AFFAIR

::

Cast :

Kim Jong Woon aka Yesung (namja)

Lee Donghae ( yeoja)

Choi Siwon ( namja)

Cho Kyuhyun ( namja)

Lee Sungmin (yeoja)

Kim Jong Jin (namja)

Cast lain menyusul..

Genre : Sad-romance

Rate : T

Disclaimer : semua tokoh diatas milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Cerita ini sendiri terinspirasi dari novel 'The Great Gatsby' karya F. Scott Fitzgerald. Plotnya berasal dari pemikiran saya yang adorable..#plak..

. .

Chapter III

: :

Seoul, South Korea

. .

Seorang yeoja berseragam SMA tengah sibuk menyusuri pinggiran jalan kota Seoul dengan tangan yang juga sibuk membawa setumpuk buku. Dia menghentikan langkahnya, matanya terpaku pada sebuah mini market 24 jam di seberang jalan. Pandangan melembut dan senyum manis terukir dibibirnya ketika matanya menangkap objek yang memang dicarinya.

Dia menghembuskan nafas perlahan sebelum akhirnya memutuskan untuk menyebrang.

'ting'

Terdengar suara denting ketika pintu mini market tersebut dibuka.

"Selamat datang," ucap seorang laki- laki penjaga kasir dengan senyum yang cukup mengagumkan menurut yeoja itu.

" Bolehkah aku menitip buku ini sebentar?" tanya yeoja itu setenang mungkin.

" Ne, agashi."

Yeoja itu pun menyegerakan diri menuju titik yang tepat baginya untuk memuluskan aksinya.

Klik

Suara yang berasal dari kamera ponsel yeoja itu terdengar pelan tak ingin memancing kecurigaan. Ternyata ia tengah mencuri gambar namja yang tengah berjaga di kasir. Sementara namja tersebut tengah tersenyum memperhatikan tingkah gadis yang mencuri fotonya melalui layar tv yang terhubung ke kamera cctv.

Setelah merasa puas gadis itu pun berjalan menuju kasir dengan membawa sebungkus permen.

"Anda sangat menyukai permen ini?" tanya namja penjaga kasir tersebut.

"Ah, n-ne," jawab yeoja itu sedikit gugup.

" Maaf nona, boleh saya lihat ponsel anda? Tadi saya lihat dari tv ini anda tengah memotret sesuatu," ucap namja itu dengan senyum manis terpatri di bibirnya.

Yeoja itu membulatkan matanya, demi apapun, mengapa ia tak pernah menyadari tentang cctv. Dengan ragu, ia memberikan ponsel berwarna biru laut.

Setelah menerima ponsel itu, namja tadi berpindah tempat. Sekarang ia tengah berada di samping yeoja tersebut.

Sreet

Klik

Tanpa ragu, ia menarik yeoja tadi, merendahkan sedikit tubuhnya dan memotret mereka berdua.

"Ini, bukankah lebih baik memotret secara langsung daripada bersembunyi," ucap namja itu seraya mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya yang tengah terjekut.

Dengan segera yeoja itu menunduk dan menarik ponselnya. Ukh, wajahnya pasti sudah sangat memerah sekarang.

"naneun Kim Jong Jin. Jabeuttake," ucap namja bernama Kim Jong Jin itu seraya mengulurkan tangannya.

Yeoja itu kembali tersentak dan menengadah menatap tak percaya pada namja yang tengah tersenyum manis dihadapannya. Namun berikutnya dia meraih uluran tangan itu, " naneun Lee Donghae. Jabeuttake."

::

AFFAIR

Kim Seo Jin

. .

Choi's Mansion

Suara dari kamar mandi yang ada di dalam sebuah kamar tidur mewah bergaya Eropa modern itu membangunkan Choi Siwon dari tidur nyenyaknya. Tidur yang jarang sekali ia dapatkan. Setelah dirasa nyawanya telah terkumpul, dengan perlahan ia melangkah ke sumber suara.

Onyxnya membulat ketika mendapati sang istri, Lee –ah ani, Choi Donghae, tengah terduduk lemah di kamar mandi. Segera direngkuhnya tubuh yeoja yang selama satu tahun ini mengisi hatinya.

" Chagiya, gwenchana?" tanyanya dengan nada dan wajah khawatir tapi tak ada jawaban. Raut wajah Siwon makin menampilkan guratan- guratan cemas.

Diguncangnya perlahan tubuh lemah istrinya, " Hae-ah irreona."

Merasa tak ada jawaban dari si empunya tubuh, Siwon pun menggendong istrinya dan menidurkannya di ranjang mereka. Segera diraihnya ponsel di meja nakas sebelah ranjangnya dan menghubungi dokter pribadi keluarga Choi.

"Eungh, o-oppa…" suara lemah Donghae membuat Siwon dengan segera memutuskan sambungan teleponnya. Terlihat sekali gurat kecemasan di wajah tampannya.

"Chagi, apa yang kau rasakan?" tanya Siwon sambil membelai wajah istrinya.

"A-aku… aku mual oppa… A-aku…hoek" jawab Donghae terbata.

Dengan segera digendongnya Donghae ala bridal style ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, Donghae langsung memuntahkan isi perutnya –yang hanya terisi air. Setelah memuntahkan isi perutnya, tubuh Donghae limbung seketika. Dengan sigap, diraihnya tubuh lemah Donghae, dibawanya tubuh lemah tersebut ke atas tempat tidur. Diusapnya lembut wajah istrinya yang pucat, dikecupnya kening Donghae penuh cinta.

"Baby~ wae?" tanyanya dengan suara sedikit parau.

. .

Siwon sedikit tersentak ketika mendengar pintu kamarnya diketuk. Segera dibukanya dan tampaklah seorang namja paruh baya yang merupakan dokter pribadi keluarga Choi bersama seorang maid.

"Ah, dokter Park. Silahkan masuk," ucap Siwon dan dibalas dengan anggukkan dan senyum dari dokter tersebut.

"Apa yang terjadi pada istri anda Siwon-ssi?" tanya dokter Park sambil memeriksa keadaan Donghae yang tengah pingsan.

"Entahlah dok, ketika saya bangun tidur, istri saya sudah terduduk lemah di kamar mandi kemudian dia mengeluh kalau dia merasa mual sebelum akhirnya pingsan," jelas Siwon. "Ada apa dengan istri saya dok?" tanyanya dengan nada penuh kecemasan.

"Istri anda mengalami kelelahan dan stress. Saya anjurkan anda memeriksakan istri anda ke rumah sakit. Saya menduga jika istri anda mengalami morning sickness. Tapi itu hanya dugaan saya, lebih baik anda membawanya ke rumah sakit," terang dokter Park. "Kalau begitu saya permisi dulu," lanjutnya.

"Nde, dokter. Gamsahamnida. Maaf sudah merepotkan anda," ucap Siwon sambil membungkukkan badannya dan dibalas senyum ramah dari sang dokter.

Setelah dokter Park pergi, Siwon kembali memperhatikan istrinya. Siwon bukan tidak tahu istilah morning sickness yang dikatakan oleh dokter tadi. Dia bahkan tahu dengan jelas, dan tak bisa dipungkiri perasaan senang menagkupi hatinya. Namun ada perasaan lain yang menggelayutinya, perasaan yang dirasanya seperti rasa bersalah yang menyesakkan.

. .

Jeju Island

Lee Sungmin tengah menikmati sarapannya –atau bisa dibilang makan siang sekaligus mengingat ia baru bisa mengisi perutnya yang terus mual ketika matahari sudah sangat tinggi– dengan tenang di rumah ayah dari bayi yang dikandungnya. Tampak kini wajahnya terlihat lebih segar meski masih ada lingkar hitam yang samar di bawah matanya.

Tiba- tiba saja acara makannya terganggu dengan suara bel rumahnya. Tanda tanya besar menyelimutinya. Siapa yang datang ke rumahnya? Bukankah tak ada yang tahu dimana dia tinggal kecuali sekretaris Jung dan ayah dari bayinya? Sekretaris Jung baru saja menemuinya kemarin sore dan sudah kembali ke Seoul tadi pagi jadi tidak mungkin ia kembali kesini kan? Mengharapkan ayah dari bayi ini datang? Huh, harapan yang bodoh.

"Mungkin tetangga sebelah?" gumam Sungmin tak jelas.

Dengan langkah enggan, Sungmin berjalan membuka pintu. Melihat siapa tamu yang terus menekan bel rumahnya dengan tak sabaran. Sungmin meraih handle pintu dan sontak mata kelincinya terbelalak ketika melihat sosok yang berdiri dengan senyum yang sulit di artikan.

"K-kau..?"

"Annyeong, Minnie-ah."

. .

Choi's Mansion

Choi Siwon tengah duduk di balik meja kerjanya dengan memegang selembar kertas yang didapatnya dari rumah sakit siang tadi. Ada perasaan senang di hatinya yang tak bisa ia tutupi begitu saja. Istri yang setahun ini menemaninya itu kini tengah mengandung anaknya, darah dagingnya. Tapi kata- kata dokter membuat hatinya benar- benar miris. Kondisi istrinya yang tidak stabil menimbulkan begitu banyak penyesalan dan tanda tanya baginya.

. .

Flashback on

:

"Selamat tuan Choi, istri anda positif hamil. Usia kandungannya sekarang menginjak empat minggu," ucap dokter Shin.

Rona bahagia terpancar dari seorang Choi Siwon. "Gamshamnida dokter."

"Tapi…" ucap dokter itu mengintrupsi euphoria Siwon. Perasaannya menjadi tak tenang sekarang. Seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Siwon, dokter tersebut menghela nafas mencoba bersikap tenang.

"Kondisi kandungannya sangat lemah. Dia sepertinya mengalami kelelahan yang cukup hebat dan juga stress. Saya sarankan anda lebih memperhatikannya lagi," lanjut dokter tersebut. Cukup miris rasanya melihat rekan kerjanya yang mengalami kelelahan hebat ditambah dengan stress. Bersyukur janinnya masih bertahan.

Siwon tercengang dengan penuturan yang diberikan oleh dokter Shin. Perasaan bersalah kini merambati hatinya.

:

Flashback off

. .

Siwon bangkit dari kursi yang sedari tadi di dudukinya beranjak untuk mengecek keadaan istrinya. Namun niatnya ia urungkan, ada rasa penasaran ketika ia melihat meja kerja istrinya yang berada di sebrang meja kerja miliknya.

Dengan hati- hati, ia melangkah menuju meja tersebut. Dilihatnya benda- benda yang ada di meja tersebut. Ada foto pernikahannya, foto ayah dan ibu mertuanya lalu foto Donghae dengan saudara kembarnya Lee Hyukjae. Melihat foto tersebut, tanpa sadar Siwon meneteskan air matanya.

Diraihnya figura yang terdapat dua gadis manis yang tersenyum bahagia. Dengan lirih, diusapnya salah satu objek di foto tersebut.

"Hyukie-ah, mianhaeyo," ucapnya dengan sedikit parau.

Ketika dirasa sudah cukup puas, Siwon meletakkan kembali figura tersebut. Matanya kini beralih pada map kuning yang terletak tak jauh dari foto tersebut.

Dengan ragu dibukanya map tersebut sehingga membuat selembar kertas terjatuh. Matanya membulat ketika melihat bahwa kertas yang jatuh tadi merupakan selembar foto yang berisi gambar istrinya dengan seorang pria yang sangat dikenalnya tengah tersenyum sama bahagianya.

Rahangnya terasa mengeras, segera dilihatnya map yang ada di tangan kirinya. Kembali, Choi Siwon merasakan perasaan yang tak enak dan takut. Data itu, tentang seorang yang dikenalnya juga, seorang yang kini menjadi pasien istrinya dan mungkin penyebab stress yang dialami oleh istrinya. Demi apapun, pria bermarga Choi itu tak mau ada yang merebut Donghae darinya. Dia tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Dengan kasar ia letakkan kembali map dan foto tersebut. Segera diraihnya ponsel yang ada di saku celananya. Menghubungi seseorang yang bisa dipercaya.

"Cepat cari informasi tentang orang bernama Kim Jong Woon dan Kim Jong Jin," perintah Siwon mutlak pada orang diseberang telepon.

. .

Seoul International Hospital

Suasana di rumah sakit milik pemerintah Korea itu cukup lengang. Wajar saja karena jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Seorang pria dengan jaket yang menutupi tubuhnya yang lumayan atletis berjalan diantara kesunyian rumah sakit. Tujuannya hanya satu, kamar pasien nomor 203.

Langkahnya berhenti ketika tempat yang ditujunya telah tampak di hadapannya. Dengan perlahan dia raih knop pintu dan membukanya. Warna putih menyambut pria berwajah dingin itu ketika memasuki ruangan tersebut. Suara mesin pengukur detak jantung menjadi irama tersendiri yang melengkapi ruangan tersebut.

Perlahan, dilangkahkannya kakinya menuju ke sosok yang tengah tertidur dengan damai. Senyum tulus tercetak di bibirnya kala melihat sosok tersebut.

"Annyeong saeng-ah. Apa kau tidak mau bangun? Apa kau tidak mau menyapa hyungmu ini?" tanya namja itu dengan nada yang sedikit bergetar namun jelas tak ada jawaban.

Pria itu menjulurkan tangannya, mengusap wajah pasien tersebut. Menyalurkan kehangatan dan kasih sayangnya pada satu- satunya orang yang dimilikinya sekarang.

"Bersabarlah. Hyung akan mengembalikan semuanya seperti seharusnya. Mianhae Jong jin-ah. Maaf karena tak bisa menjaga mu."

Tes

Air mata yang mungkin di tahannya selama 5 tahun ini akhirnya jatuh. Segera ditinggalkannya pasien bernama Jong Jin tersebut tanpa ia tahu bahwa ada respon kecil dari dongsaengnya tersebut.

TBC

::

Annyeong readers, ada yang nunggu ff ini?

Readers: gak ada

*pundung di pojokan.

Mian, kalau lama update nya. Author sibuk banget #plak

Mian juga kalo ceritanya makin gak jelas. Jujur ini FF lama yang gak selesai- selesai yang telah author remake besar- besaran. Jadi sekali lagi mian. Jeongmal mianhae.

Dan Gomawo untuk yang sudah berkenan membaca dan mereview.

Jeongmal gomawoyo.

Baiklah, silahkan Review yah.

Pai- pai~