimpi.
Yang tak mereka ketahui, adalah adanya sosok yang mengamati mereka dari luar sana, di tengah kegelapan malam...
「つづく。。。」
?: ...Tema kali ini, "Akhirnya"?
Wina: Muncul lagi?
?: Tentu saja, aku harus mengkritik agar tulisanmu berkembang.
Wina: Uh, makasih...?
Wina: Untuk balas review kali ini... Ada dua orang ini~ *Nunjuk Kanon dan Aiolia*
Kanon: Enak juga ya, jadi favorit Author *Senyum sendiri*
Aiolia: Yak! Langsung saja ke reviewnya...
#Shimmer Caca
Wina: Hm~ Iya seperti Sanctuary, kurang lebih
Kanon: Pemburu Artemis memang yang terbaik. Shizen tahu banyak, ya? Kakak bangga deh *Elus Shizen*
Aiolia: Mitsuki itu tuh *Nunjuk cerita di atas*
Wina: Ah, bagi yang belum baca versi sebelumnya, Teru itu... OC juga, masih rahasia~ Dia munculnya juga nanti~
Aiolia, Kanon: *Wajah setengah kesal* Mimpi Seiya gak ada artinya. 'Kenapa gak kita aja yang muncul di mimpi itu sih!?'
Wina: 'Kan Seiya tokoh utama serinya...' *Sweatdrop*
#albaficaaiko
Wina: Aku senang Aiko-san senang *Senyum*
Kanon: Hehehe, kasian kau, Saga *Senyum penuh kemenangan*
Aiolia: *Bisik2* Tenanglah Niisan... Author lagi nyiapin kemunculan yang heroik buat Kakak...
Wina: *Kaget Shaka bisa ngomong "loe"* Wah... *Authornya agamanyaー
Kanon: Jangan masuk-masukin agama.
#Gianti-Faith
Wina: Mungkin dia udah hapalin mati-matian pas perjalanan, ohoho~
Kanon: Nggak kok! Lagian kita kembar, gak beda-beda jauh amat lah
Aiolia: Muncul di SoG cuma sebagai background *Nahan ketawa*
Kanon: *Senyum tapi...* Berantem yuk?
Wina: Action yang ditunggu Atlanta ada di chapter berikutnya~ *Nahan sweatdrop*
#ferdi uzumaki
Wina: Siap!
Sekian~
Terima kasih sudah membaca sampai akhir.
Seerti biasa, saya minta maaf atas segala typo, OOC, dan kesalahan-kesalahan lainnya...
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya~
