DISCLAIMER : I don't own Naruto
If I did sasuke would kiss hinata in every chapter *mwahaha*
This place where we leave is not the place where we belong
I don't want to get used to be alone
Hinata's POV
Sampai detik ini aku tidak pernah berpikir bahwa hal yang seperti dongeng ini bisa terjadi. Sebelum aku mengenalnya aku sudah lama berhenti berharap. Sebelum aku menyadarinya aku tidak pernah tau bagaimana keajaiban bisa terjadi.
Aku dulu meragukan dunia.
Aku memiliki ayah yang tidak menyayangiku. Adik yang selalu menganggapku saingan dan sepupu yang menggangapku musuh.
Namun, saat itu aku tetap bersabar karena aku punya harapan. Harapan terakhirku. Aku benar-benar berharap cinta pertamaku akan menyukaiku.
Namun,saat kenyataan itu menamparku keras aku telah kehilangan kepercayaanku. Saat aku tau cinta pertamaku menyukai orang lain. Orang yang lebih baik dariku. Jauh lebih baik.
Saat itu aku merasa dunia sedang mempermainkanku.
Aku menunggu dan terus menunggu. Terkadang berharap akan datang seorang pangeran yang menjemputku. Saat kejadian itu tak kunjung juga datang.
Aku berhenti..
Aku berhenti berharap dan hanya mengikuti keinginan dunia. Larut dalam permainanya.
All I wanted was you
All I wanted was you
You've trapped me inside you
Stuck on you till the end of time
Sasuke's POV
Saat itu angin berdesir pelan. Aku selalu melihatnya. Aku melihatnya dengan cara yang sama. Caranya bergerak. Caranya memainkan jemarinya gugup. Caranya menutup bibirnya terkejut.
Aku melihat rona merah di wajahnya setiap hari. Aku mengenalnya. Mengenal setiap tarikan napas yang ia hirup.
Mungkin ini bodoh tapi aku seakan terikat oleh kehadiranya. Sejak dulu aku tau dia berbeda. Sejak dulu aku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Tapi, aku belum menyadari rasa yang tumbuh dihatiku.
Sejak dulu aku tau dia tak pernah menatapku. Sejak dulu aku tau dia tak pernah memperhatikanku. Bahkan mungkin dia tak menganggap kehadiranku penting.
Sejak dulu dia selalu mempesona. Aku mengingatnya dengan caraku. Bisikan yang lembut terdengar dari suaranya. Caranya tersenyum lembut.
Seharusnya aku belajar untuk menyapanya. Seharusnya aku belajar mencintainya. Tapi saat aku tau dia menyukai orang lain. Aku tau mungkin aku harus melepasnya.
Normal's POV
Hinata masih bersembunyi di balik dinding luar kelasnya. Tanganya mengepal keras didadanya. Ia menutup matanya rapat. Ia sangat takut akan apa yang ia lihat. Ia berusaha menguburnya. Mengubur kenyataan yang kembali mempermainkanya.
Air mata jatuh menuruni wajah kecilnya.
Sakura makin mengeratkan pelukanya pada Naruto. Melingkarkan lenganya pada leher Naruto. Memperdalam ciuman mereka.
Isakan pelan Hinata tertahan. Ia berusaha untuk berlari. Ia benar-benar berusaha. Tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Tubuhnya sudah menolak. Menjerit terluka.
"Aku mencintaimu,Sakura."
Perih
Luka itu mengoyak dirinya dalam. Semua harapan yang selama ini Hinata simpan terasa hampa. Dadanya seakan tak bisa lagi merasakan sakit karena sakit yang kali ini benar-benar menghancurkanya.
I'm a fool to want you
To want a love that can't be true
I know it's wrong
But I can't get along without you
Hinata's pov
"Aku mencintaimu,Sakura."
Kata-kata itu menyadarkanku. Seseorang sepertiku tidak mungkin mendapatkan cinta. Aku .. aku hanya seorang yang dengan mudah akan dilupakan. Seseorang yang tidak akan mendapatkan cinta di dunia ini.
Rasa pahit setiap air mata yang kukecap. Setiap pukulan yang menyadarkanku.
'Kau bodoh sekali Hinata. Kapan kau akan berhenti berharap.'
Aku tau rasa ini. Rasa sakit yang memukul-mukul di dadaku. Rasa sakit yang menancap tajam dijantungku. Aku seharusnya tau dan berhenti berharap. Bagaimana mungkin aku berani berharap. Aku hanya hinata. Hinata yang lemah.
Tapi disaat itu aku juga merasakan hangat ditubuhku. Aku merasakan sebuah tarikan membawaku. Saat itu aku tidak sadar siapa,apa dan dimana. Aku hanya merasakan hangat disana. Sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Sasuke's POV
Aku tidak percaya takdir. Tapi,mungkin pendapatku salah. Bisa saja orang lain, ratusan orang lain di tempat ini. Tapi,takdir memilihku yang menemukanya.
Aku melihatnya gemetar sedih. Melihatnya seperti itu ada sesuatu di dalam diriku. Sesuatu yang memaksaku untuk memeluknya dan menjaganya.
Air mata menuruni wajahnya. Matanya menutup takut. Melihatnya seperti itu membuatku sadar,aku tidak bisa lagi hanya mengawasinya. Melihatnya seperti itu menghancurkan semua pertahananku untuk menjauhinya.
Aku tau aku tidak bisa lagi menghindarinya.
Normal POV
Sasuke menarik Hinata menjauhi ruangan itu. Sasuke menariknya ke atap gedung. Dinding-dinding masih berdiri kokoh mengelilingi atap. Sasuke melepaskan pegangannya pada Hinata dan bersandar pada dinding dingin di belakangnya.
Sasuke menatap Hinata lama.
Perlahan Hinata mengangkat wajahnya dan menatap balik sasuke. Hinata tau cinta tidak mungkin datang begitu saja. Tapi saat ia melihat Sasuke lebih jelas, dia tau mungkin saja dia salah. Hinata mengenal Sasuke. Namun,Hinata tak pernah memperhatikanya karena begitu banyak orang- orang yang mengelilinginya. Hinata pernah berpikir Sasuke sangat beruntung memiliki banyak orang yang mengelilinginya. Namun,mungkin kali ini ia kembali salah karena ia dapat membaca kesepian di matanya.
Waktu berlalu dengan lambat. Mereka masih terdiam.
"Hentikan."
Hinata menatap Sasuke bingung. Ia melihat kegusaran di wajah Sasuke.
"Mulai sekarang kau hanya boleh menatapku." Sasuke mempersempit jarak diantara mereka. Tubuh Hinata bersandar pada dinding dibelakangnya. Hinata dapat merasakan napas hangat Sasuke di wajahnya.
"Aku lelah." Ucap Sasuke. Sasuke memeluk Hinata erat. Saat itu Hinata tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ia ingin melepaskan pelukan Sasuke. Tapi, rasa hangat dari tubuhnya sangat nyaman sesaat membuatnya melupakan luka itu. Luka yang membebaninya.
"Aku lelah berusaha menghindarimu. Mulai sekarang aku akan menjagamu. Tidak akan membiarkan air mata menuruni wajahmu."
Hinata masih terpaku. Tetapi, kata-kata itu menghangatkan hatinya. Untuk sesaat ia merasa dunia adalah tempat yang indah. Untuk sesaat dia merasa bahwa keajaiban itu ada. Untuk sesaat dia merasa .. dicintai.
"Mulai sekarang aku tidak akan berhenti bahkan jika kau memintanya"
Rasa itu kembali mendatangi Hinata. Rasa baru yang menghangatkan tubuhnya. Hangat itu menutup lukanya. Rasa seperti itu membuatnya ingin bertahan, rasa itu membuatnya ingin tetap disini memeluknya.
"Kau mengerti?" Tanya Sasuke.
Hinata mengangguk perlahan. Sasuke mendekatkan wajahnya pada Hinata, mengecup kening hinata lama.
"Bagus."
So how was it?
Jelek ya (huhuhuhu)
Gomen ne ga bikin humor(garing) kaya dulu-dulu saya lagi pengen coba hurt
Abis hurt saya masih payah .. padahal saya kalo baca fic sering banget nangis(cengeng)
Oia,saya lagi bikin fic multi chap menurut kalian saya lanjutin nge post one shot atau post yang multichap ya hehehe
Tolong saranya ya biar fic saya yang bobrok ini jadi bagus(emang bisa)
Oia,makasi banget sama reader yang baik hati
Huaaa seneng banget deh ada orang yang mau baca dan review fic saya
Oia, makasi juga informasinya hizuka miruyuki saya udah join sasuhina yang di pesbuk.
Makasi ya baik deh
Ada yang nyadar ga kalo fic ini mundur?*maksudlooh*
Kan yg pertama keluarga,trus ngandung himenya,sekarang teenage heheh*gapenting*
Oke jangan lupaaaaa reviewsplease
Please please reviewssssssss(s)…s
Saya masih baru kecebur di dunia perpenpikan jadi banyak yang bingung -.-
Mohon maaf kalo ada salah*emang lebaran* (bow)
See ya next story
Don't forget reviews
Still review even this fic is the worst fic ever,ok?
Ja ne!
reviewssssssssssssssss please *puppy eye no jutsu*
