Foolish Love–

Sinar matahari pagi masuk melalu celah celah jendela kamar hotel yang di tempati Hyosi dan Seokjin.

Perlahan Hyosi membuka matanya yang telah di usik sinar sinar orange dari celah celah jendela. Setelah matanya benar – benar terbuka Hyosi sedikit mengulet kecil, di gerakkannya kepalanya sedikit ke atas melihat seseorang yang tengah memeluknya tidur semalaman.

Di elusnya pipi Seokjin dengan jemarinya membuat si empunya menggeliat pelan. Terkikik geli melihat Seokjin menggeliat seperti anak kecil. Kemudian di tatap nya Seokjin dengan lamat lalu tersenyum.

Dipeluknya kembali Seokjin dengan erat dan tenggelamkannya wajahnya ke leher Seokjin dan menghirup dalam – dalam aroma tubuh Seokjin. Sebuah ide jahil muncul di fikiran Hyosi.

Di kecup – kecup nya kecil leher jenjang Seokjin. Tak hanya di kecup – kecup kecil. Hyosi juga meniup – meniup leher Seokjin sampai Seokjin menggeliat .

Kembali lagi Hyosi tertawa geli melihat Seokjin menggeliat. Dan lagi Hyosi melakukan ide jahilnya.

"Hyosi geli" desah Seokjin.

"Eoh— sudah bangun ?" Hyosi menjauhkan wajahnya melihat Seokjin. Tapi Seokjin masih memejamkan matanya.

"Apa dia mengigau ?" Hyosi bertanya ke dirinya sendiri.

Hyosi tersentak kaget saat Seokjin memeluknya tubuhnya.

"Seokjin masih mengantuk" desisnya.

"Tidurlah. Tapi biarkan seperti ini" titah Hyosi.

Seokjin tidak menjawab, Seokjin hanya menganggukan kepalanya yang matanya masih terpejam.

Foolish Love–

Hyosi

Kulihat Seokjin keluar dari kamar dengan handuk menggantung di lehernya. Dan langsung saja duduk di meja makan sambil melihat makanan dengan mata berbinar. Ck..ck..ck anak ini batinku.

"Keringkan dulu rambutmu"

"Seokjin lapar" sahutnya kemudian diambilnya sumpit dan menyuapkan kemulutnya.

Ku langkahkan kakiku menuju dirinya. Dan ku keringkan rambutnya dengan handuk dilehernya.

"Tak bisa kah keringkan rambut dahulu baru makan ?" tanyaku.

"Tidak" jawabnya dengan mulut penuh.

Bukannya marah mendengar jawaban acuh tak acuh Seokjin, aku malah semakin gemas dan kucubit pipinya yang gembung karena mengunyah makan.

"Sakiiit" rengeknya layaknya anak kecil.

Kududukan tubuhku tepat depannya "Rasakan" ejekku dan lihat. Dia malah merengutkan wajahnya. Ah sangat lucu.

Ku topang daguku dengan tangan sambil melihatnya. Pikiranku masih menerawang mengingat kejadian semalam. Aku tidak habis fikir bagaimana bisa dia membuatku hampir gila tadi malam hanya dengan sebuah bibirnya saja. Itu hanya di bibirku saja. Di bibirku saja aku bisa gila. Bagaimana kalau bibirnya menjamahi seluruh tubuhku. Mungkin aku sudah melayang.

"Seokjin sudah selesai"

Kulihat piringya sudah bersih. Cepat sekali makannya. Dan lihatlah dia makan masih seperti anak kecil yang seluruh mulutnya berlepotan.

Aku tersenyum kearahnya. Ku dekatkan wajahku ke wajahnya lalu ku tarik dagunya.

"Mulutmu mu berlepotan"

Ku raup bibirnya yang tebal itu dengan mulutku. Ku jilat mulutnya dengan lidahku. Seperti kata pepatah sambil menyelam minum air. Bukan hanya membersihkan mulutnya yang berlepotan aku juga sekalian mencumbui bibirnya. Bibir tebalnya bikin aku sangat gemas. Persetan dengan harga diri "wanita harus menyudahi buka memulai". Aku tidak perduli. Toh dia akan menjadi calon suamiku juga.

Ck. Aku tersenyum saat dia mulai mengikuti alur ciumanku. Sedikit demi sedikit dia menggerakan lidah dan bibirnya. Sial. Bibir bermain lembut di bibirku. Lalu dia menghisap lembut bibirku, melumatnya lagi. Bibirnya bergerak teratur, membuat bibirku mengikutinya.

Aku tersentak saat dia tiba – tiba dia menarikku ke pangkuanya.

Sial. Sial. Aku mengutukmu Kim Seokjin. Bibirmu benar benar membuatku gila. Sengaja ku buka mulutku agar lidahnya menelesak ke dalam. Dan benar saja. Lidahnya langsung menerobos masuk kedalam. Lidahnya bermain sesuka hati di mulutku.

Aku juga tidak mau kalah. Ku lesakkan lidahku kedalam mulutnya mengabsen jajaran giginya, dan juga bibir tebalnya ku hisap kuat – kuat sampai sedikit rintihan keluar dari mulutnya.

Dan lihat apa yang dia lakukan. Dia menggerak – gerak kepalanya ke kanan dan ke kiri dan juga di tekankan tengkuk ku untuk memperdalam ciuaman dan mengulum bibirku lagi.

Aku benar – benar tak tahan. Nafasku habis dibuatnya. Padahal aku yang memulai kenapa aku yang kalah.

"Seokjin" panggilku tanpa embel embel desahan. Aku tidak mau terlihat kalah darinya.

Sialan dia tidak menganggapinya. Kutangkup wajahnya dengan tanganku. Dan ku lepas secara paksa tautan bibir ku dan bibirnya.

Setelah terlepas aku segera mengambil oksigen sebanyak – banyaknya. Dia diam menatapku tanpa ekspresi. bibirnya sedikit terbuka menghebus kan nafas memburunya ke sekitar leherku membuat aku mengernyit.

Manik matanya menatapku tajam. Apa dia di titik normalnya lagi ?

"Seokjin" panggilku sedikit ragu. Tatapan tajamnya seakan menelanjangiku sekarang juga.

"Ya—" jawabnya tegas.

Ternyata benar dia berada di titik normalnya. Di elus elus nya leherku dengan ibu jarinya yang seketika membuat tubuhku menegang.

Bahaya kalau dia berada di titik normalnya.

"Hyosi" panggilnya yang menatap mataku dengan manik mata hitamnya.

Aku tidak mau menjawab malah aku menatapnya balik. Jarang – jarang aku bisa melihat Seokjin sedewasa ini.

Kenapa dia terus menatapku. Jangan tatapku. Aku tidak tahan melihat tatapanmu.

Wajahnya semakin mendekat kewajahku sampai hidung kami bersentuhan. Disingkarnya rambutku kebelakang.

Sialan.

Bibirnya mengulum cuping telingaku. Ku tahan degub jantungku yang berdetak tak karuan ini.

"Seokjin— hentikan"

"Tidak—" jawabnya di telingaku sambil mendesah. Sialan. Benar benar sialan. Kenapa dia harus menjawab di telingaku dengan nada se seksi itu.

"Seokjin—"

Entah kapan bibirnya yang tadi di telingaku kini sudah di leherku, saja. Sontak ku ramas rambutnya yang masih basah.

Di kecupnya leherku lalu dihisapnya. Mungkin sudah ada bercak disana. Bukan hanya mengecup dan menghisapnya dia juga bernafas di leherku sehingga tubuhku semakin menegang dibuatnya.

Aku tetap menahan desahan yang sudah mencekat di tenggorakanku.

Tapi—

Perbuatannya membuatku ingin melepaskan desahanku. Oh— Seokjin kau benar – benar—

Lidah basahnya kini mulai menjilati area leherku. Ku tutup mataku rapat – rapat menahan sensasi dari bibirnya. Bibir Seokjin sialan. Begitu lah batinku mengatakan.

"Seokjin— cukup" kali ini aku benar – benar tak tahan.

"Seokjin—."

"Seokjin—ssshhh"

Sialan, desahanku keluar begitu saja. Kenapa dia harus mengecupi bagian collarbone ku. Itu area sensitf bagiku.

"Sudah Seokjin hentikan" pintaku. Aku tak mau desahanku semakin banyak keluar.

"Sssssttt "

APA ? Dia menyuruhku diam. Apa dia tak tahu diriku seakan meledak dibuatnya.

"Seokjin cukup aku tak tahan"

Ku tahan mati matian desahan mengatakan hal tadi.

Di hentikannya gerakan bibirnya di area leherku. Dan menatapku. Bola matanya menggelap.

"Tadi itu apa namanya ?" dengan nada dingin bertanya.

Ku picingkan mataku menatapnya. Apa maksudnya ?

"Morning kiss" jawabku akhirnya sedikit ragu.

"Aku ingin seperti ini setiap pagi" tatapannya kini semakin tajam membuatku meremang.

Lalu dengan gerakan cepat di rengkuhnya lagi bibirku. Di kulumnya bibirku dengan lembut. Sangat lembut.

Bisa gila aku kalau Seokjin nantinya benar – benar normal. Mulai sekarang Seokjin masuk dalam kategori mengerikan bagiku. Dia benar – benar sangat mengerikan apalagi dalam keadaan normalnya seperti ini.

Foolish Love–

"Aku pulang"

Kulihat rumahku yang sepi. Semua pada kemana ?

"Eonni—"Tidak ada jawaban. Apa mereka kerja ? batinku.

"Eonni mu sedang keluar ?"

Ku tolehkan pandanganku ke sumber suara. Ibu berdiri diambang pintu kamarnya.

"Oh" ku pasang mimik marahku.

Dengan cepat kulangkahkan kakiku masuk kemar.

"Kemana semalam kenapa tidak pulang ?"

"BUKAN URUSAN IBU" teriakku.

"YAAA—"

BLAM !

Sengaja ku tutup kasar pintu kamarku dan ku kunci segera.

Ku hempaskan tubuhku ke kasur dan ku tutup telingaku dengan bantal. Teriakan – teriakan ibu memanggilku tak mau aku dengar.

DRRTTTT

Kurogoh kantung bajuku mengambil ponsel.

"Ada apa"

"Keluar dari kamarmu dan segera ke ruang tamu. Kita kedatangan tamu"

"Haruskah aku keluar dan menyambut tamunya. Kenapa tidak appa saja"

"Kau ini tidak bisakah melawan hah ?"

Kumatian secara pihak panggilan tadi.

"Menyebalkan" desisku kesal.

Foolish Love–

Seharian saja aku mengurung diri. Rasanya malas untuk keluar kamar.

"Buat apa mereka pulang" aku berujar sendiri.

Ku helah nafas kasar ku. Kulirik ponselku yang tergeletak begitu saja di tempat tidur. Ku ambil ponselku lagi ku buka galeriku.

Senyuman terukir di bibirku, melihat Seokjin saat tertidur. "Dia seperti anak kecil"

Dan.

Senyumanku semakin melebar melihat fotoku mencium Seokjin. "Cih— aku seperti wanita mesum" tapi aku sangat senang melihat foto ini. Bibir Seokjin benar – benar membuatku hampir gila kemarin. Sialan.

Pintu kamar diketuk dari luar.

"Hyo kau di dalam ? Eonni boleh masuk ?"Ku lirik saja pintu kamarku yang diketuk.

"Mereka sudah pergi" Kulangkahkan kakiku membuka pintu kamarku. Ku dapatkan Hwayoung eonni tersenyum membawa cemilan.

"Tadi tampangnya tidak tampan seperti Seokjin"

Aku mengeryitkan keningku. Apa maksudnya ?

"Tamu yang tadi ?" tanyaku memastikan.

"Hum— jangan mau. Aku tidak mau punya adik ipar yang tidak tampan" ujar Hwayoung eonni dengan santai.

"Aku juga" dari ambang pintu Hyoyoung eonni menyahuti.

"Sangat tidak cocok dengan adikku yang cantik ini" Hyoyoung mengkedip – kedipkan matanya depanku sampai membuatku tergelak tertawa.

"Benarkah ?"

"Hum" sahut mereka berdua.

Tersenyum aku melihat mereka. Setelah itu ku hembuskan nafasku kasar. Bagaimana pun di sisi fikiranku. Aku masih memikirkan Seokjin. Dalam 3 bulan ?

"Apa yang kau fikirkan Hyo ?" Aku tersadar saat Hyoyoung eonni menjentikan jarinya depan wajahku.

Sekali lagi aku menghembuskan nafasku.

"Eonni" panggilku lemah. Mereka tidak menjawab tapi menatapku.

"HYAAAA" kuacak – acak rambutku kesal.

Mereka berdua yang tadi menatapku datar kini menatapku aneh.

"Aku baru tau kalau kita mempunyai adik aneh" Hyoyoung eonni dengan santainya mengatakan itu.

"YA— EONNI"

"Salah mu sendiri kenapa bisa menjerit tiba – tiba " selanya.

Ku hembuskan nafasku kasar.

"Eonni tau 3 bulan ?"

"3 bulan membuat Seokjin normal ?"

"Sedangkan tadi appa sudah membawa pengganti Seokjin kerumah ?"

"Bagai mana dengan Seokjin ?"

"Eoh— eoh— bagaimana ?"

Ku acak –acak lagi rambutku frustasi.

" hanya itu ?"

Hyoyoung eonni menatapku sambil memainkan dagunya.

"Santai tadi aku sudah bilang kau itu tidak waras dan kulihat raut mukanya berubah mendengar hal itu. Jadi soal penganti Seokjin jangan kau fikirkan lagi"

Ku tatap Hyoyoung eonni dengan datar. Bagaimana bisa mulutnya mengatakan aku tidak waras ? Kakak macam apa dia.

"Kau harus percaya diri Hyo"

"Tapi eonni 3 bulan ? ini saja sudah mau jalan 3 minggu—" ku hela nafasku.

"Kami percaya kau bisa merubah Seokjin"

Ku tatap kakak ku saling bergantian. "Tapi aku—"

"Cih— sejak kapan aku punya adik pesimis hah" Hyoyoung eonni mendelik kearahku.

Kurebahkan badanku ke tempat tidur menerawangi langit – langit kamar.

"Kami mendukungmu Hyo"

Ku tolehkan wajahku "Terima kasih"

Foolish Love–

Berulang kali Hyosi melirik jam tangannya sembari menggerutu kesal melihat perkuliahannya tidak selesai – selesai. Pasalnya karena kesibukan tugas kuliahmpa dengannya Hyosi tidak berjumpa dengan Seokjin sudah seminggu. Biasanya juga seperti itu. Tapi, sekarang. Rasanya Hyosi tidak bisa berlama – lama tidak berjumpa dengan Seokjin.

"Hyo kenapa kau gelisah ?" temen di samping Hyosi bertanya melihat Hyosi.

"Ah— tidak— lama sekali pulangnya" jawab Hyosi cepat.

"Baiklah saya akhiri perkuliahan ini"

Hyosi segera bangkit dengan raut muka senang."Aku pulang dahulu"

Hyosi langsung pamit ke teman nya.

"Hyo tapi ada—"

"Byeeeee"

Hyosi segera meninggalkan ruangan kelasnya dan menuju ke parkiran.

Foolish Love–

Hyosi membuka pintu yang bertuliskan KIM Seokjin lagi merajutnya di atas tempat tidurnya.

Saat Hyosi ingin melangkahan masuk ke dalam kamar Seokjin. Hyosi menoleh kesamping. Melihat dokter Lee memasuki ruangannya. Hyosi sedikit berfikir. Lalu di langkahkan kakinya ke ruangan dokter Lee.

Hyosi mengetuk ruangan dokter Lee.

"Silahkan masuk" perintah dokter Lee. Hyosi pun masuk ke dalam.

"Oh— nona Ryu— silahkan duduk" tawar dokter Lee.

"Begini dokter saya ingin bertanya tentang perkembangan Seokjin"

"Kebetulan sekali nona Ryu, saya baru saja memeriksa psikis Seokjin. Dan saya akui saya terkejut dalam jangka waktu sebulan grafik Seokjin naik 8% lebih cepat dari biasanya. Sekarang Seokjin sudah berada di titik mendekati remaja, dan saya juga terkejut. Kali ini Seokjin lebih sering berada di titik normalnya" dokter Lee tersenyum.

"Ya— memang terkadang Seokjin suka bertingkah layaknya anak kecil. Mungkin itu dia belum beradaptasi. Lagi pula itu saya anggap wajar. Orang dewasa sekalipun sering bertingkah seperti anak kecil" jelas dokter Lee lagi.

"Begitu ya" Hyosi mengangguk – ngangguk mengerti.

"Kalau begitu saya permisi dokter. Terima kasih informasinya" ujar Hyosi.

"Sama – sama nona Ryu itu memang sudah tugas saya" jawab dokter paru baya bermarga Lee ini.

Foolish Love–

Hyosi melangkahkan kakikanya masuk ke dalam kamar Seokjin.

"Sedang apa ?"

Seokjin menghentikan kegiatannya. Dilihatnya Hyosi sudah duduk di sampingnya.

"Merajut"

"Merajut apa ?" Hyosi mencondongkan badanya melihat rajutan Seokjin.

"Hyosi jangan melihat dahulu, Seokjin belum selesai. Tunggu sebentar ya" titah Seokjin.

Hyosi merengutkan wajahnya lalu melipat tangannya menatap Seokjin.

"Naaah— sudah selesai"

Teriak Seokjin senang melihat rajutannya sudah selesai.

"Ini buat Hyosi"

Seokjin memberikan Hyosi sebuah syal dan di ujung syal itu bertuliskan nama Hyosi sendiri.

"Dan ini buat Seokjin"

Seokjin mengambil syal yang bertuliskan namanya lalu memeluknya seperti dia memeluk boneka.

Melihat itu Hyosi mengkerutkan keningnya. Diambilnya syal milik Seokjin.

"Ini buat ku dan ini buat mu" Hyosi memberi syal yang bertuliskan namanya kepada Seokjin.

"Hyosi memberikan nya kepada Seokjin ?"

"Hmm"

Hyosi mengacak rambut Seokjin dengan melihat Seokjin bertanya layaknya anak kecil.

"Mau ke mall ?'"

"Mall ? mau mau mau" Seokjin bangkit dari duduknya kemudian Seokjingkrak – Seokjingkrak membuat Hyosi tersenyum melihat tingkah Seokjin.

Foolish Love–

"Hyosi— Seokjin ingin menaiki itu" Seokjin merengek menujuk kuda – kudaan di tempat bermain.

"Seokjin— kau sudah besar" bisik Hyosi.

"Ahh—Seokjin mau menaikinya" Seokjin semakin merengek.

Hyosi menatap Seokjin dengan muka memelas. Dilihatnya sekelilingnya yang melihat mereka berbisik – bisik.

"Seokjin ayolah kita dilihatin orang. Kau tidak boleh menaikinyaitu untuk umur anak 5 tahun Seokjin" bujuk Hyosi.

Seokjin menunjuk puppy eyesnya ke Hyosi berniat membujuk Hyosi. "Tidak Seokjin tidak. Jangan tunjukan puppy eyes mu" tandas Hyosi.

"Tapi Seokjin mau—" rengeknya lagi.

"Kita makan es krim saja bagaimana ?" Hyosi mengkedip – kedipkan matanya.

"Ya— ya mau kan ? Seokjin mau es krim kan ?" tawar Hyosi.

Seokjin terlihat berfikir mendengar tawaran Hyosi.

"Huuumm—. baiklah tapi Seokjin mau 3 rasa" Seokjin melipat tangannya dan membuang mukanya.

"Cih— baiklah— baiklah"

Segera Hyosi menarik Seokjin menjauh dari area bermain ini.

Foolish Love–

"Bagaimana ?"

"Hum enak" dengan lahapnya Seokjin memakan es krimnya.

"Jangan terburu – buru es krimnya tidak akan pergi ke mana – mana " Tangan Hyosi mencubit pipi Seokjin dengan gemas "Kau benar – benar lucu" ujar Hyosi senang.

"Sebentar ya aku ke kamar mandi dulu"

Hyosi melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

BRUK!

Tidak sengaja Hyosi menabrak pengunjung lain saat menuju ke tempat duduknya. Hyosi yang sibuk membenarkan roknya disaat dia berjalan sampai – sampai dia tidak tahu kalau dia menabrak orang lain.

"Maaf" Ucap Hyosi cepat.

"Hyo—"

Hyosi mendongkan wajahnya melihat orang itu memanggilnya.

"Hyosi kan ? Ryu Hyosi ?"Tanya orang itu sekali lagi.

"Ya— eeehh siapa ya" Hyosi melihat seseorang di depannya ini. Hyosi berusaha mengingat orang di depannya ini.

"Yu Barom"

"Barom sunbae ?" Hyosi sedikit terkejut mendengar namanya.

"Hahahaha ya— Wah kau semakin cantik Hyo" muka Hyosi tiba – tiba merona mendengar ucapan sunbaenya itu.

"Sunbae bisa saja" balas Hyosi malu – malu.

"Kan itu fakta. Dari dulu kau memang cantik Hyo" Hyosi semakin malu mendengarnya.

Hyosi tidak percaya akan berjumpa lagi dengan sunbae yang dia sukai saat SMP. Di tatapnya sekilas sunbaenya ini "Dia semakin tampan" batin Hyosi.

Foolish Love–

"Dengan siapa ? Sendirian ?" Barom bertanya.

"Tidak— sunbae— aku tidak sendirian " Hyosi menyelah.

"Haa— aku tau pasti dengan pacar mu kan ?" Barom tersenyum melihat Hyosi.

"Eh— pacar ?" desis Hyosi. Lalu retinanya menangkap Seokjin sedang fokus memakan es krimnya.

"Haaaa hehehe" Hyosi tak bisa menjawab hanya ketawa kikuk yang keluar dari mulutnya.

"Sunbae sendiri ?" Hyosi bertanya balik.

"Sendirian Hyo— Ah jangan panggil sunbae. Ini tidak di lingkungan sekolah" titah Barom sambil menatap Hyosi.

"Jadi—" Hyosi memasang mimik binggungnya.

"Panggil saja oppa" tangan Barom terulur mengacak rambut Hyosi.

"Dari dulu kau tidak pernah memanggilku oppa selalu memanggilku sunbae" lanjut Barom lagi.

Hyosi menahan degub jantungnya. Barom mengacak rambutnya. Fikiran Hyosi menerawang kebelakang. Mengingat dulu dia sering berfantasi sunbaenya ini mengacak rambutnya.

"Sunbae kau merusak rambutku" Hyosi tersadar kemudian memasang muka sebal ke Barom.

"Kan— Hahaha kau sangat lucu" sudah mengacak rambut Hyosi sekarang Barom mencubit kedua pipi Hyosi dengan pelan.

Di sisi lain.

Seokjin menekan – nekan sendoknya kesal ke mangkuk es krim. Seokjin dapat melihat jelas Hyosi berbincang dengan siapa. Apa lagi orang itu mengacak rambut Hyosi dan mencubit pipi putih Hyosi.

Seokjin semakin kesal melihatnya, di masukkannya sendok es krimnya ke mulutnya secara paksa. Seokjin tidak hentinya mendengus kesal melihat Hyosi berbincang dengan senang kepada orang di depannya.

Seokjin buru – buru menundukkan kepalanya melihat Hyosi menoleh ke arahnya. Setelah itu Seokjin melihat ke arah Hyosi kembali. Gadis itu tidak tau sama sekali kalau Seokjin meliriknya kesal.

"Maaf lama"

Seokjin diam tak bergeming. Dia makannya es krim di hadapannya dengan diam.

"Seokjin—" panggil Hyosi.

Seokjin tetap diam tak mau menjawab panggilan Hyosi.

"Kau kenapa" Hyosi menatap Seokjin binggung.

"Mau pulang" Seokjin meletakkan paksa sendoknya lalu berjalan cepat keluar.

Hyosi menatap Seokjin binggung. "Dia kenapa ?" Hyosi bertanya ke dirinya sendiri.

Foolish Love–

Sepanjang perjalanan pulang Seokjin diam tak mau mengubris pertanyaan – pertanyaan yang keluar dari mulut Hyosi.

Hyosi semakin binggung melihat tingkah Seokjin ini. Niatnya mengantar Seokjin ke tempat rehabilitasinya berubah di belokannya mobilnya menuju rumahnya.

Seokjin tau Hyosi membelokkan mobilnya ke arah lain, ini buka arah mau menuju ke tempat rehabilitasinya. Tapi Seokjin lebih memilih diam. Rasanya dia benar – benar malas buat mengucapkan kata – kata keluar dari mulutnya.

"Ayo turun" perintah Hyosi.

Seokjin binggung melihat rumah di hadapannya ini. Rasanya ia ingin bertanya tapi diurungkan niatnya itu.

Hyosi mengetuk – ngetuk kaca jendela dari luar melihat Seokjin diam tak bergerak.

"Ayo turun" perintah Hyosi dari luar mobil.

Seokjin pun ragu – ragu turun dari mobil Hyosi dan mengikuti Hyosi dari belakang.

"Minumlah dulu"

Hyosi menawarkan teh hangat ke Seokjin.

Seokjin tetap diam, diambilnya gelas berisi teh hangat itu dan diminumnya tanpa berkata – kata.

Hyosi semakin tak tahan melihat tingkah Seokjin. Di tariknya gelas yang menempel di bibir Seokjin lalu di letakkannya di meja.

"Kau kenapa sih" pekik Hyosi tak sabar.

Mendengar pekikan Hyosi, Seokjin menoleh kemudian menatap Hyosi. Awalnya menatap datar Hyosi lalu di lipatnya tangannya dan membuang muka tak mau menatap Hyosi.

"HYAAA SEOKJIN KAU KENAPA ?" Hyosi geram melihat tingkah Seokjin.

"Seokjin marah" jawab Seokjin singkat.

"Marah kenapa ?" Hyosi menatap Seokjin binggung.

"Hyosi terlihat senang berbincang dengan seseorang" sahut Seokjin.

Hyosi semakin binggung mendengarnya. Sedetik kemudian bola mata Hyosi melebar. Apa dengan Barom sunbae tadi ?

"Dengan Barom oppa ?" Hyosi sengaja menganti sunbae dengan oppa.

"Oppa— Hyosi memanggilnya oppa ?" lirih Seokjin dingin.

"Kenapa cemburu ?" Hyosi menatap Seokjin dengan seringai.

"Tidak !" Seokjin dengan cepat membuang mukanya.

"Seokjin cemburu ?" di tekan – tekannya pipi Seokjin.

"Tidak" Seokjin tetap bersikukuh.

Sedetik kemudian gelak tawa keluar dari mulut gadis ini. Hyosi tertawa dengan puasnya melihat Seokjin cemburu dengannya .

"HAHAHAHA Seokjin— HAHAHAH—" Hyosi tak bisa menghentika tawanya.

"Jangan tertawa" titah Seokjin.

Hyosi tetap tertawa, tapi dia berusaha menahan tawanya itu "Tadi itu hanya sunbae waktu smp ku Seokjin " jelas Hyosi menahan tawa yang akan keluar lagi.

Seokjin diam tak mau menggubris

Sebuah ide jahil terlintas di pikiran Hyosi.

Di kelitiknya pinggang Seokjin. Sampai Seokjin tertawa saat Hyosi mengkelitiknya.

"Hyo— hahaha— sudah— gelii" Seokjin kewalahan menahan tangan Hyosi yang bergerak lincah mengkelitik pinggangnya.

"Hayoo ngaku. Cemburu kan ?"Hyosi semakin mengkelitik Seokjin.

"Hahaha— Hyosi— geli—hahaha" keluh Seokjin sambil tertawa.

"Sudah— Hyosi— hahahah" Seokjin tak tahan menahan geli saat pinggangnya di kelitik.

BRUK !

Tubuh Seokjin dan Hyosi jatuh dari sofa ke bawah. Saat Seokjin berusaha menahan tangan Hyosi, tetapi Hyosi berontak sampai Seokjin menangkup tubuhnya tapi Hyosi mengulingkan badannya. Hingga mereka jatuh bersamaan ke bawah.

Hyosi menghentikan gerakannya melihat dia sudah berada di atas Seokjin. Seokjin yang tengah memeluk pinggangnya dan punggungnya. Jarak wajah mereka sangat dekat. Buktinya hidung mereka saling bersentuhan. Juga, deru nafas mereka menerpa satu sama lain.

Hyosi tersentak saat Seokjin semakin merengkuh tubuhnya semakin erat. Sebuah lengkungan senyuman terukir di bibir Seokjin.

"Aku cemburu"

Hati Hyosi terkejut mendengar kata barusan yang keluar dari mulut Seokjin. Darahnya berdesir seketika. "Aku bisa gila" batin Hyosi.

Seokjin mendaratkan bibirnya ke bibir Hyosi. Selanjutnya di gerakan nya bibirnya melumat bibir plum Hyosi. Di kulumnya bibir Hyosi dengan lembut membuat Hyosi ingin membalas ciuman lembut dari Seokjin. Hyosi semakin terbuai dibuat ciuman lembut dan tidak menuntut dari Seokjin. Tangan kanan Seokjin menekan tengkuk Hyosi agar memperdalam ciumannya. Hyosi juga tak mau kalah di tempatkannya tangan – tangan mungilnya ke pipi Seokjin berniat memperdalam ciuman.

Seokjin perlahan memasukan lidahnya kedalam mulut Hyosi, Hyosi dengan suka rela membuka mulutnya mempersilahkan lidah basah Seokjin bergerak didalam mulutnya.

Decapan demi decapan keluar dari mulut mereka. Menghisap, mengulum berulang kali mereka lakukan.

Tubuh Hyosi tiba – tiba menegang saat Seokjin tengah menusuri pahanya. Hyosi tak mau kalah juga. Kini tangan Hyosi tergerak dari pipinya masuk ke dalam kaus Seokjin meraba abs – abs kecil Seokjin.

Seseorang tengah menganga melihat kejadian di hadapannya. Ryu Hyoyoung menatap kejadian di hadapannya ini dengan raut muka tak percaya. Di kerjab – kerjabkan nya matanya. Berusaha ini tidak nyata dilihatnya, tapi itu sia – sia. Hyoyoung menarik nafasnya kemudian.

"HWAYOUNG—LIHATLAH ADIKMU INI" teriakan nyaring Hyoyoung menggema di rumah ini.

Hwayoung yang baru masuk kerumah tersentak kaget mendengar teriakan nyaring saudara kembaranya. Apalagi Seokjin dan Hyosi yang sedang...

TBC

Original made in23/05/14

pandakim–