137darkpinku Present
KYUMIN FANFICTION
.
Eloquent Silence
.
Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan
Disclaimer : Remake Novel karya Sandra Brown dengan judul yang sama.
.
Don't Like? Just Don't Read ^^
.
.
enJOY it !
.
Bab Tiga
Sejak mereka meninggalkan meja sampai masuk ke taksi yang dipanggilkan kepala pelayan, tiga wanita yang berbeda menghentikan Kyuhyun dan meminta tanda tangannya.
Sungmin takjub melihatnya bisa mengubah emosi secepat dan setotal itu. Sesaat pria itu tampak sebagai orangtua yang kebingungan dan prihatin. Di saat lain dia bintang televisi yang penuh percaya diri dan arogan, menguasai keadaan, dan dengan luwes menampilkan senyum terkenalnya pada publik pemujanya. Dia berbicara pada setiap wanita itu dengan lembut dan akrab.
Cara berbicaranya yang begitu akrab dengan masing-masing wanita itu pasti membuat si wanita merasa dia betul-betul peduli padanya. Tuluskah Kyuhyun, atau apakah dia cuma berakting? Itu dugaan yang meresahkan, dan yang tidak ingin dipikirkan Sungmin lama-lama.
"Kau pernah merasa bosan dengan itu?" tanya Sungmin, menunjuk wanita yang terpana di trotoar. Si pengagum berat itu masih memeluk erat-erat serbet yang sekarang bertuliskan nama Chao Guixian.
"Ya, sering. Aku berusaha mengecilkan sindrom bintang dan menghadapi para wanita dengan sabar dan sadar diri. Aku bertanya pada diriku sendiri, 'Jadi apa aku tanpa mereka?' Itu biasanya berhasil mencegahku berbesar kepala."
Sungmin meminta Kyuhyun mengantarkannya kembali ke sekolah, karena ada beberapa surat di sana yang harus diambilnya sebelum pulang ke apartemennya yang beberapa blok dari situ.
"Baik," ujar Kyuhyun. "Aku memang ingin bertemu Minhyun sebentar."
Sungmin cepat-cepat melihat jam tangan emas di pergelangan tangannya. "Tapi sekarang sudah pukul sembilan lebih. Dia pasti sudah tidur."
"Berarti kita harus membangunkannya," Kyuhyun menanggapi dengan enteng.
"Tidak adakah peraturan yang harus kau taati, Tuan Cho?"
Pria itu tertawa. "Beberapa. Dokter Park tahu bahwa kadang-kadang aku bekerja di studio sampai pukul delapan atau sembilan malam, tergantung kekacauan yang ditimbulkan Dokter Marcuss pada hidupnya minggu itu. Jadi dia mengizinkan aku menyelundup beberapa malam dalam seminggu untuk menemui Minhyun."
Sungmin menggunakan kuncinya untuk membuka pintu pribadi yang diset otomatis mengunci setelah hari gelap.
Mereka berjingkat-jingkat menyusuri koridor gelap asrama sampai tiba di kamar yang ditempati Minhyun bersama tiga gadis kecil lain yang seumur dengannya.
Kyuhyun membiarkan Sungmin mendahuluinya memasuki kamar, namun wanita itu menjauh ketika Kyuhyun duduk di samping anak yang pulas di tempat tidurnya itu. Kyuhyun menyalakan lampu redup di meja sisi dan menepuk bahu Minhyun pelan-pelan. Anak itu bergerak, lalu membuka mata dan melihat Kyuhyun membungkuk di atasnya. Dia berbisik senang dan langsung duduk tegak, memeluk leher ayahnya kuat-kuat.
Sungmin tidak tahu reaksi apa yang diharapkannya akan dilihatnya, tapi yang jelas bukan reaksi spontan seperti ini dari anak yang biasanya begitu tenang dan kalem.
"Apa kabar anak kesayangan Daddy? Kau senang bertemu Daddy?" Pertanyaan tersebut tidak membutuhkan jawaban. Minhyun bergelung di dadanya sementara Kyuhyun mengacak-acak rambut hitam ikalnya.
Ini satu lagi kepribadian Cho Kyuhyun. Wajahnya melembut dan sedikit pun tidak tersisa kesinisan yang biasanya mengerutkan bibirnya dan menyelimuti matanya. Matanya berbinar penuh kasih ketika memandang putrinya.
Setelah acara cium dan peluk selesai, Minhyun mulai memeriksa saku Kyuhyun satu per satu dengan jari-jari mungilnya dan mengikik waktu pria itu pura-pura menepis tangannya. Akhirnya dengan penuh kemenangan dia memperoleh sebungkus permen karet dan mulai membukanya.
"Tunggu sebentar, sayang. Kau tidak boleh memakannya sekarang," tukas Kyuhyun. Lalu dia mengangkat bahu dan berkata, "Yah, boleh deh," sementara Minhyun berhasil melepas kertas pembungkus dari salah satu permen.
"Tidak, tidak boleh," kata Sungmin tenang tapi tegas. Kyuhyun memandangnya, tapi tentu saja Minhyun tidak mendengar larangan Sungmin. Anak itu akan memasukkan permen karet ke mulut waktu Sungmin menepuk ujung tempat tidur untuk menarik perhatiannya.
Minhyun menengadah padanya dan tersenyum. Sungmin balas tersenyum dan dengan menggunakan bahasa isyarat berkata, 'Halo, Minhyun. Siapa namaku?'
Minhyun mengisyaratkan nama Sungmin dan mengucapkannya dengan suara pelan dan lembut. "Sungmin."
Kyuhyun ternganga kaget.
"Sayangku, hebat sekali," Kyuhyun berteriak, makin erat memeluk gadis kecil itu. Minhyun berseri-seri melihat kegembiraan pria tinggi dan baik hati yang sering datang ke kamarnya dan memberinya perhatian istimewa. Pria itu tidak pernah bicara dengan anak-anak lain. Hanya dengannya.
Sungmin memanfaatkan situasi itu. Setelah menarik perhatian Minhyun lagi, dia berkata, "Ini Kyuhyun," dan menunjukkan pada Minhyun isyarat untuk namanya yang telah mereka ciptakan. "Aku tidak yakin dia sudah paham soal hubungan keluarga. Tidak lama lagi kami akan belajar tentang ayah dan anak perempuan. Untuk saat ini, kau hanya dipanggil Kyuhyun." Sungmin menjelaskan.
Minhyun mengisyaratkan nama Kyuhyun dan menunjuk pria itu. "Ya," sambut Sungmin, mengangguk. Dengan bangga Minhyun mengulangi gerakannya berkali-kali sehingga tampak lucu dan mereka bertiga tertawa.
Ketika dia akan memasukkan permen karet yang terlupakan sesaat ke dalam mulut, Sungmin menghentikannya dengan menarik lembut lengannya. Dan dengan bahasa isyarat Sungmin memberitahu Minhyun agar membiarkan permen karet itu di atas meja di sisi tempat tidur sampai ia bangun.
Dengan penuh harap Minhyun memandang Kyuhyun untuk mencari dukungan, namun pria itu menggeleng, meletakkan bungkusan permen karet di meja, dan mengisyaratkan tidur, yang dilihatnya digunakan Sungmin beberapa saat yang lalu.
Minhyun menguap dan berbaring di tempat tidur. Ia tampak seperti bidadari dengan rambut hitam dan baju tidur pink berendanya. Dia memeluk leher Kyuhyun waktu pria itu mencoba menjauh. Kyuhyun mencium keningnya sekilas dan berdiri. Tepat sebelum dia mematikan lampu, Minhyun memandang ke kaki tempat tidur dan mengulurkan lengannya yang gempal pada Sungmin.
Sungmin memandang Kyuhyun yang tersenyum lembut.
"Kurasa maksudnya cukup jelas," kata Kyuhyun.
Sungmin pergi ke samping tempat tidur dan membungkuk untuk menerima ciuman penuh semangat dari Minhyun.
Mereka menyelimutinya, mematikan lampu, dan meninggalkan kamar.
Sungmin maju beberapa langkah, lalu berhenti. Pikirannya begitu penuh sehingga rasanya dia tidak mampu berpikir dan berjalan pada saat yang sama. Dia berdiri diam di tengah koridor.
"Kurasa kalian berdua baru saja memerasku secara emosional," dia berkata sambil merenung.
"Memang itu niat kami." Suara Kyuhyun meniru nada lembut dan serius Sungmin.
Sungmin memandangnya. Dia mengucapkan apa yang ada dalam pikirannya. "Dia menyayangimu. Kau akan menjauhkan dirimu darinya dengan memindahkannya ke ujung negeri. Dia masih sangat muda. Saat ini kaulah orang paling penting dalam hidupnya. Kyuhyun, sadarkah kau bahwa aku akan menggantikanmu dalam menerima perasaan sayangnya?"
Pria itu memandang koridor yang sunyi senyap, tatapannya kosong ketika dia memasukkan tangan ke saku celana panjang. "Ya," jawabnya, mengertakkan gigi. "Aku tidak menyukai keadaan ini. Kalau ada cara lain… aku tidak mau dia tumbuh di kota besar. Saat ini aku tidak bisa melakukan apa yang bisa kau lakukan padanya." Lalu ia menghadap Sungmin. "Aku tahu aku memberimu tanggung jawab sangat besar. Tapi kupikir ini tindakan yang tepat. Aku akan mengunjunginya setiap ada kesempatan." Ia tersenyum masam.
"Hidupku sama sekali tidak sekacau yang digambarkan majalah-majalah."
Sungmin mengulurkan tangan dengan gaya resmi. "Aku menerima pekerjaan yang kau tawarkan."
Kyuhyun pun menjabat tangannya.
.
.
.
Pria itu berkeras mengantarnya sampai ke pintu ketika mereka tiba di gedung apartemen yang nyaman tapi jauh dari kesan mewah. Dia membayar taksi, mengatakan akan memanggil taksi lain setelah Sungmin masuk.
Waktu mereka naik lift ke lantai tempat tinggalnya, Kyuhyun berkata, "Kurasa aku bisa membereskan semua urusannya dalam waktu sekitar dua minggu. Cukup lama untukmu?" Melihat Sungmin mengangguk, dia melanjutkan, "Rumahnya bagus, tidak mewah. Aku akan membeli mobil untuk diantarkan padamu begitu kau tiba disana. Aku juga akan mempekerjakan orang untuk membersihkan seluruh bagian rumah. Ketika kau sampai di Mokpo, semua harus sudah beres untuk kau dan Minhyun tempati." Tangan Kyuhyun di bawah sikunya ketika dia mendorongnya keluar lift. Pria itu tidak menarik tangannya.
"Suasananya tenang dan damai. Pemandangannya di setiap musim luar biasa."
Mereka sekarang berdiri di depan pintu Sungmin. Kyuhyun berkata, "Aku akan menggajimu sebanyak yang diberikan sekolah. Lalu tentu saja, kau akan bisa memakai rumah dan mobil sesukamu. Dan aku akan memberimu uang banyak untuk makanan, pakaian Minhyun, apa pun yang kau butuhkan."
"Aku tidak khawatir soal uang," kata Sungmin sambil memasukkan anak kunci.
Dia berbalik untuk mengucapkan salam perpisahan yang sopan, namun kata-kata itu tak pernah terucapkan.
Kyuhyun maju sampai Sungmin terpaksa mundur, tapi ia tak bisa mundur jauh, hanya sampai pada dinding koridor.
Lalu pria itu meletakkan telapak tangannya persis di samping kepala Sungmin dan membungkuk ke arahnya. Jarak di antara mereka hanya beberapa inci, tapi Kyuhyun tidak menyentuhnya.
"Aku menyukaimu seperti ini," Kyuhyun berbisik.
Ke mana suaranya? Sungmin tidak bisa mengucapkan kata-kata yang ada di pikirannya. Akhirnya dia berhasil berbisik, "Seperti apa?"
"Tenang, menyenangkan, dan kooperatif. Tapi—" dia terkekeh "—aku juga menyukaimu yang waktu itu, ketika kau menyemprotku dan begitu marah sampai rambutmu berkilau seperti api." Ia makin mendekat.
"Sebetulnya, Nona Lee, aku sedang berusaha keras menemukan sesuatu yang tidak kusukai pada dirimu."
Insting Sungmin mengatakan pria itu akan menciumnya. Dia tahu seharusnya tidak membiarkannya namun ia tak sanggup bergerak ketika melihat wajah Kyuhyun makin lama makin dekat.
Sedetik sebelum bibir mereka bertemu, Sungmin memejamkan mata. Walaupun tahu ini akan terjadi, dia tak siap merasakan gelombang emosi yang melanda sekujur tubuhnya akibat sentuhan Kyuhyun.
Pria itu terus mendekat sampai tubuh mereka merasakan lekuk pasangannya masing-masing.
Mereka cocok bagai potongan-potongan puzzle. Tinggi badan Sungmin hanya sebatas bahu Kyuhyun, namun mereka seperti dua bagian dari satu kesatuan. Dadanya bagai menyatu dengan tubuh pria itu. Kaki Kyuhyun mengapitnya, dan waktu pangkal pahanya yang mantap dan keras menyentuh pangkal paha Sungmin yang feminim dan lembut, terdengar erangan tertahan dan nikmat jauh di dalam tenggorokan pria itu.
Bibir Kyuhyun menyesapnya, berhenti, lalu menjauh sampai Sungmin ingin sekali mencengkeram kepalanya dan menekannya. Dia hanya mampu mengumpulkan keberanian untuk mengangkat tangan malu-malu ke rusuk pria itu dan membelai lembut otot-otot yang persis di atasnya. Otot-otot itu bergerak-gerak karena menahan tubuh Kyuhyun yang bertumpu di dinding.
Pria itu mendesah panjang dan pelan waktu merasakan tangan halus Sungmin menyentuhnya. Bibirnya berhenti menggoda dan mendekati bibir wanita itu, melumatnya dengan ketepatan yang mengejutkan.
Mula-mula Sungmin tidak menanggapi. Perasaan takut dan was-was membuatnya tidak mau langsung bereaksi terhadap laki-laki sejak pernikahannya yang berantakan.
Tapi Kyuhyun tidak memedulikan penolakan setengah hati itu. Bibirnya dengan ganas beraksi sampai Sungmin menyerah. Wanita itu berusaha menenangkan diri, mengembalikan segala sesuatunya ke perspektif yang benar, tapi itu tak mungkin dilakukannya karena Kyuhyun terus menciuminya.
Bahkan ketika mereka harus berhenti sebentar untuk menarik napas, pria itu masih belum puas.
Dia menciumi telinga Sungmin dan menggigitinya lembut.
Tangannya menuruni dinding untuk mengelus bahu, lengan, lalu kembali ke lehernya. Jari-jarinya seolah menghitung denyut nadi Sungmin sebelum bergerak naik untuk memegangi wajahnya. Ibu jarinya membelai pipinya.
"Apa kau mencium semua pemeran utama wanitamu seperti ini?" tanya Sungmin tersenyum sayu.
Dia mengharapkan Kyuhyun tersenyum juga dan membalas dengan jawaban lucu. Yang terjadi ternyata berbeda. Dia bingung melihat wajah pria ini pucat pasi.
Mata onyx, yang tadi menyala karena api gairah, berubah dingin, tak bisa ditembus, seolah mendadak ada tirai menutupinya.
Pelan-pelan Kyuhyun menjauhinya. Mula-mula tangan pria itu turun dari wajahnya. Lalu dadanya terbebas dari tekanan berat dada aktor itu. Ketika pria itu meninggalkannya, dia merasa kehilangan dan mengulurkan tangan untuk menariknya kembali.
Tapi ekspresi wajah pria itu mengejutkan dan menakutkannya, dan dia cepat-cepat menarik tangannya ke dada. Kyuhyun pucat pasi dan menatapnya seolah dia melihat hantu. "Kyuhyun, apa—"
Pria itu komat-kamit beberapa lama sebelum mampu mengucapkan kata-katanya. "Che-Chengmin dulu sering bilang begitu." Dia terdiam sebentar dan mengusap muka, menggosok mata. menghapus bayangan. "Dia selalu bilang begitu."
"Chengmin?" Sungmin bertanya dengan suara melengking. Dia tahu siapa Chengmin, dan tidak ingin mendengarnya.
"Chengmin istriku. Dia sudah meninggal."
Kyuhyun telah mengatakannya, dan dengan kesedihan begitu nyata sehingga hati Sungmin terasa hancur.
Dia masih mencintai istrinya!
Dia tidak bilang istrinya meninggal karena apa, itu tidak relevan.
"Ya. Aku turut bersedih." bisik Sungmin. Komentarnya begitu basi, hambar, karena dia tidak tahu mesti bilang apa lagi, dan dia ingin sekali membuyarkan keheningan menyesakkan yang mendadak menyelubungi mereka.
Kyuhyun menegakkan tubuh, sudah kembali dari masa lalunya yang tadi timbul karena kata-kata Sungmin. Dia mengusap rambutnya, lalu berkata singkat. "Itu tidak penting."
Tapi dia salah! Baru beberapa detik yang lalu Sungmin tenggelam dalam pelukan paling menyenangkan dan paling hangat yang pernah dirasakannya. Sekarang pria yang tadi membuat tubuhnya diliputi sensasi yang dikiranya sudah lama mati itu bersikap seperti orang asing. Orang asing yang dingin.
Tangan pria itu masuk dalam-dalam ke saku celana panjangnya waktu dia berbalik dari Sungmin. Ketika Kyuhyun berputar untuk menatap Sungmin lagi. Mulutnya menipis, dan alis tebalnya berkerut di atas mata.
"Kurasa akan fair kalau kuberitahu kau, Sungmin. Bahwa aku tidak mau ada keterlibatan emosional dalam hidupku. Bertentangan dengan apa yang kau baca di majalah-majalah selebriti, aku tidak pernah tertarik pada wanita mana pun. Aku menikahi dan mencintai almarhumah istriku. Kebutuhanku hanya bersifat fisik. Menurutku kau sebaiknya tahu itu sejak awal."
Kata-katanya bagai batu yang dijatuhkan ke kepala Sungmin sehingga meluluhlantakkannya. Kemarahan dan perasaan terhina menggelegak dalam pembuluh darahnya, dan tubuhnya menegang seperti kucing yang siap menerkam. Dia berusaha mengontrol suaranya, menahan kata-kata pedas yang mendidih di dalam hatinya, dan mendesak untuk disemburkan.
"Seingatku aku tidak pernah memintamu 'terlibat', Tuan Cho." Dia gemetar menahan marah. "Tapi karena kau sudah mengangkat topik itu dan salah menafsirkan motifku, aku akan meluruskan masalahnya. Aku sama sekali tidak berniat 'tertarik' padamu. Selain hal itu akan merusak objektifitasku, aku juga menganggap kau besar kepala. Aku pernah menikah dengan seniman-musisi dan dia, seperti juga kau, menganggap dirinya hebat dan mengharapkan orang lain juga beranggapan begitu. Kau bisa menenangkan dirimu karena aku menginginkan hubungan yang perlu ada di antara kita ini betul-betul profesional. Terima kasih untuk makan malam tadi."
Setelah berkata begitu Sungmin cepat-cepat memasuki pintu dan menutupnya rapat-rapat. Dia bersandar di situ, menarik napas dalam-dalam, dan berusaha menahan tangis kemarahan yang sudah menggenangi matanya.
Dia mendengar Kyuhyun melangkah ke lift, denting bel ketika pintu lift membuka, lalu suara pintu itu menutup lagi.
"Bodoh!" Sungmin memaki dirinya sendiri, mengentakkan kaki seperti waktu kecil dulu. Dilemparkannya tasnya ke kursi terdekat dan disentakkannya blazernya sampai lepas.
"Dasar brengsek tidak tahu—" Sungmin tidak tahu harus marah pada siapa, Kyuhyun atau dirinya sendiri. Dia berjalan cepat ke kamar, dan setelah menyalakan lampu, menjatuhkan diri ke tempat tidur dan membungkuk untuk mencopot sepatu sandalnya.
"Kau tidak pernah belajar, bukan, Sungmin? Kau senang dihukum, ya?"
Sambil membuka pakaian dia terus memarahi dirinya karena tadi mau saja dicium Kyuhyun. Pria itu ayah muridnya. Dia bertanggung jawab atas anak pria itu.
Mestinya dia tidak membiarkan keterikatan emosional mengaburkan objektifitasnya. Dan hubungan asmara dengan ayah Minhyun sama artinya dengan kehancuran bagi anak itu. Berhubungan begitu akrab dengan Minhyun saja sudah cukup membahayakan bagi pendidikannya. Memiliki gairah seksual terhadap ayah anak itu benar-benar perbuatan sinting.
Sebetulnya bukan tindakannya mencium Kyuhyun yang meresahkan Sungmin, melainkan perasaannya ketika dia mencium pria itu. Ketika sedang mabuk kepayang pada Jungmo pun dia tidak merasa sekacau ketika dicium Kyuhyun tadi.
Dia seakan tenggelam, lalu pelampungnya dengan keji dan tak berperasaan ditarik. Dan yang membuatnya sakit hati dan tersinggung, Kyuhyun berani-beraninya mengatakan dia yang duluan memeluk!
Dasar seniman! Semuanya sama. Mereka memuaskan keinginan mereka, dan setelah ego mereka yang terluka sembuh, mereka menginjak-injak hati para penolong mereka.
Sungmin pergi ke kamar mandi dan memutuskan untuk berendam dengan air dingin guna meredam emosinya.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Annyeong ^^
Ternyata banyak yang penasaran ya. Banyak juga yang nanya. Tenang teman-teman, pertanyaan kalian akan terjawab satu persatu seiring berjalannya waktu. Semoga dengan BAB 3 ini, beberapa pertanyaan kalian akan terjawab ^^
Sorry for typos ^^
BIG THANKS TO
Kyu rin 71 , abilhikmah , Baby niz 137 , TiffyTiffanyLee , Frostbee , nurindaKyumin , danactebh , Joyers , 137lee , ssuxzy , Pspnya kyu , orange girls , inyezreceel92 , youlliana , alit , minnieGalz , anum, Sri Kencana , Lee Minry , nova , hyunmiie , sanmayy88 , cho kyumin137 , dan Deliadelisa
(Reviewer di BAB 1 dan BAB 2, untuk yang namanya belum disebut, mungkin reviewnya belum masuk. Apabila ada kesalahan dan pengetikan nama, mohon maaf ^^)
Once more, THANK YOU ^^
