Warning: typo(s), alur berantakan, tidak sesuai EYD. Thank you for your attention, sistur! Enjoy!
—
SMANSA Festival mulai dipersiapkan. Setiap kelas mulai melaksanakan aktivitasnya, membatik. Banyaknya peralatan membatik berserakan di lapangan. Tak sedikit murid SMANSA yang rela-rela berjemur diri demi mendapatkan batik yang memuaskan hingga bernilai tinggi.
OSIS mulai sibuk dengan mempersiapkan seluruh kegiatan acara. Mulai dari pembuatan brosur, mencari promotor, hingga mencari guest star tambahan yang akan memanjakan pengunjung di puncak acara. Hal ini membuat SMANSA semakin ramai dan ricuh.
Banyaknya teriakan, jeritan, hingga tertawa para murid pun mendominasi. Mulai dari yang berlari-larian karena membawa peralatan membatik, berlari-larian karena membeli bahan-bahan, hingga berlari-larian menuju Ruang WAKA karena proposal yang diberikan telah ditolak mentah-mentah.
Park Chanyeol, anggota OSIS yang diberi tugas proposal pun dibuat kebingungan. Dirinya tak tau harus mengubah proposal menjadi bentuk apalagi. Proposal yang sudah ia kerjakan matang-matang harus diberi tinta pulpen di setiap sisinya—perbuatan Bu Hyorin, WAKA Kesiswaan.
"Serius, Bu Hyorin mau proposal yang bentuk kayak gimana, sih?! Masa proposal indah gue dicoret-coret sama pulpen dia?!" Chanyeol membanting proposal tebal itu ke meja. Dirinya mengerang sambil menjambak rambutnya frustasi. Tak memperdulikan anggota OSIS yang silih berganti memasuki Ruang OSIS.
"Kenapa sih, Yeol? Muka lo sumpek banget?" Joohyun mendudukkan pantatnya pada kursi di sebelah Chanyeol, "Gila! Kok ada coretan gini di proposal?!" gadis mungil itu terperanjat karena mendapati proposal kegiatan mereka dibubuhi beberapa coretan berwarna merah hingga biru.
"Makanya itu! Katanya anggaran kita terlalu banyak! Kita disuruh mengurangi lagi!" Chanyeol tak bisa menahan untuk tidak kembali mengerang, "Serius, Bu Hyorin! Muka doang cantik terus badan seksoy semlehoy, tapi suka banget nyiksa siswa kek gini! Argh!"
"Gitu aja lo tergila-gila sama Bu Hyorin! Udah tau kan sifat aslinya kayak gimana!" Baekhyun tiba-tiba mendudukkan dirinya di kursi yang agak jauh dari Chanyeol-Joohyun, "Argh, gue penat."
Chanyeol melihat Baekhyun yang sedang memejamkan matanya. Seketika darah Chanyeol berdesir. Tak dapat dipungkiri jika pemuda tinggi bertelinga lebar itu tak tertarik pada gadis cantik seperti Baekhyun.
Seringkali Chanyeol mengajak gadis itu berkencan namun dengan tersirat, tidak langsung. Entah Baekhyun yang tidak berminat, atau karena Baekhyun tidak peka? Gadis itu selalu menanggapi dengan kekehan dan menjawab, 'Tumben lo baik banget sama gue, Yeol? Tapi, next time, gimana? Gue ada latihan nyanyi ntar sore.'
"Woi, Chan! Lo dengerin gue, gak?!" Joohyun melambai-lambaikan tangannya di depan Chanyeol. Dirinya sangat bingung melihat pemuda tinggi itu terlihat melamun.
Chanyeol terkesiap, "A-apa?" tanyanya tergagap, "Kenapa, Joohyun?"
Joohyun mendengus, "Gue ajak ngomong daritadi gak nyaut lo! Kesel kan gue jadinya?!" dia menunjuk beberapa kalimat yang ditulis oleh Bu Hyorin di proposal mereka, "Untuk pengurangan biaya, kita bisa diskusi sama Sehun nanti. Kita cari donatur yang bisa mencukupi pengeluaran kita selama acara."
"O-oke, siap!" Chanyeol menulis beberapa catatan di proposal itu, "Siap! Nanti kita rapat lagi sama Sehun?"
Joohyun mengangguk, "Baek, gimana sama kelas? Udah pada bikin batik, kan?"
Baekhyun mengerang—meregangkan otot-ototnya yang kaku akibat kelelahan, "Udah kok, Hyun. Oh iya, kayaknya brosur acara udah selesai dibuat. Dari kelas kita, siapa yang mau nyebarin ke pinggir jalan?" gadis itu mulai duduk dengan tegap, sesekali menguap.
"Luhan aja, gimana? Itu bocah kan pasti punya cara buat menarik para masyarakat," usul Joohyun yang langsung mendapatkan senyuman puas dari Baekhyun.
"Tapi dari pihak OSIS—siapa?" tanya Baekhyun.
Joohyun menopang dagunya pada meja di depannya, "Jaehyun? Gue lihat itu orang lagi gabut kok di dalem kelas,"
"Lo berdua suka bener dah bikin Luhan ngamuk-ngamuk," Chanyeol menimpali, "Gue gak akan kuat buat nahan ketawa kalau Luhan udah turun tangan,"
Baekhyun terkikik puas, "Habis gimana, Luhan doang cewek di kelas yang bisa kek gini. Semuanya pada males juga buat keluar di siang bolong kek gini. Panas sumpah,"
"Bener! Lagipula, gue udah sumpek ngelihat Luhan sambat terus gara-gara lomba balet bulan depan." Joohyun menggeleng-geleng dramatis, "Apalagi sekarang dia latihan terus tiap hari. Gue jadi khawatir sama kaki dia,"
Baekhyun menghela nafas kasar, "Itu orang emang keras kepala. Udah disuruh coach nya buat jangan terlalu memaksakan diri, tetep aja dia memaksakan diri. Gue gak tau harus ngasih tau dia kayak gimana lagi," curhat gadis itu panjang lebar. Dirinya memijat kening nya yang sedikit pening akibat tugas yang begitu menumpuk.
"Udah, Baek. Mending lo telp aja Luhan buat kesini. Jangan lupa ajak Jaehyun," Joohyun memberikan ponsel nya pada Baekhyun.
Tak lama, suara Luhan terdengar, "Kenapa nelp gue? Gue lagi di sanggar, nih."
"Gila! Disaat kek gini lo latihan, Lu? Woi, jangan memaksakan diri napa!" Baekhyun berkata kesal.
Terdengar suara nafas yang memburu dari seberang sana, "Lah, Baekhyun? Tenang aja, Baek. Gue latihan bentar. Gue ada beberapa gerakan yang lupa-lupa. Tenang, gak akan lama."
Baekhyun mengusap wajahnya kasar—merasa menasehati Luhan adalah hal yang sia-sia, "Okay, sebentar doang. Oh iya, mending lo sekarang ke Ruang OSIS sekarang. Jangan lupa bawa Jaehyun,"
"Emang kenapa?"
"Udah, kesini aja dulu. Daripada lo latihan," Baekhyun cepat-cepat memutuskan sambungan telp. Terkikik bersama Joohyun karena berhasil membuat Luhan berhenti dari latihan baletnya.
—
Luhan maupun Jaehyun mendengus kasar hingga kepala mereka seperti ada letup-letup api kemarahan. "Jahat bener sumpah ya mereka! Habis latihan, disuruh nyebar brosur kek gini di pinggir jalan!" protes Luhan tak terima.
Jaehyun mengusap wajah nya yang berkeringat dengan tissue di tangannya, "Bener, Lu. Gue yang hampir terlelap tiba-tiba sambat kayak begini, kan?"
Luhan melihat ke sekeliling. Terlihat beberapa anak sekolahnya melakukan hal yang sama seperti dirinya, menyebarkan brosur event sekolah mereka. Mereka rela-rela terkena sinar matahari sambil menyerahkan brosur kepada pengguna jalan yang lewat.
"Udah, Jaehyun. Semakin cepet kita kerja, semakin cepet kita selesai nya. Gue mau latihan lagi nanti sore," Luhan memberikan lembaran-lembaran brosur itu pada Jaehyun, "Lo deket ruko-ruko situ, ya? Gue di sekitar lampu merah aja,"
Jaehyun menyerngit, "Beneran? Gak lu aja yang di deket ruko-ruko? Panas loh di deket lampu merah. Gue tau lo gak bawa topi," pemuda tampan itu masih memikirkan nasib perempuan seperti Luhan.
Luhan menggeleng cepat, "Udah., gue gak kenapa-kenapa, kok. Udah sana, masih jam 10. Keburu jam 12. Ntar kita makin gosong lagi,"
"Okey, Lu." Jaehyun langsung berlari meninggalkan Luhan yang masih bertahan untuk berdiri di depan gerbang sekolah. Gadis itu mulai menghitung lembaran-lembaran yang ada di tangannya, "Siap, cukup bagi-bagi in, kan? Habis itu kelar?"
Luhan melangkahkan kakinya ke arah daerah lampu merah dekat sekolah nya. Tubuh mungil nya terkena sinar matahari total yang begitu panas. Gerah pun mulai dirasakan Luhan.
"Silahkan! Ada guest star serta pameran batik di SMANSA! Ditunggu kedatangannya!" gadis itu tersenyum sambil menyerahkan lembaran-lembaran tipis itu, "Semoga hari Anda menyenangkan!"
"Huweeee., hiks., Mama!" Luhan terdiam sebentar. Jalan yang renggang membuat dirinya menoleh kearah kanan-kiri, mencari sumber tangisan.
Tak jauh darinya, terdapat gadis kecil berbaju merah. Memakai rok berwarna putih bergaris merah serta sepatu berwarna putih tulang. Tak lupa, ransel berwarna merah di punggung gadis kecil itu.
Luhan menyerngit, "Dimana Orang Tua nya?" tanya nya bingung. Ia langkahkan kakinya mendekati gadis kecil itu, "Adik kecil, dimana Orang Tua mu?" tanya nya sambil berjongkok—menyamakan tinggi nya dengan tinggi gadis itu.
Sosok itu semakin mengencangkan tangisannya, "Hiks., Yuqi tidak tau Mama ada dimana. Yuqi binun!"
"Nama mu Yuqi, kan?" terlihat gadis itu mengangguk sambil sesegukan, "Nah, Yuqi. Kakak akan bantu Yuqi buat nyari Mama Yuqi. Jadi, Yuqi sekarang jangan menangis, okay?"
Yuqi hanya mengangguk pelan. Dirinya menatap Luhan yang sedang tersenyum, "Kakak kelihatan lelah. Kakak kenapa dithini?" tanya nya polos.
Luhan terkekeh gemas, "Kakak sedang melakukan tugas dari sekolah." Dirinya memperlihatkan banyak lembaran yang tersisa, "Yuqi kenapa bisa ada disini?"
Yuqi mengerucutkan bibirnya, "Tadi, Yuqi ikut Mama berbelanja. Tiba-tiba, ada kupu-kupu cantik lewat depan Yuqi. Akhirnya, Yuqi lari buat menangkap kupu-kupu. Tapi, loloth. Yuqi gak bisa nangkap,"
Luhan paham sekarang. Yuqi lepas dari pengawasan Orang Tau nya. "Yuqi mau Kakak gendong?" tawarnya pada gadis kecil itu.
"Eung!" Yuqi langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Luhan terkekeh lucu. Dirinya menggendong tubuh mungil Yuqi dengan mudah. Melindungi kepala Yuqi dengan lembaran-lembaran brosur yang ia bawa.
"Kakak tidak lelah? Kakak terlihat thakith. Kakak baik-baik saja?" Yuqi menatap Luhan khawatir. Gadis kecil itu melihat wajah Luhan yang sudah pucat pasi. Bahkan, liptint yang membungkus bibir gadis itu tak bisa menolong nya dari rona pucat.
Luhan mengangguk cepat, "Eum! Kakak kuat! Setelah ini, kakak akan bantu Yuqi cari Mama, ya!"
"Luhan?" suara seseorang mengintrupsi percakapannya dengan Yuqi. Setelah menoleh, sosok itu terkejut, "Luhan? Lo pucat!"
"Se-Sehun," lirih Luhan terkejut. Dirinya memeluk Yuqi dalam gendongannya, "Kok—lo bisa ada disini?"
Di depannya kini, ada Sehun yang sedang menatapnya—khawatir? Dengan peluh yang mengucuri wajah nya, Sehun tetaplah tampan bagaikan pangeran berkuda putih kesayangannya.
Terlihat Sehun membawa beberapa brosur seperti dirinya. Bedanya, Sehun membawa sekantong plastik, sepertinya dirinya habis dari minimarket. "Lu? Ini siapa?" tanya nya pada Yuqi yang sedaritadi menatap dirinya.
"Yuqi. Dia terpisah dari Mama nya. Setelah ini habis, gue mau nyari Mama Yuqi." Luhan merasakan kepala nya pening mendadak. "Argh,"
Hampir saja dia terjatuh jika Sehun tidak menahannya, "Lu, lo sakit! Udah, Yuqi aja yang gue anter!" entah kenapa, nada suara Sehun terdengar lebih tinggi dari biasanya. Luhan tidak tau.
"Gak. Gue gak kenapa-kenapa. Yuqi tanggung jawab gue," telah kembali sisi keras kepala Luhan, "Udah, Sehun. Gue gak kenapa-kenapa. Gue serius,"
"Gue juga serius," Sehun menatap Luhan dengan marah, "Lo sakit. Lo bisa pingsan disini. Ayo, kita cari Mama Yuqi sekarang." Tanpa mengatakan apapun lagi, Sehun mengambil ahli Yuqi dari gendongan Luhan. Memeluk pinggang Luhan—mencegah agar Luhan tidak jatuh secara tiba-tiba.
Di pinggir jalan yang renggang ini, mereka diliputi oleh keheningan. Meskipun Yuqi beberapa kali mengajak ngobrol Luhan maupun Sehun. Luhan sekali-sekali memegang kepala nya ketika pening kembali menyerang.
"Mana anakku? Astaga, YUQI?!" teriakan dari seorang wanita berumur 20 tahun-an membuat Luhan maupun Sehun menoleh.
"Mama!" Yuqi berteriak juga. Dengan cepat, wanita itu menghampiri mereka, "Mama!" Sehun memberikan Yuqi ke dalam gendongan Ibu nya.
"Err, begini. Tadi, saya menemukan Yuqi disekitar lampu merah situ. Yuqi menangis karena terpisah dari Anda. Saya dan teman saya bermaksud ingin mencari Anda," Luhan menjelaskan ketika dirinya melihat tanda tanya dari raut Ibu Yuqi, "Selamat anak Anda sudah bertemu, Nyonya."
"Astaga! Terima kasih, Dek! Saya gak tau bakalan kayak gimana kalau Yuqi tidak ketemu! Terima kasih!" wanita itu tersenyum manis sambil menatap keduanya, "Terima kasih! Ayo Yuqi, ucapkan terima kasih pada Kakak-Kakak ini,"
Yuqi kecil hanya memamerkan gigi-gigi nya yang masih kecil, "Terima kathih, Kakak! Oh iya, nanti Mama dan Yuqi akan datang ke thekolah Kakak!" gadis kecil itu mengambil selembar yang Luhan genggam, "Kakak ithirahat ya habith ini? Biar Kakak thehath lagi. Teruth ketemu Yuqi di thekolah Kakak!"
Luhan mendekati Yuqi yang terkikik lucu, "Iya, Yuqi. Kakak akan sembuh, kok. Lain kali, jangan lepas dari Mama lagi, ya? Kasihan Mama Yuqi mencari Yuqi kemana-mana. Biarpun ada kupu-kupu sekaligus. Yuqi paham?" dirinya mengusak rambut hitam legam Yuqi yang tipis.
Yuqi kecil mengangguk cepat, "Ayeye, kapten!"
Luhan tertawa gemas—dirinya sangat suka anak kecil, "Kakak balik dulu, ya? Hati-hati, Yuqi!" setelah mengatakan hal itu, dirinya berbalik badan menuju sekolah nya. Dengan Sehun yang kembali merengkuh dirinya agar tidak terjatuh.
"Suka sama anak kecil?" Sehun membuka pembicaraan. Dirinya melirik Luhan yang semakin pucat. Bahkan, bibir gadis itu sama-sama pucatnya. Tidak seperti biasanya yang memiliki rona kemerah-merah an layaknya buat cherry.
"Eum," Luhan mengangguk seadanya. Dirinya ingin melepaskan diri dari Sehun. Tapi apa daya, kondisi dirinya yang sedang tidak baik ini membuat dirinya pasrah ketika pinggang nya dipeluk oleh Sehun seperti ini.
Bukannya apa, Luhan hanya malu. Daritadi, wajah nya sudah terbakar karena rona merah-merah yang menjalar itu. Pemuda di sebelah nya menganggap bahwa rona merah itu karena Luhan yang sedang tidak sehat. Luhan sedikit bersyukur karena hal itu.
SRET
Luhan mengadahkan kepalanya. Menatap kearah Sehun yang menatap lurus ke jalanan. Sedikit bersyukur karena trotoar ini sangat sepi. Sehingga dirinya tidak akan menjadi bahan berbincangan orang-orang yang lewat.
Sehun meletakkan lembaran-lembaran brosur itu diatas kepala Luhan—melindungi Luhan dari sinar matahari. "Muka lo udah merah banget. Gue tau lo sakit. Lo kenapa gak minta yang lain aja buat ngelakuin hal beginian?" pemuda itu semakin mempererat rengkuhannya pada pinggang Luhan.
"Gak kenapa-kenapa. Gue yang disuruh Baekhyun sama Joohyun. Sekarang kayaknya Jaehyun udah baik ke sekolah." Luhan menjawab pelan.
"Argh," Luhan memegang kepala nya yang terasa berputar-putar. Dirinya langsung meremas seragam Sehun kuat-kuat. Kemudian, dirinya tumbang di pelukan Sehun.
Sebelum kehilangan kesadaran, Luhan dapat mendengar teriakan Sehun untuknya, "Luhan! Luhan!"
Dan, gelap.
—
CHAPTER 3 END.
Semoga hasil dari chapter ini memuaskan kalian ya, para readers kesayangan saya. Saya hadirkan chapter karena waktu senggang bisa saya nikmati. Semoga kalian suka sama chapter ini! Kamsahamnida! /bow/
Review? Likes? Thank you, sweetheart.
Pretty sign,
syyaaaaak.
