Disclaimer: Gak bakalan Vocaloid jadi milik na Rina, orang Rina ja buta nada.

Mungkin… keadaan Rina gak sesibuk yang dibayangkan… nyatanya masih sempet ja nulis kelanjutan fanfic… yah, egp deh~ yang penting update! Jadi, kayak na pada ngira kalo Len bakalan digigit ma Rin ya? ^^; sampe bingung mo gimana respon na.

Oke, deh, ketimbang ceramah 5 abad gak selesai2, mending segera check the update okay~ jangan lupa untuk RnR

p.s.: Seperti biasa, nie dalam Normal POV, tapi memiliki 2 side narasi (mungkin kalian dah mulai nyadar), ok?


(Rin Side)

"Rin, janji ya!" ujar seorang anak laki-laki yang melambaikan tangannya pada seorang gadis yang kini sedang duduk di atas permukaan tanah sambil memainkan apapun itu di tangannya.

Gadis bernama Rin itu hanya mengangguk dan membalas lambaian dari anak laki-laki itu sambil berkata dalam hati bahwa dia meminta maaf. Dia sudah tidak mungkin menepati janjinya itu.

Rin menurunkan lambaian tangannya kepada sesosok anak laki-laki yang kini berlari meninggalkannya dengan dalih pulang ke rumah. Rin tahu, bahwa ini merupakan saat terakhirnya bisa melihat senyum mereka di wajah teman yang paling dia jaga itu.

"Semuanya… sudah dimulai…" gumam Rin sambil melihat ke arah langit yang berubah warna perlahan-lahan menjadi keunguan, dan mulai dihiasi bintang-bintang yang berkerlap-kerlip.

Rin menahan air matanya yang terasa sulit sekali untuk dibendung. Dia adalah temannya satu-satunya yang paling dia jaga. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa membawa akhir pada ikatan tragedi ini. Dia… hanya dia yang bisa mengabulkan keinginan dari Rin…

"Len… mulai saat ini… akan terbentang jalan yang panjang bagimu … jalan ini bukanlah jalan yang mulus… dan kau akan merasakan banyak sekali kesedihan yang mendalam… tapi meski begitu… bisakah kau memaafkanku yang egois ini karena telah membuatmu melewati jalan ini?" ujar Rin sambil meletakkan kedua telapak tangannya untuk menutupi wajahnya. Dia sudah tidak mampu lagi menahan air matanya yang berisi kesedihan, dan akhirnya menangis.

Seseorang di suatu tempat telah mati lagi di tangannya…

Itu adalah arti dari tangisan yang selalu dia keluarkan setiap kali perasaan sedih menyusup ke dalam hatinya. Dia sudah tidak bisa memalingkan kepala lagi. Jika dia memang ingin mewujudkan keinginan itu, dimana itu akan membawa akhir dari semua rasa sakit yang dia rasakan, maka sesulit dan serusak apapun jalan yang ada di hadapannya, dia tidak boleh mundur. Dia tidak bisa mundur.

Meski dia merasa bersalah kepada Len… dia tidak mungkin mundur hanya karena itu. Len akan terluka… bahkan dia mungkin akan segera berada di ambang kematian… Rin tahu itu dengan sangat baik… tapi, meski begitu dia harus melakukan hal kejam itu.

"Christina Rilianne von Achillea Millefolia… nama dari seluruh ratu vampir…" gumam Rin dengan pelan. Dia menghapus air mata yang masih mengalir melalui matanya. Dia harus kuat. Dia harus bisa menahan semua ini… sebentar lagi, hanya sebentar lagi saja…

"Ratu kejam yang tidak memandang nilai dari orang-orang sekitarnya… seorang Ratu egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri…" gumam Rin kemudian. Dia menghapus sisa aliran air mata yang mungkin masih tersisa, lalu melihat ke arah jalan yang Len gunakan untuk pulang.

"Jika itu akan membawaku menuju ke keinginanku yang paling utama. Menjadi Ratu yang seperti itu hanyalah sesuatu yang harus kulakukan. Akan kuhancurkan sebanyak apapun manusia yang kubutuhkan hingga aku mencapai tujuanku itu," ujar Rin dengan nada suara yang terdengar bersungguh-sungguh.

Dia memejamkan matanya dan teringat akan pembicaraannya dengan orang yang sebelumnya adalah orang yang paling penting baginya… dia adalah… seseorang yang seharusnya mampu mengabulkan keinginannya. Karena kepercayaannya, Rin bersedia menuruti perjanjian antara dia dan orang itu, sehingga orang itu akan membunuhnya.

"Berjanjilah padaku Christina… kau adalah pemimpin mereka. Mereka hanya mematuhimu, karena itu… jangan biarkan mereka membuat orang lain tersiksa… setelah itu bisa terjadi… mungkin aku akan memiliki sedikit keberanian untuk melakukan apa yag kau inginkan…"

Rin masih ingat dengan jelas akan suara yang memintanya untuk berjanji, janji untuk melindungi manusia dari kaumnya. Semua itu dengan harga kematian Rin, tetapi…


(Flashback)

Hujan turun setitik demi setitik, saling mendahului, saling beradu cepat, untuk segera mencapai ke tanah. Suara titik air hujan pada hari yang gelap itu memang terasa sangat dingin bagi siapapun yang masih berada di luar, dan sialnya harus merasakan dinginnya air hujan.

Di sebuah taman bunga mawar dengan warna mawar yang berwarna warni, seorang wanita dengan rambut berwarna Honey Blond yang panjangnya hingga sepaha,, memainkan sekuntum bunga mawar berwarna Kuning seperti permata Topaz.

Di samping wanita itu, terdapat seorang lelaki yang sedari tadi terus memperhatikan gerakan dari wanita itu dengan seksama, sambil mengaguminya. Dia sangatlah mengagumi wanita yang kini sedang berada di hadapannya, meski dia tahu bahwa mereka tidak berasal dari ras yang sama.

Wanita itu berhenti memainkan mawar di tangannya dan dia menutup matanya dengan ekspresi serius. Dia kemudian berkata, "Hingga kapan… kau akan membiarkanku hidup…" ujar wanita itu dengan nada suara yang sedih.

Lelaki itu melihat wanita itu dengan tatapan yang sedih, seakan tidak mengerti apa yang sebenarnya ada di pikiran wanita di sampingnya itu. Wanita di hadapannya itu adalah seorang Vampir. Makhluk penghisap darah yang sangat ditakuti oleh manusia. Tapi, siapa yang mengira bahwa sumber semua kekacauan ini, tampak lebih manusia dibandingkan seorang manusia

"Kenapa kau selalu memintaku untuk membunuhmu, Christina?" tanya lelaki itu dengan sedih kepada wanita tersebut.

Wanita, yang bernama Christina, tersebut hanya melihat ke arah lain sambil berkata, "Karena aku tidak mau merepotkanmu lagi… aku tak mau merepotkan manusia lagi… karena aku menyukai dunia ini…" ujar Christina dengan menerawang jauh. Dia menutup matanya lalu melanjutkan perkataannya, "… Aku sudah berkelana terlalu lama… aku ingin pulang…" sambungnya.

Lelaki itu membuang mukanya, tak lama kemudian Christina berkata lagi, "Jika kau selalu melewatkan waktumu untuk bersamaku, istrimu akan sedih…" ujar Christina dengan perlahan.

Perkataan itu bagaikan palu bagi lelaki itu. Benar, dia memang sudah menikah dengan seorang wanita lain. Tapi, pernikahan itu bukanlah atas dasar cinta, setidaknya dia tidak mencintai istrinya itu, pernikahannya adalah pernikahan demi bersatunya kerajaannya dengan kerajaan istrinya, dengan dia sebagai pihak yang memberikan bantuan. Tapi, sebenarnya dia… dia sudah jatuh cinta pada yang lain.

"Christina… aku mencintaimu… kau tahu itu bukan?" ujar lelaki itu dengan lirih sambil membuang mukanya. Ironis sekali, bahwa orang yang paling dia cintai, hanya bisa dibunuh dengan menggunakan tangannya sendiri.

Christina diam beberapa saat, kemudian dia berkata, "Aku tahu itu… dan justru karena itu… aku ingin kaulah yang mengakhiri hidupku… mati di tangan orang yang mencintaiku… meski sedikit ironis, bukankah itu terasa membahagiakan?" ujar Christina sambil meregangkan tangannya ke depan sebelum berdiri dengan tegak.

Lelaki itu melihat punggung dari Christina/Rin (kalo gak nyadar) dan merasa bahwa dirinya adalah orang yang payah. Tapi, tetap saja dia tidak mau melakukan itu… Christina/Rin adalah orang yang sangat ia cintai.

"Hei, Christina… bisakah kau berjanji?"


"… pembohong…" gumam Rin dengan melihat telapak tangannya. Tak ada lagi perasaan yang tersisa baginya untuk lelaki yang telah membohonginya itu. Karena, tepat pada saat Rin menyerukan aturan yang merupakan isi janjinya, laki-laki itu membunuh dirinya sendiri… dan menghapus harapan Rin untuk segera kembali ke tempat dimana dia seharusnya berada.

"Sepanjang aku bisa mati… aku tidak peduli lagi di tangan yang bagaimana aku akan menghilang dari dunia ini…" ujar Rin.

Rin kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya menuju ke rumah-nya. Masih ada banyak yang harus dia persiapkan untuk mewujudkan keinginannya. Sudah tidak ada waktu baginya untuk berusaha menjaga janji yang selalu dia jaga selama ratusan tahun itu.


(Time Skip, Len Side)

Len dan Ayahnya tampak sibuk memindahkan barang-barang dagangan mereka dari rumah sementara mereka, ke dalam kereta kuda yang mereka miliki. Ibu dan adik Len sendiri, sedang membereskan hal-hal lain yang harus mereka lakukan, tapi Len dan Ayahnya terlalu sibuk untuk melakukannya sendiri.

Len masih memikirkan tentang sahabatnya yang selalu dia kunjungi selama dia berada di tempat ini. Len sedikit berharap bahwa waktunya disini akan diperpanjang, dia juga sudah menjadi lebih tua 2 tahun dibandingkan saat mereka pertama kali bertemu.

Tapi, keluarga Len tidak ingin tinggal di satu tempat berlama-lama, jadi Len harus mengikuti apa kata Ayahnya itu. Tapi tetap saja, entah karena alasan apa, dia ingin menjadi lebih dekat dengan Rin. Yang Len ketahui hanyalah Rin yang selalu baik kepadanya, dia ingin tahu siapa Rin sebenarnya. Tapi, jika waktu mereka singkat seperti ini… bagaimana dia bisa tahu?

'Aku ingin bertemu Rin lagi…' pikir Len seraya memindahkan barang-barang dagangan keluarganya ke dalam kereta.

Karena Len memindahkan barang sambil melamun, dia tidak sadar bahwa adik perempuannya sudah memanggilinya dari sampingnya. Adiknya itu tampak sebal karena kakaknya tidak mau bermain dengannya selama mereka tinggal di tempat itu. Jadi dia ingin berbicara dengan kakaknya itu tentang alasan kenapa dia tidak bermain dengannya selama disitu.

"Len-niichan!" teriak adik Len dengan keras seraya mendekati kakaknya itu.

Tapi, Len yang merupakan Len, masih saja melamunkan tentang Rin sampai-sampai dia tidak mendengar panggilan dari adiknya itu.

Karena sebal, Adik Len segera mengambil ancang-ancang ke belakang dan menerjang ke arah Len. Len sendiri sih masih tidak sadar, hingga saat adiknya itu menendang kaki kirinya dengan sangat keras. Yah, cukup keras untuk membuatnya jatuh terseok ke tanah.

"Ouch, Lenka! Kenapa kau menendang kakakmu dengan sekuat tenaga seperti itu?" tanya Len sambil menyentuh sikutnya yang sedikit lecet akibat tadi.

Lenka yang berdiri dengan berkacak pinggang dan pipi menggembung hanya berkata, "Soalnya Len-nii tidak pernah bermain denganku lagi sekarang," ujar Lenka yang ngambek.

Len merasa sedikit terkejut. Dia mulai mengingat-ingat masa-masa dia tinggal di tempat ini, apakah benar dia tidak pernah bermain dengan Lenka.

"Len~"

Wajah Len spontan memerah mendengar suara Rin yang terputar kembali di kepalanya. Dengan segera Len memutuskan bahwa dia memang terlalu sibuk selama tinggal disana.

"Maaf ya Lenka, soalnya aku berteman dengan seseorang seumuran kita yang sangat baik kepadaku, dan kami menjadi teman akrab… sehingga aku sedikit… lupa. Tapi aku janji, di kota selanjutnya aku pasti akan bermain denganmu," ujar Len yang seperti mengakui dosa kepada adiknya itu. Di akhir perkataannya Len memberikan jari kelingkingnya pada Lenka untuk membuat janji yang dia ucapkan itu.

Mata Lenka tampak berbinar mendengarkan janji kakaknya itu, lalu dia bertanya, "Benar, janji?" tanya Lenka yang menyodorkan jari kelingkingnya dengan sedikit ragu-ragu.

Len hanya mengangguk lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Lenka. Len kemudian berkata, "Akan kulayani semua permainan yang kau inginkan," ujar Len dengan senyuman.

Lenka juga tersenyum bersama Len lalu dia dan Len menyanyikan lagu janji jari kelingking sebelum melepaskan jari kelingking mereka dan tertawa bersama-sama. Orangtua Len dan Lenka yang melihatnya hanya bisa tersenyum melihat keakraban kedua anak mereka. Lalu, mereka bersiap-siap untuk pergi meninggalkan tempat itu karena hari sudah mulai beranjak sore.

Tapi, tanpa mereka sadari, di atas mereka terdapat burung merpati dengan warna putih bersih dengan mata berwarna merah darah yang mengamati setiap gerak gerik mereka. Merpati itu terbang kembali dari tempat itu menuju ke sebuah Mansion yang tersembunyi dari semua orang.

Burung Merpati itu terbang hingga mencapai sebuah jendela di bagian Mansion yang menghadap ke arah peradaban. Di balik jendela itu terdapat seorang anak perempuan yang memakai pakaian bangsawan yang tampak menunggu kedatangan merpati itu, sehingga pada saat merpati itu mulai mematuki jendela, anak perempuan itu segera membukakan jendela. Anak itu bergumam, "Mereka… sudah akan pergi ya…" gumamnya.

Merpati itu segera terbang ke pundak anak itu dan mendekatkan kepalanya ke arah telinga anak perempuan itu, sehingga tampak seperti membisikkan sesuatu.

Wajah anak perempuan itu berubah menjadi diliputi kesedihan yang mendalam dia kemudian membawa burung merpati itu ke dekat jendela dan mencengkramnya dengan lembut. Dia kemudian berkata, "Terimakasih… atas kerjasamanya Dove… jika saja aku bisa… aku akan meminta maaf pada mereka semua… apa kau-ah, tidak lupakan saja. Terbanglah yang jauh sekarang, kau kini telah bebas. Terbanglah selama kau masih bisa terbang…" ujar anak perempuan itu sambil melepaskan burung yang ada di tangannya.

Burung Merpati itu tampak tidak rela pergi meninggalkan majikannya, tapi, karena itu adalah keinginan dari majikannya maka burung itu pergi meninggalkannya. Saat dia pergi, anak perempuan itu berkata, "Maafkan… keegoisanku ya Len… tapi aku tidak akan membiarkan janji kecil itu terpenuhi," ujarnya dengan bersungguh-sungguh.


Malam hari telah tiba di Mansion tempat tinggal Rin. Atas undangan yang diberikan oleh Rinto, semua vampir mendatangi kediaman Rin dengan menggunakan pakaian-pakaian indah ala kerajaan. Tapi, tetap saja terdengar gosip yang mencela Rin disana sini karena banyak yang tidak suka dengan aturan itu. Meski banyak juga yang memamerkan diri bahwa mereka bisa mendapatkan hati Rin.

Jauh dari kerumunan Vampir, Rin mempersiapkan dirinya di ruangannya sembari menunggu kedatangan dari penjemputnya, Rinto. Di mata Rin, tidak ada lagi secercah keraguan untuk melakukan langkah ini, dia sudah tidak boleh melarikan diri lagi.

Setelah beberapa saat lamanya menunggu, Rin bisa merasakan keberadaan Rinto yang sudah ada di pintu kamarnya dengan berpakaian ala butler dan tampak menunggunya. Rinto yang mengerti bahwa keberadaannya sudah diketahui hanya mengatakan apa yang hendak dia katakan.

"Princess, sudah saatnya anda menemui mereka…" ujar Rinto dengan tenang.

Rin berbalik untuk menghadap Rinto dan hanya berkata, "Bawa aku kesana," ujar Rin tegas dengan menatap tajam Rinto.

Rinto yang merasakan perubahan pada diri Rin hanya memberikan hormat kepada princess hatinya itu, lalu membungkuk dalam-dalam. Rin yang berjalan mendekatinya memberikan tangan kanannya pada Rinto dan Rinto menerimanya dengan berkata, "Maafkan saya jika saya mengotori tangan bersih princess," ujar Rinto.

Saat itu juga, mereka sudah berada dekat dengan ruangan yang akan dipakai para Vampir untuk berpesta. Rin berdiri dengan tegap, menunggu hilangnya perasaan tidak enak karena harus berpindah tempat dengan kemampuan teleportasi, seraya Rinto memasuki aula pesta.

Meski tidak terlalu jauh, suara Rinto terdengar sangat jauh di telinga Rin. Setidaknya dia mampu mendengarkan Rinto yang berkata, "Yang Mulia Christina Rilianne von Achillea Millefolia, kini memasuki ruangan…"

Rin yang mendengarnya segera melakukan teleportasi lagi dengan mengubah tubuhnya menjadi segerombolan kelelawar dan memasuki ruangan. Saat dirinya berubah kembali ke sosok anak-anaknya, dia duduk di singgasana yang hanya miliknya sambil memperhatikan ratusan Vampir yang datang untuk memenuhi undangannya, yang kini sedang memberikan hormat kepadanya.

"Kami menyambut kedatangan Ratu Rilianne, dengan seluruh darah yang mengalir pada tubuh kami," ujar mereka serempak sambil memberikan hormat kepada Rin.

Rin tersenyum simpul lalu berkata, "Apakah di antara kalian tahu, kenapa aku mengumpulkan kalian disini pada malam hari ini?" ujar Rin dengan melihat ke arah Vampir-vampir itu dengan tatapan sinis.

Semua Vampir melihat satu sama lain, karena mereka tidak mendapatkan kejelasan kenapa mereka dipanggil untuk datang terlebih lagi dengan ancaman mati. Mereka tampak gelisah karena takut jika Rin akan memberikan mereka aturan lagi.

Rin tersenyum simpul lalu dia berdiri untuk melihat semua vampir bawahannya yang tampak cemas, lalu dengan tenang dia berkata, "Jika kalian menganggap aku akan memberi kalian tambahan aturan mati, maka kalian salah… justru aku mengundang kalian semua kemari untuk tujuan yang sangat berbeda dibandingkan isi kepala kalian itu," ujar Rin dengan wibawanya.

Semua Vampir berhenti saling pandang dan melihat ke arah Rin dengan tatapan tidak percaya. Memang, bagi Rin yang merupakan Ratu mereka, melihat apa yang mereka pikirkan adalah mudah, karena darahnya mengalir di nadi mereka yang sudah berhenti itu.

Rin menggigit ujung jarinya hingga setetes darahnya jatuh ke lantai dan dengan cepat membuat sebuah lingkaran sihir di sekitar Rin. Para Vampir yang melihat darah Rin, meski hanya setetes, jatuh ke lantai melihat darah itu dengan ekspresi kelaparan.

Rin melihat vampir itu dengan sedikit jijik, saat tubuhnya perlahan-lahan berubah menjadi dewasa. Tubuhnya yang kekanak-kanakan kini menjadi lebih tinggi, tangannya yang tidak terlalu cocok untuknya berubah menjadi lebih indah. Kakinya yang pendek menjadi memanjang dan menjadi jauh lebih berbentuk dan mulus. Mata Rin yang awalnya berwarna biru sapphire berubah menjadi warna ungu amethyst dikarenakan efek bulan purnama kepadanya. Kini fisik Rin tidak lagi mencerminkan fisik seorang anak-anak, dan menjadi fisik seorang wanita tercantik di antara semua Vampir yang datang disana. Kecantikannya yang merupakan sebagian dari darah Vampir miliknya tidak bisa ditandingi oleh siapapun di tempat itu. Oleh karena itulah semua Vampir yang ada disana tampak melongo melihat perubahan Rin itu, memang saat itu kekuatan Rin berada pada puncaknya.

Rin yang sudah mengubah wujudnya menjadi seorang wanita menarik jari telunjuknya untuk menunjuk pojokan dari aula di satu sisi hingga ke sisi lainnnya. Saat jari Rin bergerak, di bawah kaki para Vampir itu muncul sebuah lingkaran sihir yang sangat banyak. Rin kemudian segera berkata, "Atas nama penguasa Malam, aku, Christina Rilianne von Achillea Millefolia memutuskan, mulai saat ini, aku melepaskan semua aturan yang membelenggu semua Pemilik darahku, dengan syarat…" ujar Rin yang sengaja memotong perkataannya di tengah-tengah.

Para Vampir tampak ketakutan lagi karena Rin yang tiba-tiba berhenti berbicara. Tapi, Rin kemudian segera berkata, "…Mulai hari ini, semua Darahku akan melupakan siapa namaku, melupakan bagaimana wajahku, tidak dapat lagi mengatakan namaku meski hanya sedikit, dan tidak dapat memangsa manusia yang berada di rumahnya tanpa memiliki izin dari pemiliknya untuk memasuki rumah tersebut," sambung Rin.

Wajah para Vampir tampak kaget, tapi mereka sudah haus akan darah manusia, untuk memikirkan syarat tersebut. Rinto yang tampak tidak mau melupakan tentang Rin tidak bisa berkata apa-apa dikarenakan sihir Rin yang membelenggunya.

Rin kemudian berkata lagi, "Setelah aturan ini kuberikan pada kalian… bagi kalian yang masih ingin melamarku, carilah banyak Hitobashira untuk memenuhi taman mawarku. Bagi kalian yang menemukanku dan memberikanku mawar darah kalian yang terindah, aku akan menerima tawaran kalian," ujar Rin lagi.

Rin kemudian menaikkan jari telunjuknya ke atas, sebelum menariknya ke bawah untuk membuat garis lurus, lalu Rin berkata, "Aturan ditetapkan. Semoga… kalian selamat nantinya," ujar Rin sebelum menghilang dari hadapan mereka semua.

Setelah Rin pergi menghilang dari tempat itu, semua Vampir yang ada disana tanpa terkecuali, tidak lagi mengingat tentang Ratu mereka, kecuali bahwa hidup mereka tergantung padanya. Tapi, dengan kebebasan yang baru saja mereka dapatkan, para Vampir segera meninggalkan mansion untuk mendapatkan makanan utama yang sangat mereka sukai tapi sudah lama tidak mereka nikmati, yaitu, darah manusia.


Tapi, diantara Vampir yang segera menghilang untuk menikmati kebebasan mereka. Seorang Pelayan sekaligus kaki tangan Rin yang paling dipercayainya tetap tinggal di ruangan itu. Benar, Rinto tidak merasakan haus akan darah manusia, dia tidak membutuhkan darah seperti vampir-vampir lainnya, karena merekalah yang akan mencari untuknya, hal tersebut juga berlaku bagi Rin.

Meski dengan ingatan yang sangat kabur, Rinto merasakan singgasana di dekatnya yang awalnya diduduki oleh orang yang sangat penting baginya. Dia tidak pernah merasakan kebencian karena harus menemani dia selama yang bisa dia ingat. Rinto hanya ingin selalu berada di dekatnya, karena saat mereka bertemu kembali, yang Rinto rasakan hanyalah perasaan rindu yang meluap-luap.

"Princess… kenapa kau meninggalkanku? Apakah Princess mengerti bahwa aku… sangat mencintai Princess…" gumam Rinto sambil merasakan singgasana itu.

Rinto mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia masih belum boleh mencari Yang Mulia yang sangat dia cintai. Ini adalah perintahnya… dia harus bersabar… malam tidaklah panjang jika dibandingkan dengan hidupnya yang tidak bisa berakhir.

"Saya pasti… akan menemukan anda…"


Rin yang melarikan diri dari mansion tempat tinggalnya, berusaha untuk mencari keberadaan Len. Rin berharap bahwa mereka masih belum begitu jauh. Menurut informasi yang dia dapatkan, mereka sudah berangkat semenjak matahari masih berada di langit. Seharusnya mereka masih belum begitu jauh…

Rin melayang di langit sambil memperhatikan tiap sudut wilayah itu dengan mata Vampirnya. Dia pasti bisa menemukannya, dia tidak mungkin tidak bisa menemukannya.

Setelah beberapa saat mencari-cari, Rin menemukan kereta yang dinaiki Len dan keluarganya. Dengan kekuatannya yang dalam puncaknya malam itu, Rin segera mengejar kereta tersebut. Dalam sekejap, Rin sudah berada di jalan yang akan dilewati kereta tersebut. Saat Rin mampu mendengarkan suara derap langkah kaki kuda yang mendekat, Rin segera melihat ke arah kereta itu.

Dengan menahan perasaannya untuk mengontrol tubuhnya, Rin berbisik, "Gomennasai…"


Len dan Lenka yang berada di dalam kereta tampak sedang bermain-main dengan ibu mereka mengawasi kelakuan mereka. Dia melihat keluar dan merasakan perasaan yang tidak enak. Dia bisa merasakan sesuatu… seseorang… sedang merasakan rasa sakit yang luar biasa.

Perasaan itu sungguh kuat hingga tanpa sadar dia menangis dalam diam. Dia menangis untuk menggantikan seseorang itu, karena dia tahu dia tidak boleh menangis. Pikiran yang menyimpan kenangan yang menyakitkan mengalir sedikit demi sedikit.

"Kami… memaafkanmu… jika itu merupakan keinginan yang benar-benar ingin kau jadikan kenyataan… lakukan apa yang harus kau lakukan…" ujar Ibu Len dengan lirih. Dia melihat ke arah suaminya yang sedang mengendalikan laju kuda dengan mengirimkan pesan yang dia berikan untuk seseorang itu.

Suaminya melihat ke belakang sekilas dengan mata terbelalak, dia kemudian hanya mengangguk lemah. Dia mengetahui lebih banyak dari yang diketahui orang lain. Dia tahu bahwa leluhurnya telah menyiksa seseorang dengan melanggar janji mereka, dan orang tersebut masih hidup hingga sekarang. Dia harus membantu orang itu mewujudkan janji mereka… sebagai ganti dari leluhurnya.

"Ini yang terbaik… aku harap, semoga kalian bisa memaafkan keputusannya… dia sudah terluka terlalu lama…" gumam Ayah Len dengan melihat ke depan.

Dia bisa melihat, seseorang itu sedang mengawasi mereka dengan tatapan yang menyimpan kesedihan. Ini adalah hal yang harus dilakukan… ini adalah takdir yang harus mereka lalui… hingga hari dimana dia bisa tidur dengan tenang…


Len melihat sosok wanita yang berdiri dengan tatapan dingin di hadapannya, dengan wajah ketakutan. Di hadapannya, kedua orang tuanya sudah tergeletak tak bernyawa, dan di tangannya, adiknya, Lenka, sudah memejamkan matanya dan sudah tidak bernafas kembali.

Perasaan Len bercampur-campur saat ini. Dia ingin melawan wanita itu, tapi entah kenapa kakinya tidak mampu digerakkan. Tapi, dia membenci wanita itu, karena dia merenggut nyawa orang yang disayanginya. Dia ingin membalasnya… tapi dia tidak bisa membalas…

Wanita itu melirik ke arah Len dengan menampakkan taring panjang yang berada di mulutnya yang kini berlumuran darah. Dia kemudian berkata, "Aah, jadi masih ada yang hidup rupanya…" ujar wanita itu sambil menjilat bekas darah yang ada di ujung jarinya.

Len bergerak mundur saat wanita itu melangkah maju, hal itu terus terulang, hingga punggung Len menabrak sisa dari kereta mereka yang telah dihancurkan dan kini terbakar, meski bagian yang Len tabrak tidak memiliki bekas bakaran tersebut. Bahkan kuda yang tadinya ada disana sudah tergeletak tanpa nyawa juga dengan kondisi yang tidak patut dikatakan.

"Ja-jangan mendekat…" ujar Len sambil memeluk adiknya erat-erat.

"Kau takut? Atau kau benci?" tanya wanita itu dengan nada yang sangat dingin di telinga Len.

Len meraba-raba apapun yang ada disekitarnya, berusaha untuk mencari senjata. Dia tidak tahu apa yang ada di hadapannya saat ini, dia mungkin tahu, tapi tidak mau memikirkannya.

Setelah beberapa lama mencari, dengan wanita itu menjadi selangkah makin dekat dengannya, Len mengingat pisau pemberian Rin yang dia dapatkan tempo hari. Len memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya, dan menemukan bahwa benda-benda pemberian Rin masih ada disana.

Tanpa pikir panjang, Len menarik Pisau yang dia dapatkan dan menodongkannya pada wanita itu, "Jangan mendekat!" ujar Len dengan menahan pisaunya mati-matian meski tangannya terus menerus bergetar.

Wanita itu berhenti sebentar, lalu dengan senyum liciknya dia menepis pisau yang ada di tangan Len sehingga menancap di pohon yang tumbuh di sekeliling mereka. Dia kemudian berkata, "Senjata yang bagus… tidak akan berguna jika dimainkan oleh anak-anak…" ujarnya.

Mata Len terbelalak lebar, saat wanita itu sudah tepat berada di hadapannya. Tangan wanita itu yang bergerak ke atas, diterangi oleh cahaya api yang masih berkobar di belakangnya, dan juga cahaya bulan yang berwarna kemerahan bagaikan memberikan isyarat akan kejadian yang sekarang terjadi di hadapannya.

Aku akan mati…seperti keluargaku… pikir Len saat dia melihat kuku panjang yang tumbuh di jarinya itu. Len melemparkan pandangannya pada orangtuanya yang mati dengan memeluk orang yang mereka cintai satu sama lain. Setidaknya… aku bisa bertemu mereka semua nanti…

Wanita itu tersenyum licik melihat Len yang tampak ketakutan. Dia sudah melakukan apa yang harus dia lakukan saat itu. hanya butuh… sedikit dorongan.

Len melihat wanita itu menurunkan tangannya, dan dengan wajah yang tampak kejam di mata Len, wanita itu berkata, "Kubiarkan kau lolos… sebentar lagi akan ada yang pergi kemari… lagipula sepertinya lebih menarik jika kau mengejarku untuk membunuhku demi orang-orang ini," ujarnya.

Saat Len mampu memproses perkataan wanita itu, wanita itu sudah pergi melayang dengan menggunakan sepasang sayap kelelawar yang tampak indah namun kejam bagaikan iblis.

Perlahan-lahan, pandangan Len menjadi kabur… di akhir kesadarannya, yang dia ingat hanyalah mata Amethyst yang memandangnya seperti es, dan juga rambut berwarna Emas yang memancarkan perasaan keji. Tapi, Len kini mengetahui bahwa dia… harus mengejarnya… dan membalaskan orang tuanya… pada Vampir itu…


Rin bersembunyi di balik semak belukar yang berada jauh dari tempat kejadian itu. Dia melihat tangannya yang kini berlumuran darah berwarna merah segar. Rin terduduk sambil menangis sejadi-jadinya.

"Maafkan aku… maaf…" ujarnya sambil menangis meratapi tindakannya yang membuat orang tersiksa. Rin sangat menyukai manusia… semua hal yang dilakukan oleh manusia merupakan sesuatu yang indah di matanya…

"Maafkan aku…" isak Rin sambil menutupi wajahnya. Dia tidak ingin dilihat siapapun saat ini. Karena sekarang dia hanyalah… sendiri…

Setelah cukup lama menangis, Rin masih belum bisa tenang. Dia merasa sangat bersalah, meski dia tahu bahwa ini harus dilakukannya, dialah yang harus melakukannya.

Tapi, Rin dikagetkan dengan erangan lemah yang berasal dari sisinya. Rin spontan menoleh dan melihat seseorang yang dibawanya kini tampak akan bangun dalam waktu dekat. Dengan cepat, Rin menghapuskan air matanya dan menghilangkan darah yang melekat padanya dengan menggunakan sihir. Malam masih sangat panjang dan itu juga termasuk dengan kekuatannya.

Seseorang itu membuka matanya perlahan, lalu dia melihat ke kiri dan ke kanan, mencoba menganalisis keadaan, dia kemudian melihat Rin yang ada di sampingnya, masih dengan wujud dewasanya. Dia nyaris berteriak karena takut, tapi dia teringat akan sesuatu yang baru saja dia lihat di dalam mimpinya… sehingga dia tidak bisa melakukannya…

Rin tidak mengerti kenapa orang itu tidak berteriak, dan hanya melihatnya. Selama beberapa saat terjadi keheningan di antara mereka. Keheningan itu dipecahkan oleh suara orang itu yang berkata, "Kau… vampir bukan?" ujarnya dengan pelan.

Rin melihat ke arah lain, lalu dia berkata, "Kenapa kau bertanya? Bukankah itu sudah jelas?" ujar Rin dengan berusaha untuk tetap tenang.

Orang itu hanya diam, lalu dia melihat ke arah lain. Terjadi keheningan lagi diantara mereka, hingga Rin berkata, "Apa kau… tidak membenciku? Dan membenci dirimu sendiri? Kenyataan bahwa kau sekarang ada padaku dan masih bangun bukankah…" Rin tidak mampu menyelesaikan perkataannya sendiri. Dia sudah melakukan kesalahan lagi… dengan membuat seorang 'Rinto' lagi.

Orang itu hanya menggeleng pelan, dia kemudian berkata, "Itu karena… kau menangis untuk kami… dan semua orang…" ujarnya.

Rin melihat ke arahnya dengan wajah terkejut. Wajahnya seakan berkata "Bagaimana kau tahu? Padahal aku sudah menyembunyikannya sebelum kau bangun,"

Orang itu kemudian tersenyum dan berkata, "Aku… Lenka, Kagamine Lenka!" ujar orang itu dengan bersemangat.

Rin terbelalak namun dengan segera membalas senyum dari orang di sebelahnya. Rin kemudian berkata, "Rin… Christina Rilianne von Achillea Millefolia"


Oke, sekarang chapter ini sudah selesai. Aaah, akhirnya selesai juga! Mulai chapter depan, mungkin kalian akan udah gak akan melihat Rilianne. *Ahem* Jadi, Introduction cerita sudah selesai, sehingga mulai chapter depan, Arc pertama dan (semoga) terakhir akan dimulai! Jangan lupa untuk RnR~