This is An Afterlife

.

.

.

Chapter 3

Lucy P.O.V.

KREKK KREKK KRESS

"Hmm..." 5 menit lagi aku bangun

KREKK KREKEDD KRAUKK

"Mhmm.." suara apa itu? Ah mungkin Cuma tikus

KREKK.. JEBRETTT! BOOMM! DUARR!

"HEEE?!"

Oke itu sudah keterlaluan! Pagi yang indah ini harus dimulai dengan kerusuhan arghhh!

Dengan cepat aku bangun dan membereskan barang-barang di kamarku lalukeluar dari kamar untuk menemukan seseorang sedang duduk di depan lemari makanan bersama bungkus-bungkus snack disampingnya.

"HEII! APA YANG KAU LAKUKAN!" sentakku. Orang itu hanya membalikan kepala tanpa peduli melanjutkan lagi kegiatan makannya

"NATSU! Kenapa kau tidak makan makananmu sendiri?! Itu makanan yang diberikan malaikat agung untukku selama disini!" sahutku sembari menyandarkan diri ke dinding ruang makan.

"Aku tidak punya?" jawabnya simpul

Aku segera berjalan ke arahnya lalu duduk di salah satu kursi, membiarkan lelaki itu

"Maksudmu?"

"Ya begitulah, lagipula kita harus melakukan misi, kau pikir aku dapat melakukannya kalau sedang lapar?" tanyanya dengan nada sarkastik

Oke mungkin itu masuk akal. Dengan cepat kuambil sepotong bolu keju dari lemari es dan memakannya lalu berjalan kembali ke ruang dengah lalu terduduk.

Sejenak terlintas di benakku sesuatu yang terkesan mengganjal, tunggu...

Natsu hanya makan snack kan? Lalu darimana datangnya suara ledakan pagi tadi? Jangan bilang...

"Hey Lucy, tadi aku sudah membakar bungkus snack yang kumakan" jelas pemuda itu sambil berdiri dari tempatnya mengambil sisa bungkusan yang ada

"Hey mau kau bawa kemana itu?" tanyaku binung. Apa mungkin ledakan itu berasal dari pembakaran sampah?

"Ke dapur"

"Terus mau diapain?"

"Dibakar di kompor?"

JDENGG!

Dengan cepat kuangkat kakiku menuju dapur, tidak peduli pada lelaki pinkish itu yang hanya terdiam di tempatnya. Dan ternyata, dapur itu sudah hilang setengah temboknya dengan atap penuh dengan gumpalan asap hitam.

Rumah baruku dirusak oleh pendatang yang tidak diundang...

"NATSU AKAN KUBUNUH KAU!"

"HEEE?!"


"Baiklah, Lucy tolong jelaskan apa yang terjadi pada partnermu itu, mukanya biru-biru apalagi matanya sudah kaya batu"

"HEY!"

"Dia membakar dapurku, jadi kurasa dia layak mendapatkan itu semua" jelasku tanpa memalingkan muka untuk menghadap lelaki di sampingku.

Sekarang kami sedang berada di kantor dewan malaikat untuk mengambil misi pertama kami. Tapi ini mungkin bukanlah awal yang bagus karena hari ini sudah cukup menyebalkan!

"Oh, baiklah. Jadi sekarang saatnya misi pertama, Jellal bacakan misinya!" pinta malaikat Erza sembari malaikat biru yang menyebalkan itu membuka gulungan kertas

"Misi pertama Malaikat Lucy, misi tingkat 1. Kalian ditugaskan untuk memberi perlindungan bagi seluruh anak di SMA Magnolia karena akan terjadi gempa bumi hebat. Akn kujelaskan sistematikanya. Pertama, keberadaan kalian tidak boleh berinteraksi dengan siapapun"

"Tunggu, berarti kami harus bersembunyi sembunyi?" tanyaku dengan bingung. Setelah kupikir-pikir, Cana dan Lisanna kan baru saja masuk untuk bersekolah disana, bagaimana cara menyelesaikan misi ini kalau mereka pasti mengenali aku?

"Secara teknis, ya, intinya kalian tidak boleh menceritakan apapun dan berinteraksi dengan siapapun" jelas Malaikat Jellal sambil melipat gulungan kertas itu dan melemparkannya ke arah Natsu

"Kedua, kalian hanya boleh pergi selama 1 jam Afterlife yang berarti 3 hari di bumi untuk mengatasi semua masalahnya"

"Berarti selama 3 hari di Afterlife ini sama dengan 216 hari di bumi?" tanyaku sembari mengalihkan pandangan melihat Natsu yang sedang membuka gulungan kertas tadi.

"Mhmm.."

"Sebaiknya kalian lihat dulu gulungan tersebut dan tanyakan apa yang belum kalian mengerti" jelas Malaikat berambut scarlet itu sembari terduduk kembali di kursi megahnya

Perlahan-lahan lelaki berambut salmon itu memberikan gulungan tersebut kepadaku, entah mengapa ia tidak banyak bicara sejak Malaikat Jellal membacakan misi.

MISI 1 MALAIKAT LUCY

Reward : Kenaikan Tingkat

"Selamatkan dan berilah perlindungan pada anak-anak SMA MAGNOLIA dari goncangan gempa pada bulan 6 Maret X789"

Catatan: -Dilarang berinteraksi dengan siapapun selama bertugas

-Hanya diberikan waktu 1 jam Afterlife

-Kekuatan yang digunakan dilarang berlebihan

Tertanda:

Malaikat Agung, Erza Scarlet

"Kau siap, Natsu?" tanyaku kepada laki-laki pengguna scarf tersebut. Natsu hanya memandangku dengan ekspresi yang tidak jelas lalu mengangguk, "Baiklah kami siap"

"Bagus, hati-hati sayapmu akan mengundang banyak perhatian, sebaiknya kau tidak menggunakannya dalam misi. Dan satu lagi, untuk memberi perlindungan dan penyelamatan sedikit berbeda dengan hanya menggunakan kekuatan kalian" jelas Erza panjang lebar

"Terus apa yang harus kami lakukan?"

"Berdoalah, maka kekuatan itu akan bergerak dengan sendirinya dalam menyelesikan masalah. Jangan takut pada roh-roh penasaran yang mencoba menganggumu"

Aku hanya mengangguk dan entah mengapa wajah Natsu terlihat begitu pucat, apa dia merasa kurang baik ya?

"Natsu kau tak apa? Mukamu pucat" jelasku sembari meletakkan tanganku pada keningnya. Dia hanya mengangguk dan tersenyum kecil

"Oh ya, satu lagi, Natsu, jangan sampai arwah penasaran mendekatimu, Lucy kau harus menjaganya"

"Memang kenapa?"

"Lebih baik kalian tidak tahu, ayo berangkat dulu ke tempat pengambilan kostum supaya baju kalian tidak terlihat terlalu mencolok!" perintah malaikat agung sambil menyuruh kami keluar dari kantor dewan tersebut

Aku segera menarik tangan Natsu menuju keluar dari kantor tersebut, menuju seuatu tempat pengambilan kostum yang telah diberitahu oleh peta.


Toko kustum tersebut adalah toko termanis yang pernah kutemui, terdapat berbagai seragam sekolah, baju cosplay para tokoh animasi yan kusuka, bahkan baju model- model terkenal!

Dengan segera aku berlarian kesana kemari untuk melihat baju-baju tersebut tanpa melawatkan kesempatanku. Beberapa menit kemudian, sang penjaga toko keluar dari dalam membawa 2 buat seragam sekolah.

Seragam pertama memiliki kemeja blouse putih dengan pita kotak-kotak merah dilengkapi jasnya berwarna biru corak putih di lengannya dan rok berwarna merah kotak.

Seragam kedua memiliki atasan yang sama hanya pita digantikan dasi dalam bentuk badan laki-laki, dilengkapi celana bermotif kotak dan ikat pinggang hitam.

"Wah.. keren!" sahutku bersemangat. Walaupun aku tahu Cana dan Lisanna bersekolah disana, aku tak pernah sekalipun melihat mereka menggunakan seragam! Ternyata keren banget!

"Ya, ini seragam Magnolia High, kalian akan menggunakan ini selama tugas disana, jangan lupa dikembalikan besok ya" pinta sang penjaga toko tersebut sambil tersenyum lebar

"Um!"

Dengan segera kuambil kedua seragam itu lalu menyerahkan yang satunya kepada Natsu dan menuju ke ruang ganti.

Baju itu begitu pas dengan tubuhku, seperti hanya dibuat untukku saja. Ketika aku selesai, Natsu sudah berada di depan pintu sambil terus memperhatikan gulungan kertas yang berada di tangannya itu. Ekspresi sama sekali belum berubah, aku tak mengerti.

Tapi di sisi lainnya, baju itu terlihat sangat pas dengan tubuhnya, lalu scraf bermotif kotak-kotak itupun masih ia lingkarkan di atas kepalanya.

"Baiklah, terima kasih atas kostumnya, kami akan berangkat sekarang!"

"Oke, semoga berhasil"


"Nah kita sudah sampai!" sahutku ketika kami telah berada di depan pintu besi raksasa. Pintu tersebut adalah jalan satu-satunya untuk pergi ke bumi. Dan tentu saja kita tidak boleh seenaknya kabur ke bumi. Karena kalau begitu, tubuh kami akan langsung dihanguskan tanpa jejak.

"Hey Luce, sebaiknya kau latih dulu kemampuan terbangmu atau kau akan jatuh" jelas lelaki itu sambil menatapku dengan muka tak berekspresi

"HEY! JANGAN MENGEJEKKU!" sahutku sambil menjitak kepalanya. "OW! Aku hanya memberi masukan!" balasnya sambil memalingkan muka dan mengusapi kepalanya yang terkena jitakan.

Kurasa dia sudah keembali ke moodnya yang baik, baguslah kalau begitu. Aku menyunggingkan senyum terbesarku kepada lelaki itu lalu membentangkan sayapku

"Ayo, Luce, pegang tanganku!" sahut Natsu sambil mengulurkan tangannya dan memandang ke bumi yang berada di bawah kami

Dengan cepat kuraih tangannya lalu tersenyum kepadanya, "Ayo!"


Hari Pertama

Di depan kami tengah berada sebuah bangunan yang besar, walaupun sepi karena jam belajar sudah berlalu beberapa jam lalu, aku dan Natsu berhasil masuk melewati satpam yang sedang tertidur di depan.

"Hey Natsu, menurutmu mana bagian sekolah yang tepat untuk bersembunyi?"tanyaku sambil mengendap-endap menuju tangga darurat. Tinggal tersisa waktu 2 jam sebelum hari kedua bermulai (sekarang jam 10 malam).

"Kupikir lebih baik kita membuat semacam peringatan, kau tahu, misalnya seluruh siswa diwajibkan menuju ke lapangan sebelum terjadi gempa" jelas lelaki itu sambil mengikutiku dengan gaya yang 'normal'

"Kau pintar Natsu! Lalu bagaimana caranya memberitahu mereka? Maksudku, guru-guru akan selalu mengawasi" jelasku sambil menaiki tangga darurat dan Natsu dibelakangku mengikuti.

"Entahlah, kau yang memiliki ingatan tinggal di bumi, seharusnya kau tahu apa yang bisa membuat anak-anak berlarian dan guru mengejarnya"

TREK.. TREKK..

Kubuka pintu yang menghubungi tangga itu dengan koridor utama dan masuk. Koridor itu terang karena entah mengapa lampu-lampu disana belum dimatikan. Tanpa kusadari, Natsu telah mendahuluiku dan menuju ke salah satu majalah dinding.

Dengan cepat kuhampiri dia, dan memperhatikan majalah dinding tersebut

"Luce, apa bersekolah rasanya rame?" tanyanya dengan ekspresi yang sedikit sendu sambil mengambil salah satu brosur yang ada disana bertuliskan 'Orkesta Concert'

Kuperhatikan wajah itu lekat dan tesenyum samar, "Jika kau menanyakan SMA maka aku juga tidak tahu, aku tidak sempat SMA kau tahu?"

"Oh, begitukah. Aku rasa akan menyenangkan kalau mengadakan acara-acara seperti ini"

"Mhmm, aku setu—NATSU ITU DIA!" sahutku dengan antusias. Sepertinya aku tahu apa yang harusnya kita lakukan.

"Itu dia apa?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya dan menyandarkan diri di dinding

"Kau! Bintang film TV rumah sakit!"

"Hah?" tanyanya dengan bingung

"Kau mirip dengan bintang film di salah satu TV rumah sakit waktu itu! Kita dapat membuat pamflet dengan gambar artis itu dan kau akan berdiri di lapangan sebagai artis tersebut!" sahutku bersemangat!

Untung saja muka laki-laki ini mirip bintang film itu! Ah.. kurasa misi dapat berjalan dengan baik!

"Semirip apakah kita heh? Mukaku ini eksklusif!"

JDENGG!

Aku hanya dapat bersweat drop mendengar perkataan si bodoh itu, tapi aku tak akan mengindahkannya.

Kulontarkan pandanganku ke sekeliling koridor dan menemukan salah satu poster si artis di TV rumah sakit. Dengan cepat aku berlari dan mengambil poster tersebut.

"Lihat Natsu"

Dia berjalan kearahku dengan perlahan, matanya membelalak lebar ketika melihat kemiripan dirinya dengan gambar tersebut.

"Mungkin mukaku tak se eksklusif yang kupikirkan"

Artis TV rumah sakit yang berada di poster itu memiiki banyak sekali kemiripan dengan Natsu, kecuali rambutnya berwarna hitam. Apa mungkiin mereka memiliki hubungan sebelumnya? Tertulis di poster tersebut, Zeref Dragneel.

Aku ingat Zeref adalah artis yang menjadi terkenal untuk menemukan keluarganya yang hilang entah kemana sejak terjadi perang saudara di kotanya dulu. Apa mungkin?

"Hey, Luce jangan melamun! Sekarang sudah hari kedua, kita sebaiknya beristirahat dulu lalu. Besok kita buat rencana dan persiapan, lusa kita balik lagi kesini" jelas Natsu lalu pergi menuju tangga darurat sendiri.

Dengan segera aku melipat poster itu lalu membawanya dan mengejar lelaki itu


Hari Ketiga

"Yosh, kita harus berangkat!" sahut Natsu sambil membawa peralatan yang diperlukan

"Tunggu aku!"

Yap, peralatan semua sudah siap! Aku hanya perlu berhati-hati kepada orang-orag tertentu yang mengenaliku. Dan kurasa Natsu bukan berasal dari daerah sini sebelumnya, maka dia tak masalah dilihat siapapun.

Perjalanan menuju sekolah pun berlangsung begitu cepat. Kini aku telah berada di tangga yang sama dengan cara yang sama. Sedangkan Natsu sedang bersiap mengenakan wig dan peralatannya

"10 Menit tersisa.." Dengan cepat aku berlari melwati tangga- tangga itu dan memasuki koridor sambil menjatuhkan berbagai lembaran poster di lantai. Untung saja Mavis berada di pihakku! Koridor tersebut begitu kosong karena sedang dalam jam pelajaran.

Segera aku berlari menuju ruang siaran yang kebetulan kosong dan menyalakan mikrofonnya. Dari jendela kulihat Natsu sudah siap.

"Para murid SMA Magnolia, harap keluar dan melihat brosur yang baru saja disebarkan! Hari ini adalah hari keberuntungan kalian!"

Kudengar para murid segera berhamburan keluar, mereka begitu bahagia mendapati poster bertuliskan Zeref Dragneel akan mendatangi sekolah mereka.

5 menit lagi

"Nah sekarang sebaiknya kalian melihat keluar, Zeref Dragneel sudah berada di depan sekolah kalian!" sahutku dari speaker tersebut

Dengan cepat kulihat para siswa memasuki kelasnya untuk melihat keluar jendela dan mereka berteriak-teriak bahagia! Aku yakin Lisanna dan Cana pun bahkan ikut berteriak-teriak. Natsu sedang berada di lapangan dengan gaya artis itu lalu melambaikan tangan penuh percaya diri

3 menit

Setelah beberpa saat, para murid segera berhamburan keluar sekolah seperti anak ayam yang baru dikasih makan (?)

2 menit

Guru-guru dengan panik mengejar murid-murid mereka keluar sekolah. Keadaan terlihat begitu kacau!

1 menit

Kulihat kerumuman orang mulai mendekati Natsu, tapi dengan cepat ia menghindar ke tempat yang lebih sepi.

Aku mulai berdoa, dan dapat kurasakan kalau Natsu juga memulai permohonannya, energi panas dan hembusan angin bersatu melindungi sekolah tersebut dan bumi pun bergoncang.

TREKK DUG DUG DUG KREKK PRASHH

"AHHH!"

"TOLONG KAMI!"

"SIAPAPUN TOLONG!"

Kericuhan terdengar dimana-mana dan bangunanpun mulai ada yang roboh. Bangunan bangunan roboh itu dihembus angin kencang lalu dibakar sampai habis oleh elemen api Natsu dan berubah menjadi debu lalu diterbangkan lagi dengan elemen angin menjauhi mereka

1 menit berlalu dan gempa pun berhenti.

Dengan cepat aku terbang keluar jendela dan menarik tangan Natsu untuk segera kembali ke Afterlife. Untunglah tak ada seorangpun yang cedera

"Kerja bagus Natsu!" sahutku sembari terbang melewati langit.

Kulihat Natsu tersenyum lebar dengan grins khasnya lalu mengangguk, "mungkin kita memang cocok bersama Luce!"

Seusai perkataannya, aku merasakan kehangatan di dadaku, dan tAnpa kusadari mukaku memerah. Itu adalah perasaan terbaik yang pernah kurasakan.

Tanpa mengerti apa yang terjadi, aku hanya menatap lelaki yang membuat jantungku berdekup hebat itu dan menariknya untuk terbang lebih cepat.

Tanpa kusadari bahwa sebenarnya Lisanna dan Cana selalu melihatku selama ini. Ketika kulontarkan pandanganku menuju sekolah tadi, kulihat mereka berdua tersenyum samar dan melambaikan tangannya.

"Arigatou-ne, Lucy" kudengar bisikan mereka dari kejauhan

Tanpa kusadari, airmata turun membanjiri pipiku, aku sungguh sedih harus pergi duluan, aku selalu ingin menjadi gadis normal, aku selalu ingin menghabiskan waktuku bersama mereka. Dengan cepat kuusap air mataku agar tak terlihat siapapun.

Kubalikan pandanganku sekali lagi menghadap mereka dan terseyum lebar, kurasa hal ini sudah diperbolehkan karena sekarang aku akan kembali ke afterlife.

Mungkin ini bukanlah yang kuinginkan, tapi kuyakin inilah yang terbaik untukku.

Lagipula Afterlife bukanlah tempat yang membingungkan seperti yang kupikirkan diawal, Dan Natsu, walau dirinya kadang sungguh sangat menyebalkan, aku yakin dia akan selalu berada denganku bagaimanapun keadaannya.

"Ayo Luce, waktu kita kembali tinggal sebentar lagi" jelas lelaki yang sekarang telah berada di hadapanku

"Um, ayo!"

Hal tersebut sudah lebih dari cukup membuatku mensyukuri apa yang aku punya sekarang ini


~To Be Continued~

Bagaimana minna? Tolong sampaikan pendapat kalian ya!

Jika berkenaan, lihatlah fanficku yang lainnya, 'That Fateful Encounter' dan 'Seasons To Remember'

Terima kasih atas semua dukungannya ya!