Sepertinya Taehyung benar-benar menyukai Yoongi. Kata orang, manusia akan melakukan banyak hal gila jika jatuh cinta. Seperti apa yang Taehyung lakukan sekarang. Jimin sudah was-was sejak semalam. Ketika Taehyung berujar mantap di telepon,
Aku mau masak buat Yoongi!
Awalnya, Jimin pikir Taehyung hanya bercanda. Masa, sih, pemuda pemalas yang makan saja harus diingatkan akan memasak? Bahkan Jimin ragu Taehyung bisa menggoreng telur dengan benar. Bukannya meremehkan, tetapi Taehyung itu lalai orangnya. Disuruh masak air, malah ditinggal tidur. Jadi tersisa uap saja airnya sudah habis, dan kompornya nyaris meledak! Sejak saat itu, Jimin berusaha menjauhkannya dari urusan dapur. Makan dulu yang benar, baru pikir masak.
Tetapi, sekarang dia bilang ingin memasak untuk orang yang disukainya! Luar biasa!
Jimin bahkan tidak pernah merasakan masakan Taehyung. Sedih. Dia kan juga mau.
"Hati-hati pakai pisaunya, Tae." Jimin mengingatkan.
"Iyaaaa,"
Kalau dari harumnya, lumayan. Ini pertama kalinya Jimin melihat Taehyung serius dalam sesuatu hal selain melukis dan bermain musik. Raut wajahnya seperti tidak mau diganggu, dan Mama Taehyung tadi bilang dia sudah bangun jam 5 pagi untuk pergi ke pasar dan memilih sendiri bahan masaknya. Gila, benar-benar gila. Efek mencintai Yoongi bisa jadi begini besar mengubah pemuda yang demen bergelung dalam selimut sampai jam satu siang.
Jimin duduk menggoyangkan kaki. Menyuap serealnya santai. Memandangi punggung lebar Taehyung. Sesekali mengingatkannya untuk berhati-hati dengan pisau, atau minyak panas. Atau menjawab pertanyaannya tentang bagaimana cara merebus wortel agar tetap renyah. Dan beberapa waktu Jimin akan merebut perhatiannya dengan merajuk dan Taehyung hanya berpaling dengan desisan lucu dan mengerang agar Jimin berhenti mengganggu waktu belajarnya.
"Aku mau menebus kesalahan bodohku,"
Jimin nyaris tersedak susunya, "Kamu bahkan tidak pernah masak untukku."
"Jangan cemburu, oke?"
"Sudah terlanjur cemburu!"
Tawa Taehyung mengudara. Manis meskipun suaranya berat. Itulah tawa yang Jimin suka, sayangnya dia akan kehilangan itu sesaat lagi. Tunggu. Tidak! Tidak boleh! Tidak boleh ada yang merebut senyum dan tawa manis Taehyung darinya. Siapa pun itu; apalagi Yoongi itu –tidak akan terjadi! Dia sudah bertekad akan menggagalkan usaha Taehyung mendekati Yoongi (ppssh, jangan bilang-bilang nanti Taehyung ngambek) supaya dia bisa memilikinya sendirian!
"Nah," dia mendekat dan meletakkan sepiring kimbap di hadapan Jimin. Dia mengambil duduk di hadapannya dan mendorong piringnya dengan wajah berbinar penuh harap. Oh, Jimin tahu maksud tatapannya itu. Sial, dia memang ingin merasakan masakan Taehyung –tetapi, ini kan konteksnya berbeda! Dia hanya jadi tester, apakah enak atau tidak. Lagipula niat Taehyung memasak ini untuk Yoongi, bukan untuknya. "Jimin, cobain. Sudah enak belum?"
"Suapin."
Taehyung merengut, "Kayak anak kecil aja!"
"Kamu juga kalau makan gak disuapi –"
"Arrrrgh, iya iya! Cepat, ah!" Taehyung menyumpit sepotong kimbap dan menyuapkan ke mulut Jimin dengan gerutuan yang lucu –dimata Jimin. Dengan senang hati, dia mengunyah kimbap buatan Dewi Terkasih dihatinya (yang ironisnya, tengah menjadikannya kelinci percobaan). Matanya mengerling jahil sembari mengunyah lambat, menggoda Taehyung yang sudah kesal karena terlalu lama menunggu respon Jimin. "Jangan bercanda, deh! Cepat katakan sudah enak atau belum?"
Jimin menelan dengan dramatis, "Sudah enak, Sayangku."
"Sungguh?"
"Iya. Aku pikir rasanya akan seperti muntahan kambing,"
"Jangan meledek, dong!"
"Habis kamu 'kan tidak pernah berurusan dengan dapur,"
Taehyung merengut, "Kamu yang melarangku; seperti Papaku saja!"
Jimin tertawa saja.
Paling tidak, Taehyung merasa lega masakannya terasa enak. Walau tidak lezat seperti yang orang-orang buat, kata orang yang penting itu 'kan niatnya. Lagipula, Jimin bilang rasanya enak. Dan pemuda itu tidak akan berbohong padanya. Jadi Taehyung percaya, sekaligus merasa berdebar untuk memberikannya pada Yoongi. Seperti yang Jimin bilang, ini pertama kalinya dia memasak. Tentu saja dia gugup kalau-kalau Yoongi punya lidah kritis. Lihat saja caranya bicara, licin seperti belut, Taehyung kan khawatir dia pemilih dalam hal makan. Dan ia hanya bisa membuat kimbap! Ini membuatnya tak bisa tidur semalaman karena merasa rendah diri. Tetapi karena Jimin berkata ini enak, dia sedikit senang.
Kayak apa, sih, rasanya?
"Eeeeiii," Jimin menahan lengan Taehyung yang akan menyuap kimbap ke mulutnya sendiri. Taehyung hanya mematung dengan mulut terbuka lebar. Mata mengerjap bingung dengan tingkah sahabatnya yang mengejutkan. Jimin melahap kimbap untuknya sendiri! "Hei! Itu tadi mau kumakan, bodoh!"
"Ini milikku, kau tidak boleh makan."
"Kenapa? Ini aku yang masak, lagipula ini untuk Yoongi!"
"Ck, Yoongi Yoongi Yoongi terus." Jimin berusaha sabar. Menelan kimbapnya cepat. "Sudahlah, lebih baik kau bungkus ini semua dan bersiap. Sebentar lagi kelasmu mulai, Tae. Tidak ada waktu. Kau akan makan roti panggang yang sudah kusiapkan di mobil nanti."
Taehyung mengerucutkan bibir, "Baiklah."
"Hmmm, yuk ganti baju." Jimin mengusak rambut Taehyung dan mengecup pelipisnya.
Hahahahha mampus kau Yoongi!
Kimbap Taehyung itu asiiiin sekali!
Ambition
..
Park Jimin x Kim Taehyung ǁ Min Yoongi x Kim Taehyung
[MinV] vs [Taegi-Yoontae]
..
I will run to reach you!
Yoongi menguap sebentar, kemudian membuang permen karet yang sudah hambar. Dia membuka satu yang baru, tersisa rasa semangka. Baru mengunyah sebanyak tiga, ia menghentikan langkahnya karena melihat bocah aneh yang pernah ditemuinya, seingatnya minggu lalu? Dia tak begitu mengingatnya dengan jelas. Tapi cara berpakaian dan rambut nyentriknya itu memang khas sekali, jadi Yoongi pikir itu benar-benar orang yang itu.
Apa yang dia lakukan di depat toilet begitu?
Kelihatan seperti anjing hilang, di mata Yoongi. "Kau ternyata hobi mengintip orang pipis, ya?"
"A-Ah!"
Baru dengan kalimat ringan begitu, dia terlihat kaget sekali. Yoongi mengerutkan dahinya, pemuda itu kelihatan gelagapan dan aneh. Apa benar dia ini senang melihat penis orang? Wajahnya tidak berkata demikian. Dia punya wajah yang damai dan polos, matanya bulat dan jernih seperti gundu, tetapi Ayahnya bilang jangan tertipu dengan apa yang ditampilkan seseorang. "Mau apa kau di situ terus? Sana pergi, kau membuatku takut untuk kencing!"
"I-Ini, Yoongi! Untukmu!"
Yoongi menaikkan alisnya dan menunduk. Taehyung menyerahkan sekotak bekal untuknya. Dia tidak mengerti pemuda ini, tidak pernah berkenalan secara resmi dan sudah memberikannya makan. Lagipula, apa-apaan dengan gelagat gugupnya itu! Meski orang bilang dia menyeramkan, Yoongi tidak selalu bersikap kasar, jadi dia risih kalau harus melihat wajah ketakutan orang untuknya. Dan mungkin karena wajah pemuda ini kelihatan polos seperti anak-anak, dia jadi tidak tega. Tangannya meraih kotak bekal darinya dengan bingung, "Kau tahu namaku?"
Ding dong! Taehyung merutuki mulut konyolnya.
"Kau... cukup terkenal,"
"Begitu?"
Taehyung mengangguk ragu. Matanya melirik wajah Yoongi. Aduh, ganteng ganteng ganteng banget sial! Aku bisa mati karena menahan napas.
"A-Aku memberikannya sebagai permintaan maaf," bibirnya digigiti sebentar. Susah payah menata ucapannya sendiri. Berdekatan dengan Yoongi membuat isi kepalanya mendidih tiba-tiba, rasanya hampir meledak karena terlalu gugup dan itu sungguh membuatnya sesak. Tetapi Taehyung menyukai sensasi aneh yang campur aduk dalam dadanya ini. "Karena telah melihat... itu, dan juga bersikap konyol. P-Padahal aku ingin mengobrol secara normal denganmu,"
"Kau ingin mengobrol?"
Aduh, suaranya dikontrol dong mas. Dalam banget. "A-Aku suka... anjingmu,"
"Maksudmu Holy?"
"Kau memanggilnya begitu."
Yoongi memandangi Taehyung dari atas ke bawah. Pandangan menelisik. Pria itu jauh lebih tinggi darinya, itu yang membuatnya sedikit kesal (hanya dalam hati). Selain itu, ia hanya bisa menilai kalau pemuda ini pasti anak manja. Lihat pakaian mahalnya, rambutnya diwarnai, memakai anting (yang Yoongi tidak paham kenapa laki-laki berani pakai anting panjang begitu, sebelah doang pula! Dia tidak mengerti mode jaman sekarang), dan wajah yang benar-benar mulus. Pria ini pasti perawatan. Tingkahnya malu-malu. Sudah, itu saja. Secara keseluruhan, Yoongi hanya bisa menilainya sebagai bocah konyol yang suka berdandan. "Ya. Aku terima makananmu,"
"O-Oke, aku yang... harusnya berterima kasih," dia menunduk lalu berlari kecil.
"Hei!"
Taehyung menoleh, poni panjangnya menusuk mata. Yoongi memiringkan kepalanya karena merasa risih dengan rambut pemuda itu. Gatal ingin menggundulinya sampai habis. Botak licin! Kenapa juga pria mau rambutnya panjang begitu, sih?! Dia membuka suara, "Siapa namamu?"
Dor! Rasanya Taehyung bisa mati dengan cara sederhana.
Bibirnya digigiti sebentar, "Aku Kim Taehyung! Jurusan Seni Lukis!"
"Berhenti memukuli kepalamu, Tae."
Taehyung merengut kecil, "Harusnya aku bertanya dia kuliah di jurusan apa! Malah langsung pergi begitu aja! Bodoh banget, gak, sih? Ada kesempatan seperti itu, harusnya dimanfaatkan dengan baik. Bukannya –arrrgh! Aku kesal dengan diriku sendiri," ia kembali memukul-mukul kepalanya sampai pandangannya berkunang. Dan sebelum ia betul-betul dapat mengeluarkan otaknya, Jimin menggenggam tangannya dengan lembut tetapi kuat. Mata mereka bersirobok dalam diam, napas Taehyung jadi satu-satunya suara yang terdengar.
Pemuda ini harus dihentikan sebelum benar-benar melukai dirinya sendiri. Jimin akan selalu jadi pihak yang memberikannya batasan harus berhenti. Dia akan bersikap tegas padanya, agar Taehyung tidak ceroboh. Dia tersenyum maklum dan menariknya dalam satu pelukan hangat. Mengelus punggung dan ujung rambutnya yang terasa begitu halus. Menghirup wangi melon yang segar dari tubuhnya. Perlahan, Taehyung dapat mengendalikan dirinya. "Makasih, Jimin."
"Makanya, jangan berpikir aneh-aneh."
"Habisnya aku gugup kalau bertemu Yoongi."
Haaah, Yoongi lagi. "Ya kalau begitu jangan temui dia –adaw!"
"Aku itu suka sama dia!" desisnya sambil mencubit pinggang Jimin. Melepas pelukannya dan menggembungkan pipinya kesal. Bicara dengan Jimin kadang akan jadi hal yang melelahkan untuk dilakukan. "Mana bisa aku tidak melihatnya? Ah, tadi dia kelihatan ganteng banget. Aku tadi sempat menahan napas, tahu tidak! Dia mungkin kelihatan menyeramkan, tetapi kurasa dia baik. Dia mau menerima kimbapku meski kami belum berkenalan dan aku sudah bertingkah konyol! Dia bahkan tadi bilang aku membuatnya takut kencing," dia tertawa kecil. "Tetapi aku senang sudah memberitahukan namaku. Sumpah demi apa pun, semua kata-kata yang sudah kususun hilang begitu saja! Ambyar tak tahu kemana begitu dia datang. Menyebutkan namaku saja tidak bisa. Dan dia perhatian untuk sekadar menanyakan namaku!"
Jimin mendengus lesu, "Kelihatannya kau senang sekali?"
"Uhm! Aku senaaaang sekali!" dia tertawa lepas. Cantik.
Sedangkan Jimin menyeringai. Mampus kau Yoongi.
"Oke, kita istirahat dulu!"
Yoongi meregangkan otot lehernya yang kaku. Memainkan jari-jarinya ke tuts keyboard lalu beranjak mengikuti kawan-kawannya yang duduk melingkar di meja. Tepat sekali ketika si maknae Lee Daehwi datang membawa soda dan ayam goreng. Yoongi merebahkan tubuh pegalnya dan langsung menenggak cola, langsung habis. Dia menelan seperti anjing tengah menyusu. Kasar dan berisik, padahal tenggorokannya pasti sakit meneguk cola dingin begitu. "Aku tadi sedikit mendengar lagunya, hyung! Keren sekali!" begitu kata Daehwi.
"Kau terdengar seperti anak bawang, Daehwi." Yang ini namanya Bang Yongguk, ketua sekaligus produser musik band yang sering memegang gitar dan di beberapa lagu ambil bagian rapp. "Lain kali kau harus menunjukkan kemampuanmu, jangan hanya menonton kemudian datang bawa makanan lalu berkata kami keren. Itu terdengar menyedihkan, wajahmu itu..."
"Ayyyy, Daehwi! Yongguk hyung lemah pada hal imut,"
Si kecil hanya nyengir saja. Meski begitu, meski dia hanya jadi penonton, dia sudah merasa senang dapat mendengar musik yang indah dari senior-seniornya. Meski hanya bisa mengagumi dari jauh, dia sudah senang. Dia memang ingin bermain dalam satu band, tetapi untuk saat ini dia pikir band mereka sudah cukup seperti ini. Solid dan sempurna. "Yoongi hyung, kau tidak makan?"
"Waaah! Kau bawa bekal?" ini Chanyeol yang berseru.
"Aku lihat dia mendapatkannya," sahut Jiyoung, si vokalis. Satu-satunya perempuan.
Lantas semua orang di sana menyorakinya. Separuh gembira dan separuh merasa heran. Orang seperti Yoongi mendapatkan kotak bekal? Mereka pikir orang itu sudah gila untuk memberikan manusia datar seperti Yoongi karena menyukainya. Diantara semua anggota, hanya Yoongi yang enggan menyuarakan kisah romansa. Katanya, itu tidak penting. Tetapi lihat siapa yang mendapatkan sesuatu dari terkasih? Dasar lidah belut. "Siapa? Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki! Tetapi dia betul-betul cantik. Cantik!"
"Whoooaah!" Jaebum berseru dengan alis yang dimainkan. "Ternyata ada malaikat yang jatuh hati pada Iblis kita, kawan! Hey, beritahu aku, apa dia memang secantik itu, hm? Aish, sebenarnya kau ini memang apa bagusnya?" ia berhenti sejenak karena Yoongi memukul kepalanya dengan sumpit besi. Dia juga langsung menyumpah-nyerapahi teman satu band-nya ini. "Lihat itu, lihat! Tingkahmu masih barbar, Yoongi! Harusnya itu aneh jika ada orang menyukaimu, dia hanya suka penampilanmu. Pasti dia belum pernah tahu sifat aslimu yang pemarah dan tukang pukul!"
Daehwi menengahi kakak-kakaknya, "Sudahlah, hyung. Toh mereka belum pacaran. Bukankah bagus ada yang menyukai Yoongi hyung? Sekarang kita punya bahan perbincangan untuknya, kan?" setelahnya, mereka terbahak. Kecuali Yoongi.
Hanya kimbap. Tidak ada yang spesial. Yoongi mengernyitkan dahinya sejenak, karena dia pikir pemuda itu akan memberinya sesuatu yang lebih dari sekadar kimbap. Mengingat wajah gugupnya itu, seperti dia akan memberikannya kue atau apa lah. Pokoknya sesuatu yang sulit dimasak. Ini hanya nasi dan sayur digulung dengan rumput laut, dia juga bisa. "Enak ya, jadi Yoongi. Belum pernah pacaran tapi sudah diberikan kotak makan," Chanyeol bersua.
"Aku punya kotak banyak di rumah, kau mau?"
"Iiiish, bukan begitu, Jiyoung!"
Yang lain sibuk membicarakan dirinya, Yoongi memilih diam dan makan.
Asin sekali. Apa orang ini tahu cara memasak? Ini bahkan hanya nasi, sayur, dan daging ham yang digulung dengan rumput laut. Bagaimana bisa terasa sangat asin? Apa yang dia masukkan ke dalam sini? Yoongi menelannya dengan susah payah, dan mencelupkan kimbapnya ke saus ayam miliknya dari Daehwi. Setelahnya, ia merasa jauh lebih baik.
"Rasanya lumayan juga."
Masakanmu tidak gagal, bocah. Kau hanya perlu membuat saus untuk ini.
To be continue!
a/n:
hai ketemu lagi!
Untuk ff ini emang aku bikin ringan banget. Capek bikin yang menguras hati wkwkwk. Ini pun draft aslinya (yang mana adalah imajinasiku alias masih di kepalaku) cerita angst – hurt/comfort loh. Percaya gak? Wkkwkw. Tetapi akhirnya karena My Mama masih belum bisa move on dari karya terbaper yang pernah kuciptakan, aku muncul dengan ff humor romance aja lah. Wkwk.
Dan iya, aku bikin ini cepet karena lagi gabut. Gabutnya sejenak, karena bentar lagi mau praktek lagi. Fyi, aku ini mahasiswa jurusan kebidanan. So, sibuknya warbyasah.
Semoga bisa menghibur.
p.s. hayo, kalian team MinV atau YoonV?
