06

Malam selanjutnya, orang tua Lu Han datang berkunjung. Lelaki bernama Oh Sehun itu juga ada di sana.

Lu Han dan Oh Sehun telah mempersiapkan makan malam jauh sebelum kedatagan orang tua Lu Han. Mereka berdua telah menyibukkan diri seharian. Sangat jelas terlihat jika mereka berdua sedang bahagia, sampai pada poin di mana Lu Han lupa bahwa aku telah memakan ikanku kemarin dan aku tak bisa membuka penutup boks penyimpan cadangan ikan.

Orang tua Lu Han tak tahu jika Oh Sehun berada di sini sampai mereka tiba di rumah Lu Han. Mereka berdua sepertinya sangat senang melihat Sehun mengunjungi Lu Han. Kemudian keempatnya duduk untuk menikmati makan malam, berbincang dengan asyik, sudah seperti keluarga sendiri.

"Sehun, berhenti mengambilkan makanan untuk Xiao Lu. Kau harus makan juga. lu Han itu memang pemalas, seperti dia tak punya tangan saja. Dia sudah seperti itu semenjak ia kecil," kata Nyonya Lu sambil tersenyum dan meletakkan beberapa sayuran di piring Sehun.

"Terimakasih, Bibi." Sehun mengangguk. Tuan Lu kemudian bertanya, "Bahasa Mandarin Sehun terdengar lebih bagus. Apakah kau belajar bahasa Mandarin dalam waktu yang lama?"

"Selama dua tahun, Paman. Aku belajar bahasa Mandarin dengan keras."

"Ah, itu adalah hal yang bagus, memperkaya pengetahuanmu untuk menambah wawasan dalam bekerja. Oh, jika aku tak salah, bukankah Sehun lebih muda empat tahun dari Lu Han? Jadi kau berumur duapuluh dua tahun ini? Apakah kau memiliki kekasih?"

Lu Han mengangkat kepalanya dan menatap Sehun. Oh Sehun menjawab dengan tenang. "Tidak, tapi aku punya seseorang yang kusukai." Setelah menjawabnya, ia menatap Lu Han dan tersenyum lembut.

"Anak muda zaman sekarang sangat aneh. Beberapa dari mereka menjadi orang tua bahkan sebelum mereka berumur duapuluh dan masih ada juga orang sepertimu yang masih dalam taraf menyukai seseorang. Lu Han juga—kau itu sudah duapuluh empat dan belum juga punya kekasih. Ketika kau tidak bekerja, kau hanya akan sibuk sendirian," gerutu Nyonya Lu. "Aku tak ingin mengoceh padamu namun kenapa kau tak mencari seorang kekasih?"

Lu Han terdiam dan kemudian, Oh Sehun berdiri. Melihat kilat bingung penuh tanya dari ketiganya, ia mulai bicara.

"Paman, Bibi, aku tahu ini mungkin terdengar begitu mengejutkan bagi kalian, namun aku harap aku bisa menjelaskan semuanya hari ini."

"Lu Han hyung dan aku saling mencintai. Benar, ini adalah hubungan sesama jenis yang sangat kalian anggap hina. Kami telah saling mencintai sejak enam tahun yang lalu, jadi kami ingin mencoba jujur pada kalian dan juga, kami ingin mendapat restu kalian berdua."

"Walaupun ini terdengar begitu sulit diterima, namun aku tak sedang bercanda. Aku memang masih muda, namun aku telah memutuskan untuk bersama dengan Lu Han seumur hidupku. Maka dari itu, percayalah padaku."


07
Tak ada yang mau repot-repot mencuci piring, yang sekarang mendingin, terabaikan di atas meja. Lu Han dan Oh Sehun kini duduk di tengah lampu temaram. Lu Han sedang memegang bola kapas di tangannya, mengaplikasikan obat pada memar di ujung mata Oh Sehun dengan lembut. Bibir tipisnya mengatup sempurna, sementara pandangan Oh Sehun tak pernah lari dari wajah Lu Han—seolah ia sedang menelisik setiap emosi yang bermain di wajah tersebut. Lu Han tak berani menatapnya tepat di kedua matanya.

Canggung. Lagi.

Satu setengah jam yang lalu, Oh Sehun berlutut di depan Tuan Lu dan Nyonya Lu sambil berkata, "Lu Han hyung dan aku saling mencintai. Tolong restui hubungan kami." Tak ragu lagi, satu dari mereka kaget, hampir pingsan, sementara yang lainnya terlihat begitu murka. Tuan Lu dulunya ialah seorang tentara dengan pola pikir tradisionil. Takkan ada emosi yang lain kecuali amarah atas pengakuan macam itu. dia pergi kearah Sehun kemudian meninjunya tepat di muka dengan sangat keras. Oh Sehun terkesiap dan, tanpa melindungi dirinya sendiri, berkata, "Jika kami tak bisa mendapatkan restu setelah Anda memukulku, kalau begitu tolong, tolong pukul aku sepuas Anda."

Tuan Lu yang geram pergi untuk memukul Sehun lagi dan lagi. Lu Han kemudian pergi dan berhenti di antara ayahnya dan Sehun, memegang Sehun erat. "Ayah! Ayah kumohon, tolong, tolong jangan pukul dia lagi! Tolong, tenanglah!"

"Kaupikir aku takkan memukulmu juga, huh? Dasar kau anak tak tahu diuntung! Pergi dari hadapanku!"

"Ayah, kumohon!"

"Hyung, biarkan saja. Pukul aku, aku tak apa!"

"Jangan pernah bermimpi aku akan merestui hubungan kalian. Seorang lelaki dengan lelaki, tidakkah kalian merasa malu?! Lu Han, kau telah mencoreng nama keluarga ini!"

Oh Sehun menggenggam dengan erat tangan Lu Han yang memegang bola kapas.

"Lu Han."

"Jangan katakan apapun."

"Tidak, kau..."

"Aku bilang jangan katakan apapun! Oh Sehun, kumohon, jangan katakan apapun!" teriak Lu Han. Mereka saling pandang, dengan mata Lu Han yang kini telah memerah dan suaranya yang bergetar. "Jangan katakan apapun. Kumohon."

Oh Sehun meraih dan menarik Lu Han kedalam rengkuhannya, memegangnya erat-erat seolah ia menggunakan semua kekuatan yang ia miliki untuk merengkuhnya. Dia menggertakkan giginya namun air mata tetap menetes, mengalir dari kedua matanya. Lu Han tetap berada di pelukannya, menangis tanpa suara.

"Oh Sehun... aku mencintaimu. Aku sungguh mencintaimu... Namun aku pikir aku tak bisa mencintaimu lagi."

"Aku sungguh tak bisa mencintaimu lagi..."

"Kau harus pergi. Tolong, pergilah... Aku tak bisa mencintaimu lagi."

"Jangan pernah terluka karena aku lagi. Tolong, pergilah." Lu Han mendorong Sehun menjauh dan meninggikan suaranya. "Tolong pergilah! Keluar!"

Lu Han berjongkok dan memeluk lututnya. "Jangan mencariku lagi... Kumohon... Tolong pergilah..."

Oh Sehun berdiri, kemudian mengangkat tangannya seolah ia hendak meraih dan memeluk Lu Han lagi, namun ia menahan dirinya.


08

Semua bayangan-bayangan barusan menyelam dalam pikiranku, seolah potongan-potongannya adalah bagian dari tayangan film.

Sudah dua tahun lamanya sejak kejadian itu, dan selama itu pula aku tinggal bersama seseorang yang nyawanya nampak hilang dari raganya. Lu Han berumur duapuluh delapan sekarang dan hidupnya nampak sama saja, hanya saja ia kini semakin sibuk. Syuting film, endorse, variety show. Hanya saja kini hari liburnya semakin sedikit. Selain kopi, alkohol telah menjadi kebutuhan dalam hidupnya. Hanya dari apa yang bisa kulihat, dia selalu mabuk di rumah. Siapa yang tahu berapa banyak ia kerap minum di luar, di mana aku tak tahu.

Hidup dalam mimpi yang terlalu fana, ialah sebuah idiom yang tepat untuk menggambarkan kehidupan yang kini ia jalani.

Lelaki tegar ini menggunakan alasan pekerjaan dan alkohol untuk menutupi semua kekosongan dalam kisah hidup dan percintaannya. Dan aku, tak tahu lagi apa yang harus kulakukan.

Dua tahun yang lalu, tepat di malam ini, Oh Sehun dipukul oleh Tuan Lu. Lu Han menggeret Sehun kedalam dekapannya dan menangis pahit sampai kerongkongannya menjadi serak dan matanya menjadi bengkak. Ia lalu memohon Oh Sehun untuk pergi. Malam itu juga, lelaki tinggi itu, dengan memar di matanya, sepercik darah di ujung bibirnya dan dengan tatapannya yang masih lembut, menghapus air mata yang jatuh dari ujung mata Lu Han walau air matanya sendiri jatuh tanpa bisa ia kontrol. Ia mencium Lu Han untuk yang terakhir kali dan pergi dari rumah tersebut.

Sosok siluet yang nampak begitu elegan dan lembut tersebut pergi.

Saat ini, Lu Han yang sedang mabuk terbaring di atas sofa. Beberapa botol bir tergeletak di atas meja. Aku berguling di samping Lu Han dan menjilat wajahnya. Kali ini dia mabuk lagi, namun ia juga punya pekerjaan yang harus ia lakukan malam ini, jadi aku harus membangunkannya.

Namun selagi aku menjilat wajahnya, aku merasakan sesuatu yang asin mengenai lidahku.

"Xun... Xun..." Lu Han merengek dalam tidurnya. Jika dirunut kebelakang lagi, ke masa lalu, aku mungkin berpikir bahwa ia sedang memanggilku, namun aku sekarang telah terbiasa pada hal ini. Tuhan tahu berapa banyak hal ini terjadi. Saat ia bergumam dalam tidurnya dan semua yang ia katakan hanya akan berhubungan dengan nama Oh Sehun. Air matanya akan mengalir pelan ketika ia memanggil namanya.

Sesekali, dia akan memandang kosong pada ruang kerjanya. Dia tak lagi melarangku untuk masuk ke sana. Dia akan memegang fotonya yang sedang mencium Sehun, sesekali ia akan tersenyum, sesekali ia akan mendesah lelah dan sesekali ia akan menangis seperti orang gila. Tidak, tunggu—dia memang sudah gila.

Dia biasanya bertingkah normal, hanya saat dia bekerja dan dia tetap menjadi orang yang ramah dan baik hati. Dia selalu pulang ke kampung halamannya untuk mengunjungi kedua orang tuanya dan seperti yang ibunya inginkan, 'bertemu' dengan anak gadis dari keluarga XXX.* Jadi entah bagaimana, rumah ini menjadi tempat berlindung baginya. Dia tak harus memakai masker dan berpura-pura karena tak ada seorangpun di sini selain seekor kucing yang takkan mengerti apapun. Dia bisa hidup dalam ketidakberdayaannya, dia bisa menangis, tertawa, menyalahkan dirinya sendiri, sakit hati atau hanya berbicara pada sebuah foto.

Kupikir kau mengerti tentang situasi ini. Lu Han mencintai oh Sehun dan aku bergantung hanya pada majikanku yang kesepian ini.

Sesekali aku berpikir bahwa aku lebih baik dari pada Oh Sehun. Walaupun aku hanya seekor kucing, walaupun baik aku maupun Oh Sehun takkan bisa bersama dengan Lu Han—setidaknya aku bisa berada di sisinya.

Aku juga punya kegunaan, tentu saja.


*SachiMalff's note : dalam translasi dan tulisan aslinya, memang hanya ditulis keluarga XXX, maksudnya mungkin Lu Han bertemu dan berkenalan dengan anak gadis dari sebuah keluarga.


Sachimalff's message : hallo, ada satu kesalahan penerjemahan di chapter awal, dan sekarang udah Sachi edit. Typo-typo akan diedit nanti. Iya, Sachi baca review kalian semua, kok. Dan Sachi juga tahu kucing embul itu, hehe. Dan Sachi juga mikirnya Hunhun itu si Zhu. Hehe.