STARLIGHT

EXO FANFICTION

This story belongs to

Cast:

oh sehun ( boy / 24 thn )

xi luhan ( girl / 22 thn )

xi luna ( girl / 18 thn )

cast akan bertambah susai alur cerita^^

Warning: - cerita ini gs ya, karena aku kurang bisa dapet feel buat cerita yaoi, jadi yang gasuka GS aka genderswitch jangan dibaca

- Typo everywhere ya, mohon maklumi hehe

Summary:

berawal dari luna yang menolong sehun yang di todong oleh orang, akhirnya sehun dirawat oleh luhan dan luna hingga sehun sembuh tapi mereka tak tahu kalau sebenarnya semua rencana sehun. Apa yang akan terjadi? [hunhan/gs]

Rated:

Untuk sekarang T, dan akan berubah sesuai alur cerita

..

Chapter 3: Mulai percayakah aku?

.

.

.

Happy Reading!

Seminggu kemudian..

Seorang lelaki berwibawa sedang memeriksa berkas yang harus segera diselesaikannya. Ia sangat sibuk akhir-akhir ini, tak memperdulikan sekitarnya,

TOK! TOK!

dan karena mendengar ketokan pintu ntah siapa yang mengganggunya untuk sekarang ini membuatnya meninggalkan berkas pentingnya dan menyuruh orang tersebut masuk ke ruangannya,

"masuk!" teriak oh sehun, lelaki yang sedari tadi sedang menyelesaikan berkas-berkasnya yang menumpuk

"permisi oh sajang-nim, ada yang ingin bertemu anda sekarang" hormat Irene, sekretaris cantik oh sehun.

"ya oh!" teriak jongin dari belakang Irene.

"kau bisa meninggalkan kami Irene" Irenepun menunduk dan segera meninggalkan sehun dam jongin.

"ada apa kau kesini?" tanya sehung to the point pada sahabatnya ini.

"kau ini, sahabatmu datang sambut yang ceria gitu, jangan langsung to the point seperti itu, tsk" jongin merengut mendengar ucapan sehun, sedangkan sehun memutar bola matanya malas melihat kelakuan sahabatnya. Dia bukan sahabatku.

"cepat katakana kim. Aku sibuk! Ada apa kau kesini?"

"aku bosan bekerja hah. Ayo ke club nanti malam!" ajak jongin. Jongin memang terkenal playboy-nya dikalangan wanita tapi tidak untuk sehun, bahkan sehun terlalu cuek untuk mengurusi satu wanita bagaimana dengan banyak wanita?

"tak, makasih aku tak minat. Kau pergi sendiri saja" jawab sehun tetapi tak mengalihkan atensinya dan tetap pada berkas. Dan jongin hanya bisa menghela nafas, ia sangat tahu watak sahabatnya ini.

Sehingga jongin tak melanjutkan percakapannya, tapi tetap duduk diruangan sehun. Ntah bermain game di handphone-nya atau diam melamun. Sebenarnya apa yang dilakukan jongin disini sih?

"kau kesini bukan hanya ingin mengajakku ke club kan? Katakan apa maumu kim!" tanya sehun karena jengah melihat sahabatnya tak kunjung meninggalkan ruangannya dan taka da sahutan dari jongin.

"ayolah kim, aku bosan melihatmu. Lebih baik kau kembali kekantormu dan lakukan pekerjaanmu!" perintah sehun.

"enak saja, siapa kau berani memerintahku oh! Aku ini CEO jadi aku bebas melakukan apapun"
"aku tau kau CEO, tapi bukan berarti kau bebas seenaknya keluyuran seperti ini"

"aku kan sudah bilang kalau aku bosan, aku butuh refreshing dan kau tak mau ku ajak, jadi aku memikirkan apa yang harus ku lakukan!" mereka memulai perdebatan kembali. Antara sehun dan jongin tak ada kata berdamai.

"baiklah kalau begitu, pikirkan saja di kantormu dan sekarang keluar dari ruanganku!"

"bagaimana dengan wanita yang ceritakan waktu itu, hun?" jongin berusaha mengalihkan pembicaraan agar tak diusir lagi.

"tak tahu, bagaimana aku harus menghubunginya?" jawab sehun pasrah sambil menghela nafas.

"ayolah oh yang jenius kenapa bisa jadi bodoh hanya karena wanita, eoh? kenapa kau tak datangi rumahnya saja?" tanya jongin penasaran.

"kim, tak mungkin. Luhan orangnya sangat tertutup, kalau aku tiba-tiba kerumahnya dia bisa berpikiran macam-macam tentangku"

"kau memang berniat macam-macam sih.." gumam jongin yang masih bisa didengar sehun.

"apa kau bilang?" sungut sehun mendengar hal itu.

"hanya bercanda hun, dekati adiknya dulu baru kakaknya hun, kau punya kontak adiknya kan?"

"kau benar juga.. gomawo, kau memang yang terbaik" jawab sehun sambil tersenyum pada jongin.

"hilangkan senyumanmu itu, membuatku takut" jongin begidik melihat senyuman sahabatnya karena memang ia susah untuk tersenyum. Dan sehun tak mempedulikan sehun, ia hanya berpikir apa yang harus ia lakukan kedepannya.

.

.

.

Luna dan luhan yang sedang bersantai menonton televisi sederhana mereka karena sekarang adalah hari libur. Mereka terlalu malas untuk keluar dan lebih memilih melakukan aktivitas dirumah seperti sekarang ini, mungkin mereka sudah terlalu banyak melakukan aktivitas diluar. Sehingga mereka lebih memilih membersihkan tiap bagian flat tanpa ada debu tertinggal sedikitpun, dan sekarang mereka lelah sehingga beristirahat dan menonton televisi bersama.

Luna yang bersandar pada luhan di sofa empuk mereka, dengan luna yang fokus pada televisinya dan luhan yang memejamkan matanya lelah, hingga suara luna mengganggu luhan yang hamper tertidur.

Luna mengadahkan kepalanya agar bisa melihat kakaknya, "eonni, bagaimana kabar sehun oppa?" luhan yang tak segera menjawab pertanyaan adiknya membuat luna kesal dan ia mengguncangkan tubuh kakaknya.

"apa yang kau lakukan lun? Minggir, aku lelah" jawab luhan dengan mendorong adiknya menjauh karena dirasa mengganggu tidurnya yang enak ini.

Luna memberenggut, tanda kesal dengan kakaknya. "bagaimana kira-kira kabar sehun oppa, eonni?" tanya luna bersikeras pada luhan dan hal itu membuat luhan menghela nafas.

"kenapa kau tanyakan padaku? Aku tak tahu lun, sudah jangan dibahas lanjutkan tontonanmu itu!"

Jawaban luhan tak digubrisnya, "ayo mencari kabar sehun oppa, eon!" ajak luna.

"apa maksudmu?" tanya luhan kaget, bagaimana cara mencari identitas orang lain, sedangkan mereka tak tahu apa-apa.

"ayo mencari kontak sehun oppa" ajak luna bersemangat.

"aku tak mau! Lagian itu tak mungkin lun, kau ada-ada saja" tolak luhan dan segera meninggalkan adiknya, berdebat dengan adiknya tak akan menemukan titik terang. Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya tak paham dengan adik satu-satunya ini.

"ahh eonni, kau mau kemana hey!"

Luhan menoleh pada adiknya, "meninggalkanmu! Berdebat dengamu tak aka nada habisnya" lanjut luhan dan memasuki kamarnya. Membuat luna sebal dengan kakaknya, bukan sungguhan sih, tapi ia benar-benar kesal. Apa maksudmu lun?

Luna meluruskan kakinya dan tidur di sofa dengan melanjutkan tontonannya, lama-lama film ini membuatnya bosan, dan ia berdiri menuju kamarnya, mungkin jika berada di dalam kamar ia akan menemukan hal yang membuat bosannya hilang.

Ketika berada di dalam kamar, ia masih bingung apa yang harus dilakukannya karena semuanya tampak sudah beres dan bersih. Jadi luna memilih tidur di kasur empuknya dan membuka phone cell miliknya. Tapi tampaknya ada beberapa miss call dengan nomer tak dikenalnya membuat luna menyerngit bingung, ia berusaha tanya ke beberapa temannya apakah mereka mengenal nomer yang tak dikenal itu dan jawabannya nihil tak ada temannya yang tahu nomer siapa itu.

Tak pikir panjang akhirnya luna membiarkan saja, dan melanjutkan melihat pesan dari teman-temannya, ada yang menanyakan tugas dan sebagainya, hingga ada satu pesan teks baru beberapa menit lalu.

From: xxx

'luna, bagaimana kabarmu? Oppa tadi menelponmu tapi tak kau jawab, maka jawab pesan oppa saat kau membukanya. –oh sehun-'

Akhirnya saat tahu nomer siapa ini membuat luna meloncat diatas kasurnya karena terlalu senangnya, akhirnya ia memiliki kontak sehun oppanya! Segera ia menyimpan nomor milik sehun dan membalas pesannya.

To: Sehun oppa 3

'bagaimana oppa tau kontakku?'

From: Sehun oppa 3

'kau lupa? Waktu itu kan aku meminjam handphone-mu untuk menghubungi sekretaris oppa hingga oppa minta kontakmu padanya'

To: Sehun oppa 3

'ohh begitu.. Aku merindukanmu oppa! Kau kemana saja, kenapa tak pernah datang kerumah? L'

From: Sehun oppa 3

'maafkan oppa ya, kerjaan oppa menumpuk sekali, kalau ada waktu oppa ingin mengajakmu makan bersama bagaimana? Kalau bisa ajak kakakmu, sebagai ucapan makasih oppa pada kalian J'

To: Sehun oppa 3

'tak perlu seperti itu oppa, kami iklas menolong kok. Tapi kalau makan gratis boleh lah hehe. Aku akan mengajak eonni jika ia mau oppa, atau bagaimana kalau kita makan di cafe tempat eonni bekerja, oppa?'

From: Sehun oppa 3

'baiklah, kita makan di tempat eonni-mu bekerja saja, kapan kau free dari tugas mengajarmu?'

To: Sehun oppa 3

'hmm? Bagaimana oppa tahu aku mengajar? Hari rabu aku free dari mengajar kok oppa.'

luna heran, bagaimana oppanya tahu kalau ia mengajar? Seingatnya taka da yang tahu kecuali beberapa orang saja.

From: Sehun oppa 3

'kau lupa? Waktu itu kau menceritakannya padaku.'

Mungkin ia lupa kalau ia pernah menceritakannya pada sehun, luna menggedikkan bahunya tanda tak peduli. Ia benar-benar lupa.

To: Sehun oppa 3

'mungkin aku lupa kalau aku pernah menceritakannya oppa hehe, baiklah sampai bertemu hari rabu. Tapi oppa tak sibukkan hari rabu?'

From: Sehun oppa 3

'tenang saja oppa free untukmu!'

To: Sehun oppa 3

'baiklah sampai bertemu hari rabu oppa 3'

From: Sehun oppa 3

'ok'

Jawaban terakhir sehun sebagai penutup pesan mereka, dan segera luna bangkit untuk membersihkan diri merasa badannya lengket karena keringat akibat membantu luhan membersihkan flat mereka ini.

.

.

.

Seorang laki-laki yang sedang bersantai setelah menyelesaikan tumpukan berkasnya dan teringat ingin menjalankan aksinya, ia tak sabar bertemu dengan dua gadis cantic itu, semoga saja beruntung. Ia segera menghubung salah satu dari mekera.

Tapi sayangnya tak mendapatkan jawabannya, mungkin ia harus menunggu beberapa saat dan lebih memilih memberikan pesan teks dari pada menelponnya. Hingga beberapa saat, sehun adalah orang tersebut.

Beberapa saat kemudian, sehun mengirimkan pesan teks pada luna dan ternyata mendapatkan balasannya membuat ia senang dan tanpa sadar ia sudah berapa pesan teks yang dikirimkannya pada luna. Sehun sangat cuek jadi untuk membalas pesan orang sangatlah jarang kecuali jika pesan tersebut penting, mungkinkan luna penting baginya?

Tanpa sadar jawaban luna membuatnya kaget, bagaimana kau bisa seceroboh ini oh sehun. Apa yang harus dijawabnya kali ini,

From: luna

'hmm? Bagaimana oppa tahu aku mengajar? Hari rabu aku free dari mengajar kok oppa.'

"Apa yang harus kujawab" tanya sehun pada dirinya sendiri, sehun memikirkannya, semoga saja luna lupa kejadian kemarin batin sehun

To: luna

'kau lupa? Waktu itu kau menceritakannya padaku.'

From: luna

'mungkin aku lupa kalau aku pernah menceritakannya oppa hehe, baiklah sampai bertemu hari rabu. Tapi oppa tak sibukkan hari rabu?'

Untung saja luna melupakan kejadian kemarin, sebenarnya luna tak menceritakan kehidupannya ada sehun tapi dasarnya saja sehun yang mencari tahu semua tentang kakak beradik ini. Lain kali jangan ceroboh lagi oh!

To: luna

'tenang saja oppa free untukmu!'

From: luna

'baiklah sampai bertemu hari rabu oppa 3'

To: luna

'ok'

Jawaban terakhir sehun menjadi penutup percakapan mereka, dan dengan pesan teks saja sudah membuat sehun senang sekali. Segera sehun meletakkan handphone miliknya dan berjalan menuju meja makan mencari makannya karena terlalu senang tersebut membuatnya lapar. Ada-ada saja oh sehun!

.

.

.

Beberapa hari kemudian..

Sekarang hari RABU YES! Luna buru-buru membereskan mejanya, dan memasukkan peralatannya pada tas sekolahnya, "kau tampak buru-buru sekali lun?" tanya teman sebangku luna.

"ya, aku ada janji dengan pria tampan" jawab luna sambil tertawa karena melihat reaksi kaget temannya.

"mwo? Siapa? Kenalkan padaku!" cerocos jina, sahabat sekaligus teman sebangku luna.

"tak bisa jinnie, ia milikku!" jawab luna dengan memeletkan lidahnya dan segera lari meninggalkan kelas. Tapi masih sampai pintu kelas mereka, luna berenti karena mendengar teriakan sabahatnya ini,

"ya! Kita tak pulang bersama?"

Luna menoleh pada jina, "kan aku sudah bilang ada janji jinnie sayang, sampai bertemu besok disekolah" ucap luna riang langsung meninggalkan kelas tanpa mendengar jawaban dari sahabatnya.

"jahat sekali, giliran lagi sedih aja dateng, tapi waktu punya kenalan ganteng aku tak diberitahunya" cerocos jina tanpa sadar orang lain mendengarnya, yaitu minwoo teman sekelas mereka.

"ada apa jina-ah? Kau sedang kesal?"

"sudah tahu aku kesal, masih saja bertanya!"

"ada apa? Tuh luna, ada janji dengan pria tampan dan tak mengenalkannya padaku!" jawaban jina ini membuat minwoo membulatkan matanya sebab siapa yang tak tahu kalau minwoo menyukai luna, bahkan sesekolahpun tahu akan hal itu.

Jina yang merasa tak mendengar lalu menoleh pada orang yang mengajaknya berbicara tersebut dan yang membuatnya kaget adalah minwoo yang mengajaknya bicara,

"oops.." ucap jina pelan saat melihat reaksi minwoo sekarang, tampak cemburu. Maafkan mulut jina yang ember ini..

"minwoo-ah, aku pulang dulu yaa.." tanpa menoleh pada minwoo, jina segera lagi keluar kelas dari pada terkena amukan minwoo.

.

.

.

To: Sehun oppa 3

'oppa, sampai bertemu di de'javu cafe!'

From: Sehun oppa 3

'kau tak ingin ku jemput di sekolah?'

To: Sehun oppa 3

'tak perlu, sekarang aku sudah di dalam bus menuju cafe-nya eonni.'

From: Sehun oppa 3

'baiklah sampai bertemu disana'

Luna segera tersenyum dalam bus sambil melihat percakapannya dengan oppanya, tak sabar bertemu tanpa sadar handphone-nya bergetar kembali, segera dilihatnya dan ternyata 'minwoo calling' membuat luna membuat bola matanya malas. Minwoo mengganggu saja batinnya.

"mwohae?" jawab luna malas, minwoo terlalu mengganggu hidupnya menurut luna.

"…."

"ya aku bertemu dengan pria tampan, dan bukan urusanmu" terdengar ketus tapi memang itu adanya.

"…."

"terserah kau saja, aku tutup telponnya!" jawab luna galak. Ini pasti akibat mulut ember jina membuat luna benar-benar kesal sekarang. Luna menghela nafas agar tak emosi, dan akhirnya tiba di cafe tempat kakaknya bekerja.

KLING! KLING!

"selamat datang!" ucap pelayan cafe tersebut ramah dan dijawab senyuman oleh luna.

Luna segera mengambil kursi di bagian lorong cafe tersebut, karena di daerah lorong pengunjung dapat melihat chef yang bagian memasak, dan luna sangat suka disini dengan kaca bening sebagai pembatas mereka, ia dapat melihat kakaknya yang sedang bekerja tanpa kenal lelah. Luna merasa bangga dengan kakaknya dan ternyata tanpa sepengetahuan luhan, luna melihatinya.

Luhan yang merasa ada yang memandanginya dari tadi segera menoleh, dan dilihat adiknya sedang berada di cafe tempatnya bekerja membuat luhan kaget, luna melambaikan tangan pada kakaknya dan dibalas oleh luhan.

Seorang pelayan datang menhampiri meja luna dan memberikan daftar menu untuk memesan, salah atu teman kerja kakaknya yang dikenal luna.

"lunaa, kau ingin memesan apa?" tanya xiumin.

"bisakah aku memesan nanti eonni? Saat temanku sudah datang?"

"begitukah? Baiklah aku tinggal dulu, saat ingin memesan sesuatu panggil aku, ne?" dan dijawab anggukan oleh luna, xiumin sangat baik padanya dan pada kakaknya juga. Luna mengenal xiumin karena ia adalah teman kerja kakaknya sekaligus pemilik cafe ini,

Xiumin dan suaminya jongdae pemilik cafe ini, dan beruntung saat itu ada lowongan pekerjaan, luhan segera mendaftar sebagai chef untuk cafe yang baru di buka ini. Jongdae yang memegang nama sebagai pemilik dan xiumin sebagai pelayan.

Luna yang melihat handphone miliknya kembali bergetar di meja itu segera mengangkat telpon tersebut,

"oppa!"

"…."

"aku sudah tiba, aku mengambil duduk di bagian lorong, oppa cepat kesini"

"…."

"okay, kutunggu oppa" luhan yang melihat adiknya berbicara di telpon dengan seseorang membuatnya penasaran, mungkin nanti akan ia tanyakan saat dirumah.

Setelah beberapa menit kemudian, luna segera berdiri melihat sehun datang, dan menghampirinya.

"oppa!" teriak luna, dan membuat pengunjung lainnya menoleh pada mereka, bahkan termasuk luhanpun ikut menoleh. Dipeluknya sehun oleh luna, tanda saling merindukan satu sama lain, sedangkan luhan yang melihat kejadian tersebut hanya menyerngit bingung, bagaimana bisa mereka bertemu.

"apa kabar hmm?" tanya sehun pada luna.

"seperti yang oppa lihat, hehe"

"bagaimana kabar eonnimu?" dan dijawab tunjukan oleh luna ke arah dapur cafe tersebut. Mereka bisa lihat luhan yang sedang sibuk memasak dan tak memperhatikan sekitarnya.

"ahh, kau sudah memesan makanan?" di jawab gelengan oleh luna,

"aku menunggu oppa hehe, ayo memesan makanan"

"umin eonni!" teriak luna memanggil xiumin, dan yang merasa dipanggil segera datang. Tapi yang membuatnya bingung, siapa yang bersama luna?

"kau sudah ingin memesan makanan?" tanya xiumin saat tiba di meja luna dan sehun.

Luna mengangguk, "aku pesan seperti biasanya eonni, bibimbap dan choco bubble tea! Oppa ingin memesan apa?"

"samakan saja denganmu"

"baiklah eonni, buat dua porsi ya"

"oke, ada lagi?" gelagat xiumin yang menunjukkan gesture siapa dia pada luna dan membuat luna tertawa, sedangkan sehun yang melihat interaksi mereka berdua –luna dan xiumin- hanya bingung,

"oppa kenalkan, ini xiumin eonni pemilik cafe tempat luhan eonni bekerja"

"annyeong haseyo, oh sehun imnida"

"omo, kau CEO oh corp kan?" tanya xiumin, dan sehun hanya tersenyum.

"adikku pernah cerita mengenai oh corp, jadi aku sedikit tahu tentang mu" jelas xiumin.

"siapakah adik anda xiumin-ssi?"

"kau mengenal kim jongin? Dan jangan panggil aku dengan sebutan formal seperti itu, panggil saja xiumin atau xiumin noona" tentu saja sehun tahu, siapa yang tak mengenal kim jongin?

"ia sahabatku noona, kkamjong mesum" jawaban sehun membuat xiumin dan luna tertawa.

"ommo, jelas saja ia beberapa kali menceritakan tentang mu, bukan padaku sih pada suamiku, kakak kandung jongin" disitu xiumin dan sehun mulai akrab, siapa sangka ternyata cafe ini milik kakak temannya.

"eonni, bisakah aku meminta luhan eonni istirahat makan siang bersama kami?" suara luna mengintrupsi percakapan mereka, karena luna merasa diabaikan.

"baiklah, biar nanti pesanan kalian di antarkan luhan, okay?" sehun dan luna mengangguk menyetujui ucapan xiumin.

Dilihatnya luna dan sehun yang asik bercakap, dan luhan memperhatikan mereka dari dapur, tanpa sadar xiumin yang mengikuti arah pandang luhan membuatnya menggeleng. Memang sehun dan luna tampak asik bercanda bersama.

"luhannie, kau ingin menemui mereka?" luhan segera menoleh pada sumber suara, dan liat xiumin sedang memperhatikannya sambil menggelengkan kepalanya.

"kau kuberi waktu istirahat setelah pesenan adikmu selesai, makanlah bersama mereka, dan bawa pesanan ini ke meja mereka." Luhan mengangguk dan segera membawa pesanan adiknya, tapi sebelum meninggalkan dapur,

"eonni tak ikut makan bersama?"

Xiumin menggeleng tanda menolak, "aku sedang tak mood makan, aku ingin beristirahat saja lu." Luhan mengangguk dan segera menemui adiknya.

"lunaa" Luhan berjalan menghampiri adiknya yang asik bercanda dengan sehun, hingga menoleh saat mendengar panggilan kakaknya, "eonni, cepat kemari aku sangat lapar"

"hmm, ini. Apa yang kau lakukan?"

Luna menggerakkan kepalanya memberikan gesture menunjuk sehun, "annyeonghaseyo sehun-ssi" sapa luhan.

"hai lu. Tak perlu terlalu sopan, panggil saja sehun", "ya, ini pesanan kalian" ujar luhan dan meletakkan nampan tempat makanan luna dan sehun.

"eonni tak makan?" luna menoleh pada luhan, sehunpun demikian.

"iya nanti eonni makan ya, sekarang kalian makan dulu." Luhan segera mengambil kursi duduk di sebelah luna.

"tak mau, pokoknya eonni harus makan karena seharian bekerja." Luna memberikan suapannya pada luhan, dan diterima oleh luhan, ia segera memeluk adik perempuannya yang sangan perhatian ini dan akhirnya ikut makan bersama mereka.

Tak ada yang memulai percakapan, mereka sibuk pada makanan masing-masing,

"eonni tahu, ternyata oppa ini CEO loh" yang diajak mengobrol menoleh pada luna, tapi luhan tak menyahut apapun hanya mengangguk.

"kenapa eonni saat lulus tak mendaftar saja pada kantor sehun oppa?" luhan terbatuk mendengar ucapan adiknya, dan sehun segera memberinya segelas air.

"aku belum tahu lun, aku masih harus memikirkan skripsiku" jawab luhan yang menoleh pada luna.

"kau memerlukan bantuan? Siapa tahu aku bisa membantu?" tanya sehun karena mendengar pernyataan luhan.

"gomawo sehun, mungkin nanti jika aku memerlukan." Luhan tersenyum pada sehun, dan mulai dari sejak itu mereka banyak mengobrol, mulai dari kuliah yang ternyata mereka satu fakultas dan universitas yang sama, hanya saja sehun sudah lulus. Membahas cara mendapatkan pekerjaan, dan masih banyak lagi.

Mulai sekarang luhan dan sehun mulai dekat, bahkan luhan mulai berani memanggil sehun dengan sebutan oppa.

.

.

.

TBC

Halo, aku balik nih, gatau mau bilang apa mungkin aku sedih karena yang review menurun, tapi mungkin karena tulisanku kurang menarik.. semoga chapter ini dan selanjutnya review mulai tambah banyak yaa..

Mau ngucapin makasih yang udah review, follow, sama favorite. Bener sih emang, penulis bakal males nulis kalo yang review ceritanya dikit, kayak aku.. hehe

Ditunggu reviewnya yaa! *bow*