Love Is Never Wrong
.
.
.
03
.
.
.
^_^ Happy Reading ^_^
.
.
.
Baekhyun sedang berkeliling menemani Kim Ryeowook, berpindah dari gedung satu ke gedung lainnya. Menjelaskan pada perempuan itu tentang segala sesuatu dari spesifikasi gedung tersebut.
Dari ketiga gedung yang ditunjukkan pada sekretaris pribadi keluarga Park itu, satu gedung sudah di pilih, sama seperti pilihan Baekhyun tentunya.
Gedung yang berada di tengah kota Seoul itu mampu menampung lebih dari dua ribu orang. Akses gedung tersebut dari jalan raya juga dekat dan lokasi parkir juga memadai untuk tamu undangan nantinya.
Urusan gedung sudah selesai, Baekhyun kemudian mengajak Ryeowook melihat gereja yang sudah di persiapkan untuk di pilih perempuan itu.
Sepanjang perjalanan, tak banyak yang mereka bicarakan. Ryeowook terlihat tenang duduk di belakang dengan memasang wajah datarnya, sedangkan Baekhyun terlihat cukup menikmati perjalanan ini. Dia duduk di depan, di samping sopir. Dan terlihat asik mengambil gambar pemandangan di luar dengan kameranya.
Sebenarnya, kamera itu sengaja dia bawa karena dia tahu, perjalanannya akan sangat membosankan dengan perempuan kaku di belakangnya itu. Sepanjang kebersamaan mereka ini, tak banyak yang mereka bicarakan kecuali urusan pekerjaan.
"Kenapa anda mencari gereja sampai kesini? Bukankah di Seoul banyak gereja besar?" tanya Ryeowook yang membuat Baekhyun menghentikan kegiatan kecilnya.
"Karena saya tak diberi kesempatan untuk bertanya pada kedua mempelai tentang keinginan mereka untuk dilakukan dimana pemberkatannya nanti maka saya memilih gereja-gereja itu berdasarkan insting saya sebagai wedding organizer. Ada tiga pilihan sama seperti gedung tadi, ketiganya juga mampu menampung jumlah tamu yang banyak. Anda sebagai perwakilan keluarga, bisa memilih salah satunya."
Skak mat!
Ryeowook mati kutu mendengar penjelasan Baekhyun. Memang benar, keinginan Baekhyun adalah duduk dengan kedua calon mempelai, membicarakan masalah pernikahan mereka dan dia bisa memberikan keputusannya. Tapi... Pihak kedua keluarga hanya memperbolehkan Baekhyun bicara pada Ryeowook untuk urusan pernikahan itu. Dan sepertinya, dua mempelai tak banyak dilibatkan dalam pengambilan keputusan ini.
"Kalau kau mau menikah denganku, maka aku akan mengatakan seperti apa pernikahan yang ku inginkan."
Baekhyun sedikit tersentak.
"NonaByun, ada apa?"
Baekhyun menggeleng saat sopir itu bertanya padanya, sepertinya menyadari perubahan yang terjadi padanya.
Hah!
Dalam situasi seperti ini, kenapa Baekhyun justru teringat akan apa yang dikatakan Chanyeol kemarin malam?
Tidak!
Dia tak boleh memikirkan itu. Karena seperti yang diketahuinya, ucapan Chanyeol hanya sebuah ucapan yang tak memiliki arti apapun. Pria itu tak mungkin sengaja mengatakan hal itu padanya bukan?
Ok!
Tenang Byun Baekhyun. Chanyeol hanya seorang playboy yang sedang berusaha menebarkan jalanya untuk menangkap mangsa.
Huft!
.
.
.
Suasana terlihat kaku di ruang VIP sebuah restoran internasional. Lima orang yang hadir di tempat itu, tak banyak bicara. Mereka takzim dengan makanan yang tersaji di depan masing-masing.
"Eomma dengar, semalam Kim Jongdae mengusir Kang Seulgi dari rumahmu. Apakah itu benar Chanyeol-ah?"
Chanyeol menarik nafasnya halus. Gerakan mulutnya semakin terlihat pelan. Inilah yang akan terjadi, kalau dia berusaha mencampakkan gadis itu. Keluarganya akan beramai-ramai menghakiminya. Sesuai dengan apa yang sudah di duganya.
"Nde." Jawab singkat Chanyeol.
"Wae? Apa salah jika seorang calon istri ingin mengunjungi rumah calon suaminya?"
Chanyeol menatap datar kakak pertamanya. Perempuan tinggi yang diberi nama Park Sooyoung oleh ayahnya itu, memang yang paling sering memprotes tindakan sarkastisnya terhadapa Seulgi.
"Aku tidak pernah mencampuri urusan pribadinya, kenapa dia sangat ingin tahu urusan pribadiku. Lagi pula, rumahku adalah otoritasku. Aku bebas menentukan siapa saja yang boleh masuk kesana."
"Termasuk menolak kedatangan calon istrimu? Rumahmu, akan menjadi rumahnya begitu kalian menikah nantinya Park Chanyeol."
Chanyeol beralih menatap kakak keduanya, Park Shin Hye. Bibirnya menyunggingkan senyum miringnya. Kakaknya ini sebenarnya orang baik, sangat baik malah, hanya saja, pikirannya sudah banyak terkontaminasi oleh ibu dan kaka pertamanya. Membuat Chanyeol pada akhirnya memasukkan Shin Hye pada daftar orang-orang yang tak diijinkan menginjakkan kakinya di rumah pribadinya. Kejam!
"Aku tak memiliki rencana untuk membawanya tinggal di rumahku." Sahut Chanyeol acuh.
Telinganya dapat menangkap jelasan desahan dari ibu dan kakak pertamanya. Namun hal itu tak membuatnya terganggu, pria tinggi berambut ikal itu, kembali melanjutkan makannya.
"Memangnya ada apa di rumahmu itu, kenapa kami juga tak kau ijinkan masuk kesana. Kau menyimpan perempuan disana?" ibu Chanyeol berujar dengan nada kesal.
Sekali lagi, Chanyeol memamerkan senyum miringnya, yang terkesan sinis dan dingin.
"Perempuan? Tentu saja, disana ada Song Qian ahjumma, perempuan baik hati yang dititipkan halmeoni untuk ku jaga. Juga ada Jung Soo Jung, yang meskipun lahir dari keluarga yang tak memiliki apa-apa, tapi dia punya hati yang sama baiknya dengan Song Qian ahjumma. Dan lebih dari semua, mereka yang tinggal dirumahku adalah orang-orang yang tak akan pernah menyakitiku, sedikitpun!"
Chanyeol tak peduli akan tatapan tajam yang diberikan kakak pertamanya dan Ibunya.
"Chanyeol-ah! Kami keluargamu, kami tentunya juga tak akan menyakitimu, adikku." Shin Hye berusaha menyentuh kepala Chanyeol, seperti yang dulu pernah dilakukannya semasa mereka kecil. Namun adiknya itu justru menghindarinya.
"Benarkah?" Chanyeol tertawa sinis. "Aku tak percaya itu. Aku sudah selesai, permisi!" Lanjutnya kemudian sambil berdiri dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan itu, namun sebelum benar-benar keluar, dia sempat berhenti dan tanpa menatap keluarganya dia berujar datar.
"Aku tak pernah mencampuri urusan kalian, jadi jangan repot untuk mencampuri urusanku."
Chanyeol melangkah keluar dengan wajah sedikit kaku. Jongdae langsung mengikuti langkah tegap majikannya itu.
Pemandangan seperti inilah yang tak Jongdae sukai bila Chanyeol usai bertemu dengan keluarganya. Raut wajahnya terkesan tertekan dan sangat tak bersahabat. Berbeda sekali ketika pria itu bertemu Baekhyun. Hah!
"Oppa!"
Chanyeol dan Jongdae berhenti, padahal Chanyeol sudah bersiap masuk ke dalam mobilnya. Dengan gerakan cepat Chanyeol berbalik dan Jongdae menggeser posisi berdirinya.
Park Joo Hyun atau keluarganya biasa menyapa si bungsu ini dengan sebutan Irene, terlihat berlari mendekati Chanyeol.
Senyum cantik Irene terkembang, meski nafasnya terdengar terengah.
"A-aku baru pulang dari New york semalam oppa dan sangat senang saat eomma mengajakku menemui oppa. Ehm..." Irene terlihat ragu, dia tampak meremat tangannya dan menggigit bibir bawahnya, sebelum kemudian merangkul tubuh besar Chanyeol.
"Bogoshippo oppa. Neomu bogoshippo." Irene memeluk erat tubuh kakak laki-lakinya itu, airmatanya meleleh tanpa diminta. Pria ini adalah satu-satunya orang yang ingin dijumpainya saat dia pulang untuk pertama kalinya dari New york setelah lebih dari sepuluh tahun tinggal di kota sibuk itu.
Irene-ah! Meski kau disana sendirian dan meski cara kita berkomunikasi tak seperti seorang saudara, tapi kau harus tahu dan yakin, aku menyayangimu dengan caraku sendiri. Kau harus menjaga dirimu dengan baik. Aku menyayangimu, adik kecilku.
Irene ingat kalimat terakhir yang ditulis kakaknya itu di suratnya yang diletakkan di tasnya sebelum dia berangkat ke New york sepuluh tahun yang lalu.
Irene meyakini hal itu, meski Chanyeol tak pernah menghubunginya, dia yakin kakaknya itu menyayanginya.
"Aku menyayangi oppa. Sangat menyayangi oppa."
Chanyeol berdiri kaku. Dipeluk seperti ini oleh saudaranya sendiri, kenapa terasa begitu asing untuknya? Dia ingin membalas pelukan itu, tapi tangannya terasa kaku untuk digerakkan.
"Oh ya!" Irene melonggarkan pelukannya pada Chanyeol, lalu mengeluarkan sesuatu dari paperbag yang di bawanya.
"Aku merajutnya sendiri dan aku sangat ingin memberikannya pada oppa. Kau harus memakainya saat musim dingin nanti oppa." Irene memamerkan syal merah hasil rajutannya sendiri.
Chanyeol bergeming di tempatnya, wajahnya tetap terlihat nyaris tanpa ekspresi.
"Biar saya yang membawanya Nona." Jongdae mengulurkan tangannya, meminta paperbag yang dibawa Irene.
Irene menatap Chanyeol, kemudian beralih ke Jongdae. Senyumnya terkembang sambil menyerahkan paperbag itu pada Jongdae.
"Kau harus memastikan Chanyeol oppa memakainya di musim dingin nanti, oppa."
Jongdae tersenyum dan mengangguk pelan.
Chanyeol berbalik acuh dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Dia tak merasa ingin mengatakan sesuatu pada adiknya itu. Meski sebenarnya, banyak hal yang ingin dibaginya.
Pada dirinya, Chanyeol sudah terlanjur mendoktrin bahwa dia tak diijinkan untuk menjadi lebih dekat dengan keluarganya karena luka yang pernah dialaminya semasa dia kecil, masih terus menganga sampai saat ini. Jadi, meskipun dia menyayangi Irene, dia menyayangi adiknya itu dengan caranya sendiri.
Jongdae membungkuk sopan pada Irene. Lalu menyusul Chanyeol masuk ke dalam mobil.
Tak berapa sedan hitam itu sudah berjalan meninggalkan Irene yang menatap kepergian kakaknya dengan tatapan miris.
"Mian. Aku masih belum bisa membalas kebaikanmu oppa."
.
.
.
"Kau tidak pulang?" tanya Tiffany sambil melirik jam di pergelangan tangannya yang jarum pendeknya sudah menunjuk ke angka sepuluh.
"Sebentar lagi. Eonni pulang saja kalau mau pulang. Masih ada yang harus aku selesaikan." Baekhyun memamerkan kertas bergambar designnya.
"Perlukah ku bantu menyelesaikannya?"
"Terimakasih. Tapi tak perlu eonni. Aku bisa menyelesaikannya sendiri. Pulanglah!"
Tiffany mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu pamit pada Baekhyun, si mungil yang membalasnya dengan senyum mempersilahkan.
Sepeninggal Tiffany, Baekhyun kembali menatap layar komputernya, designnya sudah jadi, tinggal dia masukkan ke komputer saja.
Baekhyun masih terlihat menatap layar komputernya setelah beberapa saat. Sampai kemudian tatapannya beralih saat mendengar suara gemerincing dari pintu depan.
"Jonghyunnie oppa! Kau 'kah itu?" pekik Baekhyun. Sebelum pergi tadi, Tiffany sempat mengatakan bahwa mungkin Jonghyun akan kembali ke kantor. Jadi, pikiran Baekhyun langsung tertuju pada Jonghyun saat telinganya menangkap suara itu.
Namun...
Setelah beberapa detik, tak ada sahutan dari Jonghyun. Yang ada hanya suara jejak kaki yang menapak anak tangga. Semakin lama, semakin terdengar jelas.
"Oppa!" panggil Baekhyun sambil beranjak dari duduknya, melangkah mendekati pintu dengan segenap rasa takut yang mulai berkumpul di pikirannya.
Kalau bukan Jonghyun yang datang, lalu siapa?
"Aaaaaaaaaa!"
Grudak!
Untuk beberapa saat Baekhyun terdiam di lantai dengan mata tertutup. Punggungnya rasanya seperti patah setelah apa yang terjadi beberapa detik yang lalu.
Baekhyun membuka pintu ruangannya dan sangat terkejut ketika sosok tinggi yang menutupi kepalanya dengam jaket tiba-tiba muncul dihadapannya. Karena gerakan yang tergesa, tanpa disadarinya tubuhnya oleng dan dia reflek menarik pemilik tubuh tinggi itu.
Dia jatuh terlentang di lantai dengan orang itu menimpa tubuh kecilnya.
"Gwenchanayo?"
Baekhyun langsung membuka matanya dan mendesah pelan mendapati siapa yang berada di atasnya. Orang ini lagi! Batinnya.
"Bisa kau menyingkir dari sana?"
Begitu pria itu menyingkir dari atas tubuhnya, Baekhyun sedikit kesulitan beranjak dari lantai.
Punggungnya benar-benar patah sepertinya. Hah!
"Ya! Kenapa kau mengejutkanku? Lagi pula siapa yang menyuruhmu malam-malam kemari, Tuan Park Chanyeol!" omel Baekhyun sambil berusaha berdiri.
Chanyeol berusaha membantu Baekhyun, namun uluran tangannya langsung ditepis gadis itu. Baekhyun berusaha berdiri sendiri dengan berpegangan pada meja tak jauh dari tempat jatuhnya.
Setelah berdiri, dia melangkah tertatih menuju kursinya kembali.
Dan dia bisa bernafas lega begitu pantatnya menghempas kursi.
"Hah!"
Dan seolah mengingat sesuatu, Baekhyun langsung menegakkan badannya dan menatap Chanyeol yang susah duduk di sofa. Mata Baekhyun memicing menatap pria itu. Mencurigakan!
Ok!
Dua malam yang lalu Chanyeol menolongnya, bisa jadi memang kebetulan. Lalu kemarin malam, mungkin saja itu juga kebetulan tapi malam ini, tidak mungkin kebetulan. Pria itu pasti sudah mengintainya. Dan ketika tahu dia sendirian, maka pria itu datang. Pasti bermaksud buruk.
"Ada apa kau kemari?" tanya Baekhyun tak ada manis-manisnya sama sekali.
"Tidak ada apa-apa. Tadi lewat sini dan kebetulan melihat tempat ini masih menyala, jadi aku masuk."
Baekhyun semakin menatap Chanyeol curiga.
"Kau mengintaiku 'kan? Sebenarnya kau sudah sejak tadi di depan sana, lalu ketika kau tahu Fanny eonni keluar dari sini, kau masuk. Iya 'kan?"
Chanyeol tersenyum kecil mendengar tuduhan Baekhyun.
"Katakan tunduhanmu benar, lalu kau mau apa?"
"Hah!" Baekhyun mendesah keras. Pria itu jujur sekali. Baekhyun meraih gelas minumnya dan ternyata sudah kosong. Terpaksa dia berdiri dari duduknya, lalu melangkah ke dispenser.
"Kenapa kau mengintaiku? Aaaa... Aku tahu, kau pasti takut aku tak mengerjakan pekerjaanku dengan baik bukan? Ehm... Kau tenang saja Tuan Park, aku profesional dan aku menjamin, pernikahanmu dan Nona Kang akan berjalan lancar tak kurang satu apapun. Karenaach!"
Baekhyun memekik kaget, karena Chanyeol sudah berdiri di hadapannya begitu dia membalik badannya. Tatapan pria itu benar-benar tak bersahabat. Tajam dan sangat dingin.
"Ka-karena aku, ju-juga berharap acara itu berjalan lancar." Baekhyun berujar dengan terbata, tatapannya dialihkan dari sorot dingin itu. Yang sebenarnya, dia takut mendapat tatapan semacam itu.
"Aku sama sekali tak perduli pernikahan itu terjadi atau tidak. Bagiku, hal itu tidaklah penting."
Baekhyun menatap Chanyeol. Pria itu berujar dengan suara berat dan dingin. Wajah, tatapan mata dan suaranya memiliki ekpresi sejajar, dingin.
Namun hal lain yang Baekhyun tangkap dari sepasang mata Chanyeol, selain dingin, mata itu terlihat penuh luka.
"Ehm... Aku harus melanjutkan pekerjaanku. Kau bisa menyingkir dari hadapanku?"
Kruuuuuukkkkk!
Baekhyun menurunkan pandangannya pada perut Chanyeol, lalu kembali menatap pria tinggi itu dengan senyum tersungging tipis.
"Kau lapar? Hmm... Kasihan sekali perutnya. Tunggu! Aku akan membuatkanmu ramyeon."
Sekali lagi, Jantung Chanyeol dibuat nyaris melompat dari tempatnya saat tangan Baekhyun memegang lembut perutnya. Meski hanya sekilas.
Baekhyun sudah menghambur keluar dari ruangannya usai mengatakan hal itu. Dia melangkah ke pantry dengan diikuti Chanyeol di belakangnya.
Ehm!
Usahanya untuk menghindar dari pria tinggi berdimple itu tak berhasil.
Sesampainya di pantry, Baekhyun mengelurkan bahan pelengkap untuk membuat ramyeon dari kulkas. Kemudian mengambil mie ramyeon nstan dari laci.
"Kau suka diberi tambahan apa biasanya? Telur sudah pasti, tahu mau?"
Chanyeol mengerutkan keningnya.
"Sosis? Daging? Jamur atau... Mungkin kau memiliki pilihan lain?"
"Ramyeon itu apa?" tanya Chanyeol polos.
Baekhyun terhenyak sesaat, lalu kemudian tersadar. Ramyeon adalah makanan untuk rakyat biasa sepertinya, tentu saja Chanyeol yang lahir berbekal sendok emas tak pernah merasakannya.
"Pokoknya enak. Dari semua ini, mana yang tidak kau suka?" Baekhyun menunjuk tahu, sosis, daging dan jamur. Chanyeol menggeleng pelan, dia tak bermasalah dengan semua jenis makanan yang ditunjuk Baekhyun.
"Baiklah." Baekhyun berbalik, siap memasak ramyeon. Pertama yang dia lakukan adalah... Ehm... Panci! Ya dia harus mencari panci untuk mendidihkan air.
"Dimana Jonghyun oppa menyimpan pancinya? Ish!" Baekhyun membuka setiap daun pintu di pantry itu. Mencari dimana panci untuk membuat ramyeon di simpan.
Dia tak biasa masuk pantry untuk membuat makanan. Yang biasa melakukannya adalah Jonghyun, jadi pastinya yang menyimpan panci itu juga Jonghyun.
"Haish! Jonghyun oppa! Kenapa panci saja di simpan di atas." desahnya kesal Baekhyun sambil mencoba menarik panci dari lemari di atasnya.
Set
Baekhyun membeku di tempatnya. Punggungnya bersentuhan langsung dengan dada bidang Chanyeol, karena apa? Karena Chanyeol membantunya mengambil panci itu dari atas.
"G-gomawo." Lirih Baekhyun menerima panci dari Chanyeol.
"Ehm... Bisa sedikit bergeser?" Baekhyun berbalik dan meminta Chanyeol untuk bergeser darinya.
Namun sepertinya Chanyeol enggan menggeser tubuhnya. Berada di jarak sedekat ini dengan Baekhyun adalah hal yang paling membuatnya senang meski jantungnya terpompa tak seperti biasanya.
Sedangkan Baekhyun, berada sedekat ini dengan Chanyeol, nyatanya mampu menghadirkan getar halus di hatinya. Yang aneh menurutnya karena dia tak pernah mengalami hal ini sebelumnya.
Baekhyun memberanikan diri mendongak, menatap Chanyeol yang juga tengah menatapnya. Dan sepersekian detik kemudian, tiba-tiba wajah Chanyeol mendekatinya, bibir pria itu hampir menyentuh bibirnya, namun dia menghindar dengan cara memalingkan wajahnya dan badannya bergerak mundur.
Chanyeol diam, mengerti bahwa tindakannya salah dan mungkin sangat tergesa kalau dia sampai menginvasi bibir Baekhyun. Namun hasratnya untuk menikmati bibir merah jambu milik gadis itu, tak bisa begitu saja ditahannya.
Chanyeol meraih tangan Baekhyun, lalu dengan sedikit kesulitan, bibirnya sukses mendarat di atas bibir tipis gadis itu. Dia dapat merasakan, genggaman tangan Baekhyun padanya tangannya mengerat.
Ini yang pertama bagi gadis itu sepertinya.
Hanya beberapa detik dan tanpa gerakan yang berarti, Chanyeol melepaskan ciumannya.
"Ehm... Aku tunggu ramyeonnya."
.
.
.
"Kim Jongdae!"
Jongdae membungkuk sopan pada pria paruh baya yang duduk di hadapannya dan tengah menatapnya dengan tatapan sinis.
"Nde sajangnim."
"Sudah berapa lama kau ikut bekerja pada Chanyeol?"
"Sepuluh tahun."
Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berdiri dari duduknya dan sekali sentak kakinya melayang pada tulang kering Jongdae.
Jongdae meringis menahan sakit setelah menerima tendangan itu. Namun dia tetap berdiri tegak di tempatnya.
"Apa karena kau sudah bekerja lama padanya, lalu kau bebas menentukan mana yang boleh dan tak boleh masuk ke rumah Chanyeol?!"
Pria paruh baya itu kembali melayangkan ujung sepatunya ke tulang kering Jongdae. Membuat Jongdae kembali meringis. Nyeri!
"Kau pikir, kau siapa berani menolak kedatangan calon menantuku yang paling berharga!"
"Jeosonghamnida Sajangnim. Saya melaksanakan tugas sesuai dengan apa yang diperintahkan kepada saya!" Jawab tegas Jongdae.
"Berani sekali kau mengatakan hal itu. Kau pikir, siapa yang menggajimu selama kau ikut dengannya?"
Pria itu menatap Jongdae dengan tatapan tajamnya. Pun demikian hal itu tak membuatnya gentar. Jongdae tetap pada posisinya, menatap lurus ke depan dengan kedua tangan terkait di belakang tubuhnya.
"Anda memang yang menggaji saya, tapi saya bekerja di bawah perintahnya. Bukankah anda sendiri yang memberi kebebasan pada Tuan Muda untuk memilih siapa-siapa saja yang bisa di perintahnya? Sekali lagi, Jeosonghamnida Sajangnim." Jongdae melepas ikatan tangannya, lalu membungkuk di hadapan ayah Chanyeol.
Ya!
Setelah mengantar Chanyeol ke tempat Baekhyun tadi, Jongdae langsung menuju ke mansion Park. Dimana kedua orangtua Chanyeol tinggal.
Dia mendapat panggilan khusus yang sudah di duga sebelumnya. Bukan pertama Jongdae mengalaminya dan jawaban yang diberikan pun masih sama. Dia bekerja dibawah perintah langsung Chanyeol jadi tak ada perintah lain yang akan di terimanya. Termasuk dari orang yang berdiri di depannya dan menatapnya dengan tatapan marah itu, meski dia tahu, gajinya di dapat dari orang itu.
"Kau!" ayah Chanyeol tak bisa mengatakan apapun. Apa yang dikatakan Jongdae benar, keberadaan pemuda itu di sisi Chanyeol adalah atas pilihan anaknya itu. Perintah Chanyeol adalah mutlak bagi Jongdae dan orang yang dipilihnya. Dia tak bisa berbuat apa-apa kalau sudah seperti ini.
Hah!
"Keluarlah!"
"Saya permisi. Sekali lagi, Jeosonghamnida Sajangnim."
Sekali lagi Jongdae menunduk, lalu melangkah keluar dari ruangan yang paling di benci Chanyeol.
Langkahnya diayun tertatih, hingga keluar dari halaman rumah besar itu. Jongdae menyusuri sepanjang jalan di depan mansion Park. Dia meminta Taecyeon langsung kembali ke tempat Baekhyun, begitu dia sampai di mansion ini tadi, jadi sekarang dia hanya sendiri, berjalan untuk sampai ke jalan raya.
"Oppa! Jongdae oppa!"
Jongdae menghentikan langkahnya dan berbalik. Irene terlihat berlari mendekatinya.
"Oppa gwenchana?" tanya Irene memastikan.
Jongdae tersenyum dan mengangguk samar.
"Oppa mau pulang? Biar aku yang antar." Tawar Irene yang sekali lagi di balas Jongdae dengan senyum sopan.
"Ghamsahamnida agasshi. Saya baik-baik saja dan saya akan pulang sendiri."
"Tapi kaki oppa sepertinya terluka dan tidak setiap saat ada taksi lewat di sekitar tempat ini oppa."
"Saya bisa ke jalan sampai jalan raya."
"Aku temani?"
"Tidak perlu Nona. Saya tidak ingin menyebabkan anda dalam masalah."
Irene menggeleng pelan.
"Aku tidak mendengar apapun dan aku tak menerima penolakan dalam bentuk apapun. Kajja oppa!"
Irene melewati Jongdae dan melangkah lebih dulu, langkahnya terlihat riang. Sedangkan Jongdae, terpaksa berbalik dan mengikuti langkah Irene dengan tertatih.
"Oppa!"
"Nona! Bisakah anda tidak memanggil saya seperti itu."
"Wae?" Irene menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Jongdae.
"Karena saya bukan siapa-siapa anda."
Irene kembali membalik badannya, lalu melanjutkan langkahnya tanpa peduli dengan apa yang dikatakan Jongdae.
Irene sangat mengagumi sosok itu. Pria yang menjadi asisten kakaknya sejak sepuluh tahun yang lalu itu. Jongdae bukan orang yang banyak bicara, sama halnya seperti para asisten pribadi di rumahnya, semua memiliki ekspresi datar. Tak terkecuali Jongdae. Namun, dibalik semua itu, Jongdae adalah asisten terbaik diantara yang lainnya, loyalitas pria itu sangat tinggi. Irene bahkan sangat iri pada Chanyeol, karena si kakak bisa memiliki Jongdae disisinya.
Pertama mereka bertemu, sekitar lima tahun yang lalu, saat dia lulus dari universitas tempatnya kuliah. Jongdae adalah satu-satunya orang yang menghadiri acara wisudanya atas perintah dari Chanyeol. Dan sejak itu, dia cukup mengagumi sosok itu.
Jongdae adalah orang lain yang dapat dia percaya tak akan menyakitinya, sama seperti Chanyeol, kakak laki-lakinya.
Irene berhenti, punggungnya terlihat bergetar.
"Terimakasih banyak sudah hadir diantara kebahagiaan yang ku rasakan saat itu oppa. Meski aku tahu kehadiranmu bukan karena aku, tapi aku bahagia ada orang yang ku kenal datang kesana. Selamanya, aku akan tetap memanggil oppa seperti ini. Bagi orang lain, mungkin oppa bukan siapa-siapa. Tapi bagiku, oppa adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa di sayangi dan dihargai karena kehadiran oppa saat itu. Gomawo oppa. Gomawo."
Jongdae menatap datar punggung bergetar Irene. Matanya kemudian terpejam sejenak. Nafasnya di tarik sangat pelan. Entahlah, dia tak nyaman melihat Irene menangis dihadapannya. Lima tahun lalu, dia memeluk gadis itu saat gadis itu menangis dan meracau tak jelas karena tak ada keluarganya yang hadir di hari pentingnya. Tapi malam ini...
Jongdae melangkah lebar dengan menahan rasa sakit di kakinya, mendekati Irene dan memeluk erat gadis itu dari belakang.
"Uljima. Bukankah saya pernah mengatakan pada anda, tanpa airmata, anda jauh lebih terlihat cantik, Nona."
Irene meraba pelan lengan Jongdae. Lengan yang selalu membuatnya nyaman saat pria itu melingkarinya seperti ini.
"Aku tahu." Irene berbalik menatap Jongdae. Kemudian meraih tangan pria itu dan menggenggamnya erat.
"Gomawo sudah menjadi pria yang sangat baik oppa."
Jongdae tersenyum tipis. Lalu pamit saat dilihatnya sebuah taksi mendekatinya.
Irene melepas kepergian Jongdae dengan perasaan tak rela. Dia masih ingin lebih lama melihat Jongdae. Tapi dia tahu, Jongdae mungkin tak cukup nyaman berada di sampingnya.
Setelah tak melihat taksi yang di tumpangi Jongdae, Irene melangkah mendekati sedan hitam yang sejak tadi mengikuti langkahnya dan Jongdae. Kemudian dia masuk ke dalam sedan itu.
"Ahjussi!"
"Nde agasshi."
"Malam ini, ahjussi mengantarku jalan-jalan dan langsung pulang. Tak terjadi apapun setelah itu."
Pria paruh baya yang duduk di balik kemudi, menatap sesaat Irene dari kaca spion di atasnya. Dia sangat tahu maksud Nona mudanya itu. Pria yang usianya hampir setengah abad itu kemudian mengangguk dan berujar pelan.
"Nde agasshi. Tidak ada apapun yang terjadi."
Irene memejamkan matanya, airmatanya kembali mengalir.
"Ku jatuhkan pilihanku padamu. Yang bagi banyak orang mungkin salah. Tapi aku benar oppa, pilihanku jatuh di tempat yang benar, Jongdae oppa."
.
.
.
"Jongdae-ah! Yeogi palli!"
Chanyeol rupanya sudah menunggu Jongdae di ruang tengah. Melihat kedatangan Jongdae yang tertatih, dia langsung memerintahkan Jongdae mendekat padanya.
Dengan isyarat Chanyeol meminta Jongdae duduk di sofa panjang.
"Singsingkan celanamu!"perintahnya lagi.
Jongdae menurut, ujung celananya digulung, hingga tampaklah kini luka lebam di betisnya.
Chanyeol membuang nafas jengah.
Kemudian memberi isyarat pada Song Qian untuk mengompres kaki Jongdae.
"Soo Jung-ah!"
"Nde Tuan muda." Sahut Soo Jung yang sejak tadi disana bersama Song Qian dan Taecyeon, menemani Chanyeol menunggu kepulangan Jongdae.
Chanyeol tiba di rumahnya setengah jam yang lalu, begitu mendapat informasi Jongdae belum pulang, dia memerintahkan pada Song Qian untuk menyiapkan air dingin.
Dia sangat tahu apa yang terjadi dengan Jongdae, saat orang kepercayaannya itu harus menghadap ayahnya.
"Mau sedikit bermain-main?" tawar Chanyeol dengan senyum misteriusnya.
Tak kalah dengan Chanyeol, Soo Jung ikut mengembangkan senyum misteriusnya. Dia cukup hapal ketika Chanyeol mengajaknya bermain, saat itu kemampuannya sebagai seorang hacker sedang ingin di manfaatkan oleh Chanyeol. Dan sudah lama sejak dia membuat sedikit goncangan pada usaha kakak ipar Chanyeol, sekitar tiga bulan yang lalu.
"Siapa sasaran kita kali ini?"
"Kang building!" Chanyeol berujar penuh penekanan. Tatapannya tajam, dingin dan sinis ke arah depan, seolah musuhnya sedang berdiri di hadapannya saat ini.
Siapa pun yang tinggal di rumah ini tahu, bila Chanyeol sudah mengajak Soo Jung bermain-main, maka keesokan harinya, bursa efek Korea akan kacau dan target yang coba Chanyeol lumpuhkan akan kalang kabut kebingungan.
"Berapa skala richter kita akan menggoncang mereka, Tuan Muda?"
"Sedikit dan pastikan akan perlu waktu lama untuk memulihkannya."
Soo Jung membungkuk dan berlalu dari hadapan Chanyeol, jari-jari tangannya sudah gatal, ingin segera menari diatas keyboard.
"Tuan Muda!" desah Jongdae.
"Mereka belum tahu siapa Park Chanyeol yang sesungguhnya. Dia berusaha memainkan perannya dengan sangat baik, maka jangan salahkan aku kalau aku juga memainkan peranku."
'Dia' yang dimaksud Chanyeol, tiga orang yang tersisa disana sangat tahu siapa. Peringatan dengan mulut saja, rupanya tak mempan untuk Kang Seulgi yang sedang berusaha memanipulasi keadaan. Maka inilah yang dilakukan Chanyeol.
Jangan salah, keempat orang yang dipekerjakan Chanyeol di rumahnya memiliki kemampuan masing-masing diatas orang lain. Seperti Soo Jung, selain membantu Song Qian mengurus rumah, gadis yang selalu terlihat riang itu adalah seorang hacker handal yang hasil kerjanya tak pernah diragukan oleh Chanyeol.
"Hhhh... Taecyeon hyung! Kirim pesan pada Nona Kang, aku ingin sarapan dengannya besok. Di Fox restoran."
.
.
.
"Channie oppa!"
Chanyeol yang berdiri menatap keluar jendela dengan kedua tangan tersimpan di saku membalik badannya. Menatap datar sosok yang berlari kecil menghampirinya.
Satu kecupan diatas pipinya, diterima Chanyeol saat tunangannya itu berada di jarak yang paling dekat dengannya.
"Mian aku telat."
Chanyeol mengangguk mengerti, lalu di melangkah menuju meja yang sudah di siapkan pemilik restoran tersebut.
Sesuai sopan santun yang diajarkan padanya, Chanyeol menarik kursi lalu mempersilahkan Seulgi duduk disana.
Senyum Seulgi tak pernah lepas dari bibirnya. Dia selalu bahagia bila bersua dengan Chanyeol, meski sepertinya Chanyeol tak merasa bahagia bersua dengannya.
Tak banyak pembicaraan terjadi sepanjang acara sarapan itu. Chanyeol menikmati sarapannya dengan takzim, sedangkan Seulgi, kebahagiaan yang dirasakannya pagi ini, membuat rasa laparnya menguap begitu saja. Dia lebih senang menatap wajah Chanyeol daripada menyuapkan sarapannya ke dalam mulut.
"Breaking News... Saham Kang Bulding pagi ini mengalami penurunan harga. Hal ini di sebabkan karena adanya situs tak dikenal menyusup masuk melalui server mereka semalam dan menyebarkan virus hingga server perusahaan besar itu down. Sampai berita ini di turunkan, tim IT dari Kang building masih bekerja keras memulihkan server mereka."
Wajah Seulgi berubah drastis, terlihat pias. Dengan kaku dia menatap layar televisi yang sedang menayangkan bangunan tinggi berlantai dua puluh milik keluarganya.
Sedangkan Chanyeol masih tenang menikmati sarapannya. Inilah yang ditunggunya.
Seulgi terlihat bingung, dia mencari ponselnya, berusaha menghubungi ibunya.
"Eomma! Apa yang terjadi? Benarkah berita itu?"
"..."
"Lalu bagaimana?"
"..."
"Appa baik-baik saja 'kan eomma?"
"..."
"Nde. Nanti aku akan kesana."
Chanyeol menatap Seulgi dan tersenyum sinis.
"Ini baru permulaan. Kalau kau berulah lagi, aku bisa lebih keras mengguncang kerajaan bisnis appamu."
Seulgi menatap Chanyeol kaget, suara Chanyeol memang pelan dan dalam, tapi dia dapat dengan jelas menangkap suara itu. Setiap kata bisa di cernanya dengan sangat baik.
"Oppa!"
"Aku membuat peraturan bukan untuk main-main. Sudah sering aku memperingatkanmu untuk tak berada di sekitar atau bahkan mencoba masuk kesana. Tapi kau tak mendengarku. Kau memilih bermain-main denganku dan mengatakan tak hanya kepada satu orang bahwa kau diusir dari sana. Ini hanya peringatan, kalau sampai terulang lagi, aku pastikan kerajaan bisnis keluargamu rata dengan tanah."
Chanyeol berdiri dari duduknya, bersiap pergi meninggalkan Seulgi. Namun sebelum itu, dia membungkukkan badannya dan berbisik pelan di depan daun telinga tunangannya.
"Kalau kau masih mau bersamaku, jangan berulah lagi. Karena sedikit saja kau membuat ulah, imbasnya bisa dirasakan lebih dari dua ribu orang yang bekerja dibawah bisnis appamu."
Chanyeol melangkah dengan tenang, meninggalkan Seulgi yang terlihat mulai meneteskan airmatanya.
Hati Chanyeol keras untuk bisa mentolerir orang-orang yang sudah mengusik ketenangannya.
"Bagaimana?" tanya Chanyeol begitu duduk di kursi belakang kemudi.
Jongdae menyerahkan sebuah tab pada Chanyeol. Dari sana, Chanyeol dapat memantau kerja Soo Jung dalam mengobrak-abrik server lawannya.
"Kau sudah membeli sahamnya?"
"Lima belas persen sudah menjadi milik anda, Tuan muda."
Chanyeol tersenyum sinis.
"Hah! Awal yang manis Jondae-ah."
.
.
.
"Eonni! Bagaimana perasaanmu saat jatuh cinta pada Nickhun oppa?"
Tiffany yang duduk di depan Baekhyun, menatap atasannya itu. Pertanyaan yang aneh menurutnya, yang keluar dari mulut Baekhyun selain pekerjaan. Dua setengah tahun ikut Baekhyun, baru kali ini dia mendapat pertanyaan demikian.
"Wae? Kau merasakan dadamu berdebar-debar saat dia menatapmu? Nugu?"
"Apa maksud eonni dengan siapa?"
"Yang membuatmu berdebar-debar."
"Tidak ada. Aku 'kan hanya bertanya bagaimana perasaan Fanny eonni saat jatuh cinta pada Khun oppa."
Tiffany mengangangguk-angguk mengerti.
"Rasanya... Hmm... Saat aku melihatnya atau saat dia melihatku, meski hanya sekilas, debarannya sangat terasa menyenangkan. Hingga sepanjang hari, aku selalu tersenyum. Wae? Kenapa kau menanyakan hal itu?"
"Ani. Hanya tanya saja."
"Kau yakin?"
"Eoh."
Tiffany terlihat tak puas dengan jawaban Baekhyun. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu darinya.
"Oh ya! Jonghyun kembali ke kantor semalam?"
Baekhyun meninggalkan sketsanya, menatap Tiffany sambil mengendikkan bahunya.
"Sepertinya kembali. Aku melihat panci ramyeon ada di tempat cuci piring pagi tadi. Juga sepertinya ada bekas irisan bahan-bahan lain di meja pantry."
Glek
Baekhyun menelan ludahnya susah payah. Tentu saja semua ini karena ulahnya.
Salahkan Chanyeol yang sudah memberinya satu ciuman kecil, yang membuat kakinya lemas dan membuat pikirannya tiba-tiba kosong. Hingga setelah pria itu menyelesaikan makannya, Baekhyun meninggalkan begitu saja panci kotor itu dan memilih meninggalkan kantornya dengan mobilnya meski Chanyeol menawarkan tumpangan untuknya.
Big No!
Berada dekat dengan Chanyeol, itu salah dan kesalahan itu tak boleh terulang lagi.
"Aku yang membuatnya. Lapar."
"Oooo..."
"Eonni kau sudah mengatakan pada Jonghyun, pengambilan foto prewedding untuk pasangan caebol itu akhir minggu depan."
"Sudah. Kau sudah menemui pemilik Jung bridal?"
"Ehm. Besok lusa aku menemuinya."
"Lusa? Bukankah fitting untuk kedua mempelai juga lusa? Wah! Ini kebetulan yang menyenangkan, kau tahu. Kau bisa sekalian menanyakan pada mereka tentang konsep prewednya."
Baekhyun terlihat berpikir.
"Benar juga. Sambil menyelam minum air. Kita harus memanfaatkan sekecil apapun kesempatan itu."
.
.
.
TBC
.
.
.
Note : Terimakasih untuk cinta dab perhatian kalian terhadap cerita ini. Terimakasih untuk jejak Cinta yang kalian tinggalkan untuk cerita ini.
Big love for you guys 3
.
.
.
^_^ Lord Joongie ^_^
