Disclaimer : BLEACH by Tite Kubo

Aoi Sora

By

Poppukoo

Wanita itu terus berdiam diri. Duduk manis dibangku taman ditemani secangkir teh hangat seraya memandangi langit jingga sore ini. Ia terus menatapnya dengan tatapan kosong sambil menggenggam erat ponsel yang terus berada digenggamannya.

Kaien hanya menatapnya sedih dari ambang pintu. Berharap sang ibunda bisa kembali seperti dulu, yang ceria yang selalu menyambut keluarganya dari depan rumah dengan senyum bahagia. Dan tidak seperti sekarang.

Masaki sering melamun bahkan tak jarang ia tertidur dimanapun ketika ia merasa mengantuk. Kini ia menjadi pemurung dan tak pernah absen pergi ke kamar Ichigo. Dan juga ia selalu membersihkan kamar itu, agar Ichigo senang kalau dia pulang nanti ia bisa langsung tidur nyenyak dikamarnya yang bersih dan wangi.

Kaien perlahan menghampiri dan dguduk disamping Masaki, walau wanita itu masih tak menyadari keberadaan Kaien. Pria ini menggenggam halus tangan Masaki, sang Ibu sedikit terkejut lalu tersenyum.

"Apa Ibu tak sebaiknya ke dalam? Disini dingin"saran Kaien seraya menyunggingkan senyum. Masaki menggeleng tidak mau.

"Apa Ibu masih menunggu panggilan dari Ichigo?" tanya Kaien. Masaki mengangguk. Kaien semakin mengeratkan genggamannya. "Besok aku akan ke Jepang lagi. Ada pekerjaan sekaligus akan kucari lagi alamat paman Urahara".

"Be-benarkah?" Tanya Masaki menoleh ke arah Kaien. Kaien mengangguk. Masaki langsung tersenyum lebar dan memandang Kaien penuh harapan.

"Ibu senangkan?". Masaki memeluk erat Kaien.


Ichigo masih menatap tajam pamannya yang masih santai makan sedaritadi. Terkadang Urahara jadi salah tingkah. Seringkali Urahara menanyakan darimana luka-luka keponakannya itu didapatkan, Ichigo tidak menjawab dan masih menatapnya. Tak jarang bulu kuduknya berdiri.

"Ke-kenapa?" tanya Urahara masih memasukkan bergulung-gulung mie ramen dalam mulutnya. Ichigo menghela nafas.

"Kau masih tanya kenapa?" tanya Ichigo berusaha bersikap santai. Ia tahu pamannya akan berpura-pura bodoh kalau ia tak menceritakan masalahnya pada bocah jeruk ini.

Urahara masih melanjutkan makannya tanpa menggubris Ichigo yang masih menatapnya yang berusaha menahan emosi.

"Aku akan membuatkanmu makanan" ucap Urahara membereskan ramennya lalu berdiri. Dengan sigap Ichigo ikut berdiri lalu mencengkram kerah baju Urahara.

"APA KAU MASIH BERPURA-PURA BO-"

Sebelum Ichigo melanjutkan ucapannya, Urahara memotongnya. "APA AKU AKAN DIAM SAJA KALAU PUTRIKU DALAM KEADAAN SEKARAT!?" teriak Urahara penuh emosi. Ichigo yang tadi emosinya memuncak, pelan-pelan padam. Mata Urahara memerah perlahan air mata membasahi pipinya. Ichigo melepaskan cengkramannya dengan kasar.

"Minggu lalu sakitnya kambuh. Bibimu terus menangis. Sebagai seorang ayah aku tidak tahu harus berbuat apa dengan biaya yang begitu mahal. Hanya itu cara satu-satunya Ichigo. Saat ini aku juga sudah bekerja dan aku juga berusaha mengumpulkannya" Urahara mulai berurai air mata. Ichigo hanya terdiam melihat pamannya yang begitu menyedihkan.

Ichigo bergegas keluar dan pergi ke suatu tempat. Urahara ikut keluar dan berusaha menyusulnya tapi tidak terkejar. "Ichigo!" teriak Urahara.

Akhirnya bocah orange ini sampai di tempat mesin ATM. Ia tarik nafas dalam-dalam lalau menghembusannya pelan. Ia yakin apa yang dilakukannya kini benar. "Help me God" ucap Ichigo lalu menarik semua uang yang ada di ATM-nya.


"Bocah tengik sialan!"

PLAKKK

Ichigo kena tampar bos tempat ia kerja part time. Pria ini hanya menunduk dan terus memohon agar bosnya memberinya gaji lebih awal tepatnya hari ini. Tapi pria buncit itu menolak mentah-mentah.

"Kemarin kau kabur entah kemana dan membiarkanku repot-repot melayani pelanggan, sekarang kau minta gaji!? Kau masih punya muka berhadapan denganku, brengsek!?"

PLAK

Ichigo ditampar lagi tapi ia ta membalas. "Aku mohon" ucap Ichigo. Emosi bosnya begitu memuncak.

"KAU DIPECAT!" akhirnya bos itu berlalu meninggalkan Ichigo. Bocah orange ini tahu, semua pasti tidaklah gampang. Yah, besok ia harus mencari tempat kerja yang baru. Semoga masih ada tempat yang mau menerima siswa SMA seperti dia.

Ichigo bersikap pasrah dan mengambil ponsel dari sakunya. "Bisakah kita bertemu nanti malam?" Tanya Ichigo pada seseorang lewat telepon.

"Seperti yang kau mau" balas seseorang diseberang telepon itu.


Ichigo tengah berdiri tegap di pinggir jalan. Menatap sebuah tempat diseberang sana. Tempat dimana dulunya diselubungi kebahagiaan. Tempat ia, paman dan bibinya tinggal bersama kala itu sebelum pamannya ditipu oleh seseorang. Hidupnya mulai dipenuhi dengan hutang, tak jarang Urahara pulang dalam keadaan mabuk.

"Kulit jeruk!" panggil seorang bocah yang sedang buang sampah diseberang jalan. Ichigo tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya. Bocah itu menyeberang jalan lalu menghampiri Ichigo.

"Kau mau kemana?" Tanya Jinta. Ichigo mengacak-ngacak rambut bocah itu. "Hey! Aku mendadaninya selama satu jam!" protes Jinta sambil merapikan kembali rambut merah bawangnya. Ichigo tertawa kecil.

"Bagaimana keadaan Ururu?" Tanya Ichigo sambil merunduk. Mensejajarkan wajahnya dengan Jinta.

"Dia sudah baikan kok, ayo kedalam! Ibu pasti akan senang bertemu denganmu" ajak Jinta menarik tangan Ichigo. Pria ini berusaha melepaskannya dan berkata "A-aku harus buru-buru". Jinta tidakmenggubrisnya dan tetap menarik tangan pria ini sampai ke dalam Toko. Neko's café.

"Ibu! Lihat apa yang ku bawa!" teriak Jinta memanggil Ibunya yang sedang berkutat dengan mesin kasir. Yoruichi melepas clemeknya dan menghampiri dua pria itu.

PLAKKK

Yoruichi menampar Ichigo. Jinta yang melihatnya hanya tertawa cekikikan, bocah ini sudah menduga jika Ibunya merindukan seseorang ia akan memukul orang itu.

"H-HEY! Bi-"

PLAKKK

Ichigo ditampar lagi dipipi yang satunya. "Kenapa kau kasar sekali pada-". Belum Ichigo melanjutkan ucapannya Yoruichi langsung memeluk pria ini. Menarik kepala Ichigo dan mencium keningnya begitu lama sampai-sampai bekas lipstick Yoruichi menempel erat disitu.

"Sepertinya aku harus membersihkan ini 7 hari 7 malam" gumam Ichigo mengusap kasar keningnya.

"Haha, bersihkan saja pakai amplas" saran Jinta yang masih tertawa cekikikan.

TUKKK

Ichigo langsung menjitak kepala bocah ini. Jinta mengerang kesakitan.

"Hey bocah kecil! Cepat ambilkan makanan dibelakang!" suruh Yoruichi pada Jinta. "Kenapa tidak Labu ini saja, aku ini yang anakmu bu!" protes Jinta. Yoruichi memelototi Jinta sambil berkacak pinggang. Bocah ini berjalan gontai menuju dapur.

Yoruichi mempersilahkan Ichigo duduk dan mengobrol dengannya. Sudah hampir seminggu mereka tidak bertemu.

"Nilaimu jelek-jelek kan?"tanya Yoruichi pada intinya. Ichigo merunduk, ia paling tidak suka bila seseorang menanyai pria itu tentang sekolahnya. "Dasar berandal" ucap Yoruichi.

"Ya, dia memang berandal tua. Beraninya sama anak kecil" ucap Jinta membawa nampan berisi makanan dari belakang. Lalu ia menaruhnya di meja depan Ichigo. "Dia memang labu bodoh, dia peringkat pertama dari belakang. Mending aku donk, peringkat dua dari belakang" lanjut Jinta melipat kedua tangannya didepan dada. Seolah ia menang telak dari Ichigo.

"Hey Kid, kita itu sama-sama dari belakang. Jadi jangan sok lebih baik dari aku" ucap Ichigo memelototi Jinta.

"Tetap saja kau lebih bodoh dari ak-"

"Bocah kecil! lebih baik kau rapikan meja sana!" suruh Yoruichi.

"Tapi bu-"

Yoruichi menunjuk ke arah meja-meja. Jinta menuruti perintah Ibunya dengan pasrah.

"Hey! Bukankah akhir-akhir ini kau belajar dengan seseorang?" Tanya Youichi penasaran. Sambil mengedip-ngedipkan matanya.

"Dengan siapa?" Tanya balik Ichigo mengerutkan alisnya.

"Gadis cantik itu" jawab Yoruichi menaik-turunkan alisnya menggoda pria ini. Ichigo menggeleng tidak tahu. "Itu… Rukia Kuchiki…" ucap Yoruichi.

"Oh, aku baru saja mengusirnya kemarin dengan temannya yang-"

BRAKKK

Yoruichi menggebrak meja dan langsung berdiri. Ia membulatkan matanya dan berkata "APA!?".

"Aku paling tidak suka kalau ada orang yang mencampuri urusanku" imbuh Ichigo. Mulut Yoruichi menganga lebar dan menjewer telinga Ichigo. "ADUDUDUH" erang pria ini. Ichigo langsung berdiri dan mencoba melepaskan tangan bibinya.

"Dasar bocah tengil! Aku yang memohon dan menyuruhnya agar mengajari dirimu dengan benar!" teriak Yoruichi menambah kekuatannya menjewer telinga Ichigo sampai merah.

"K-Kau?! Kapan!?" Tanya Ichigo ditengah penderitaannya.

"Kemarin! Kalau aku tahu kau mengusirnya lagi, aku yang akan mengusirmu dari sini, bocah nakal!" teriak Yoruichi memutar jewerannya seperti memutar knock pintu pada telinga Ichigo.

"ADEDEDEDEH! Iya-iya! Aku tahu!" balas Ichigo menahan sakit.

"HAHAHAHA~" Jinta tertawa terbahak-bahak.

"Di-diam kau! ARGH… lepas-lepas!" balas Ichigo meronta-ronta. Yoruichi melepaskan jewerannya dengan kasar. Ichigo mengelus-elus telinganya yang teramat merah semerah tomat.

"Jinta! Tolong bereskan semua makanan ini!" suruh Yoruichi menunjuk makanan dimeja Ichigo. "Baik kapten!" balas Jinta cengar-cengir.

"H-Hey, aku sama sekali beum memakannya" protes Ichigo.

"Jika nilaimu naik, kau boleh memakannya" ucap Yoruichi berlalu meninggalkan Ichigo. Pria ini tidak habis piker atas sikap bibinya yang cepat berubah.

Jinta membereskan makanan itu seraya berucap "Haha, lapar ya? Sudah, makan batu sana, hahaha" ejek Jinta.

CTAKKK

Ichigo menjitak kepala bocah ini. Jinta mengerang kesakitan.


Mobil sport biru tepakir rapi didepan rumah tua dengan pagar kayu berwarna coklat. Dua pria tampan ber-jas hitam tengah keluar dari mobil tersebut. Mereka mengetuk pintu dan keluarlah seorang pemilik rumah.

"Selamat siang, apa ini rumah keluarga Urahara?"

"Maaf, mereka sudah tidak tinggal disini" jawab seorang wanita berkacamata pemilik rumah yang dulunya ditinggali keluarga tersebut.

"Sekarang mereka tinggal dimana?" Tanya Kaien.

"Saya tidak tahu"

"Apa anda tahu nomor telepon keluarganya?"

"Sepertinya nomornya sudah tidak diapakai lagi sejak mereka pindah" jawab ibu itu. Kaien mengangguk mengerti lalu membungkuk pamit pulang. "Tunggu dulu" cegah Ibu pemilik rumah itu. Kaien menoleh.

"Apa hubungan anda dengan keluarga Urahara?" selidik pemilik rumah.

"Saya kakak dari bocah laki-laki dari Korea itu. Yang tinggal dengan mereka"

"Oh, bocah berambut orange itu. Kasihan dia"

"Memangnya… ada apa?" Tanya Kaien penasaran.

"Aku dengar keluarga itu sedang terlilit banyak hutang karena pria bernama Urahara itu"

"A-apa?"


Rukia terus meronta-ronta dalam dekapan pria ini. Ia terus bergumam tidak jelas karena mulutnya terbekap rapat oleh tangan besar itu. Karena ia merasa jengkel jadi ia menggigitnya. Pria itu berteriak kesakitan.

"Apa tidak ada cara yang lebih baik dari ini!?" Tanya Rukia ngos-ngosan.

"Sebenarnya ada…. Apa kau mau ku seret seperti mobil mainan?" jawab Ichigo sambil mendorong dahi Rukia denganjari telunjuk. Gadis ini langsung menggigit jari Ichigo. Lagi-lagi ia mengerang kesakitan.

"Dasar hewan buas! Aku tahu kau masih marah padaku gara-gara aku mengusirmu dan ayam itu!"

"Dia bukan ayam! Namanya REN-JI!" sanggah Rukia memberi penekanan pada setiap hurufnya. Ichigo menutup kedua telinganya. Gadis yang sangat berisik.

"Aku hanya memperingatkanmu agar jauh-jauh dari bibiku. Yoruichi Shihouin pemilik Neko's café itu!" ucap Ichigo.

"Memangnya kenapa? Terserah akulah" jawab Rukia sambil membusungkan dada.

"Haishhh, kau kan yang membeberkan kelakuanku disekolah padanya? Apa Shiro-chan itu yang menyuruhmu!?" Tanya Ichigo geregetan.

"Aku kelaparan dan mampir kesana, kata Tatsuki makanannya sangat enak. Lalu dia bertanya padaku tentang dirimu"

"Apa maksudmu?" Tanya Ichigo.

"Bu-bukan apa-apa" elak Rukia memalingkan pandangannya dari pria orange ini.

FLASHBACK

"Ini pesanannya" ucap Yoruichi seraya menaruh nampan berisi dua cup cakes rasa coklat dan dua gelas milk shake dimeja Rukia dan Tatsuki. Kedua gadis ini membalasnya dengan ucapan terimakasih dan seutas senyum. "Kau…. Tatsuki teman kecilnya Ichigo itu kan?"

"Iya, aku tidak menyangka bibi masih ingat padaku"

"Tentu saja. Eh, ngomong-ngomong gimana Ichigo disekolah" Tanya Yoruichi antusias seraya menyela duduk di kursi Rukia. Hampir saja gadis mungil ini jatuh tergeser.

"Yah… nilainya sangat buruk, dia galak sekali, dia jarang menyapaku, dia juga pelit kalau kumintai uang jajan, dan kelakuannya sangat buruk" jawab Tatsuki membeberkan semua kelakuan Ichigo yang dia tahu. Mulut Rukia tidak bisa berhenti menganga mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut Tatsuki. Kontan saja ia menginjak kaki gadis tomboy ini. Tapi Tatsuki tetap melanjutkannya.

Yoruichi menundukan kepala lalu menghela nafas panjang.

"Tatsuki!" bisik Rukia. Gadis tomboy ini langsung membekap mulutnya sendiri. "G-Gomen, bibi Yoru" ucap Tatsuki meminta maaf.

"Taka pa. Bocah itu…. Aku tahu dia begitu menderita. Dulu dia bocah yang sangat rajin belajar, ceria dan juga sangat ramah terhadap orang lain. Karena ada sesuatu yang tidak diinginkan, dia menjadi seperti itu dan begitu pindah kemari ia masih seperti itu. Seharusnya dia tidak pindah kemari. Aku memang bibi yang buruk" ujar Yoruichi.

Suasana jadi hening sesaat setelah Yoruichi menceritakan semuanya.

"Tapi didepan kami dia begitu bersemangat dan begitu gembira. Aku tahu sebenarnya dia tidak seperti itu. Terkadang ia harus mengorbankan sedikit uang sekolah ia kumpulkan dengan susah payah untuk membantu mengurus masalah kami. Walau aku menolak, ia pasti memaksaku. Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiran bocah itu".

Rukia dan Tatsuki saling bertatapan. Kemudian mereka beralih menoleh ke arah Yoruichi. Tatsuki memegang tangan wanita paruh baya itu dengan halus.

"Maaf, apa orangtuanya tidak pernah bertemu dengan dia?" Tanya Rukia ragu-ragu.

"Bukan mereka. Tapi Ichigo sendiri yang tidak pernah mau bertemu dengan mereka. Sejak dia pindah kemari, dia melarang kami untuk memberitahu alamat kami dan juga nomor ponsel"

"Boleh saya bertanya kenapa?" Tanya Tatsuki sedikit berbisik. Yoruichi menyunggingkan senyum.

"Dia bilang. Cukup hidup dengan kami saja dia sudah senang, tidak perlu orang lain lagi. Aku tahu sebenarnya bocah itu sangat kesepian".

Kedua tangan Yoruichi memegang erat tangan Tatsuki dan Rukia. "Aku tahu kalian anak yang baik. Aku mohon tolong Ichigo, jangan biarkan dia kesepian. Aku tahu dia anak yang kasar dan pemarah, jika kalian dekat dengannya dia sebernarnya anak yang baik dan halus. Jika dia sudah berubah seperti dulu, itulah saatnya tugasku sudah selesai. Dan aku akan menghubungi keluarganya untuk menjemputnya. Dan kami akan pergi sejauh mungkin"

"Ta-tapi"

Yoruichi lalu berdiri dan berlutut dihadapan kedua gadis ini. Kemudian dia memohon dengan setulus hati. "Aku mohon. Ini bukan permintaanku sebagai seorang bibi, tapi seorang ibu. Jika aku jadi Masaki-san aku pasti sangat sedih jika tahu putraku sangat berubah. Aku tidak bisa berbuat banyak, tapi aku tahu kalian bisa. Aku mohon" ujar Yoruichi menundukkan kepalanya berkali-kali.

Kedua gadis ini terkejut lalu turun dari kursi. Mereka memegang bahu Yoruichi dan mencoba membuatnya beridiri. Tapi wanita ini tetap bersikeras agar kedua gadis ini mau membantunya.

"Bi-Bibi" ucap Tatsuki tidak tega melihat Yoruichi yang begitu inginnya merubah keponakannya yang sangat keras kepala itu.

FLASHBACK END

"HEY! Aku bertanya padamu kerdil!" gertak Ichigo menggoyangkan kedua bahu Rukia. Gadis ini tersadar dari alam bawah sadarnya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata besar violetnya. Berusaha menatap jernih mata hazel didepannya.

"He he hey, le-lepaskan tanganmu sialan! Dasar mesum!"

"HA? Jaga mulut kecilmu itu ya!" ujar Ichigo sambil mengetuk-ngetukkan lebih tepatnya mendorong-dorongkan jari telunjuknya dikening Rukia. Sampai-sampai kaki gadis ini reflek mundur untuk menjaga keseimbangan.

"JA-NGAN PER-NAH MEN-DEKA-TI-KU A-ATAU-PUN KE-LU-AR-GA-KU!" ujar Ichigo memberikan penekanan disetiap penggalan kalimat yang ia ucapkan dengan nada mengancam. Sekilas deathglare menyelubungi aura pria ini. Sontak Rukia menelan ludahnya dalam-dalam.

Pria ini terus mengetuk-ngetukkan telunjuknya ang membuat Rukia semakin mundur. "Mengerti gadis kec-"

BRUKKK

Rukia tersandung batu yang lumayan besar dibelakang kakinya. Kontan Ichigo ikut terjatuh karena tak melihat apa yang ada didepannya. Mereka berdua saling bertubrukkan dengan Ichigo diatas Rukia. Kedua lengan pria ini langsung menyangganya sehingga ia tidak terjatuh tepat diatas gadis mungil ini.

Rukia terkejut. Mata gadis ini tak berkedip sekalipun, matanya membulat melihat mata hazel yang tepat bertatapan dengannya dari jarak dekat. Detak jantungnya tak mau diam seakan ia merasakan hal yang tidak bisaa.

"Go-gomen ne" ujar Ichigo langsung berdiri dan membersihkan debu yang menempel ditelapak tangan dan seragamnya. Ia menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala.

'I-Itu sangat berbahaya' batin Ichigo deg-deg-an. "Gomen, tadi itu-" sampai disini ucapan Ichigo ketika melihat Rukia yang masih bertahan pada posisi saat ia bertubrukkan dengan Ichigo tadi. Ia belum berdiri. Matanya masih membulat sempurna dengan nafas memburu. Ichigo memincingkan sebelah alisnya. Ia heran.

"Apa-apaan gadis ini" ujar Ichigo mengkerutkan kedua alisnya. "Woy! Cepat berdiri" lanjutnya.

"Rukia, apa kau …. Hey! Kau Kurosaki? Sedang apa…. R-Rukia!" ujar Renji yang baru saja membuka pintu dibelakang Ichigo. Langsung saja pria berambut merah ini menghampiri Rukia yang masih shock. Pria ini menjadi agak sedikit histeris.

"R-R-R-RUKIA!" panggil Renji menggoyangkan kedua bahu Rukia. Sambil memasukkan kedua tangan disaku celananya, Ichigo memandang bosan kedua orang itu. Seakan melihat drama konyol dari layar lebar.

"Urus saja pacarmu itu, aku pamit. Bye!"ujar Ichigo meninggalkan mereka berdua. Renji masih bingung cara membangunkan Rukia dari alam bawah sadarnya.


Gadis ini tak berhenti memandang cermin didepannya walau dengan pandangan kosong. Ia terus mengingat kejadian tadi siang. Dimana ia dan Ichigo pertama kalinya bisa berpandangan sedekat itu, bahkan ini pertama kalinya ia dengan seorang pria. Walau Rukia berusaha menyanggahnya, tapi jantungnya menolak. Organ penting itu terus berdetak.

'Kenapa aku ini? Jantungku…. Terus berdetak. Apa aku…. Jantungan?" batin Rukia dalam hati.

"Nona, tuan sudah menunggu anda dibawah. Mobilnya juga sudah siap" ujar wanita berpakaian kimono menunduk dengan sopan disamping Rukia. Gadis ini sudah bersiap dengan gaun putih bersih tanpa lengan dengan batasan bawah tepat dibawah lutut. Dengan rambut hitam berkilau diikat rapi disamping telinganya. Dan juga poni yang bisaa diantara kedua alisnya kini tersapu diatas keningnya. Terlihat sangat cantik dengan sepatu kaca melekat indah dikakinya.

"Baik Unohana-san, aku akan kesana. Terimakasih" jawab Rukia. Lalu ia berdiri dan bergegas turun kebawah menyusul Byakuya yang sudah bersiap dengan pakaian yang rapi dan bersih. Byakuya memandang Rukia dengan tatapan datar, gadis ini terus menundukkan kepala tidak berani menatap pria itu. Lalu mereka bergegas berangkat ketempat yang akan mereka tuju.


Force's Magz. Japan. 10.00 am.

"Mereka sudah tiba, Presiden" ucap Hisagi membungkuk sopan didepan kedua atasannya. Presiden itu mengangguk. Lalu dua pelayan membuka pintu yang tinggi serta lebar itu. Sang Presiden menyambut kedua tamu itu.

"Selamat datang Byakuya Kuchiki serta putrinya yang cantik ini. Nona Rukia Kuchiki"

"Terimakasih …..lama tidak bertemu… Isshin Kurosaki" jawab Byakuya menyambut jabat tangan Isshin. Sang presiden Force's Magz. Rukia membungkuk sopan. Kaien juga ikut membungkuk menyambut kedua tamunya.

TBC

Keluhan? Kritikan? Saran?

SILAHKAN COLEK TOMBOL REVIEW

To readers :

Gomen atas chapter sebelumnya yang tidak ada penggalannya,

penggalannya itu 'sama dengan' jumlahnya tiga. Tapi setelah saya edit di ff ilang semua *barusadar

Maaf banget kalau membingungkan nyah :3 ,terimakasih...

Terimakasih yang sudah review ff saya (jgn lupa mampir lagi ya)

Sekali lagi Arigatou Gozaimasu!