Kuroko No Basuke bukan milik saya melainkan milik Tadatoshi Fujimaki. Typo dan sebagainya harap dimaklumi.
.
.
.
"Psst Shintarou, kau bilang malam pertama itu sakit."
Dahi Midorima mengkerut bingung. "Lalu ?" Tanyanya.
"Tapi semalam ngga sakit tuh." Manik ruby Seijuurou mengerling kearah Mayuzumi sekilas. "Bahkan tidak manis seperti vanilla milkshake atau berasa terbang kelangit ketujuh." Lanjutnya.
Manik zambrud Midorima menatap lurus manik ruby Seijuurou. Sebenarnya Seijuurou mau pamer karena sudah menikah duluan atau bagaimana ? Jujur saja yah, Midorima iri karena belum berhasil menggait teman sekelas belah tengah yang sering mengganggunya.
"Ya terus hubungannya sama aku itu apa ?" Midorima sewot. Entah kenapa akhir-akhir ini dirinya sangat sensitif dengan kata pengantin baru dan segala antek-anteknya.
"Ya ngga ada sih." Seijuurou berujar kalem. Kedua tangan bertumpu diatas meja untuk menyangga dagunya.
Midorima mendengus kesal, tangan berbalut perban membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot sebelum kembali fokus dengan soal dihadapannya yang terbilang sangat mudah. Hanya berisi materi dasar yang sudah dipelajarinya di SMP dan Sekolah dasar.
"Engg...sinonom single itu solo player- ini soal ngajak ribut nadayo, tau aja kalau aku masih sing- solo player nadayo. Antonim malam ya siang, tanda tanya digunakan untuk apa yah ?" Dahi mengerut samar, pensil digigit pelan untuk mengingat materi yang sudah pernah masuk keotaknya. Menjelajah masuk persel otak didalam kepala hijaunya.
"Ne, Shintarou." Lengan ditoel dengan pensil oleh Seijuurou.
"Hm."
"Menurutmu Chihiro-san itu tampan atau tidak ?" Tanya Seijuurou antusias.
Midorima mendongak, menatap sensei nya yang sedang sibuk membaca buku tebal dimeja guru yang berhadapan persis dengan mejanya dan Seijuurou. Meneliti detail wajah Mayuzumi dengan seksama. Manik abu yang terkesan hampa dibalik kacamata bacanya, hidung mancung, rambut abu dengan poni yang sedikit panjang, rahang tegas, wajah datar terkesan misterius, dan bibir tipis serta leher yang jenjang.
Tampan.
Apalagi kemeja putih yang lengannya digulung sebatas siku serta celana hitam yang membungkus tubuh idealnya.
Sempurna.
Tapi Midorima ogah bilang kalau Mayuzumi itu tampan dan juga sempurna, yang ada makhluk merah disampingnya bakalan besar kepala.
"Biasa saja, nadayo."
Seijuurou mendelik, tidak terima wajah suaminya yang menurutnya sangat-sangat-sangat tampan dikatai biasa saja oleh Midorima.
"Yakin biasa saja. Coba kau amati baik-baik."
Midorima menatap Akashi atau lebih tepatnya Mayuzumi Seijuurou yang sedang menatapnya dengan mata melotot minta dicolok.
"Memang biasa saja, nadayo." Maaf-maaf saja yah, sampai bumi pindah lintasan pun Midorima ogah mengakui kalau Mayuzumi sensei itu tampan dihadapan Seijuurou. "Lagian percuma saja tampan kalau ujung-ujungnya belok, pedofil pula."
Wussshhh
Krakkk
Jleb !
Tidak taukah kalau Mayuzumi sedari tadi mendengar percakapan Midorima dan Seijuurou.
"Jangan sembarangan ya Shintarou !" Seijuurou mendesis tajam. Pensil yang semula hanya menoel-noel lengan Midorima ditusuk-tusukan brutal.
"Sakit nadayo."
"Itu karena mulutmu lancang Shin, jangan fitnah deh." Desis Seijuurou. Mata belangnya semakin melotot.
"Aku tidak fitnah, nadayo."
"Apa buktinya."
"Ck. Sensei belok kan karena menikah dengan mu. Sensei pedofil juga karena menikahimu."
Brakkk
Meja digebrak keras. Alasan macam apa itu, Seijuurou tidak terima, Seolah-olah menjadikan dirinya sebab dari tampannya Mayuzumi sensei jadi percuma.
"Ulangi sekali lagi Shin."
"Sensei bel-"
"Ehm." Mayuzumi berdehem cool. Manik abunya menatap dua kepala beda warna yang sedang berdebat.
"Ada masalah Midorima, Akashi."
"Tidak ada sensei." Seijuurou tersenyum manis sedangkan Midorima menggelengkan kepalanya.
"Kau ulangi lagi perkataan mu tamatlah kau Shin." Desis Seijuurou tajam yang diangguki Midorima sebelum kembali fokus kesoal dihadapannya.
Mayuzumi mengelus dadanya sabar beberapa kali dan mengumpulkan kembali serpihan hatinya yang berceceran akibat perkataan Midorima. Mayuzumi sadar kok Mid, kalo tampan atau ganteng itu percuma kalau jadi belok ples pedofil. Tapi plis yah, jangan ngomong langsung dihadapannya juga kali. Tidak taukah kalau level depresi, frustasi dan galaunya Mayuzumi itu sudah sampai puncak mounth everst ?. Terkontaminasi bisikan setan sedikit saja yang menyuruhnya untuk mencolokan pulpen digenggaman tangannya sudah pasti dilakukan.
Midorima melirik Seijuurou dan Mayuzumi sensei berulang-ulang dengan dahi mengerut samar. Kalau diingat-ingat saat tadi pagi dirinya tidak sengaja melihat Seijuurou dan Mayuzumi sensei jalan bareng itu berasanya cocok dan terlihat wajah Mayuzumi sensei tidak setua umurnya. Entah Mayuzumi sensei yang awet muda atau muka Seijuurou yang mengalami penuaan dini pun Midorima tidak tau. Yang jelas saat mereka jalan bareng terlihat cocok dan wajah Mayuzumi sensei terlihat 2 tahun lebih tua dari Seijuurou.
"Apa lirik-lirik ? Naksir kamu ?"
Midorima mengerjap pelan, sejurus kemudian mukanya memerah kepergok melirik Seijuurou.
"Ti-tidak nadayo."
Seijuurou melengos dan Midorima mengutuk mulutnya yang main ceplas-ceplos. Tapi Midorima kan bicara fakta. Aomine, Kise, Kuroko, Murasakibara, dan Kagami pun pasti sependapat dengannya kalau tampan tapi ujung-ujung belok ditambah pedofil bakalan percuma.
"Akashi." Panggil Midorima lirih dan melirik Seijuurou malu-malu- ngg maksudnya was-was.
"Hm."
"Shintarou."
"Yah." Jawab Midorima sambil menengokkan kepalanya kesamping. "Kenapa, nadayo ?"
"Menurutmu kau itu tampan atau tidak ?"
Kenapa Seijuurou mesti nanya, jawabannya sudah jelaskan kalau Midorima itu tampan. Bukannya geer atau bagaimana ya, tapi memang Midorima itu tampan. Terbukti dari Nenek sebelah rumahnya yang bilang Midorima itu tampan mirip mendiang suaminya.Midorima tidak tau saja kalau mendiang suami si nenek sebelas dua belas dengan Nebuya.
"Tampan, nadayo." Balas Midorima percaya diri yang entah kemana perginya kestundereannya.
Seijuurou menyeringai, manik rubby manatap Midorima usil. "Berarti ketampananmu itu percuma juga dong kalau ujung-ujungnya belok, jomblo pula."
Krakkk
Jlebbb
"Ppffft mampus lu kepala lumut." Gumam Mayuzumi lirih sambil menahan tawannya yang masih setia mendengarkan obrolan MidoAka.
"Kata siapa aku belok nadayo ?" Sangkal Midorima.
"Bukannya kita ini teman seperjuangan yah Shin." Seijuurou menyangga dagunya dan menyibak poninya pelan. "Bedanya aku udah nikah kamu masih jomblo. Makanya jadi orang jangan tsundere dan gede gengsi. Jomblo kan lu, diambil orang baru tau rasa lu."
Mayuzumi meringis mendengar ucapan Seijuurou. "Mulutmu, dek." Batinnya.
Muka Midorima memerah parah, tangannya terkepal erat menahan gejolak emosi. Kesal karena yang dikatakan Seijuurou benar adanya. Midorima itu terlalu tsundere, gede gengsi. Bilangnya jangan deket-deket tapi jantungannya deg-degan ngga karuan. Bilangnya jangan ganggu, innernya bilang ganggu aku aja Bakao. Mau bagaimana lagi, jiwa tsunderenya sudah mengakar.
"Di-diam nadayo." Midorima memalingkan muka. Lama-lama mual juga liat muka Seijuurou yang minta dicipok pake sepatu. "Bukannya tadi kau bilang kalau malam pertamamu tidak sakit, nadayo. Kok bisa ?"
Nice shoot Midorima. Pengalihan pembicaran yang bagus.
Mimik muka Seijuurou berubah. Muka yang semula tersenyum usil dengan alis yang dinaik turunkan mendadak merengut. Dahi mengerut hampir menyatukan alisnya. Bibir dimanyunkan minta dicium.
"Tau gak, Shin." Mulai Seijuurou.
"Engga."
"Ihh bilang tau dong." Paksa Seijuurou.
"Ya kan kau belum cerita."
"Jadi gini kan sehabis pulang dari bla bla bla bla...gitu." Cerita Seijuurou panjang lebar tidak menyadari orang yang dicurhatinya menutup hidungnya dengan muka semerah tomat sampai menjalar ketelinga dan lehernya.
Glupp
Ludah ditelan paksa, tangan berbalut perban mengaduk-aduk isi tas mencari tisu.
"La-lalu kau sama Mayuzumi sensei tidak jadi anu-anu." Tanyanya setelah selesai dengan urusan hidungnya.
"Iya, padahal punyaku sudah keras banget loh, Shin." Curhat Seijuurou dengan mata berkaca-kaca nyaris mewek mengingat malam pertamanya yang gagal karena sang suami pingsan tanpa alasan yang jelas. Berlari ketetangga sebelah hanya dengan kolor untuk menutupi ehm adeknya yang masih berdiri meminta bantuan untuk mengangkat Mayuzumi kekasur. Nyiksa banget sumpah. Bahkan Seijuurou masih ingat bagaimana ngilunya saat terpaksa memakai bokser dalam keadaan on. Suaminya memang kurang ajar.
Bahu Seijuurou ditepuk-tepuk pelan Midorima. "Yang sabar yah." Katanya prihatin.
"Hm. Makasih Shin, kau memang perhatian." Ujar Seijuurou tulus yang diangguki Midorima.
Bagaimana dengan Mayuzumi ?
Mayuzumi sendiri sudah mengangkat bokongnya dan keluar kelas semenjak curhatan Seijuurou menjurus ke anu. Malu bro. Malam pertama yang seharusnya jadi privasi dirinya dan Seijuurou dan juga Nijimura karena membantu Seijuurou semalam dibeberkan dengan detail ke Midorima. Bagaimana kalau mulut Midorima ember dan cerita sana-sini ? Mau ditaruh dimana mukanya bung !!!!. Lagian Seijuurou kok ya polos banget sampe cerita ke Midorima yang sama polosnya ngedengerin cerita Seijuurou dengan khitmat mengindahkan kalau curhatan Seijuurou akan mencemari otaknya.
"Apa aku coba kopi sianida saja yah ? Kayanya enak."
TBC
Ai and August 19 : hooo kelas ngga gila ngga bakalan rame Ai-san. Wkwkw
SelenTetrad : Wah kurang panjang yah... udah mentok sih wkwkw. Makasih ya udah mampir baca Selen-san. Tehee
GreenPsycho : hoo aku juga setuju dengan pemikiran si Niji Cho-san. Ah ini udah lanjut. Terima kasih
HtrBi48 : hooo Takao kan memang suka nistain si Mido. Asal jangan nistain hatinya aja. Eaaaa
Natsukeshi : mamahnya Mayuyu emang jahat tapi Natsu-san senang kan wkwkw.
