Summary : "Apa kau ingin membiarkan anak buahmu mati ditangannya? Roronoa Zoro itu kuat, kau tahu? Selain bisa menggunakan shot gun dengan radius tembak lebih dari 100 meter, dia juga ahli pertempuran jarak dekat dengan pedangnya!"
Disclaimer : Eiichiro Oda is Owner Of OP
Warning : Abal, gak jelas, Aneh, jelek.. Yah, yang negatif- negatif deh. Tapi untuk warning LEMON atau segalanya nggak. Maklum lah, Authornya abal juga..
A/N : Maafkan saya jika part ini atau selanjutnya masih (atau tambah) anchur atau aneh. Saya memang sangat Abal. Hiks..
Aku dendam.
Aku benci.
Aku marah.
Tapi aku tak bisa mengerti mengapa aku tak bisa mengingat wajah yang kubenci itu. Pada akhirnya, aku harus menumpahkannya pada orang yang tak bersalah.
Portgas D. Michi's Present:
"Love, Between Berretta and Shot Gun"
Writen and Story by Portgas D. Michi/ 2011
One Piece © Eiichiro Oda
.
.
Zoro's POV
Andaikan saat aku masih bisa tersenyum pada mereka..
Andaikan aku tidak pernah melakukan hal yang membuat mereka menyesal ataupun marah, mungkin benci kepadaku..
Aku tak Akan pernah menyesal sebesar ini..
Walaupun aku sadar, takdir tak dapat dirubah.
Dan kebencian ini tak akan bisa terhapus dalam diriku, sebelum aku melihat darah mereka yang kuambil dan kulihat berada di tanganku sendiri.
General's POV
Michi membalikan wajahnya tepat ketika telepon 'markas' mereka. Ia dengan segera mengangkat telepon itu karena sudah tahu dari siapa telepon itu dan untuk siapa.
"Ya, ada apa?" Tanya langsung tanpa basa- basi, "bos."
Suara dari seberang sana tertawa, "dasar tak ada sopan santun kau. Bisa tidak kau itu lebih belajar tata cara berbicara yang sopan pada seorang atasan tertinggi, hah?" Tanya suara dari seberang sana dengan suara yang terdengar kesal.
"Kurasa itu tidak penting," jawab Michi asal dan mulai malas dengan basa- basi itu, "katakan tujuanmu meneleponku, bukan, kelompokku." Ujarnya dengan nada datar.
"Yaah.. Ada beberapa hal yang ingin kupertanyakan. Walaupun kurasa aku sudah tahu jawabannya." Jawab suara itu dan terdengar mulai serius. "Kau sudah menyuruh Nami dan Nico Robin menyusup?"
"Tentu saja sudah. Kurasa malah telat satu hari. Juga karena Roronoa Zoro itu adalah pembunuh yang berdarah dingin dan kelihatan bukan sembarang orang, aku langsung menerjunkan mereka hari ini," jawab Michi dan membolak- balikan dokumen misi yang sedang dijalankan oleh kelompoknya. "Apa ada kekeliruan?"
Suara laki- laki dari seberang itu terdengar menghela nafasnya dengan durasi yang cukup lama, dibuat- buat. "Kau tahu? Target kita yang harus kita hentikan pekerjaannya itu. Dia punya hubungan dengan kita."
"Lalu?"
"Buka dokumen atau kau ingat kasus 10 tahun yang lalu, yang setidaknya pasti kau pernah baca. Kejadian teman membunuh teman..?" Tanya suara itu dan Michi menggumamkan suara 'hmm' tanda mengerti. "Setelah agen 4 menyelidiki dengan seksama, ternyata Roronoa Zoro itu.."
"Apa? Jangan memotong kalimat, aku tidak suka," Komentar Michi serius dan kesal karena bos-nya itu menghentikan ucapannya.
"Dia itu anak dari.. Ketua Agen 12 yang dibunuh 10 tahun lalu." Jawab suara itu membuat Michi terkejut.
"APA? Artinya dia—" Michi tak bisa melanjutkan ucapannya, ia mulai panik. Ia yakin, tujuan Roronoa Zoro itu selama ini menjadi pembunuh bayaran yang gelap identitas dan diburu pastilah.
"Ya. Dia mau balas dendam pada kita. Yang dikiranya membunuh orang tuanya." Jawab suara itu membuat Michi semakin panik, "karena itu, bisa kita hentikan saja misi kali ini?"
"Menghentikan?" Tanya Michi heran, "lalu kita harus main congklak sementara Roronoa Zoro itu membunuh banyak orang tanpa meninggalkan SEDIKITPUN jejaknya? Kalau saja yang dibunuhnya beberapa bulan lalu mati tanpa memberitahukan tentangnya, kita tak bisa mengejarnya sampai sini!"
"Apa kau ingin membiarkan anak buahmu mati ditangannya? Roronoa Zoro itu kuat, kau tahu? Selain bisa menggunakan shot gun dengan radius tembak lebih dari 100 meter, dia juga ahli pertempuran jarak dekat dengan pedangnya!"
"Bukan itu," Sanggah Michi membuat penelepon di seberangnya terdengar bingung, "kurasa daripada bertempur, lebih baik jalan damai."
.
.
Robin's POV
Aku terus berpikir. Tak kudengarkan penjelasan akar pangkat- pangkatan itu. *Eh, kalau itu bener ya. Saya gak tahu pelajaran anak SMA. Saya masih SMP*. Aku masih mengangap ide Michi-san ngawur dan aneh.
"Jalan damai?" Tanyaku dengan earphone di telinganya dan telinga Nami. Telepon dari ketua kami membuat kami harus menyingkir dari kerumunan anak- anak sekolah.
"Apa maksudnya, Michi-san? Biasanya kau itu paling senang dalam soal pertempuran dan hal yang biasanya mengundang marak- marak—" Tanya Nami dengan bingung, "kenapa dan apa maksudnya 'jalan damai' pada laki- laki yang sudah membunuh sangat banyak orang itu?"
Suara dari telepon terdengar serius, "dengar baik- baik. Pokoknya jangan sampai ketahuan kalau kalian itu bukan masyarakat sipil biasa. Kalian benar- benar bisa mati kalau identitas kalian ketahuan." Ucap Michi-san dari telepon dengan serius membuat Nami berkeringat dingin. "kalaupun nanti ketahuan. Jangan langsung main tembak seperti yang biasanya dilakukan oleh kelompok penyerbu. Pokoknya jika waktunya datang, akan kujelaskan." Sambung Michi-san dari telepon itu, tanpa salam langsung mematikan sambungan telepon.
"Eh? Michi-san!" Panggil kami berdua kompak. Sia- sia kami memanggil, ketua kami ini memang selalu membuat kami bertanya- tanya.
Aku hanya bisa menghela nafas sepelan mungkin. Aku merasa wajahku terlalu tua untuk disebut anak SMA. Kalau Nami sih masih terlihat (seperti) anak SMA-nya. Sementara, aku hanya bisa melihat bahwa diriku itu bermuka tua, atau memang pada aslinya memang tidak sepantaran dengan anak SMA.
Bel istirahat berbunyi. Tanda pelajaran kedelapan berakhir, istirahat kedua dimulai. Nami langsung menyerbuku untuk berdiskusi maksud ketua kelompok kami itu. Pasti untuk itu.
"Robin, aku masih tidak mengerti," keluh Nami dan mendengus bingung. Aku tersenyum. Aku juga sama tidak mengertinya denganmu, Nami.
"Ya sudahlah. Kita jangan diskusi hal itu disini. Nanti saja kita tanya. Toh, Michi-san apartemennya di sebelah rumah kita," ucapku membuat keputusan dengan sebijak- bijaknya.
Aku dan Nami berjalan keluar kelas. Hendak berkeliling sekolah. Aku melewati Roronoa Zoro itu yang sedang berdiskusi dengan temannya yang berhidung panjang. Aku melewatinya tanpa bicara sepatah katapun.
"Hei, wanita." Panggilnya membuat terkejut padaku, "sepertinya wajahmu pernah kulihat. Apa kita pernah bertemu?" Tanyanya membuatku terkejut.
"Sama sekali tidak," jawabku tanpa basa- basi. "Memangnya kenapa?"
Dia membuang wajahnya, "tidak ada. Hanya ingin bertanya."
"Oh, begitu. Baiklah." Jawabku dan berjalan lagi. Nami menarik lengan baju seragamku dan berbisik.
"Hei, Robin? Kenapa malah bicara begitu? Bukankah lebih baik tadi kita lakukan pendekatan," bisiknya dengan bingung dengan sikapku.
"Tidak semudah itu," jawabku dan tersenyum simpul, membuat Nami mengerutkan keningnya tanda bingung akan perkataanku itu. "dia murid yang cukup populer juga di sekolah ini. Aku tak begitu mengerti karena kita baru masuk, tapi aku yakin ketika melihat wajah para wanita disini yang seakan sangat menginginkannya. Lagipula, dia sepertinya laki- laki yang tertutup. Aku bisa mengerti dari cara bicaranya tadi," Jelasku panjang lebar.
"Yaaaahh.. Target kali ini susah sekali," keluh Nami dan mencibir.
"Memangnya biasanya tidak? Kita itu kan sebenarnya bukan bagian begini, kita bagian belakang 'panggung' ini. Tapi mungkin karena misi ini 'beda'?" Ujarku dan kembali tersenyum.
"Ya,"ucap Nami mulai lelah dengan pikiran- pikiran yang membuatnya bingung, "'beda'"
.
.
"Mari Kita buat kelompok untuk belajar ujian."
Ucapan sensei.. Ehm, kalau tidak salah namanya adalah Garp-sensei. Membuat Nami menghela nafas. Baru satu hari sudah ada persiapan ulangan? Lucu sekali.
"Yang akan diadakan 3 hari lagi,"
Apa?
Nami hendak berdiri dan mengacungkan tangannya meminta protes. Tapi aku dengan cepat menghentikannya.
"Nami, tidak ada gunanya juga kau protes." Ucapku dan membuatnya terduduk di kursi dengan paksa, "ujian itu sudah dipersiapkan berbulan- bulan. Ada murid baru ataupun tidak, ujian tidak mungkin diundur."
Nami menghela nafas, "benar juga. Aku juga sudah lupa pelajaran anak SMA.. Menyebalkan sekali kita. Kalau saja Michi-san bukanlah atasan kita.. Mungkin dia sudah..." Ucapan Nami kupotong dengan ucapanku yang pasti membuatnya mati kutu.
"Sudah apa?" Tanyaku menggodanya.
"Ukh.." Nami menyerah tidak langsung. Aku tersenyum.
"Sekarang kita harus mengejar pelajaran lama ini, Nami.. Entah siapa yang akan dipasangkan dengan kita," Ucapku dan menyimak pembagian kelompok yang diberikan oleh Garp-sensei.
"Kelompok ke-5," Ucap Garp-sensei membahana, suaranya mengalahkan murid- murid yang sedang bergembira ria ataupun berkeluh kesah karena mendapatkan kelompok yang diinginkan ataupun tidak. "Ketua, Nico Robin. Anggota, Nami—" Ucapan Garp-sensei terpotong oleh teriakan Nami yang bahagia, mungkin karena kami memang tidak begitu dekat dengan orang- orang di kelas ini. Aku juga senang, karena aku bisa bersama Nami.
Sebetulnya aku ingin protes, kenapa aku yang jadi ketuanya. Tapi aku tak berani memotong ucapan Garp-sensei. Aku juga hanya bisa diam dan menurut. "— Usopp, Luffy, Sanji, Roronoa Zoro."
Eh?
"Sekelompok?" Tanya Nami berbisik di telingaku.
"Yah, aku membuat Nico Robin menjadi ketuanya karena nilai tesnya sangat baik. Mohon Bantuannya Nico-san." Ucap Garp-sensei dan melanjutkan ke kelompok berikutnya.
Aku tersenyum misterius.
Keburuntungan berpihak padaku.
.
.
Poooojoooooookkkkk ... *Jeng.. Jeng.. JENGGGG!*
Ace : "Ehem, hari ini si author saraph kita, Saraph D. Michi sedang raib entah kemana. Jadi biar Portgas D. Ace ini saja yang membalas semua review dari para readers yang terhormat sekalian!"
Michi : "Twolwonggggg! *disembunyiin Ace di gudang*"
Ace : "Ada suara ya? Mungkin itu jangkrik? Ya, lanjut saja ya! Dari.. eleamaya."
"Telat baca nih. Aku malah baca punyanya Roronoalolu Youichi duluan. Apa kalian janjian? Dua-duanya sama2 pair Zoro x Robin dengan genre crime dan berkutat di seputar agen rahasia. Sejujurnya aku kaget lho kamu nulis pair ini. Biasanya klo ada author baru kan aku suka ngecek profilnya tuh dan aku tahu kamu menyebutkan bahwa kamu tidak suka pairing ini, jadi waktu itu blom kubaca ehehehehe...
Btw, usia tokoh2nya ga sama dengan canon-nya ya? Kok Robin ma Zoro cuma beda 1 th? Klo sama kan Robin lebih pas klo nyamar/nyusup jadi guru. Soal ini: "Walaupun kalau itu adalah baby face yang bisa mematahkan umur sekalipun." LOL. Aku bener2 ketawa, Zoro baby face? Muka boros mah klo dia, banyak pembaca yg ngira dia usia 20-30 sebelum tau fakta usianya yg 19 th lho. Klo Luffy sih iya baby face, apalagi otaknya XD.
Hmm, penyusupan di sekolah lagi. Plot-nya setipe dengan fic Zoro x OC-mu yg dia jadi malaikat itu. Meskipun ada bedanya juga sih. Klo yg itu kan Zoro mengawasi Allen, nah ini Zoro adalah target Robin. Tapi masih mending kok daripada aku yg belum coba-coba bikin genre crime. Aku lebih bodoh lagi nih, berretta itu apa sih? Terus, masa lalu Zoro itu kok mirip dengan masa lalu Bu Jodie-nya Detektif Conan ya? Terinspirasi kah atau kebetulan?
Mmm, Zoro punya dendam sama agen rahasia. Aku menunggu klo2 ada adegan pertarungan antara Zoro dan Robin, pasti WOW!
Wokeh, keep updating!"
Michi : "Janjian? Sepertinya nggak tuh. Soalnya fiction ini di publish lumayan lebih lama berapa hari dari pada Roronoalolu Youichi. Mungkin dia yang terinspirasi pada fic ini? Yohohoho. Bercanda. Yang pasti Michi dan Youichi gak janjian kok. Yah, mungkin Michi memang benci dengan pair Lolikon (pair yang umur ceweknya lebih tua daripada cowoknya), tapi tidak menutup kemungkinan akan dibuat bukan? Lagipula Michi cukup enjoy membuat fic ini kok.
Okeh, kali ini bukan Cuma untuk Eleamaya-san aja, tapi untuk semuanya. Michi mengaku dosa (), Michi udah buat fic ini cukup lama. Tapi dengan tokoh yang saya buat sendiri, maksudnya itu, ini novel sungguhan, bukan fiction. Jadi semuanya sudah dirancang sedemikian rupa. Tapi karena saya sudah nggak minat untuk ngirim ke penerbit dan males, jadi saya buat jadi fic ini. Maaf ya kalau agak salah. Untuk Zoro yang "Baby Face". Itu sebenarnya tokoh novelnya saya, namanya Ryan. Maaf ya.. Sekali lagi, maaf!
Iya, sih Eleamaya-san. Jujur aja, saya suka romance yang berkutat pada masalah misteri, crime, action, atau sesuatu yang berat. Kayak Zoro-OC saya, itu mesti palsukan identitas yang sebenarnya malaikat, kalau yang ini, Robin yang seorang agen. Hidup penuh kepalsuan, i love it.
Berretta itu jenis pistol. Termasuk salah satu dari sepuluh besar model pistol terbaik seluruh dunia. Karena biasanya agen rahasia itu memakai berretta ataupun yang jauh lebih bagus dari berretta. Modelnya semi-automat. Jadi penggunaaannya gak ribet. Dan jangan ngira aku udah pernah make. Boro- boro make, ngeliat langsung aja belon kok."
Ace : "Kok bisa keluar sih lo?"
Michi : "Bawel. Lanjutkan reviewnya!"
Ace : "Ya.. ya.. Ya.. Dari Dark Leg Sanji."
"Cepet jg kamu updatenya
Ceritanya makin menarik, soalnya Robin ma Nami dah mulai menyusup ke sekolah
Eh, aku ga nyangka Usopp jd assistennya Zoro lho
Lanjut ya ^_^"
Michi : "Makasihhh.. Soalnya pertimbangan dari penembak jitu, jadi Usopp lah yang pantas. Ya, saya memang suka update cepet kalau ada ide. Tapi mungkin untuk chap berikutnya jadi lama, soalnya bulan Maret itu jadwal saya ujian non stop, saya harus belajar. Mohon dukungannya dari DarkLegSanji-san, juga para readers semuanya agar saya lulus dengan nilai memuaskan ya!"
Ace : "Amen! Yok, lanjut ke.. Sugar Princess71"
"senengnya dah di lanjutin... bngung mau kmen apa, upd kilat senpai. ^^"
Michi : "Iya.. makasih ya. Saya update cepat karena kalian semua udah review dan komentar untuk membuat saya jadi lebih maju! Nggak apa, nggak komen, kamu review aja, saya udah seneng kok. "
Ace : "Okeh, lanjut ke.. sweet miracle 'michu 17'"
"So cool! I like it!
Zoro? Si buta arah ikut kelas IPS (ekop, geo, sej)? Nggak nyangka bgt! Kalau Robin (sejarah) sama Nami (geografi) sih, masih masuk akal... Hehe (Zoro:diem nggak!). Utk cerita, dikasih 2 jempol deh!
Keep writing and update fast,
Michu"
Michi : "Aduh, mau ngomong gimana ya.. Sebenarnya pemikiran saya begini. Anak IPA itu lebih pintar daripada anak IPS. Mungkin Itu salah, maklum saja, SMA aja saya belum masuk. Barud daftar. Hehehehe. Nggak lucu kan, saya bikin mereka jadi anak SMP? Agen rahasia nyusup jadi anak SMP? Apa kata dunia? Wkwkwkwkw. Makasih like-nya! Saya senang sekali! Saya senang dihargai dan dikomentari agar lebih maju! Terima kasih banyak "
Ace : "Fufufufu.. Okeh, lanjut ke Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura
"wow.. ZoRob ?
Agent Rahasia?
kyaaa... kereeen bgt ! .
tp, dmn Luffy? #plak
.
Zoro baby face? hahahaa... #ngakak gulingguling di jalan(?) *lngsungditebasZorojddua*
mm.."
aku mau tau umur umur mreka dong.. plisss... ** #plak
.
ayo cepetan update ! ^^
Michi : "Aduh, sekali lagi. Maafkan itu. Saya benar- benar minta maaf. Buat saya sih, malah Zoro kelihatan muda. Yah, biasalah, mata saya itu jereng, teleng, picek, silinder, minus, plus, katarak, buta... Umur mereka? Nanti dibahas. Okeh?"
Ace : "Kurang tuh penyakitnya. Udah deh, gue doakan supaya author ini bisa lulus, jadi bisa melanjutkan cerita ini. Amin! Sampai jumpa ke chap berikutnya!"
Michi : "Sayonaraaaa~!"
