"I'm Sorry For Loving Him [Chapter 3]"

Author : loovyjojong

Genre : Romance

Rating : T

Cast : KrisBaek | KrisTao | BaekKai

.

.

.

.

Baekhyun POV

Berulang kali kupikirkan perkataan Kyungsoo siang tadi. Benarkah yang kurasakan saat ini adalah rasa bersaing untuk mendapatkan hati Kris? Aku benar-benar tidak pernah mempunyai niat untuk menyakiti hati siapapun. Kris oppa, maupun Tao eonni. Tak ada sedikit pun aku berniat merebut hatinya. Aku hanya mencintainya. Ya, aku mencintainya. Tidak peduli apakah dia sudah ada yang memiliki, aku hanya sulit untuk menahan perasaanku namun aku juga masih tahu diri.

Kau tenang saja Tao eonni, aku tak akan merebut pria yang sudah mengikat tali pertunangan denganmu.

Drrrrrtt drrrrrrrrrtt

Ponselku bergetar dan membuatku terkejut saat membaca nama si pengirim pesan. Kris oppa. Untuk apa ia mengirimiku pesan bila sedang sibuk dengan tunangannya?

'Baekhyun, oppa ingin memberitahumu bahwa oppa sudah kembali bertugas. Oppa sudah dalam perjalanan kembali ke markas. Maaf oppa tidak sempat berpamitan kepadamu dan orang tuamu.'

'Tak apa, oppa. Aku tahu kau pasti sibuk. Selamat bertugas kembali.' Langsung kubalas pesan darinya.

Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Terserah pada takdir yang mempermainkan hatiku.

Kris POV

Keadaan asrama masih sangat sepi karena semua teman, senior maupun juniorku belum ada yang sampai di markas. Sambil mengisi waktu aku membereskan kamar dan bajuku yang berantakan. Aku kembali teringat padanya. Wanita bertubuh mungil yang menjemputku di bandara. Ingin aku menemuinya kembali namun waktu tidak mengijinkan. Aku harus segera kembali untuk melaksanakan tugasku sebagai tentara.

Kubersihkan senapan laras panjang yang sudah bertahun-tahun kujadikan pendamping saat aku bertugas. Bagi seorang tentara sepertiku, senapan adalah istri pertama dan perintah komandan adalah yang utama. Buktinya saja cinta bisa kalah dengan surat tugas yang akhirnya memisahkan hubungan percintaanku menjadi beratus-ratus kilometer jauhnya. Namun aku tidak boleh mengeluh, ini sudah menjadi tanggung jawabku.

"Selamat siang Letnan!" segera kutegakkan badanku dan memberi hormat pada atasanku.

"Ya, selamat siang. Cepat sekali kau kembali ke markas? Kau tidak tega ya meninggalkan aku bertugas sendirian disini?" Canda sang komandan untuk mencairkan suasana yang sempat kubuat tegang tadi.

"Siap, sesuai perintah saya akan kembali pada waktunya."

"Baguslah kalau begitu. Bagaimana kabar keluargamu? Dan itu dijarimu sudah terpasang cincin. Kau bertunangan?" Tanyanya beruntun.

"Sudah, Letnan. Kabar keluarga saya baik. Dan juga saya bertemu dengan Byun Baekhyun." Jelasku.

"Mwo? Baekhyun? Si gadis kecil itu, kau mengenalnya?" Sang Letnan kaget dengan perkataanku. Ia juga mengenal Baekhyun karena beberapa tahun yang lalu mereka pernah bertemu di camp pelatihan olahraga.

"Ya Letnan. Saya mengenalnya beberapa bulan yang lalu."

"Ah…bagaimana kabarnya? Sudah lama sekali aku tidak melihatnya." Tanyanya sambil tersenyum penuh arti.

"Dia baik-baik saja dan kemarin dia juga yang menjemput saya di bandara."

"Sudah sejauh itukah hubunganmu dengannya? Hey, cincinmu itu, kau bertunangan dengan Baekhyun?" Tanya laki-laki pendek itu penuh selidik.

"Bukan Letnan."

"Ah…sudah mengaku saja. Tidak usah malu-malu." Sambil tertawa dia meninggalkanku yang tersenyum mendengar kata-katanya.

.

.

'Kalau saja aku tidak terlambat bertemu dengan Baekhyun, pasti namanyalah yang akan kuukir di cincin pertunanganku ini'.

.

.

.

Author POV

Setelah lelah mengelilingi kompleks perumahan dengan sepeda putihnya, Baekhyun istirahat sejenak di taman kecil yang selalu menjadi favoritnya. Menikmati suasana sore ini cukup membuat hatinya tenang setelah melalui apa yang dialaminya kemarin.

Suasana taman sore itu cukup ramai oleh suara anak-anak yang bermain dengan ayah ibunya atau teman sebayanya. Dengan perlahan Baekhyun membidik senyum anak-anak itu untuk diabadikan menjadi file gambar. Tersenyum karena puas dengan hasil bidikannya membuatnya merindukan masa kecil yang penuh tawa. Masa kecil yang hanya mengerti kasih sayang dari orang tuanya. Tidak seperti masa sekarang saat ia sudah mengenal apa itu cinta.

Baekhyun mendengar ponselnya berbunyi, ada panggilan masuk. Setelah menggeser tanda berwarna hijau ia segera menempelkan benda persegi itu ke telinga kanannya.

"Yeobboseyo?"

"Yeobboseyo, apa benar ini Byun Baekhyun?" Tanya suara berat seorang lelaki di seberang sana.

"Ne, benar. Maaf, anda siapa?" Tanya Baekhyun penasaran.

"Ini aku, Kim Jongin. Kita pernah bertemu di camp pelatihan tahun lalu. Kau ingat, gadis kecil?"

Terdiam, ingatan Baekhyun memutar kembali kenangan tahun lalu. Samar-samar wajah pria manis bernama Jongin pun tergambar kembali diingatannya. Camp pelatihan olahraga yang ia ikuti bersama dengan puluhan tentara dan warga sipil yang terpilih dari seluruh penjuru negeri. Secara kebetulan juga Baekhyun dan Jongin Saat itu ia tidak terlalu dekat dengan Kim Jongin dan hanya sesekali menyapa atau sekedar mengobrol. Namun sudah menjadi kebiasaan Baekhyun untuk menjalin hubungan baik dengan siapapun, walaupun saat di camp mereka tidak terlalu dekat.

"Ah ne, aku ingat oppa. Bagaimana kabarmu?"

"Aku baik. Aku rindu padamu Baekhyun-ah." Suara Jongin sedikit bergetar karena pria itu sedang gugup. Ini pertama kalinya mereka bercakap-cakap setelah tiga tahun lamanya mereka tidak bertemu.

"Aku juga rindu pada kalian oppa, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Andai saja ada acara reuni pasti aku akan datang."

'Kalian? Apa maksudnya dengan kalian?' Batin Jongin cemburu.

"Bagaimana kalau kita berdua saja yang reuni. Reuni di pelaminan misalnya. Kau jadi pengantin wanita dan aku jadi pengantin prianya?" Goda Jongin membuat Baekhyun tersenyum. Tanpa Baekhyun ketahui dulunya Jongin adalah seorang bad boy dengan sejuta pesona yang selalu menjadi incaran para wanita. Sampai semua itu hilang saat Jongin memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat kelahirannya dan kembali dengan profesi sebagai tentara yang tentunya semakin menambah pesona alami yang ada dalam diri pria manis itu.

"Mwo? Ya oppa, bisa saja kau ini. Apa tidak ada gombalan yang lain? Oppa, hari sudah sore, aku harus pulang dulu ke rumah."

"Memangnya kau ada dimana sekarang?"

"Aku sedang di taman. Sudah dulu ya oppa, lain kali kita sambung lagi."

"Ne, hati-hati di jalan." Setelah mengucapkan kata-kata tersebut sambungan jarak jauh antara Baekhyun dan Jongin terputus.

Baekhyun kembali mengayuh sepedanya sambil tersenyum riang menikmati angin senja dan bias matahari yang beranjak terbenam. Entah kenapa setelah berbincang singkat dengan Jongin hatinya merasa lebih ringan. Sedangkan Jongin? Pria itu sedang tersenyum sambil memandangi wajah Baekhyun yang tersimpan dalam ponselnya.

.

.

.

Suara dentingan sendok dan piring beradu cukup nyaring menambah suasana hangat ruang makan di kediaman keluarga Byun. Sesekali sepasang kakak beradik Byun beradu mulut saling mengejek yang akan berakhir dengan tawa sang ayah. Sedangkan sang ibu hanya tersenyum menanggapi ocehan kedua anak yang sangat dia cintai.

"Sudah dulu bercandanya. Ayo habiskan makanan kalian dan pergi belajar." Ucap sang ibu karena jengah dengan tingkah kedua anaknya.

"Eomma, apakah eomma lupa kalau aku sedang liburan?" Byun Sehun si bungsu dalam keluarga itu menyuarakan protesnya.

"Aigoo, eomma lupa. Kalau begitu kemana kau ingin liburan? Apa kau ingin mengunjungi suatu tempat?"

"Ne, aku ingin berlibur dirumah Han ajussi. Bolehkah aku kesana, eomma, appa?" Rengek Sehun membuat Baekhyun protes.

"Ya! berhenti merengek, suaramu seperti anak kambing kepalaran."

"Noona, pria setampan aku kau bilang seperti anak kambing?"

"Pria apanya? Kau bahkan masih menangis kalau mendengar suara petir."

Suara deheman tuan Byun memisahkan pertikaian kecil kakak beradik itu.

"Baiklah kalau itu yang kau mau. Kau boleh berlibur di rumah Han ajussi asalkan kau tidak merepotkan mereka. Nanti biar appa yang menghubunginya."

"Yeeaaahh akhirnya aku berlibur. Nah noonaku yang galak, silakan berpacaran dengan tugas-tugas kuliahmu itu ya." Ejek laki-laki imut itu yang mau tak mau membuat kakaknya cemberut.

Setelah membantu ibunya membereskan dapur dan meja makan Baekhyun memasuki kamarnya. Bingung ingin berbuat apa. Mendengarkan lagu disaat hujan seperti ini hanya membuatnya teringat pada Kris. Sambil menyunggingkan senyum manisnya ia duduk dipinggir jendela menikmati hawa dingin yang menguar dari tetesan air hujan bercampur hembusan angin. Helaian rambut yang tak terikat menggelitik kulit pucat Baekhyun.

'Hey cantik'

Sebuah pesan yang Baekhyun baca membuatnya tersenyum. Dari Jongin. Semenjak kemarin sore setelah panggilan pertama itu Jongin terus saja mengiriminya pesan. Seperti tak ada bosannya pria itu membuat gadis mungil ini tersipu.

Sengaja Baekhyun tak membalas pesan itu. Sekedar menjahili Jongin. Jika tidak dibalas dalam waktu 10 menit saja pria itu pasti akan mengiriminya pesan lagi.

'Hey, kenapa tidak dibalas? Kau sedang sibuk? Atau sudah tidur?'

Benar saja pikiran Baekhyun. Tidak sampai 10 menit pria tan sudah mengirimi pesan lagi. Tidak tega mengabaikan pria itu akhirnya Baekhyun membalasnya.

'Hai oppa yang tampan dan gagah. Aku tidak sibuk dan belum tidur. Ada apa?'

Suara dentingan singkat menandakan pesan balasan Baekhyun sudah terkirim. Entah ia sadar atau tidak tapi kehadiran Jongin selama empat hari ini membuatnya lupa akan Kris. Di setiap pesan dan panggilan yang dilakukan pria itu tidak pernah lupa terselip kalimat godaan yang selalu sukses membuat semburat merah muncul di pipi Baekhyun.

'Ah tidak. Hanya merindukanmu. Cantik, kau sudah makan? Jangan terlambat makan nanti kau sakit.'

Rona merah itu kembali muncul. Dengan sigap Baekhyun membalas pesan itu karena tak ingin mendengar rengekan Jongin kalau ia lama membalas pesannya.

'Aku sudah makan, oppa. Seharusnya kau itu yang jangan terlambat makan. Kau pasti sibuk latihan perang terus sehingga mengabaikan istirahat.'

'Tidak, sayang. Aku tidak akan sakit. Sudah malam, sebaiknya kau tidur sekarang.'

'Ne, oppa. Kau juga harus tidur. Selamat malam.'

'Ne, selamat malam. Chu :-*'

Baekhyun tertawa geli membaca pesan terakhir dari Jongin. Hatinya bergetar merasakan hangatnya perhatian dari seorang pria yang sudah lama tak ditemuinya itu.

"Apa-apaan kau, oppa. Jangan sampai aku menyukaimu apalagi mencintaimu." Ucap Baekhyun sambil menatap langit-langit kamar sebelum memejamkan matanya.

.

.

.

"Sepertinya kau terlihat bahagia setelah pulang dari cuti kemarin? Apa ini karena Baekhyun?" Letnan Joonmyeon menyapa Kris yang saat itu sedang duduk di pos penjagaan.

Kris hanya menanggapi dengan senyuman. Walaupun mereka berbeda pangkat namun hubungan antara Kris dengan atasannya itu sangat dekat layaknya sahabat.

"Ya! Jangan hanya tersenyum seperti itu. Lebih baik kau nikahi saja Baekhyun agar dia tidak direbut orang lain. Apalagi yang kau tunggu?" Canda Joonmyeon.

"Letnan, saya sudah bertunangan dengan orang lain, bukan dengan Baekhyun." Bantah Kris membuat Joonmyeon membelalakkan matanya, sedikit berlebihan.

"Kenapa tidak kau dekati saja, dia gadis yang baik kan? Keluarganya juga sangat ramah." Jelas Joonmyeon sambil mengenang masa-masa pelatihan yang pernah ia jalani bersama gadis periang itu.

"Ne, dia memang gadis yang baik Letnan, bahkan Baekhyun pernah menampung salah satu keluarga saya saat akan mendaftar wajib militer. Ayahnya juga ikut membantu dalam proses pendaftaran di kantor dinas personil Angkatan Udara."

"Ya! Neo jinjja! Kau ini benar-benar ya! Gadis sebaik itu kau manfaatkan untuk menampung keluargamu setelah itu kau meninggalkannya untuk bertunangan dengan gadis lain? Aku baru tahu kalau kau seplayboy ini Kris."

"Bukan begitu komandan, saya tidak bermaksud untuk memanfaatkannya." Kris panik melihat reaksi komandan pleton yang ada didepannya karena ia tahu kalau atasannya tersebut cukup dekat dengan Baekhyun layaknya kakak dan adik.

"Ah terserah kau saja. Aku cukup melihat wajahmu saja sudah terbayang seberapa brengseknya dirimu." Joonmyeon langsung meninggalkan Kris dengan tawa yang mengejek. Pria itu sedikit kesal dengan pengakuan anak buahnya, secara tak langsung ia telah memanfaatkan gadis kecil yang sudah ia anggap adiknya.

Kris memikirkan perkataan Joonmyeon yang begitu menusuk hatinya. Selama ini dia tidak pernah sadar besarnya kebaikan Baekhyun yang begitu tulus. Dan ia juga tidak pernah menyadari bahwa kehadirannya dalam kehidupan Baekhyun sudah membuat tawa ceria dan binar mata indah gadis itu berubah menjadi raut muram dan selalu menangis setiap malam.

"Ne, aku memang brengsek. Tuhan, tolong berikan seorang pria yang memiliki hati yang tulus dan lembut. Hadirkanlah pria itu dalam kehidupan Baekhyun agar gadis itu merasakan kebahagiannya." Doa Kris malam itu bersamaan dengan datangnya barisan pasukan yang memasuki lapangan untuk melakukan apel malam. Beberapa tentara yang tidak tergabung di dalamnya langsung berlarian untuk bergabung dengan barisan, begitu juga dengan Kris.

.

.

.

"Oppa!"

"Ada apa? Kenapa teriak begitu? Sepertinya sedang bahagia?" Seperti biasanya Kris akan mengobrol dengan Baekhyun saat ia memiliki waktu luang. Lebih tepatnya saat ia sedang bertengkar dengan Tao.

"Apakah terlalu terlihat jika aku sedang senang?"

"Ne, apa yang membuatmu senang? Ceritakan pada oppa."

"Kemarin ada laki-laki yang menghubungiku oppa. Kami pernah bertemu saat mengikuti pelatihan olahraga tiga tahun lalu. Dia sekarang berdinas di Gyeongju, dia tentara juga sama sepertimu oppa, namun dia beberapa tahun angkatan di bawahmu." Jelas Baekhyun panjang lebar dengan suara yang ceria dan wajah berseri yang tentunya tidak bisa dilihat secara langsung oleh Kris karena mereka hanya mengobrol melalui telepon.

"Oh begitu. Oppa kira ada apa." Terdengar jelas bahwa Kris tidak semangat mendengar cerita Baekhyun.

"Wae oppa? Kenapa seperti itu? Oppa tidak suka mendengar ceritaku? Kalau tidak suka kita akhiri saja obrolannya." Ancam Baekhyun.

"Bukannya seperti itu, Baekki."

"Lalu seperti apa? Tadi oppa memintaku untuk bercerita, tapi setelah mendengar ceritaku nada bicara oppa jadi berubah dingin seperti itu." Rengekan Baekhyun menjadi senjata ampuh untuk meluluhkan pria beralis tebal itu.

'Baekki, seberapa besar rasa pekamu? Aku cemburu mendengarmu menceritakan pria lain.' Batin Kris mengetahui bagaimana rasanya saat Baekhyun mulai didekati oleh pria lain.

"Baiklah, maafkan oppa. Jadi, siapa nama pria itu?" Tanya Kris sekedar menghargai Baekhyun yang mulai merajuk.

"Namanya Kim Jongin, oppa. Dia pria yang manis, aku tidak sabar bertemu dengannya." Kata-katanya yang baru saja terucap membuat Kris semakin terbakar api cemburu.

"Baekhyun, sudah malam sebaiknya kau tidur." Nada dingin dari mulut Kris meluncur begitu saja karena tak ingin lebih lama mendengar tentang pria itu.

"Tapi aku belum selesai bercerita oppa. Kau aneh sekali hari ini."

"Tidak ada tapi-tapian, sebaiknya kau tidur karena kau besok harus kuliah."

"Tapi oppa, aku masih ingin mengobrol denganmu. Sebentar saja oppa, jebal." Baekhyun yang merengek manja kembali sukses membuat hati Kris luluh dan menuruti permintaan adiknya itu.

"Baiklah, ceritakan yang lain, selain pria itu."

"Dasar angry bird!"

"Mwo? Apa kau bilang?" Tidak biasanya Kris tersinggung mendengar ejekan Baekhyun sehingga yang keluar dari mulutnya adalah kalimat sentakan yang membuat gadis itu terkejut. Sebenarnya dia tahu Baekhyun tidak benar-benar mengejeknya namun setelah mendengarnya bercerita tentang pria lain membuat Kris kehilangan mood baiknya.

"Oppa, sepertinya kau sedang tidak ingin berbicara denganku ya? Ya sudah, maaf mengganggumu. Selamat malam oppa."

Seketika itu juga Baekhyun mematikan sambungan jarak jauhnya dengan Kris. Sebenarnya gadis itu bisa sedikit merasakan kecemburuan laki-laki yang sudah ia anggap sebagai kakaknya namun ia tidak mau terlalu peka. Baekhyun takut jika yang ia kira sebagai rasa cemburu Kris terhadap Jongin itu salah.

"Selamat malam, oppa." Ucap Baekhyun menatap langit-langit kamarnya. Sangat hampa seperti yang dirasakan hatinya saat ini.

Sedangkan pemuda yang berada di seberang sana juga menatap hampa langit-langit kamarnya. Jantungnya berdenyut merasakan sakit saat mengingat suara ceria Baekhyun yang menyebutkan nama pria lain.

"Baekki, maafkan kalau oppa egois. Tapi oppa belum siap melihatmu bahagia dengan pria lain."

.

.

.

TBC

.

Huaaaaaaaa…maafkan diriku ya kalo ceritanya makin kesini makin gak jelas.. aku akan berusaha sekeras mungkin buat bikin cerita yang lebih bagus di chapter selanjutnya. Maafkan juga kalau ada typo. Ditunggu reviewnya ya reader…terima kasih…

Buat yang udah review tp gak ada akunnya aku balas disini aja ya..

kthk2 :: iya, terima kasih ya udah baca dan kasih review ^.^

KyuraCho :: aduh…ternyata kamu paham banget sama permasalahannya Kris…hehe. Krisbaek ya? hmmm….ditunggu aja yaa….terima kasih banyak udah baca dan review ^.^